Om Swastyastu

Swasti Prapta ring blog titiange, dumogi wenten kawigunannyane. Suksma. "Om Shantih, Shantih, Shantih, Om


Senin, 09 Mei 2011

Kidung Madya Muter

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Bali memiliki berbagai corak khasanah kesusastraan yang wujudnya beraneka ragam. Ada dalam bentuk sastra lisan dan sastra tulis yang antara lain ada di antaranya karya yang bermutu. Sehingga karya sastra tersebut perlu diketahui oleh berbagai pihak secara luas dalam masyarakat Bali.
Berkaitan dengan keberadaan karya sastra di Bali seperti diuraikan di atas, maka sewajarnyalah upaya pembinaan dan pelestarian kebudayaan Bali sebagai salah satu usaha mempertahankan dan mengembangkan identitas Bali sebagai salah satu sisi sosial budaya yang sampai saat ini masih menjadi tumpuan dalam proses modernisasi. Oleh karena itu, tercatat sejak Pelita II 1970-an pemerintah mulai lebih memperhatikan kajian aspek sosial budaya daerah melalui berbagai jaringan yang memungkinkan. Sosial budaya Bali dapat dikaji melalui Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Universitas Udayana, dan sebagainya. Salah satu karya sastra yang dianggap rumit oleh masyarakat adalah kidung Kidung Madya Muter dari Padma Angalayang Berdaun 16.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut diatas, maka dapat kami uraikan rumusan masalah sebagai berikut :
1) Bagaimana lambang daripada teks dalam kidung Madia Muter ?
2) Bagaimana cara-cara membaca daripada teks dalam kidung Madia Muter ?
3) Bagaimana transkripsi dan terjemahan kidung Madia Muter ?

1.3 Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Paper ini bertujuan mengungkapkan nilai-nilai budaya Bali yang terkandung
di dalamnya dengan memantapkan pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus penellitian ini bertujuan untuk :
1) Mengetahui lambang, bentuk, dan sruktur Kidung Madya Muter.
2) Mengetahui cara membaca Kidung Madya Muter.
3) Menambah pengetahuan mengenai terjemahan Kidung Madya Muter.
4) Melengkapi tugas semester matakuliah Pengantar Sejarah Bali.

1.4 Metode Penulisan
Dalam paper ini penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam arti mencari data dari berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan topik penulisan, buku yang dipergunakan adalah buku yang sah dan tidak dilarang peredarannya.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anak Agung Istri Biang Agung Sebagai Pencipta Kidung Madya Muter
Anak Agung Istri Biang Agung adalah seorang pengawi yang berhasil menciptakan karya spektakuler yaitu kidung Madya Muter. Kidung ini beliau buat sebagai landasan dasar atau utama dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhan pujaannya. Guna mendukung ide yang berorientasi pada tujuan mistik dan jalan keindahan seperti telah diuraikan di depan, maka pengarang menggunakan bentuk syair kidung dan macapat. Kedua bentuk syair ini dilihat oleh sistem persajakan, jumlah suku kata dalam tiap baris dan tiap baris dalam setiap bait yang semua hal ini diistilahkan pada lingga dalam sastra tradisional di Bali.
Keberhasilan serta kompleksitas ide seperti itu rupanya menghendaki pengarang agar mengindahkan lambang lainnya untuk keserasian, antara lain memunculkan bentuk hiasan gambar yang melambangkan dua konsep dasar, yaitu konsep keindahan dan konsep kesucian. Sehubungan dengan hal tersebut, kemampuan pengarang tidak diragukan lagi karena telah berhasil merakit kedua konsep secara cermat dan padu sehingga melahirkan karya sastra yang bermutu tinggi.
Hiasan gambar dalam sastra yatra Anak Agung Istri Biang Agung tampak serasi dan tersusun rapi. Pada gambar pertama digambarkan lambanng sebuah ilustrasi berwujud seorang dewi dengan tangan kiri menggenggam sekuntum bunga pudak (pandanus moscha) yang sedang mekar. Dewi itu berdiri tegak dan kedua kakinya tepat menginjak sari bunga teratai.
Gambar seorang di lembar pertama (bagian luar kulit karyanya) betul-betul berperan sebagai ilustrasi lepas yang secara jelas tampak tanpa teks. Akan tetapi, barangkali gambar ini merupakan kristalisasi atas seluruh ide pengarang yang tertuang dalam gambar-gambar berikutnya. Untuk memahami lebih tuntas dan menyeluruh atas sesuatu yang tersurat dan tersirat di dalam karya sastra ini, maka sangat diperlukan penafsiran-penafsiran khusus berdasarkan studi tertentu, antara lain melalui studi perbandingan.
Sub judul di atas mengisyaratkan bahwa pokok bahasan bagian ini adalah lambang yang dibentuk sedemikian rupa sehingga wacana dalm komposisi bait dalam kidung bait macepat dapat digelar secara sanrat mudah yang mewarnai ciri khas identitas karya sastra ini. Perpaduan berbagai sistem lambanng bahasa (dengan permainan bunyi), sistem aksara (permainan suku kata), sistem gambar (dengan permainan garis, kontar, komposisi, dan pola) menambah pesona yang menakjubkan penikmat seni sastra.
Media gambar yang terdapat di dalam karya sastra ini terdapat lima macam lambang, yaitu bulan, bungapadma, burung merak, burung pungguk, dan bunga pundak. Jumlah gambar yang berteks sebanyak 59 buah dan angka ini menunjukkan jumlah bait syair kidung serta macepat. Dengan demikian, setidak-tidaknya terdapat lima macam wadah untuk menampung wujud syair dengan pola pupuh yang menggunakan lingsa berbeda sesuai dengan karakteristik bentuknya masing-masing. Karena pada lingsa menuntut corak tertentu di dalam sebuah bait syair, maka hal ini mengakibatkan bentuk gambar lambanng bervariasi sesuai dengan karakteristik pupuh yang dituangkan di dalam gambar tersebut.
Pemakaian gambar padma paling banyak dan banyak pula jumlah bilit yang tertuang di dalam gambar padma itu. Oleh karena it, wajar pula gambar padma yang paling berkembang wujud variasinya karena pengaruh berbagai faktor jenis pupuh yang diwadahinya. Variasi padma yang dimaksud terdapat dalam tipe daunnya, corakm susunannya berlapis-lapis, dan kombinasinya dengan gambar lambang lain seperti tampak pada perpaduan gambar lambang padam dalam lingkaran bulan.
Penembangan variasi bentuk dengan pola susunan daun seperti itu, antara lain disebabkan oleh faktor tuntutan pada lingsa dalam sebuah pupuh, baik yang terdapat di dalam syair kidung maupun yang terdapat di dalam syair macepat. Jumlah baris dalam setiap baitnya tampak jelas mengisi bagian gambar, berupa bilah (helai), daun bunga padma, dan helai bulu ekor pada burung. Begitu pula pada bagian lainnya.
Pemuatan aksara dengan sistem suku kata menggunakan alur melingkar yang berpusat di tengah-tengah. Pada bunga padma tampak pemuatan aksara dituangkan dalam bentuk lingkaran penuh dan bagian sarinya berpusat di tengahnya. Pada bagian sari ini hanya diisi satu huruf yang menyatakan sebuah suku kata, sedangkan pada bilah daun bunga tampak bervariasi sesuai dengan tuntutan baris dan tuntutan sejenisnya dalam sebuah bangun syair. Sebuah huruf yang terletak di tengah-tengah (pada bagian sari padma) mampu bermultiperan. Maksudnya, huruf itu selalu digunakan sebagai suku kata awal setiap kata dalam baris yang terdapat pada sebuah pupuh bersangkutan. Di samping itu, kemultiperanan huruf itu tampak pula dalam gambar burung, yaitu berperan sama seperti di atas selain ada yang berperan suku akhir setiap pupuh.






2.2 Gambar Kidung Madya Muter
Kidung Madya Muter dari Padma Angalayang Berdaun 16








2.3 Cara Membaca Kidung Madya Muter

2.2.1. Aksara Bali


  
  


 








2.2.2. Huruf Latin
Ja ri ayun ta
Jaya-jaya ujar ikang saro
Jatmika kayoja ring wong angujaraken rasmi
Jaya ring gale Jaya ring lambang
Jaya ri kidung janakula
Kajatin lwir saro
Ja ri tengahing jala dityaning
Jaga punang jahloka
Sapraja sama amuja


2.4 Terjemahan Kidung Madya Muter dalam Bahasa Indonesia
Seperti yang sudah berlalu
Niat yang tulus yang dikatakan indah
Bahasa sebagai senjata penakluk
Diperoleh dari keindahan dan diperoleh dari aksara
Diperoleh dari kidung janakula
Tau akan seluruh isi bahasa
Yang berada pada tengah air
Terletak di bumi
Yang dipuja oleh orang sedunia

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
. Dari uraian penjelasan penulis di depan dapat disimpulkan bahwa karya sastra ini tergolong sangat langka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa walaupun telah ada tradisi pada zaman dahulu, namun kenyataannya karya sastra ini merupakan karya sastra asli yang terletak pada kemampuan pengarang (penyair) untuk memadukan kemaknaan gambar (lambang) dan sketsa yang dihayati secara usual dan keputusannya yang halus melalui permainan sajak (kata-kata) yang dapat disimak melalui pendengaran karena dinyanyikan. Anak Agung Istri Biang Agung adalah seorang pengawi yang berhasil menciptakan karya spektakuler yaitu kidung Madya Muter. Kidung ini beliau buat sebagai landasan dasar atau utama dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhan pujaannya. Guna mendukung ide yang berorientasi pada tujuan mistik dan jalan keindahan seperti telah diuraikan di depan, maka pengarang menggunakan bentuk syair kidung dan macapat. Kedua bentuk syair ini dilihat oleh sistem persajakan, jumlah suku kata dalam tiap baris dan tiap baris dalam setiap bait yang semua hal ini diistilahkan pada lingga dalam sastra tradisional di Bali

3.2 Saran
Melalui karya sastra ini diharapkan pesan dan amanat budaya Bali yang terkandung di dalamnya bisa disebarluaskan untuk diketahui oleh semua pihak secara meluas di masyarakat Bali. Berkaitan dengan itu maka sewajarnyalah upaya pembinaan dan pelestarian kebudayaan Bali sebagai salah satu usaha mempertahankan dan mengembangkan identitas Bali dari sisi sosial budaya yang sampai saat ini masih menjadi tumpuan dalam proses modernisasi.




















DAFTAR PUSTAKA

Oka Granoka, Ida Wayan, dkk.. 1989. Sastra Yatra Karya Anak Agung Istri Biang Agung. Denpasar: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Bali Direktorat Jendral Kebudayaan Depdikbud

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar