Om Swastyastu

Swasti Prapta ring blog titiange, dumogi wenten kawigunannyane. Suksma. "Om Shantih, Shantih, Shantih, Om


Minggu, 08 Mei 2011

TOKOH I BELOG DALAM GEGURITAN I BELOG, SATUA I BELOG, SATUA NANG BANGSING TEKEN I BELOG, DAN SATUA I BELOG MANTU: KAJIAN STRUKTUR


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geguritan merupakan salah satu kesusastraan Bali tradisional yang mempunyai sistem konvensi yang cukup ketat. Geguritan dibentuk oleh pupuh atau pupuh-pupuh, dan pupuh tersebut diikat oleh beberapa syarat. Adanya syarat-syarat pupuh yang biasa disebut pada lingsa yaitu banyaknya baris dalam tiap-tiap bait (pada), banyaknya suku kata dalam tiap-tiap baris (carik), dan bunyi akhir pada tiap-tiap baris (Agastia, 1980:16-17). Dalam Kamus Bali-Indonesia, disebutkan bahwa geguritan berasal dari kata gurit yang berarti gubah, karang, sadur, sehingga geguritan berarti saduran cerita yang berbentuk tembang (pupuh) (Kamus Bali-Indonesia, 1991:254).
Geguritan umumnya melukiskan kehidupan masyarakat Bali dengan unsur-unsur cerita yang membentuknya seperti plot, penokohan, setting, gaya, dan lain sebagainya, di samping terikat oleh unsur puisi seperti diksi berupa pilihan kata, imaji berupa daya bayang, gaya bahasa, dengan memakai bentuk tembang dalam penyajiannya. Inilah yang menyebabkan geguritan hendaknya dinyanyikan memakai pupuh yang terdapat di dalamnya (Bagus, 1991 : 37).
Geguritan merupakan salah satu karya sastra Bali tradisional (purwa) yang berbentuk puisi. Menurut Granoka (1981 : 1-2) dalam ”Dasar-dasar Analisis Aspek Bentuk Sastra Paletan Tembang”, disebutkan bahwa apabila dilihat dari segi bentuknya, sastra Bali Purwa memliki bentuk yang khas sebagai ciri kedaerahan. Dalam hal ini, Granoka menggunakan unsur sastra paletan tembang sebagai dasar analisis dalam pengkajian puisi Bali, khususnya puisi Bali Klasik. Sastra paletan tembang memiliki tiga unsur pokok yang meliputi: unsur bunyi, unsur lambang, dan unsur isi.
Geguritan saat ini mulai diminati masyarakat pencinta sastra khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali baik dalam upacara keagamaan, maupun pada media massa cetak dan elektronik, berupa siaran televisi maupun radio. Selain itu, dikalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa Sastra Bali Fakultas Sastra Universitas Udayana mulai banyak yang mengangkat geguritan sebagai bahan untuk membuat paper dan skripsi. Hal tersebut jelas membuktikan bahwa keberadaan geguritan di Bali mulai banyak diminati kembali.
Dilihat dari jumlah jenis pupuh yang membangunnya, geguritan dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu: geguritan yang memakai hanya satu macam pupuh, geguritan yang memakai beberapa macam pupuh tanpa memakai pengulangan bentuk pupuh pada bagian lainnya, dan geguritan yang memakai beberapa macam pupuh dengan memuat pengulangan pupuh pada bagian lain (Bagus, 1991: 2). Geguritan I Belog merupakan geguritan yang dibangun oleh satu jenis pupuh yaitu pupuh Durma, yang terdiri dari 154 bait pupuh. Dari 154 bait pupuh tersebut, pengarang menggunakan variasi-variasi untuk membentuk keindahan dan keterjalinan cerita dari geguritan tersebut.
Dari segi narasinya, Geguritan I Belog mengandung cerita yang berbentuk dongeng, yang dalam masyarakat Bali disebut dengan satua. Hal tersebut dapat dilihat dari isi cerita yang terdapat dalam geguritan tersebut yang memenuhi ciri-ciri sebuah dongeng, antara lain: (1) merupakan cerita pendek kolektif kesusastraan lisan, (2) merupakan cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi, (3) diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran (Danandjaja, 1984: 83). Isi dari geguritan ini bersumber dari Satua I Belog. Masyarakat di Bali mengenal beberapa versi Satua I Belog yang isi ceritanya sangat bervariasi, namun terdapat unsur cerita yang pasti ada dalam semua versi Satua I Belog tersebut yaitu kelucuan. Isi cerita dari Geguritan I Belog ini yaitu menceritakan kehidupan keluarga I Belog yang sangat miskin dan serba kekurangan, sampai I Belog diserahkan kepada seorang janda kaya yang bernama Jero Rangda Nyoman untuk membantu-bantu di rumahnya. Di sana I Belog sangat diperhatikan oleh Jero Rangda Nyoman, setelah bekerja ia selalu diberi makan. Akan tetapi, perbuatan baik Jero Rangda dibalas dengan kelicikan I Belog yang membohongi Jero Rangda dengan cara menyamar menjadi dewa, sampai akhirnya Jero Rangda mau menikah dengan I Belog.
Geguritan I Belog ini dipilih untuk dianalisis karena di dalamnya terdapat cerita berupa satua yang disajikan dalam bait-bait pupuh, sehingga sangat menarik untuk dianalisis. Dilihat dari cerita yang terdapat dalamnya, geguritan ini mengandung cerita yang sangat populer di masyarakat yang menceritakan kehidupan I Belog yang berisi kelucuan. Alasan lainnya, karena terdapat keunikan dari tokoh utama yang juga menjadi judul geguritan yaitu I Belog. Kata ’belog’ dalam kamus Bali-Indonesia berarti bodoh (1991:74), sedangkan tokoh I Belog yang digambarkan dalam geguritan ini tidaklah bodoh melainkan tokoh yang pintar, licik, dan suka menipu.
Geguritan I Belog sudah pernah dibicarakan dalam skripsi yang berjudul Tipe-tipe Satua I Belog: Kajian Nilai Serta Fungsinya Dalam Masyarakat Bali oleh Suparsa pada tahun 1992, namun dalam skripsi tersebut, Suparsa hanya memaparkan sinopsis dari Geguritan I Belog tanpa dilanjutkan dengan membuat analisisnya.
Menurut Kamus Bali-Indonesia (1991:254), satua berarti cerita. Satua merupakan cerita prosa rakyat yang berbentuk dongeng. Menurut Danandjaja (1984: 83), dongeng adalah cerita pendek kesusastraan lisan. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, bisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran. Bersasarkan pendapat dari Danandjaja, maka satua bisa juga disebut dongeng. Anti Aarne dan Stith Thompson membagi jenis dongeng menjadi empat, yaitu: dongeng binatang, dongeng biasa, lelucon atau anekdot, dan dongeng berumus (Danandjaja, 1984: 86)
Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu adalah satua-satua yang tokoh utamanya adalah I Belog. Ketiga satua tersebut merupakan satua atau dongeng yang termasuk lelucon, karena di dalamnya terdapat kelucuan dari tingkah laku tokoh-tokohnya. Lelucon atau anekdot adalah dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa menggelikan hati, sehingga menimbulkan ketawa bagi yang mendengarnya maupun yang menceritakannya. Walaupun demikian bagi kolektif atau tokoh tertentu, yang menjadi sasaran dongeng itu, dapat menimbulkan sakit hati (Danandjaja, 1984: 117).
Dipilihnya ketiga satua tersebut, karena di dalam ketiga satua tersebut terdapat perbedaan watak, tingkah laku, dan nasib dari tokoh I Belog pada masing-masing satua tersebut yag kemudian akan dibandingkan dengan tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog. Satua I Belog menceritakan tentang kebodohan I Belog yang tidak bisa membedakan antara orang yang sudah mati dengan orang yang masih hidup, sampai dia membunuh ibunya sendiri dan akhirnya dia sendiri juga mati akibat kebodohannya itu. Satua Nang Bangsing Teken I Belog menceritakan tentang I Belog yang dibohongi oleh Nang Bangsing, namun dengan kepolosannya, dia berhasil menemukan kuda yang bisa mengeluarkan uang dari pantatnya sampai dia menjadi orang kaya. Nang Bangsing yang mengetahui hal tersebut merasa iri, namun akibat keirihatiannya itu dia mendapat celaka. Satua I Belog Mantu menceritakan tokoh I Belog yang cerdik dan mempunyai banyak akal. Berkali-kali dia berhasil membohongi Pan Luh Sari, sampai akhirnya dengan akalnya dia berhasil menikah dengan Luh Sari anak dari Pan Luh Sari.
Penelitian ini akan berusaha mengungkap persamaan dan perbedaan tokoh I Belog dari Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog dan Satua I Belog Mantu.



1.2 Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, tentunya terdapat beberapa permasalahan yang perlu diberikan suatu analisis, maka permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Bagaimana struktur yang terdapat di dalam Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu?
2) Bagaimanakah perbandingan tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu?
1.3 Tujuan Penelitian
Dalam setiap penelitian yang dilaksanakan pasti memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai. Begitu juga halnya dengan penelitian ini, yang mempunyai tujuan, baik tujuan umum maupun tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk ikut serta membina, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai budaya Bali. Karya sastra merupakan salah satu unsur budaya Bali yang mulai terancam keberadaannya di masyarakat, untuk itulah karya-karya sastra Bali harus lebih diperhatikan keberadaannya, sebagai salah satu upaya untuk menjaga keberadaan kebudayaan nasional melalui pengembangan budaya daerah. Karena itulah, penelitian ini bertujuan untuk mempublikasikan Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu kepada masyarakat agar potensi yang terdapat di dalamnya dapat diketahui, dihayati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Penelitian yang mendalam terhadap karya sastra Bali Tradisional mempunyai arti dan fungsi yang sangat penting dalam rangka pembangunan moral masyarakat. Penelitian ini juga bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap naskah-naskah sastra lama.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan unsur-unsur yang membangun karya sastra tersebut. Analisis struktur forma terhadap Geguritan I Belog bertujuan untuk mengetahui kode bahasa dan sastra, ragam bahasa, dan gaya bahasa yang digunakan, sedangkan analisis struktur naratif Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu bertujuan untuk mengungkap insiden, alur, latar, tokoh, dan penokohan, tema, dan amanat yang terdapat di dalamnya, yang nantinya akan mampu menerangkan hubungan bagian yang satu terhadap bagian yang lain dalam satu kesatuan, sehingga dapatlah diketahui bahwa unsur-unsur tersebut terjalin bahu membahu dalam bentuk karya sastra yang bulat. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk membandingkan tokoh I Belog yang terdapat dalam Geguritan I Belog dengan tokoh I Belog yang terdapat Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu, sehingga dapat ditemukan persamaan dan perbedaannya.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan uraian tujuan penelitian di atas, manfaat dari penelitian ini adalah memberikan pengetahuan secara lebih mendalam mengenai geguritan dan satua pada umumnya dan khususnya Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu ini, yang mengandung cerita lucu, namun memiliki berbagai macam karakter dari tokoh I Belog. Diharapkan dengan memaparkan secara menarik isi yang terkandung dalam Geguritan I Belog akan dapat menambah minat masyarakat khususnya para generasi muda untuk berperan serta dalam melestarikan kebudayaan Bali.

















BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP,
DAN LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
Kajian pustaka memuat hasil-hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan. Penelitian tentang tokoh dalam Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu, sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan sebelumnya.
Penelitian yang membahas tentang geguritan sudah banyak dilakukan sebelumnya, salah satunya adalah Penokohan dan Amanat Geguritan Dukuh Kawi oleh Sudarsih (1995). Pertama-tama Sudarsih menjelaskan tentang pengertian naskah dan membahas naskah yang akan diteliti. Selanjutnya, pada analisis struktur dia hanya memaparkan ringkasan cerita, insiden, plot/alur, latar, dan tema saja, sedangkan penokohan dan amanatnya tidak dicantumkan. Hal tersebut kurang tepat dilakukan karena akan menimbulkan persepsi bahwa penokohan dan amanat tidak termasuk dalam struktur, walaupun pada analisis selanjutnya akan dibahas penokohan dan amanat. Setidaknya dalam analisis struktur, penokohan, dan amanat dari geguritan tersebut dipaparkan secara umunya saja. Selanjutnya dalam analisis penokohan dan amanat dipaparkan mengenai pengertian tokoh dan penokohan, analisis aspek penokohan dari segi fisikologis, psikologis, dan sosiologis, analisis aspek penokohan secara analitik dan dramatik, dan terakhir membahas aspek amanat yang terdapat dalam Geguritan Dukuh Kawi tersebut.
Penelitian tentang Satua I Belog juga sudah pernah dilakukan sebelumnya, yaitu dalam kajian yang dilakukan oleh oleh Hadriyani Peranan Nilai-nilai Satua Bali dalam Pendidikan Sekolah Dasar di Bali (1984) dan Tipe-tipe Satua I Belog: Kajian Nilai Serta Fungsinya Dalam Masyarakat Bali oleh Suparsa (1992). Hadriyani (1984) membahas sembilan satua, antara lain: Satua I Lutung Teken I Kekua, Satua Siap Selem, Satua I Belog, Satua I Tiwas Teken I Sugih, Satua Galuh Pitu, Satua Crukcuk Kuning, Satua I Cupak teken I Grantang, Satua Dampu Awang, dan Satua Pan Balang Tamak. Pertama-tama dibahas mengenai pendidikan nasional, folklor, folklore di Indonesia, satua Bali, tradisi masatua, dan pengertian satua Bali. Selanjutnya dibahas mengenai nilai-nilai pendidikan dalam satua Bali yang meliputi: nilai percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, nilai-nilai motif-motif kebajikan, nilai kewajiban sosial, nilai kelaliman akan jatuh, dan nilai akal. Penulis menyatakan bahwa dalam Satua I Belog terdapat nilai-nilai motif-motif kebajikan. Dinyatakan bahwa nilai kebodohan yang terdapat dalam Satua I Belog, dapat dijadikan dasar bahwa manusia itu harus belajar agar punya akal. Selanjutnya dibahas mengenai peranan nilai-nilai satua Bali dalam pendidikan SD di Bali yang meliputi: (1) meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, (2) meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan, (3) mempertinggi budi pekerti, (4) memperkuat kepribadian, (5) mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Penulis menyatakan bahwa Satua I Belog merupakan salah satu satua yang mengandung nilai-nilai yang berperan untuk meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan. Penelitian Peranan Nilai-nilai Satua Bali dalam Pendidikan Sekolah Dasar di Bali ini langsung memaparkan nilai-nilai yang terdapat dalam satua-satua yang digunakan objek, tanpa memaparkan struktur yang terdapat pada masing-masing satua tersebut. Seharusnya terlebih dahulu dipaparkan struktur satua-satua tersebut, baik dalam bentuk analisis atau dalam bentuk tinjauan saja. Analisis atau tinjauan struktur bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra, sehingga mempermudah dalam melakukan analisis selanjutnya.
Suparsa (1992) dalam skripsinya yang berjudul Tipe-tipe Satua I Belog: Kajian Nilai Serta Fungsinya Dalam Masyarakat Bali, menggunakan 11 Satua I Belog antara lain: Satua I Belog Desa Selulung, Bangli; Satua I Belog Desa Tunjuk, Tabanan; Satua I Belog Desa Pedungan, Denpasar; Satua I Belog Desa Bebandem, Karangasem; Satua I Belog Desa Petak, Gianyar; Satua I Belog Desa Tegak, Klungkung; Satua I Belog dalam buku Satua-satua Sane Banyol Ring Kesusatraan Bali oleh Bagus; Satua Pan Bangsing Teken I Belog Tigawasa, Buleleng (Gedong Kertya); Satua I Belog Mantu Dangin Tukad Aya, Negara (Gedong Kertya); Satua I Belog dari Museum Bali dan Geguritan I Belog (lontar Fakultas Sastra Universitas Udayana). Sebelas jenis Satua I Belog tersebut kemudian dipaparkan sinopsisnya, sedangkan yang dianalisis hanya tiga satua yaitu: Satua I Belog Desa Tunjuk, Tabanan; Satua Pan Bangsing Teken I Belog Tigawasa, Buleleng (Gedong Kertya) dan Satua I Belog Mantu Dangin Tukad Aya, Negara (Gedong Kertya). Dalam analisisnya, Suparsa membagi Satua I Belog menjadi dua tipe yaitu: (1) Satua I Belog yang betul-betul bodoh yang dibagi lagi menjadi dua, antara lain: Satua I Belog yang bodoh sehingga merugikan diri sendiri dan Satua I Belog yang bodoh sehingga mudah diperdaya orang lain, dan (2) Satua I Belog yang pura-pura bodoh namun cerdik, malah dapat memperdaya orang lain. Penelitian yang dilakukan oleh Suparsa terasa kurang efektif, karena dia melakukan beberapa penelitian terhadap beberapa Satua I Belog dan mendapatkan banyak jenis Satua I Belog, serta dalam sampel penelitiannya pun dia menggunakan 11 jenis Satua I Belog, namun yang dianalisis hanya tiga jenis satua saja. Sembilan Satua I Belog lainnya hanya dipaparkan sinopsisnya, padahal untuk memperjelas penggolongan satua-Satua I Belog tersebut diperlukan kajian struktur sebelumnya untuk mengetahui secara mendalam unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, karena dalam setiap satua pasti terdapat suatu perbedaan, walaupun satua tersebut satu tipe. Dalam analisis strukturnya, hanya dibahas alur, penokohan, tema, dan amanatnya saja, sedangkan insiden dan latarnya tidak dibahas.
2.2 Konsep
2.2.1 Geguritan
Geguritan merupakan salah satu kesusastraan Bali tradisional yang mempunyai sistem konvensi yang cukup ketat. Geguritan dibentuk oleh pupuh atau pupuh-pupuh, dan pupuh tersebut diikat oleh beberapa syarat. Adanya syarat-syarat pupuh yang biasa disebut pada lingsa yaitu banyaknya baris dalam tiap-tiap bait (pada), banyaknya suku kata dalam tiap-tiap baris (carik) dan bunyi akhir pada tiap-tiap baris (Agastia, 1980:16-17). Dalam kamus Bali-Indonesia disebutkan bahwa geguritan berasal dari kata gurit yang berarti gubah, karang, sadur, sehingga geguritan berarti saduran cerita yang berbentuk tembang (pupuh) (Kamus Bali-Indonesia, 1991:254).
Geguritan merupakan salah satu karya sastra Bali tradisional (purwa) yang berbentuk puisi. Menurut Granoka dalam ”Dasar-dasar Analisis Aspek Bentuk Sastra Paletan Tembang”, disebutkan bahwa apabila dilihat dari segi bentuknya, sastra Bali Purwa memliki bentuk yang khas sebagai ciri kedaerahan (1981 : 1). Selanjutnya Granoka menyebutkan bahwa teori sastra modern (puisi modern) belum mampu mengkaji secara sempurna tentang masalah bentuk-bentuk sastra Bali Purwa (puisi tradisional). Titik tolak dari kegagalan teori puisi modern terletak pada pandangannya yang membatasi analisis bunyi hanya pada bunyi kata. Dalam hal ini, Granoka(1981 : 2) menggunakan unsur sastra paletan tembang sebagai dasar analisis dalam pengkajian puisi Bali, khususnya puisi Bali Klasik. Sastra paletan tembang memiliki tiga unsur pokok yang meliputi: unsur bunyi, unsur lambang, dan unsur isi.
Geguritan umumnya melukiskan kehidupan masyarakat Bali dengan unsur-unsur cerita yang membentuknya seperti plot, penokohan, setting, gaya, dan lain sebagainya, di samping terikat oleh unsur puisi seperti diksi berupa pilihan kata, imaji berupa daya bayang, gaya bahasa, dengan memakai bentuk tembang dalam penyajiannya. Inilah yang menyebabkan geguritan hendaknya dinyanyikan memakai pupuh yang terdapat di dalamnya (Bagus, 1991 : 37).
2.2.2 Satua
Menurut Kamus Bali-Indonesia (1991:254), satua berarti cerita. Satua merupakan cerita prosa rakyat yang berbentuk dongeng. Menurut Danandjaja (1984: 83), dongeng adalah cerita pendek kesusastraan lisan. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, bisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran. Bersasarkan pendapat dari Danandjaja, maka satua bisa juga disebut dongeng. Anti Aarne dan Stith Thompson membagi jenis dongeng menjadi empat, yaitu: dongeng binatang, dongeng biasa, lelucon atau anekdot dan dongeng berumus.
2.2.3 Struktur
Struktur adalah tata hubungan antara bagian-bagian suatu karya sastra (Sudjiman, 1990: 75), sedangkan menurut Poerwadarminta (1982: 965) dalam ”Kamus Umum Bahasa Indonesia”, struktur adalah cara bagaimana sesuatu disusun; susunan; bangunan.
Luxemburg, dkk, (1984:36) mengatakan bahwa struktur ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala. Dengan kata lain bahwa sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi suatu keseluruhan karena adanya relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara bagian dengan keseluruhan.. Kesatuan struktural mencakup setiap bagian dan sebaliknya bahwa setiap bagian menunjukkan kepada keseluruhan. Prinsip dasar teori struktur adalah memandang unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Scholes dalam bukunya Structuralism in Literature (1973) mengatakan: Structuralism is away of looking for reality not ondividual things but in the relationship among them, yang artinya struktur adalah suatu cara untuk mencari kenyataan bukan secara individu/terpisah tetapi dalam suatu hubungan yang satu dengan yang lainnya (Naryana dkk, 1993: 4)
Abrams dalam Nurgiyantoro (2009: 36) berpendapat bahwa di satu pihak struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antarunsur intrinsik yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk kesatuan yang utuh.
Menurut Teeuw (1984:135), analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan mendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh.
2.2.4 Tokoh
Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (2007: 165), tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Lebih lanjut, Nurgiyantoro (2007: 167) menyatakan bahwa tokoh cerita menempati posisi yang strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pembaca.
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Penokohan adalah cara pengarang untuk menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat (Esten, 1987: 27).
2.3 Landasan Teori
Dalam melakukan suatu penelitian ilmiah tentu harus dilandasi teori tertentu. Teori berfungsi sebagai sarana untuk memecahkan masalah penelitian, oleh karena itu haruslah dipilih teori yang relevan dengan tujuan penelitian (Triyono, 1994: 38). Penelitian tentang sastra meliputi wilayah yang cukup luas, sehingga diperlukan ruang lingkup pendekatan penelitian (kajian/analisis). Dalam menganalisis struktur dan fungsi Geguritan I Belog ini, digunakan digunakan teori struktur dan fungsi.
Scholes dalam bukunya Structuralism in Literature (1973) mengatakan: Structuralism is away of looking for reality not individual things but in the relationship among them, yang artinya struktur adalah suatu cara untuk mencari kenyataan bukan secara individu/terpisah tetapi dalam suatu hubungan yang satu dengan yang lainnya (Naryana dkk, 1993: 4).
Abrams dalam Nurgiyantoro (2009: 36) berpendapat bahwa di satu pihak struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Di pihak lain, struktur karya sastra juga menyaran pada pengertian hubungan antarunsur intrinsik yang bersifat timbal balik, saling menentukan, saling mempengaruhi, yang secara bersama membentuk kesatuan yang utuh.
Luxemburg, dkk, (1984:36) mengatakan bahwa struktur ialah kaitan-kaitan tetap antara kelompok-kelompok gejala. Dengan kata lain bahwa sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi suatu keseluruhan karena adanya relasi timbal balik antara bagian-bagiannya dan antara bagian dengan keseluruhan. Kesatuan struktural mencakup setiap bagian dan sebaliknya bahwa setiap bagian menunjukkan kepada keseluruhan. Prinsip dasar teori struktur adalah memandang unsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Menurut Teeuw (1984:135), analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat, seteliti, semendetail, dan mendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Bila kita melihat secara cermat karya sastra geguritan ini merupakan sebuah karya sastra puisi naratif, maka dalam menganalisisnya bukan hanya dari struktur naratif (cerita) saja, tetapi kita juga harus melihat dari struktur formanya. Seperti pendapat Marsono (dalam Wisnu, 2001:10) membedakan struktur karya itu menjadi dua yakni struktur forma yang terdiri dari kode bahasa dan sastra, gaya bahasa, dan ragam bahasa, serta struktur naratif yang terdiri dari tema, penokohan, alur, dan latar. Untuk mendukung kajian struktur forma tersebut akan ditunjang pula oleh pandangan Granoka (1981), Agastia (1980) , Tinggen (1982), dan Gautama (2007).
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan struktur adalah keseluruhan elemen-elemen atau unsur-unsur yang membangun karya sastra, dimana antara elemen yang satu dengan elemen yang lainnya saling terkait sehingga terbentuklah kesatuan yang organis. Analisis struktur sebuah karya tak lain dan tak bukan sebuah usaha untuk sebaik mungkin mengeksplisitkan dan mensistematikkan apa yang dilakukan dalam proses membaca dan memahami karya sastra (Teeuw, 1984:154).
Kerangka acuan teori struktur yang tertuang dari pikiran-pikiran para ahli sastra sebagaimana dikutip di atas sesungguhnya saling melengkapi. Sehubungan dengan hal tersebut, pikiran-pikiran mereka akan diperhatikan agar penelitian Geguritan I Belog dapat terlaksana dengan baik. Jadi telaah struktur dalam kajian ini akan menggunakan kombinasi dari beberapa pendapat para ahli sastra di atas.
Tokoh merupakan bagian dari struktur sebuah karya sastra. Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (2007: 165), tokoh cerita adalah orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecendrungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Lebih lanjut, Nurgiyantoro (2007: 167) menyatakan bahwa tokoh cerita menempati posisi yang strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan, amanat, moral atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pembaca.
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Penokohan adalah cara pengarang untuk menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat (Esten, 1987: 27).
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Metode dan Teknik
Setiap analisis pasti memerlukan metode dan teknik. Menurut Ratna (2004 : 34) metode dalam pengertian luas dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah sehingga mudah dipecahkan dan dipahami. Selain menggunakan metode, juga diperlukan teknik untuk mengungkap suatu karya sastra. Teknik berasal dari kata Tekhnikos, bahasa Yunani, juga berarti alat, atau seni menggunakan alat. Sebagai alat, teknik bersifat paling kongkret (Ratna, 2004: 37).
Untuk memperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan yang diharapkan, maka dibutuhkan metode dan teknik yang tepat dan sistematis. Penelitian mengenai tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu dilakukan dalam tiga tahap, antara lain : 1) tahap penyediaan data, 2) tahap pengolahan data, dan 3) tahap penyajian data.
1) Tahap Penyediaan Data
Metode yang digunakan dalam tahap penyediaan data dari Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu ini adalah metode membaca. Metode membaca ini dilakukan secara berulang-ulang untuk dapat mengetahui dan memahami isi dari Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu ini secara lengkap. Metode membaca ini dibantu dengan teknik pencatatan, yaitu mengumpulkan hal-hal yang bekaitan dengan data penelitian dengan cara mencatat. Teknik pencatatan ini dilakukan untuk menghindari data yang tertinggal dan terlupakan karena keterbatasan ingatan.
Selanjutnya digunakan metode wawancara untuk mendapatkan data dari sejumlah informan yang dianggap perlu untuk membantu penelitian ini. Wawancara (interview) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan dengan orang yang memberikan keterangan pada si peneliti (Mardalis, 1995 : 64). Metode wawancara dalam hal ini adalah wawancara (diskusi) secara terpimpin untuk mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang masih meragukan, baik mengenai data, terjemahan, maupun mengenai hal-hal lain yang berkaitan dengan analisis ini. Metode wawancara ini dibantu dengan teknik perekaman dan pencatatan. Perekaman ini bertujuan agar data yang diperoleh mudah diingat dan menghindari dari kesalahan akibat lupa.
2) Tahap Pengolahan Data
Tahap pertama dalam pengolahan data adalah memeriksa data-data yang terkumpul, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiah dan idiomatis. Selanjutnya, data-data tersebut dianalisis menggunakan metode deskriptif analitik. Metode deskriptif adalah menuturkan, menganalisa, dan mengklasifikasi; metode deskriftif bukan hanya sebatas pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data itu. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa (analitik) (Surakhmad, 1982 : 139-140). Metode deskriptif analitik ini menjelaskan, memaparkan, dan menginterpretasi data yang telah diperoleh dalam analisis data.
Selanjutnya, digunakan juga metode hermeneutika yang prinsip kerjanya adalah menafsirkan atau menginterpretasikan. Hal ini mengingat, karya sastra perlu ditafsirkan sebab di satu pihak karya sastra terdiri atas bahasa, di pihak lain dalam bahasa sangat banyak makna yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan (Ratna, 2009 : 45).
3) Tahap Penyajian Data
Tahap terakhir dalam sebuah penelitian adalah tahap penyajian data. Pada tahap ini, metode yang digunakan adalah metode informal, yaitu cara penyajian dengan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993 : 145). Dalam penelitian ini, pengkajian akan dilakukan dengan menggunakan kalimat dan kata-kata dalam bahasa Indonesia.
3.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian Geguritan I Belog ini ada dua, yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primernya berasal dari lontar ’Geguritan I Belog’ yang terdapat di Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Lontar tersebut memiliki panjang 40 cm dan lebarnya 3,5 cm yang berjumlah 21 lembar dengan nomor keropak G/VIII/2/DISBUD. Lontar Geguritan I Belog ini diawali dengan kalimat : Hana katururan satua babongengan kanggon senggak kagurit di banjar Pahuman kocapan Jero Rangda Nyoman..............dan diakhiri dengan kalimat: Iti Gaguritan I Belog, pascit sinurat dina Bu, U, Prangbakat, tanggal 8, 12, 1993, de kang apanelah Ari kacatur sanak, ring niscaya lor Smarapura. Selanjutnya untuk membantu dalam analisis, akan digunakan sumber sekunder berupa sumber tertulis dari buku yang berjudul ”Alih Aksara Lontar Tahun 1995 Gaguritan I Belog” . Buku tersebut diketik menggunakan hurup latin dan bersumber dari lontar yang ada di Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali yang dialihaksarakan oleh I Dewa Ayu Puspita Padmi dan diketik pada tanggal 20 Mei 1995.
Sumber data dari Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog dan Satua I Belog Mantu adalah buku yang berjudul ”Satua-satua Sane Banyol ring Kasusastraan Bali” yang disusun oleh I Gusti Ngurah Bagus. Buku tersebut ditemukan di Kantor Dokumentasi Budaya Bali Propinsi Daerah Tingkat I Bali berupa photocopyan. Buku aslinya diterbitkan oleh Balai Penelitian Bahasa Singaraja tahun 1976.
3.3 Jangkauan
Dalam menganalisis suatu karya sastra sangat diperlukan jangkauan untuk membatasi agar ruang lingkup tidak terlalu luas serta tidak menyimpang, maka dari itu dalam analisis ini dibatasi pada masalah-masalah yang berhubungan dengan struktur forma dan naratif yang terdapat dalam Geguritan I Belog. Struktur forma dari Geguritan I Belog meliputi: kode bahasa dan sastra, ragam bahasa, dan gaya bahasa, dan struktur naratifnya meliputi: insiden, alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat. Struktur naratif dari . Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu meliputi: insiden, alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat. Perbandingan tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu meliputi perbandingan antara Geguritan I Belog dengan ketiga satua tersebut.

















BAB IV
ANALISIS STRUKTUR GEGURITAN I BELOG
4.1 Struktur Forma Geguritan I Belog
Struktur forma merupakan bagian dari keseluruhan karya sastra yang mengulas tentang bentuk atau kemasan dalam menampilkan karya itu sendiri, dan memiliki hubungan dengan isi yang dikandungnya. Struktur forma meliputi: kode bahasa dan sastra, ragam bahasa, dan gaya bahasa (Marsono dalam Wisnu, 2001:10)
4.1.1 Kode Bahasa dan Sastra
Membaca sebuah geguritan tidaklah seperti membaca sebuah prosa pada umumnya, karena geguritan dibangun oleh pupuh-pupuh dimana pupuh-pupuh tersebut diikat oleh pada lingsa. Secara etimologis pada lingsa dibentuk oleh dua kata, yaitu pada yang berarti kaki dan lingsa yang berarti bunyi. Pemaknaan yang lebih spesifik dalam konteks geguritan, pada lingsa mencakup tentang: (1) jumlah baris (palet) dalam setiap bait (pada), yang disebut juga guru gatra, (2) jumlah suku kata (kecap) dalam setiap baris, yang disebut juga guru wilangan, dan (3) jatuhnya vokal suku kata terakhir dalam setiap baris, yang disebut juga guru lagu/ dhong-dhing (Saputra, 1992: 8).
Untuk sistematika penyajian pada lingsa secara gramatik, maka perlu dibuatkan kode sebagai sistem perlambangan, yang meliputi: (1) lambang bentuk yang mencakup suku kata (kecap) yang dilambangkan dengan ”-”, baris (palet) yang dilambangkan dengan ”/”, dan bait (pada) yang dilambangkan dengan ”//”. Selanjutnya (2) lambang bunyi yang mencakup : bunyi bahasa (yang dapat dilambangkan) yaitu a, i, u, e, o, serta bunyi nonbahasa (yang sulit dilambangkan yang digunakan untuk kepentingan teknis mempelajari tembang/menembangkan, yaitu dhong-dhing, nada gong (Granoka, 1981:22-24).
Pada lingsa pupuh-pupuh pada Geguritan I Belog dapat diketahui dengan mencermati pupuh-pupuh (beserta pada lingsanya) dan ikhtisar penggunaan dalam cerita. Pupuh yang digunakan dalam Geguritan I Belog adalah pupuh Durma. Pupuh ini biasanya digunakan untuk mengisyaratkan hal-hal yang buruk, seperti: kemarahan, kekesalan, dan sebagainya (Gautama, 2007: 52). Adapun pada lingsanya yaitu:
Baris ke- Padalingsa
1 ------------/ 12a
2 --------/ 7i
3 ------/ 6a
4 --------/ 8a
5 --------/ 8i
6 -----/ 5a
7 --------// 7i

Geguritan I Belog menggunakan Pupuh Durma sebanyak 154 bait. Pengarang melakukan beberapa variasi dalam penyusunan pupuh ini, antara lain: berupa penambahan dan pengurangan suku kata serta variasi vokal akhir dalam tiap baris pupuh.
4.1.1.1 Penambahan Suku Kata
Pengarang Geguritan I Belog menggunakan variasi berupa penambahan suku kata dalam beberapa baris pupuh yang menyusun geguritan tersebut. Kelebihan suku kata dari pupuh Durma tersebut cukup banyak ditemukan dalam geguritan ini, antara lain sebagai berikut:
1) Penambahan suku kata pada baris ke-1 yang seharusnya berjumlah 12 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’a’ (12 a), antara lain: Sangkan duga mahutang bané motah ngamah (bait 3), anaké cerik matepet-tepetin awak (bait 17), ento kudiang tuara kola manyalahang (bait 30), buina apang tiang buta da mangroang (bait 35), gusti tiang nginganin yan tiang mangrasayang (bait 42), nah apa gunané sok kema ngamah doang (bait 65), I Belog masaut bas bapa mangalemang (bait 70), né jani suba ya lalin atengah lemeng (bait 83), jani kocapan dané Jero Rangda Nyoman (bait 84), titiang mangaturang canang atagelan (bait 102), wus munyiné apang titiang atagelan (bait 104), mairib dewane kenot kalimatmatan (bait 105), tengkejut Jero Rangda mangetor mamindah (bait 106), pangandikané pingit kola tuah tong nyak (bait 120), I Belog ngupkupang nesekangetangahang (bait 136), mangelept Jero Rangda bangun ngelejat (bait 138), I Belog kedék di hatiné ban nyaruang (bait 139), baan anaké tuah melah jawat samarana (bait 146), kola teka ida bawu suud mamuja (bait 149), suba maran-maran ida mawajik tangan (bait 150), dan masih jua kabukti tiangé madéwasa (bait 153).
2) Penambahan suku kata pada baris ke-2 yang seharusnya berjumlah 7 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’i’ (7i), antara lain: pianaké ada duang dihi (bait 2), nanagé bas liwat (bait 2), tani dusin yak kairid (bait 3), mémén Mandel mangriinin (bait 4), ban mautang matungguin (bait 5), ngalek hati manyaurin (bait 6), urip i bapané cai (bait 7), mémén Mandel manyautin (bait 8), suba sué ya matiptip (bait 9), mlali-lali kelod kangin (bait 10), laju pianaké belasin (bait 11), suba pada kasilihin (bait 12), anaké lakar nganemin (bait 13), pada olas nyempolihin (bait 14), pianakné mangeling (bait 15), lantas jani panyonyoin (bait 16), mangolas-olasin ati (bait 17), anginé tarik ngasirsir (bait 19), ada tuwonya majinjin (bait 20), baané tuara jenek dini (bait 21), ne mungguing tulis pakéling (bait 22), sakurenan manunggonin (bait 23), munyin sigané né jani (bait 24), sada mangedéang munyi (bait 25), maong isiné mageni (bait 26), mangulaang awak sai (bait 28), siga kola mangrasanin (bait 30), joh para ké tiang sedih (bait 31), tiwas daaké atebih (bait 32), buka tuara ko buin alih (bait 33), suba eda liu munyi (bait 34), baan tiang ngaturang mangkin (bait 35), majalan ajak i cenik (bait 36), madelokan uli kangin (bait 37), wau embud maluspusin (bait 40), papak makejang tong dadi (bait 41), pilih kapatut marginin (bait 42), makesyab ya buka iyis (bait 43), sapangandikané iring (bait 45), pang kedat cicingé cenik (bait 46), dumadakang sadya asih (bait 47), kola di jumah tongosin (bait 48), dayan nyané mitung midik (bait 50), tangar sing lakunnya intip (bait 51), alihang awaké nasi (bait 52), jani lamun dané gusti (bait 54), pamunyin nyané mamungil (bait 55), ngarorokang matan ai (bait 56), manyabit ya paku kedis (bait 57), bé paku suba makesit (bait 59), mai madaaran mai (bait 60), méménnyané manyapatin (bait 61), mémé matanggeh buin mani (bait 62), giling buka umpag-ampig (bait 63), alis ngamacan nyereming (bait 64), lantas manyingal i cening (bait 66), tong ada ya kena nasi (bait 68), tuara ada karuan munyi (bait 69), sayangang ya tani hasin (bait 70), I Mandel ya bas nu cerik (bait 71), padalem ké adin cai (bait 72), Pan Mandel mangungkab sagi (bait 74), pada ya tuara mamunyi (bait 76), dadi ya buka dundunin (bait 77), mabading ya maep kangin (bait 79), sayang uli kali jani (bait 80), baan maan ngariinin (bait 81), pada tuhu tekén wangsit (bait 82), kocap I Belog ngendusin (bait 83), tengkejut bangun mangipi (bait 84), lantas mangorahang ngipi (bait 87), mangipi lilit lalipi (bait 88), tur matéja galang kangin (89), tumuli dané majinjin (bait 90), pamekelé manyapatin (bait 91), bareng mangijengin dini (bait 92), pamekelé néné jani (bait 93), selemé masawang tani (bait 95), bareng lan buah cangurip (bait 96), mua suba macolékin (bait 98), suba manuunang kangin (bait 99), né di bucu kaja kangin (bait 100), apang suka manyenengin (bait 102), papenek katimun guling (bait 104), mata putih mirib kumis (bait 105), titiang malaku sisip (bait 106), suba da nyejehang ati (bait 107), titiang suka wanéngah ngiring (bait 108), yén katara né tindihin (bait 109), dauh tukad ya masugi (bait 110), tuara lén ané guyonin (bait 111), urung-urungané belih (bait 113), tiang matakén ring gusti (bait 115), dané kedék lan mangeling (bait 117), kaampet baan mangeling (bait 118), mekelé lantas majati (bait 119), ngoraang tekéning nani (bait 120), mapi-mapi tuara uning (bait 121), pamekelé ya mamargi (bait 123), kola di jumah tongosin (bait 124), pisagané nu ngendusin (bait 125), paulatan nyané sangsih (bait 126), ané mausehan cenik (bait 127), I Belog ya mangusudin (bait 128), ada né orahang gati (bait 131), pangandikan Widhi pingit (bait 132), apa duga ké baan nani (bait 133), tiang ngawag manyanggupin (bait 134), lantas ya pada né jani (bait 135), dadi pada mangendusin (bait 137), apa ento ko Belog buin (bait 138), dolog nyané mangundirik (bait 140), sampunang Jajarpikatan gusti mangkin (bait 141), ada ambul magkubumi (bait 143), duh ratu déwa i gusti (bait 145), payasé masih mayoni (bait 146), yakti apang tiang kiting (bait 147), lantas ida manyapatin (bait 149), lantas mamadayang batis (bait 150), tong suud ida jotar-jotir (bait 151), saling ya buka pancening (bait 152), dan petane tani maludih (bait 154).
3) Penambahan suku kata pada baris ke-3 yang seharusnya berjumlah 6 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’a’ (6), antara lain: tusing ada unuan (bait 10), baas maan di banjar (bait 11), belas kikil mautang (bait 14), Mén Mandel kajeroan (bait 19), mai uli di jaba (bait 20), ngantos buin adina (bait 24), grepiake nyéngcéng belah (bait 29), diastun pacang buncal (bait 31), lamun ada ya lewihan (bait 35), kema baang nasinnya (bait 36), eda Ja mangandéang (bait 48), I Mandel ya bas nu cerik (bait 71), dumadakang sadia (bait 72), makiré kaluanan (bait 93), titiang nunas icha (bait 102), yan tuara kapihalang (bait 104), kema mulih énggalang (bait 107), né kola makesiab (bait 118), Jero Rangda ngendagang (bait 122), mairib tapuk buah (bait 127), Jeroné kédék ngakak (bait 129), tuah sedeng kerutang (bait 146), dan lantas kola mangwaswas (bait 151),
4) Penambahan suku kata pada baris ke-4 yang seharusnya berjumlah 8 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’a’ (8 a), antara lain: kocapan Jero Rangda Nyoman (bait 1), buat tresnan nyané mangelah (bait 3), yén tunden ia tuah majalan (bait 4), di ayunané surya suba (bait 9), ulat bas tong pesan mabaan (bait 24), apang jerone mangkin wikan (bait 27), baan paité liwat subal (bait 29), tiang teka uli di uma (bait 39), matakep baan saab ental (bait 96), titiang nunas icha lugra (bait 103), mapamit mulih amang-amang (bait 108), lamun tiang ocoh-ocohan (bait 147), dan baan anteng kolané langah (bait 150),
5) Penambahan suku kata pada baris ke-5 yang seharusnya berjumlah 8 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’i’ (8i), antara lain: baané tuara kena nasi (bait 16), antos mangkin buin awai (bait 23), pianaké suud mangeling (bait 75), masisig mambuh mabresih (bait 93), melahé tuara nandingin (bait 95), burat wangi lenga wangi (bait 101), padin titiangé mbud sami (bait 102), nyaka tunggalan iba kai (bait 140), marasa awor demen ati (bait 142), dan pelag dong tuah siga pelih (bait 146).
6) Penambahan suku kata pada baris ke-6 yang seharusnya berjumlah 5 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’a’ (5 a), antara lain: nanangé bas liwat (bait 2) dan pradéné kuangan (bait 35).
7) Penambahan suku kata pada baris ke-7 yang seharusnya berjumlah 7 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’i’ (7i), antara lain: sangkan bareng manunggonin (bait 3), masa beneh manglemekin (bait 4), mangulurin caratani (bait 5), maniman-nimanin pipi (bait 6), dumadakan sihin Widhi (bait 7), Mémé tuara manebusin (bait 8), tuara ngamah uling tuni (bait 9), paku kedisé né liking (bait 10), mawuwuhan acengkilik (bait 12), sai silihin linyokin (bait 13), jani taén kena latih (bait 14), batisnyané kenjir-kenjir (bait 15), mabuat ya tuara ajin (bait 16), maka tipat baan mincid (bait 17), I Mandel jani adanin (bait 18), ditu ya masemu jengis (bait 19), I Belog tuara ada mulih (bait 20), pianak sigané ngambulin (bait 21), kagugu bareng pan cening (bait 22), tiang lega malih irid (bait 23), kola suba mangadianin (bait 24), buka pekené nyanjain (bait 25), mirib utah anak jampi (bait 26), batbatang ngamayus pati (bait 27), nguda milu-milu geting (bait 28), jani da buin mangugonin (bait 29), di pademané mangeling (bait 30), bangun sai pada rajin (bait 31), nasinnyané sada putih (bait 32), ada ping satus masalin (bait 33), mapata gondong prajani (bait 34), kaget pindoné aselid (bait 35), gusti tiang nunas pamit (bait 36), nasin nani suba pasil (bait 37), duang pacatuné dini (bait 38), pada tarik maluspusin (bait 39), labakané putung sami (bait 40), di cengkoké ba danginan (bait 42), jani sapangrasan nani (bait 43), yan ada bareng nututin (bait 44), padi puyung dadi jelih (bait 45), apang dadi ngongkong maling (bait 46), ajak bareng nu miliin (bait 49), tuara ngitungang sor singgih (bait 50), apanga ya takut mati (bait 51), kikit liu eda brangti (bait 52), dané kalintangan asih (bait 53), nimpalin cekeh né ngangsi (bait 54), kola padikanga nani (bait 55), tiang mamedek mariki (bait 56), baasé nu acengkilik (bait 57), bas kasélané inuni (bait 58), suba pragat ya masagi (bait 59), macara tuara nyautin (bait 60), empeng maningehang munyi (bait 61), ibuk mémé baan cai (bait 62), giling buka umpag-ampig (bait 63), pelis matané madisdis (bait 64), buin mata ngulit tingkih (bait 65), buin tumbuh buka jani (bait 66), jani ya tumbén mangeling (bait 67), unuan kaséla cicih (bait 68), mamatbat tur mangemedin (bait 69), mairib ya takut bani (bait 70), manangarin mémén cai (bait 71), pradata liaté criring (bait 72), sai patakut mamedi (bait 73), bulan purnama buin mani (bait 74), medem ya sada manjuh (bait 75), pada ya saling sambungin (bait 76), mangluluk sada mabengkil (bait 77), ya mapi angampog-ampogin (bait 78), mamitre tekén babai (bait 79), masih sai kaenemin (80), kai jani mangatehin (bait 81), pada ya nglegayang ati (bait 82), né di cengkohok ba dangin (bait 83), malaib akaron tapih (bait 84), Pan Mandel dundun mén cening (bait 85), manogtog kori majinjin (bait 86), Mémén Mandel manyautin (bait 87), diwangan jumaan kori (bait 88), ngaba tumbal kamel kangin (bait 89), I Belog malaku sisip (bait 91), né di cengkohok ba dangin (bait 92), masiram masalin tapih (bait 93), pusungané coblong miring (bait 94), pinih anom adeg langsing (bait 95), tekén tiuk ané cerik (bait 96), manyongkobang boké jering (bait 97), makumis bas pamor putih (bait 98), tukad lantas menék kangin (bait 99), dané Jero Rangda istri (bait 100), sakti manyeneng iriki (bait 101), tan urung titiang mati arig (bait 102), titiang nyauhang sasangi (bait 103), negarang mangliatin (bait 104), I Belog ngedéang munyi (bait 106), suba da Jajarpikatan liu munyi (bait 107), bantené tuara maparid (bait 108), uli kayehan ba dangin (bait 110), pagoban nyané prabali (111), pipi kemul mata guling (bait 112), ngamah jukut pesu nasi (bait 113), gusti nguda makalingsir (bait 114), rarasan mahoratpati (bait 115), suud pada ya manyarik (bait 116), gusti nguda ja mangeling (bait 117), matakon jeroné mabakti (bait 118), padi ané puyung jelih (bait 119), teka inebang di ati (bait 120), suba jani beneh kangin (bait 121), damaré ya aba mai (bait 122), pamekelé mangawukin (bait 123), I Belog di wangan kori (bait 124), genah I Belog makemit (bait 125), tuara ada ngatepukin (bait 126), menjek kebo macrawis (bait 127), buah celéng duang besik (bait 128), anaké nyadma di Bali (bait 129), kiap tiangé mapamit (bait 130), ni jro rangda kisi-kisi (bait 131), cicingé padiné jelih (bait 132), munyiné tengah nyautin (bait 133), nani tuah mangawénin (bait 134), I Belog bangun majinjin (bait 135), manesekin kola mai (bait 136), tukéné babuan di langki (bait 137),pangandikané Bhatari (bait 138), baan kola tuarada ajin (bait 139), mabikas anak muani (bait 140), mani apa anggon buin (bait 141), baong mangulurin budi (bait 142), wali-wali ngisep sari (bait 143), jengah Men Mandel ngiwasin (bait 144), apa anggén manimpalin (bait 145), atin kola tani ratin (bait 146), jegégé tuara nandingin (bait 147), kola ida tuah cacungkeling (bait 148), pang maan puja né jati (bait 149), tuktuk nyonyo telah lesit (bait 150), Mén Mandel ya buka girik (bait 151), malu celodan mabuncing (bait 152), matan sigané juari (bait 153), dan gusti tiang nunas pamit (bait 154).
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa dalam Geguritan I Belog ini, pengarang cukup banyak melakukan penambahan suku kata. Persentase penambahan suku kata tiap-tiap baris dari 154 bait Pupuh Durma yang terdapat dalam Geguritan I Belog, dapat dilihat dalam tabel berikut:




Baris ke-
Frekuensi Penambahan Suku Kata
(kali) Persentase

1 21 21/154 x 100% = 13, 64 %
2 121 121/154 x 100% = 78, 57 %
3 23 23/154 x 100% = 14, 93 %
4 13 13/154 x 100% = 8, 44 %
5 10 10/154 x 100% = 6, 49 %
6 2 2/154 x 100% = 1, 29 %
7 143 143/154 x 100% = 92, 86 %

Tabel di atas memperlihatkan bahwa dalam Geguritan I Belog, penambahan suku kata terhadap pupuh Durma yang dilakukan oleh pengarang paling banyak terdapat pada baris ke-2 dan VII. Pada baris ke II dan VII yang seharusnya berjumlah 7 suku kata, namun dalam geguritan ini pengarang dominan menggunakan 8 suku kata.
4.1.1.2 Pengurangan Suku Kata
Pengarang Geguritan I Belog menggunakan variasi berupa pengurangan suku kata dalam beberapa baris pupuh yang menyusun geguritan tersebut. Kekurangan suku kata dari pupuh Durma tersebut, antara lain sebagai berikut:
1) Pengurangan suku kata pada baris ke-1 yang seharusnya berjumlah 12 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’a’ (12 a), antara lain: jani surya tis suba ngalingsiran (bait 18), mata dileng nelik lantas ngelohang (bait 64), Pan Mandel masaut uli jumaan (bait 87), dan swargané baya kéto tani gampang (bait 152).
2) Pengurangan suku kata pada baris ke-2 yang seharusnya berjumlah 7 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’i’ (7i), antara lain: Mén Mandel né nganti (bait 114).
3) Pengurangan suku kata pada baris ke-4 yang seharusnya berjumlah 8 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’a’ (8 a), antara lain: anaké mautangang (bait 12), tunggunnya tuah sepa (bait 22), liu sing jalan-jalan (bait 28), majalan babelayan (bait 32), sukané makurenan (bait 33), teka puyung makejang (bait 40), baan padiné rusak (bait 43), mai tuun manjadma (bait 63), nto nguda ya salaang (bait 80), bagus teka mrakosa (bait 84), Mén Mandel masrengkodan (bait 86), yén marep ring taruna (bait 88), maanteng yaksa langah (bait 94), lantas ngalih palawa (bait 99), saha raka woh-wohan (bait 101), I Belog mangloyokang (bait 135), tong dadi karéréang (bait 140), dan kola manunas toya (bait 148).
4) Pengurangan suku kata pada baris ke-5 yang seharusnya berjumlah 8 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’i’ (8i), antara lain: somah nu manak cenik (bait 3), buka pegat prejani (bait 30), dan buka gongé nu egir (bait 145).
5) Pengurangan suku kata pada baris ke-6 yang seharusnya berjumlah 5 suku kata dan vokal pada suku kata akhrinya adalah ’a’ (5 a), antara lain: pan Mandel ya (bait 4), tur mamadat (bait 5), Pan Mandel ya (bait 9), to takonang (bait 20), gawok kola (bait 21), banya siga (bait 22), yan to teka (bait 23), maka sanja (bait 24), bengu engkah (bait 26), medem bareng (bait 31), klawar klungah (bait 32), né abulan (bait 33), Mén Mandel ya (bait 34), nggih sandikan (bait 36), tani ngamah (bait 37), liu pesan (bait 38), ané suba (bait 39), miwah ketan (bait 40), di pahuman (bait 42), tuara ngenah (bait 44), mangaturang (bait 47), ulat saja (bait 49), maling papal (bait 50), nani ngamah (bait 52), tara ada (bait 54), ané bénjang (bait 56), lantas nyakan (bait 57), mawong cacah (bait 58), anggon ngurab (bait 59), Mén Mandel ya (bait 60), mémé jumah (bait 61), teka kéweh (bait 62), boké bawak (bait 63), cunguh lantang (bait 64), buin pidan (bait 65), apang eda (bait 66), maaoran (bait 68), ya macara (bait 69), munyi tengah (bait 70), buka tingkang (bait 71), pantes bakal (bait 72), nuju galang (bait 74), Pan Mandel ya (bait 75), lan cegingan (bait 76), lantas maan (bait 78), enyén duga (bait 79), dija ngunya (bait 80), lamun elek (bait 81), inggil labak (bait 82), ndadi déwa (bait 83), subak kemben (bait 84), makawukan (bait 86), kedék bareng (bait 88), sampun luas (bait 90), lantas kenyem (bait 91), jumah déwa (bait 92), suba wusan (bait 93), subak gadang (bait 94), tuuh dawa (bait 95), ditu sareng (bait 96), ngalap bunga (bait 97), kiri kanan (bait 98), suba liwat (bait 99), tan uninga (bait 100), inggih déwa (bait 101), cicing kedat (bait 103), ngalih daya (bait 105), cep masabda (bait 106), cicing kedat (bait 107), wakul kecag (bait 108), ring sang Sésa (bait 109), dané daa (bait 110), bagus jagra (bait 111), basang bengkang (bait 112), Pan Mandel ya (bait 113), bawu teka (114), mendep siga (bait 115), inggih déwa (bait 117), tiang juwet (bait 118), cicing kedat (bait 119), ngardi rusak (bait 120), bulan endag (bait 121), tong makita (bait 122), pasembéan (bait 123), pesu lantas (bait 124), balé mundag (bait 125), matunggalan (bait 126), mangerengwang (bait 127), ulat ngepa (bait 128), mimitannya (bait 129), inggih déwa (bait 130), sambilanga (bait 131), apang kedat (bait 132), takut demen (bait 133), kola ngajah (bait 134), jeg makesyab (bait 135), ngongkon paek (bait 136), makoétan (bait 137), kola jejeh (bait 138), tawih paksa (bait 139), ngalaluang (bait 140), singnya punggal (bait 141), kadi kumbang (bait 143), asing ningal (bait 144), gur né ilang (bait 145), tong madaya (bait 148), ndén matoya (bait 149), di benengan (bait 150), kedék ngakak (bait 151), tiang suba (bait 152), dan siga bobab (bait 153).
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa dalam Geguritan I Belog ini, pengarang cukup banyak melakukan penambahan suku kata. Persentase pengurangan suku kata tiap-tiap baris dari 154 bait Pupuh Durma yang terdapat dalam Geguritan I Belog, dapat dilihat dalam tabel berikut:




Baris ke-
Frekuensi Pengurangan Suku Kata (kali) Persentase

1 4 4/154 x 100% = 2, 60 %
2 1 1/154 x 100% = 0, 65 %
3 0 0/154 x 100% = 0 %
4 18 18/154 x 100% = 11, 69 %
5 3 3/154 x 100% = 1, 95%
6 110 110/154 x 100% = 71, 43 %
7 0 0/154 x 100% = 0 %

Tabel di atas memperlihatkan bahwa dalam Geguritan I Belog, pengurangan suku kata terhadap pupuh Durma yang dilakukan oleh pengarang paling banyak terdapat pada baris ke-6 yang seharusnya berjumlah 5 suku kata, namun dalam geguritan ini pengarang dominan menggunakan 4 suku kata.
4.1.1.3 Penggantian Vokal Akhir dalam tiap Baris Pupuh
Penggantian vocal akhir dalam tiap baris pupuh tidak banyak dilakukan pengarang dalam geguritan ini. Penggantian yang terjadi hanya satu jenis, yaitu penggantian vocal “a” menjadi “é”, antara lain:
1) yéh nyonyoné kenyed-kenyed (bait 16, baris ke-4)
2) mara ya teked (bait 19, baris ke-5)
3) ento lemah lemeng (bait 51, baris ke-3)
4) né jani suba ya lalin atengah lemeng (bait 83, baris ke-1)
5) ngongkon paek (baris 136, baris ke-6).


4.1.2 Ragam Bahasa
Bahasa sebagai suatu hal yang netral dengan mengatakan bahasa lembaga social yang berada di luar manusia, yang memiliki system linguistic (kode) sudah ada sebelum orang-orang menyampaikan pesannya dalam bentuk tuturan (Damono, 1978: 40).
Ragam bahasa merupakan model penggunaan bahasa dalam teks, dalam hal ini menyangkut tentang penggunaan bahasa Bali dalam Geguritan I Belog. Secara umum, BB memiliki dua dialek yaitu: dialek Bali Aga dan dialek Bali Dataran. Bahasa Bali Dataran memiliki stratifikasi/tingkatan-tingkatan bahasa yang juga disebut dengan istilah anggah-ungguhing basa. Munculnya anggah-ungguhing basa Bali dalam Bahasa Bali disebabkan oleh adanya stratifikasi masyarakat suku Bali. Stratifikasi masyarakat suku Bali ada dua, yaitu: stratifikasi masyarakat Bali tradisional dan stratifikasi masyarakat suku Bali modern. Pada masa lalu stratifikasi masyarakat suku Bali ditandai dengan adanya tingkatan-tingkatan sosial berdasarkan keturunan, senioritas, kekuasaan, dan keahlian. Stratifikasi masyarakat suku Bali modern berdasarkan keahlian, pendidikan, kepangkatan, dan kekuasaan, namun pelapisan masyarakat menurut keturunan/wangsa tetap ada. Berbicara dengan bahasa Bali agar sesuai dengan anggah-ungguhing basa Bali dapat dilakukan dengan memilih kata-kata bahasa Bali yang telah ada, yang masing-masing kata tersebut telah mengandung rasa sosial. Kata-kata andap, mider, alus akan dapat membentuk kalimat alus dan bahasa alus. Kata-kata andap, kata mider akan membentuk kalimat dan bahasa andap. Kata-kata alus madia, alus mider, mider, dan andap akan membentuk kalimat alus madia dan bahasa madia. Kata-kata alus sor, alus mider, mider, andap akan membentuk kalimat alus sor. Kata-kata alus singgih, alus mider, dan kata mider akan dapat membentuk kalimat alus singgih, dan dari kata-kata alus singgih, alus madia, alus sor, mider, dan kata andap, akan terbentuk bahasa alus. (Suasta, 2006: 9-11). Ragam bahasa antara lain digunakan pada lingkungan keluarga, masyarakat, dan dalam kegiatan keagamaan.
4.1.2.1 Lingkungan Keluarga
Ragam bahasa dalam keluarga meliputi bahasa Bali yang digunakan pada saat orang tua berbicara kepada anaknya dan sebaliknya. Ragam bahasa dalam keluarga dalam Geguritan I Belog antara lain:
1) Pada saat Pan Mandel memangku I Mandel, anaknya yang masih kecil sambil mengharapkan anaknya tersebut akan tumbuh menjadi anak yang berguna. Kutipannya :
Duh mirah bapa tuara lén manyancang/ urip i bapané cai/ kalih enggal-engga// sang mabahan tuwuh dawa/ tutut badah ngidep munyi/ da kageringan/ dumadakan siin Widhi// (bait 7).

Terjemahannya:
Wahai anakku sayang tidak ada lain ayah menambatkan/ hidup ayahmu ini/ cepat-cepatlah/ yang membawa umur panjang/ ikutilah tutur yang baik/ jangan hidup kekurangan/ semoga kasih Tuhan//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.
2) Pada saat Pan Mandel selesai memasak dan mengajak Men Mandel makan. Kutipannya sebagai berikut:
Pan Mandel mangaukin mémén I Barak/ mai madaaran mai/ maoran kasela/ apanga dadi agoran/ kenahané manyonyoin/ Mén Mandel ya/ macara tuara nyautin// (bait 60).

Terjemahannya:
Pan Mandel memanggil istrinya/ ke sini makan nasi/ bercampur ketela/ supaya bercampur/ berpikir menyusui/ Men Mandel/ tidak menjawab//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.
3) Pada saat Men Mandel bertanya kepada I Belog, alasannya menghilang seharian dan tidak pulang ke rumah. Kutipannya sebagai berikut:
.......né ko cai teka/ luas uli dija busan/ tuara ngenah uling ibi/ mémé jumah/ empeng maningehang munyi// (bait 61).

Terjemahannya:
nah kamu sudah datang/ pergi dari mana tadi/ tidak kelihatan dari kemarin/ ibu di rumah/ bising mendengarkan suara//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.
4) Pada saat I Belog mencaci ibunya sendiri. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog masaut lantas ya ngawada/ nyén sudi mangenemin/ pitrané kasasar/ mai tuun manjadma/ ngenahang gobané asri/ boke bawak/ giling buka umpag-ampig// (bait 63)

Terjemahannya:

I Belog menjawab lalu mencela/ siapa yang sudi menuruti/ leluhur yang tersesat/ reinkarnasi lahir ke dunia/ kelihatan wajahnya segar/ rambutnya pendek/ bergulung-gulung tidak karuan//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.
5) Pada saat Pan Mandel menasehati I Belog, karena I Belog telah mencaci ibunya sendiri dan setelah itu menyuruhnya makan. Kutipannya sebagai berikut:
......cai Belog ambul to jua/ mangemedi mémén cai/ ulat mangrasa/ jani ya tumbén mangeling// (bait 67) Padalem mémén cai uli semengan/ tong ada ya kena nasi/ jani suba sanja/ bapa suba suud nyakan/......(bait 68).

Terjemahannya:
...... kamu Belog ngambek juga/ menjelek-jelekkan ibumu/ nampaknya dia merasa/ dia tumben menangis sekarang// Kasihan ibumu dari pagi/ tidak makan nasi/ sekarang sudah sore/ ayah sudah selesai masak nasi/......

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.
6) Pada saat Men Mandel berbicara dengan Pan Mandel di tempat tidur. Kutipannya sebagai berikut:
Mén Mandel maningeh atiné makesyab/ mabading ya marep kangin/ munyiné ngetgetang/ lamun iba ja dadua/ socapan buina genit/ enyén duga/ mamitré tekén babai// (bait 79).

Terjemahannya:
Men Mandel terkejut mendengar/ dia berbalik menghadap ke timur/ suaranya gemetar/ jika kamu dua/ menegur jika lagi genit/ siapa yang sudi/ selingkuh dengan setan//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.

4.1.2.2 Lingkungan Masyarakat
1) Pada saat Jero Rangda berbicara dengan Men Mandel, ketika I Belog tidak kunjung pulang. Kutipannya:
Sai kola kado jani palélénang/ baané tuara jenek dini/ nyakuta jalema/ kola ngrasa wong kodagan/ suba sai galemekin/ gawok kola/ pianak sigané ngambulin// (bait 21) siga ko tindih pangubayané suba/ né mungguing tulis pakéling/ ento né ingetang/ tunggunnya tuah sepa/ yén ada kalunga pati/ banya siga/ kagugu bareng pancening// (bait 22).

Terjemahannya:
Sering aku dikecewakan, sekarang tidak diperhatikan/ karena tidak ada di sini/ tanggung jawab orang/ aku merasa dia orang yang mampu/ padahal sudah sering diberi makan/ gawok aku/ anakmu minggat// Kamu yang harus menanggung kesialan ini sekarang/ ini tentang peringatan/ itu yang harus diingat/ menunggu pertanda buruk/ jika ada yang meninggal dunia/ oleh kamu/ dipercayai oleh Pan Mandel juga//.

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.
2) Pada saat Men Mandel berbicara dengan Jero Rangda, ketika dia pergi ke rumah Jero Rangda untuk menanyakan keberadaan I Belog. Kutipannya:
........gusti tiang nunas icha/ antos mangkin buin awai/ yan to teka/tiang lega malih (bait 23) Duh gusti tiang nunas pangampurayang/ sapidukané mangkin/ tiang mangaturang/ apang jerone mangkin wikan/ salah benehé to dianin/ patut ké tiang/ batbatang ngamayus pati// (bait 27).

Terjemahannya:
......Gusti saya minta bantuan/ saya menunggu lagi satu hari/ jika dia datang/ saya lega lagi sedikit// Oh Nyonya, saya minta maaf/ kemarahan nyonya sekarang/ saya menghaturkan/ supaya Nyonya yang pintar/ benar salah harap dimaklumi/ benarkah saya/ diuraikan kemalasan dan kematian//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa alus sor, karena dominan menggunakan kata-kata alus sor, alus mider, mider, dan andap.
3) Pada saat Jero Rangda bertanya kepada I Belog, menanyakan alasan I Belog yang seharian tidak pulang dan menyuruhnya makan di dapur. Kutipannya sebagai berikut:
.......cai Belog uli duja/tuara mulih uling ibi/ tani ngamah/ nasin nani suba pasil// (bait 37) Mémén nani bawu san ya ngamulihang/ ya salahang kola/ ban cainé tuara teka/ suba baang kola nasi/ liu pesan/ duang pacatuné dini// (bait 38) Jani kema nani ka paon mangamah/ alihang awaké nasi/ juang aamahan/ buka ané ibi puan/ tuara kola maniténin/ nani ngamah/ kikit liu eda brangti// (bait 52).

Terjemahannya:
......kamu Belog darimana saja/ tidak pulang dari kemarin/ tidak makan/ nasimu sudah basi// Ibumu baru saja pulang/ dia di sini dari tadi/ dia merasa bersalah/ karena kamu tidak datang/ sudah aku beri nasi/ banyak sekali/ dua tempurung kelapa// Sekarang kamu pergi makan ke dapur/ ambillah nasi/ makanlah sampai kenyang/ seperti yang kemarin dan dua hari yang lalu/ tidaklah aku yang merawat/ kamu makan/ sedikit banyak jangan marah//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa andap, karena lebih dominan menggunakan kata-kata andap dan mider.
4) Pada saat I Belog memberitahu Jero Rangda untuk menghaturkan sesajen kepada dewa, agar tanaman padinya tidak diserang hama. Kutipannya sebagai berikut:
Gusti tiang nginganan yan tiang mangrasayang/ pilih kapatut marginin/ tiang ningeh orta/ munyin anaké di jalan/ kocap ada déwa sakti/ di pahuman/ di cengkoké ba danginan// (bait 42) Dumadak sadiané kapintonan/ sapangandikané iring/ nyaka abot dangan/ sampunang jeroné tulak/ tiang nyanggupang nyandangin/ lamun sadia/ padi puyung dadi jelih// (bait 45).

Terjemahannya:
Nyonya, saya memperkirakan dan saya merasakan/ melakukan jalan yang benar/ saya mendengar berita/ pembicaraan orang di jalan/ katanya ada dewa sakti/ di Pahuman/ di sisi timur desa// Semoga kesanggupan Nyonya diuji/ lakukan apa yang dikatakan/ baik berat ataupun ringan/ janganlah Nyonya menolaknya/ saya bersedia membantu/ jika menyanggupi/ padi yang kosong menjadi berisi//

Kutipan tersebut menggunakan bahasa alus sor, karena dominan menggunakan kata-kata alus sor, alus mider, mider, dan andap.
4.1.2.2 Kegiatan Keagamaan
Pada saat Jero Rangda berdoa memohon kepada dewa, agar tanaman padinya tidak diserang hama. Kutipannya sebagai berikut:
Titiang mangaturang canang atagelan/ apang suka manyenengin/ titiang nunas icha/ yén punapi né makada/ padin titiangé mbud sami/ puyung samian/ tan urung titiang mati arig// (bait 102) ......titiang nunas icha lugra/ padiné apanga jelih/ cicing kedat/ titiang nyauhang sasangi// (bait 103) Wus manyiné apang titiang mangaturang/ papenek katimun guling/ yan tuara kapihalang/.......(bait 104)

Terjemahannya:
Hamba menghaturkan sesajian/ supaya dewa mengabulkan/ saya meminta anugrah/ entah apa yang menyebabkan/ padi hamba rusak semua/ semua tidak berisi apa/ bukan tidak mungkin saya akan mati// ......hamba meminta anugrah/ supaya padinya bagus/ anjing bisa membuka mata/ hamba akan menghaturkan sesajian sebagai janji hamba//...... Setelah panen hamba akan menghaturkan/ menghaturkan babi guling/ jika tidak ada halangan......

Kutipan tersebut menggunakan bahasa alus sor, karena dominan menggunakan kata-kata alus sor, alus mider, mider, dan andap.



4.1.3 Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur, yaitu: kejujuran, sopan-santun, dan menarik. (Keraf dalam Tarigan, 1985: 5). Esten mengatakan bahwa gaya bahasa adalah cara pengarang dalam mengungkapkan suatu pengertian dalam kata (frase), kelompok kata, dan kalimat. Gaya bahasa sesungguhnya berasal dari batin seseorang/pengarang (1978: 28).
Aminuddin menyatakan bahwa masalah gaya dalam sastra berkaitan erat dengan masalah gaya dalam bahasa itu sendiri. Istilah gaya bahasa diangkat dari istilah style, yang berasal dari bahasa Latin stilus dan mengandung arti leksikal ‘alat untuk melukis’. Istilah gaya dalam karya sastra mengandung pengertian sebagai cara pengarang dalam menyampaikan gagasannya, dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis, serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca (1987: 72). Menurut Nurgiyantoro, istilah gaya bahasa sama dengan stile (sebagai pengindonesiaan dari style) pada hakikatnya merupakan teknik, teknik pemilihan ungkapan kebahasaan, yang dirasa dapat mewakili sesuatu yang akan diungkapkan (1994: 277).
Tarigan membagi gaya bahasa menjadi empat jenis, yaitu: (1) Gaya bahasa perbandingan, yang meliputi: perumpamaan, metafora, personifikasi, depersonifikasi, alegori, antitesis, pleonasme/tautology, perifrasis, prolepsis/antisipasi, dan koreksio/epanortosis (1985: 8), (2) Gaya bahasa pertentangan, meliputi: hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralipsis, zeugma, silepsis, satire, innuendo, antifrasis, paradoks, klimaks, anabasis, antiklimaks, dekrementum, katabasis, batos, apostrof, anastrof, invensi, apofasis, hyperbaton, hipalase, sinisme, dan sarkasme (1985: 53-54), (3) Gaya bahasa pertautan, meliputi: metonimia, sinekdoke, alusi, eufimisme, eponim, epitet, antonomasia, erotesis, paralelisme, ellipsis, gradasi, asyndeton, dan polisindeton (1985: 120-121), (4) Gaya bahasa perulangan, meliputi: aliterasi, asonansi, antanaklasis, kiasmus, epizeukis, tautotes, anaphora, epistrofa, simploke, mesodilopsis, epanalepsis, dan anadiplosis (1985: 179).
Gaya bahasa dalam bahasa Bali dikenal dengan istilah basita paribasa, yaitu: bicara atau kata-kata, ajaran, teguran, celaan, hardikan, ambukan, dan hukuman (Simpen: 1990: 1). Lebih lanjut dikatakannya, bahwa basita paribasa mencakup: (1) sesonggan (pepatah), (2) sesenggakan (ibarat), (3) wewangsalan (tamil), (4) sloka (bidal), (5) beladbadan (metafora), (6) peparikan (pantun indah), (7) pepindan (perumpamaan), (8) sesawangan (perumpamaan), (9) cecimpedan (teka-teki), (10) cecangkriman (syair teka-teki), (11) cecangkitan (olok-olokan), (12) raos ngempelin (pelawak), (13) sesimbing (sindiran), (14) sesemon (sindiran halus), (15) sipta (alamat), dan (16) sesapan (doa).
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, maka gaya bahasa yang terdapat dalam Geguritan I Belog, yaitu:



4.1.3.1 Gaya Bahasa Perbandingan
1) Perumpamaan
Perumpamaan adalah padanan kata simile dalam bahasa Inggris. Kata simile berasal dari bahasa Latin yang bermakna ’seperti’. Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan dan sengaja kita anggap sama (Tarigan, 1985: 9-10). Gaya bahasa perumpamaan sepadan dengan pepindan, sesawangan, dan sesenggakan dalam gaya bahasa dalam bahasa Bali (basa basita). Pepindan pada dasarnya sama dengan sesawangan, perbedaannya hanya pada penggunaan kata pembanding, seperti: buka, kadi, luir, dan sebagainya, yang ditempatkan di awal maupun di tengah kalimat pada sesawangan. Kata-kata pembanding tersebut tidak dipakai dalam pepindan, namun dalam pepindan disertai adanya nasalisasi. Sesenggakan pada dasarnya mirip dengan sesawangan, namun pada sesawangan secara konsisten diawali oleh kata pembanding buka. Beberapa gaya bahasa perumpamaan yang terdapat dalam Geguritan I Belog, antara lain:
(1) mirib utah anak jampi (bait 26, baris ke-7)
(2) alis ngamacan nyereming (bait 64, baris ke-2)
(3) kuping sinduk jagut pangi (bait 26, baris ke-5)
(4) buka bulan matan ai (bait 126, baris ke-5)
(5) kadi kumbang/ wali-wali ngisep sari (bait 143, baris ke-6 dan VII)
2) Personifikasi
Persinifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Beberapa gaya bahasa personifikasi yang terdapat dalam Geguritan I Belog, antara lain:
(2) munyiné empuk getingang (bait 11, baris 4)
(3) ketan jakané giling mahikuh lubak (bait 40, baris ke-1)
3) Antitesis
Antitesis adalah sejenis gaya bahasa yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonym, yaitu kata-kata yang mengandung ciri-ciri semantic yang bertentangan (Ducrot dan Todorov dalam Tarigan, 1985: 27). Beberapa gaya bahasa antitesis yang terdapat dalam Geguritan I Belog, antara lain:
(1) padi puyung dadi jelih (bait 45, baris ke-7)
(2) tuara ngitungang sor singgih (bait 50, baris ke-7)
(3) kiri kanan (bait 98, baris ke-6)
(4) luh muani pada-pada (bait 126, baris ke-4)
(5) predana purusa (bait 130, baris ke-3)
(6) kangin kauh sok mangamah (bait 152, baris ke-4)
4.1.3.2 Gaya Bahasa Pertentangan
1) Hiperbola
Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya atau sifatnya, dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya. (Tarigan, 1985: 55). Beberapa gaya bahasa hiperbola yang terdapat dalam Geguritan I Belog, antara lain:
(1) kasugihané tan kosih (bait 1, baris ke-5)
(2) ban mahutang matungguin (bait 5, baris ke-2)
(3) ban lacuré tuara gigis (bait 5, baris ke-5)
(4) melahé tuara nandinging (bait 95, baris ke-5)
2) Paradoks
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya (Keraf dalam Tarigan, 1985: 77). Beberapa gaya bahasa paradoks yang terdapat dalam Geguritan I Belog, antara yaitu:
dané kedék lan mangeling (bait 117, baris ke-2)
4.2 Struktur Naratif Geguritan I Belog
4.2.1 Sinopsis
Ada suatu cerita di banjar Pahuman, seorang janda bernama Jero Rangda Nyoman yang kekayaannya tak terhingga banyaknya, peninggalan dari suaminya. Ditempat lain diceritakan Pan Mandel dan Men Mandel yang mempunyai dua orang anak, yang pertama bernama I Belog dan yang kedua bernama I Mandel. Kehidupan Pan Mandel dan keluarganya serba kekurangan, setiap hari mereka meminjam dan meminta belas kasihan tetangga tanpa ingat mengembalikan. Itulah sebabnya I Belog diserahkan untuk mengabdi kepada Jero Rangda Nyoman.
Pada suatu hari, Men Mandel pergi ke rumah Jero Rangda Nyoman untuk menanyakan keberadaan I Belog yang dari kemarin belum pulang. Di sana Men Mandel diberi makanan oleh Jero Rangda Nyoman, kemudian berpamitan pulang. Setelah Men Mandel pergi, datanglah I Belog. Jero Rangda Nyoman memberitahu I Belog bahwa tadi ibunya mencari kesini, dan menanyakan kemana saja I Belog dari kemarin tidak pulang. Kemudian I Belog mengatakan bahwa dirinya baru datang dari sawah, melihat padi yang terancam panen karena dimakan belalang. Padahal itu hanya alasanya saja agar tidak kena marah, padi yang baru mulai berbiji memang belum berisi. I Belog menyarankan kepada Jero Rangda Nyoman untuk menghaturkan banten di sawah, agar padinya tidak gagal panen. Setelah itu, I Belog disuruh makan dan sorenya dia berpamitan pulang.
Diceritakan Pan Mandel baru sampai di rumah membawa sayur dan singkong, serta kayu bakar, kemudian dia memasak. Setelah matang, Pan Mandel memanggil Men Mandel untuk makan, tiba-tiba datang I Belog dari luar. Men Mandel segera bertanya kepada I Belog, kemana saja dari kemarin tidak pulang. Kemudian I Belog menjawab bahwa dia mendapat tugas dari Jero Rangda Nyoman, dan dia juga mencela serta mengatakan kejelekan orang tuanya sendiri, yang banyak punya hutang. Men Mandel menangis mendengar itu dan kemudian Pan Mandel berusaha menyadarkan I Belog, kemudian mengajaknya makan. Setelah malam, Pan Mandel, Men Mandel, dan I Mandel tidur, sedangkan I Belog pergi ke luar berjalan-jalan karena sedang terang bulan. Sampai tengah malam dia akan membuat siasat besok dia akan menyamar menjadi dewa.
Sekarang diceritakan Jero Rangda Nyoman yang tiba-tiba terbangun dari tidur karena, bermimpi diperkosa oleh seorang pemuda yang kemudian berubah menjadi ular yang melilitnya. Lalu Jero Rangda Nyoman meminta tolong kepada Pan Mandel dan Men Mandel. Kemudian Men Mandel pergi ke rumah Jero Rangda Nyoman untuk menemani dan memasak di pagi hari, serta menyiapkan banten untuk Jero Rangda Nyoman yang akan menghaturkannya untuk memohon agar padinya tidak gagal panen. Ternyata I Belog sudah mendahului ke tempat Jero Rangda Nyoman akan menghaturkan banten. Di sana I Belog menyamar menjadi dewa, mencoret-coret mukanya dengan arang dan kapur. Setelah Jero Rangda Nyoman selesai menghaturkan banten tersebut, kemudian I Belog mulai beraksi. I Belog dengan menyamarkan suaranya, mengaku dewa yang akan mengabulkan permohonan Jero Rangda Nyoman. Padinya tidak akan gagal panen jika Jero Rangda Nyoman mau menikah dengan I Belog. Kemudian dewa samaran itu menyuruh Jero Rangda Nyoman untuk segera pulang dan mencari I Belog. Lalu I Belog, bergegas menuju rumah Jero Rangda Nyoman dan tidak lupa mencuci mukanya.
Setelah sampai di rumah, Jero Rangda Nyoman tampak bersedih dan tidak nafsu makan. Saat hari mulai malam, Jero Rangda memanggil I Belog agar membawakannya lampu. I Belog yang akan berpamitan pulang, dilarang oleh Jero Rangda Nyoman. Jero Rangda meminta agar I Belog menginap dan menemaninya tidur. Kemudian Jero Rangda Nyoman menceritakan perintah dari dewa, agar dia mau menikah dengan I Belog, jika ingin padinya tidak gagal panen. I Belog tersenyum dalam hati, pura-pura tidak tahu. Selanjutnya sampai pagi, berdua bersama di satu tempat tidur. Besok paginya, Men Mandel yang mengetahui hal tersebut merasa sangat senang, dan mengantar Jero Rangda Nyoman pergi ke rumah sulinggih untuk meminta dewasa.
4.2.1 Insiden
Sudjiman (1986: 35) mengemukaan bahwa insiden merupakan suatu kejadian atau yang menjadi bagian yang dipilah (distinct) dari lakuan. Insiden yang dirangkaikan dengan cara tertentu, merupakan episode dalam alur. Menurut Sukada (1993: 58-59) berpendapat bahwa insiden ialah kejadian atau peristiwa yang terkandung dalam cerita, besar atau kecil. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk struktur cerita.
Brahim (1969: 65) bahwa insiden terjadi karena gerakan, adanya tindakan dalam situasi, juga karena adanya pelaku yang bertindak. Insiden ini harus berkembang sambung-menyambung secara kausal yang satu berhubungan dengan yang lainnya sampai cerita berakhir. Insiden ini biasanya hanya dapat ditangkap secara wajar, bila cara melukiskannya dapat diterima secara logis, sehingga insiden itu akan tampak seperti sungguh-sungguh ada. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk cerita.
Berdasarkan pada pengertian insiden tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa insiden adalah peristiwa yang terkandung dalam suatu cerita. Insiden yang membangun alur cerita dalam Geguritan I Belog di awali ketika Pan Mandel yang kelaparan pergi dari rumah untuk mencari makanan. Kutipannya sebagai berikut:
Pesu lantas nyaruwang basangé layah/ mlali-lali kelod kangin/ tusing ada unuhan/ anaké ngebét kaséla/ di tegale kelod kangin/ lantas ya ngalap/ paku kedisé né liking// (bait 10)

Terjemahannya:
Kemudian dia ke luar rumah menyembunyikan perut yang lapar/ berjalan-jalan ke tenggara/ tidak ada tujuan/ ada orang panen singkong/ di kebun di tenggara/ kemudian dia memetik/ daun paku yang hampir kering//

Insiden selanjutnya adalah pada saat Men Mandel meninggalkan I Mandel untuk pergi ke rumah tetangga untuk meminjam beras, akan tetapi tidak ada tetangga yang mau memberinya beras. Para tetangga enggan meminjamkan beras, karena sudah sangat sering Men Mandel meminjam beras kepada tetangganya, tetapi tidak pernah dikembalikan. Akhirnya, Men Mandel pulang ke rumah dan didapati anaknya menangis kehausan, lalu diberikannya asi. Kutipannya sebagai berikut:
Mén Mandel luas mangunya ka pisaga/ laju pianaké belasin/ sing jalan mapeta/ munyiné empuk getingan/ anak bisa mangenyorin/ anggon jalaran/ nyilih baas sasai// (bait 11) saliun anaké di banjar Pahuman/ suba pada kasilihin/ baas maan di banjar/ anaké mautangang/ acééng acatu nyilih/ aparapatan/ mawuwuh acengkilik// (bait 12) Jani suba ya pada mangrasa tangar/ anaké bakal nganemin/ munyiné bas lompang/ tong taén nyak mayah utang/ kéwala inget manyilih/ nyén tuah lega/ sai silihin linyokin// (bait 13) Apisan pindo énu masih mamaang/ pada olas nyempolihin/ belas kikil mautang/ buka tong taén pasaja/ munyiné acepok cerik/ nah suba papak/ jani taén kena latih// (bait 14) Malipetan mulih tulus manyengisang pianaknyané mangeling/ sangkil kenyel bedak/ di ayunané ya uyang/ langsar-longsor engkik-engkik/ tur lima renggah/ batisnya né kenjir-kenjir// (bait 15) Jani saup abin pianaké diman/ lantas jani panyonyonin/ sok ada kenyotang/ yéh nyonyoné kenyed-kenyed/ baané tuara kena nasi/ uling semengan/ mabuat ya tuara ajin// (bait 16)

Terjemahannya:

Men Mandel pergi berkunjung ke tetangga/ sampai hati meninggalkan anaknya/ dipinggir jalan berkata-kata/ perkataannya membual dan menjijikkan/ membuat orang merasa tersanjung/ sebagai cara/ sering meminjam beras// Sejumlah orang di banjar Pahuman/ sudah semua pernah dipinjami/ beras yang didapat di banjar/ orang-orang meminjamkan/ satu ceeng satu catu meminjam/ satu seperempat/ ditambah satu takaran beras yang terkecil dari tempurung kelapa// Sekarang sudah semua merasa sadar/ orang-orang akan menanggapi/ perkataannya tidak pernah ditepati/ tidak pernah mau membayar hutang/ tetapi ingat meminjam/ siapa yang rela/ sering dipinjami tapi dicurangi// Sekali dua kali masih mau memberi/ merasa iba meminjamkan/ merasa kasihan berhutang/ seperti tidak pernah terbukti/ perkataannya sekali saja kecil/ ya sudah makanlah/ sekarang tidak pernah berhasil/ Kembali pulang dengan muka cemberut/ anaknya menangis/ karena capek dan haus/ gelisah di ayunan/ tidak diam-diam dan menangis tersedu-sedu/ dan tangannya menggapai kemana-mana/ kakinya naik ke atas// Sekarang dirangkul, dipangku, dan dicium/ kemudian disusui/ seperti ada yang terasa sakit/ payudaranya terasa sakit seperti tertusuk duri/ karena belum makan nasi/ dari pagi/ mengolesi payudara dengan parem untuk ibu menyusui, tetapi tidak berarti//


Insiden selanjutnya adalah ketika I Belog menghilang dan tidak pulang ke rumah, Men Mandel pergi ke rumah Jero Rangda Nyoman untuk menanyakan keberadaan I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Pamekelé dané Jero Rangda Nyoman/ ada tuwonya majinjin/ mai uli jaba/ Mén Mandel twara mangenah/ ada suba uling ibi/ to takonang/ I Belog twara ada mulih// (bait 20) Sai kola kado jani palélénang/ baané tuara jenek dini/ nyakuta jalema/ kola ngrasa wong kadogan/ suba sai gawok kola/ pianak sigané ngambulin// (bait 21)
Terjemahannya:

Nyonya Jero Rangda Nyoman/ dengan yakin melangkah/ keluar dari dalam rumah/ Men Mandel tidak kelihatan/ sudah dari kemarin/ itu yang ditanyakan/ I Belog tidak ada pulang// Sering aku dikecewakan, sekarang tidak diperhatikan/ karena tidak ada di sini/ tanggung jawab orang/ aku merasa dia orang yang mampu/ padahal sudah sering diberi makan/ gawok aku/ anakmu minggat//

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog yang satu hari menghilang, datang ke rumah Jero Rangda Nyoman. Kutipannya sebagai berikut:
Wau mulih Mén Mandel I Belog teka/ madelokan uli kangin/ pamekel manyapa/ cai Belog uli dija/ tuara mulih uling ibi/ tani ngamah/ nasin nani suba pasil// (bait 37) Mémén nani bawu san ya ngamulihang/ ya dini uling inuni/ ya salahang kola/ ban cainé tuara teka/ suba baang kola nasi// liu pesan/ duang pacatuné dini/ (bait 38)

Terjemahannya:

Baru Men Mandel pulang, I Belog datang/ melihat dari timur/ Jero Rangda menyapa/ kamu Belog darimana saja/ tidak pulang dari kemarin/ tidak makan/ nasimu sudah basi// Ibumu baru saja pulang/ dia di sini dari tadi/ dia merasa bersalah/ karena kamu tidak datang/ sudah aku beri nasi/ banyak sekali/ dua tempurung kelapa//


Insiden selanjutnya adalah ketika I Belog membohongi Jero Rangda Nyoman bahwa padinya rusak diserang hama, dan agar padinya tersebut tidak diserang hama lagi, maka Jero Rangda harus menghaturkan sesajen kepada dewa. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog ya makeneh ngalih pawékan/ lantas ya manyautin/ sada manyengisang/ tiang teka uli di uma/ inuni ngarwanang padi/ ané suba/ pada tarik maluspusin// (bait 39) Ketan jakané giling maikuh lubak/ wau embud maluspusin/ pabalihin tiang/ teka puyung makejang/ padi taun padi injin/ miwah ketan/ labakané puyung sami// (bait 40)

Terjemahannya:

I Belog berfikir mencari alasan/ kemudian dia menjawab/ dengan muka yang sedih/ saya datang dari sawah/ tadi melihat padi/ yang sudah/ semua merata mulai berbiji// Ketan sudah bergulung kecil-kecil bulat panjang seperti ekor luwak/ baru mulai berbiji sudah lepas/ saya perhatikan/ semua tidak berisi apa/ padi tahun dan padi ketan hitam/ dan ketan putih/ semua tidak berisi apa//

Insiden berikutnya ketika Pan Mandel selesai memasak dan menyuruh Men Mandel makan, akan tetapi Men Mandel tidak menyahut. Kutipannya sebagai berikut:
Né jani baasé enu mangiyasang/ bé paku suba makesit/ kesitané pragat/ masem juuk maiisan/ mangikih kampadé piing/ anggon ngurab/ suba pragat ya masagi// (bait 59) Pan Mandel mangaukin mémén I Barak/ mai madaaran mai/ amoran kaséla/ apanga dadi agoran/ kenahane manyonyoin/ Mén Mandel ya/ macara tuara nyautin// (bait 60)

Terjemahannya:

Sekarang berasnya sudah hampir matang/ sayur paku sudah disuwir/ sudah selesai disuwir/ ditambah perasan jeruk masah/ memarud kelapa yang baunya tengik/ digunakan mengaduk/ sudah selesai dia memasak// Pan Mandel memanggil istrinya/ ke sini makan nasi/ bercampur ketela/ supaya bercampur/ berpikir menyusui/ Men Mandel/ tidak menjawab//

Insiden selanjutnya pada saat I Belog pulang ke rumahnya dan ketika ditanya oleh Ibunya, dia menjawab dengan kasar serta mencaci ibunya sendiri. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog teka nelon uli di wangan/ méménnyané manyapatin/ né ko cai teka/ luas uli dija busan/ tuara ngenah uling ibi/ mémé jumah/ empeng maningeang munyi// (bait 61) I Belog masaut lantas ya ngawada/ nyén sudi mangenemin/ pitrané kasasar/ mai tuun manjadma/ ngenah gobané asri/ boké bawak/ giling buka umpag-ampig// (bait 63)

Terjemahannya:

I Belog datang dari luar/ ibunya menyapa/ nah kamu sudah datang/ pergi dari mana tadi/ tidak kelihatan dari kemarin/ ibu di rumah/ bising mendengarkan suara// I Belog menjawab lalu mencela/ siapa yang sudi menuruti/ leluhur yang tersesat/ reinkarnasi lahir ke dunia/ kelihatan wajahnya segar/ rambutnya pendek/ bergulung-gulung tidak karuan//

Insiden selanjutnya adalah ketika I Belog pergi keluar rumah pada malam hari untuk membuat siasat akan menipu Jero Rangda Nyoman. Kutipannya sebagai berikut:
Jani suba peteng masan ngenyit damar/ Pan Mandel mangungkab sagi/ suudé mangamah/ I Belog ya mamesuang/ di marginé gendang-gending/ nuju galang/ bulan purnama buin mani// (bait 74) Né jani suba ya lalin atengah lemeng/ kocap I Belog ngendusin/ uli paselidan/ suba ya mabaan daya/ bakal pesuanga mani/ ndadi déwa/ né di cengkohok ba dangin// (bait 83)

Terjemahannya:

Sekarang sudah malam, orang-orang sudah menyalakan lampu templek/ Pan Mandel membuka makanan/ sesudah makan/ I Belog pergi ke luar/ bernyanyi-nyanyi di jalan/ menjelang terang/ besok bulan purnama// Sekarang sudah larut malam/ diceritakan I Belog merasakan/ dari tadi/ sudah membuat siasat/ akan digunakan besok/ menjadi dewa/ di sisi timur desa//

Insiden berikutnya adalah pada saat Jero Rangda bermimpi diperkosa oleh seorang pemuda dan pemuda itu berubah menjadi ular lalu melilitnya. Kutipannya sebagai berikut:
Jani kocapan dané Jero Rangda Nyoman/ tangkejut bangun mangipi/ kaarep ring truna/ bagus teka mrakosa/ mangebeg ya manglulusin/ subak kemben/ malaib akaron tapih// (bait 84) Kaget dadi lalipi selan alutan/ manujah ya manglilit/ tangkejut makesyab/ ngendusin ya kapupungan/ katulung-tulung mangeling/ bangun narajang/ Pan Mandel dundun Mén Cening// (bait 85)

Terjemahannya:

Sekarang diceritakan Jero Rangda Nyoman/ terkejut bangun bermimpi/ bertemu dengan pemuda/ ganteng datang memperkosa/ menarik dan melucuti/ kain/ berlari dengan memakai pakaian dalam// Tiba-tiba menjadi ular/ menyembur dan melilit/ terkejut/ merasa mengigau/ meminta tolong sambil menangis/ bangun tergesa-gesa/ Pan Mandel bangunkan Men Mandel//

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog menyamar menjadi dewa dengan moncontreng-contreng wajahnya dengan arang dan kunyit untuk menipu Jero Rangda Nyoman, dan menyuruhnya menikah dengan I Belog agar tanaman padi tidak rusak dan diserang hama lagi. Kutipannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolekin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih enggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (bait 107)

Terjemahannya:
Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

Insiden selanjutnya adalah pada saat Jero Rangda Nyoman dengan berat hati mau menikah dengan I Belog, karena itu adalah perintah dewa dan supaya padinya tidak rusak lagi. Kutipannya sebagai berikut:
Da luwas medhem dini sisinin kola/ ada né orahang gati/ I Belog nuhutang/ lantas ya ngebahang awak/ mangejohang sisi badangin/ sambilanga/ ni jro rangda kisi-kisi// (bait 131) Nah néné jani kola ngorahin siga/ pangandikan Widhi pingit/ eda ngawérayang/ kola kapangandikayang/ ngenyakin tekéning nani/ apang kedat/ cicingé padine jelih/ (bait 132)

Terjemahannya:

Jangan pergi, tidurlah di sini bersamaku/ ada yang ingin kusampaikan/ I Belog menuruti/ lalu dia tidur/ menjauh di sisi timur/ sambilanga/ Jro Rangda berbisik-bisik// Nah, sekarang aku memberitahumu/ perintah dewa yang sakral/ jangan menolak/ aku diperintahkan untuk/ mau menikah denganmu/ supaya anak anjing bisa membuka mata/ dan padi yang kosong menjadi berisi//

Insiden terakhir adalah pada saat Jero Rangda Nyoman bersama Men Mandel pergi ke rumah seorang sulinggih untuk menanyakan penyebab hatinya yang selalu gelisah, dan ternyata Jero Rangda Nyoman sudah hamil. Men Mandel pun langsung menyarankan untuk mencari hari baik. Kutipannya sebagai berikut:
Swargané baya keto tani gampang/ saling ya buka pancening/ nge twara manawang/ kangin kawuh sok mangamah/ bekénan jani ya usil/ tiang suba/ malu celodan mabuncing// (bait 152) masih juga kabukti tiangé madéwasa/ twara inget tekéning/ awak papetengan/ awahi né maka sanja/ pamekelé kedék nuding/ siga bobab/ matan sigané juari// (bait 153)

Terjemahannya:
Sorga yang terusik, tidaklah mudah/ apalagi seperti Pan Mandel/ yang tidak tahu/ dari tumur ke barat hanya makan/ hanya sekarang dia usil/ saya sudah/ duluan mengalami hamil// Saya juga sudah terbukti mencari hari baik/ tidak ingat dengan/ diri tidak jelas/ seharian sampai sore/ Jro Rangda tertawa menuduh/ kamu berbohong/ kamu tidak tahu malu//
4.2.2 Alur
Stanton mengemukakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (dalam Nurgiyantoro, 1995:113), sedangkan Semi (1988: 43) menyatakan bahwa alur (plot) struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebuah interelasi yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dari keseluruhan fiksi. Aminuddin (1987: 83) berpendapat bahwa rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita. Alur bukanlah sekedar rangkaian peristiwa yang biasa berkaitan, dengan kata lain alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan penyelesaian (Sudjiman, 1988: 4).
Esten menyatakan (1987: 26-27) alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita rekaan. Biasanya alur dari sebuah cerita rekaan terdiri dari ; 1) situasi atau mulai melukiskan keadaan, 2) peristiwa-peristiwa mulai bergerak, 3) keadaan mulai memuncak, 4) klimaks atau mencapai titik puncak, dan 5) pemecahan soal atau penyelesaian. Alur yang baik adalah alur yang dapat membantu mengungkapkan tema dan amanat dari peristiwa-peristiwa seta adanya hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang wajar antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
Menurut Tarigan (1984: 128) bahwa pada dasarnya kebanyakan alur mengikuti pola tradisional dengan unsur-unsur seperti :
1) exposition yaitu pengenalan para tokoh, pembukaan hubungan menata adegan, menciptakan suasana, penyajian sudut pandang.
2) complication yaitu peristiwa permulaan yang menimbulkan beberapa masalah, kesukaran.
3) rising action yaitu mempertinggi/meningkatkan perhatian kegembiraan, kehebohan, saat bertambahnya kesukaran atau kendala-kendala.
4) turning point yaitu klimaks, titik emosi, dan perhatian yang paling besar serta mendebarkan.
5) ending yaitu penyelesaian peristiwa-peristiwa, bagaimana caranya para tokoh dipengaruhi dan apa yang terjadi atas diri mereka masing-masing.
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas dapat disimak bahwa alur (plot) adalah unsur dasar penggerak sebuah cerita, yang merupakan rangkaian sebab akibat yang saling berhubungan. Pendapat-pendapat ahli di atas semuanya berkaitan dan saling mendukung, namun dalam menganalisis Geguritan I Belog ini lebih banyak digunakan pendapat dari Guntur Tarigan, sehingga dapat dilihat alur dari Geguritan I Belog adalah:
Pengarang mulai melukiskan suatu keadaan (Exposition). Pada bagian ini pengarang memperkenalkan para tokoh dan keadaannya. Jero Rangda Nyoman adalah seorang janda yang kaya, sedangkan I Belog dan keluarganya hidup dalam kemiskinan. I Belog adalah anak pertama dari Pan Mandel dan Men Mandel, sedangkan I Mandel adalah anak kedua. Kutipannya sebagai berikut:
Hana katuturan satua babongengan/ kanggon senggak kagurit/ di banjar pahuman/ kocapan Jero Rangda Nyoman/ kasugihane tan kosih/ sisan prabiya/ tatinggalan jero muani// (bait 1) Tunda ya npen Mandel nu makurenan/ pianaké ada dwang dihi/ I Belog wayahan/ bawu mara menék truna/ adiné I Mandel cenik/ nanangé bas liwat/ maywa buka jani// (bait 2)

Terjemahannya:
Ada suatu cerita lelucon/ diciptakan untuk menyindir/ di banjar Pahuman/ diceritakan Jero Rangda Nyoman/ kekayaannya tidak terhitung/ sisa piutang/ peninggalan suaminya// Di tempat lain diceritakan Mandel yang sudah menikah/ mempunyai dua orang anak/ anak pertama bernama I Belog/ baru remaja/ adinya yang kecil bernama I Mandel/ ayahnya kelewatan/ miskin saat ini//

Selanjutnya adalah peristiwa bersangkutan mulai bergerak (Complication). Pada bagian ini diceritakan ketika Pan Mandel yang kelaparan pergi dari rumah untuk mencari makanan, sedangkan Men Mandel meninggalkan I Mandel untuk pergi ke rumah tetangga untuk meminjam beras, akan tetapi tidak ada tetangga yang mau memberinya beras. Para tetangga enggan meminjamkan beras, karena sudah sangat sering Men Mandel meminjam beras kepada tetangganya, tetapi tidak pernah dikembalikan. Kutipannya sebagai berikut:
Pesu lantas nyaruwang basangé layah/ mlali-lali kelod kangin/ tusing ada unuhan/ anaké ngebét kaséla/ di tegalé kelod kangin/ lantas ya ngalap/ paku kedisé né liking// (bait 10) Mén Mandel luas mangunya ka pisaga/ laju pianaké belasin/ sing jalan mapeta/ munyiné empuk getingan/ anak bisa mangenyorin/ anggon jalaran/ nyilih baas sasai// (bait 11) saliun anaké di banjar Pahuman/ suba pada kasilihin/ baas maan di banjar/ anaké mautangang/ acééng acatu nyilih/ aparapatan/ mawuwuh acengkilik// (bait 12) Jani suba ya pada mangrasa tangar/ anaké bakal nganemin/ munyiné bas lompang/ tong taén nyak mayah utang/ kewala inget manyilih/ nyén tuah lega/ sai silihin linyokin// (bait 13)

Terjemahannya:
Kemudian dia ke luar rumah menyembunyikan perut yang lapar/ berjalan-jalan ke tenggara/ tidak ada tujuan/ ada orang panen singkong/ di kebun di tenggara/ kemudian dia memetik/ daun paku yang hampir kering// Men Mandel pergi berkunjung ke tetangga/ sampai hati meninggalkan anaknya/ dipinggir jalan berkata-kata/ perkataannya membual dan menjijikkan/ membuat orang merasa tersanjung/ sebagai cara/ sering meminjam beras// Sejumlah orang di banjar Pahuman/ sudah semua pernah dipinjami/ beras yang didapat di banjar/ orang-orang meminjamkan/ satu ceeng satu catu meminjam/ satu seperempat/ ditambah satu takaran beras yang terkecil dari tempurung kelapa// Sekarang sudah semua merasa sadar/ orang-orang akan menanggapi/ perkataannya tidak pernah ditepati/ tidak pernah mau membayar hutang/ tetapi ingat meminjam/ siapa yang rela/ sering dipinjami tapi dicurangi//

Keadaan mulai memuncak (Rising Action). Keadaan mulai memuncak ketika I Belog menghilang dan tidak pulang ke rumah, Men Mandel pergi ke rumah Jero Rangda Nyoman untuk menanyakan keberadaan I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Pamekelé dané Jero Rangda Nyoman/ ada tuwonya majinjin/ mai uli jaba/ Mén Mandel twara mangenah/ ada suba uling ibi/ to takonang/ I Belog twara ada mulih// (bait 20) Sai kola kado jani palélénang/ baané tuara jenek dini/ nyakuta jalema/ kola ngrasa wong kadogan/ suba sai gawok kola/ pianak sigané ngambulin// (bait 21)

Terjemahannya:

Nyonya Jero Rangda Nyoman/ dengan yakin melangkah/ keluar dari dalam rumah/ Men Mandel tidak kelihatan/ sudah dari kemarin/ itu yang ditanyakan/ I Belog tidak ada pulang// Sering aku dikecewakan, sekarang tidak diperhatikan/ karena tidak ada di sini/ tanggung jawab orang/ aku merasa dia orang yang mampu/ padahal sudah sering diberi makan/ gawok aku/ anakmu minggat//


Klimaks (Turning Point) dalam geguritan ini adalah pada saat I Belog menyamar menjadi dewa dengan moncontreng-contreng wajahnya dengan arang dan kunyit untuk menipu Jero Rangda Nyoman, dan menyuruhnya menikah dengan I Belog agar tanaman padi tidak rusak dan diserang hama lagi. Terjemahannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolekin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih enggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (bait 107)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

Penyelesaian (Ending) dari geguritan ini adalah pada saat Jero Rangda Nyoman dengan berat hati mau menikah dengan I Belog, karena itu adalah perintah dewa dan supaya padinya tidak rusak lagi. Kemudian, Jero Rangda Nyoman bersama Men Mandel pergi ke rumah seorang sulinggih untuk menanyakan penyebab hatinya yang selalu gelisah, dan ternyata Jero Rangda Nyoman sudah hamil. Men Mandel pun langsung menyarankan untuk mencari hari baik. Kutipannya sebagai berikut:
Da luwas medhem dini sisinin kola/ ada né orahang gati/ I Belog nuhutang/ lantas ya ngebahang awak/ mangejohang sisi badangin/ sambilanga/ ni jro rangda kisi-kisi// (bait 131) Nah néné jani kola ngorahin siga/ pangandikan Widhi pingit/ eda ngawerayang/ kola kapangandikayang/ ngenyakin tekéning nani/ apang kedat/ cicingé padiné jelih/ (bait 132) Swargané baya keto tani gampang/ saling ya buka pancening/ ngé twara manawang/ kangin kawuh sok mangamah/ bekénan jani ya usil/ tiang suba/ malu celodan mabuncing// (bait 152) masih juga kabukti tiangé madéwasa/ twara inget tekéning/ awak papetengan/ awahi né maka sanja/ pamekelé kedék nuding/ siga bobab/ matan sigané juari// (bait 153)

Terjemahannya:

Jangan pergi, tidurlah di sini bersamaku/ ada yang ingin kusampaikan/ I Belog menuruti/ lalu dia tidur/ menjauh di sisi timur/ sambilanga/ Jro Rangda berbisik-bisik// Nah, sekarang aku memberitahumu/ perintah dewa yang sakral/ jangan menolak/ aku diperintahkan untuk/ mau menikah denganmu/ supaya anak anjing bisa membuka mata/ dan padi yang kosong menjadi berisi// Sorga yang terusik, tidaklah mudah/ apalagi seperti Pan Mandel/ yang tidak tahu/ dari tumur ke barat hanya makan/ hanya sekarang dia usil/ saya sudah/ duluan mengalami hamil// Saya juga sudah terbukti mencari hari baik/ tidak ingat dengan/ diri tidak jelas/ seharian sampai sore/ Jro Rangda tertawa menuduh/ kamu berbohong/ kamu tidak tahu malu//

Berdasarkan uaraian-uraian peristiwa yang membentuk struktur alur cerita Geguritan I Belog, pengarang lebih banyak menggunakan alur lurus. Peristiwa-peristiwa dalam geguritan dilukiskan secara berurutan sehingga membentuk satu jalinan cerita.
4.2.3 Latar
Setiap kejadian tentu mempunyai latar, demikian pula dengan Geguritan I Belog. Latar merupakan gambaran tempat dan waktu atau segala situasi tempat terjadinya peristiwa. Latar yang baik selalu dapat membantu elemen-elemen dalam cerita seperti plot dan perwatakan (Hutagalung, 1967: 103). Menurut Sudjiman, latar merupakan segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (1988: 44). Batasan ini menekankan pada unsur tempat waktu dan suasana sebagai unsur latar.
Sukada menyatakan bahwa latar dalam cerita pada umunya banyak menimbulkan suasana emosional yang menceritakan perwatakan. Latar biasanya mengekspresikan tokoh-tokoh cerita yang memiliki hubungan erat dalam alam dan manusia. Kehadiran latar sebagai unsur cerita merupakan penyempurnaan cerita itu dan dapat membangun suasana yang diharapkan menghasilkan kualitas keterangan efek cerita (1983: 24).
Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 1995: 227).
Menurut Kenney (dalam Sudjiman, 1988: 44), secara terperinci latar meliputi: penggambaran lokasi geografis, termasuk tofografi, pemandangan sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya musim terjadinya, lingkungan, agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh.
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa latar merupakan tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Semua pendapat para ahli di atas memang saling berhubungan dan terkait, namun analisis Geguritan I Belog ini latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, waktu dan suasana.



4.2.3.1 Latar Tempat
Seperti telah dijelaskan di awal latar tempat dimaksudkan sebagai lokasi-lokasi dimana peristiwa terjadi. Dalam Geguritan I Belog terdapat beberapa latar tempat, antara lain :
1) Di Banjar Pahuman, tempat tinggal Jero Rangda Nyoman dan keluarga I Belog, kutipannya sebagai berikut:
Hana katuturan satua babongéngan/ kanggon senggak kagurit/ di banjar pahuman/ kocapan Jero Rangda Nyoman/ kasugihané tan kosih/ sisan prabiya/ tatinggalan jero muani// (bait 1)

Terjemahannya:
Ada suatu cerita lelucon/ diciptakan untuk menyindir/ di banjar Pahuman/ diceritakan Jero Rangda Nyoman/ kekayaannya tidak terhitung/ sisa piutang/ peninggalan suaminya//

2) Di sebuah kebun di tenggara, pada saat Pan Mandel pergi dari rumah untuk mencari makan. Kutipannya sebagai berikut:
Pesu lantas nyaruwang basangé layah/ mlali-lali kelod kangin/ tusing ada unuhan/ anaké ngebét kaséla/ di tegalé kelod kangin/ lantas ya ngalap/ paku kedisé ne liking// (bait 10)

Terjemahannya:

Kemudian dia ke luar rumah menyembunyikan perut yang lapar/ berjalan-jalan ke tenggara/ tidak ada tujuan/ ada orang panen singkong/ di kebun di tenggara/ kemudian dia memetik/ daun paku yang hampir kering//

3) Di rumah Jero Rangda Nyoman, kutipannya sebagai berikut:
Jani surya tis suba ngalingsiran/ anginé tarik ngasirsir/ Mén Mandel ka jeroan/ kumah Jero Rangda Nyoman/ sambilang nyingal I Cening/ mara ya teked/ ditu ya masemu jengis// (bait 19 ).

Terjemahannya:
Sekarang hari sudah mulai sore/ angin kencang berhembus/ Men Mandel pergi ke puri/ ke rumah Jero Rangda Nyoman/ sambil menggendong anaknya yang kecil/ baru dia sampai/ di sana mukanya cemberut//

4) Di dapur rumah Jero Rangda Nyoman, kutipannya sebagai berikut:
Jani kema ka paon mangamah/ alihang awaké nasi/ juang aamahan/ buka ané ibi puan/ tuara kola manitenin/ nani ngamah/ kikit liu eda brangti// (bait 52)

Terjemahannya:

Sekarang kamu pergi makan ke dapur/ ambillah nasi/ makanlah sampai kenyang/ seperti yang kemarin dan dua hari yang lalu/ tidaklah aku yang merawat/ kamu makan/ sedikit banyak jangan marah//

5) Di rumah I Belog, pada saat Pan Mandel sudah sampai di rumah membawa paku, singkong dan kayu bakar pelepah kelapa. Kutipannya sebagai berikut:
Pan Mandel kocap ya suba teked jumah/ manyabit ya paku kedis/ mangadut kaséla/ manikul ya saang papah/ ka paon ngendihang api/ lantas nyakan/ baasé nu acengkilik// (bait 57)

Terjemahannya:

Diceritakan Pan Mandel sudah sampai di rumah/ membawa sayur paku/ membawa ketela/ memikul kayu bakar pelepah kelapa/ ke dapur menghidupkan api/ lalu memasak/ berasnya masih sedikit//

6) Di jalan, pada saat I Belog pergi ke luar rumah dan bernyanyi-nyanyi di jalan. Kutipannya sebagai berikut:
......suudé mangamah/ I Belog ya mamesuang/ di marginé gendang-gending/ nuju galang/ bulan purnama buin mani// (bait 74)

Terjemahannya:

......sesudah makan/ I Belog pergi ke luar/ bernyanyi-nyanyi di jalan/ menjelang terang/ besok bulan purnama/......

7) Di tempat tidur, pada saat Pan Mandel membersihkan tempat tidurnya. Kutipannya sebagai berikut:
Pan Mandel maluanan nyapuhin pedeman/ ané di sisi kangin/ Mén Mandel di tengah/ marep kauh ya nupdupang/ pianaké suud mangeling/ Pan Mandel ya/ medem ya sada manjuh jit// (bait 75)

Terjemahannya:
Pan Mandel mendahului membersihkan tempat tidur/ yang di sebelah timur/ Men Mandel di tengah/ menghadap barat dia meninabobokan/ anaknya yang habis menangis/ Pan Mandel/ tidur sambil nungging//

8) Di sebuah gua di timur desa, pada saat Jero Rangda Nyoman menghaturkan sesajen kepada dewa. Kutipannya sebagai berikut:
Lantas negak matimpuh ngaepin gua/ di suudé mabakti/ mangaturang canang/ saha raka woh-wohan/ burat wangi lenga wangi/ inggih déwa/ sakti manyeneng iriki// (bait 101)

Terjemahannya:
Lalu duduk bersujud menghadap gua/ sesudah sembahyang/ menghaturkan canang/ serta sesajen buah-buahan/ dan wangi-wangian/ wahai dewa/ sakti yang berstana di sini//

9) Di tepi barat sungai, pada saat I Belog mencuci mukanya di tepi barat sungai setelah dia menyamar menjadi dewa. Kutipannya sebagai berikut:
Tan Kocapan di jalan I Belog maluanan/ dauh tukad ya masugi/ manjus mapeningan/ menékan kauh majalan/ anaké liu manyapatin/ dané daha/ uli kayehan ba dangin// (bait 110)

Terjemahannya:
Tidak diceritakan dijalan, I Belog mendahului/ di barat sungai dia mencuci muka/ mandi membersihkan diri/ naik di barat lalu berjalan/ banyak orang yang menyapa/ anak muda/ dari tempat mandi di timur//
4.2.3.2 Latar Waktu
Latar waktu dimaksudkan sebagai waktu terjadinya suatu peristiwa. Latar waktu dalam Geguritan I Belog yaitu :
1) Siang hari, pada saat Pan Mandel menidurkan anaknya I Mandel. Kutipannya sebagai berikut:
Pan Mandel kenyem manupdupan ngendingang/ suba sué ya matiptip/ lantas pedemanga/ di ayunané surya suba/....(bait 9)

Terjemahannya:

Pan Mandel tersenyum menyanyi menina bobokan/ sudah lama dia menggendong/ lalu ditidurkannya/ di ayunan, ternyata sudah siang/......

2) Sore hari, saat I Belog sudah selesai makan dan berpamitan pulang. Kutipannya sebagai berikut:
Katungkul mapeta kagét suba sanja/ ngarorokang matan ai/ tan kocapan suba/ I Belog ya suud ngamah/ lantasnya mulih mapamit/ ané benjang/ tiang mamedek mariki// (bait 56)

Terjemahannya:

Keenakan mengobrol tidak terasa sudah sore/ matahari mulai terbenam/ tidak diceritakan/ I Belog sudah selesai makan/ lalu dia mohon pamit/ esok hari/ saya akan datang ke sini//

3) Malam hari, kutipannya sebagai berikut:
Jani suba peteng masan ngenit damar/ Pan Mandel ngungkab sagi/.......(bait 74)

Terjemahannya:

Sekarang sudah malam, orang-orang sudah menyalakan lampu templek/ Pan Mandel membuka makanan/......

4) Pagi hari, kutipannya sebagai berikut:
Katungkul mapeta jani suba lemah/ tur matéja galang kangin/......(bait 89)

Terjemahannya:

Keasikan mengobrol tidak terasa sudah pagi/ dan bersinar terang di timur/.......

5) Siang hari pada saat Jero Rangda baru sampai di rumahnya, kutipannya sebagai berikut:
........bawu teka/ gusti nguda makalingsir// (bait 114)

Terjemahannya:

.........baru datang/ Nyonya mengapa sampai siang//
4.2.3.3 Latar Suasana
Latar suasana merupakan situasi-situasi yang muncul dari prilaku tokoh ataupun keaadan dalam cerita, seperti suasana tegang, sedih, senang dan sebagainya. Dalam Geguritan I Belog terdapat beberapa latar suasana.
1) Pan Mandel yang belum makan dari pagi, merasa kelaparan. Kutipannya sebagai berikut:
......Pan Mandel ya/ tuara ngamah uling tuni// (bait 9) Pesu lantas nyaruang basangé layah/ mlali-lali kelod kangin/ tusing ada unuhan/....(bait 10)

Terjemahannya sebagai berikut:

......dia Pan Mandel/ tidak makan dari tadi// Kemudian dia ke luar rumah menyembunyikan perut yang lapar/ berjalan-jalan ke tenggara/ tidak ada tujuan/......

2) Men Man menangis saat I Belog menjelek-jelekkannya. Kutipannya sebagai berikut:
Mén Mandel jengah ngeling manyelsel awak/ lantas manyingal i cening/ medem kaluanan/ macara ya nigtig awak/ kapedpedang énggal mati/ apang eda buin tumbuh buka jani// (bait 66)
`
Terjemahannya :

Men Mandel merasa malu, menangis menyesal/ lalu menggendong anaknya yang kecil/ tidur di kamar/ memukul-mukul dirinya/ berharap cepat mati/ supaya tidak/ mendapatkan keadaan seperti sekarang//

3) Jero Rangda Nyoman kelihatan sedih setelah selesai menghaturkan sesajen kepada dewa, kutipannya sebagai berikut:
Inggih sapunapi ulaté prasangga/ tiang matakén ring gusti/ semuné tan suka/ sok apang tiang uninga/.......(bait 115)

Terjemahannya:

Maaf, apa sebab saya menyambut/ bertanya kepada Nyonya/ muka Nyonya kelihatan sedih/ jadi supaya saya tahu/......

4) Kesenangan I Belog karena akan segera menikah dengan Jero Rangda,
kutipannya sebagai berikut:
Wus Saniscara kawilowing jenaran/ titi wagé mabudi/ tan elong asihnya/ ambul ya mabaan mirah/ marasa awor demen ati/ magagelutan/ baong mangulurin budi (bait 142)

Terjemahannya:

Sesudah Sabtu Kliwon/ hari yang baik/ tidak terbayangkan senangnya/ minggat membawa permata/ sangat senang hatinya/ berpelukan/ leher mengikuti nafsu//


4.2.4 Tokoh dan Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Penokohan adalah cara pengarang untuk menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat (Esten, 1987: 27). Aminuddin (1987: 79) juga mengungkapkan pendapat yang tidak jauh beda dengan pendapat di atas mengenai penokohan yaitu cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu.
Tokoh cerita, menurut Abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam cerita naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro,1995: 165). Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan (Semi, 1988: 37).
Menurut Sudjiman (1988: 17-18), berdasarkan fungsinya tokoh dalam cerita dapat dibedakan antara tokoh utama dan tokoh bawahan, tokoh yang memegang peranan pimpinan disebut tokoh utama protagonis, ini juga digolongkan ke dalam tokoh sentral. Lebih lanjut dikatakan yang digunakan untuk menentukan tokoh utama bukan frekuensi kemunculan tokoh itu dalam cerita, melainkan intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
Tokoh utama merupakan tokoh yang terlibat dan umumnya dikuasai oleh serangkaian peristiwa, tempat mereka muncul baik sebagai pemenang maupun yang kalah, senang atau tidak senang, lebih kaya atau lebih miskin, lebih baik atau lebih jelek, tetapi semuanya merupakan yang lebih arif dan bijaksana bagi pengalaman dan menjadi orang yang baik mengagumkan sekalipun dalam kematian atau kekalahan. Tokoh sekunder merupakan tokoh yang berperan dalam menghadapi atau sama-sama tokoh utama dalam membangun cerita, jadi geraknya tak sedominan tokoh utama. Berikutnya tokoh pelengkap merupakan tokoh yang berfungsi membantu kelancaran gerak tokoh utama dan tokoh sekunder dalam cerita (Tarigan, 1984: 143).
Hutagalung (dalam Sukada, 1982: 26) mengatakan bahwa perwatakan seorang tokoh memiliki tiga dimensi sebagai struktur pokok, fisikologis, sosiologis, dan psikologis. Ketiga sudut tersebut memiliki beberapa aspek yaitu dimensi fisikologis (tampang, jenis kelamin, pakaian, dan segala perlengkapan yang dikenakan oleh tokoh), dimensi psikologis (angan-angan, kekecewaan, cita-cita ambisi, pangkat, keturunan atau asal-usul dan sebagainya). Dimensi sosiologis (lingkungan, agama, bangsa, keturunan atau asal-usul).
Tokoh-tokoh yang ada dalam Geguritan I Belog antara lain, I Belog, Men Mandel, Pan Mandel, Mandel, dan Jero Rangda Nyoman. Tokoh-tokoh tersebut berperan sebagai tokoh utama, sekunder, dan tokoh komplementer. I Belog merupakan tokoh utama dalam Geguritan I Belog. Hal ini dikarenakan intensitas keterlibatan I Belog dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita cukup tinggi. Di samping itu, I Belog merupakan tokoh yang paling banyak terlibat dengan tokoh lain serta tokoh yang paling banyak memakan waktu penceritaan.
Tokoh sekunder dalam geguritan ini adalah Jero Rangda Nyoman. Penggolongan tokoh tersebut sebagai tokoh sekunder didasarkan atas beberapa alasan. Pertama, kedudukannya di dalam cerita tidak sentral, artinya mereka tidak menjadi pusat pengisahan dalam keseluruhan cerita yang disajikan pengarang. Kedua, karena tokoh tersebut tidak mendapat porsi pembicaraan yang banyak dan terus menerus seperti pada tokoh utama. Meskipun tidak hadir dalam keseluruhan cerita di dalam geguritan tetapi tokoh tersebut cukup terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting (fungsional). Keberadaan tokoh komplementer hanya sebagai pendukung cerita dan tokoh utama, serta hanya sebagai pelengkap cerita. Tokoh-tokoh komplementer dalam geguritan ini antara lain Men Mandel, Pan Mandel, dan I Mandel.
Perwatakan (karakterisasi) tokoh-tokoh tersebut dalam Geguritan I Belog ditunjukkan melalui ciri-ciri fisikologis, psikologis, dan sosiologis.
4.2.4.1 Tokoh Utama
Tokoh utama dalam Geguritan I Belog adalah I Belog. Dari segi fisikologis, I Belog adalah seorang remaja yang tampangnya biasa-biasa saja. Kutipannya sebagai berikut:
Tunda ya npén Mandel nu makurenan/ pianaké ada duang dihi/ I Belog wayahan/ bawu mara menék truna/ adiné I Mandel cenik/ nanangé bas liwat/ maywa buka jani//(bait 2)

Terjemahannya:

Di tempat lain diceritakan Mandel yang sudah menikah/ mempunyai dua orang anak/ anak pertama bernama I Belog/ baru remaja/ adinya yang kecil bernama I Mandel/ ayahnya kelewatan/ miskin saat ini//

Dari segi psikologis, I Belog merupakan remaja yang suka berbohong, suka menipu dan tidak hormat kepada Ibunya, bahkan ibunya sendiri dimakinya. Kutipannya sebagai berikut:
Pan Mandel halus tuara ngelah maras/ lantas ya manglemekin/ munyinné pelapan/ cai Belog ambul to jwa/ mangemedi mémén cai/ ulat mangrasa/ jani ya tumbén mangeling// (bait 67)

Terjemahannya:

Pan Mandel halus tidak mempunyai cara/ lalu dia meredakan situasi/ perkataannya halus/ kamu Belog ngambek juga/ menjelek-jelekkan ibumu/ nampaknya dia merasa/ dia tumben menangis sekarang//

Dari segi sosiologis, I Belog merupakan anak dari keluarga miskin, sehingga dia diserahkan kepada nyonya kaya untuk membantu di sana. Kutipannya sebagai berikut:
Sangkan pianaké I Belog kaserahang/ Ban mahutang matungguin/ ajak pakurenan/ manabuhin pautangan/ ban lacuré tuara gigis/ tur mamadat/ mangulurin caratani// (bait 5)

Terjemahannya:
Itulah sebabnya anaknya, I Belog diserahkan/ karena memiliki hutang yang bertumpuk/ bersama suami istri/ mencari hutang/ karena sangat miskin/ dan memadat/ mengangkat kendi//

4.2.4.2 Tokoh Sekunder
Tokoh sekunder dalam geguritan ini adalah Jero Rangda Nyoman. Dari segi fisikologis, Jero Rangda digambarkan sebagai seorang janda yang cantik. Kutipannya sebagai berikut:
Yén waswas di goba tuah sedeng gawokang/ selemé masawang tangi/ pamuluné alab/ mairib dané nu deha/ melahé tuara nandingin/ tuwuh dawa/ pinih nyom adeg langsing// (bait 95)

Terjemahannya:
Jika diperhatikan wajahnya seperti baru remaja/ hitam menjadi bersih/ kulitnya halus/ seperti beliau masih remaja/ kecantikan yang tak tertandingi/ umur panjang/ dan yang paling menarik adalah tubuh yang langsing//

Dari segi psikologis, Jero Rangda adalah tokoh yang polos dan lugu, sehingga I Belog dengan mudah membohonginya. Kutipannya sebagai berikut:
Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (bait 107) Déwa Ratu perus miik susuunan/ titiang suka wanengah ngiring/ manyolcol manyumbah/ mapamit mulih amang-amang/ maulat ya ngamarasin/ wakul kecag/ bantené tuara maparid// (bait 108)

Terjemahannya:
Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi// Dewa yang sangat hamba hormati/ hamba mengikuti dengan senang hati/ hanya menyembah/ pamit cepat-cepat pulang/ mukanya kelihatan bingung/ bakulnya ditinggal/ sesajen yang telah dihaturkan tidak diambil//

Dari segi sosiologis, Jero Rangda adalah seorang Janda yang kaya yang tinggal di banjar Pahuman dan dia adalah seseorang yang baik dan dermawan. Setiap hari dia memberikan makanan kepada I Belog dan memberinya pekerjaan. Kutipannya sebagai berikut:
Hana katuturan satua babongéngan/ kanggon senggak kagurit/ di banjar pahuman/ kocapan Jero Rangda Nyoman/ kasugihané tan kosih/ sisan prabiya/ tatinggalan jero muani// (bait 1) Jani kema nani ka paon mangamah/ alihang awaké nasi/ juang aamahan/ buka ané ibi puan/ tuara kola maniténin/ nani ngamah/ kikit liu eda brangti// (bait 52)

Terjemahannya:

Ada suatu cerita lelucon/ diciptakan untuk menyindir/ di banjar Pahuman/ diceritakan Jero Rangda Nyoman/ kekayaannya tidak terhitung/ sisa piutang/ peninggalan suaminya// Sekarang kamu pergi makan ke dapur/ ambillah nasi/ makanlah sampai kenyang/ seperti yang kemarin dan dua hari yang lalu/ tidaklah aku yang merawat/ kamu makan/ sedikit banyak jangan marah//

4.2.4.3 Tokoh Komplementer
Tokoh Komplementer dalam geguritan ini adalah Men Mandel, Pan Mandel dan I Mandel. Men Mandel adalah Ibu dari tokoh I Belog, dari segi fisikologis, Men Mandel merupakan wanita paruh baya yang kurang memperhatikan kebersihan diri, sehingga dia kelihatan kumal. Kutipannya sebagai berikut:
Mén Mandel kedék mangenah giginé langah/ mahong hisité mageni/ bibih pangoréngan/ manyebak layahé belang/ manggila-gilaang hati/ bengu engkah/ mirib utah anak jampi// (bait 26)

Terjemahannya:
Men Mandel tertawa kelihatan giginga yang jarang/ gusinya yang kotor berwarna merah/ bibir seperti penggorengan/ menganga lidahnya belang/ menyenang-nyenangkan hati/ nafas bau/ seperti muntahan orang sariawan//

Dari segi psikologis, Men Mandel merupakan seorang ibu yang sayang kepada anaknya. Pada saat I Belog menghilang, dia mencari kemana-mana. Kutipannya sebagai berikut:
Pamekelé dané Jero Rangda Nyoman/ ada tuwonya majinjin/ mai uli jaba/ Mén Mandel twara mangenah/ ada suba uling ibi/ to takonang/ I Belog twara ada mulih// (bait 20)

Terjemahannya:

Nyonya Jero Rangda Nyoman/ dengan yakin melangkah/ keluar dari dalam rumah/ Men Mandel tidak kelihatan/ sudah dari kemarin/ itu yang ditanyakan/ I Belog tidak ada pulang//

Dari segi sosiologisnya, Men Mandel merupakan tokoh yang miskin, sehingga dia mau mengerjakan pekerjaan apa saja untuk mendapatkan makan. Kutipannya sebagai berikut:
Tan papilih gawéné abot adangan/ mémén Mandel mangrihinin/....(bait 4)
Terjemahannya:
Tidak memilih pekerjaan, berat ataupun ringan/ Men Mandel mendahului..
Tokoh Komplementer lainnya adalah Pan Mandel. Pan Mandel merupakan ayah dari tokoh I Belog. Dari segi fisikologis, Pan Mandel digambarkan sebagai tokoh yang kurus dan kulitnya sudah keriput. Kutipannya:
Yén tanding gobannyané tekén nanangé/ yan bagi malih bagi/ nanangé ya dengkak/ tigul ludin siku luwang/ jit gunting lan jaja uli/ basang bengkang/ pipi kemul mata guling// (bait 112)

Terjemahannya:

Jika dibandingkan dengan ayahnya/ jika dilihat-lihat/ ayahnya kurus kering/ sudah keriput dan siku hanya kelihatan tulang/ pantat seperti gunting dan kulit hitam/ perut buncit/ pipi kisut dan mata merah//

Dari segi psikologisnya, Pan Mandel adalah tokoh yang sabar dan halus kepada anaknya. Kutipannya sebagai berikut:
Pan Mandel alus tuara ngelah maras/ lantas ya manglemekin/ munyiné pelapan/....(bait 67)

Terjemahannya:

Pan Mandel halus tidak mempunyai cara/ lalu dia meredakan situasi/ perkataannya halus/......

Dari segi sosiologisnya, Pan Mandel merupakan tokoh yang miskin, sehingga untuk mendapatkan makanan, dia harus berkeliling untuk sekedar mendapat makanan. Kutipannya sebagai berikut:
Pesu lantas nyaruwang basangé layah/ mlali-lali kelod kangin/ tusing ada unuhan/ anaké ngebét kaséla/ di tegalé kelod kangin/ lantas ya ngalap/ paku kedisé né liking// (bait 10)

Terjemahannya:
Kemudian dia ke luar rumah menyembunyikan perut yang lapar/ berjalan-jalan ke tenggara/ tidak ada tujuan/ ada orang panen singkong/ di kebun di tenggara/ kemudian dia memetik/ daun paku yang hampir kering//

Tokoh Komplementer berikutnya adalah I Mandel. I Mandel merupakan adik dari tokoh I Belog. I Mandel hanya digambarkan dari segi fisikologisnya saja, karena dia baru berusia dua setengah bulan Bali, jadi dia tidak banyak terlibat dalam cerita. Kutipannya sebagai berikut:
Matuwuh bahu duwang oton atengah/.......(bait 18)
Terjemahannya:
Usianya baru dua setengah bulan Bali/.......
4.2.5 Tema
Tema adalah ide sebuah cerita. Sudjiman mengatakan bahwa gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasar suatu karya sastra itu yang disebut dengan tema. Adanya tema membuat karya lebih penting daripada sekedar bacaan hiburan (1988: 50). Nurgiyantoro (1995: 68) menyatakan bahwa untuk menemukan tema dalam sebuah cerita haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya dari bagian-bagian tertentu. Walaupun tema sulit ditentukan dengan pasti, tema bukanlah makna yang ”tersembunyi” walaupun dilukiskan, tidak secara eksplisit.
Tema yang tersembunyi tersebut dapat diketahui dengan cara membaca cerita itu secara cermat dari awal sampai akhir. Tarigan menyatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita. Suatu cerita yang tidak mempunyai tema tentu tidak ada gunanya dan artinya, walaupun pengarang tidak menjelaskan apa tema ceritanya secara eksplisit, hal itu harus dapat dirasakan dan disimpulkan oleh para pembaca setelah selesai membacanya (1984: 125).
Lebih lanjut lagi menurut Esten (978: 22) mengemukaan bahwa tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah cipta sastra. Ia masih bersifat netral. Belum punya tendensi (kecenderungan) memihak, karena ia masih merupakan persoalan. Selain itu Esten (1984: 88) juga mengemukaan bahwa untuk menentukan tema dalam karya sastra, ada tiga cara : pertama dengan melihat persoalan mana yang paling menonjol, kedua dengan melihat persoalan mana yang banyak menimbulkan konflik-konflik yang melahirkan peristiwa- peristiwa dan ketiga dengan menentukan atau menghitung waktu penceritaan yang diperlukan untuk menentukan peristiwa- peristiwa atau tokoh-tokoh di dalam sebuah karya sastra.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalah ide pokok atau pikiran utama dari sebuah karya sastra yang menjadi dasar penyusunan sebuah karya sastra. Berdasarkan pandangan tentang tema tersebut di atas, maka tema yang mendasari Geguritan I Belog adalah ”Kemiskinan”. Tema ini dapat diketahui dari awal cerita hingga akhir cerita. Dasar pemikiran ini diambil dari gambaran kehidupan keluarga I Belog yang sangat miskin, yang rela berhutang untuk mendapatkan makan, sampai I Belog diserahkan kepada seorang janda kaya untuk membantu di sana, seperti tampak dalam kutipan berikut:
Tunda ya npén Mandel nu makurenan/ pianaké ada dwang dihi/ I Belog wayahan/ bawu mara menék truna/ adiné I Mandel cenik/ nanangé bas liwat/ maywa buka jani// (bait 2) Sangkan duga mautang bané motah ngamah/ tani dusin yak kairid/ Pan Mandelé utang/ buat nu manak cenik/ makaréncongan/ sangkan bareng manunggonin// (bait 3) Sangkan pianaké I Belog kaserahang/ ban mahutang matungguin/ ajak pakurenan/ manabuhin pahutangan/ ban lacuré twara gigis/ tur mamadat/ mangulurin caratani// (bait 5)
Terjemahannya:
Di tempat lain diceritakan Mandel yang sudah menikah/ mempunyai dua orang anak/ anak pertama bernama I Belog/ baru remaja/ adinya yang kecil bernama I Mandel/ ayahnya kelewatan/ miskin saat ini// Rela berhutang untuk bisa makan/ segala sesuatunya sudah dihemat/ Pan Mandel berhutang/ untuk cintanya memiliki/ istri dan anak yang masih kecil/ membantu-bantu/ itulah penyebab dia ikut menjaga// Itulah sebabnya anaknya, I Belog diserahkan/ karena memiliki hutang yang bertumpuk/ bersama suami istri/ mencari hutang/ karena sangat miskin/ dan memadat/ mengangkat kendi//

Berdasarkan kutipan di atas, jelas dapat diketahui bahwa tema dari Geguritan I Belog ini adalah kemiskinan yang dapat dilihat dari kehidupan keluarga I Belog.
4.2.6 Amanat
Setiap karya sastra pasti memiliki pesan atau ajaran moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pesan atau ajaran moral itu disebut dengan amanat. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit ataupun secara eksplisit. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan dan sebagainya berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu (Sudjiman, 1986: 24).
Pendapat di atas sejalan dengan yang dikemukaan oleh Esten (1987: 22-23) bahwa pemecahan suatu tema disebut dengan amanat. Amanat memperlihatkan pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Amanat dapat diungkapkan secara eksplisit (berterang-terangan) dan dapat secara implisit (tersirat). Bahkan ada amanat yang tidak nampak sekali. Umumnya cipta rasa modern memiliki amanat secara implisit.
Berdasarkan batasan-batasan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Maka analisis amanat yang dilakukan dalam Geguritan I Belog berpedoman pada pendapat-pendapat para ahli di atas, karena satu sama lain saling mendukung.
Amanat dalam Geguritan I Belog dapat dilihat melalui tingkah laku I Belog yang sangat tidak baik, dia menjelek-jelekkan ibunya sendiri, suka berbohong dan menipu, tentu saja tingkah laku yang tidak baik itu tidak pantas untuk ditiru. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog masaut lantas ya ngawada/ nyén sudi mangenemin/ pitrané kasasar/ mahi tuun manjadma/ ngenahang gobané asri/ boké bawak/ giling buka umpag-ampig// (bait 63)

Terjemahannya:
I Belog menjawab lalu mencela/ siapa yang sudi menuruti/ leluhur yang tersesat/ reinkarnasi lahir ke dunia/ kelihatan wajahnya segar/ rambutnya pendek/ bergulung-gulung tidak karuan//

Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (bait 107)

Terjemahannya:
Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//


Beberapa kutipan di atas dapat mewakilkan amanat yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa amanat yang ingin disampaikan pengarang dalam Geguritan I Belog adalah sebagai seorang anak, haruslah berbakti kepada orang tua, karena merekalah yang melahirkan, menjaga dan merawat anaknya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Selain itu, kita jangan suka berbohong dan menipu, karena itu adalah perbuatan yang tidak baik dan dapat merugikan orang lain.


















BAB V
ANALISIS STRUKTUR SATUA I BELOG,
SATUA NANG BANGSING TEKEN I BELOG,
DAN SATUA I BELOG MANTU
5.1 Struktur Satua I Belog
5.1.1 Sinopsis
Alkisah hiduplah seorang pemuda yang bernama I Belog. Pekerjaannya hanya bermain dan makan. Pada hari, dia pergi bermain ke desa lain. Pada saat perjalanan pulang, dia melewati kuburan yang sangat luas. Di sana dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik. I Belog mengira mayat itu adalah perempuan yang masih hidup, lalu dia mengajaknya menikah, karena mayat itu tidak menyahut, maka dikiranya mayat itu mau menikah dengannya.
Sesampainya di rumah, dia menaruh mayat itu di kamarnya lalu memberitahu ibunya kalau dia sudah punya istri. Kemudian, I Belog membawakan makanan kepada istrinya itu, akan tetapi istrinya tidak mau makan. Dia berpikir kalau mungkin saja istrinya malu kalau dilihat, lalu dia pergi ke luar kamar. Pada saat dia masuk kamar lagi, ikannya sudah habis karena dimakan kucing, tetapi dia mengira istrinyalah yang memakan. Setiap hari I Belog memberikan istrinya makan, sampai pada suatu hari ibunya masuk kamar dan melihat mayat perempuan yang sudah membusuk. Barulah ibunya sadar, bahwa perempuan yang dibawa anaknya adalah mayat. Kemudian ibunya memberitahu I Belog, kalau orang yang berbau busuk itu adalah orang yang sudah mati. Mayat perempuan itu dibuang oleh ibunya ke dalam sumur. Setelah membuang mayat itu, ibunya I Belog belum sempat mandi sehingga mengeluarkan bau yang busuk. I Belog mengira ibunya sudah mati, lalu diseretlah ibunya dan dibuangnya di sumur.
Diceritakan sekarang I Belog hidup sendirian. Pada suatu hari, I Belog pergi ke pasar membeli ubi dan jajan lainnya. Kemudian seteleh itu dia pulang, dan sesampainya di rumah, tidak sengaja dia kentut. Kentutnya itu baunya sangat busuk. Dia mengira bahwa dirinya sudah mati, lalu dia menceburkan dirinya ke sumur sampai akhirnya dia mati.
5.1.2 Insiden
Sudjiman (1986: 35) mengemukaan bahwa insiden merupakan suatu kejadian atau yang menjadi bagian yang dipilah (distinct) dari lakuan. Insiden yang dirangkaikan dengan cara tertentu, merupakan episode dalam alur. Menurut Sukada (1993: 58-59) berpendapat bahwa insiden ialah kejadian atau peristiwa yang terkandung dalam cerita, besar atau kecil. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk struktur cerita.
Brahim (1969: 65) bahwa insiden terjadi karena gerakan, adanya tindakan dalam situasi, juga karena adanya pelaku yang bertindak. Insiden ini harus berkembang sambung-menyambung secara kausal yang satu berhubungan dengan yang lainnya sampai cerita berakhir. Insiden ini biasanya hanya dapat ditangkap secara wajar, bila cara melukiskannya dapat diterima secara logis, sehingga insiden itu akan tampak seperti sungguh-sungguh ada. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk cerita.
Berdasarkan pada pengertian insiden tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa insiden adalah peristiwa yang terkandung dalam suatu cerita. Insiden yang membangun alur cerita dalam Satua I Belog di awali ketika I Belog melintas melewati kuburan dan melihat mayat perempuan yang sangat cantik. Mayat itu diajaknya menikah dan dibawa pulang, karena dikiranya mayat itu adalah perempuan yang masih hidup. Kutipannya sebagai berikut:
Di mulihné ia ngentasin sema linggah pesan. Mara ia teked di tengah semané nget nepukin ia bangkén anak luh kliwat jegég pesan. I Belog lantas ngomong : ”Luh, luh, nyak makurenan tekén tiang?” Anaké ento mendep dogén. ”Béh ia nyak tekén iraga, melahan gandong dogén ia ajak mulih.” (halaman 4)

Terjemahannya:

Saat perjalanan pulang, dia melewati kuburan yang sangat luas. Baru dia sampai di tengah-tengah kuburan itu, dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik. I Belog lalu berkata : ”Luh, luh, mau menikah dengan saya?” Mayat itu hanya diam. ”Beh dia mau dengan saya, lebih baik saya gendong bawa pulang.”

Insiden selanjutnya yaitu pada saat I Belog menaruh mayat perempuan itu di kamarnya. Mayat itu diberi makan nasi dan ikan berkali-kali. I Belog mengira bahwa Mayat perempuan itu tidak suka makan nasi, hanya suka makan ikan. Setiap dia menaruh nasi dan ikan, yang habis hanya ikannya saja, padahal yang memakan ikannya itu adalah kucing. Kutipannya sebagai berikut:
Suud ia ngomong kéto, lantas ia nyinduk nasi lakar baanga kurenanné.................. Makelo I Belog ngantosang ditu, masih anaké ento tusing nyak bangun. I Belog lantas makeneh-keneh : ”Éh, jenenga ia lek mara tongosin, melahan jani kalahin.” ...................Krana benné jaan-jaan, lantas teka mengé kumahan metén, ngamah béné ento. (halaman 4)

Terjemahannya:

Selesai dia berkata demikian, lalu dia menyendok nasi yang akan diberikan kepada istrinya................Lama I Belog menunggu di sana, mayat itu tidak mau bangun juga. I Belog lalu berpikir: ”Eh, sepertinya dia malu karena ditemani, lebih baik sekarang ditinggal.”..................Karena ikannya enak-enak, lalu datanglah kucing ke kamar, memakan ikan itu.

Insiden selanjutnya adalah pada saat ibunya I Belog masuk ke dalam kamar untuk melihat menantunya yang tidak pernah keluar kamar. Lalu dilihatnya mayat yang sudah busuk. Kemudian dia mencari I Belog dan menanyakan, kenapa dia menaruh mayat dikamarnya. I Belog kemudian diberitahu bahwa kalau orang yang sudah mati itu baunya busuk. Kutipannya sebagai berikut:
Méménné lantas macelep mulihan. Nget dapetanga ada bangké suba berek. Lantas ia pesu ngalih I Belog. ”Ih Belog nguda cai ngejang anak mati jumahan metén?” I Belog masaut : ”Nguda orahang mémé mati kurenan icangé?” I Belog lantas ajaka kumahan metén tekén méménné. ”Ih Belog, ento apa suba berek, buina bengu pesan bonné.” I Belog lantas ngomong : ”Mémé yén anaké mati, bengu bonné?” Méménné lantas masaut: ”Aa, yén anaké mati bengu bonné, buina nyem awakné.” (halaman 4-5)

Terjemahannya:

Lalu ibunya masuk ke kamar. Dilihatlah ada mayat yang sudah busuk. Kemudian dia keluar mencari I Belog. ”Ih Belog, mengapa kamu menaruh orang mati di kamar?” I Belog menjawab: ”Mengapa ibu mengatakan istriku sudah mati?” I Belog lalu diajak masuk ke kamar oleh ibunya. ”Ih Belog, lihatlah itu sudah busuk dan bau sekali.” I Belog lalu berkata: ”Ibu kalau orang mati, busuk baunya?” Ibunya lalu menjawab: ”Ya, jika orang mati busuk baunya, dan dingin badannya.”

Insiden selanjutnya adalah pada saat Ibunya I Belog sudah selesai membuang mayat itu ke dalam sumur. Ibunya yang belum mandi mengeluarka bau yang tidak enak. I Belog mengira Ibunya sudah mati lalu di buangnya ke dalam sumur. Kutipannya sebagai berikut:
Sasubané méménné suud ngentungang bangkené ento, lantas ia mulih. Méménné ento kondén manjus, ento awananné bonné bengu. I Belog lantas ngomong: ”Mémé, mémé, nguda bengu bonné, jenenga mémé mati.” Méménné masaut: ”Tusing, mémé anak nu idup.” I Belog buin ngomong: ”Apa tusing, mémé suba mati, bonné bengu pesan. Jani mémé lakar kutang.” Sambilanga ngomomg keto, lantas méménné kejuk, tur kapaid kaaba ka sémbér. Jet ja méménné kerik-kerik, masih tusing linguanga, lantas ka clempungang ka sémbér. (halaman 5)

Terjemahannya:

Setelah ibunya selesai membuang mayat itu, lali dia pulang. Ibunya belum mandi, itu sebabnya baunya busuk. I Belog lalu berkata: ”Ibu, ibu, mengapa baunya busuk, sepertinya ibu sudah mati.” Ibunya menjawab: ”Tidak, ibu masih hidup.” I Belog lalu berkata lagi: ”Apa tidak, ibu sudah mati, baunya busuk sekali. Sekarang ibu akan saya buang.” Sambil berkata demikian, lalu ibunya ditangkap, dan diseret dibawa ke sumur. Ibunya berteriak, tetapi tidak dihiraukannya, lalu dibuang ke sumur.

Insiden terakhir adalah pada saat I Belog membeli makanan di pasar, dan dia memakannya sampai kenyang, lalu dia pulang ke rumah. Saat sendirian di rumah, tiba-tiba di kentut dan baunya busuk. I Belog mengira dirinya sudah mati, lalu dia mencemplungkan diri ke sumur dan akhirnya dia mati. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita I Belog nu padidiana, tusing ada anak nyakanang ia. Ban layah basangné, lantas ia ka peken meli ubi, kaséla, gatép muah ané lén-lénan, ané sarwa mudah-mudah. Sasubanné betek basangné lantas ia mulih. Jani I Belog nongos jumahné padidiana, tusing ada anak ajak ngomong. Nujuang pesan I Belog ngentut, tur bonné bengu. I Belog lantas makeneh: ”Béh i déwék mati jani, tondén med idup suba mati.” Sambilanga ngomong kéto, lantas ia mlaib ka sémbér lantas pulanga ibanné. Payu I Belog mati. (halaman 5)

Terjemahannya:

Diceritakan I Belog tinggal sendirian, tidak ada orang yang membuatkannya makan. Karena perutnya lapar, lalu dia pergi ke pasar membeli ubi, singkong, gayam dan lain-lain yang murah-murah. Setelah perutnya kenyang lalu dia pulang. Sekarang I Belog di rumah sendirian, tidak ada yang diajak ngomong. Kebetulan sekali I Belog kentut, dan baunya busuk. I belog lalu berpikir: ”Beh diriku sekarang sudah mati, belum bosan hidup sudah mati.” Sambil berkata demikian, lalu dia berlari ke sumur dan mencemplungkan dirinya. Akhirnya dia mati.

5.1.3 Alur

Stanton mengemukakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (dalam Nurgiyantoro, 1995:113), sedangkan Semi (1988: 43) menyatakan bahwa alur (plot) struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebuah interelasi yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dari keseluruhan fiksi. Aminuddin (1987: 83) berpendapat bahwa rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita. Alur bukanlah sekedar rangkaian peristiwa yang biasa berkaitan, dengan kata lain alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan penyelesaian (Sudjiman, 1988: 4).
Esten menyatakan (1987: 26-27) alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita rekaan. Biasanya alur dari sebuah cerita rekaan terdiri dari ; 1) situasi atau mulai melukiskan keadaan, 2) peristiwa-peristiwa mulai bergerak, 3) keadaan mulai memuncak, 4) klimaks atau mencapai titik puncak, dan 5) pemecahan soal atau penyelesaian. Alur yang baik adalah alur yang dapat membantu mengungkapkan tema dan amanat dari peristiwa-peristiwa seta adanya hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang wajar antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
Menurut Tarigan (1984: 128) bahwa pada dasarnya kebanyakan alur mengikuti pola tradisional dengan unsur-unsur seperti :
1) exposition yaitu pengenalan para tokoh, pembukaan hubungan menata adegan, menciptakan suasana, penyajian sudut pandang.
2) complication yaitu peristiwa permulaan yang menimbulkan beberapa masalah, kesukaran.
3) rising action yaitu mempertinggi/meningkatkan perhatian kegembiraan, kehebohan, saat bertambahnya kesukaran atau kendala-kendala.
4) turning point yaitu klimaks, titik emosi, dan perhatian yang paling besar serta mendebarkan.
5) ending yaitu penyelesaian peristiwa-peristiwa, bagaimana caranya para tokoh dipengaruhi dan apa yang terjadi atas diri mereka masing-masing.
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas dapat disimak bahwa alur (plot) adalah unsur dasar penggerak sebuah cerita, yang merupakan rangkaian sebab akibat yang saling berhubungan. Pendapat-pendapat ahli di atas semuanya berkaitan dan saling mendukung, namun dalam hal menganalisis Satua I Belog lebih banyak digunakan pendapat dari Guntur Tarigan, sehingga dapat dilihat alur dari Satua I Belog adalah:
Pengarang mulai melukiskan suatu keadaan (Exposition). Pada bagian ini pengarang memperkenalkan tokoh I Belog yang pekerjaannya bermain dan makan saja. Kutipannya sebagai berikut:
Ada orah-orahan Satua I Belog, gaginané mlali tekén madaar dogén. (halaman 4)

Terjemahannya:
Ada suatu cerita I Belog, pekerjaannya bermain dan makan saja.

Selanjutnya adalah peristiwa bersangkutan mulai bergerak (Complication). Pada bagian ini diceritakan ketika I Belog melintas melewati kuburan dan melihat mayat perempuan yang sangat cantik. Mayat itu diajaknya menikah dan dibawa pulang, karena dikiranya mayat itu adalah perempuan yang masih hidup. Kutipannya sebagai berikut:
Di mulihné ia ngentasin sema linggah pesan. Mara ia teked di tengah semané nget nepukin ia bangkén anak luh kliwat jegég pesan. I Belog lantas ngomong : ”Luh, luh, nyak makurenan tekén tiang?” Anaké ento mendep dogén. ”Béh ia nyak tekén iraga, melahan gandong dogén ia ajak mulih.” (halaman 4)

Terjemahannya:

Saat perjalanan pulang, dia melewati kuburan yang sangat luas. Baru dia sampai di tengah-tengah kuburan itu, dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik. I Belog lalu berkata : ”Luh, luh, mau menikah dengan saya?” Mayat itu hanya diam. ”Beh dia mau dengan saya, lebih baik saya gendong bawa pulang.”

Keadaan mulai memuncak (Rising Action). Keadaan mulai memuncak ketika ibunya I Belog masuk ke dalam kamar untuk melihat menantunya yang tidak pernah keluar kamar. Lalu dilihatnya mayat yang sudah busuk. Kemudian dia mencari I Belog dan menanyakan, kenapa dia menaruh mayat dikamarnya. I Belog kemudian diberitahu bahwa kalau orang yang sudah mati itu baunya busuk. Kutipannya sebagai berikut:
Méménné lantas macelep mulihan. Nget dapetanga ada bangké suba berek. Lantas ia pesu ngalih I Belog. ”Ih Belog nguda cai ngejang anak mati jumahan metén?” I Belog masaut : ”Nguda orahang mémé mati kurenan icangé?” I Belog lantas ajaka kumahan metén tekén méménné. ”Ih Belog, ento apa suba berek, buina bengu pesan bonné.” I Belog lantas ngomong : ”Mémé yén anaké mati, bengu bonné?” Méménné lantas masaut: ”Aa, yén anaké mati bengu bonné, buina nyem awakné.” (halaman 4-5)

Terjemahannya:

Lalu ibunya masuk ke kamar. Dilihatlah ada mayat yang sudah busuk. Kemudian dia keluar mencari I Belog. ”Ih Belog, mengapa kamu menaruh orang mati di kamar?” I Belog menjawab: ”Mengapa ibu mengatakan istriku sudah mati?” I Belog lalu diajak masuk ke kamar oleh ibunya. ”Ih Belog, lihatlah itu sudah busuk dan bau sekali.” I Belog lalu berkata: ”Ibu kalau orang mati, busuk baunya?” Ibunya lalu menjawab: ”Ya, jika orang mati busuk baunya, dan dingin badannya.”

Klimaks (Turning Point) dalam Satua ini adalah pada saat Ibunya I Belog sudah selesai membuang mayat itu ke dalam sumur. Ibunya yang belum mandi mengeluarka bau yang tidak enak. I Belog mengira Ibunya sudah mati lalu di buangnya ke dalam sumur. Kutipannya sebagai berikut:
Sasubané méménné suud ngentungang bangkené ento, lantas ia mulih. Méménné ento kondén manjus, ento awananné bonné bengu. I Belog lantas ngomong: ”Mémé, mémé, nguda bengu bonné, jenenga mémé mati.” Méménné masaut: ”Tusing, mémé anak nu idup.” I Belog buin ngomong: ”Apa tusing, mémé suba mati, bonné bengu pesan. Jani mémé lakar kutang.” Sambilanga ngomomg keto, lantas méménné kejuk, tur kapaid kaaba ka sémbér. Jet ja méménné kerik-kerik, masih tusing linguanga, lantas ka clempungang ka sémbér. (halaman 5)

Terjemahannya:

Setelah ibunya selesai membuang mayat itu, lali dia pulang. Ibunya belum mandi, itu sebabnya baunya busuk. I Belog lalu berkata: ”Ibu, ibu, mengapa baunya busuk, sepertinya ibu sudah mati.” Ibunya menjawab: ”Tidak, ibu masih hidup.” I Belog lalu berkata lagi: ”Apa tidak, ibu sudah mati, baunya busuk sekali. Sekarang ibu akan saya buang.” Sambil berkata demikian, lalu ibunya ditangkap, dan diseret dibawa ke sumur. Ibunya berteriak, tetapi tidak dihiraukannya, lalu dibuang ke sumur.

Penyelesaian (Ending) dari Satua ini adalah pada saat I Belog membeli makanan di pasar, dan dia memakannya sampai kenyang, lalu dia pulang ke rumah. Saat sendirian di rumah, tiba-tiba di kentut dan baunya busuk. I Belog mengira dirinya sudah mati, lalu dia mencemplungkan diri ke sumur dan akhirnya dia mati. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita I Belog nu padidiana, tusing ada anak nyakanang ia. Ban layah basangné, lantas ia ka peken meli ubi, kaséla, gatep muah ané lén-lénan, ané sarwa mudah-mudah. Sasubanné betek basangné lantas ia mulih. Jani I Belog nongos jumahné padidiana, tusing ada anak ajak ngomong. Nujuang pesan I Belog ngentut, tur bonné bengu. I Belog lantas makeneh: ”Béh i déwék mati jani, tondén med idup suba mati.” Sambilanga ngomong kéto, lantas ia mlaib ka sémbér lantas pulanga ibanné. Payu I Belog mati. (halaman 5)

Terjemahannya:

Diceritakan I Belog tinggal sendirian, tidak ada orang yang membuatkannya makan. Karena perutnya lapar, lalu dia pergi ke pasar membeli ubi, singkong, gayam dan lain-lain yang murah-murah. Setelah perutnya kenyang lalu dia pulang. Sekarang I Belog di rumah sendirian, tidak ada yang diajak ngomong. Kebetulan sekali I Belog kentut, dan baunya busuk. I belog lalu berpikir: ”Beh diriku sekarang sudah mati, belum bosan hidup sudah mati.” Sambil berkata demikian, lalu dia berlari ke sumur dan mencemplungkan dirinya. Akhirnya dia mati.

Berdasarkan uaraian-uraian peristiwa yang membentuk struktur alur cerita Satua I Belog, pengarang lebih banyak menggunakan alur lurus. Peristiwa-peristiwa dalam Satua dilukiskan secara berurutan sehingga membentuk satu jalinan cerita.
5.1.4 Latar
Setiap kejadian tentu mempunyai latar, demikian pula dengan Satua I Belog. Latar merupakan gambaran tempat dan waktu atau segala situasi tempat terjadinya peristiwa. Latar yang baik selalu dapat membantu elemen-elemen dalam cerita seperti plot dan perwatakan (Hutagalung, 1967: 103). Menurut Sudjiman, latar merupakan segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (1988: 44). Batasan ini menekankan pada unsur tempat waktu dan suasana sebagai unsur latar.
Sukada menyatakan bahwa latar dalam cerita pada umunya banyak menimbulkan suasana emosional yang menceritakan perwatakan. Latar biasanya mengekspresikan tokoh-tokoh cerita yang memiliki hubungan erat dalam alam dan manusia. Kehadiran latar sebagai unsur cerita merupakan penyempurnaan cerita itu dan dapat membangun suasana yang diharapkan menghasilkan kualitas keterangan efek cerita (1983: 24).
Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 1995: 227).
Menurut Kenney (dalam Sudjiman, 1988: 44), secara terperinci latar meliputi: penggambaran lokasi geografis, termasuk tofografi, pemandangan sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya musim terjadinya, lingkungan, agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh.
Jadi dapat disimpulkan bahwa latar merupakan tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Semua pendapat para ahli di atas memang saling berhubungan dan terkait, namun analisis Satua I Belog ini latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, waktu dan suasana.
5.1.4.1 Latar Tempat
Seperti telah dijelaskan di awal latar tempat dimaksudkan sebagai lokasi-lokasi dimana peristiwa terjadi. Dalam Satua I Belog terdapat beberapa latar tempat, antara lain:
1) Di sebuah kuburan yang sangat luas. Pada saat I Belog melintas melewati kuburan yang sangat luas dan melihat mayat perempuan yang sangat cantik. Kutipannya sebagai berikut:
Di mulihné ia ngentasin sema linggah pesan. Mara ia teked di tengah semané ngét nepukin ia bangkén anak luh kliwat jegég pesan. (halaman 4)

Terjemahannya:

Saat perjalanan pulang, dia melewati kuburan yang sangat luas. Baru dia sampai di tengah-tengah kuburan itu, dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik.

2) Di rumah I Belog. Pada saat I Belog membawa mayat itu kerumahnya. Kutipannya sebagai berikut:
Sambilanga ngrengkeng kéto, lantas bangkéné ento abana kumahné, tur clepanga jumahan metén. (halaman 4)

Terjemahannya:

Sambil berpikir demikian, lalu mayat itu dibawanya pulang dan dimasukkan ke kamarnya.

3) Di kamar I Belog. Pada saat I Belog memasukkan mayat perempuan ke kamarnya. Kutipannya sebagai berikut:
Sambilanga ngrengkeng kéto, lantas bangkéné ento abana kumahné, tur clepanga jumahan metén. (halaman 4)

Terjemahannya:

Sambil berpikir demikian, lalu mayat itu dibawanya pulang dan dimasukkan ke kamarnya.

4) Di sebuah sumur. Pada saat ibunya I Belog membuang mayat perempuan itu di sebuah sumur. Kutipannya sebagai berikut:
Sambilanga méménné ngomong kéto, lantas bangkéné ento jemaka tur pulanga ka sémbér. (halaman 5)

Terjemahannya:

Sambil ibunya berkata seperti itu, lalu mayat itu dibuangnya ke sumur.

5.1.4.2 Latar Waktu
Latar waktu adalah waktu terjadinya suatu peristiwa. Latar waktu dalam Satua I Belog tidak disebutkan secara jelas, hanya terdapat kata sedek dina anu, yang dalam bahasa Indonesia berarti pada suatu hari.
5.1.4.3 Latar Suasana
Latar suasana merupakan situasi-situasi yang muncul dari prilaku tokoh ataupun keaadan dalam cerita, seperti suasana tegang, sedih, senang dan sebagainya. Dalam Satua I Belog tidak terlalu banyak diungkapkan, satu-satunya latar suasana yang dapat dilihat dengan jelas adalah perasaan senang I Belog pada saat dia mengetahui istrinya mau memakan makanan yang dia sediakan. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog kendel pesan kenehné, kadéna kurenanné ane nelahang ento. (halaman 4)
Terjemahannya:
I Belog merasa sangat senang, dikira istrinya yang menghabiskannya.
5.1.5 Tokoh dan Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Penokohan adalah cara pengarang untuk menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat (Esten, 1987: 27). Aminuddin (1987: 79) juga mengungkapkan pendapat yang tidak jauh beda dengan pendapat di atas mengenai penokohan yaitu cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu.
Tokoh cerita, menurut Abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam cerita naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro,1995: 165). Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan (Semi, 1988: 37).
Menurut Sudjiman (1988: 17-18), berdasarkan fungsinya tokoh dalam cerita dapat dibedakan antara tokoh utama dan tokoh bawahan, tokoh yang memegang peranan pimpinan disebut tokoh utama protagonis, ini juga digolongkan ke dalam tokoh sentral. Lebih lanjut dikatakan yang digunakan untuk menentukan tokoh utama bukan frekuensi kemunculan tokoh itu dalam cerita, melainkan intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
Tokoh utama merupakan tokoh yang terlibat dan umumnya dikuasai oleh serangkaian peristiwa, tempat mereka muncul baik sebagai pemenang maupun yang kalah, senang atau tidak senang, lebih kaya atau lebih miskin, lebih baik atau lebih jelek, tetapi semuanya merupakan yang lebih arif dan bijaksana bagi pengalaman dan menjadi orang yang baik mengagumkan sekalipun dalam kematian atau kekalahan. Tokoh sekunder merupakan tokoh yang berperan dalam menghadapi atau sama-sama tokoh utama dalam membangun cerita, jadi geraknya tak sedominan tokoh utama. Berikutnya tokoh pelengkap merupakan tokoh yang berfungsi membantu kelancaran gerak tokoh utama dan tokoh sekunder dalam cerita (Tarigan, 1984: 143).
Hutagalung (dalam Sukada, 1982: 26) mengatakan bahwa perwatakan seorang tokoh memiliki tiga dimensi sebagai struktur pokok, fisikologis, sosiologis, dan psikologis. Ketiga sudut tersebut memiliki beberapa aspek yaitu dimensi fisikologis (tampang, jenis kelamin, pakaian, dan segala perlengkapan yang dikenakan oleh tokoh), dimensi psikologis (angan-angan, kekecewaan, cita-cita ambisi, pangkat, keturunan atau asal-usul dan sebagainya). Dimensi sosiologis (lingkungan, agama, bangsa, keturunan atau asal-usul).
Jadi dapat disimpulkan bahwa penokohan merupakan pelukisan mengenai tokoh cerita baik keadaan lahir maupun batinnya yang dapat berupa pandangan hidup, keyakinan, adat istiadat dan lainnya. Semua pendapat para ahli di atas saling terkait dan mendukung. Namun dalam hal penokohan lebih banyak digunakan pendapat dari Sukada dan Tarigan.
Tokoh-tokoh yang ada dalam Satua I Belog hanya ada dua yaitu I Belog dan Ibunya. I Belog merupakan tokoh utama dan ibunya adalah tokoh sekunder.
Perwatakan (karakterisasi) tokoh-tokoh tersebut dalam Satua I Belog ditunjukkan melalui ciri-ciri fisikologis, psikologis, dan sosiologis.
5.1.5.1 Tokoh Utama
Tokoh utama dalam Satua I Belog adalah I Belog. Dari segi fisikologis, tokoh I Belog tidak digambarkan secara jelas, namun dapat dikatakan bahwa dia adalah seorang remaja, karena dia ingin mempunyai istri sampai akhirnya dia menemukan mayat perempuan cantik dan diperistri olehnya. Kutipannya sebagai berikut:
Ada orah-orahan Satua I Belog, gaginané mlali tekén madaar dogén. Sedek dina anu, I Belog mlali-lali ka désa lén. Di mulihné ia ngentasin sema linggah pesan. Mara ia teked di tengah semané nget nepukin ia bangkén anak luh kliwat jegég pesan. I Belog lantas ngomong : ”Luh, luh, nyak makurenan tekén tiang?” Anaké ento mendep dogén. ”Béh ia nyak tekén iraga, melahan gandong dogén ia ajak mulih.” (halaman 4)

Terjemahannya:

Ada suatu cerita I Belog, pekerjaannya bermain dan makan saja. Pada suatu hari, I Belog bermain ke desa lain. Saat perjalanan pulang, dia melewati kuburan yang sangat luas. Baru dia sampai di tengah-tengah kuburan itu, dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik. I Belog lalu berkata : ”Luh, luh, mau menikah dengan saya?” Mayat itu hanya diam. ”Beh dia mau dengan saya, lebih baik saya gendong bawa pulang.”

Dari segi psikologis, I Belog merupakan remaja yang bodoh dan polos. Dia tidak bisa membedakan orang yang masih hidup dan yang sudah mati, sampai dia membawa mayat perempuan ke rumahnya untuk dijadikan istri. Kutipannya sebagai berikut:
Mara ia teked di tengah semané nget nepukin ia bangkén anak luh kliwat jegég pesan. I Belog lantas ngomong : ”Luh, luh, nyak makurenan tekén tiang?” Anaké ento mendep dogén. ”Béh ia nyak tekén iraga, melahan gandong dogén ia ajak mulih.” (halaman 4)

Terjemahannya:
Baru dia sampai di tengah-tengah kuburan itu, dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik. I Belog lalu berkata : ”Luh, luh, mau menikah dengan saya?” Mayat itu hanya diam. ”Beh dia mau dengan saya, lebih baik saya gendong bawa pulang

Dari segi sosiologis, I Belog merupakan anak yang malas, karena pekerjaannya hanya bermain dan makan saja. Kutipannya sebagai berikut:
Ada orah-orahan Satua I Belog, gaginané mlali tekén madaar dogén. (halaman 4)

Terjemahannya:
Ada suatu cerita I Belog, pekerjaannya bermain dan makan saja.

5.1.5.2 Tokoh Sekunder
Tokoh sekunder dalam Satua ini adalah Ibunya I Belog. Dari segi fisikologis dan psikologisnya, Ibu I Belog tidak digambarkan secara jelas, sedangkan dari segi sosiologisnya, Ibu I Belog adalah seorang ibu yang sayang pada anaknya. Dia tidak marah kepada anaknya, walaupun anaknya pemalas dan sudah membuat kesalahan dengan membawa mayat ke rumahnya. Ibunya dengan sabar memberitahu I Belog bahwa orang itu sudah mati. Kutipannya sebagai berikut:
Méménné lantas macelep mulihan. Nget dapetanga ada bangké suba berek. Lantas ia pesu ngalih I Belog. ”Ih Belog nguda cai ngejang anak mati jumahan metén?” I Belog masaut : ”Nguda orahang mémé mati kurenan icangé?” I Belog lantas ajaka kumahan metén tekén méménné. ”Ih Belog, ento apa suba berek, buina bengu pesan bonné.” I Belog lantas ngomong : ”Mémé yén anaké mati, bengu bonné?” Méménné lantas masaut: ”Aa, yén anaké mati bengu bonné, buina nyem awakné.” (halaman 4-5)

Terjemahannya:

Lalu ibunya masuk ke kamar. Dilihatlah ada mayat yang sudah busuk. Kemudian dia keluar mencari I Belog. ”Ih Belog, mengapa kamu menaruh orang mati di kamar?” I Belog menjawab: ”Mengapa ibu mengatakan istriku sudah mati?” I Belog lalu diajak masuk ke kamar oleh ibunya. ”Ih Belog, lihatlah itu sudah busuk dan bau sekali.” I Belog lalu berkata: ”Ibu kalau orang mati, busuk baunya?” Ibunya lalu menjawab: ”Ya, jika orang mati busuk baunya, dan dingin badannya.”
5.1.6 Tema
Tema adalah ide sebuah cerita. Sudjiman mengatakan bahwa gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasar suatu karya sastra itu yang disebut dengan tema. Adanya tema membuat karya lebih penting daripada sekedar bacaan hiburan (1988: 50). Nurgiyantoro (1995: 68) menyatakan bahwa untuk menemukan tema dalam sebuah cerita haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya dari bagian-bagian tertentu. Walaupun tema sulit ditentukan dengan pasti, tema bukanlah makna yang ”tersembunyi” walaupun dilukiskan, tidak secara eksplisit.
Tema yang tersembunyi tersebut dapat diketahui dengan cara membaca cerita itu secara cermat dari awal sampai akhir. Tarigan menyatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita. Suatu cerita yang tidak mempunyai tema tentu tidak ada gunanya dan artinya, walaupun pengarang tidak menjelaskan apa tema ceritanya secara eksplisit, hal itu harus dapat dirasakan dan disimpulkan oleh para pembaca setelah selesai membacanya (1984: 125).
Lebih lanjut lagi menurut Esten (978: 22) mengemukaan bahwa tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah cipta sastra. Ia masih bersifat netral. Belum punya tendensi (kecenderungan) memihak, karena ia masih merupakan persoalan. Selain itu Esten (1984: 88) juga mengemukaan bahwa untuk menentukan tema dalam karya sastra, ada tiga cara : pertama dengan melihat persoalan mana yang paling menonjol, kedua dengan melihat persoalan mana yang banyak menimbulkan konflik-konflik yang melahirkan peristiwa- peristiwa dan ketiga dengan menentukan atau menghitung waktu penceritaan yang diperlukan untuk menentukan peristiwa- peristiwa atau tokoh-tokoh di dalam sebuah karya sastra.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok persoalan atau pikiran utama dari sebuah karya sastra yang menjadi dasar penyusunan sebuah karya sastra. Berdasarkan pandangan tentang tema tersebut di atas, maka tema yang mendasari Satua I Belog adalah ”Kebodohan”. Tema ini dapat diketahui dari awal cerita hingga akhir cerita. Dasar pemikiran ini diambil dari gambaran kehidupan I Belog yang bodoh. I Belog yang tidak bisa membedakan antara orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati, sampai dia membuang ibunya sendiri ke sumur karena mengira ibunya yang badannya bau itu sudah mati. Seperti tampak dalam kutipan:
Sasubané méménné suud ngentungang bangkéné ento, lantas ia mulih. Méménné ento konden manjus, ento awananné bonné bengu. I Belog lantas ngomong: ”Mémé, mémé, nguda bengu bonné, jenenga mémé mati.” Méménné masaut: ”Tusing, mémé anak nu idup.” I Belog buin ngomong: ”Apa tusing, mémé suba mati, bonné bengu pesan. Jani mémé lakar kutang.” Sambilanga ngomomg kéto, lantas méménné kejuk, tur kapaid kaaba ka sembér. Jet ja méménné kerik-kerik, masih tusing linguanga, lantas ka clempungang ka sémbér. (halaman 5)

Terjemahannya:

Setelah ibunya selesai membuang mayat itu, lali dia pulang. Ibunya belum mandi, itu sebabnya baunya busuk. I Belog lalu berkata: ”Ibu, ibu, mengapa baunya busuk, sepertinya ibu sudah mati.” Ibunya menjawab: ”Tidak, ibu masih hidup.” I Belog lalu berkata lagi: ”Apa tidak, ibu sudah mati, baunya busuk sekali. Sekarang ibu akan saya buang.” Sambil berkata demikian, lalu ibunya ditangkap, dan diseret dibawa ke sumur. Ibunya berteriak, tetapi tidak dihiraukannya, lalu dibuang ke sumur.

Akhirnya, dia juga mencemplungkan dirinya ke sumur pada saat dia mencium bau kentutnya, mengira dirinya sudah mati. Itu semua terjadi karena kebodohannya. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita I Belog nu padidiana, tusing ada anak nyakanang ia. Ban layah basangné, lantas ia ka peken meli ubi, kaséla, gatép muah ané lén-lénan, ané sarwa mudah-mudah. Sasubanné betek basangné lantas ia mulih. Jani I Belog nongos jumahné padidiana, tusing ada anak ajak ngomong. Nujuang pesan I Belog ngentut, tur bonne bengu. I Belog lantas makeneh: ”Béh i déwék mati jani, tondén med idup suba mati.” Sambilanga ngomong kéto, lantas ia mlaib ka sémbér lantas pulanga ibanné. Payu I Belog mati. (halaman 5)

Terjemahannya:

Diceritakan I Belog tinggal sendirian, tidak ada orang yang membuatkannya makan. Karena perutnya lapar, lalu dia pergi ke pasar membeli ubi, singkong, gayam dan lain-lain yang murah-murah. Setelah perutnya kenyang lalu dia pulang. Sekarang I Belog di rumah sendirian, tidak ada yang diajak ngomong. Kebetulan sekali I Belog kentut, dan baunya busuk. I belog lalu berpikir: ”Beh diriku sekarang sudah mati, belum bosan hidup sudah mati.” Sambil berkata demikian, lalu dia berlari ke sumur dan mencemplungkan dirinya. Akhirnya dia mati.

5.1.7 Amanat
Setiap karya sastra pasti memiliki pesan atau ajaran moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pesan atau ajaran moral itu disebut dengan amanat. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit ataupun secara eksplisit. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan dan sebagainya berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu (Sudjiman, 1986: 24).
Pendapat di atas sejalan dengan yang dikemukaan oleh Esten (1987: 22-23) bahwa pemecahan suatu tema disebut dengan amanat. Amanat memperlihatkan pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Amanat dapat diungkapkan secara eksplisit (berterang-terangan) dan dapat secara implisit (tersirat). Bahkan ada amanat yang tidak nampak sekali. Umumnya cipta rasa modern memiliki amanat secara implisit.
Berdasarkan batasan-batasan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Maka analisis amanat yang dilakukan dalam Satua I Belog berpedoman pada pendapat-pendapat para ahli di atas, karena satu sama lain saling mendukung.
Amanat dalam Satua I Belog dapat dilihat melalui tingkah laku I Belog yang sangat bodoh, dia tidak bisa membedakan antara mayat dengan manusia, orang yang sudah mati dengan yang masih hidup. Kebodohannya itu sampai mencelakakan ibunya sendiri, dan bahkan dirinya sendiri pun ikut celaka. Jadi, berdasarkan penggambaran tokoh I Belog yang sangat bodoh tersebut, maka amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah sebagai generasi muda, kita haruslah rajin belajar agar tidak menjadi orang yang bodoh dan tidak tahu apa, karena kebodohan itu akan merugikan kita sendiri dan orang lain. Kebodohan akan membuat kita sulit untuk mengembangkan diri, karena kemampuan yang terbatas.
5.2 Struktur Satua Nang Bangsing Teken I Belog
5.2.1 Sinopsis
Ada suatu cerita persahabatan antara Nang Bangsing dengan I Belog. I Belog adalah orang yang bodoh. Pada suatu hari I Belog diajak memasang bubu oleh Nang Bangsing. I Belog bersedia, lalu dia bertanya kepada Nang Bangsing, tentang umpan yang dipakai. Kemudian, Nang Bangsing membohongi I Belog, dengan memberitahu bahwa umpan bubu yang baik adalah jajan kuskus dan gula , kemudian harus dipasang di atas pagar. I Belog menuruti saja perkataan Nang Bangsing. Setelah bubu itu dipasang, pada malam harinya Nang Bangsing pergi ke luar untuk mengambil jajan yang dipakai umpan oleh I Belog dan dia buang air di bubu itu.
Keesokan harinya, I Belog mendapati bubunya banyak berisi kotoran manusia, lalu dia mencari Nang Bangsing dan menanyakan kepada Nang Bangsing kenapa bubunya bisa demikian. Kemudian, Nang Bangsing kembali membohongi I Belog dengan memberitahu untuk mencoba memakai umpan nangka matang satu buah dan dipasang di bawah pohon kelapa. I Belog pun menurutinya dan segera memasang bubu itu lagi. Pada malam harinya, Nang Bangsing kembali mengambil umpan bubunya I Belog. Pagi harinya, I Belog yang mendapati bubunya kosong, merasa sangat marah dan bermaksud akan mencincang bubunya itu. Tiba-tiba datanglah seekor burung dan masuk ke dalam bubu itu. I Belog ingin memakan daging burung itu, namun burung itu berkata kepada I Belog, dia akan menuruti Semua kemauan I Belog jika dia tidak dipotong. Burung itu menyuruh I Belog mengambil bulunya, lalu menerbangkannya dan mengikuti arah bulu itu. I Belog pun menurutinya, hingga dia sampai di sebuah rumah besar dan bulu itu hilang. Di rumah itu, I Belog diberikan makanan sampai dia kenyang. Kemudian, dia meminta kuda Anak Agung untuk dibawa pulang. Anak Agung bersedia memberikan asalkan I Belog memberinya makanan dan tempat tidur yang sama dengannya. I Belog menyanggupinya.
Sesampainya di rumah, I Belog memperlakukan kuda itu seperti yang diperintahkan Anak Agung. Kuda itu diberinya makanan dan tempat tidur yang bagus. Pada malam hari, kuda itu mengeluarkan uang dan perhiasan. Sejak saat itu, berubahlah kehidupannya, dia menjadi orang kaya. Nang Bangsing yang mendengar hal itu merasa iri, dan bermaksud meminjam kuda itu, akan tetapi setelah Nang Bangsing memperlakukan kuda itu seperti yang dilakukan I Belog, ternyata yang keluar dari pantat kuda hanyalah kotoran. Nang Bangsing merasa marah dan membunuh kuda itu.
Merasa sudah lama kudanya dipinjam, kemudian I Belog mencari kudanya yang ternyata sudah mati dan ditanam oleh Nang Bangsing. Kemudian I Belog mencari bangkai kudanya, dan menanam di sanggahnya. Lama-kelamaan tumbuh dua bambu tinggi dari kepala kuda itu, yang satu merunduk ke Pasar Sangsit dan satunya lagi merunduk ke Pasar Badung. Kedua bambu itu digantungi pakaian dan perhiasan, kemudian jatuh di rumahnya I Belog. Nang Bangsing merasa iri hati, dan meminjam bambu itu untuk menanam di rumahnya, namun yang digantung di bambu itu adalah bangkai-bangkai binatang dan jatuh di rumahnya. Akhirnya Nang Bangsing sibuk membersihkan bangkai-bangkai itu.
5.2.2 Insiden
Sudjiman (1986: 35) mengemukaan bahwa insiden merupakan suatu kejadian atau yang menjadi bagian yang dipilah (distinct) dari lakuan. Insiden yang dirangkaikan dengan cara tertentu, merupakan episode dalam alur. Menurut Sukada (1993: 58-59) berpendapat bahwa insiden ialah kejadian atau peristiwa yang terkandung dalam cerita, besar atau kecil. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk struktur cerita.
Brahim (1969: 65) bahwa insiden terjadi karena gerakan, adanya tindakan dalam situasi, juga karena adanya pelaku yang bertindak. Insiden ini harus berkembang sambung-menyambung secara kausal yang satu berhubungan dengan yang lainnya sampai cerita berakhir. Insiden ini biasanya hanya dapat ditangkap secara wajar, bila cara melukiskannya dapat diterima secara logis, sehingga insiden itu akan tampak seperti sungguh-sungguh ada. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk cerita.
Berdasarkan pada pengertian insiden tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa insiden adalah peristiwa yang terkandung dalam suatu cerita. Insiden yang membangun alur cerita dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog di awali ketika Nang Bangsing mengajak I Belog memasang bubu. Nang Bangsing membohongi I Belog dengan mengatakan bahwa yang digunakan untuk umpan bubu adalah jajan kukus, lalu dipasang di pagar. Kutipannya sebagai berikut:
Sedek dina anu lantas ajakina I Belog masang bubu tekén Nang Bangsing. Nyak koné I Belog. Gelisang satua matakon I Belog tekén Nang Bangsing: ”Beli, beli, apa anggon barén bubu? Dija anaké makena bubu?” Masaut lantas Nang Bangsing: ”Ih, Belog, yan anaké marénin bubu tusing dadi lenan tekén jaja kuskus lebengan asador tusing dadi kuangan, tekén unti nyuhan abungkul, suba kéto kenaang lantas di pagehané!” (halaman 6)

Terjemahannya:

Pada suatu hari I Belog diajak memasang bubu oleh Nang Bangsing. I Belog mau. Kemudian I Belog bertanya kepada Nang Bangsing: ”Beli, beli apa digunakan sebagi umpan bubu? Dimana orang memasang bubu?” Lalu Nang Bangsing menjawab: ”Ih, Belog, umpan bubu tidaklah lain adalah jajan kukus satu kukusan tidak boleh kurang, dan kelapa parut satu buah berisi gula, sesudah itu letakkan di pagar.

Insiden selanjutnya adalah pada saat Nang Bangsing mengambil umpan bubu yang dipasang I Belog, lalu buang air di dalam bubu tersebut pada malam hari. Kutipannya sebagai berikut:
Suba jené jani tengah lemeng, lantas bangun Nang Bangsing nyemak bubuné I Belog tur telahanga amaha jajanné. Disubanné telah, lantas pejunina. Buin melahanga mejang di tongosne ituni. Suba lantas kéto mulih lantas Nang Bangsing buin pules. (halaman 6)

Terjemahannya:

Sudah larut malam, lalu Nang Bangsing mengambil bubunya I Belog dan menghabiskan jajannya. Setelah habis, lalu dia buang air di bubu itu. Kemudian ditaruh di tempatnya semula dengan rapi, lalu Nang Bangsing pulang dan kembali tidur.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog melihat bubu yang dia pasang hanya berisi kotoran manusia, dia sangat marah. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang mara angkida bubunné I Belog lantas bek misi tai. Béh apa kadén gedegné I Belog ngrengkeng: ”Né, bubu kénkén-kénkénan tenénan teka bek misi tai.” (halaman 6-7)

Terjemahannya:

Diceritakan pada saat I Belog mengangkat bubunya, lalu banyak berisi kotoran. I Belog sangat marah, lalu menggerutu: ”Ini, bubu mengapa bisa banyak berisi kotoran seperti ini.”

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog kembali bertanya kepada Nang Bangsing mengenai umpan bubu yang bagus, akan tetapi Nang Bangsing kembali membohonginya. Kutipannya sebagai berikut:
Ditu lantas matakon I Belog tekén Nang Bangsing: ”Beli Nang Bangsing, kénkén ya dadi bek bubun icangé misi tai tur barénné telah?” Masaut lantas Nang Bangsing: ”Ah buin mani da ditu makena bubu, ditu laku di punyan nyuhé, tur salinin barénné. Nangka anggon barén ané nasak abungkul!” Kéto munyinné Nang Bangsing. Sajaan lantas I Belog ngalih nangka nasak anggona bébarén bubunné, lantas kenaanga ba duur di punyan nyuhé. (halaman 7)

Terjemahannya:

Di sana I Belog lalu bertanya kepada Nang Bangsing: ”Beli Nang Bangsing, mengapa bubu saya banyak berisi kotoran dan umpannya habis?” Lalu Nang Bangsing menjawab: ”Ah besok jangan memasang bubu di sana lagi, pasang di bawah pohon kelapa dan ganti umpannya. Nangka matang satu buah bagus digunakan umpan!” Begitu perkataan Nang Bangsing. Benar kemudian I Belog mencari nangka matang dipakainya umoan bubu, lalu dipasangnya di bawah pohon kelapa.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog merasa sangat marah karena melihat bubunya kosong. Dia ingin memotong-motong bubunya itu, namun tiba-tiba ada burung hitam yang masuk ke dalam bubunya. I Belog merasa senang, walaupun bubunya kosong tetapi ada burung sebagai penggantinya. Kemudian burung itu mengatakan jika I Belog tidak memotongnya, dia sanggup memenuhi semua keinginan I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Gelisang satua suba koné lemah, bangun lantas I Belog, tur lantas ngangkid bubunné. Mara jemaka puyung tur barénné telah, gedeg pesan basangné I Belog, tur ngrengkeng: ”Béh saking ja bubuné tenénan bantug, melahan jani tektek tendasné.” Mara ukuna tekteka lantas ada kedis selem teka uli kaja kangin, jeg macelep ka tengah bubunné. Mara kéto, ngon tur aéng kendelné I Belog. ”Béh jani ja payu maan bé, gantin i deweké taén ngamah bé kedis selem.” Keto munyinné I Belog. Lantas masaut i kedis: ”Yeh iba Belog, da iba nampah kai. Yan iba tusing nampah kai, apa ja keneh ibané ngidihin kai, baanga ja.” (halaman 7)

Terjemahannya:

Cepat cerita sekarang sudah pagi, lalu I Belog bangun dan segera mengangkat bubunya. Baru dia ambil, ternyata kosong dan umpannya habis, I Belog sangat marah lalu mengerutu: ”Ah memang bubu ini sial, lebih baik sekarang dipotong-potong saja.” Baru dia mau memotong-motong, tiba-tiba ada burung hitam dari timur laut, lalu masuk ke dalam bubunya. Setelah itu, I Belog merasa sangat senang. Nah sekarang dapat daging, saya akan pernah memakan daging burung hitam.” Demikian perkataan I Belog. Lalu sang burung menjawab: ”Hai kamu Belog, jangan kamu memotong aku. Jika kamu tidak memotongku, apa yang kamu minta dariku, akan kuberikan.”

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog mengikuti arah bulu burung yang dia terbangkan, hingga akhirnya dia sampai di sebuah puri yang megah. Kutipannya sebagai berikut:
Disubanné keto lantas keberanga bulun kedisé ané abuta tekén I Belog, sajaan lantas ngapirpir pejalanné ngaja kanginang. Ento lantas tutuga tekén I Belog........Kacrita joh suba pajalanné I Belog nututin bulun kedisé ento, lantas nepukin puri melah pesan. (halaman 8)

Terjemahannya:

Setelah itu, lalu diterbangkanlah bulu burung yang dicabutnya, benar lalu terbang bulu itu ke arah timur laut. Itu lalu diikuti oleh I Belog........Diceritakan sudah jauh perjalan I Belog mengikuti bulu burung itu, lalu dia melihat puri yang bagus sekali.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog meminta nasi di puri itu dan hanya diberikan satu suap saja. Ajaibnya, walaupun hanya satu suap, namun setiap dimakannya satu suap masih juga ada sisanya, sampai dia kenyang baru nasinya habis. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita jani I Belog suba ia ngarepin sagi, mara tingalina nasiné tuah abedik pesan, rasa asopan kuangan,......Sabilang sopa nasiné ento, nu dogén buin asopan, muah bénné sing ja bisa telah. Disubanné betek I Belog, mara nasiné ento telah. (halaman 8)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang I Belog menghadapi makanan, setelah dilihat nasinya hanya sedikit sekali, satua suap saja terasa kurang,.......Setiap dimakan nasi itu, masig juga tersisa lagi satu suap, dan lauknya tidak habis-habis. Setelah dia kenyang, barulah nasi tu habis.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog meminta kuda pada Anak Agung dan membawanya pulang. Kutipannya sebagai berikut:
Masaut I Belog: ”Inggih Ratu Anak Agung, titiang nenten nunas ané kenten-kenten, kudané sané berag punika titiang nunas, lianan ring punika titiang nenten demen.”........Ngandika buin Ida Anaké Agung: ”Nah yén kéto Belog, juang jaran nirané to, nira sing ja lakar mucingin.” (halaman 9)

Terjemahannya:

I Belog menjawab: ”Wahai Ratu Agung, saya tidak meminta yang demikian, kuda tang kurus itu yang saya minta, selain itu saya tidak suka.”........Ida Anak Agung berkata lagi: ”Nah kalau begitu Belog, ambilah kudaku itu, saya tidak akan menghalangimu.

Insiden selanjutnya adalah pada saat kuda yang diminta oleh I Belog itu, mengeluarkan uang dan perhiasan dari pantatnya. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang jani suba minab tengah lemeng, lantas meju jaranné. ”Krincing, krengsuang.”........Tan crita, semengan lantas né jani. Crita jani I Belog ngampakan jlanan patlanan. Subané mampakan, lantas ajinanga mas slaka muah pipis madugdug. (halaman 10)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang sudah larut malam, lalu kuda itu buang air. ”Krincing, kresuang.”.......Tidak diceritakan lagi, sekarang sudah pagi. Diceritakan I Belog membuka pintu pelan-pelan. Sudah terbuka, lalu dilihatlah perhiasan emas dan uang yang banyak.

Insiden selanjtunya adalah pada saat kuda yang dipinjam Nang Bangsing dari I Belog, hanya mengeluarkan kotoran, tidak mengeluarkan uang dan perhiasan. Nang Bangsing merasa sangat marah setelah dia dan istrinya melihat kotoran kuda yang memenuhi kamar. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita jarané empek-empeka maang nasi bé lawar, gegoréngan, lablaban muah ané lén-lénan. Kacrita suba sanja lantas clepanga jaranné kumah metén, tur pedemanné makasur. Suba jené tengah lemeng, meju lantas jarané, mejunang tai mising déning bas liu baanga lawar.........Pamragat sibarengan lantas mulihan, kampakang jlanané kadredasang, lantas ajinanga tain jarané ngebekin patuangan, ditu lantas Nang Bangsing gedeg pesan (halaman 12)

Terjemahannya:

Diceritakan kuda itu dipaksa diberi makanan nasi lawar, gorengan, rebusan dan yang lain-lain. Diceritakan sudah sore, lalu dimasukkan kuda itu ke kamar, dan tempat tidur yang berisi kasur. Sekarang sudah larut malam, kuda itu buang air, mengeluarkan kotoran mencret karena terlalu banyak diberi makan lawar........Akhirnya bersama-sama masuk ke dalam, dibuka pintunya, lalu dilihatlah kotoran kuda yang memenuhi kamarnya, Nang Bangsing merasa sangat marah

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog mencari bangkai kuda yang dikubur oleh Nang Bangsing, lalu bangkai kuda itu dikuburnya di sanggah kemulan dan lama-kelamaan kepala kuda itu tumbuh menjadi dua batang bambu yang tinggi. Satu batang merunduk ke pasar Sangsit, digantungi kain, baju, selendang, udeng dan lain-lain, sedangkan batang yang satunya lagi merunduk ke pasar Badung digantungi makanan yang banyak lalu semuanya jatuh di rumahnya. Kutipannya sebagai berikut:
Suba kéto alih-alihina lantas abana mulih tur tanema di sanggah kemulanné. Makelo-kelo lantas mentik tendas jarané dadi tiing gading duang katih tur tegeh pesan. Ento lantas ebah tiingé. Ané akatih bah ka peken Sangsité, ané akatih bah ka peken badungé. Kacrita tiingé ebah ka badung, ada ngejangin kamben, baju, tengkalung, udeng, kanti ebék pesan. Kéto masihané ebah ka peken Sangsité ada ngantungin sudang, déngdéng kanti, déngdéng kanti ebek pesan. Disubanné ebek pada tiingé, lantas buin majujuk. Béh ebek pangganggoné lantas ulung di jumahné I Belog, muah ané misi sudang kéto masih. Jeg makejang ulung ditu di jumahné I Belog. (halaman 13)

Terjemahannya:

Setelah itu dicari-carinya, lalu dibawanya pulang dan ditanamnya di sanggah kemulannya. Lama-kelamaan kepala kuda itu tumbuh menjadi dua batang bambu gading dan tinggi sekali. Lalu merunduk bambu itu. Satu bambu merunduk ke pasar Sangsit, dan yang satunya lagi merunduk ke pasar Badung. Diceritakan yang merunduk ke pasar Badung, ada yang menggantungi kain, baju, selendang, udeng, sampai banyak sekali. Demikian juga yang merunduk ke pasar Sangsit, ada yang menggantungi sudang, dendeng banyak sekali. Setelah banyak tergantung di bambu, lalu bambu itu kembali tegak. Lalu banyak pakaian-pakaian itu jatuh di rumahnya I Belog, begitu juga yang berisi sudang. Semuanya jatuh di rumah I Belog.

Insiden terakhir adalah pada saat Nang Bangsing meminta bantuan tetangganya untuk memindahkan bambu milik I Belog dan menanam di rumahnya. Kedua bambu itu merunduk ke pasar Sangsit dan pasar Sanglah, kemudian digantungi bangkai-bangkai binatang. Bangkai-bangkai itu jatuh di rumahnya. Kutipannya sebagai berikut:
Crita Nang Bangsing jani ngidih tulung tekén banjaré ngisidang tiing, lantas tancebanga di sanggahné. Disubané majujuk, lantas bah ka peken Sangsité muah ka peken Badungé. Critayang jani anaké di Badung sawiréh ipidan dugasé kagantungin baju, kamben muah ané lén-lénan mawanan ngalantas ilang, jani lantas kagantungin sarwa bangké, bangkén jaran, bangkén sampi, céléng muah ané lén-lénan. Ané bah ka peken Sangsité kéto masih ada ngantungin bangkén cicing, bangkén bangkung, bangkén lelipi. Suba kéto crita jani lantas majujuk buin tiingé makadadua. Béh paclebugbug lantas bangkéné ulung bek di umah Nang Bangsingé. (halaman 13)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang Nang Bangsing meminta tolong kepada tetangganya untuk memindahkan bambu, lalu ditanam di sanggahnya. Setelah berdiri, lalu merunduk ke pasar Sangsit dan ke pasar Badung. Diceritakan sekarang orang-orang di Badung, karena dulu saat digantungi baju, kain dan yang lain-lain tiba-tiba hilang, sekarang digantungi bangkai-bangkai binatang, bangkai kuda, bangkai sapi, babi dan yang lain-lain. Bambu yang merunduk ke pasar Sangsit itu juga ada yang menggantungi bangkai anjing, bangkai babi, bangkai ular. Setelah itu, kedua bambu itu kembali tegak. Nah, berjatuhanlah bangkai-bangkai itu ke rumah Nang Bangsing.

5.2.3 Alur

Stanton mengemukakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (dalam Nurgiyantoro, 1995:113), sedangkan Semi (1988: 43) menyatakan bahwa alur (plot) struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebuah interelasi yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dari keseluruhan fiksi. Aminuddin (1987: 83) berpendapat bahwa rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita. Alur bukanlah sekedar rangkaian peristiwa yang biasa berkaitan, dengan kata lain alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan penyelesaian (Sudjiman, 1988: 4).
Esten menyatakan (1987: 26-27) alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita rekaan. Biasanya alur dari sebuah cerita rekaan terdiri dari ; 1) situasi atau mulai melukiskan keadaan, 2) peristiwa-peristiwa mulai bergerak, 3) keadaan mulai memuncak, 4) klimaks atau mencapai titik puncak, dan 5) pemecahan soal atau penyelesaian. Alur yang baik adalah alur yang dapat membantu mengungkapkan tema dan amanat dari peristiwa-peristiwa seta adanya hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang wajar antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
Menurut Tarigan (1984: 128) bahwa pada dasarnya kebanyakan alur mengikuti pola tradisional dengan unsur-unsur seperti :
1) exposition yaitu pengenalan para tokoh, pembukaan hubungan menata adegan, menciptakan suasana, penyajian sudut pandang.
2) complication yaitu peristiwa permulaan yang menimbulkan beberapa masalah, kesukaran.
3) rising action yaitu mempertinggi/meningkatkan perhatian kegembiraan, kehebohan, saat bertambahnya kesukaran atau kendala-kendala.
4) turning point yaitu klimaks, titik emosi, dan perhatian yang paling besar serta mendebarkan.
5) ending yaitu penyelesaian peristiwa-peristiwa, bagaimana caranya para tokoh dipengaruhi dan apa yang terjadi atas diri mereka masing-masing.
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas dapat disimak bahwa alur (plot) adalah unsur dasar penggerak sebuah cerita, yang merupakan rangkaian sebab akibat yang saling berhubungan. Pendapat-pendapat ahli di atas semuanya berkaitan dan saling mendukung, namun dalam hal menganalisis Satua Nang Bangsing Teken I Belog lebih banyak digunakan pendapat dari Guntur Tarigan, sehingga dapat dilihat alur dari Satua Nang Bangsing Teken I Belog adalah:
Pengarang mulai melukiskan suatu keadaan (Exposition). Pada bagian ini pengarang memperkenalkan tokoh I Belog dan Nang Bangsing. I Belog dan Nang Bangsing adalah dua sahabat. Kutipannya sebagai berikut:
Ada tuturan satua anak makakasihan ajaka dadua, madan Nang Bangsing tekén I Belog. Kacrita I Belog anak ia sajaan buka adanné Belog pesan tur tutut. (halaman 6)

Terjemahannya:
Ada suatu cerita persahabatan dua orang, bernama Nang Bangsing dan I Belog. Diceritakan I Belog adalah anak yang bodoh dan lamban seperti namanya.

Selanjutnya adalah peristiwa bersangkutan mulai bergerak (Complication). Pada bagian ini diceritakan ketika Nang Bangsing mengajak I Belog memasang bubu. Nang Bangsing membohongi I Belog dengan mengatakan bahwa yang digunakan untuk umpan bubu adalah jajan kukus, lalu dipasang di pagar. Kutipannya sebagai berikut:
Sedek dina anu lantas ajakina I Belog masang bubu tekén Nang Bangsing. Nyak koné I Belog. Gelisang satua matakon I Belog tekén Nang Bangsing: ”Beli, beli, apa anggon barén bubu? Dija anaké makena bubu?” Masaut lantas Nang Bangsing: ”Ih, Belog, yan anaké marénin bubu tusing dadi lénan tekén jaja kuskus lebengan asador tusing dadi kuangan, tekén unti nyuhan abungkul, suba kéto kenaang lantas di pagehané!” (halaman 6)

Terjemahannya:

Pada suatu hari I Belog diajak memasang bubu oleh Nang Bangsing. I Belog mau. Kemudian I Belog bertanya kepada Nang Bangsing: ”Beli, beli apa digunakan sebagi umpan bubu? Dimana orang memasang bubu?” Lalu Nang Bangsing menjawab: ”Ih, Belog, umpan bubu tidaklah lain adalah jajan kukus satu kukusan tidak boleh kurang, dan kelapa parut satu buah berisi gula, sesudah itu letakkan di pagar.
Malam harinya, Nang Bangsing mengambil umpan bubu yang dipasang I Belog, lalu buang air di dalam bubu tersebut pada malam hari. Kutipannya sebagai berikut:
Suba jené jani tengah lemeng, lantas bangun Nang Bangsing nyemak bubuné I Belog tur telahanga amaha jajanné. Disubanné telah, lantas pejunina. Buin melahanga mejang di tongosne ituni. Suba lantas kéto mulih lantas Nang Bangsing buin pules. (halaman 6)

Terjemahannya:

Sudah larut malam, lalu Nang Bangsing mengambil bubunya I Belog dan menghabiskan jajannya. Setelah habis, lalu dia buang air di bubu itu. Kemudian ditaruh di tempatnya semula dengan rapi, lalu Nang Bangsing pulang dan kembali tidur.

Keesokan harinya, I Belog melihat bubu yang dia pasang hanya berisi kotoran manusia, dia sangat marah. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang mara angkida bubunné I Belog lantas bek misi tai. Béh apa kadén gedegné I Belog ngrengkeng: ”Né, bubu kénkén-kénkénan tenénan teka bek misi tai.” (halaman 6-7)

Terjemahannya:

Diceritakan pada saat I Belog mengangkat bubunya, lalu banyak berisi kotoran. I Belog sangat marah, lalu menggerutu: ”Ini, bubu mengapa bisa banyak berisi kotoran seperti ini.”


Keadaan mulai memuncak (Rising Action). Keadaan mulai memuncak ketika pada saat I Belog merasa sangat marah karena melihat bubunya kosong. Dia ingin memotong-motong bubunya itu, namun tiba-tiba ada burung hitam yang masuk ke dalam bubunya. I Belog merasa senang, walaupun bubunya kosong tetapi ada burung sebagai penggantinya. Kemudian burung itu mengatakan jika I Belog tidak memotongnya, dia sanggup memenuhi semua keinginan I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Gelisang satua suba koné lemah, bangun lantas I Belog, tur lantas ngangkid bubunné. Mara jemaka puyung tur barénné telah, gedeg pesan basangné I Belog, tur ngrengkeng: ”Béh saking ja bubuné tenenan bantug, melahan jani tektek tendasné.” Mara ukuna tekteka lantas ada kedis selem teka uli kaja kangin, jég macelep ka tengah bubunné. Mara kéto, ngon tur aéng kendelné I Belog. ”Béh jani ja payu maan bé, gantin i déwéké taén ngamah bé kedis selem.” Kéto munyinné I Belog. Lantas masaut i kedis: ”Yéh iba Belog, da iba nampah kai. Yan iba tusing nampah kai, apa ja keneh ibané ngidihin kai, baanga ja.” (halaman 7)

Klimaks (Turning Point) dalam Satua ini adalah pada saat kuda yang diminta oleh I Belog itu, mengeluarkan uang dan perhiasan dari pantatnya. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang jani suba minab tengah lemeng, lantas meju jaranné. ”Krincing, krengsuang.”........Tan crita, semengan lantas né jani. Crita jani I Belog ngampakan jlanan patlanan. Subané mampakan, lantas ajinanga mas slaka muah pipis madugdug. (halaman 10)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang sudah larut malam, lalu kuda itu buang air. ”Krincing, kresuang.”.......Tidak diceritakan lagi, sekarang sudah pagi. Diceritakan I Belog membuka pintu pelan-pelan. Sudah terbuka, lalu dilihatlah perhiasan emas dan uang yang banyak.

Kemudian, Nang Bangsing yang merasa iri dengan I Belog, meminjam kuda itu. Ternyata kuda yang dipinjamnya itu hanya mengeluarkan kotoran, tidak mengeluarkan uang dan perhiasan. Nang Bangsing merasa sangat marah setelah dia dan istrinya melihat kotoran kuda yang memenuhi kamar. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita jarané empek-empeka maang nasi bé lawar, gegoréngan, lablaban muah ané lén-lénan. Kacrita suba sanja lantas clepanga jaranné kumah metén, tur pedemanné makasur. Suba jené tengah lemeng, meju lantas jarané, mejunang tai mising déning bas liu baanga lawar.........Pamragat sibarengan lantas mulihan, kampakang jlanané kadredasang, lantas ajinanga tain jarané ngebekin patuangan, ditu lantas Nang Bangsing gedeg pesan (halaman 12)

Terjemahannya:

Diceritakan kuda itu dipaksa diberi makanan nasi lawar, gorengan, rebusan dan yang lain-lain. Diceritakan sudah sore, lalu dimasukkan kuda itu ke kamar, dan tempat tidur yang berisi kasur. Sekarang sudah larut malam, kuda itu buang air, mengeluarkan kotoran mencret karena terlalu banyak diberi makan lawar........Akhirnya bersama-sama masuk ke dalam, dibuka pintunya, lalu dilihatlah kotoran kuda yang memenuhi kamarnya, Nang Bangsing merasa sangat marah

Ternyata kuda yang dipinjam oleh Nang Bangsing itu mati dan sudah dikubur oleh Nang Bangsing. I Belog mencari bangkai kuda yang dikubur oleh Nang Bangsing, lalu bangkai kuda itu dikuburnya di sanggah kemulan dan lama-kelamaan kepala kuda itu tumbuh menjadi dua batang bambu yang tinggi. Satu batang merunduk ke pasar Sangsit, digantungi kain, baju, selendang, udeng dan lain-lain, sedangkan batang yang satunya lagi merunduk ke pasar Badung digantungi makanan yang banyak lalu semuanya jatuh di rumahnya. Kutipannya sebagai berikut:
Suba kéto alih-alihina lantas abana mulih tur tanema di sanggah kemulanné. Makelo-kelo lantas mentik tendas jarané dadi tiing gading duang katih tur tegeh pesan. Ento lantas ebah tiingé. Ané akatih bah ka peken Sangsité, ané akatih bah ka peken badungé. Kacrita tiingé ebah ka badung, ada ngejangin kamben, baju, tengkalung, udeng, kanti ebek pesan. Kéto masihané ebah ka peken Sangsité ada ngantungin sudang, déngdéng kanti, déngdéng kanti ebek pesan. Disubanné ebek pada tiingé, lantas buin majujuk. Béh ebek pangganggoné lantas ulung di jumahné I Belog, muah ané misi sudang kéto masih. Jeg makejang ulung ditu di jumahné I Belog. (halaman 13)

Terjemahannya:

Setelah itu dicari-carinya, lalu dibawanya pulang dan ditanamnya di sanggah kemulannya. Lama-kelamaan kepala kuda itu tumbuh menjadi dua batang bambu gading dan tinggi sekali. Lalu merunduk bambu itu. Satu bambu merunduk ke pasar Sangsit, dan yang satunya lagi merunduk ke pasar Badung. Diceritakan yang merunduk ke pasar Badung, ada yang menggantungi kain, baju, selendang, udeng, sampai banyak sekali. Demikian juga yang merunduk ke pasar Sangsit, ada yang menggantungi sudang, dendeng banyak sekali. Setelah banyak tergantung di bambu, lalu bambu itu kembali tegak. Lalu banyak pakaian-pakaian itu jatuh di rumahnya I Belog, begitu juga yang berisi sudang. Semuanya jatuh di rumah I Belog.


Penyelesaian (Ending) dari Satua ini adalah pada saat Nang Bangsing meminta bantuan tetangganya untuk memindahkan bambu milik I Belog dan menanam di rumahnya. Kedua bambu itu merunduk ke pasar Sangsit dan pasar Sanglah, kemudian digantungi bangkai-bangkai binatang. Bangkai-bangkai itu jatuh di rumahnya. Dia susah payah mencari orang yang mau membersihkan bangkai-bangkai yang jatuh di rumahnya, sampai kekayaannya habis untuk memberi upah. Akhirnya Nang Bangsing menjadi miskin dan I Belog menjadi kaya. Kutipannya sebagai berikut:
Crita Nang Bangsing jani ngidih tulung tekén banjaré ngisidang tiing, lantas tancebanga di sanggahné. Disubané majujuk, lantas bah ka peken Sangsité muah ka peken Badungé. Critayang jani anaké di Badung sawiréh ipidan dugasé kagantungin baju, kamben muah ané lén-lénan mawanan ngalantas ilang, jani lantas kagantungin sarwa bangké, bangkén jaran, bangkén sampi, céléng muah ané lén-lénan. Ané bah ka peken Sangsité kéto masih ada ngantungin bangkén cicing, bangkén bangkung, bangkén lelipi. Suba kéto crita jani lantas majujuk buin tiingé makadadua. Béh paclebugbug lantas bangkéné ulung bek di umah Nang Bangsingé. Jantos bonné sing duga baan ngadek baan bengunné. Ditu lantas Nang Bangsing bantat-bintit ngalih anak ané nyak nelahin, tur kanti telah kasugihanné anggona mupahang. Déning kéto lantas Nang Bangsing dadi lacur, I Belog dadi sugih. (halaman 13)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang Nang Bangsing meminta tolong kepada tetangganya untuk memindahkan bambu, lalu ditanam di sanggahnya. Setelah berdiri, lalu merunduk ke pasar Sangsit dan ke pasar Badung. Diceritakan sekarang orang-orang di Badung, karena dulu saat digantungi baju, kain dan yang lain-lain tiba-tiba hilang, sekarang digantungi bangkai-bangkai binatang, bangkai kuda, bangkai sapi, babi dan yang lain-lain. Bambu yang merunduk ke pasar Sangsit itu juga ada yang menggantungi bangkai anjing, bangkai babi, bangkai ular. Setelah itu, kedua bambu itu kembali tegak. Nah, berjatuhanlah bangkai-bangkai itu ke rumah Nang Bangsing. Sampai tidak tahan mencium baunya karena baunya busuk sekali. Kemudian Nang Bangsing susah payah mencari orang yang mau membersihkan bangkai-bangkai yang jatuh di rumahnya, sampai kekayaannya habis untuk memberi upah. Akhirnya Nang Bangsing menjadi miskin dan I Belog menjadi kaya.


Berdasarkan uaraian-uraian peristiwa yang membentuk struktur alur cerita Satua Nang Bangsing Teken I Belog, pengarang lebih banyak menggunakan alur lurus. Peristiwa-peristiwa dalam Satua dilukiskan secara berurutan sehingga membentuk satu jalinan cerita.
5.2.4 Latar
Setiap kejadian tentu mempunyai latar, demikian pula dengan Geguritan I Belog. Latar merupakan gambaran tempat dan waktu atau segala situasi tempat terjadinya peristiwa. Latar yang baik selalu dapat membantu elemen-elemen dalam cerita seperti plot dan perwatakan (Hutagalung, 1967: 103). Menurut Sudjiman, latar merupakan segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (1988: 44). Batasan ini menekankan pada unsur tempat waktu dan suasana sebagai unsur latar.
Sukada menyatakan bahwa latar dalam cerita pada umunya banyak menimbulkan suasana emosional yang menceritakan perwatakan. Latar biasanya mengekspresikan tokoh-tokoh cerita yang memiliki hubungan erat dalam alam dan manusia. Kehadiran latar sebagai unsur cerita merupakan penyempurnaan cerita itu dan dapat membangun suasana yang diharapkan menghasilkan kualitas keterangan efek cerita (1983: 24).
Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 1995: 227).
Menurut Kenney (dalam Sudjiman, 1988: 44), secara terperinci latar meliputi: penggambaran lokasi geografis, termasuk tofografi, pemandangan sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya musim terjadinya, lingkungan, agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh.
Jadi dapat disimpulkan bahwa latar merupakan tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Semua pendapat para ahli di atas memang saling berhubungan dan terkait, namun analisis Satua Nang Bangsing Teken I Belog ini latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, waktu dan suasana.
5.2.4.1 Latar Tempat
Seperti telah dijelaskan di awal latar tempat dimaksudkan sebagai lokasi-lokasi dimana peristiwa terjadi. Dalam Satua Nang Bangsing tĕken I Bĕlog terdapat beberapa latar tempat, antara lain:
1) Di sebuah puri yang megah, pada saat I Belog mengikuti bulu burung yang dia terbangkan, kemudian dia melihat puri yang sangat megah. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita joh suba pajalanné I Belog nututin bulun kedise ento, lantas nepukin puri melah pesan. (halaman 8)

Terjemahannya:

Diceritakan perjalanan I Belog sudah jauh mengikuti bulu burung itu, kemudian dia melihat puri yang sangat megah.

2) Di rumah I Belog, pada saat I Belog menyuruh ibunya menyediakan nasi dan daging yang akan diberikan kepada kuda. Kutipannya sebagai berikut:
Sasubané nganteg jumah, iju lantas I Belog nundén méménné ngalihang nasi muah bé lakar baang jarané. (halaman 9)

Terjemahannya:

Setelah sampai di rumah, segera I Belog menyuruh ibunya mencarikan nasi dan daging untuk kudanya.

3) Di pasar, pada saat ibunya I Belog berhutang di pasar. Kutipannya sebagai berikut:
Déning ia anak lacur, lantas ia nganggeh-nganggeh di peken (halaman 10)

Terjemahannya:

Karena dia orang miskin, lalu dia berhutang di pasar

4) Di rumah Nang Bangsing, pada saat Nang Bangsing sampai di rumah, lalu menyuruh istrinya memasak dan mengundang tetangganya. Kutipannya sebagai berikut:
Sasubanné neked jumah lantas orahina kurenanné Nang Bangsing, tundena mlebengan tur maundang-undang. (halaman 11)

Terjemahannya:

Setelah sampai di rumah lalu Nang bangsing memberitahu istrinya, menyuruh memasak dan mengundang orang-orang.

5) Di sanggah kemulan, pada saat I Belog menanam bangkai kudanya di sanggah kemulan. Kutipannya sebagai berikut:
Suba kéto alih-alihaina lantas abana mulih tur tanema di sanggah kemulanné.

Terjemahannya:

Setelah itu dicari-cari, lalu dibawanya pulang dan ditanamnya di sanggah kemulannya.

5.2.4.2 Latar Waktu
Latar waktu adalah waktu terjadinya suatu peristiwa. Latar waktu dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog antara lain:
1) Tengah Malam, pada saat Nang Bangsing mengambil umpan bubunya I Belog dan memakannya. Kutipannya sebagai berikut:
Suba jené jani tengah lemeng, lantas bangun Nang Bangsing nyemak bubuné I Belog tur telahanga amaha jajanné. (halaman 6)

Terjemahannya:

Sudah tengah malam, lalu Nang Bangsing bangun mengambil bubunya I Belog dan memakannya sampai habis.

2) Pagi hari, pada saat I Belog mengajak Nang Bangsing melihat bubu yang sudah dipasang. Kutipannya sebagai berikut:
”Nang Bangsing, Nang Bangsing, suba semengan dong jalan angkid bubuné.” (halaman 6)

Terjemahannya:

”Nang Bangsing, Nang Bangsing, sudah pagi, auo kita ambil bubunya sekarang.”

3) Tengah malam, pada saat Nang Bangsing kembali mengambil umpan bubunya I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita suba tengah lemeng buin lantas aliha bubunné I Belog tekén Nang Bangsing, (halaman 7)

Terjemahannya:

Diceritakan sudah tengah malam, Nang Bangsing kembali mencari bubunya I Belog,

4) Pagi hari, pada saat I Belog bangun dan mengambil bubunya. Kutipannya sebagai berikut:
Gelisang satua suba koné lemah, bangun lantas I Belog, tur lantas ngangkid bubunné. (halaman 7)

Terjemahannya:

Cepat cerita, sudah pagi, I Belog bangun lalu mengambil bubunya.


5) Malam hari, pada saat I Belog dan ibunya tidur di serambi. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita jani suba peteng, I Belog di ampiké ia medem ajaka méménné. (halaman 10)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang sudah malam, I Belog dan ibunya tidur di teras.

6) Pagi hari, pada saat I Belog membuka pintu. Kutipannya sebagai berikut:
Tan crita, semengan lantas né jani. Crita jani I Belog ngampakang jlanan patlanan. (halaman 10)

Terjemahannya:

Tidak diceritakan, sekarang sudah pagi. Diceritakan sekarang I Belog membuka pintu pelan-pelan.

7) Pagi hari, pada saat Nang Bangsing dan istrinya berebut melihat kuda yang dipinjamnya dari I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Gelisang satua semengan lantas, béh saling pamalunin mulihan ané muani ajaka ané luh kanti saling kedeng. (halaman 12)

Terjemahannya:

Cepat cerita sekarang sudah pagi, suami istri itu berebut masuk ke dalam dan saling tarik.

5.2.4.3 Latar Suasana
Latar suasana merupakan situasi-situasi yang muncul dari prilaku tokoh ataupun keaadan dalam cerita, seperti suasana tegang, sedih, senang dan sebagainya. Latar Suasana yang terdapat dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog adalah sebagai berikut:
1) Kemarahan I Belog pada saat melihat bubunya banyak berisi kotoran. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang mara angkida bubunné I Belog lantas bek misi tai. Béh apa kadén gedegné I Belog tur ngerengkeng (halaman 6)

Terjemahannya:

Diceritakan pada saat I Belog mengangkat bubunya, lalu banyak berisi kotoran. Dia sangat marah dan menggerutu.

2) Kemarahan I Belog pada saat melihat umpan bubunya hilang. Kutipannya sebagai berikut:
Mara jemaka puyung tur barénné telah, gedeg pesan basangné I Belog (halaman 7)

Terjemahannya:

Baru diambilnya, kosong dan umpannya habis, I Belog sangat marah

3) Perasaan senang I Belog pada saat ada burung hitam yang masuk ke dalam bubunya. Kutipannya sebagai berikut:
mara ukana tekteka lantas ada kedis selem teka uli kaja kangin, jeg macelep ka tengah bubunné. Mara kéto, ngon tur aéng kendelné I Belog. (halaman 7)

Terjemahannya:

baru akan dicincang, lalu ada burung hitam datang dari timur laut, tiba-tiba masuk ke tengah bubunya. Baru demikian, heran dan senang hatinya I Belog.

4) Kemarahan Nang Bangsing pada saat kuda yang dia pinjam dari I Belog hanya mengeluarkan kotoran. Kutipannya sebagai berikut:
lantas ajinanga tain jarané ngebekin patuangan, ditu lantas Nang Bangsing gedeg pesan (halaman 12)

Terjemahannya:

lalu dilihatnya kotoran kuda memenuhi kamar, di sana lalu Nang Bangsing sangat marah.

5.2.5 Tokoh dan Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Penokohan adalah cara pengarang untuk menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat (Esten, 1987: 27). Aminuddin (1987: 79) juga mengungkapkan pendapat yang tidak jauh beda dengan pendapat di atas mengenai penokohan yaitu cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu.
Tokoh cerita, menurut Abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam cerita naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro,1995: 165). Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan (Semi, 1988: 37).
Menurut Sudjiman (1988: 17-18), berdasarkan fungsinya tokoh dalam cerita dapat dibedakan antara tokoh utama dan tokoh bawahan, tokoh yang memegang peranan pimpinan disebut tokoh utama protagonis, ini juga digolongkan ke dalam tokoh sentral. Lebih lanjut dikatakan yang digunakan untuk menentukan tokoh utama bukan frekuensi kemunculan tokoh itu dalam cerita, melainkan intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
Tokoh utama merupakan tokoh yang terlibat dan umumnya dikuasai oleh serangkaian peristiwa, tempat mereka muncul baik sebagai pemenang maupun yang kalah, senang atau tidak senang, lebih kaya atau lebih miskin, lebih baik atau lebih jelek, tetapi semuanya merupakan yang lebih arif dan bijaksana bagi pengalaman dan menjadi orang yang baik mengagumkan sekalipun dalam kematian atau kekalahan. Tokoh sekunder merupakan tokoh yang berperan dalam menghadapi atau sama-sama tokoh utama dalam membangun cerita, jadi geraknya tak sedominan tokoh utama. Berikutnya tokoh pelengkap merupakan tokoh yang berfungsi membantu kelancaran gerak tokoh utama dan tokoh sekunder dalam cerita (Tarigan, 1984: 143).
Hutagalung (dalam Sukada, 1982: 26) mengatakan bahwa perwatakan seorang tokoh memiliki tiga dimensi sebagai struktur pokok, fisikologis, sosiologis, dan psikologis. Ketiga sudut tersebut memiliki beberapa aspek yaitu dimensi fisikologis (tampang, jenis kelamin, pakaian, dan segala perlengkapan yang dikenakan oleh tokoh), dimensi psikologis (angan-angan, kekecewaan, cita-cita ambisi, pangkat, keturunan atau asal-usul dan sebagainya). Dimensi sosiologis (lingkungan, agama, bangsa, keturunan atau asal-usul).
Tokoh-tokoh yang ada dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog antara lain, I Belog, Nang Bangsing, Ibu I Belog, Istri Nang Bangsing, Kedis Selem, Parekan, Anak Agung, dan Panunggun Lawang. Tokoh-tokoh tersebut berperan sebagai tokoh utama, sekunder, dan tokoh komplementer. I Belog merupakan tokoh utama dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog. Hal ini dikarenakan intensitas keterlibatan I Belog dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita cukup tinggi. Di samping itu, I Belog merupakan tokoh yang paling banyak terlibat dengan tokoh lain serta tokoh yang paling banyak memakan waktu penceritaan.
Tokoh sekunder dalam satua ini adalah Nang Bangsing. Penggolongan tokoh tersebut sebagai tokoh sekunder didasarkan atas beberapa alasan. Pertama, kedudukannya di dalam cerita tidak sentral, artinya mereka tidak menjadi pusat pengisahan dalam keseluruhan cerita yang disajikan pengarang. Kedua, karena tokoh tersebut tidak mendapat porsi pembicaraan yang banyak dan terus menerus seperti pada tokoh utama. Meskipun tidak hadir dalam keseluruhan cerita di dalam satua tetapi tokoh tersebut cukup terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting (fungsional). Keberadaan tokoh komplementer hanya sebagai pendukung cerita dan tokoh utama, serta hanya sebagai pelengkap cerita. Tokoh-tokoh komplementer dalam satua ini antara lain Ni Luh Sari.
Perwatakan (karakterisasi) tokoh-tokoh tersebut dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog ditunjukkan melalui ciri-ciri fisikologis, psikologis, dan sosiologis.
5.2.5.1 Tokoh Utama
Tokoh utama dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog adalah I Belog. Dari segi fisikologisnya, tokoh I Belog tidak digambarkan secara jelas.
Dari segi psikologisnya, I Belog merupakan orang yang bodoh dan polos. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita I Belog anak ia sajaan buka adanné Belog pesan tur tutut. (halaman 6)

Terjemahannya:
Diceritakan I Belog adalah orang yang sama seperti namanya, sangat bodoh dan polos.

Dari segi sosiologisnya, I Belog merupakan orang yang mudah percaya pada orang lain. Hal tersebut dapat dilihat ketika dia dibohongi oleh Nang Bangsing, namun dia percaya pada perkataan Nang Bangsing tersebut. Kutipannya sebagai berikut:
Gelisang satua matakon I Belog tekén Nang Bangsing: ”Beli, beli, apa anggon barén bubu? Dija anaké makena bubu?” Masaut lantas Nang Bangsing: ”Ih, Belog, yan anaké marénin bubu tusing dadi lénan tekén jaja kuskus lebengan asador tusing dadi kuangan, tekén unti nyuhan abungkul, suba kéto kenaang lantas di pagehané!”Déning kéto pitutur kekasihanné, lantas I Belog meli ketan asador, nyuh abungkul muah gula abungkul (halaman 6)

Terjemahannya:

Pada suatu hari I Belog diajak memasang bubu oleh Nang Bangsing. I Belog mau. Kemudian I Belog bertanya kepada Nang Bangsing: ”Beli, beli apa digunakan sebagi umpan bubu? Dimana orang memasang bubu?” Lalu Nang Bangsing menjawab: ”Ih, Belog, umpan bubu tidaklah lain adalah jajan kukus satu kukusan tidak boleh kurang, dan kelapa parut satu buah berisi gula, sesudah itu letakkan di pagar. Karena demikian perkataan sahabatnya, lalu I Belog membeli ketan satu sador, sebuah kelapa dan gula merah.

5.2.5.2 Tokoh Sekunder
Tokoh sekunder dalam satua ini adalah Nang Bangsing. Dari segi fisikologisnya, tokoh Nang Bangsing tidak digambarkan secara jelas, namun dapat dikatakan bahwa dia adalah seorang lelaki yang sudah menikah.
Dari segi psikologisnya, Nang Bangsing digambarkan sebagai tokoh yang selalu iri hati atas keberhasilan orang lain. Salah satu contohnya dapat dilihat pada kutipan berikut:
Mara keto munyinné I Belog, déning Nang Bangsing mula jlema iri ati, lantas nagih siliha jaranné. (halaman 11)
Terjemahannya:

Demikian perkataan I Belog, karena Nang Bangsing adalah orang yang iri hati, lalu dia meminta meminjam kuda I Belog.

Dari segi sosiologisnya, Nang Bangsing merupakan orang yang suka menipu orang lain, bahkan sahabatnya sendiri ditipunya juga. Nang Bangsing menipu I Belog dengan mengatakan bahwa umpan bubu yang baik adalah buah nangka yang sudah matang. Kutipannya sebagai berikut:
Ditu lantas matakon I Belog tekén Nang Bangsing: ”Beli Nang Bangsing, kénkén ya dadi bek bubun icangé misi tai tur barénne telah?” Masaut lantas Nang Bangsing: ”Ah buin mani da ditu makena bubu, ditu laku di punyan nyuhé, tur salinin barénné. Nangka anggon barén ané nasak abungkul!” Kéto munyinné Nang Bangsing. Sajaan lantas I Belog ngalih nangka nasak anggona bebarén bubunné, lantas kenaanga ba duur di punyan nyuhé. (halaman 7)

Terjemahannya:

Di sana I Belog lalu bertanya kepada Nang Bangsing: ”Beli Nang Bangsing, mengapa bubu saya banyak berisi kotoran dan umpannya habis?” Lalu Nang Bangsing menjawab: ”Ah besok jangan memasang bubu di sana lagi, pasang di bawah pohon kelapa dan ganti umpannya. Nangka matang satu buah bagus digunakan umpan!” Begitu perkataan Nang Bangsing. Benar kemudian I Belog mencari nangka matang dipakainya umoan bubu, lalu dipasangnya di bawah pohon kelapa.

5.2.5.3 Tokoh Komplementer
Tokoh Komplementer dalam satua ini adalah Ibu I Belog, Istri Nang Bangsing, Kedis Selem, Parekan, Anak Agung, dan Panunggun Lawang.
Tokoh Ibu I Belog tidak digambarkan secara jelas dari segi fisikologis dan psikologisnya, namun dari segi sosiologisnya, Ibu I Belog digambarkan sebagai tokoh yang sayang kepada anaknya, dia rela berhutang demi memberikan makanan pada kuda anaknya. Kutipannya sebagai berikut:
Sasubanné nganteg jumah, iju lantas I Belog nundén méménné ngalihang nasi muah bé lakar baang jarané. Déning ia anak lacur, lantas ia nganggeh-nganggeh di peken bé, baas, muah ané lén-lénan. (halaman 10)

Terjemahannya:

Setelah sampai di rumah, segera I Belog menyuruh ibunya mencarikan nasi dan daging untuk kudanya. Karena dia orang miskin, lalu dia berhutang di pasar, daging, beras dan lain-lain.

Tokoh Kedis Selem dilihat dari segi fisikologisnya, merupakan burung yang berwarna hitam. Kutipannya sebagai berikut:
Mara ukana tekteka lantas ada kedis selem teka uli kaja (halaman 7)
Terjemahannya:
Baru akan dicincang, lalu ada burung hitam datang dari timur laut
Dari segi sosiologisnya dan psikologisnya, Kedis Selem tidak digambarkan secara jelas.
Tokoh istri Nang Bangsing tidak digambarkan secara jelas dari segi fisikologis dan sosiologisnya, namun dari segi psikologisnya dia adalah tokoh yang matrealistis. Dia tidak sabar menunggu uang yang keluar dari pantat kuda. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang Nang Bangsing ajaka kurenanné pakisi. ”Béh nanangné, suba meju jarané, dong kemo mulihan jemak pipisné, mi liu pesan dingeh tainné ngrecek.” Kéto munyin ané luh, (halaman 12)

Terjemahannya:

Diceritakan Nang Bangsing berdua dengan istrinya berbisik. Wah pak, kudanya sudah buang air, ke sana lihat di dalam, ambil uangnya, banyak sekali saya dengar kotorannya keluar.

Tokoh Anak Agung tidak digambarkan secara jelas dari segi fisikologis dan psikologisnya, sedangkan dari segi sosiologisnya adalah tokoh yang dermawan, dia memberikan I Belog makan dan memberikan kudanya kepada I Belog untuk dibawa pulang. Kutipannya sebagai berikut:
Masaut I Belog: ”Inggih Ratu Anak Agung, titiang nenten nunas ané kénten-kénten, kudané sané berag punika titiang nunas, lianan ring punika titiang nénten demen.”........Ngandika buin Ida Anaké Agung: ”Nah yén kéto Belog, juang jaran nirané to, nira sing ja lakar mucingin.” (halaman 9)

Terjemahannya:

I Belog menjawab: ”Wahai Ratu Agung, saya tidak meminta yang demikian, kuda tang kurus itu yang saya minta, selain itu saya tidak suka.”........Ida Anak Agung berkata lagi: ”Nah kalau begitu Belog, ambilah kudaku itu, saya tidak akan menghalangimu.

Tokoh Parekan dan Panunggun Lawang tidak digambarkan secara jelas dari segi fisikologis, psikologis, dan sosiologisnya.
5.2.6 Tema
Tema adalah ide sebuah cerita. Sudjiman mengatakan bahwa gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasar suatu karya sastra itu yang disebut dengan tema. Adanya tema membuat karya lebih penting daripada sekedar bacaan hiburan (1988: 50). Nurgiyantoro (1995: 68) menyatakan bahwa untuk menemukan tema dalam sebuah cerita haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya dari bagian-bagian tertentu. Walaupun tema sulit ditentukan dengan pasti, tema bukanlah makna yang ”tersembunyi” walaupun dilukiskan, tidak secara eksplisit.
Tema yang tersembunyi tersebut dapat diketahui dengan cara membaca cerita itu secara cermat dari awal sampai akhir. Tarigan menyatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita. Suatu cerita yang tidak mempunyai tema tentu tidak ada gunanya dan artinya, walaupun pengarang tidak menjelaskan apa tema ceritanya secara eksplisit, hal itu harus dapat dirasakan dan disimpulkan oleh para pembaca setelah selesai membacanya (1984: 125).
Lebih lanjut lagi menurut Esten (978: 22) mengemukaan bahwa tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah cipta sastra. Ia masih bersifat netral. Belum punya tendensi (kecenderungan) memihak, karena ia masih merupakan persoalan. Selain itu Esten (1984: 88) juga mengemukaan bahwa untuk menentukan tema dalam karya sastra, ada tiga cara : pertama dengan melihat persoalan mana yang paling menonjol, kedua dengan melihat persoalan mana yang banyak menimbulkan konflik-konflik yang melahirkan peristiwa- peristiwa dan ketiga dengan menentukan atau menghitung waktu penceritaan yang diperlukan untuk menentukan peristiwa- peristiwa atau tokoh-tokoh di dalam sebuah karya sastra.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok persoalan atau pikiran utama dari sebuah karya sastra yang menjadi dasar penyusunan sebuah karya sastra. Berdasarkan pandangan tentang tema tersebut di atas, maka tema yang mendasari Satua Nang Bangsing Teken I Belog adalah ”Iri Hati”. Tema ini dapat diketahui dari awal cerita hingga akhir cerita. Dasar pemikiran ini diambil dari gambaran kehidupan Nang Bangsing dengan I Belog. Nang Bangsing selalu tidak terima melihat I Belog berhasil, dia selalu ingin mendapatkan sesuatu yang sama seperti yang I Belog punya, namun sifat iri hatinya itu membuatnya celaka dan sial. Seperti tampak dalam kutipan:
Crita Nang Bangsing jani ngidih tulung tekén banjaré ngisidang tiing, lantas tancebanga di sanggahné. Disubané majujuk, lantas bah ka peken Sangsité muah ka peken Badungé. Critayang jani anaké di Badung sawireh ipidan dugase kagantungin baju, kamben muah ane len-lenan mawanan ngalantas ilang, jani lantas kagantungin sarwa bangké, bangkén jaran, bangkén sampi, céléng muah ané lén-lénan. Ané bah ka peken Sangsité kéto masih ada ngantungin bangkén cicing, bangkén bangkung, bangkén lelipi. Suba kéto crita jani lantas majujuk buin tiingé makadadua. Béh paclebugbug lantas bangkéné ulung bek di umah Nang Bangsingé. Jantos bonné sing duga baan ngadek baan bengunné. Ditu lantas Nang Bangsing bantat-bintit ngalih anak ané nyak nelahin, tur kanti telah kasugihanné anggona mupahang. Déning kéto lantas Nang Bangsing dadi lacur, I Belog dadi sugih. (halaman 13)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang Nang Bangsing meminta tolong kepada tetangganya untuk memindahkan bambu, lalu ditanam di sanggahnya. Setelah berdiri, lalu merunduk ke pasar Sangsit dan ke pasar Badung. Diceritakan sekarang orang-orang di Badung, karena dulu saat digantungi baju, kain dan yang lain-lain tiba-tiba hilang, sekarang digantungi bangkai-bangkai binatang, bangkai kuda, bangkai sapi, babi dan yang lain-lain. Bambu yang merunduk ke pasar Sangsit itu juga ada yang menggantungi bangkai anjing, bangkai babi, bangkai ular. Setelah itu, kedua bambu itu kembali tegak. Nah, berjatuhanlah bangkai-bangkai itu ke rumah Nang Bangsing. Sampai tidak tahan mencium baunya karena baunya busuk sekali. Kemudian Nang Bangsing susah payah mencari orang yang mau membersihkan bangkai-bangkai yang jatuh di rumahnya, sampai kekayaannya habis untuk memberi upah. Akhirnya Nang Bangsing menjadi miskin dan I Belog menjadi kaya.

5.2.7 Amanat
Setiap karya sastra pasti memiliki pesan atau ajaran moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pesan atau ajaran moral itu disebut dengan amanat. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit ataupun secara eksplisit. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan dan sebagainya berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu (Sudjiman, 1986: 24).
Pendapat di atas sejalan dengan yang dikemukaan oleh Esten (1987: 22-23) bahwa pemecahan suatu tema disebut dengan amanat. Amanat memperlihatkan pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Amanat dapat diungkapkan secara eksplisit (berterang-terangan) dan dapat secara implisit (tersirat). Bahkan ada amanat yang tidak nampak sekali. Umumnya cipta rasa modern memiliki amanat secara implisit.
Berdasarkan batasan-batasan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Maka analisis amanat yang dilakukan dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog berpedoman pada pendapat-pendapat para ahli di atas, karena satu sama lain saling mendukung.
Amanat dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog dapat dilihat melalui sifat Nang Bangsing yang selalu iri hati melihat keberhasilan orang lain. Tingkah laku Nang Bangsing tersebut tidak pantas ditiru, karena sifat iri hati dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Pada saat kita melihat orang lain berhasil, kita tidak boleh iri hati, justru itu kita gunakan sebagai motivasi untuk bekerja keras mencapai cita-cita dengan cara yang baik.
Selain itu, pengarang juga menyampaikan amanat melalui tingkah laku I Belog yang mudah percaya pada orang, maka amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah kita seharusnya rajin belajar, agar tidak menjadi orang yang bodoh dan mudah ditipu oleh orang lain, serta jangan mudah percaya pada perkataan orang, karena itu belum tentu benar.

5.3 Struktur Satua I Belog Mantu
5.3.1 Sinopsis
Ada suatu cerita seorang pemuda yatim piatu yang hidup sendirian bernama I Belog. Dia tidaklah bodoh seperti namanya, dia pandai membuat akal. Dia mempunyai tetangga yang bernama Pan Luh Sari dengan anaknya yang bernama Luh Sari.
Pan Luh Sari berkali-kali berhasil ditipu oleh I Belog dengan akalnya, sehingga sering kali mendapat kesialan. Pertama, pada saat Pan Luh Sari menyuruh anaknya agar memungut tahi ayam dan menyanggrainya. Luh Sari pun menuruti perintah ayahnya, dia memungut dan menyanggrai tahi ayam itu. Setelah pulang dari sawah, Pan Luh Sari langsung meminta tahi ayam yang sudah disanggrai kepada anaknya, dan memakannya. Kemudian Pan Luh Sari muntah-muntah, karena yang dimakannya memang benar tahi ayam. Kemudian Pan Luh Sari berjalan menuju sawah, di tengah jalan ia melihat anjing buang air, dilihatnya tahi anjing itu hitam lalu dimakannya. Setelah dia makan, dirasakannya tahi itu pahit dan dia muntah-muntah. Selanjutnya pada saat I Belog dan Pan Luh sari di sawah, I Belog meminta ijin sebentar untuk mencari telur keong. I Belog berbohong lagi, padahal yang dicarinya adalah jajan yang dia sembunyikan sebelumnya. Setelah dia menemukan jajan itu, lalu dia memakannya. Pan Luh Sari yang melihatnya meminta untuk mencicipinya dan ternyata rasanya enak. Kemudian, Pan Luh Sari istirahat bekerja dan mencari-cari telur keong. Dia berhasil menemukan telur keong, lalu memakannya. Dimakanlah telur keong itu, ternyata rasanya amis dan lengket dimulutnya, Pan Luh Sari pun muntah-muntah.
Pan Luh Sari sadar kalau dirinya sudah berkali-kali ditipu oleh I Belog. Dia sangat marah dan bermaksud membalas dendam, akan tetapi niat balas dendam Pan Luh Sari selalu gagal karena kepintaran I Belog membuat akal. Bahkan dua kali niat balas dendamnya berhasil digagalkan oleh I Belog, bahkan dia sendiri yang celaka. Pertama, pada saat Pan Luh Sari dan I Belog pergi ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari yang naik, sedangkan I Belog mengumpulkan ijuk di bawah pohon. Setelah terkumpul banyak, lalu dia masuk ke dalam kumpulan ijuk itu, sambil berteriak kalau dia mau dimakan macan. Pan Luh Sari yang memang berniat ingin mencelakakan I Belog, merasa senang karena mengira I Belog sudah mati dimakan macan, lalu dia bergegas pulang.
Dua hari berikutnya, I Belog dan Pan Luh Sari kembali ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari berniat balas dendam, karena lagi-lagi ditipu oleh I Belog. Pan Belog menyuruh I Belog yang naik pohon, sedangkan dia yang memungut di bawah. Kemudian Pan Luh Sari memasukkan dirinya ke dalam gulungan ijuk sambil berteriak kalau dirinya dimakan macan. I Belog yang mengetahui kalau Pan Luh Sari hanya berpura-pura, lalu turun mengikat gulungan itu erat-erat, diseret dan dimasukkan ke dalam air.
Pada suatu hari, I Belog membuat siasat dengan masuk ke dalam sanggah kamulan Pan Luh Sari dan menyamar menjadi dewa. Dia meminta sesajen dan agar Luh Sari menikah dengan I Belog, kalau tidak mau terus-terusan mendapat kesialan. Akhirnya I Belog menikah dengan Luh Sari. Lama-kelamaan Pan Luh Sari mengetahui kalau dirinya telah dibohongi lagi, akan tetapi dia tidak berbuat apa-apa, karena anaknya sudah terlanjur menikah dengan I Belog.
5.3.2 Insiden
Sudjiman (1986: 35) mengemukaan bahwa insiden merupakan suatu kejadian atau yang menjadi bagian yang dipilah (distinct) dari lakuan. Insiden yang dirangkaikan dengan cara tertentu, merupakan episode dalam alur. Menurut Sukada (1993: 58-59) berpendapat bahwa insiden ialah kejadian atau peristiwa yang terkandung dalam cerita, besar atau kecil. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk struktur cerita.
Brahim (1969: 65) bahwa insiden terjadi karena gerakan, adanya tindakan dalam situasi, juga karena adanya pelaku yang bertindak. Insiden ini harus berkembang sambung-menyambung secara kausal yang satu berhubungan dengan yang lainnya sampai cerita berakhir. Insiden ini biasanya hanya dapat ditangkap secara wajar, bila cara melukiskannya dapat diterima secara logis, sehingga insiden itu akan tampak seperti sungguh-sungguh ada. Secara keseluruhan insiden-insiden ini menjadi kerangka yang membangun atau membentuk cerita.
Berdasarkan pada pengertian insiden tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa insiden adalah peristiwa yang terkandung dalam suatu cerita. Insiden yang membangun alur cerita dalam Satua I Belog Mantu di awali ketika I Belog pergi ke rumah Ni Luh Sari membawa keong yang disanggrai. Dia berjalan menuju rumah Luh Sari sambil mengunyah keong itu. Pan Luh Sari yang melihat kunyahan I Belog yang kelihatannya memakan makanan enak, lalu meminta makanan itu kepada I Belog. Kemudian I Belog berbohong dengan mengatakan bahwa yang dimakannya itu adalah kotoran ayam yang di sanggrai, akan tetapi Pan Luh Sari tetap ngotot ingin meminta. Kutipannya sebagai berikut:
Suba suud nganyahnyah kakul, lantas kakulé lebeng ento bongkosa aji kambenné, laut majalan nganggur kemo kumah Luh Sari, sambilanga mamungut kakulé manyahnyah totonan.......Buin masaut bapan Luh Sari: ”Saja Belog? Indaang idih bedik, nguda dot dadi baana, lemuh kinyukan cainé.”.......Suba jani kéto, baanga baan I Belog kakulné ingen ada agamel. Daara baan Pan Luh Sari kruput-kruput, geleka jaan pesan nyangluh sada manis asananga, (halaman 39 - 40)

Terjemahannya:

Sudah selesai menyanggrai keong, lalu keong yang sudah matang itu dibungkus dengan kain sarung, lalu berjalan ke rumah Luh Sari, sambil mengunyah keong tersebut.......Lalu menjawab Pan Luh Sari: ”Benar Belog? Ayolah minta sedikit, mengapa saya ngiler dibuatnya, melihat kunyahan mulutmu.”.......Setelah itu, diberikanlah keong itu satu genggam oleh I Belog. Dimakan oleh Pan Luh sari dikunyah-kunyah, ditelan enak dan manis rasanya,

Insiden selanjutnya adalah pada saat Pan Luh Sari menyuruh anaknya agar memungut kotoran ayam dan menyanggrainya. Luh Sari pun menuruti perintah ayahnya, dia memungut dan menyanggrai kotoran ayam itu. Setelah pulang dari sawah, Pan Luh Sari langsung meminta kotoran ayam yang sudah disanggrai kepada anaknya, dan memakannya. Kemudian Pan Luh Sari muntah-muntah, karena yang dimakannya memang benar kotoran ayam. Kutipannya sebagai berikut:
Buin mamunyi bapanné: ”jani suba tawang kéné, tain siapé tuh-tuh manyahnyah, da nyén sampat-sampatanga tain siapé di paon, nah Luh. Mani semengan dudukang nyén bapa lantasang lebengin, kekenéang.......Nah suba jani kéto, mani semengné bapanné ka carik, Luh Sari ngidepang pamunyin bapanné, duduka punduhanga tain siapé né tuh-tuh, inganan ada acééng, lantas nyahnyaha.......Suba tengai, teka bapanné uli carik, mara macedik ngejang prabot di baléné, suba kaukina pianakné nakonang tain siapé manyahnyah......Ento tujuanga sopa abekan bungutné, lantas kinyukanga, kadena patuh buka ané ibi sanjanné né baanga baan I Belog. Napi, mara gelekanga peesné, pah mlekag sa, pait asana. Cepokan seneb basangné, simbuhanga tain siapé di bungutné, lantas ngutah telah kerikan basangné pesu. (halaman 40)

Terjemahannya:

Ayahnya kembali berkata: ”Sekarang sudah tahu begini, kotoran ayam yang kering disanggrai, nanti jangan disapu kotoran ayang yang di dapur, ya Luh. Besok pagi kamu pungut lalu masak seperti ini.......Setelah demikian, keesokan harinya ayahnya pergi ke sawah, Luh sari menuruti perintah ayahnya, dipungutlah kotoran ayam yang sudah kering, kira-kira ada setengah batok kelapa, lalu disanggrainya......Sudah siang, ayahnya datang dari sawah, baru saja menaruh peralatan di tempatnya, sudah dipanggil anaknya menanyakan kotoran ayam yang sudah disanggrai.......Itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dikunyahnya, dikiranya sama dengan yang diberikan oleh I Belog kemarin malam. Baru ditelannya, rasanya aneh, pahit. Lalu mual perutnya, disemburkan kotoran ayam itu dari mulutnya, lalu dia muntah sampai habis isi perutnya keluar.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog pergi ke rumah Pan Luh Sari sambil memakan jajan iwel yang mirip dengan kotoran anjing. Pan Luh Sari bertanya kepada I Belog dan meminta jajan yang dimakannya. I Belog berkata bohong, mengatakan bahwa yang dimakannya adalah kotoran anjing, namun Pan Luh Sari tetap ngotot untuk meminta jajan itu, lalu memakannya. Rasa jajan itu manis. Kutipannya sebagai berikut:
Suba nyanan sanjané, mara I Belog ngireang kema kumah Pan Luh Sari, inget tekén ngelah sasepelan jaja iwel matumplu di bungbung tiing buluhé, pasti tain cicing gobanné, ento abaana sopa sakabedik sambilanga majalan.......Masaut bapan Ni Luh Sari: ”Ento apa sop cai jaan pesan asanné? Idih ja kuda bedik.” Masaut I Belog: ”Apa, tain cicingé, katumplu iwel manis jaan pesan.” Masaut bapan Luh Sari: ”Kén saja Belog, endang édéngang!” Mara kéto édénganga baan I Belog, beleg tain cicing badeng maketan-ketan gobanné, kewala nyangluh bonné sada manis. Gumpita, cicipina abedik saja jaan nyangluh manis mlenyad rasanné. (halaman 41)

Terjemahannya:

Sore harinya, baru I Belog pergi ke rumah Pan Luh Sari, dia ingat mempunyai sisa jajan iwel ditumbuk di bambu buluh, mirip sekali dengan kotoran anjing, itu dia bawa dan dimakan sedikit demi sedikit sambil berjalan.......Menjawab Pan Luh Sari: ”Itu apa yang kamu makan, kelihatannya enak sekali? Minta sedikit.” Menjawab I Belog: ”Ah, kotoran anjing, dicampur iwel manis enak sekali.” Masaut bapan Luh Sari: ”Mana, benarkah Belog, coba perlihatkan!” Setelah itu diperlihatkan oleh I Belog, persis kotoran anjing hitam berisi ketan, tetapi baunya enak dan rasanya manis. Dicolek sedikit, dicicipinya, benar enak sekali manis rasanya.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog pagi-pagi pergi ke sawah menaruh jajan bagina putih yang mirip dengan telur keong. Kutipannya sebagai berikut:
Nah suba jani kéto, mani semenganné, pradang ka carik maluan ia teka di uma. I Belog buin mangéka daya, ngalih ia jaja bagina putih ingenan adasa bidang, lantas mema, suba dadi sambrag lantas buin gorénga. Bagus renyah empuk, putih nyemplak. Pasemengan majalan ia kuma, jajané ento bongkosa ilidanga, teked ia di uma, enu joh sangklibanga ngejang pang da ada anak nawang, nglaut ia ngucung-ngucung majalan ngungsi umah Pan Luh Sariné. (halaman 41)

Terjemahannya:

Nah sudah demikian, besok paginya, mendahului ke sawah duluan dia sampai di sawah. I Belog kembali membuat daya upaya, dia mencari jajan bagina putih sepuluh buah, lalu direndam, dan sesudah berhamburan lalu digorengnya lagi. Bagus, renyah dan empuk, putih bersih. Pagi-pagi sekali dia berangkat ke sawah, jajan itu dibungkus dan disembunyikannya, sesampainya di sawah, disembunyikannya supaya tidak ada orang yang mengetahui, lalu dia bergegas berangkat ke rumah Pan Luh Sari.

Insiden selanjutnya adalah pada saat Pan Luh Sari berjalan menuju sawah, di tengah jalan ia melihat anjing buang air, dilihatnya kotoran anjing itu hitam lalu dimakannya. Setelah dia makan, dirasakannya kotoran itu pahit dan dia muntah-muntah. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang buin Pan Luh Sari di jalan, ia nepukin cicing meju, iwasina tainné badeng, patuh buka ané orahanga tain cicing ibinné sopa baan I Belog, baanga ia nyicipin abedik. Jaan manis mlenyad asananga, lantas Pan Luh Sari ngenggalang nyaup tain cicing né mara pejunanga ento, laut sampola daara kadéna patuh manis rasanné, apan patuh nota gobanné. Mara teked di bungutné napi, Déwa Ratu, pengit mlekag bonné, pait makilit asanné, buin ia paling ngutah-utah, telah krikan basangné pesu di jalan-jalan sambilanga nemah mamisuh. (halaman 42)

Terjemahannya:

Diceritakan Pan Luh Sari di jalan, dia melihat anjing buang air, kotorannya hitam, seperti yang dikatakan kotoran anjing yang kemarin dimakan oleh I Belog, yang dicipinya sedikit. Enak manis rasanya, lalu Pan Luh Sari dengan cepat mengambil kotoran anjing yang baru keluar itu dan dmakannya, dikiranya rasanya sama manis, karena dilihatnya sama persis. Baru sampai dimulutnya, Dewa Ratu, baunya busuk, rasanya pahit sekali, kembali dia muntah, habis isi perutnya keluar di jalan, sambil dia menggerutu.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog dan Pan Luh sari di sawah, I Belog meminta ijin sebentar untuk mencari telur keong. I Belog berbohong lagi, padahal yang dicarinya adalah jajan yang dia sembunyikan sebelumnya. Setelah dia menemukan jajan itu, lalu dia memakannya. Pan Luh Sari yang melihatnya meminta untuk mencicipinya dan ternyata rasanya enak. Kemudian, Pan Luh Sari istirahat bekerja dan mencari-cari telur keong. Dia berhasil menemukan telur keong, lalu memakannya. Dimakanlah telur keong itu, ternyata rasanya amis dan lengket dimulutnya, Pan Luh Sari pun muntah-muntah. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog mapwangkid akejep manyaru ngalih-ngalihin taluh kakul. Aliha jajanné ané kebanga totonan, teka di yéhé totonan,........ Sada jongkok-jongkok, sada ngincemin limannyané nyokot, ngesop, luung lemuh kinyukanné, jaan pesan asana, nota baan bapan Luh Sari, I Belog takonina: ”Belog, ento apa kaincem ditu kesop-esop, jaan pesan asana, idih ja bedik?” .......Mara kéto bapan Luh Sari, mrérén ia magaé, lantas ia milu ngalih-alihin taluh kakul, tepukina taluh kakul majomprot ping liu, teka jég saup, sampol lakuanga ka bungutné. Kriuk-kriuk pakpaka, napi andih kelen, bin nyangket asananga di bungutné, buin ia ngutah-utah uék-uék di tengahan umané, (halaman 42)

Terjemahannya:

I Belog minta ijin pura-pura mencari-cari telor keong. Dicarinya jajan yang dia sembunyikan itu, ditemukan di dalam air,....... Sada jongkok-jongkok, dan cekatan tangannya mengambil, memakan, kunyahannya enak, enak sekali rasanya, dilihat oleh Pan Luh Sari, bertanya kepada I Belog: ”Belog apa yang kamu makan itu, kelihatannya enak sekali, minta sedikit?”....... Setelah itu, Pan Luh Sari berhenti bekerja, lalu dia ikut mencari telur keong, dilihatnya banyak telur keong berkumpul, diambil dan dimakannya. Kriuk-kriuk dikunyahnya, rasanya amis dan lengket di mulutnya, kembali dia muntah-muntah, uek-uek di tengah sawahnya,

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog menukar ubinya Pan Luh Sari dengan pangkal bambu. Kutipannya sebagai berikut:
Teked jani suba paak umahné, ada kayehan, ditu mrérén ia bapan Luh Sari ngajakin manjus. Pada ngejang tategenan mapunduh, pada manjus, I Belog maluan suud, manyaru awakné ngetor,.......Suba jani kéto, saluka tategenan bapan Luh Sariné baan I Belog, majalan maluan mulih. (halaman 44)

Terjemahannya:

Sekarang sudah dekat rumahnya, ada tempat mandi, di sana berhenti mandi Pan Luh Sari mengajak mandi. Mereka sama-sama menaruh pikulan, sama-sama mandi, I Belog duluan selesai, pura-pura badannya gemetar,.......Setelah itu, dipikulnya pikulan Pan Luh Sari oleh I Belog, berjalan duluan pulang.

Insiden selanjutnya adalah pada saat Ni Luh Sari memasak pangkal bambu yang dikiranya ubi. Lama dia memasak, tetapi tidak matang-matang. Kutipannya sebagai berikut:
Napi gupuh pianakné ka paon ngendihang api, nyusutin payuk, jemaka bungkil tiingé tegenan bapanné, kadéna saja tuah ubi, jemakanga tiuk mabudi ngedasin. Bilang godota katos, bilang godota katos.......Suba jani kéto, tutut pianakné, punpunina dogén ingen suba lepah lebengné, balihina kecek-kecekina, nu masih katos. Buin gedénan apiné, pelan suba kenyel ia munpunin, kanti sakiap matanné. Balihina ubinné masih nu blegeran buka bungkil tiingé, napi angkida abana ka baléné. (halaman 44)

Terjemahannya:

Sibuk anaknya ke dapur menyalakan api, mencuci panci, diambilnya pangkal bambu pikulan ayahnya, dikiranya benar-benar ubi, diambilnay pisau bermaksud untuk mebersihkannya. Setiap dipotong keras, setiap dipotong keras.......Sesudah itu, giat anaknya, direbusnya saja, kira-kira sudah matang, dicobanya ditusuk-tusuk, juga masih keras. Lagi dia membesarkan api, sampai dia capek dan mengantuk. Dicoba ubinya itu masih juga kersa seperti pangkal bambu, lalu diangkat dan dibawanya ke balai-balai.

Insiden selanjutnya adalah pada saat Pan Luh Sari sadar bahwa telah dibohongi oleh I Belog. Dia sangat marah dan akan membalas dendam. Kutipannya sebagai berikut:
Ditu mara mrasa bapan Luh Sari tekén kena kabelog-belog busan-busan baan I Belog. Tan sapira sebet kenehné, engsek ia mapangsegan, sing mamunyi-munyi biin, mamunyi acepok: ”Da nyai nyebetang nah Luh tuyuh munpunin, tuah ya I Belog nyilurin ubin bapané. Ubin bapané ubi tuah luung-luung lusuh-lusuh. Moné baana nyengahin bapa, yan sing mati ia baan bapa nayanang sing lega-lega nyet bapané. (halaman 45)

Terjemahannya:

Barulah Pan Luh Sari merasa kalau dirinya sudah ditipu oleh I Belog. Tidak terbayangkan marah hatinya, sesek dia menyesal, tidak berkata apa-apa lagi, berkata sekali: ”Jangan kamu sedih Luh, karena capek memasak, itu hanya akal-akalan I Belog menukar ubi ayah. Ubi ayah sebenarnya bagus-bagus dan besar-besar. Sudah sedemikiannya dia menipu ayah, jika ayah tidak berhasil membuatnya mati, tidak puas perasaan ayah.

Insiden selanjutnya adalah pada saat Pan Luh Sari dan I Belog pergi ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari yang naik, sedangkan I Belog mengumpulkan ijuk di bawah pohon. Setelah terkumpul banyak, lalu dia masuk ke dalam kumpulan ijuk itu, sambil berteriak kalau dia mau dimakan macan. Pan Luh Sari yang memang berniat ingin mencelakakan I Belog, merasa senang karena mengira I Belog sudah mati dimakan macan, lalu dia bergegas pulang. Kutipannya sebagai berikut:
Di subané bapan Luh Sari teked ba duur, geleng ia ngalap duk, ulung-ulunganga sing ja ia buin ngiwasin. I Belog nuduk-nuduk betén, suba mekakasin tali bakal anggon ngulung ibanné apang ilid makaput baan duk. Suba liu ulung duké, duduka abana ka ilidé, ditu pilpila gulunga dadianga abesik, dugduganga lantas clepanga ibanné ka tengah gulungan duké totonan ilidanga pesan. Suba ia ditu magulung bareng di tengah duké, lantas ia gelur-gelur: ”Bapa, bapa, bapa, tulungin icang mati amaha baan macané, mati icang bapa.”.......Ditu masuriak ia bapan Luh Sari, mangembulan lantas ia ngenggalang tuun, tepukina dukné suba luung, yatna magalung matali tiing lantas saluka tegena abana mulih kumahné, Kanti bingkih ia masih ja tegena dogén. (halaman 46)

Terjemahannya:

Sesudah Pan Luh Sari sampai di atas, tekun dia memetik ijuk, dijatuhkannya dan tidak diperhatikannya. I Belog memungut di bawah, sudah menyiapkan tali yang akan digunakan untuk menggulung dirinya supaya terbungkus oleh ijuk. Sudah banyak jatuh ijuknya, dipungutnya dan dibawa ketempat yang tersembunyi, di sana dikumpulkan dijadikan satu, lalu dia masuk ke tengah gulungan itu, lalu dia menjerit: ”Bapa, bapa, bapa, tolong saya mati damakan macan, mati saya bapa.”.......Di sanalah Pan Luh Sari merasa senang lalu cepat-cepat turun, dilihatnya ijuknya sudah terkumpul rapi diikat dengan tali, lalu dipikulnya dibawa ke rumah. Sekuat tenaga dia mengangkatnya.

Insiden selanjutnya adalah pada saat I Belog dan Pan Luh Sari kembali ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari berniat balas dendam, karena lagi-lagi ditipu oleh I Belog. Pan Belog menyuruh I Belog yang naik pohon, sedangkan dia yang memungut di bawah. Kemudian Pan Luh Sari memasukkan dirinya ke dalam gulungan ijuk sambil berteriak kalau dirinya dimakan macan. I Belog yang mengetahui kalau Pan Luh Sari hanya berpura-pura, lalu turun mengikat gulungan itu erat-erat, diseret dan dimasukkan ke dalam air. Kutipannya sebagai berikut:
Suba kéto menék ia I Belog, teked di duur nektek duk ulunganga. Bilang maan akakab ulunganga. Nah, ia bapan Luh Sari nuduk-nuduk betén, mapulih-pulih tekén I Belog, masih kéto gulunga ibanné baan duk, enota baan I Belog, linglinga dogén. Bapan Luh Sari lantas kauk-kauk: ”Belog, Belog, tulungin bapa énggal-énggal, bapa sarapa baan macané!”......Suba kéto lantas I Belog tuun nutugang nuduk dukné, laut pesela gulunga dadianga acepok, laut briguna talinina, gretanga sangetanga pesan......Pragat ia mesel duké lantas paida bragedega, klabak-labaké ambahanga, glalang-gliling, glebag-glebug, nyumingkinang sakit awakné bapan Luh Sari di tengah duké mantep-antepan, lantas ia gelur-gelur......(halaman 47)

Terjemahannya:

Sudah demikian I Belog naik, sampai di atas memotong ijuk dan dijatuhkannya. Setiap dapat satu lembar dijatuhkannya. Pan Luh Sari memungutnya di bawah, meniru akalnya I Belog, dimasukkanlah tubuhnya ke gulungan ijuk itu, dilihat oleh I Belog, hanya diperhatikan saja. Pan Luh Sari lalu memangil-manggil: ”Belog, Belog cepat tolong aku, aku dimakan macan!”.......Setelah itu I Belog turun melanjtukan memungut juk itu, lalu diikatnya gulungan itu dijadikan satu dan diikatnya dengan sangat erat.......Setelah selesai mengikat lalu diseretnya, dibawanya ke semak-semak, berguling-guling, sampai sakit badannya Pan Luh Sari di tengah gulungan ijuk terbentur-bentur, lalu dia menjerit.......

Insiden terakhir adalah pada saat I Belog membuat siasat dengan masuk ke dalam sanggah kamulan Pan Luh Sari dan menyamar menjadi dewa. Dia meminta sesajen dan agar Luh Sari menikah dengan I Belog, kalau tidak mau terus-terusan mendapat kesialan. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog buin mangeka daya kalaning peteng, nyingid ia kema ka sanggah bapan Luh Sariné. Macelep ka tengah sanggah kamulané, lantas ia ngawé munyi kauk-kauk ngaukin bapan Luh Sari, manyaru pangandikan Déwa Hiang Gurunné. Kéné Munyinné: ”Cai Pan Sari, mai tangkilin ira, ira Déwa Hiang cainé. Jani ira nagihin cai punjung rayunan, mabé siap maguling, yan sing iba ngaturin ira punjung rayunan jani, sing buungan iba pongor ira.”.......Suba kéto ngenggal-enggalang ia magarapan ka paon nyakan, nunu siap, lantas lebeng, matanding, sregep aturané mwadah dulang, laut ia mabersih ajaka makejang sapakurenanné, bakal nagkilin Widiné, pisadiané nunas karahayuan. Suud kéto lantas suuna bantené ka sanggah, sambilanga matur mameteng: ”Inggih Ratu Ida panembahan titiang Batara Hiang Guru, punika titiang ngaturin Cokor I Déwa punjung rayunan, durus ica Cokor I Déwa munggah.”.......Jani ada pakayunan nira, ento pianak ibané Ni Sari apang iba nganténang tekén I Belog, ia mula jatukarmanné, da iba bani-bani tekén ia I Belog, I Belog anak ririh pesan madaya. Yén iba buin bani tekén ia, sing buungan iba mati. (halaman 48 - 49)

Terjemahannya:

I Belog kembali membuat akal pada saat malam hari, dia bermaksud datang ke sanggah Pan Luh Sari. Masuk ke dalam sanggah kemulannya, lalu bersuara seperti memanggi-manggil Pan Luh Sari, seakan-akan suara Dewa Hiang Gurunya. Begini perkataanya: ”Kamu Pan Sari, kemarilah kehadapanku, aku Dewa Hiangmu. Sekarang aku meminta persembahan, ayam guling, jika kamu tidak mempersembahkannya sekarang, kamu akan kukutuk.”.......Setelah itu cepat-cepat memasak di dapur, memanggang ayam, setelah matang, disajikannya dengan dulang. Kemudian mereka membersihkan diri, karena akan menghadap dewanya, meminta keselamatan. Setelah itu, dibawanya sesajen itu ke sanggah, sambil berkata: ”Wahai Ratu Ida Batara Hiang Guruku, ini hamba menghaturkan sesajen kehadapan dewa, terimalah wahai dewaku.”.......Sekarang ada keinginanku, itu anakmu Ni sari supaya kamu nikahkan dengan I Belog, dialah jodohnya, jangan kamu berani dengan I Belog, I Belog orang yang pintar membuat akal. Jika kamu berani melawan dia, kamu akan mati.

5.3.3 Alur

Stanton mengemukakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (dalam Nurgiyantoro, 1995:113), sedangkan Semi (1988: 43) menyatakan bahwa alur (plot) struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebuah interelasi yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dari keseluruhan fiksi. Aminuddin (1987: 83) berpendapat bahwa rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Istilah alur dalam hal ini sama dengan istilah plot maupun struktur cerita. Alur bukanlah sekedar rangkaian peristiwa yang biasa berkaitan, dengan kata lain alur atau plot adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui rumitan ke arah klimaks dan penyelesaian (Sudjiman, 1988: 4).
Esten menyatakan (1987: 26-27) alur adalah urutan (sambung-sinambung) peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita rekaan. Biasanya alur dari sebuah cerita rekaan terdiri dari ; 1) situasi atau mulai melukiskan keadaan, 2) peristiwa-peristiwa mulai bergerak, 3) keadaan mulai memuncak, 4) klimaks atau mencapai titik puncak, dan 5) pemecahan soal atau penyelesaian. Alur yang baik adalah alur yang dapat membantu mengungkapkan tema dan amanat dari peristiwa-peristiwa seta adanya hubungan kausalitas (sebab-akibat) yang wajar antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain.
Menurut Tarigan (1984: 128) bahwa pada dasarnya kebanyakan alur mengikuti pola tradisional dengan unsur-unsur seperti :
1) exposition yaitu pengenalan para tokoh, pembukaan hubungan menata adegan, menciptakan suasana, penyajian sudut pandang.
2) complication yaitu peristiwa permulaan yang menimbulkan beberapa masalah, kesukaran.
3) rising action yaitu mempertinggi/meningkatkan perhatian kegembiraan, kehebohan, saat bertambahnya kesukaran atau kendala-kendala.
4) turning point yaitu klimaks, titik emosi, dan perhatian yang paling besar serta mendebarkan.
5) ending yaitu penyelesaian peristiwa-peristiwa, bagaimana caranya para tokoh dipengaruhi dan apa yang terjadi atas diri mereka masing-masing.
Berdasarkan pandangan-pandangan di atas dapat disimak bahwa alur (plot) adalah unsur dasar penggerak sebuah cerita, yang merupakan rangkaian sebab akibat yang saling berhubungan. Pendapat-pendapat ahli di atas semuanya berkaitan dan saling mendukung, namun dalam hal menganalisis Satua I Belog Mantu lebih banyak digunakan pendapat dari Guntur Tarigan, sehingga dapat dilihat alur dari Satua I Belog Mantu adalah:
Pengarang mulai melukiskan suatu keadaan (Exposition). Pada bagian ini pengarang memperkenalkan tokoh I Belog. I Belog adalah seorang pemuda yatim piatu yang hidup sendirian. Dia tidaklah bodoh seperti namanya, dia pandai membuat akal. Dia mempunyai tetangga yang bernama Pan Luh Sari dengan anaknya yang bernama Luh Sari. Kutipannya sebagai berikut:
Ada reko satua anak truna cenik ubuh padidian, madan I Belog. Krana madan I Belog, baan gobanné buka anaké belog-belogan, nanging sejatinné ia ririh madaya, kéwala anaké sing ja pada ngeh tekén ia madaya ririh, apan gobanné mongo buin moyo. Di bebanjarannyané sada paak tekén umahné, ada anak ngelah pianak luh sub daa aukud, madan Luh Sari.

Terjemahannya:
Alkisah ada cerita seorang pemuda yatim piatu, bernama I Belog. Sebab bernama I Belog, karena tampangnya seperti orang bodoh, tetapi sebenarnya dia pandai membuat akal, orang-orang tidak sadar akan kepintarannya itu, karena tampangnya seperti orang idiot. Tetangga dekat rumahnya, ada orang yang punya anak perempuan remaja, bernama Luh Sari.

Selanjutnya adalah peristiwa bersangkutan mulai bergerak (Complication). Pada bagian ini diceritakan ketika Pan Luh Sari berkali-kali berhasil ditipu oleh I Belog dengan akalnya, sehingga sering kali mendapat kesialan. Pertama, pada saat Pan Luh Sari menyuruh anaknya agar memungut kotoran ayam dan menyanggrainya. Luh Sari pun menuruti perintah ayahnya, dia memungut dan menyanggrai kotoran ayam itu. Setelah pulang dari sawah, Pan Luh Sari langsung meminta kotoran ayam yang sudah disanggrai kepada anaknya, dan memakannya. Kemudian Pan Luh Sari muntah-muntah, karena yang dimakannya memang benar kotoran ayam. Kutipannya sebagai berikut:
Buin mamunyi bapanné: ”jani suba tawang kené, tain siapé tuh-tuh manyahnyah, da nyén sampat-sampatanga tain siapé di paon, nah Luh. Mani semengan dudukang nyén bapa lantasang lebengin, kekenéang.......Nah suba jani kéto, mani semengné bapanné ka carik, Luh Sari ngidepang pamunyin bapanné, duduka punduhanga tain siapé né tuh-tuh, inganan ada acééng, lantas nyahnyaha.......Suba tengai, teka bapanné uli carik, mara macedik ngejang prabot di baléné, suba kaukina pianakné nakonang tain siapé manyahnyah......Ento tujuanga sopa abekan bungutné, lantas kinyukanga, kadéna patuh buka ané ibi sanjanné né baanga baan I Belog. Napi, mara gelekanga péésné, pah mlekag sa, pait asana. Cepokan seneb basangné, simbuhanga tain siapé di bungutné, lantas ngutah telah kerikan basangné pesu. (halaman 40)
Terjemahannya:

Ayahnya kembali berkata: ”Sekarang sudah tahu begini, kotoran ayam yang kering disanggrai, nanti jangan disapu kotoran ayang yang di dapur, ya Luh. Besok pagi kamu pungut lalu masak seperti ini.......Setelah demikian, keesokan harinya ayahnya pergi ke sawah, Luh sari menuruti perintah ayahnya, dipungutlah kotoran ayam yang sudah kering, kira-kira ada setengah batok kelapa, lalu disanggrainya......Sudah siang, ayahnya datang dari sawah, baru saja menaruh peralatan di tempatnya, sudah dipanggil anaknya menanyakan kotoran ayam yang sudah disanggrai.......Itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dikunyahnya, dikiranya sama dengan yang diberikan oleh I Belog kemarin malam. Baru ditelannya, rasanya aneh, pahit. Lalu mual perutnya, disemburkan kotoran ayam itu dari mulutnya, lalu dia muntah sampai habis isi perutnya keluar.

Kedua, pada saat Pan Luh Sari berjalan menuju sawah, di tengah jalan ia melihat anjing buang air, dilihatnya kotoran anjing itu hitam lalu dimakannya. Setelah dia makan, dirasakannya kotoran itu pahit dan dia muntah-muntah. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang buin Pan Luh Sari di jalan, ia nepukin cicing meju, iwasina tainné badeng, patuh buka ané orahanga tain cicing ibinné sopa baan I Belog, baanga ia nyicipin abedik. Jaan manis mlenyad asananga, lantas Pan Luh Sari ngénggalang nyaup tain cicing né mara pejunanga énto, laut sampola daara kadéna patuh manis rasanné, apan patuh nota gobanné. Mara teked di bungutné napi, Déwa Ratu, pengit mlekag bonné, pait makilit asanné, buin ia paling ngutah-utah, telah krikan basangné pesu di jalan-jalan sambilanga nemah mamisuh. (halaman 42)

Terjemahannya:

Diceritakan Pan Luh Sari di jalan, dia melihat anjing buang air, kotorannya hitam, seperti yang dikatakan kotoran anjing yang kemarin dimakan oleh I Belog, yang dicipinya sedikit. Enak manis rasanya, lalu Pan Luh Sari dengan cepat mengambil kotoran anjing yang baru keluar itu dan dmakannya, dikiranya rasanya sama manis, karena dilihatnya sama persis. Baru sampai dimulutnya, Dewa Ratu, baunya busuk, rasanya pahit sekali, kembali dia muntah, habis isi perutnya keluar di jalan, sambil dia menggerutu.
Ketiga, pada saat I Belog dan Pan Luh sari di sawah, I Belog meminta ijin sebentar untuk mencari telur keong. I Belog berbohong lagi, padahal yang dicarinya adalah jajan yang dia sembunyikan sebelumnya. Setelah dia menemukan jajan itu, lalu dia memakannya. Pan Luh Sari yang melihatnya meminta untuk mencicipinya dan ternyata rasanya enak. Kemudian, Pan Luh Sari istirahat bekerja dan mencari-cari telur keong. Dia berhasil menemukan telur keong, lalu memakannya. Dimakanlah telur keong itu, ternyata rasanya amis dan lengket dimulutnya, Pan Luh Sari pun muntah-muntah. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog mapwangkid akejép manyaru ngalih-ngalihin taluh kakul. Aliha jajanné ané kebanga totonan, teka di yéhé totonan,........ Sada jongkok-jongkok, sada ngincemin limannyané nyokot, ngesop, luung lemuh kinyukanné, jaan pesan asana, nota baan bapan Luh Sari, I Belog takonina: ”Belog, ento apa kaincém ditu kesop-esop, jaan pesan asana, idih ja bedik?” .......Mara kéto bapan Luh Sari, mrérén ia magaé, lantas ia milu ngalih-alihin taluh kakul, tepukina taluh kakul majomprot ping liu, teka jég saup, sampol lakuanga ka bungutné. Kriuk-kriuk pakpaka, napi andih kelen, bin nyangket asananga di bungutné, buin ia ngutah-utah uék-uék di tengahan umané, (halaman 42)

Terjemahannya:
I Belog minta ijin pura-pura mencari-cari telor keong. Dicarinya jajan yang dia sembunyikan itu, ditemukan di dalam air,....... Sada jongkok-jongkok, dan cekatan tangannya mengambil, memakan, kunyahannya enak, enak sekali rasanya, dilihat oleh Pan Luh Sari, bertanya kepada I Belog: ”Belog apa yang kamu makan itu, kelihatannya enak sekali, minta sedikit?”....... Setelah itu, Pan Luh Sari berhenti bekerja, lalu dia ikut mencari telur keong, dilihatnya banyak telur keong berkumpul, diambil dan dimakannya. Kriuk-kriuk dikunyahnya, rasanya amis dan lengket di mulutnya, kembali dia muntah-muntah, uek-uek di tengah sawahnya,

Keempat, pada saat I Belog menukar ubinya Pan Luh Sari dengan pangkal bambu. Kutipannya sebagai berikut:
Teked jani suba paak umahné, ada kayehan, ditu mrérén ia bapan Luh Sari ngajakin manjus. Pada ngejang tategenan mapunduh, pada manjus, I Belog maluan suud, manyaru awakné ngetor,.......Suba jani kéto, saluka tategenan bapan Luh Sariné baan I Belog, majalan maluan mulih. (halaman 44)

Terjemahannya:

Sekarang sudah dekat rumahnya, ada tempat mandi, di sana berhenti mandi Pan Luh Sari mengajak mandi. Mereka sama-sama menaruh pikulan, sama-sama mandi, I Belog duluan selesai, pura-pura badannya gemetar,.......Setelah itu, dipikulnya pikulan Pan Luh Sari oleh I Belog, berjalan duluan pulang.

Keadaan mulai memuncak (Rising Action). Keadaan mulai memuncak ketika Pan Luh Sari sadar kalau dirinya sudah berkali-kali ditipu oleh I Belog. Dia sangat marah dan bermaksud membalas dendam. Kutipannya sebagai berikut:
Ditu mara mrasa bapan Luh Sari tekén kena kabelog-belog busan-busan baan I Belog. Tan sapira sebet kenehné, engsek ia mapangsegan, sing mamunyi-munyi biin, mamunyi acepok: ”Da nyai nyebetang nah Luh tuyuh munpunin, tuah ya I Belog nyilurin ubin bapané. Ubin bapané ubi tuah luung-luung lusuh-lusuh. Moné baana nyengahin bapa, yan sing mati ia baan bapa nayanang sing lega-lega nyet bapané. (halaman 45)

Terjemahannya:

Barulah Pan Luh Sari merasa kalau dirinya sudah ditipu oleh I Belog. Tidak terbayangkan marah hatinya, sesek dia menyesal, tidak berkata apa-apa lagi, berkata sekali: ”Jangan kamu sedih Luh, karena capek memasak, itu hanya akal-akalan I Belog menukar ubi ayah. Ubi ayah sebenarnya bagus-bagus dan besar-besar. Sudah sedemikiannya dia menipu ayah, jika ayah tidak berhasil membuatnya mati, tidak puas perasaan ayah.

Niat balas dendam Pan Luh Sari selalu gagal karena kepintaran I Belog membuat akal. Bahkan dua kali niat balas dendamnya berhasil digagalkan oleh I Belog, bahkan dia sendiri yang celaka. Pertama, pada saat Pan Luh Sari dan I Belog pergi ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari yang naik, sedangkan I Belog mengumpulkan ijuk di bawah pohon. Setelah terkumpul banyak, lalu dia masuk ke dalam kumpulan ijuk itu, sambil berteriak kalau dia mau dimakan macan. Pan Luh Sari yang memang berniat ingin mencelakakan I Belog, merasa senang karena mengira I Belog sudah mati dimakan macan, lalu dia bergegas pulang. Kutipannya sebagai berikut:
Di subané bapan Luh Sari teked ba duur, geleng ia ngalap duk, ulung-ulunganga sing ja ia buin ngiwasin. I Belog nuduk-nuduk betén, suba mekakasin tali bakal anggon ngulung ibanné apang ilid makaput baan duk. Suba liu ulung duké, duduka abana ka ilidé, ditu pilpila gulunga dadianga abesik, dugduganga lantas clepanga ibanné ka tengah gulungan duké totonan ilidanga pesan. Suba ia ditu magulung bareng di tengah duké, lantas ia gelur-gelur: ”Bapa, bapa, bapa, tulungin icang mati amaha baan macané, mati icang bapa.”.......Ditu masuriak ia bapan Luh Sari, mangembulan lantas ia ngénggalang tuun, tepukina dukné suba luung, yatna magalung matali tiing lantas saluka tegena abana mulih kumahné, Kanti bingkih ia masih ja tegena dogén. (halaman 46)

Terjemahannya:

Sesudah Pan Luh Sari sampai di atas, tekun dia memetik ijuk, dijatuhkannya dan tidak diperhatikannya. I Belog memungut di bawah, sudah menyiapkan tali yang akan digunakan untuk menggulung dirinya supaya terbungkus oleh ijuk. Sudah banyak jatuh ijuknya, dipungutnya dan dibawa ketempat yang tersembunyi, di sana dikumpulkan dijadikan satu, lalu dia masuk ke tengah gulungan itu, lalu dia menjerit: ”Bapa, bapa, bapa, tolong saya mati damakan macan, mati saya bapa.”.......Di sanalah Pan Luh Sari merasa senang lalu cepat-cepat turun, dilihatnya ijuknya sudah terkumpul rapi diikat dengan tali, lalu dipikulnya dibawa ke rumah. Sekuat tenaga dia mengangkatnya.

Kedua, pada saat I Belog dan Pan Luh Sari kembali ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari berniat balas dendam, karena lagi-lagi ditipu oleh I Belog. Pan Belog menyuruh I Belog yang naik pohon, sedangkan dia yang memungut di bawah. Kemudian Pan Luh Sari memasukkan dirinya ke dalam gulungan ijuk sambil berteriak kalau dirinya dimakan macan. I Belog yang mengetahui kalau Pan Luh Sari hanya berpura-pura, lalu turun mengikat gulungan itu erat-erat, diseret dan dimasukkan ke dalam air. Kutipannya sebagai berikut:
Suba kéto menék ia I Belog, teked di duur nektek duk ulunganga. Bilang maan akakab ulunganga. Nah, ia bapan Luh Sari nuduk-nuduk betén, mapulih-pulih tekén I Belog, masih kéto gulunga ibanné baan duk, enota baan I Belog, linglinga dogén. Bapan Luh Sari lantas kauk-kauk: ”Belog, Belog, tulungin bapa énggal-énggal, bapa sarapa baan macané!”......Suba kéto lantas I Belog tuun nutugang nuduk dukné, laut pesela gulunga dadianga acepok, laut briguna talinina, gretanga sangetanga pesan......Pragat ia mesel duké lantas paida bragedega, klabak-labaké ambahanga, glalang-gliling, glebag-glebug, nyumingkinang sakit awakné bapan Luh Sari di tengah duké mantep-antepan, lantas ia gelur-gelur......(halaman 47)

Terjemahannya:

Sudah demikian I Belog naik, sampai di atas memotong ijuk dan dijatuhkannya. Setiap dapat satu lembar dijatuhkannya. Pan Luh Sari memungutnya di bawah, meniru akalnya I Belog, dimasukkanlah tubuhnya ke gulungan ijuk itu, dilihat oleh I Belog, hanya diperhatikan saja. Pan Luh Sari lalu memangil-manggil: ”Belog, Belog cepat tolong aku, aku dimakan macan!”.......Setelah itu I Belog turun melanjtukan memungut juk itu, lalu diikatnya gulungan itu dijadikan satu dan diikatnya dengan sangat erat.......Setelah selesai mengikat lalu diseretnya, dibawanya ke semak-semak, berguling-guling, sampai sakit badannya Pan Luh Sari di tengah gulungan ijuk terbentur-bentur, lalu dia menjerit.......

Klimaks (Turning Point) dalam Satua ini adalah pada saat I Belog membuat siasat dengan masuk ke dalam sanggah kamulan Pan Luh Sari dan menyamar menjadi dewa. Dia meminta sesajen dan agar Luh Sari menikah dengan I Belog, kalau tidak mau terus-terusan mendapat kesialan. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog buin mangéka daya kalaning peteng, nyingid ia kema ka sanggah bapan Luh Sariné. Macelep ka tengah sanggah kamulané, lantas ia ngawé munyi kauk-kauk ngaukin bapan Luh Sari, manyaru pangandikan Déwa Hiang Gurunné. Kéné Munyinné: ”Cai Pan Sari, mai tangkilin ira, ira Déwa Hiang cainé. Jani ira nagihin cai punjung rayunan, mabé siap maguling, yan sing iba ngaturin ira punjung rayunan jani, sing buungan iba pongor ira.”.......Suba kéto ngénggal-énggalang ia magarapan ka paon nyakan, nunu siap, lantas lebeng, matanding, sregep aturané mwadah dulang, laut ia mabersih ajaka makejang sapakurenanné, bakal nagkilin Widiné, pisadiané nunas karahayuan. Suud kéto lantas suuna bantené ka sanggah, sambilanga matur mameteng: ”Inggih Ratu Ida panembahan titiang Batara Hiang Guru, punika titiang ngaturin Cokor I Déwa punjung rayunan, durus ica Cokor I Déwa munggah.”.......Jani ada pakayunan nira, ento pianak ibané Ni Sari apang iba ngantenang tekén I Belog, ia mula jatukarmanné, da iba bani-bani tekén ia I Belog, I Belog anak ririh pesan madaya. Yén iba buin bani tekén ia, sing buungan iba mati.......Gelisang satua, masakapan I Belog ajaka Luh Sari........Kasuén-suén suba makelo ia makurenan, mara maorta undukné i mantu ento nyaru dadi Déwa di sanggah mapawuwus buka né orahang tunian. Ditu sebet pesan keneh bapan Luh Sariné, nanging tusing dadi baana ngwirangang, apan mantuné lebihan celang buin ririh. (halaman 48 - 49)

Terjemahannya:

I Belog kembali membuat akal pada saat malam hari, dia bermaksud datang ke sanggah Pan Luh Sari. Masuk ke dalam sanggah kemulannya, lalu bersuara seperti memanggi-manggil Pan Luh Sari, seakan-akan suara Dewa Hiang Gurunya. Begini perkataanya: ”Kamu Pan Sari, kemarilah kehadapanku, aku Dewa Hiangmu. Sekarang aku meminta persembahan, ayam guling, jika kamu tidak mempersembahkannya sekarang, kamu akan kukutuk.”.......Setelah itu cepat-cepat memasak di dapur, memanggang ayam, setelah matang, disajikannya dengan dulang. Kemudian mereka membersihkan diri, karena akan menghadap dewanya, meminta keselamatan. Setelah itu, dibawanya sesajen itu ke sanggah, sambil berkata: ”Wahai Ratu Ida Batara Hiang Guruku, ini hamba menghaturkan sesajen kehadapan dewa, terimalah wahai dewaku.”.......Sekarang ada keinginanku, itu anakmu Ni sari supaya kamu nikahkan dengan I Belog, dialah jodohnya, jangan kamu berani dengan I Belog, I Belog orang yang pintar membuat akal. Jika kamu berani melawan dia, kamu akan mati. Tidak beberapa lama, menikahlah I Belog dengan Luh Sari......Lama-kelamaan sesudah lama dia menikah, barulah ketahuan bahwa mantunya itu yang menyamar menjadi dewa di sanggah menyamar seperti yang sudah diceritakan. Di sana sedih sekali perasaan Pan Luh Sari, akan tetapi dia tidak berdaya, karena mantunya lebih cermat dan pintar.

Penyelesaian (Ending) dari Satua ini adalah I Belog akhirnya menikah dengan Luh Sari. Lama-kelamaan Pan Luh Sari mengetahui kalau dirinya telah dibohongi lagi, akan tetapi dia tidak berbuat apa-apa, karena anaknya sudah terlanjur menikah dengan I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
.......Gelisang satua, masakapan I Belog ajaka Luh Sari........Kasuén-suén suba makelo ia makurenan, mara maorta undukné i mantu ento nyaru dadi Déwa di sanggah mapawuwus buka né orahang tunian. Ditu sebet pesan keneh bapan Luh Sariné, nanging tusing dadi baana ngwirangang, apan mantuné lebihan celang buin ririh. (halaman 49)

Terjemahannya:

Tidak beberapa lama, menikahlah I Belog dengan Luh Sari......Lama-kelamaan sesudah lama dia menikah, barulah ketahuan bahwa mantunya itu yang menyamar menjadi dewa di sanggah menyamar seperti yang sudah diceritakan. Di sana sedih sekali perasaan Pan Luh Sari, akan tetapi dia tidak berdaya, karena mantunya lebih cermat dan pintar.

Berdasarkan uaraian-uraian peristiwa yang membentuk struktur alur cerita Satua I Belog Mantu, pengarang lebih banyak menggunakan alur lurus. Peristiwa-peristiwa dalam Satua dilukiskan secara berurutan sehingga membentuk satu jalinan cerita.
5.3.4 Latar
Setiap kejadian tentu mempunyai latar, demikian pula dengan Geguritan I Belog. Latar merupakan gambaran tempat dan waktu atau segala situasi tempat terjadinya peristiwa. Latar yang baik selalu dapat membantu elemen-elemen dalam cerita seperti plot dan perwatakan (Hutagalung, 1967: 103). Menurut Sudjiman, latar merupakan segala keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra (1988: 44). Batasan ini menekankan pada unsur tempat waktu dan suasana sebagai unsur latar.
Sukada menyatakan bahwa latar dalam cerita pada umunya banyak menimbulkan suasana emosional yang menceritakan perwatakan. Latar biasanya mengekspresikan tokoh-tokoh cerita yang memiliki hubungan erat dalam alam dan manusia. Kehadiran latar sebagai unsur cerita merupakan penyempurnaan cerita itu dan dapat membangun suasana yang diharapkan menghasilkan kualitas keterangan efek cerita (1983: 24).
Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok yaitu tempat, waktu dan sosial. Ketiga unsur itu walau masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 1995: 227).
Menurut Kenney (dalam Sudjiman, 1988: 44), secara terperinci latar meliputi: penggambaran lokasi geografis, termasuk tofografi, pemandangan sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan, pekerjaan atau kesibukan sehari-hari para tokoh, waktu berlakunya kejadian, masa sejarahnya musim terjadinya, lingkungan, agama, moral, intelektual, sosial dan emosional para tokoh.
Jadi dapat disimpulkan bahwa latar merupakan tempat, waktu, dan suasana terjadinya suatu peristiwa dalam sebuah cerita. Semua pendapat para ahli di atas memang saling berhubungan dan terkait, namun analisis Satua I Belog Mantu ini latar dibagi menjadi tiga, yaitu latar tempat, waktu dan suasana.
5.3.4.1 Latar Tempat
Seperti telah dijelaskan di awal latar tempat dimaksudkan sebagai lokasi-lokasi dimana peristiwa terjadi. Dalam Satua I Belog Mantu terdapat beberapa latar tempat, antara lain:
1) Di rumah Luh Sari, pada saat I Belog berkunjung ke rumahnya. Kutipannya sebagai berikut:
Mara ia teked di wangan Ni Luh Sariné, magending kéné (halaman 39)
Terjemahannya:
Baru sampai di luar rumah Ni Luh Sari, bernyanyi begini
2) Di rumah I Belog, pada saat Luh Sari pergi ke rumah I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Pianakné tutut kema kumah I Belog, (halaman 41)
Terjemahannya:
Anaknya menurut, dan pergi ke rumah I Belog
3) Di jalan, pada saat Pan Luh Sari berjalan menuju sawah. Kutipannya sebagai berikut:
Critayang buin Pan Luh Sari di jalan, (halaman 42)
Terjemahannya:
Diceritakan Pan Luh Sari di jalan
4) Di sawah, pada saat Pan Luh Sari muntah-muntah. Kutipannya sebagai berikut:
buin ia ngutah utah-utah uék-uék di tengah umané (halaman 42)
Terjemahannya:
dia muntah-muntah lagi di tengah sawah
5) Di hutan, pada saat I Belog dan Pan Luh Sari pergi ke hutan untuk mencari ubi. Kutipannya sebagai berikut:
Nah, suba jani teked di alasé, (halaman 43)
Terjemahannya:
Nah, sekarang sudah sampai di hutan
6) Di sebuah tempat pemandian, pada saat Pan Luh Sari dan I Belog mandi. Kutipannya sebagai berikut:
Teked jani suba paek umahné, ada kayehan, ditu mrérén ia bapan Luh Sari ngajakin manjus. (halaman 44)

Terjemahannya:
Sampai di dekat rumahnya, ada tempat pemandian, di sana mereka berhenti, Pan Luh Sari mengajak mandi.

7) Di dapur rumah I Belog, pada saat I Belog memasak ubi. Kutipannya sebagai berikut:
lantas ka paon mubuh, sambilanga nglablab ubi asepala. (halaman 44)
Terjemahannya:
lalu dia ke dapur membuat bubur, sambil merebus ubi
8) Di dapur rumah Luh Sari, pada saat Luh Sari memasak ubi. Kutipannya sebagai berikut:
Napi gupuh pianakné ka paon ngendihang api, (halaman 44)
Terjemahannya:
Anaknya sibuk ke dapur menghidupkan api
9) Di dalam sanggah kemulan Pan Luh Sari, pada saat I Belog menyamar menjadi dewa. Kutipannya sebagai berikut:
Macelep ka tengah sanggah kamulané, (halaman 48)
Terjemahannya:
Masuk ke dalam sanggah kemulannya

5.3.4.2 Latar Waktu
Latar waktu adalah waktu yang terjadi suatu peristiwa. Latar waktu dalam Satua I Belog Mantu antara lain:
1) Pagi hari, pada saat Pan Luh Sari pergi ke sawah. Kutipannya sebagai berikut:
mani semengné bapanné ka carik, (halaman 40)
Terjemahannya:
keesokan pagi ayahnya pergi ke sawah
2) Siang hari, pada saat Pan Luh Sari pulang dari sawah. Kutipannya sebagai berikut:
Suba tengai, teka bapanné uli carik, (halaman 40)
Terjemahannya:
Sudah siang, datanglah ayahnya dari sawah
3) Sore hari, pada saat I Belog pergi ke rumah Pan Luh Sari. Kutipannya sebagai berikut:
Suba nyanan sanjané, mara I Belog kema kumah Pan Luh Sari, (halaman 41)

Terjemahannya:
Sudah sore, baru I Belog pergi ke rumah Pan Luh Sari
4) Pagi hari, pada saat I Belog pergi ke sawah pagi-pagi. Kutipannya sebagai berikut:
mani semenganné, pradang ka carik maluan ia teka di uma. (halaman 41)
Terjemahannya:
besok paginya, mendahului da pergi ke sawah
5) Pagi hari, pada saat I Belog datang ke rumah Pan Luh Sari untuk mengajaknya berangkat ke hutan. Kutipannya sebagai berikut:
mani semenganné, pradang teka I Belog ngajakin luas kalasé ngalih ubi, (halaman 43)

Terjemahannya:
besok paginya, dia datang mengajak pergi mencari ubi
6) Sore hari, pada saat I Belog tidak juga muncul ketika mencari ubi di hutan bersama Pan Luh Sari. Kutipannya sebagai berikut:
Suba reko sanja sing masih ia menekan. (halaman 43)
Terjemahannya:
Sudah sore dia tidak muncul juga
7) Sore hari, pada saat Pan Luh Sari dan I Belog berangkat ke hutan untuk mencari ijuk. Kutipannya sebagai berikut:
Maniané pasemengan majalan ia ajaka dadua kalasé ngalih duk, (halaman 45)

Terjemahannya:
Besol paginya, berangkat mereka berdua ke hutan mencari ijuk
8) Malam hari, pada saat I Belog keluar dari gulungan ijuk dan pulang dari rumah Pan Luh Sari. Kutipannya sebagai berikut:
Suba peteng, I Belog pesuanga ibanné uli ditu, (halaman 46)
Terjemahannya:
Sudah malam, I Belog keluar dari sana
9) Pagi hari, pada saat I Belog pergi ke rumah Pan Luh Sari. Kutipannya sebagai berikut:
Mani semenganné kema buin ia kumah bapan Luh Sari, (halaman 46)
Terjemahannya:
Keesokan paginya, dia kembali ke rumah Pan Luh Sari
10) Pagi hari, pada saat I Belog dan Pan Luh Sari kembali ke hutan untuk mencari ijuk. Kutipannya sebagai berikut:
maninné pasemengan majalan ia buin ajaka dadua kalasé ngalih duk buka ibinné (halaman 47)

Terjemahannya:

keesokan harinya, mereka berdua berangkat ke hutan mencari ijuk seperti kemarin

11) Malam hari, pada saat I Belog kembali membuat akal untuk menipu Pan Luh Sari. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog buin mangeka daya kalaning peteng, (halaman 48)
Kutipannya sebagai berikut:
I Belog kembali membuat akal pada saat malam hari
12) Pagi hari, pada saat Pan Luh Sari pergi ke sanggahnya untuk mengambil sisa-sia sesajen. Kutipannya sebagai berikut:
mani semenganné nu plimunan ia ka sanggah bakal ngalih surudanné. (halaman 49)

Terjemahannya:

keesokan paginya, dia ke sanggah untuk mencari sisa sesajennya.

5.3.4.3 Latar Suasana
Latar suasana merupakan situasi-situasi yang muncul dari prilaku tokoh ataupun keaadan dalam cerita, seperti suasana tegang, sedih, senang dan sebagainya. Latar Suasana yang terdapat dalam Satua I Belog Mantu adalah sebagai berikut:
1) Perasaan senang I Belog, pada saat dia melihat Pan Luh Sari memakan kotoran anjing. ku
I Belog kedék sambilanga ngomong kéné: ”Dong singa, tain cicing daar dong sing jelek, indaang te dodol iwelé daar, singa nyén jaan.” (halaman 42)

Terjemahannya:

I Belog tertawa sambil berkata: ” Kotoran anjing dimakan, bagaimana tidak jelek rasanya, coba makan dodol iwel, pasti enak rasanya.

2) Perasaan sedih Ni Luh Sari pada saat mengetahui ayahnya telah berkali-kali ditipu oleh I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
pianakné kedék pedih basangné madingehang. (halaman 42)
Terjemahannya:
anaknya tertawa marah perasaannya mendengar
3) Kemarahan Pan Luh Sari setelah dia menyadari kalau dirinya sudah berkali-kali ditipu oleh I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Moné baana nyengahin bapa, yan sing mati ia baan bapa nayanang sing lega-lega nyet bapané. (halaman 45)

Terjemahannya:
Sudah segitunya dia menipu ayah, kalau ayah tidak bisa membuatnya mati, tidaklah lega hati ayah.

4) Perasaan senang Pan Luh Sari pada saat mengetahui kalau I Belog sudah mati dimakan macan. Kutipannya sebagai berikut:
Ditu masuriak ia bapan Luh Sari, mangembulan lantas ia ngenggalang tuun, (halaman 46)

Terjemahannya:

Di sana berteriak Pan Luh Sari, tersenyum lalu dia cepat-cepat turun

5) Perasaan sedih Ni Luh Sari pada saat dia menangis melihat ayahnya terikat di dalam gulungan ijuk. Kutipannya sebagai berikut:
lantas ia milu ngeling sambilanga nastas talin duké. (halaman 48)
Terjemahannya:
lalu dia ikut menangis sambil memotong tali ijuk.
6) Perasaan sedih dan menyesal yang dirasakan Pan Luh Sari pada saat mengetahui bahwa I Beloglah yang telah menyamar menjadi dewa dan menyuruh menikahkan Ni Luh Sari dengan I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Ditu sebet pesan keneh bapan Luh Sariné, nanging tusing dadi baana ngawirangang, (halaman 49)

Terjemahannya:
Di sanalah Pan Luh Sari merasa sangat sedih, akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa,

5.3.5 Tokoh dan Penokohan
Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1995: 165). Penokohan adalah cara pengarang untuk menggambarkan watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita rekaan. Penokohan yang baik adalah penokohan yang berhasil menggambarkan tokoh-tokoh dan mengembangkan watak dari tokoh-tokoh tersebut yang mewakili tipe-tipe manusia yang dikehendaki tema dan amanat (Esten, 1987: 27). Aminuddin (1987: 79) juga mengungkapkan pendapat yang tidak jauh beda dengan pendapat di atas mengenai penokohan yaitu cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu.
Tokoh cerita, menurut Abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam cerita naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (dalam Nurgiyantoro,1995: 165). Tokoh cerita biasanya mengemban suatu perwatakan tertentu yang diberi bentuk dan isi oleh pengarang. Perwatakan dapat diperoleh dengan memberi gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan atau sejalan antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan (Semi, 1988: 37).
Menurut Sudjiman (1988: 17-18), berdasarkan fungsinya tokoh dalam cerita dapat dibedakan antara tokoh utama dan tokoh bawahan, tokoh yang memegang peranan pimpinan disebut tokoh utama protagonis, ini juga digolongkan ke dalam tokoh sentral. Lebih lanjut dikatakan yang digunakan untuk menentukan tokoh utama bukan frekuensi kemunculan tokoh itu dalam cerita, melainkan intensitas keterlibatan tokoh dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.
Tokoh utama merupakan tokoh yang terlibat dan umumnya dikuasai oleh serangkaian peristiwa, tempat mereka muncul baik sebagai pemenang maupun yang kalah, senang atau tidak senang, lebih kaya atau lebih miskin, lebih baik atau lebih jelek, tetapi semuanya merupakan yang lebih arif dan bijaksana bagi pengalaman dan menjadi orang yang baik mengagumkan sekalipun dalam kematian atau kekalahan. Tokoh sekunder merupakan tokoh yang berperan dalam menghadapi atau sama-sama tokoh utama dalam membangun cerita, jadi geraknya tak sedominan tokoh utama. Berikutnya tokoh pelengkap merupakan tokoh yang berfungsi membantu kelancaran gerak tokoh utama dan tokoh sekunder dalam cerita (Tarigan, 1984: 143).
Hutagalung (dalam Sukada, 1982: 26) mengatakan bahwa perwatakan seorang tokoh memiliki tiga dimensi sebagai struktur pokok, fisikologis, sosiologis, dan psikologis. Ketiga sudut tersebut memiliki beberapa aspek yaitu dimensi fisikologis (tampang, jenis kelamin, pakaian, dan segala perlengkapan yang dikenakan oleh tokoh), dimensi psikologis (angan-angan, kekecewaan, cita-cita ambisi, pangkat, keturunan atau asal-usul dan sebagainya). Dimensi sosiologis (lingkungan, agama, bangsa, keturunan atau asal-usul).
Tokoh-tokoh yang ada dalam Satua I Belog Mantu antara lain, I Belog, Pan Luh Sari, dan Ni Luh Sari. Tokoh-tokoh tersebut berperan sebagai tokoh utama, sekunder, dan tokoh komplementer. I Belog merupakan tokoh utama dalam Satua I Belog Mantu. Hal ini dikarenakan intensitas keterlibatan I Belog dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita cukup tinggi. Di samping itu, I Belog merupakan tokoh yang paling banyak terlibat dengan tokoh lain serta tokoh yang paling banyak memakan waktu penceritaan.
Tokoh sekunder dalam satua ini adalah Pan Luh Sari. Penggolongan tokoh tersebut sebagai tokoh sekunder didasarkan atas beberapa alasan. Pertama, kedudukannya di dalam cerita tidak sentral, artinya mereka tidak menjadi pusat pengisahan dalam keseluruhan cerita yang disajikan pengarang. Kedua, karena tokoh tersebut tidak mendapat porsi pembicaraan yang banyak dan terus menerus seperti pada tokoh utama. Meskipun tidak hadir dalam keseluruhan cerita di dalam satua tetapi tokoh tersebut cukup terlibat dalam peristiwa-peristiwa penting (fungsional). Keberadaan tokoh komplementer hanya sebagai pendukung cerita dan tokoh utama, serta hanya sebagai pelengkap cerita. Tokoh-tokoh komplementer dalam satua ini antara lain Ni Luh Sari.
Perwatakan (karakterisasi) tokoh-tokoh tersebut dalam Satua I Belog Mantu ditunjukkan melalui ciri-ciri fisikologis, psikologis, dan sosiologis.
5.3.5.1 Tokoh Utama
Tokoh utama dalam Satua I Belog Mantu adalah I Belog. Dari segi fisikologisnya, I Belog adalah seorang remaja yang tampangnya seperti orang bodoh. Kutipannya sebagai berikut:
Krana madan I Belog, baan gobanné buka anak belog-belogan (halaman 39)

Terjemahannya:

Alasan dia bernama I Belog, karena tampangnya yang seperti orang bodoh

Dari segi psikologisnya, I Belog merupakan remaja yang suka berbohong, suka menipu dan banyak akalnya. Kutipannya sebagai berikut:
Kacrita jani I Belog mangéka daya satingkahné bakal kumah Luh Sari mangguran (halaman 39)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang I Belog membuat akal-akalan dan akan pergi ke rumah Luh Sari

Dari segi sosiologisnya, I Belog merupakan yatim piatu yang hidup sendirian. Kutipannya sebagai berikut:
Ada reko satua anak truna cenik ubuh padidian (halaman 39)

Terjemahannya:
Ada suatu cerita seorang remaja yatim piatu yang hidup sendirian

5.3.5.2 Tokoh Sekunder
Tokoh sekunder dalam satua ini adalah Pan Luh Sari. Dari segi fisikologis, tokoh Pan Luh Sari tidak digambarkan secara jelas, namun dapat dikatakan bahwa dia adalah seorang lelaki yang umurnya sudah cukup tua, karena sudah menikah dan mempunyai anak yang sudah remaja. Kutipannya sebagai berikut:
ada anak ngelah pianak luh suba daa aukud (halaman 39)

Terjemahannya:
ada seseorang yang mempunyai seorang anak perempuan yang sudah remaja

Dari segi psikologisnya, Pan Luh Sari adalah tokoh yang bodoh dan lugu, karena berkali-kali berhasil ditipu oleh I Belog. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:
Suba mulih I Belog, mamunyi Luh Sari tekén bapanné: ”Bapa, sing bapa buka slokan anaké, tuah kabelog-belog anak belog. Kenehang icang kéto, sing ja ia I Belog ngamah tain siap magoréng, tain cicing madodol iwel, taluh kakul matah, kenehang icang sing ja perah anaké naar né kéto, da jani I Belog ngetaang. Sinahang icang bapa kena daya.” (halaman 43)

Terjemahannya:
Sudah pulang I Belog, Luh Sari berkata pada ayahnya: ”Ayah, tidakkah ayah seperti pepatah yang mengatakan, dibodohi oleh orang bodoh. Saya pikir seperti itu, I Belog tidaklah memakan kotoran ayam yang digoreng, kotoran anjing bercampur dodol, telur keong mentah, saya pikir dia tidak memakan yang seperti itu, jangan percaya I Belog. Ayah sudah kena tipu.”

Dari segi sosiologisnya, Pan Luh Sari digambarkan sebagai tokoh yang mudah percaya dengan orang, dia berkali-kali berhasil ditipu oleh I Belog. Salah satu contohnya dapat dilihat pada kutipan berikut:
I Belog mapwangkid akejep manyaru ngalih-ngalihin taluh kakul. Aliha jajanné ané kebanga totonan, teka di yéhé totonan,........ Sada jongkok-jongkok, sada ngincemin limannyané nyokot, ngesop, luung lemuh kinyukanné, jaan pesan asana, nota baan bapan Luh Sari, I Belog takonina: ”Belog, ento apa kaincem ditu kesop-esop, jaan pesan asana, idih ja bedik?” .......Mara kéto bapan Luh Sari, mrérén ia magaé, lantas ia milu ngalih-alihin taluh kakul, tepukina taluh kakul majomprot ping liu, teka jeg saup, sampol lakuanga ka bungutné. Kriuk-kriuk pakpaka, napi andih kelen, bin nyangket asananga di bungutné, buin ia ngutah-utah uék-uék di tengahan umané, (halaman 42)

Terjemahannya:
I Belog minta ijin pura-pura mencari-cari telor keong. Dicarinya jajan yang dia sembunyikan itu, ditemukan di dalam air,....... Sada jongkok-jongkok, dan cekatan tangannya mengambil, memakan, kunyahannya enak, enak sekali rasanya, dilihat oleh Pan Luh Sari, bertanya kepada I Belog: ”Belog apa yang kamu makan itu, kelihatannya enak sekali, minta sedikit?”....... Setelah itu, Pan Luh Sari berhenti bekerja, lalu dia ikut mencari telur keong, dilihatnya banyak telur keong berkumpul, diambil dan dimakannya. Kriuk-kriuk dikunyahnya, rasanya amis dan lengket di mulutnya, kembali dia muntah-muntah, uek-uek di tengah sawahnya,

5.3.5.3 Tokoh Komplementer
Tokoh Komplementer dalam satua ini adalah Ni Luh Sari. Dari segi fisikologisnya, Ni Luh Sari digambarkan sebagai perempuan remaja yang cantik. Kutipannya sebagai berikut:
Ni Luh Sari ento anut madan sari, gobanné sapatut,

Terjemahannya:
Ni Luh Sari itu sama seperti namanya, cantik, wajahnya menawan

Dari segi psikologisnya, Ni Luh Sari adalah tokoh yang rajin, baik dan teguh pendirian. Kutipannya sebagai berikut:
bikasné melah, magarapan ja jemet tur pakenehanné alus.......Liu pesan pada trunané mabudi tuara nyidayang, baan pagehné tekén awak (halaman 39)

Terjemahannya:

tingkah lakunya baik, rajin bekerja dan pikirannya halus......Banyak sekali pemuda yang menyukai tetapi tidak bisa mendekati, karena dia teguh pendirian.

Dari segi sosiologisnya, Ni Luh Sari adalah tokoh yang disayang oleh orang tuanya, dia berbakti kepada orang tua dan selalu menuruti perintah orang tua serta membuat orang tuanya senang karena bisa menjaga diri. Kutipannya sebagai berikut:
Ni Luh Sari ento sayanganga pesan ben reramanné luh muani, wiréh bisané ngaba awak daa jeben, seleb mangleganin keneh reramanné. (halaman 39)

Terjemahannya:
Ni Luh Sari sangat disayang oleh orang tuanya, karena bisa menjaga diri, selalu membuat senang orang tuanya.

5.3.6 Tema
Tema adalah ide sebuah cerita. Sudjiman mengatakan bahwa gagasan, ide, atau pilihan utama yang mendasar suatu karya sastra itu yang disebut dengan tema. Adanya tema membuat karya lebih penting daripada sekedar bacaan hiburan (1988: 50). Nurgiyantoro (1995: 68) menyatakan bahwa untuk menemukan tema dalam sebuah cerita haruslah disimpulkan dari keseluruhan cerita, tidak hanya dari bagian-bagian tertentu. Walaupun tema sulit ditentukan dengan pasti, tema bukanlah makna yang ”tersembunyi” walaupun dilukiskan, tidak secara eksplisit.
Tema yang tersembunyi tersebut dapat diketahui dengan cara membaca cerita itu secara cermat dari awal sampai akhir. Tarigan menyatakan bahwa tema merupakan hal yang paling penting dalam seluruh cerita. Suatu cerita yang tidak mempunyai tema tentu tidak ada gunanya dan artinya, walaupun pengarang tidak menjelaskan apa tema ceritanya secara eksplisit, hal itu harus dapat dirasakan dan disimpulkan oleh para pembaca setelah selesai membacanya (1984: 125).
Lebih lanjut lagi menurut Esten (978: 22) mengemukaan bahwa tema merupakan persoalan yang diungkapkan dalam sebuah cipta sastra. Ia masih bersifat netral. Belum punya tendensi (kecenderungan) memihak, karena ia masih merupakan persoalan. Selain itu Esten (1984: 88) juga mengemukaan bahwa untuk menentukan tema dalam karya sastra, ada tiga cara : pertama dengan melihat persoalan mana yang paling menonjol, kedua dengan melihat persoalan mana yang banyak menimbulkan konflik-konflik yang melahirkan peristiwa- peristiwa dan ketiga dengan menentukan atau menghitung waktu penceritaan yang diperlukan untuk menentukan peristiwa- peristiwa atau tokoh-tokoh di dalam sebuah karya sastra.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa tema adalah pokok persoalan atau pikiran utama dari sebuah karya sastra yang menjadi dasar penyusunan sebuah karya sastra. Berdasarkan pandangan tentang tema tersebut di atas, maka tema yang mendasari Satua I Belog Mantu adalah ”Tipu Daya”. Tema ini dapat diketahui dari awal cerita hingga akhir cerita. Dasar pemikiran ini diambil dari gambaran kehidupan I Belog yang cerdas, licik, suka menipu dan banyak akalnya. Berkali-kali dia berhasil menipu Pan Luh Sari dengan akal-akalannya, sampai akhirnya I Belog berhasil menikah dengan Ni Luh Sari dengan cara menyamar menjadi dewa. Seperti tampak dalam kutipan:
I Belog buin mangeka daya kalaning peteng, nyingid ia kema ka sanggah bapan Luh Sariné. Macelep ka tengah sanggah kamulané, lantas ia ngawé munyi kauk-kauk ngaukin bapan Luh Sari, manyaru pangandikan Déwa Hiang Gurunné. Kéné Munyinné: ”Cai Pan Sari, mai tangkilin ira, ira Déwa Hiang cainé. Jani ira nagihin cai punjung rayunan, mabé siap maguling, yan sing iba ngaturin ira punjung rayunan jani, sing buungan iba pongor ira.”.......Suba kéto ngenggal-enggalang ia magarapan ka paon nyakan, nunu siap, lantas lebeng, matanding, sregep aturané mwadah dulang, laut ia mabersih ajaka makejang sapakurenanné, bakal nagkilin Widiné, pisadiané nunas karahayuan. Suud kéto lantas suuna bantené ka sanggah, sambilanga matur mameteng: ”Inggih Ratu Ida panembahan titiang Batara Hiang Guru, punika titiang ngaturin Cokor I Déwa punjung rayunan, durus ica Cokor I Déwa munggah.”.......Jani ada pakayunan nira, ento pianak ibané Ni Sari apang iba nganténang tékén I Belog, ia mula jatukarmanné, da iba bani-bani tekén ia I Belog, I Belog anak ririh pesan madaya. Yén iba buin bani tekén ia, sing buungan iba mati.......Gelisang satua, masakapan I Belog ajaka Luh Sari........Kasuén-suén suba makelo ia makurenan, mara maorta undukné i mantu ento nyaru dadi Déwa di sanggah mapawuwus buka né orahang tunian. Ditu sebet pesan keneh bapan Luh Sariné, nanging tusing dadi baana ngwirangang, apan mantuné lebihan celang buin ririh........Gelisang satua, masakapan I Belog ajaka Luh Sari........Kasuén-suén suba makelo ia makurenan, mara maorta undukné i mantu ento nyaru dadi Déwa di sanggah mapawuwus buka né orahang tunian. Ditu sebet pesan keneh bapan Luh Sariné, nanging tusing dadi baana ngwirangang, apan mantuné lebihan celang buin ririh. (halaman 48 - 49)


Terjemahannya:

I Belog kembali membuat akal pada saat malam hari, dia bermaksud datang ke sanggah Pan Luh Sari. Masuk ke dalam sanggah kemulannya, lalu bersuara seperti memanggi-manggil Pan Luh Sari, seakan-akan suara Dewa Hiang Gurunya. Begini perkataanya: ”Kamu Pan Sari, kemarilah kehadapanku, aku Dewa Hiangmu. Sekarang aku meminta persembahan, ayam guling, jika kamu tidak mempersembahkannya sekarang, kamu akan kukutuk.”.......Setelah itu cepat-cepat memasak di dapur, memanggang ayam, setelah matang, disajikannya dengan dulang. Kemudian mereka membersihkan diri, karena akan menghadap dewanya, meminta keselamatan. Setelah itu, dibawanya sesajen itu ke sanggah, sambil berkata: ”Wahai Ratu Ida Batara Hiang Guruku, ini hamba menghaturkan sesajen kehadapan dewa, terimalah wahai dewaku.”.......Sekarang ada keinginanku, itu anakmu Ni sari supaya kamu nikahkan dengan I Belog, dialah jodohnya, jangan kamu berani dengan I Belog, I Belog orang yang pintar membuat akal. Jika kamu berani melawan dia, kamu akan mati. Tidak beberapa lama, menikahlah I Belog dengan Luh Sari......Lama-kelamaan sesudah lama dia menikah, barulah ketahuan bahwa mantunya itu yang menyamar menjadi dewa di sanggah menyamar seperti yang sudah diceritakan. Di sana sedih sekali perasaan Pan Luh Sari, akan tetapi dia tidak berdaya, karena mantunya lebih cermat dan pintar....... Tidak beberapa lama, menikahlah I Belog dengan Luh Sari......Lama-kelamaan sesudah lama dia menikah, barulah ketahuan bahwa mantunya itu yang menyamar menjadi dewa di sanggah menyamar seperti yang sudah diceritakan. Di sana sedih sekali perasaan Pan Luh Sari, akan tetapi dia tidak berdaya, karena mantunya lebih cermat dan pintar.

5.3.7 Amanat
Setiap karya sastra pasti memiliki pesan atau ajaran moral yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pesan atau ajaran moral itu disebut dengan amanat. Amanat terdapat pada sebuah karya sastra secara implisit ataupun secara eksplisit. Implisit, jika jalan keluar atau ajaran moral itu disiratkan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Eksplisit, jika pengarang pada tengah atau akhir cerita menyampaikan seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan dan sebagainya berkenaan dengan gagasan yang mendasari cerita itu (Sudjiman, 1986: 24).
Pendapat di atas sejalan dengan yang dikemukaan oleh Esten (1987: 22-23) bahwa pemecahan suatu tema disebut dengan amanat. Amanat memperlihatkan pandangan hidup dan cita-cita pengarang. Amanat dapat diungkapkan secara eksplisit (berterang-terangan) dan dapat secara implisit (tersirat). Bahkan ada amanat yang tidak nampak sekali. Umumnya cipta rasa modern memiliki amanat secara implisit.
Berdasarkan batasan-batasan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa amanat adalah pesan yang disampaikan pengarang kepada pembacanya. Maka analisis amanat yang dilakukan dalam Satua I Belog Mantu berpedoman pada pendapat-pendapat para ahli di atas, karena satu sama lain saling mendukung.
Amanat dalam Satua I Belog Mantu dapat dilihat melalui tingkah laku I Belog dan Pan Luh Sari. I Belog yang licik, suka menipu dan banyak akalnya berkali-kali berhasil menipu Pan Luh Sari yang lugu, polos dan mudah percaya pada perkataan orang. Jadi, berdasarkan penggambaran tokoh I Belog dan Pan Luh Sari tersebut, maka amanat yang ingin disampaikan pengarang adalah kita seharusnya rajin belajar, agar tidak menjadi orang yang bodoh dan mudah ditipu oleh orang lain, serta jangan mudah percaya pada perkataan orang, karena itu belum tentu benar.
Selain itu, pengarang juga menyampaikan amanat melalui tingkah laku Ni Luh Sari, yaitu sebagai seorang anak, kita haruslah berbakti kepada orang tua, menuruti perkataan orang tua dan selalu berusaha menyenangkan hati orang tua.






BAB VI
PERBANDINGAN TOKOH I BELOG
DALAM GEGURITAN I BELOG DENGAN SATUA I BELOG, SATUA NANG BANGSING TEKEN I BELOG,
DAN SATUA I BELOG MANTU
Penelitian ini akan membahas perbandingan tokoh I Belog yang terdapat dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu. Perbandingan yang akan dibahas meliputi berbagai aspek yang menyangkut tokoh I Belog tersebut, misalnya dari segi fisikologis, psikologis, sosiologis, nasib, suasana, dan lain-lain yang berkaitan dengan tokoh I Belog pada masing-masing cerita.
6.1 Perbandingan Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog
I Belog merupakan tokoh utama dalam Geguritan I Belog dan Satua I Belog. Tokoh I Belog dalam kedua karya tersebut memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan dari tokoh I Belog dalam kedua karya tersebut, yaitu sama-sama ingin menikah dengan seorang perempuan, sedangkan perbedaannya yaitu sebagai berikut:
I Belog dalam Geguritan I Belog merupakan tokoh yang memiliki orang tua kandung yang lengkap dan memiliki seorang adik. Kutipannya sebagai berikut:
Tunda ya npén Mandel nu makurenan/ pianaké ada dwang dihi/ I Belog wayahan/ bawu mara menék truna/ adiné I Mandel cenik/ nanangé bas liwat/ maywa buka jani// (Geguritan I Belog, bait 2)

Terjemahannya:
Di tempat lain diceritakan Mandel yang sudah menikah/ mempunyai dua orang anak/ anak pertama bernama I Belog/ baru remaja/ adinya yang kecil bernama I Mandel/ ayahnya kelewatan/ miskin saat ini//

Tokoh I Belog dalam Satua I Belog hanya hidup dengan ibunya. Hal tersebut dapat dilihat dari awal cerita, sampai pada saat dia menceburkan ibunya ke sumur dan ibunya mati, lalu dia hidup sendiri. Kutipannya sebagai berikut:
Jet ja méménné kerik-kerik, masih tusing linguanga, lantas kaclempungang ka sémbér. Kacrita mangkin I Belog nu padidiana, (Satua I Belog, halaman 5)

Terjemahannya:

Ibunya menjerit, tidak juga dihiraukannya, lalu dibuang ke sumur. Diceritakan sekarang I Belog hidup sendirinya,

Perbedaan selanjutnya, dilihat dari segi psikologisnya, tokoh I Belog dalam kedua karya tersebut memiliki perbedaan yang mencolok. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog digambarkan sebagai seorang remaja yang suka berbohong, suka menipu dan tidak hormat kepada Ibunya, bahkan ibunya sendiri dimakinya. Kutipannya sebagai berikut:
Pan Mandel halus tuara ngelah maras/ lantas ya manglemekin/ munyinné pelapan/ cai Belog ambul to jwa/ mangemedi mémén cai/ ulat mangrasa/ jani ya tumbén mangeling// (Geguritan I Belog, bait 67)

Terjemahannya:

Pan Mandel halus tidak mempunyai cara/ lalu dia meredakan situasi/ perkataannya halus/ kamu Belog ngambek juga/ menjelek-jelekkan ibumu/ nampaknya dia merasa/ dia tumben menangis sekarang//

Selain mencaci ibunya, dia juga menyamar menjadi dewa dengan moncontreng-contreng wajahnya dengan arang dan kunyit untuk menipu Jero Rangda Nyoman, dan menyuruhnya menikah dengan I Belog agar tanaman padi tidak rusak dan diserang hama lagi. Terjemahannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolékin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (Geguritan I Belog, bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (Geguritan I Belog, bait 107)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

Tokoh I Belog dalam Satua I Belog, dari segi psikologisnya digambarkan sebagai seorang remaja yang bodoh dan polos. Dia tidak bisa membedakan orang yang masih hidup dan yang sudah mati, sampai dia membawa mayat perempuan ke rumahnya untuk dijadikan istri. Kutipannya sebagai berikut:
Mara ia teked di tengah semané nget nepukin ia bangkén anak luh kliwat jegég pesan. I Belog lantas ngomong : ”Luh, luh, nyak makurenan tekén tiang?” Anaké ento mendep dogén. ”Béh ia nyak tekén iraga, melahan gandong dogén ia ajak mulih.” (Satua I Belog, halaman 4)

Terjemahannya:
Baru dia sampai di tengah-tengah kuburan itu, dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik. I Belog lalu berkata : ”Luh, luh, mau menikah dengan saya?” Mayat itu hanya diam. ”Beh dia mau dengan saya, lebih baik saya gendong bawa pulang.”

Perbedaan selanjutnya adalah mengenai perempuan yang diperistri oleh I Belog. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog memperistri seorang janda kaya yang juga adalah majikannya sendiri dengan cara menyamar menjadi dewa dan menipunya sampai dia mau menikah dengan I Belog, sedangkan dalam Satua I Belog, tokoh I Belog memperistri mayat perempuan cantik yang dia temukan di sebuah kuburan yang sangat luas pada saat dia pulang dari bermain dan lama-lama mayat itu membusuk, sampai akhirnya di buang si sebuah sumur oleh ibunya. Kutipannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolekin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (Geguritan I Belog, bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (Geguritan I Belog, bait 107)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

Di mulihné ia ngentasin sema linggah pesan. Mara ia teked di tengah semané ngét nepukin ia bangkén anak luh kliwat jegég pesan. I Belog lantas ngomong : ”Luh, luh, nyak makurenan tekén tiang?” Anaké ento mendep dogén. ”Béh ia nyak tekén iraga, melahan gandong dogén ia ajak mulih.” (Satua I Belog, halaman 4)

Terjemahannya:

Saat perjalanan pulang, dia melewati kuburan yang sangat luas. Baru dia sampai di tengah-tengah kuburan itu, dia melihat mayat perempuan yang sangat cantik. I Belog lalu berkata : ”Luh, luh, mau menikah dengan saya?” Mayat itu hanya diam. ”Beh dia mau dengan saya, lebih baik saya gendong bawa pulang.”

Perbedaan selanjutnya adalah mengenai nasib dari tokoh I Belog pada akhir cerita. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog mengalami nasib yang baik, karena dia berhasil membuat Jero Rangda Nyoman bersedia menikah dengannya, sedangkan tokoh I Belog pada Satua I Belog mengalami nasib yang buruk, akibat kebodohannya, dia mencelakakan ibunya sampai meninggal dan akhirnya dia juga mati dengan mencemplungkan dirinya ke sumur. Kutipannya sebagai berikut:
Da luwas medhem dini sisinin kola/ ada né orahang gati/ I Belog nuhutang/ lantas ya ngebahang awak/ mangejohang sisi badangin/ sambilanga/ ni jro rangda kisi-kisi// (Geguritan I Belog, bait 131) Nah néné jani kola ngorahin siga/ pangandikan Widhi pingit/ eda ngawérayang/ kola kapangandikayang/ ngenyakin tekéning nani/ apang kedat/ cicingé padiné jelih/ (Geguritan I Belog, bait 132)

Terjemahannya:

Jangan pergi, tidurlah di sini bersamaku/ ada yang ingin kusampaikan/ I Belog menuruti/ lalu dia tidur/ menjauh di sisi timur/ sambilanga/ Jro Rangda berbisik-bisik// Nah, sekarang aku memberitahumu/ perintah dewa yang sakral/ jangan menolak/ aku diperintahkan untuk/ mau menikah denganmu/ supaya anak anjing bisa membuka mata/ dan padi yang kosong menjadi berisi//

Kacrita I Belog nu padidiana, tusing ada anak nyakanang ia. Ban layah basangné, lantas ia ka peken meli ubi, kaséla, gatép muah ané lén-lénan, ané sarwa mudah-mudah. Sasubanné betek basangné lantas ia mulih. Jani I Belog nongos jumahné padidiana, tusing ada anak ajak ngomong. Nujuang pesan I Belog ngentut, tur bonné bengu. I Belog lantas makeneh: ”Béh i déwék mati jani, tondén med idup suba mati.” Sambilanga ngomong kéto, lantas ia mlaib ka sémbér lantas pulanga ibanné. Payu I Belog mati. (Satua I Belog, halaman 5)

Terjemahannya:

Diceritakan I Belog tinggal sendirian, tidak ada orang yang membuatkannya makan. Karena perutnya lapar, lalu dia pergi ke pasar membeli ubi, singkong, gayam dan lain-lain yang murah-murah. Setelah perutnya kenyang lalu dia pulang. Sekarang I Belog di rumah sendirian, tidak ada yang diajak ngomong. Kebetulan sekali I Belog kentut, dan baunya busuk. I belog lalu berpikir: ”Beh diriku sekarang sudah mati, belum bosan hidup sudah mati.” Sambil berkata demikian, lalu dia berlari ke sumur dan mencemplungkan dirinya. Akhirnya dia mati.

6.2 Perbandingan Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua Nang Bansing Teken I Belog
Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua Nang Bangsing Teken I Belog, memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Persamaannya, yaitu: tokoh I Belog pada kedua karya tersebut sama-sama mencapai keberhasilan pada akhir cerita. Perbedaannya yaitu: yang pertama adalah dari segi psikologisnya. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog digambarkan sebagai tokoh yang suka menipu, licik dan banyak akalnya. Dia menyamar menjadi dewa dengan moncontreng-contreng wajahnya dengan arang dan kunyit untuk menipu Jero Rangda Nyoman, dan menyuruhnya menikah dengan I Belog agar tanaman padi tidak rusak dan diserang hama lagi. Terjemahannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolékin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (Geguritan I Belog, bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (Geguritan I Belog, bait 107)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

Tokoh I Belog dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog adalah tokoh yang bodoh dan lugu, serta mudah percaya pada perkataan orang. Berkali-kali dia berhasil ditipu oleh Nang Bangsing. Nang Bangsing yang mengajak I Belog memasang bubu, lalu membohongi I Belog dengan mengatakan bahwa yang digunakan untuk umpan bubu adalah jajan kukus, lalu dipasang di pagar. Malam harinya, Nang Bangsing mengambil umpan bubu yang dipasang I Belog, lalu buang air di dalam bubu tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:
Kacrita I Belog anak ia sajaan buka adanné belog pesan tur tutut. (Satua Nang Bangsing Teken I Belog, halaman 6)

Terjemahannya:
Diceritakan I Belog adalah anak yang bodoh dan lugu seperti namanya.

Kutipan yang menunjukkan pada saat I Belog ditipu oleh Nang Bangsing yaitu sebagai berikut:
Sedek dina anu lantas ajakina I Belog masang bubu tekén Nang Bangsing. Nyak koné I Belog. Gelisang satua matakon I Belog tekén Nang Bangsing: ”Beli, beli, apa anggon barén bubu? Dija anaké makena bubu?” Masaut lantas Nang Bangsing: ”Ih, Belog, yan anaké marenin bubu tusing dadi lenan tekén jaja kuskus lebengan asador tusing dadi kuangan, tekén unti nyuhan abungkul, suba kéto kenaang lantas di pagehané!”....... Suba jené jani tengah lemeng, lantas bangun Nang Bangsing nyemak bubuné I Belog tur telahanga amaha jajanné. Disubanné telah, lantas pejunina. Buin melahanga mejang di tongosné ituni. Suba lantas kéto mulih lantas Nang Bangsing buin pules. (Satua Nang Bangsing Teken I Belog, halaman 6)

Terjemahannya:

Pada suatu hari I Belog diajak memasang bubu oleh Nang Bangsing. I Belog mau. Kemudian I Belog bertanya kepada Nang Bangsing: ”Beli, beli apa digunakan sebagi umpan bubu? Dimana orang memasang bubu?” Lalu Nang Bangsing menjawab: ”Ih, Belog, umpan bubu tidaklah lain adalah jajan kukus satu kukusan tidak boleh kurang, dan kelapa parut satu buah berisi gula, sesudah itu letakkan di pagar........ Sudah larut malam, lalu Nang Bangsing mengambil bubunya I Belog dan menghabiskan jajannya. Setelah habis, lalu dia buang air di bubu itu. Kemudian ditaruh di tempatnya semula dengan rapi, lalu Nang Bangsing pulang dan kembali tidur.

Perbedaan yang kedua adalah mengenai keluarga dari tokoh I Belog. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog merupakan tokoh yang memiliki orang tua kandung yang lengkap dan memiliki seorang adik, Kutipannya sebagai berikut:
Tunda ya npén Mandel nu makurenan/ pianaké ada dwang dihi/ I Belog wayahan/ bawu mara menék truna/ adiné I Mandel cenik/ nanangé bas liwat/ maywa buka jani// (Geguritan I Belog, bait 2)

Terjemahannya:
Di tempat lain diceritakan Mandel yang sudah menikah/ mempunyai dua orang anak/ anak pertama bernama I Belog/ baru remaja/ adinya yang kecil bernama I Mandel/ ayahnya kelewatan/ miskin saat ini//

Berbeda dengan tokoh I Belog dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog yang hanya hidup berdua dengan ibunya. Kutipan yang menunjukkan bahwa I Belog hidup berdua dengan ibunya, yaitu sebagai berikut:
Tan crita I Belog di jalan, lantas neked jumahné. Sasubané nganteg jumah, iju lantas I Belog nundén méménné ngalihang nasi muah bé lakar baang jarané. (Satua Nang Bangsing Teken I Belog, halaman 9-10)

Terjemahannya:

Tidak diceritakan di jalan, lalu dia sampai di rumah. Setelah sampai di rumah, segera I Belog menyuruh ibunya untuk mencarikan nasi dan daging yang akan diberikan kepada kudanya.

Perbedaan yang terakhir terletak pada akhir cerita, tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dapat mencapai keberhasilan, yaitu menikah dengan wanita idamannya, Jero Rangda Nyoman dengan cara menipu, sedangkan dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog berhasil menjadi orang kaya dengan keluguan dan kepolosannya. Kutipannya sebagai berikut:
Da luwas medhem dini sisinin kola/ ada né orahang gati/ I Belog nuhutang/ lantas ya ngebahang awak/ mangejohang sisi badangin/ sambilanga/ ni jro rangda kisi-kisi// (Geguritan I Belog, bait 131) Nah néné jani kola ngorahin siga/ pangandikan Widhi pingit/ eda ngawerayang/ kola kapangandikayang/ ngenyakin tekéning nani/ apang kedat/ cicingé padiné jelih/ (Geguritan I Belog, bait 132)

Terjemahannya:

Jangan pergi, tidurlah di sini bersamaku/ ada yang ingin kusampaikan/ I Belog menuruti/ lalu dia tidur/ menjauh di sisi timur/ sambilanga/ Jro Rangda berbisik-bisik// Nah, sekarang aku memberitahumu/ perintah dewa yang sakral/ jangan menolak/ aku diperintahkan untuk/ mau menikah denganmu/ supaya anak anjing bisa membuka mata/ dan padi yang kosong menjadi berisi//

Crita Nang Bangsing jani ngidih tulung tekén banjaré ngisidang tiing, lantas tancebanga di sanggahné. Disubané majujuk, lantas bah ka peken Sangsité muah ka peken Badungé. Critayang jani anaké di Badung sawiréh ipidan dugasé kagantungin baju, kamben muah ané lén-lénan mawanan ngalantas ilang, jani lantas kagantungin sarwa bangké, bangkén jaran, bangkén sampi, céléng muah ané lén-lénan. Ané bah ka peken Sangsité kéto masih ada ngantungin bangkén cicing, bangkén bangkung, bangkén lelipi. Suba kéto crita jani lantas majujuk buin tiingé makadadua. Béh paclebugbug lantas bangkéné ulung bek di umah Nang Bangsingé. Jantos bonné sing duga baan ngadek baan bengunné. Ditu lantas Nang Bangsing bantat-bintit ngalih anak ané nyak nelahin, tur kanti telah kasugihanné anggona mupahang. Déning kéto lantas Nang Bangsing dadi lacur, I Belog dadi sugih. (Satua Nang Bangsing Teken I Belog, halaman 13)

Terjemahannya:

Diceritakan sekarang Nang Bangsing meminta tolong kepada tetangganya untuk memindahkan bambu, lalu ditanam di sanggahnya. Setelah berdiri, lalu merunduk ke pasar Sangsit dan ke pasar Badung. Diceritakan sekarang orang-orang di Badung, karena dulu saat digantungi baju, kain dan yang lain-lain tiba-tiba hilang, sekarang digantungi bangkai-bangkai binatang, bangkai kuda, bangkai sapi, babi dan yang lain-lain. Bambu yang merunduk ke pasar Sangsit itu juga ada yang menggantungi bangkai anjing, bangkai babi, bangkai ular. Setelah itu, kedua bambu itu kembali tegak. Nah, berjatuhanlah bangkai-bangkai itu ke rumah Nang Bangsing. Sampai tidak tahan mencium baunya karena baunya busuk sekali. Kemudian Nang Bangsing susah payah mencari orang yang mau membersihkan bangkai-bangkai yang jatuh di rumahnya, sampai kekayaannya habis untuk memberi upah. Akhirnya Nang Bangsing menjadi miskin dan I Belog menjadi kaya.

6.3 Perbandingan Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog Mantu
Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog Mantu, memiliki beberapa persamaan dan perbadaan. Persamaannya, yaitu sebagai berikut:
Persamaan yang pertama adalah sama-sama suka berbohong dan menipu. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog menipu Jero Rangda sampai dia mau menikah dengan I Belog. Kutipannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolékin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (Geguritan I Belog, bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (Geguritan I Belog, bait 107)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

Dalam Satua I Belog Mantu, tokoh I Belog beberapa kali berhasil menipu Pan Luh Sari. Salah satu contohnya adalah pada saat I Belog membawa keong yang disanggrai dan mengatakan kepada Pan Luh Sari bahwa itu adalah kotoran ayam yang disanggrai, lalu Pan Luh Sari menyuruh anaknya agar memungut kotoran ayam dan menyanggrainya. Luh Sari pun menuruti perintah ayahnya, dia memungut dan menyanggrai kotoran ayam itu. Setelah pulang dari sawah, Pan Luh Sari langsung meminta kotoran ayam yang sudah disanggrai kepada anaknya, dan memakannya. Kemudian Pan Luh Sari muntah-muntah, karena yang dimakannya memang benar kotoran ayam. Kutipannya sebagai berikut:
Buin mamunyi bapanné: ”jani suba tawang kéné, tain siapé tuh-tuh manyahnyah, da nyén sampat-sampatanga tain siapé di paon, nah Luh. Mani semengan dudukang nyen bapa lantasang lebengin, kénéang.......Nah suba jani kéto, mani semengné bapanné ka carik, Luh Sari ngidepang pamunyin bapanné, duduka punduhanga tain siapé né tuh-tuh, inganan ada acééng, lantas nyahnyaha.......Suba tengai, teka bapanné uli carik, mara macedik ngejang prabot di baléné, suba kaukina pianakné nakonang tain siapé manyahnyah......Ento tujuanga sopa abekan bungutné, lantas kinyukanga, kadéna patuh buka ané ibi sanjanné né baanga baan I Belog. Napi, mara gelekanga péésné, pah mlekag sa, pait asana. Cepokan seneb basangné, simbuhanga tain siapé di bungutné, lantas ngutah telah kerikan basangné pesu. (Satua I Belog Mantu, halaman 40)

Terjemahannya:

Ayahnya kembali berkata: ”Sekarang sudah tahu begini, kotoran ayam yang kering disanggrai, nanti jangan disapu kotoran ayang yang di dapur, ya Luh. Besok pagi kamu pungut lalu masak seperti ini.......Setelah demikian, keesokan harinya ayahnya pergi ke sawah, Luh sari menuruti perintah ayahnya, dipungutlah kotoran ayam yang sudah kering, kira-kira ada setengah batok kelapa, lalu disanggrainya......Sudah siang, ayahnya datang dari sawah, baru saja menaruh peralatan di tempatnya, sudah dipanggil anaknya menanyakan kotoran ayam yang sudah disanggrai.......Itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dikunyahnya, dikiranya sama dengan yang diberikan oleh I Belog kemarin malam. Baru ditelannya, rasanya aneh, pahit. Lalu mual perutnya, disemburkan kotoran ayam itu dari mulutnya, lalu dia muntah sampai habis isi perutnya keluar.

Persamaan yang kedua adalah sama-sama ingin menikah dengan seorang perempuan. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog ingin menikah dengan Jero Rangda Nyoman dan menggunakan cara yang tidak baik untuk mencapai tujuannya itu yaitu dengan menyamar menjadi dewa, sedangkan tokoh I Belog dalam Satua I Belog ingin menikah dengan Ni Luh Sari. Kutipannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolékin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (Geguritan I Belog, bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (Geguritan I Belog, bait 107)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

I Belog milu kena kasih tekén Ni Luh Sari, (Satua I Belog Mantu, halaman 39)

Terjemahannya:

I Belog juga jatuh cinta kepada Ni Luh Sari,

Persamaan yang ketiga adalah sama-sama menipu dengan cara menyamar menjadi dewa, agar perempuan yang dia suka mau menikah dengannya. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog menyamar menjadi dewa dengan moncontreng-contreng wajahnya dengan arang dan kunyit untuk menipu Jero Rangda Nyoman, dan menyuruhnya menikah dengan I Belog agar tanaman padi tidak rusak dan diserang hama lagi.. Jero Rangda Nyoman pun percaya dan dengan berat hati mau menikah dengan I Belog, karena itu adalah perintah dewa dan supaya padinya tidak rusak lagi. Kutipannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolékin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (Geguritan I Belog, bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (Geguritan I Belog, bait 107) Da luwas medhem dini sisinin kola/ ada né orahang gati/ I Belog nuhutang/ lantas ya ngebahang awak/ mangejohang sisi badangin/ sambilanga/ ni jro rangda kisi-kisi// (bait 131) Nah néné jani kola ngorahin siga/ pangandikan Widhi pingit/ eda ngawérayang/ kola kapangandikayang/ ngenyakin tekéning nani/ apang kedat/ cicingé padiné jelih/ (bait 132)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi// Jangan pergi, tidurlah di sini bersamaku/ ada yang ingin kusampaikan/ I Belog menuruti/ lalu dia tidur/ menjauh di sisi timur/ sambilanga/ Jro Rangda berbisik-bisik// Nah, sekarang aku memberitahumu/ perintah dewa yang sakral/ jangan menolak/ aku diperintahkan untuk/ mau menikah denganmu/ supaya anak anjing bisa membuka mata/ dan padi yang kosong menjadi berisi//

Tokoh I Belog dalam Satua I Belog Mantu berhasil menikah dengan Ni Luh Sari dengan cara membuat siasat dengan masuk ke dalam sanggah kamulan Pan Luh Sari dan menyamar menjadi dewa. Dia meminta sesajen dan agar Luh Sari menikah dengan I Belog, kalau tidak mau terus-terusan mendapat kesialan. Akhirnya I Belog menikah dengan Luh Sari. Lama-kelamaan Pan Luh Sari mengetahui kalau dirinya telah dibohongi lagi, akan tetapi dia tidak berbuat apa-apa, karena anaknya sudah terlanjur menikah dengan I Belog Kutipannya sebagai berikut:
I Belog buin mangéka daya kalaning peteng, nyingid ia kema ka sanggah bapan Luh Sariné. Macelep ka tengah sanggah kamulané, lantas ia ngawé munyi kauk-kauk ngaukin bapan Luh Sari, manyaru pangandikan Déwa Hiang Gurunné. Kéné Munyinné: ”Cai Pan Sari, mai tangkilin ira, ira Déwa Hiang cainé. Jani ira nagihin cai punjung rayunan, mabé siap maguling, yan sing iba ngaturin ira punjung rayunan jani, sing buungan iba pongor ira.”.......Suba kéto ngenggal-enggalang ia magarapan ka paon nyakan, nunu siap, lantas lebeng, matanding, sregep aturané mwadah dulang, laut ia mabersih ajaka makejang sapakurenanné, bakal nagkilin Widiné, pisadiané nunas karahayuan. Suud kéto lantas suuna bantené ka sanggah, sambilanga matur mameteng: ”Inggih Ratu Ida panembahan titiang Batara Hiang Guru, punika titiang ngaturin Cokor I Déwa punjung rayunan, durus ica Cokor I Déwa munggah.”.......Jani ada pakayunan nira, ento pianak ibané Ni Sari apang iba ngantenang tekén I Belog, ia mula jatukarmanné, da iba bani-bani tekén ia I Belog, I Belog anak ririh pesan madaya. Yén iba buin bani tekén ia, sing buungan iba mati.......Gelisang satua, masakapan I Belog ajaka Luh Sari........Kasuén-suén suba makelo ia makurenan, mara maorta undukné i mantu ento nyaru dadi Déwa di sanggah mapawuwus buka né orahang tunian. Ditu sebet pesan keneh bapan Luh Sariné, nanging tusing dadi baana ngwirangang, apan mantuné lebihan celang buin ririh. (Satua I Belog Mantu, halaman 48 - 49)

Terjemahannya:

I Belog kembali membuat akal pada saat malam hari, dia bermaksud datang ke sanggah Pan Luh Sari. Masuk ke dalam sanggah kemulannya, lalu bersuara seperti memanggi-manggil Pan Luh Sari, seakan-akan suara Dewa Hiang Gurunya. Begini perkataanya: ”Kamu Pan Sari, kemarilah kehadapanku, aku Dewa Hiangmu. Sekarang aku meminta persembahan, ayam guling, jika kamu tidak mempersembahkannya sekarang, kamu akan kukutuk.”.......Setelah itu cepat-cepat memasak di dapur, memanggang ayam, setelah matang, disajikannya dengan dulang. Kemudian mereka membersihkan diri, karena akan menghadap dewanya, meminta keselamatan. Setelah itu, dibawanya sesajen itu ke sanggah, sambil berkata: ”Wahai Ratu Ida Batara Hiang Guruku, ini hamba menghaturkan sesajen kehadapan dewa, terimalah wahai dewaku.”.......Sekarang ada keinginanku, itu anakmu Ni sari supaya kamu nikahkan dengan I Belog, dialah jodohnya, jangan kamu berani dengan I Belog, I Belog orang yang pintar membuat akal. Jika kamu berani melawan dia, kamu akan mati. Tidak beberapa lama, menikahlah I Belog dengan Luh Sari......Lama-kelamaan sesudah lama dia menikah, barulah ketahuan bahwa mantunya itu yang menyamar menjadi dewa di sanggah menyamar seperti yang sudah diceritakan. Di sana sedih sekali perasaan Pan Luh Sari, akan tetapi dia tidak berdaya, karena mantunya lebih cermat dan pintar.

Perbedaannya yaitu: yang pertama adalah mengenai keluarga dari tokoh I Belog. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog merupakan tokoh yang memiliki orang tua kandung yang lengkap dan memiliki seorang adik, sedangkan tokoh I Belog dalam Satua I Belog Mantu adalah seorang remaja yatim piatu yang hidup sendirian. Kutipannya sebagai berikut:
Tunda ya npén Mandel nu makurenan/ pianaké ada dwang dihi/ I Belog wayahan/ bawu mara menék truna/ adiné I Mandel cénik/ nanangé bas liwat/ maywa buka jani// (Geguritan I Belog, bait 2)

Terjemahannya:
Di tempat lain diceritakan Mandel yang sudah menikah/ mempunyai dua orang anak/ anak pertama bernama I Belog/ baru remaja/ adinya yang kecil bernama I Mandel/ ayahnya kelewatan/ miskin saat ini//

Ada reko satua anak truna cenik ubuh padidian, madan I Belog (Satua I Belog Mantu, halaman 39)

Terjemahannya:
Alkisah ada cerita seorang pemuda yatim piatu, bernama I Belog.

Perbedaan selanjutnya adalah mengenai tipu daya yang dilakukan I Belog, sampai dia berhasil menikah dengan wanita idamannya. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog, hanya sekali menipu untuk mencapai keinginannya menikah dengan Jero Rangda Nyoman. Dia menipu dengan cara menyamar menjadi dewa dengan moncontreng-contreng wajahnya dengan arang dan kunyit untuk menipu Jero Rangda Nyoman, dan menyuruhnya menikah dengan I Belog agar tanaman padi tidak rusak dan diserang hama lagi. Kutipannya sebagai berikut:
Akatih anéh mabunga pucuk lamba/ mua suba macolékin/ adeng payuk jakan/ pamor lan kunyit warangan/ ya kaanggén mamarakin/ kiri kanan/ makumis bas pamor putih// (Geguritan I Belog, bait 98) Buka tlawahin munyiné mataguran/ suba nyejehang hati/ kema mulih énggalang/ I Belog ya anggon somah/ apanga padiné jelih/ cicing kedat/ suba da ja liyu munyi// (Geguritan I Belog, bait 107)

Terjemahannya:

Telinga sebelah berisi bunga pucuk/ muka sudah dicoleki/ arang panci masak/ kapur dan kunyit yang berwarna merah/ itu digunakan untuk membuat merah/ kiri kanan/ berkumis dengan kapur putih// Seperti suara di tabung yang bergema/ sudahlah jangan takut/ cepatlah pulang/ menikahlah dengan I Belog/ supaya padinya tidak rusak lagi/ anjing bisa membuka mata/ sudahlah jangan banyak bicara lagi//

Hal tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh tokoh I Belog dalam Satua I Belog Mantu. Dia berkali-kali menipu Pan Luh Sari dengan segala tipu dayanya, sampai akhirnya dia berhasil menikah dengan Ni Luh Sari. Tipuan-tipuan dan akal-akalan yang dilakukan I Belog antara lain:
Pertama, pada saat I Belog membawa keong yang disanggrai dan mengatakan kepada Pan Luh Sari bahwa itu adalah kotoran ayam yang disanggrai, lalu Pan Luh Sari menyuruh anaknya agar memungut kotoran ayam dan menyanggrainya. Luh Sari pun menuruti perintah ayahnya, dia memungut dan menyanggrai kotoran ayam itu. Setelah pulang dari sawah, Pan Luh Sari langsung meminta kotoran ayam yang sudah disanggrai kepada anaknya, dan memakannya. Kemudian Pan Luh Sari muntah-muntah, karena yang dimakannya memang benar kotoran ayam. Kutipannya sebagai berikut:
Buin mamunyi bapanné: ”jani suba tawang kéné, tain siapé tuh-tuh manyahnyah, da nyén sampat-sampatanga tain siapé di paon, nah Luh. Mani semengan dudukang nyén bapa lantasang lebengin, kénéang.......Nah suba jani kéto, mani semengné bapanné ka carik, Luh Sari ngidepang pamunyin bapanné, duduka punduhanga tain siapé né tuh-tuh, inganan ada acééng, lantas nyahnyaha.......Suba tengai, teka bapanné uli carik, mara macedik ngejang prabot di baléné, suba kaukina pianakné nakonang tain siapé manyahnyah......Ento tujuanga sopa abekan bungutné, lantas kinyukanga, kadéna patuh buka ané ibi sanjanné né baanga baan I Belog. Napi, mara gelekanga peesné, pah mlekag sa, pait asana. Cepokan seneb basangné, simbuhanga tain siapé di bungutné, lantas ngutah telah kerikan basangné pesu. (Satua I Belog Mantu, halaman 40)

Terjemahannya:
Ayahnya kembali berkata: ”Sekarang sudah tahu begini, kotoran ayam yang kering disanggrai, nanti jangan disapu kotoran ayang yang di dapur, ya Luh. Besok pagi kamu pungut lalu masak seperti ini.......Setelah demikian, keesokan harinya ayahnya pergi ke sawah, Luh sari menuruti perintah ayahnya, dipungutlah kotoran ayam yang sudah kering, kira-kira ada setengah batok kelapa, lalu disanggrainya......Sudah siang, ayahnya datang dari sawah, baru saja menaruh peralatan di tempatnya, sudah dipanggil anaknya menanyakan kotoran ayam yang sudah disanggrai.......Itu dimasukkan ke dalam mulutnya, lalu dikunyahnya, dikiranya sama dengan yang diberikan oleh I Belog kemarin malam. Baru ditelannya, rasanya aneh, pahit. Lalu mual perutnya, disemburkan kotoran ayam itu dari mulutnya, lalu dia muntah sampai habis isi perutnya keluar.

Kedua, pada saat I Belog pergi ke rumah Pan Luh Sari sambil memakan jajan iwel yang mirip dengan kotoran anjing. Pan Luh Sari bertanya kepada I Belog dan meminta jajan yang dimakannya. I Belog berkata bohong, mengatakan bahwa yang dimakannya adalah kotoran anjing, namun Pan Luh Sari tetap ngotot untuk meminta jajan itu, lalu memakannya. Rasa jajan itu manis. Keesokan harinya, pada saat Pan Luh Sari berjalan menuju sawah, di tengah jalan ia melihat anjing buang air, dilihatnya kotoran anjing itu hitam lalu dimakannya. Setelah dia makan, dirasakannya kotoran itu pahit dan dia muntah-muntah. Kutipannya sebagai berikut:
Suba nyanan sanjané, mara I Belog ngiréang kema kumah Pan Luh Sari, inget tekén ngelah sasepelan jaja iwel matumplu di bungbung tiing buluhé, pasti tain cicing gobanné, ento abaana sopa sakabedik sambilanga majalan.......Masaut bapan Ni Luh Sari: ”Ento apa sop cai jaan pesan asanné? Idih ja kuda bedik.” Masaut I Belog: ”Apa, tain cicingé, katumplu iwel manis jaan pesan.” Masaut bapan Luh Sari: ”Kén saja Belog, endang édéngang!” Mara kéto édénganga baan I Belog, beleg tain cicing badeng maketan-ketan gobanné, kéwala nyangluh bonné sada manis. Gumpita, cicipina abedik saja jaan nyangluh manis mlenyad rasanné.Critayang buin Pan Luh Sari di jalan, ia nepukin cicing méju, iwasina tainné badeng, patuh buka ané orahanga tain cicing ibinné sopa baan I Belog, baanga ia nyicipin abedik. Jaan manis mlenyad asananga, lantas Pan Luh Sari ngenggalang nyaup tain cicing né mara pejunanga ento, laut sampola daara kadéna patuh manis rasanné, apan patuh nota gobanné. Mara teked di bungutné napi, Déwa Ratu, pengit mlekag bonné, pait makilit asanné, buin ia paling ngutah-utah, telah krikan basangné pesu di jalan-jalan sambilanga nemah mamisuh. (Satua I Belog Mantu, halaman 41 - 42)

Terjemahannya:

Sore harinya, baru I Belog pergi ke rumah Pan Luh Sari, dia ingat mempunyai sisa jajan iwel ditumbuk di bambu buluh, mirip sekali dengan kotoran anjing, itu dia bawa dan dimakan sedikit demi sedikit sambil berjalan.......Menjawab Pan Luh Sari: ”Itu apa yang kamu makan, kelihatannya enak sekali? Minta sedikit.” Menjawab I Belog: ”Ah, kotoran anjing, dicampur iwel manis enak sekali.” Masaut bapan Luh Sari: ”Mana, benarkah Belog, coba perlihatkan!” Setelah itu diperlihatkan oleh I Belog, persis kotoran anjing hitam berisi ketan, tetapi baunya enak dan rasanya manis. Dicolek sedikit, dicicipinya, benar enak sekali manis rasanya.
Diceritakan Pan Luh Sari di jalan, dia melihat anjing buang air, kotorannya hitam, seperti yang dikatakan kotoran anjing yang kemarin dimakan oleh I Belog, yang dicipinya sedikit. Enak manis rasanya, lalu Pan Luh Sari dengan cepat mengambil kotoran anjing yang baru keluar itu dan dmakannya, dikiranya rasanya sama manis, karena dilihatnya sama persis. Baru sampai dimulutnya, Dewa Ratu, baunya busuk, rasanya pahit sekali, kembali dia muntah, habis isi perutnya keluar di jalan, sambil dia menggerutu.

Ketiga, pada saat I Belog dan Pan Luh sari di sawah, I Belog meminta ijin sebentar untuk mencari telur keong. I Belog berbohong lagi, padahal yang dicarinya adalah jajan yang dia sembunyikan sebelumnya. Setelah dia menemukan jajan itu, lalu dia memakannya. Pan Luh Sari yang melihatnya meminta untuk mencicipinya dan ternyata rasanya enak. Kemudian, Pan Luh Sari istirahat bekerja dan mencari-cari telur keong. Dia berhasil menemukan telur keong, lalu memakannya. Dimakanlah telur keong itu, ternyata rasanya amis dan lengket dimulutnya, Pan Luh Sari pun muntah-muntah. Kutipannya sebagai berikut:
I Belog mapwangkid akejep manyaru ngalih-ngalihin taluh kakul. Aliha jajanné ané kebanga totonan, teka di yéhé totonan,........ Sada jongkok-jongkok, sada ngincemin limannyané nyokot, ngesop, luung lemuh kinyukanné, jaan pesan asana, nota baan bapan Luh Sari, I Belog takonina: ”Belog, ento apa kaincém ditu kesop-esop, jaan pesan asana, idih ja bedik?” .......Mara kéto bapan Luh Sari, mrérén ia magaé, lantas ia milu ngalih-alihin taluh kakul, tepukina taluh kakul majomprot ping liu, teka jég saup, sampol lakuanga ka bungutné. Kriuk-kriuk pakpaka, napi andih kelen, bin nyangket asananga di bungutné, buin ia ngutah-utah uék-uék di tengahan umané, (Satua I Belog Mantu, halaman 42)

Terjemahannya:

I Belog minta ijin pura-pura mencari-cari telor keong. Dicarinya jajan yang dia sembunyikan itu, ditemukan di dalam air,....... Sada jongkok-jongkok, dan cekatan tangannya mengambil, memakan, kunyahannya enak, enak sekali rasanya, dilihat oleh Pan Luh Sari, bertanya kepada I Belog: ”Belog apa yang kamu makan itu, kelihatannya enak sekali, minta sedikit?”....... Setelah itu, Pan Luh Sari berhenti bekerja, lalu dia ikut mencari telur keong, dilihatnya banyak telur keong berkumpul, diambil dan dimakannya. Kriuk-kriuk dikunyahnya, rasanya amis dan lengket di mulutnya, kembali dia muntah-muntah, uek-uek di tengah sawahnya,

Keempat, pada saat I Belog menukar ubinya Pan Luh Sari dengan pangkal bambu. Kutipannya sebagai berikut:
Teked jani suba paak umahné, ada kayehan, ditu mrérén ia bapan Luh Sari ngajakin manjus. Pada ngejang tategenan mapunduh, pada manjus, I Belog maluan suud, manyaru awakné ngetor,.......Suba jani kéto, saluka tategenan bapan Luh Sariné baan I Belog, majalan maluan mulih. (Satua I Belog Mantu, halaman 44)

Terjemahannya:

Sekarang sudah dekat rumahnya, ada tempat mandi, di sana berhenti mandi Pan Luh Sari mengajak mandi. Mereka sama-sama menaruh pikulan, sama-sama mandi, I Belog duluan selesai, pura-pura badannya gemetar,.......Setelah itu, dipikulnya pikulan Pan Luh Sari oleh I Belog, berjalan duluan pulang.

Kelima, pada saat Pan Luh Sari dan I Belog pergi ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari yang naik, sedangkan I Belog mengumpulkan ijuk di bawah pohon. Setelah terkumpul banyak, lalu dia masuk ke dalam kumpulan ijuk itu, sambil berteriak kalau dia mau dimakan macan. Pan Luh Sari yang memang berniat ingin mencelakakan I Belog, merasa senang karena mengira I Belog sudah mati dimakan macan, lalu dia bergegas pulang. Kutipannya sebagai berikut:
Di subané bapan Luh Sari teked ba duur, geleng ia ngalap duk, ulung-ulunganga sing ja ia buin ngiwasin. I Belog nuduk-nuduk beten, suba mekakasin tali bakal anggon ngulung ibanné apang ilid makaput baan duk. Suba liu ulung duké, duduka abana ka ilidé, ditu pilpila gulunga dadianga abesik, dugduganga lantas clepanga ibanné ka tengah gulungan duké totonan ilidanga pesan. Suba ia ditu magulung bareng di tengah duké, lantas ia gelur-gelur: ”Bapa, bapa, bapa, tulungin icang mati amaha baan macané, mati icang bapa.”.......Ditu masuriak ia bapan Luh Sari, mangembulan lantas ia ngénggalang tuun, tepukina dukné suba luung, yatna magalung matali tiing lantas saluka tegena abana mulih kumahné, Kanti bingkih ia masih ja tegena dogén. (Satua I Belog Mantu, halaman 46)

Terjemahannya:

Sesudah Pan Luh Sari sampai di atas, tekun dia memetik ijuk, dijatuhkannya dan tidak diperhatikannya. I Belog memungut di bawah, sudah menyiapkan tali yang akan digunakan untuk menggulung dirinya supaya terbungkus oleh ijuk. Sudah banyak jatuh ijuknya, dipungutnya dan dibawa ketempat yang tersembunyi, di sana dikumpulkan dijadikan satu, lalu dia masuk ke tengah gulungan itu, lalu dia menjerit: ”Bapa, bapa, bapa, tolong saya mati damakan macan, mati saya bapa.”.......Di sanalah Pan Luh Sari merasa senang lalu cepat-cepat turun, dilihatnya ijuknya sudah terkumpul rapi diikat dengan tali, lalu dipikulnya dibawa ke rumah. Sekuat tenaga dia mengangkatnya.

Keenam, pada saat I Belog dan Pan Luh Sari kembali ke hutan untuk mencari ijuk. Pan Luh Sari berniat balas dendam, karena lagi-lagi ditipu oleh I Belog. Pan Belog menyuruh I Belog yang naik pohon, sedangkan dia yang memungut di bawah. Kemudian Pan Luh Sari memasukkan dirinya ke dalam gulungan ijuk sambil berteriak kalau dirinya dimakan macan. I Belog yang mengetahui kalau Pan Luh Sari hanya berpura-pura, lalu turun mengikat gulungan itu erat-erat, diseret dan dimasukkan ke dalam air. Kutipannya sebagai berikut:
Suba kéto menék ia I Belog, teked di duur nektek duk ulunganga. Bilang maan akakab ulunganga. Nah, ia bapan Luh Sari nuduk-nuduk betén, mapulih-pulih tekén I Belog, masih kéto gulunga ibanné baan duk, enota baan I Belog, linglinga dogén. Bapan Luh Sari lantas kauk-kauk: ”Belog, Belog, tulungin bapa énggal-énggal, bapa sarapa baan macané!”......Suba kéto lantas I Belog tuun nutugang nuduk dukné, laut pesela gulunga dadianga acepok, laut briguna talinina, gretanga sangetanga pesan......Pragat ia mesel duké lantas paida bragedega, klabak-labaké ambahanga, glalang-gliling, glebag-glebug, nyumingkinang sakit awakné bapan Luh Sari di tengah duké mantep-antepan, lantas ia gelur-gelur......( Satua I Belog Mantu, halaman 47)

Terjemahannya:

Sudah demikian I Belog naik, sampai di atas memotong ijuk dan dijatuhkannya. Setiap dapat satu lembar dijatuhkannya. Pan Luh Sari memungutnya di bawah, meniru akalnya I Belog, dimasukkanlah tubuhnya ke gulungan ijuk itu, dilihat oleh I Belog, hanya diperhatikan saja. Pan Luh Sari lalu memangil-manggil: ”Belog, Belog cepat tolong aku, aku dimakan macan!”.......Setelah itu I Belog turun melanjtukan memungut juk itu, lalu diikatnya gulungan itu dijadikan satu dan diikatnya dengan sangat erat.......Setelah selesai mengikat lalu diseretnya, dibawanya ke semak-semak, berguling-guling, sampai sakit badannya Pan Luh Sari di tengah gulungan ijuk terbentur-bentur, lalu dia menjerit.......

Terakhir, pada saat I Belog membuat siasat dengan masuk ke dalam sanggah kamulan Pan Luh Sari dan menyamar menjadi dewa. Dia meminta sesajen dan agar Luh Sari menikah dengan I Belog, kalau tidak mau terus-terusan mendapat kesialan. Akhirnya I Belog menikah dengan Luh Sari. Lama-kelamaan Pan Luh Sari mengetahui kalau dirinya telah dibohongi lagi, akan tetapi dia tidak berbuat apa-apa, karena anaknya sudah terlanjur menikah dengan I Belog Kutipannya sebagai berikut:
I Belog buin mangeka daya kalaning peteng, nyingid ia kema ka sanggah bapan Luh Sariné. Macelep ka tengah sanggah kamulané, lantas ia ngawé munyi kauk-kauk ngaukin bapan Luh Sari, manyaru pangandikan Déwa Hiang Gurunné. Kéné Munyinné: ”Cai Pan Sari, mai tangkilin ira, ira Déwa Hiang cainé. Jani ira nagihin cai punjung rayunan, mabé siap maguling, yan sing iba ngaturin ira punjung rayunan jani, sing buungan iba pongor ira.”.......Suba kéto ngénggal-énggalang ia magarapan ka paon nyakan, nunu siap, lantas lebeng, matanding, sregep aturané mwadah dulang, laut ia mabersih ajaka makejang sapakurenanné, bakal nagkilin Widiné, pisadiané nunas karahayuan. Suud kéto lantas suuna bantené ka sanggah, sambilanga matur mameteng: ”Inggih Ratu Ida panembahan titiang Batara Hiang Guru, punika titiang ngaturin Cokor I Déwa punjung rayunan, durus ica Cokor I Déwa munggah.”.......Jani ada pakayunan nira, ento pianak ibané Ni Sari apang iba ngantenang tekén I Belog, ia mula jatukarmanné, da iba bani-bani tekén ia I Belog, I Belog anak ririh pesan madaya. Yén iba buin bani tekén ia, sing buungan iba mati.......Gelisang satua, masakapan I Belog ajaka Luh Sari........Kasuén-suén suba makelo ia makurenan, mara maorta undukné i mantu ento nyaru dadi Déwa di sanggah mapawuwus buka né orahang tunian. Ditu sebet pesan keneh bapan Luh Sariné, nanging tusing dadi baana ngwirangang, apan mantuné lebihan celang buin ririh. (Satua I Belog Mantu, halaman 48 - 49)

Terjemahannya:

I Belog kembali membuat akal pada saat malam hari, dia bermaksud datang ke sanggah Pan Luh Sari. Masuk ke dalam sanggah kemulannya, lalu bersuara seperti memanggi-manggil Pan Luh Sari, seakan-akan suara Dewa Hiang Gurunya. Begini perkataanya: ”Kamu Pan Sari, kemarilah kehadapanku, aku Dewa Hiangmu. Sekarang aku meminta persembahan, ayam guling, jika kamu tidak mempersembahkannya sekarang, kamu akan kukutuk.”.......Setelah itu cepat-cepat memasak di dapur, memanggang ayam, setelah matang, disajikannya dengan dulang. Kemudian mereka membersihkan diri, karena akan menghadap dewanya, meminta keselamatan. Setelah itu, dibawanya sesajen itu ke sanggah, sambil berkata: ”Wahai Ratu Ida Batara Hiang Guruku, ini hamba menghaturkan sesajen kehadapan dewa, terimalah wahai dewaku.”.......Sekarang ada keinginanku, itu anakmu Ni sari supaya kamu nikahkan dengan I Belog, dialah jodohnya, jangan kamu berani dengan I Belog, I Belog orang yang pintar membuat akal. Jika kamu berani melawan dia, kamu akan mati. Tidak beberapa lama, menikahlah I Belog dengan Luh Sari......Lama-kelamaan sesudah lama dia menikah, barulah ketahuan bahwa mantunya itu yang menyamar menjadi dewa di sanggah menyamar seperti yang sudah diceritakan. Di sana sedih sekali perasaan Pan Luh Sari, akan tetapi dia tidak berdaya, karena mantunya lebih cermat dan pintar.

Perbedaan selanjutnya adalah mengenai wanita yang ingin dinikahi oleh I Belog. Tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog menyukai seorang janda yang juga adalah majikannya sendiri yang bernama Jero Rangda Nyoman, sedangkan dalam Satua I Belog Mantu, I Belog menyukai seorang perempuan yang masih gadis yang bernama Ni Luh Sari.
6.4 Klasifikasi Tokoh I Belog
Berdasarkan perbandingan yang dilakukan antara tokoh I Belog dalam Geguritan I Belog dengan ketiga satua di atas, maka dapat ditemukan klasifikasi tokoh I Belog yang terdapat pada beberapa cerita I Belog tersebut dapat dibagi menjadi tiga berdasarkan watak dan nasib yang dialami oleh tokoh I Belog. Klasifikasi dari tokoh I Belog yaitu:
1) Tokoh I Belog yang memang bodoh dan tidak bisa mengerti perkataan orang. Kebodohannya itu membuat dirinya sendiri dan orang lain menjadi celaka. (Terdapat dalam Satua I Belog)
2) Tokoh I Belog yang dibodoh-bodohi. Tokoh I Belog dalam klasifikasi yang kedua ini adalah tokoh yang bodoh karena pengetahuannya dangkal, namun dia mau bertanya kepada orang lain mengenai hal-hal yang tidak dia ketahui dan dia melakukannya dengan benar, walaupun terkadang dia dibohongi oleh orang lain. Kepolosannya membuat dia mudah percaya, namun hal itulah yang membuat dia mencapai keberhasilan. (Terdapat dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog)
3) Tokoh I Belog yang cerdik, licik, suka berbohong, suka menipu, dan banyak akalnya. Tokoh I Belog dalam klasifikasi yang ketiga ini, tidaklah bodoh seperti pada dua klasifikasi sebelumnya. I Belog adalah tokoh yang cerdik dan licik, dia melakukan cara apapun untuk mencapai keinginannya, termasuk dengan cara menipu. (Terdapat dalam Geguritan I Belog dan Satua I Belog Mantu).



BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Geguritan I Belog, Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu adalah beberapa karya sastra yang tokoh utamanya adalah I Belog.
Geguritan I Belog memilki struktur forma dan naratif. Struktur forma yang terdapat dalam Geguritan I Belog adalah kode bahasa dan sastra, ragam bahasa, dan gaya bahasa. Geguritan I Belog menggunakan satu jenis pupuh, yaitu pupuh Durma. Struktur naratif Geguritan I Belog meliputi: insiden, alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat. Alur pada geguritan tersebut meliputi: Exposition, Complication, Rising Action, Turning Point, Ending. Latar Geguritan I Belog meliputi: latar tempat, waktu, dan suasana. Tokoh dalam Geguritan I Belog yaitu: I Belog, Men Mandel, Pan Mandel, Mandel, dan Jero Rangda Nyoman. Tema dari Geguritan I Belog adalah kemiskinan. Amanat yang disampaikan yaitu jangan suka berbohong dan menipu, karena itu adalah perbuatan yang tidak baik dan dapat merugikan orang lain.
Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu memiliki struktur yang meliputi : insiden, alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat. Alur dari ketiga karya tersebut meliputi: Exposition, Complication, Rising Actio , Turning Point, Ending. Latar dari ketiganya meliputi: latar tempat, waktu, dan suasana. Tokoh yang terdapat dalam Satua I Belog yaitu I Belog dan Ibu I Belog, tokoh yang terdapat dalam Satua Nang Bangsing Teken I Belog yaitu: I Belog, Nang Bangsing, Ibu I Belog, Istri Nang Bangsing, Kedis Selem, Parekan, Anak Agung, dan Panunggun Lawang, dan tokoh yang terdapat dalam Satua I Belog Mantu yaitu: I Belog, Pan Luh Sari, dan Ni Luh Sari. Tema dari Satua I Belog adalah kebodohan, tema dari Satua Nang Bangsing Teken I Belog adalah iri hati, dan tema dari Satua I Belog Mantu adalah tipu daya. Amanat dari Satua I Belog adalah kita haruslah rajin belajar agar tidak menjadi orang yang bodoh dan tidak tahu apa, karena kebodohan itu akan merugikan kita sendiri dan orang lain, amanat dari Satua Nang Bangsing Teken I Belog adalah saat kita melihat orang lain berhasil, kita tidak boleh iri hati, justru itu kita gunakan sebagai motivasi untuk bekerja keras mencapai cita-cita dengan cara yang baik, dan amanat dalam Satua I Belog Mantu adalah kita seharusnya rajin belajar, agar tidak menjadi orang yang bodoh dan mudah ditipu oleh orang lain, serta jangan mudah percaya pada perkataan orang, karena itu belum tentu benar.
Berdasarkan perbandingan terhadap tokoh I Belog yang terdapat dalam Geguritan I Belog dengan Satua I Belog, Satua Nang Bangsing Teken I Belog, dan Satua I Belog Mantu, maka ditemukan tiga karakterisasi dari tokoh I Belog dari keempat karya sastra tersebut, yaitu: (1) Tokoh I Belog yang memang bodoh dan tidak bisa mengerti perkataan orang, karena kebodohannya itu membuat dirinya sendiri dan orang lain menjadi celaka, (2) Tokoh I Belog yang bodoh dan polos. Tokoh I Belog dalam klasifikasi yang kedua ini adalah tokoh yang bodoh karena pengetahuannya dangkal, namun dia mau bertanya kepada orang lain mengenai hal-hal yang tidak dia ketahui dan dia melakukannya dengan benar, walaupun terkadang dia dibohongi oleh orang lain. Kepolosannya membuat dia mudah percaya, namun hal itulah yang membuat dia mencapai keberhasilan, dan (3) Tokoh I Belog yang cerdik, licik, suka berbohong, suka menipu, dan banyak akalnya. Tokoh I Belog dalam klasifikasi yang ketiga ini, tidaklah bodoh seperti pada dua klasifikasi sebelumnya. I Belog adalah tokoh yang cerdik dan licik, dia melakukan cara apapun untuk mencapai keinginannya, termasuk dengan cara menipu. (Terdapat dalam Geguritan I Belog dan Satua I Belog Mantu).
7.2 Saran
Penelitian ini terbatas pada analisis terhadap tokoh I Belog, sehingga perlu juga diadakan penelitian lanjutan terhadap karya-karya Bali tradisional dari berbagai pendekatn yang nantinya bisa bermanfaat secara optimal untuk kemajuan penelitian sastra Bali, di masa yang akan datang. Mudah-mudahan dengan adanya penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu sastra.











DAFTAR PUSTAKA


Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru Offset.

Agastia, Ida Bagus Gede.1980. ’Geguritan Sebuah Bentuk Karya Sastra Bali’. (Makalah untuk Sarasehan Sastra Daerah Pesta Kesenian Bali II di Denpasar).

Alwi, Hasan. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arikuntoro, Suharsimi Ny Drs. 1989. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : PT Bina Aksara.

Atmaja, J. 1980. Kebudayaan Bali dalam Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Koentjaraningrat (ed). Penerbit Djabatan.

Bagus, I Gusti Ngurah. 1991. Fungsi Nilai Sosial geguritan Dalam Masyarakat Bali. Denpasar: Universitas Udayana.

Brahim. 1969. Drama dalam Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.

Budiono. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung.

Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Depdikbud.

Danandjaja, James. 1984. Folklore Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta: PT Grafiti Pers.

Darmiati, Ni Kadek. 2010. ’Geguritan Wirotama: Analisis Struktur dan Fungsi’. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta.

Esten, Mursal. 1984. Kritik Sastra Indonesia. Padang : Angkasa Raya.
___________. 1987. Kesusastraan Pengantar teori dan Sejarah. Bandung : Angkasa.
Fokkema, D. W. dan Eldrud Kunne-Ibsch. 1998. Teori Sastra Abad Keduapuluh. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Gautama, Wayan Budha. 2007. Kesusastraan Bali Cakepan Panuntun Mlajahin Kesusastraan Bali. Surabaya: Paramita.

Granoka, Ida Wayan Oka. 1981. ’Dasar-dasar Analisis Aspek Bentuk Sastra Paletan Tembang’. Denpasar : Jurusan Bahasa dan Sastra Bali, Fakultas Sastra, Universitas Udayana.

Hadi, Sutrisno. 1982. Metodologi Research. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.

Hadriyani, Tjiok Istri Putra. 1984. ’Peranan Nilai-nilai Satua Bali dalam Pendidikan Sekolah Dasar di Bali’. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Hutagalung. 1967. Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis. Jakarta: PT Gunung Agung.

Junus, Umar. 1985. Resepsi Sastra: Sebuah Pengantar. Jakarta: PT Gramedia.

Koentjaraningrat, 1977. Bunga Rampai Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Luxemburg, Jan Van, Mieke Bal dan Willem G. Weststeijn. 1984. Pengantar Ilmu Sastra. (Edisi Terjemahan oleh Dick Hartoko). Jakarta: PT Gramedia.

Mardalis. 1995. Metode Penelitian (Suatu Pendekatan Proposal). Jakarta: Bumi Aksara.

Mardiwarsito, L. 1981. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. Jakarta: Nusa Indah.

Naryana, Ida Bagus Udara, Ida Bagus Mayan dan I Wayan Rupa. 1993. ’Kajian Nilai dan Terjemahan Geguritan Cupak Gerantang’. Denpasar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Balai Tradisional Bagian Proyek Penelitian, Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya Bali.

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradotokusumo, Partini Sardjono. 2005. Pengkajian Sastra. Jakarta: PT. Gremedia Pustaka Utama.

Purwadarminta, W. J. S. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rupini, Ni Made Ayu. 2008.’ Geguritan Rajendra Prasad: Analisis Struktur dan Nilai’ (Skripsi Sarjana). Denpasar: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Sancaya, I Dewa Gede Windhu. 1988. ‘Sekali Lagi Tentang Geguritan’ dalam Majalah Widya Pustaka Tahun V Nomor 3. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Saputra, Karsono H. 1992. Pengantar Sekar Macepat. Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Semi, Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.


Simpen, I Wayan. 1990. Basita Paribasa. Denpasar: Upada Sastra.

Slamet,st, y. 2007. Dasar-dasar Ketrampilan Berbahasa Indonesia. Surakarta: UNS Press.

Suasta, Ida Bagus Made. 2006. Berpidato dengan Bahasa Bali. Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Sudarsih, Ni Gusti Putu Manik. 1995. ’Penokohan dan Amanant Geguritan Dukuh Kawi. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sudjiman, Panuti. 1990. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: PT Gramedia.

Sukada, I Made. 1982. Masalah Sistematika Analisis Cipta Sastra. Yayasan Ilmu dan Seni Lembaga Seniman Indonesia Bali. Cetakan ke-2. Denpasar: Gema.

____________ 1993 Pembinaan Kritik Sastra Indonesia Masalah Sistematika Analisis Struktur Fiksi. Bandung: Angkasa.

Surakhmad, M. Sc. Ed, Prof. Dr. Winarno. 1982. Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik. Bandung : Tarsito.

Suparsa, I Nyoman. 1992. ’Tipe-tipe Satua I Belog: Kajian Nilai serta Fungsinya dalam Masyarakat Bali’. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
__________________. 1985. Pengajaran Gaya Bahasa Bandung: Angkasa.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
______________ 1983. Membaca dan Menulis Sastra. Jakarta: PT Gramedia.

Tim Penyusun. 2008. Buku Panduan Penulisan Usulan Penelitian dan Skripsi. Denpasar: Program Sarjana Strata Satu Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Tim Penyusun Kamus Bali-Indonesia. 1991. Kamus Bali-Indonesia. Denpasar : Dinas Pengajaran Propinsi Daerah Tingkat I Bali.

_______________ 2008. Kamus Bali-Indonesia Beraksara Latin dan Bali. Denpasar: Badan Pembina, Aksara, dan Sastra Bali Provinsi Bali.

Tinggen, I Nengah.1982. Aneka Sari . Singaraja: Rhika Dewata.

______________ 1988. Aneka Rupa Paribasa Bali. Singaraja: Rhika Dewata.

Triyono, Adi. 1994. Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Penelitian Sastra Dalam Teori Penelitian Sastra oleh Staf Pengajar UGM dkk. Yogyakarta.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. (Edisi terjemahan oleh Melani Budianta). Jakarta: Gramedia.

Wisnu, I Wayan Gede. 2001. ’Geguritan Dharma Shanti Adnyana Kajian Struktur dan Semiotik’. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar