Om Suastiastu

Swasti Prapta ring blog titiange, dumogi wenten kawigunannyane. Suksma. "Om Shantih, Shantih, Shantih, Om

Minggu, 08 Mei 2011

Satua Bali, Legenda Bali, dan Sesapan atau saa

BAB III
INVENTARISASI FOLKLORE

3.1 Pengertian Folklore
Folklore berasal dari kata Folk dan Lore. Folk yang sama artinya dengan kata kolektif (collectivity). Menurut Alan Dundes, folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antara lain dapat berwujud warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun, setidaknya dua generasi, yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Disamping itu, yang paling penting adalah bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka sendiri (Dundes, 1965: 2; 1977: 17-35; 1978: 7). Jadi folk adalah sinonim dengan kolektif, yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat.
Sedangkan yang dimaksud dengan lore adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).
Jadi definisi folklor secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).
Bentuk-bentuk folklor di Indonesia ada dua yaitu; Folklor Lisan dan Folklor sebagian Lisan. Adapun beberapa contoh folklor lisan di Indonesia antara lain:
1. Bahasa Rakyat
2. Ungkapan Tradisional
3. Pertanyaan Tradisional
4. Sajak dan Puisi rakyat
5. Cerita Prosa Rakyat diantaranya adalah;
a. Mite
b. Legenda
c. Dongeng
6. Nyanyian Rakyat (Foklsongs)
Adapun beberapa contoh Folklor Sebagian Lisan di Indonesia antara lain:
1. Kepercayaan Rakyat
2. Permainan Rakyat.
Menurut Danandjaja yang dimaksud dengan folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device) (1984: 2).
Ciri-ciri pengenal utama folklor pada umumnya menurut (Danandjaja,1984: 3) dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Penyebarannya dan pewarisnya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat, dan alat pembantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya.
2. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi).
3. Folklor ada (exist) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation), folklor dengan mudah dapat mengalami perubahan. Walaupun demikian perbedaanya hanya terletak pada bagian luarnya saja, sedangkan bentuk dasarnya dapat tetap bertahan.
4. Folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
5. Folklor biasanya mempunyai bentu berumus atau berpola, misalnya selalu mempergunakan kata-kata klise, ungkapan-ungkapan tradisional, ulangan-ulangan, dan kalimat-kalimat atau kata-kata pembukaan dan penutup yang baku.
6. Folklor mempunyai kegunaan (function) dalam kehidupan bersama suatu kolektif. Cerita rakyat misalnya mempunyai kegunaan sebagai alat pendidikan, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
7. Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuia dengan logika umum. Ciri pengenal itu terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
8. Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
9. Folklor pada umumnya bersifat polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.
Berdasarkan pemaparan diatas mengenai ciri-ciri folklor, dapat dikatakan bahwa sastra lisan merupakan bagian dari folklor. Sastra lisan yang terdapat di Bali selalu identik dengan cerita prosa rakyat. Bali memiliki keanekaragaman cerita prosa rakyat sesuai dengan daerah-daerah yang ada di Bali.
3.2 Sastra Lisan
3.2.1 Mite
3.2.1.1 Pengertian Mite
Mite merupakan salah satu jenis sastra lisan. mite menurut Bascom mempunyai pengertian cerita yang mengisahkan terjadinya alam semesta, dunia, manusia pertama, terjadinya maut, bentuk khas binatang, bentuk topografi, gejala alam, dan sebagainya. Mite juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, hubungan kekerabatan mereka, kisah perang mereka, dan sebagainya (Danandjaja, 1984: 51).
Mite yang ada di Indonesia biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (cosmogony); terjadinya susunan para dewa; dunia dewata (pantheon); terjadinya manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan (culture hero); terjadinya makanan pokok, seperti beras dan sebagainya. Untuk pertama kali (Danandjaja, 1984: 52).

3.2.1.2 Inventarisasi Mite di Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem

MITOS ACI DALEM
Upacara Aci Dalem, panyepian istilahne, ten dados makaryanan, magetih-getih.
Informan : Gusti Made Padang
Alamat : Kelurahan Padang Kerta

Terjemahan :
Upacara Aci Dalem, istilahnya penyepian, tidak boleh bekerja dan memotong hewan.


MITOS DI KELURAHAN PADANGKERTA
Ten dadi negakin galeng.
Terjemahan :
Tidak boleh menduduki bantal.
Ten dados nyuun pabuan nyanan gundul.
Terjemahan :
Tidak boleh menjunjung cerana nanti gundul.
Ten dadi negakin lidi nyanan cenik panake
Terjemahan :
Tidak boleh menduduki lidi, nanti anaknya kecil.
Informan : Gusti Made Padang
Alamat : Kelurahan Padang Kerta

MITOS SANG HYANG SAAB
Ada satua Sang Hyang Saab lagi. Sang Hyang Saab itu sampai sekarang tidak bisa dilakukan, tidak pernah dilakukan karena sangat keramatnya. Saab itu keben, keben itu tudung, tudung saji, bisa tudung saji bisa juga tudung bambu. Jadi yang dilakukan oleh seorang putri kembar yang masih anak-anak yang belum mengenal akil balik. Itu diperankan setelah menari, sampai setelah terbang, akhirnya lewat batas dan tidak kembali. Setelah itu ada. Setelah dari hal seperti itu, orang takut menarikan tari Sang Hyang itu.
Informan : I Wayan Terang Purwaka
Alamat : Desa Bugbug
Terjemahan :
Wenten malih satua Sang Hyang Saab. Sang Hyang Saab punika ngantos mangkin nenten dados kalaksanayang, nenten naenin kamargiang mawinan banget tengete. Saab punika keben, keben punika tudung, tudung saji, dados tudung saji, dados tudung bambu taler. Punika kaigelang olih anak istri kembar sane kantun alit tur durung munggah daa. Punika kalaksanayang wusan ngigel, ngantos wusan makeber, pamuputne ngalintangin wates tur nenten prasida mawali. Wusan punika, anake jejeh ngigelang Sang Hyang punika.

Mitos Sandikala
Kalau sudah tengai tepet kita masih juga melakukan aktifitas dan sebagainya, tentu akan ada akibat-akibat yang tidak baik. Sandikala, jadi antara siang menjadi malam. Sandi itu berarti keramat, kala itu waktu. Jadi waktu yang paling keramat akan perubahan siang menjadi malam. Kita tidak diperbolehkan melakukan aktifitas, sebaiknya berdiam dan merenungkan untuk perubahan siang ke malam, dari ingat ke lupa, dari terjaga akan ke tidur.
Informan : I Wayan Terang Purwaka
Alamat : Desa Bugbug
Terjemahan :
yening sampun tengai tepet, iraga kantun malaksanayang pakaryan miwah sanae lianan, pastika jagi ngemetuang ala. sandikala punika galahe ngusan tengai sadurung wengi. sandi inggih punika pingit, kala punika galah. punika galah sane pinih tenget ring tengahing tengai lan wengi. iraga nenten dados ngelaksanayang pakaryan, becikne meneng ring genah soang-soang lan meminehang raga antuk tengai sane dados wengi, saking inget ka lali, lan saking bangun ka sirep.
Mitos I Tundung
keyakinan sampai sekarang, kalau menemui ular besar di daerah Bukit ini, adalah dengan memanggil nama I Tundung. Kalau dia akan mencederai warga dia akan melapor kepada Jero Bendesa. Dengan demikian, setiap warga yang digigit ular di sekitar sini, di sekitar ini dibawa saja ke rumahnya Jero Bendesa, dia sembuh.
Informan : I Wayan Terang Purwaka
Alamat : Desa Bugbug
Terjemahan :
kantun ngantos mangkin, yening nyingak lelipi ring Bukite puniki, inggih punika nyeritin adan I Tundung. Yening ia jagi ngutil utawi nyotot, ia jagi nganikain Jero bendesa. Punika mawinan, yening wenten anake sane cotot lelipi iriki, bakta manten ka jerone Jero Bendesa, pastika ia kenak.

MITOS DI KELURAHAN SUBAGAN

Driki mulailah mangkin sangkep, nanti sore, yen desa nah driki wenten duang sangkepan, sangkepan truna, sangkepan desa. Sangkepan truna purnama pas niki, kenten...Sangkepan desa benjangne, sehari setelah purnama kecuali ada hal-hal tertentu mungkin ada malang kadat artinya mundur, nah kenten...Nah itu sehari mangkin sangkep nggih dan biasanya kita sangkep ini jam 12 siang, mulai sampun masuara tenggeran jam 1 mungkin baru mulai anak mategen niki kantun macecapah kenten istilahnya banyak artinya macecapah, maturan dumun maturan panguningan, kemudian ampun maturan panguningan niki macecapah artinya semua krama harus macapah niki ken anun asaban cenana, masegau, niki nak macapah tampul kenten. Semua tampul bale agung punika maketokin, tug-tug-tug-tug (munyin kentongan)... capah artinya disana wenten siap saya makta banten pasayan, punika mpun.. madaging asaban cenana, sedah ampun kenten porosan nika istilahne ngih.. ampun kenten segau, sekar kenten porosanne lengkap kayang napi wastanne buah.. nah nika wusan sangkep jagi jam 1 mulai, jam 3 paling cepat sampun selesai. sakadi mangkin-mangkin kadang-kadang sampai jam setengah 4 kadung maan berdiskusinya hangat sampai jam 4 kadang-kadang payah punika.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan
Terjemahan :
Sekarang dimulailah rapat, nanti sore, kalau di desa ini ada dua jenis rapat yaitu rapat pemuda dan rapat desa. Rapat pemuda waktu purnama ini begitu. Rapat desa besoknya setelah purnama kecuali ada halangan hal-hal tertentu mungkin ada malang kadat artinya mundur. Nah satu hari sekarang rapat, biasanya rapat jam 12 siang, dimulai dengan membunyikan tenggeran jam 1 mungkin baru mulai anak digendong. Ini juga masih macecapah begitu istilahnya...Banyak artinya macecapah, menghaturkan pemberitahuan terlebih dahulu, kemudian setelah menghaturkan pemberitahuan ini macecapah artinya semua krama harus macapah menggunakan air gosokan kayu cendana, menghidupkan kemenyan, ini yang namanya macapah tampul begitu. Semua tampul bale agung itu dipukul, tug-tug-tug-tug (bunyi kentongan)...Capah artinya disana ada yang membawa banten pasayan, itu berisi air gosokan kayu cendana, sedah, kemudian porosan, begitu istilahnya. Setelah itu segau, bunga, porosan lengkap dengan pinangnya. Nah, jika rapat dimulai jam 1 paling cepat jam 3 selesai. Seperti sekarang jam setengah 4 kalau sudah dapat berdiskusi hangat sampai jam 4 sudah terasa lelah.


MITOS TIDAK BOLEH KELUAR
PADA SORE HARI DAN SIANG HARI
Mungkin di tempat lain sama. Kalo sandikala, nah sandi kala...ten dadi nak ka margane apalagi ngajak anak . Katakan nyen nanti nah Bhuta Kala lah istilahnya. Sandikala, tengai tepet, tengai tepet niki kan, yang mana bernama tengai tepet, ya nika jam 12, siang nika ten anu biasanya berani keluar.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Mungkin di tempat lain sama. Kalau menjelang sore, tidak boleh ke jalan apalagi mengajak anak. Katakanlah karena ada Bhuta Kala. Menjelang sore, puncak siang hari yang mana bernama tengai tepet biasanya jam 12 siang. Pada jam tersebut biasanya tidak berani keluar.

MITOS TIDAK BOLEH MENGAJAK ANAK KECIL
PADA PETIRTAAN DI PURA DALEM
Yang berhubungan dengan itu dulu, ke Dalem...Nah, Pura Dalem ini kalo odalan di Pura Dalem, petirtaan ring Pura Dalem, niki ten purun ngajak rare. Bukan ten dados...bisa sich bisa, silakan. Tapi sementara ten purun. Nah mawinan katanya kalo menjelang dekat-dekat Ngusaba Dalem, itu orang-orang yang mempelajari ilmu hitam itu akan mencari tumbal anak-anak. Makane yen driki sampun Ngusaba Dalem, ten purun napi istilahne kenten, apa namanya biyit begitu.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Kalau ada piodalan di Pura Dalem, biasanya tidak mau mengajak anak kecil. Bukannya tidak diperbolehkan tetapi bisa saja. Nah karena katanya menjelang dekat-dekat Ngusaba Dalem itu orang-orang yang mempelajari ilmu hitam akan mencari tumbal anak-anak. Makanya kalau di sini sudah Ngusaba Dalem, tidak mau mengajak anak kecil, istilahnya biyit.
MITOS
NGEMPET RON BUSUNG
Nguneb lawangan niki ten dados selama antara 13, 14 hari dari purnama benjangne punika, mangkin purnama. benjangne kantun H-1 pangaji Dalem niki ten dados maron busung. Ngempet ron busung wastane. Wenten ngempet ron busung adane driki. Ten dados maron busung dalam artian ten dados ngastiti Ida nganggen upakara, sarana upakara santukan sakadi nak lingsir ngandikayang santukan jaga partirtaan Ida Bhatara Gede ring Dalem. Ida puniki sedek ngamargiang yoga samadi, tan dados ganggu beliau niki. Yan jaga ngastiti ida dados... nangging sarengin nganggen acep yoga samadi dadosne ngranasika sapunika, ten dados nganggen napi-napi.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Nguneb lawangan ini tidak boleh dilakukan selama antara 13, 14 hari dari purnama hingga keesokan harinya. Sekarang purnama, keesokan harinya masih sehari sebelum pangaji Dalem ini tidak boleh maron busung. Ngempet ron busung namanya. Ada yang dinamakan ngempet ron busung di sini. Tidak boleh maron busung artinya tidak boleh memuja beliau dengan menggunakan sarana upakara karena seperti orang tua mengatakan karena ada patirtaan Ida Bhatara Gede di Dalem. Beliau ini sedang melakukan yoga samadhi sehingga tidak boleh diganggu. Kalau ingin memuja beliau itu boleh asalkan juga ikut melakukan yoga samadhi, tidak diperbolehkan menggunakan sarana upakara.

Mitos Desa Kalanganyar
Ada seperti Kalanganyar itu sebenarnya itu bukan Kalanganyar, Karanganyar. Karang Baru. Makanya disana kalau sekarang dia membentuk tari-tarian disana asal baru sudah ngetop gitu. Tapi ada yang nyaingi membuat dia kalah gitu. Kalanganyar.
Informan : I Wayan Putra
Alamat : Br. Pesiatin Kaler, Desa Sraya Barat

MITOS
NGEMPET RAH-RAH
Menjelang kawulu niki wenten Ngempet rah-rah. Ngempet rah-rah artinya ten dados magetih-getih driki kenten...di wilayah Subagan niki. Dalam artian ten ja magetih-getih, yan nadabang getih dados.. Memotong wewalungan ten dados, pokoknya mencecerkan darah segar di lingkungan tidak bisa. Nah sapuniki, menjelang kawulu tiang driki di Tilem kawulu pas niki tiang ngamargiang sane mawasta Tawur Sasih Kawulu, macaru... Tawur nika kan caru nggih, nyarunin sasih. Nah niki nyomya Bhuta Kala kenten. Nyomya niki kan menganukan Bhuta Kala puniki mangda malinggih ring dija genahe malinggih patut parhyangan idane. Mangda sampunang berkeliaran. Nah niki ten dados ma‘Rah-rahan’.
Nah kalau darah ini kan memang makanan Kala yang paling disukai apalagi niki darah manusia kan gitu... Niki kalau sampai ada darah manusia artinya bunuan itu kan. Sudah Kala...bihhhhhh...anu sekali itu...Berarti ini kemenangan Kala itu menang sekali. Makanya kita hindari, makanya kita berikanlah pas di hari Tilem nika Tilem Kawulu. Nah niki tiang wau makenten, udah bisa mapotongan driki. Niki ditandai dengan memotong banteng, sapi, banteng-banteng cula...sapi yang sudah magetok artinya dikebiri. Nika mapandek niki dalam satu. Kalau dumun wenten punyan cemara ring jaban Bale Agunge nika, mangkin sampun ical cemarane punika, kantun muncukne manten nika mataneman, nganti mapandek sapine niki. Gininya magolohin bedik. Nah niki maanu dengan blakas sudamala, ditebas maksudnya. Sudah ada lobang sedikit baru pakai bambu runcing. Nika maangge mangda nika dapat cecetan Bhuta Kala-Bhuta Kala dapat labaan.
Pada sore harinya nika maturan tiap-tiap jero, napi di sanggah, kemulan, bale agung, semua ada maturan driki. Nanti pada saat anu nglungsur niki, niki makumpulang di jalan itu kenten...magaenang genah cara lapang kenten niki, nyanan bakar di jalan-jalan nika semua. Tapi pusatnya driki di paneduan di Catus Pata. Banteng taler carune kenten...kawulu nika, nika sampine maanggon, sane matampah i tuni semengan drika. Malih isine kari kerangkane nika napi membayang-bayang istilahne. Bah sampine semengan nika nyabung ampun anak-anak...Ane madan nyabung niki, begitu rebah sapi, anak-anak niki lari ke jalan. Asal diketemukan ayam napi siap nika maambil nika maempos, maprepetan getih punika di jalan-jalan. Wenten be baktana nyen nika maserahang ka desa, ayame nika, tur polih sebagai imbalannya diberikan anak-anak sekedar uang beliin es istilahnya nika...
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan.

Terjemahan :
Menjelang bulan Bali kedelapan (jatuh pada bulan Pebruari) diadakan Ngempet rah-rah. Ngempet rah-rah artinya tidak boleh berlumuran darah di sini begitu...di wilayah Subagan ini. Dalam artian bukannya mencecerkan darah, kalau mempersiapkan darah itu boleh..Memotong ternak tidak boleh, pokoknya mencecerkan darah segar di lingkungan tidak bisa. Nah begini, menjelang bulan Bali kedelapan yang jatuh pada bulan Pebruari ini tepatnya Tilem kawulu beberapa waktu yang lalu, saya melaksanakan Tawur Sasih Kawulu, macaru...Tawur ini kan caru ya...mempersembahkan caru. Nah tujuannya untuk menetralisir Bhuta Kala begitu. Nyomya ini maksudnya agar Bhuta Kala berkenan menempati tempatnya masing-masing. Supaya tidak berkeliaran. Nah, ini tidak boleh ma‘Rah-rahan.’
Nah kalau darah ini kan memang makanan Bhuta Kala yang paling disukai apalagi bila darah manusia. Ini kalau sampai ada darah manusia artinya kotor itu kan. Sudah Kala...bihhhhhh...anu sekali itu. Berarti ini kemenangan dari Bhuta Kala. Makanya kita hindari sehingga kita berikan tepat di hari Tilem yaitu Tilem Kawulu. Nah, waktu ini saya sudah bisa menyembelih di sini. Ini ditandai dengan memotong banteng, sapi, banteng-banteng cula...sapi yang sudah dikebiri. Ini mapandek dalam satu. Kalau dulu ada pohon cemara di halaman luar Bale Agung itu, sekarang sudah tidak ada pohon cemara itu, yang ada hanya ujungnya saja sehingga itu yang ditanam, sampai mapandek sapi tersebut. Dilonggarkan sedikit. Nah ini yang ditebas dengan menggunakan blakas sudamala. Bila sudah ada lobangnya barulah menggunakan bambu runcing. Itu yang dipakai agar Bhuta Kala-Bhuta Kala mendapatkan ceceran darah sebagai makanannya.
Pada sore harinya itu menghaturkan sesajen di tiap-tiap jero, baik di sanggah, kemulan, bale agung, semuanya menghaturkan sesajen di sini. Nanti pada saat nglungsur ini, semuanya dikumpulkan di jalan itu begitu...Tapi pusatnya ini di paneduan Catus Pata. Banteng dan persembahan caru tersebut. Kawulu itu...yang digunakan adalah sapi yang pada waktu pagi harinya sudah disembelih. Kemudian isi dan kerangkanya, masih membayang-bayang istilahnya. Bila sapi itu sudah rebah, anak-anak pun mulai nyabung. Yang disebut nyabung adalah begitu sapi itu rebah, anak-anak pun berlarian di jalan. Asal diketemukan ayam, maka akan diambil dan disembelih kemudian darahnya dicecerkan di jalan-jalan. Bila ada daging akan segera dibawa dan diserahkan ke desa, ayam-ayam tersebut...dan sebagai imbalannya maka anak-anak akan diberikan uang sekedarnya untuk membeli es, begitu istilahnya...

Tradisi Macaru
Ring Asak wenten tradisi macaru ring sasih kawulu tradisi nika banteng dan sapi dilepas selanjutnya dikejar oleh teruna terus disepek atau diikat, sebelum di lepas banteng tersebut diarak mengintari desa 3x baru dilepas. Salah satu budaya unik adalah dahulu di Timbrah wenten tradisi Gebug Gende satu-satunya gebug di Karangasem yang berhadapan antara Seraya.
Informan : Gede Sudiana
Alamat : Br. Asak Kawan, Desa Pretima


MITOS NENTEN DADOS NELUSUK BANTENG
Begitu ngraosang jagi Ngusaba Dalem, cara tunian jaga ngempet don busung teler makerabang niki mauman di sangkepan. Semeton krama ngawit saking mangkin dados nelusuk banteng. Maksudnya kan kalau ditelusuk paling karena terbatas ada sapi, cara mangkin kan gampang cari godel, tetep itu dilaksanakan. Dan kalau ada yang nelusuk banteng, purun nusuk banteng pada saat-saat itu ten ikuh nika. Artinya dia beternak nika tidak akan berhasil.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Begitu ada pembicaraan bahwa akan mengadakan Ngusaba Dalem, seperti yang dikatakan tadi bila akan mengadakan ngempet don busung, juga disiarkan dan diberitahukan di tempat rapat. Masyarakat dimulai dari sekarang diperbolehkan menusuk banteng. Maksudnya kan kalau ditelusuk itu disebakan karena terbatasnya jumlah sapi, seperti halnya sekarang itu kan mudah untuk mencari anak sapi sehingga itu tetap dilaksanakan. Dan kalau ada yang nelusuk banteng pada saat-saat itu biasanya tidak menghasilkan apa-apa. Artinya bila dia beternak maka tidak akan berhasil.




MITOS MATUUN TRUNA
Matuun truna artinya matruna desa. Yang laki cara tiang punya anak laki, yen sampun pantes matruna ngayah matruna niki mapadik, mangda tedun truna. Malih 1 tahun yang akan datang, sasih yang akan datang, tedun matruna kenten... Niki peresmian istilahnya nika. Nah, pada saat itu nganggen bawi asiki. Banteng adatangan niki maulam bawi.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Matuun truna artinya matruna desa. Yang laki-laki, seperti halnya saya yang memiliki anak laki-laki, kalau sudah pantas untuk ikut berpartisipasi dalam organisasi pemuda, maka dia akan diminta supaya mau ikut di dalamnya. Kemudian 1 tahun yang akan datang, bulan yang akan datang, maka sudah bisa ikut organisasi pemuda...Ini merupakan suatu bentuk peresmian begitu. Nah, pada saat itu menggunakan seekor babi. Sesajen banteng ini menggunakan daging babi.

MITOS MASESANGI AGAR ANAK MAU MATRUNA
Wenten anak masesangi magendong, umpamine kan wenten anak cerik won-wonan. Nah bin pidan madak pang seger, selamet. Bin pidan ja matuun truna sanggup bapak ngandong kenten... Dia gandong dari rumah tidak ngenteg tanah sampai tempat itu, kenten... Wenten masalinan pang solas, makamen ping solas. Mangkin masalinan ngaturang bakti, nyanan malih medal, biin...biin...
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Ada orang yang berkaul untuk menggendong, misalnya kan ada anak kecil yang sakit-sakitan. Nah, dikemudian hari semoga sehat dan mendapat keselamatan. Bila tiba saatnya untuk matuun truna, bapak sanggup untuk menggendong, begitu... Dia akan menggendong anak tersebut dari rumah tanpa menyentuh tanah hingga sampai di tempat itu, begitu... Ada juga yang berganti pakaian sebanyak sebelas kali, menggunakan kain/kamben sebanyak sebelas kali. Misalnya sekarang berganti pakaian kemudian dilanjutkan dengan bersembahyang, setelah itu dilanjutkan kembali dengan mengganti pakaian, lagi...dan lagi...


MITOS MATUNGGU BAYUNAN
Niki nak wenten makemit matunggu bayunan (Aci Dalem). Tunggu artinya nongosin nggih. Bayunan itu makemit. Ten dados medal saking sengker Dalem kenten... Ya ndak bisa keluar, harusnya makan pun tidak boleh, itu harus mapuasa. Kalau makan harus keluar kenten, keluar sengker Dalem. Begitu anunya. Niki wenten niki desa sane matunggu bayunan. Ten dados medal, pulang, baktaanga mrika ajengan kenten. Baktaanga ajengan keluar dari panyengker. Yen tiang umpamanya anak lingsir nganikain yen dadi mabrata, mapuasa.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Di sini ada yang namanya makemit matunggu bayunan (Aci Dalem). Tunggu artinya menunggui, sedangkan bayunan artinya menjaga. Tidak diperbolehkan keluar dari pembatas Pura Dalem begitu...Ya, karena tidak bisa keluar sehingga makan pun tidak diperbolehkan, itu harus berpuasa. Kalau ingin makan harus keluar, keluar dari pembatas Pura Dalem begitu...Begitu ceritanya. Di sini ada desa yang melaksanakan prosesi matunggu bayunan. Tidak boleh keluar, pulang, nanti akan dibawakan makanan ke sana. Bila dibawakan makanan maka keluar dari pembatas. Kalau untuk saya, orang tua menyarankan agar mengendalikan diri dengan jalan berpuasa.



MITOS NGUSABA DODOL DAN NGUSABA KELAME
Niki sampun di Puseh niki Ngusaba Dodol setiap dua tahun sekali. Nika banten nika nganggen jatu dodol kenten. Ngusaba Kelame itu setiap dua tahun sekali. Mangkin Kelame malih atibane dodol. Yen Kelame di pempatan agung, Ngusaba Kelame niki panganggih, panganggih aci Durma. Yen Ngusaba Dodol, panganggih aci ageng. Itu yang menurut anu niki durung prasida ngamargiang pangaci di atas 100 tahun sekali.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan


Terjemahan :
Di sini tepatnya di Pura Puseh ini...Ngusaba Dodol diadakan setiap dua tahun sekali. Semua banten/persembahan yang dihaturkan tersebut menggunakan dodol sebagai unsur pokoknya. Ngusaba Kelame juga diadakan setiap dua tahun sekali. Kalau Ngusaba Kelame berlangsung di perempatan agung. Ngusaba Kelame itu upacara selamatan sebagai aci/upacara Durma. Kalau Ngusaba Dodol merupakan upacara selamatan yang menggunakan aci ageng. Berdasarkan kondisi itulah, pangaci/upacara tersebut belum mampu diadakan di atas 100 tahun sekali.

MITOS KEMBAR BUNCING
Niki kari nganuang nak cerik buncing. Yen driki wenten anak ngelah nak cerik buncing, masebelan niki satu bulan pitung dina kenten. Desa sebel kenten...Kenten anune. Tapi anak ini ten ja kari cara i maluane. Yen maluane kan mauyut niki di semane niki makejang magaenang rerompok. Mangkin ten. Ten ja kari, di rumah biasa. Among desa. Yen cara anune kari keyakinan, kasepungan. Jadi yen cara anune sepungan niki kan kena debu, kotorlah istilahnya. Makanya nguneb driki, ten dados marainan atur-atur.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan :
Di tempat ini masih mempermasalahkan kelahiran bayi kembar buncing. Kalau di sini ada masyarakat yang mempunyai anak kembar buncing, maka akan dikenai halangan selama satu bulan tujuh hari begitu. Jadi, desa yang akan mendapat halangan, begitu...begitu anunya. Tetapi kondisi yang sekarang tidak masih seperti kondisi yang dulu. Kalau dulu itu biasanya.

MITOS BALE DANA
Pamargin Ida Dalem...Ida Dalem saking Gelgel maprasi kema. Ida ngrauhin prasi. Ida ten jenek linggih di prasi. Raris makayun ida magingsir kenten...Nah niki dangin iriki dereng madan Bale Dana nglintangin genah iriki. Drika raris Ida masandekan, mararian, irika ngetuh. Mekel teken pangiringe entah yen napi kaden mekele, nika mawanan balene punika genahe punika adanina Bale Dana dening Ida maicayang dana. Itu mitologinya.
Informan : I Dewa Gede Catra
Alamat : Jl. Untung Surapati Gg. Flamboyan No. 2 Amlapura

Terjemahan :
MITOS BALE DANA
Perjalanan Ida Dalem...Ida Dalem yang berasal dari Gelgel datang ke sana. Beliau mendatangi tempat itu. Beliau tidak berkenan tinggal di tempat itu. Kemudian beliau berkeinginan untuk pindah begitu...Nah ini di sebelah timur ini belum bernama Bale Dana yang berada di sekitar tempat ini. Kemudian di sanalah beliau beristirahat, di sana berteduh. Kepala desa beserta pengikutnya, entah bagaimana kondisi kepala desa pada saat itu, itulah sebabnya balai itu, tempat itu dinamakan Bale Dana karena di tempat itulah beliau memberikan sedekah. Begitu mitologinya.



MITOS PURA KENTEL GUMI
Kalo mitologinya Kentel Gumi nika sudah jelas ten kenten...Mitologinya yen Kentel Gumi punika, ne madan kentel kan keras ten kenten...Minab punika tempat yang paling ngawit. Kawentenang awanan mawasta Kentel Gumi. Nah raris...yen di desa-desa, desa-desa ‘ne lawas niki, desa-desa ‘ne kuno, yen sampun wenten Puseh pasti wenten Pura Kentel Gumi. Nika sampun ane pangawit, ne madan kentel nika tungkalikan ipune enceh ten kenten...he...Nah, yen di satua-satuane liunan punika pangungsine riin ka Kentel Gumi. Minab drika yang paling padat tempat itu. Mungkin dari segi keamanan, mungkin dari segi...Kalo bukan yang bekasnya cair lalu mengendap...bukan!! Bukan begitu maksudnya...Artinya yang paling aman, yang paling makmur nggih...yang paling menjanjikan madan Kentel Gumi. Yen Puseh nika pasti misi Pura Kentel Gumi kenten...Yen mitologinya ten anu nika terlalu tua, terlalu wayah yen nika lakar anuin. Anak Sang Hyang Beryoga menghadap Dang Hyang Beryoga. Nah begitu jadinya nggih...
Informan : I Dewa Gede Catra
Alamat : Jl. Untung Surapati Gg. Flamboyan No. 2 Amlapura

MITOS TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN PATUNG RAKSASA
DI DEPAN SANGGAR AGUNG
Dija ja ada pelinggih, sang maraga wiku di bawahnya ada, ten dadi patung raksasa. Patung boleh ada. Linggih itu ialah manusia biasa, rsi, dan i dewa madan Sang Nandi, kenten... Makanya banyak orang naruh sanggar agung itu...Niki sanggar agung, bihhh...bagian Kala ngisi gitik doen...Ten!! Nika sanggar agung ten dadi. Niki rsi atau manusia biasa bagus, kentenang ampun. Ten dadi raksasa! Nah, lamun di Dalem ja dadi nika patung-patung kakenten, tempat-tempat lain dari itu tidak dah...
Nah, nika ampun ne ne lunga nika ka Siwa Loka nggih...nika makejang kicen tekening Sang Hyang Siwa. Ya, itu katakanlah i juru boros. Saking baktinya yang luar biasa, dadi Sang Nandi. Kenten ida rsi...Saking baktinya dadi mrika. Nah nika awanan di Siwa Loka itu ne ne dadi pengawal Sang Hyang Siwa nika, nika sami nika anak ten ja Kala nika, bukan Kala...
Informan : I Nengah Pasek
Alamat : Jl. Ngr. Rai Gg. Merak No. 10, Amlapura

MITOS UPACARA RSI GANA
Nah niki kan okan Sang Hyang Siwa kan Ganesha. Nanging okan Sang Hyang Siwa mabiang Dewi Parwati. Nah ampun kenten, suatu hari Dewi Parwati ten ka taman...ke taman permandian. Ida ngandika. Ih Dewa, jaga ja dini lelawangane, Biang lakar masucian malu, lakar masiram. Eda ada anak baanga macelep. Nyen ja. Ene tungked anggon nyadangin amun ada anak nagih mai. Nah keto.
Sampun kenten, Sang Hyang Siwa ka taman. Jeg enteg di lelawangane. Stop!! Ten dados! Kenken sangkan ten dados?! Anak Biang Parwati kantun masucian. Nah...ene Aji ne Sang Hyang Siwa. Ten!! Saya tidak kenal siapa, pokoknya itulah tugas saya. Aji ne Sang Hyang Siwa ne kar ka taman. Tidak boleh! Terlarang! Biar bagus atau bocok. Nah, ini etika, pelecehan seorang wanita, ten dadi ngintip anak manjus. Tidak boleh...ten dadi! Yadin Sang Hyang Siwa, nak kenten panikaang Biang. Mu takonang yen tiang ngranjing ka tengah sinah dadi ngranjing driki. Antos, ten ja dados! Pihhh, ne mara ia i dewa. Dadine...kamplang!!! kentenanga sareng ajine. Kamplaanggggg!!! Bareng ngamplangin. Puannggggg!!!Badah, magrudugan nika. Pihhhh, jeg saling cakcak. Oka ajak aji lawana. Nah, itu okan Sang Hyang Siwa.
Ampun kasaktiane Dewi Parwati nika. Artinya Dewi Parwati itu bisa menginginkan kepala seribu boleh. Bisa. Akhirnya saking lamanya pertempuran, siate niki, sampai Suarga Lokane nika, Wisnu Loka, Brahma Loka, Indra Loka, magejoran... Kenken ne, kenken ne??? Biur kenten. Akhirnya dilihatlah Sang Hyang Siwa mayuda. Sampun keras-kerasan, rauh Bhatara Brahma. Dewa, dewa...ene ajin i dewane Sang Hyang Siwa. Nah...nak ten ya dados. Ene bapa kar ngliwat, Sang Hyang Brahma ne. Ten ja dados!! Paahhh, ne sajan nak cerik nenenan. Nggih sajan, jakti sajan. Malih majaguran. Ampiganga jenggotne, caplus kanti niki jenggotne Sang Hyang Brahma. Kalau tidak orang sakti, tidak mungkin amunika ampun mayuda. Ten taen kanti bakat ngampigang jenggot nika. Ne mara ya nak cenik. Mawinan nika meneng kenten, meneng...Nah, Sang Hyang Wisnu masih kenten. Bihhh, cakra kar pesuanga, pelantiga, kari ngungser. Lagute di tungkedne cara pramuka ngaba tungked nika. Jeg kentenanga. Paahhh, niki...niki Sang Hyang Siwa. Dados nika puuk, patut kawentenan pidabdab niki. Niki trisula, trisula Sang Hyang Siwa yang bermata tiga kenten. Seda nika Sang Hyang ...dereng nika mapesengan Sang Hyang Gana. Nggih. Sang Ganesha...
Ampun seda. Ngudiang kentenang okan tiange? Sira nuenang okane nika? Bihhh, batbata Sang Hyang Siwa. Pihhh, yen ten urip mangkin nika kar uwug Tri Bhuanane. Beliau berkepala saja seribu, sudah itu api luar biasa besarnya. Nah mangkin ampun tiang lakar nguwugang Tri Bhuanane. Nah, nawegang niki sampunang enyaganga Tri Bhuanane. Mangkin sapunapi mangda nyak ngudep niki murtine Dewi Parwati. Yen ten urip niki ten nyidayang pianak tiang. Owh nggih...
Mangkin sangkep para dewatane. Wenten gajah, cang ngalih sirah, dija nika?? nak sirahe nyag ya...Nah, uripang nika. Sang Hyang Wisnu lantas mulang cakra. Teesssss!! Pegat nika sirah gajahe, nika kari besik nika. Wenten nika gandarwa. Puniki,puniki... Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Indra, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Kuwera, napi nganjing ka tengah, nguripang pidabdabe nika anake alit nika. Darrrrrr!! Nyidayang bangun. Nah, anake alit masirah gajah itulah Ganesa...
Sekarang apa maksudnya Ganesa itu? Ten ada di jagat raya nika, hanya beliaulah Ganesa. Itu bertugas menghapus mengalahkan segala penghalang orang yadnya. Makanya sebelum mayadnya kan macaru, napi adane upacara ne manca lima nika te...? Ganesa...ganesa nika. Upacara Ganesa nika, Bedulu makober Ganesa, lambang pengetahuan. Banyak orang menyebutkan bahwa upacaranya upacara pecaruan. Tapi itu adalah upacara Bhatara Ganesa. Nika sangkan Ganesa, dija-dija Ganesa, kayang Satya Naradha di tembokne, di tengahne makarya napi tamu, hanya ada satu gambar Ganesa. Rsi Gana nggih...Upacara Rsi Gana...Jangan itu pecaruan ya.. Rsi Gana itu Sang Hyang Rsi Gana. Bhatara nika... Pecaruan itu di beten nika. Putih, barak, kuning siape nika. Nah itu...
Informan : I Nengah Pasek
Alamat : Jl. Ngr. Rai Gg. Merak No. 10, Amlapura

Terjemahan :
MITOS UPACARA RSI GANA
Nah, putra Sang Hyang Siwa kan bernama Ganesa. Tetapi putra Sang Hyang Siwa itu ibunya bernama Dewi Parwati. Nah sudah itu, suatu hari Dewi Parwati kan pergi ke taman...ke taman permandian. Beliau berkata. Ih, anakku, jagalah pintu ini di sini, Ibu akan membersihkan diri dulu, mau mandi. Jangan biarkan ada orang yang masuk. Siapapun itu. Bawalah tongkat ini untuk menghadang bila ada orang yang hendak kemari. Nah begitu.
Sesudah itu, Sang Hyang Siwa ke taman. Sesampainya di pintu. Stop!! Tidak boleh! Apa sebabnya tidak boleh?! Karena Ibunda Parwati sedang mandi. Nah...ini ayah, Sang Hyang Siwa. Tidak!! Saya tidak kenal siapa, pokoknya itulah tugas saya. Ini ayah Sang Hyang Siwa akan ke taman. Tidak boleh! Terlarang! Biarpun bagus atau jelek. Nah, ini etika, pelecehan seorang wanita, tidak boleh mengintip orang mandi. Tidak boleh...tidak diijinkan walaupun itu Sang Hyang Siwa, karena begitu pesan dari Ibu. Ayo tanyakan kalau saya masuk ke dalam pasti dibolehkan masuk di sini. Tunggu, tidak boleh! Pihhh, ini baru anakku. Jadinya...kamplang!!! Ditampar oleh ayahnya. Kamplaanggggg!!! Ikut menampar. Puannggggg!!! Badah, berlari-larian begitu. Pihhhh, saling berkelahi. Anak dan ayah keduanya. Nah, itu putra Sang Hyang Siwa.
Demikian kesaktian Dewi Parwati itu. Artinya Dewi Parwati itu bisa menginginkan kepala seribu boleh. Bisa. Akhirnya karena lamanya pertempuran, perlawanan ini, sampai-sampai Suarga Loka itu, Wisnu Loka, Brahma Loka, Indra Loka, gempar...Bagaimana ini, bagaimana ini??? Gempar begitu. Akhirnya dilihatlah Sang Hyang Siwa berperang. Karena pertempuran yang sangat hebat, datanglah Bhatara Brahma...Dewa, dewa ini adalah ayahmu Sang Hyang Siwa. Iya...tetapi tidak boleh. Ini ayah akan lewat, Sang Hyang Brahma ini. Paahhh, benar-benar anak kecil ini. Iya benar, memang benar. Maka mereka pun kembali berkelahi. Kemudian ditariklah jenggotnya, hingga lepas jenggot Sang Hyang Brahma. Kalau tidak orang sakti, tidak mungkin orang seperti itu sudah berperang. Tidak pernah sampai bisa menarik jenggot. Ini baru anak kecil. Karena itulah diam, diam...Nah, Sang Hyang Wisnu juga begitu. Bihhh, cakra yang akan dikeluarkan, dilemparkan, masih berputar. Diumpamakan tongkat itu seperti pramuka yang membawa tongkat. Dibegitukan. Paahhh, ini...ini Sang Hyang Siwa. Karena hal tersebut memang boleh dilakukan, sehingga apa yang dikerjakan tentu benar. Ini trisula, trisula Sang Hyang Siwa yang bermata tiga begitu. Kemudian mati Sang Hyang...belum pada saat itu bernama Sang Hyang Gana. Ya, Sang Ganesha...
Akhirnya Sang Ganesaha pun mati. Mengapa putra saya dibunuh? Siapa yang memiliki putra itu? Bihhh, Sang Hyang Siwa pun diomeli. Pihhh, kalau tidak hidup sekarang akan saya hancurkan Tri Bhuana ini. Beliau berkepala saja seribu, sudah itu api luar biasa besarnya. Nah sudah saatnya saya hancurkan Tri Bhuananya. Nah, mohon agar jangan dihancurkan Tri Bhuana ini. Sekarang bagaimana caranya agar reda amarah Dewi Parwati. Kalau tidak hidup ini tidak akan kembali anak saya. Owh iya...
Sekarang para dewata mengadakan rapat. Ada seekor gajah, saya mencari kepala, di mana itu? Karena kepalanya kan sudah hancur ya...Nah, hidupkan kembali itu. Sang Hyang Wisnu kemudian melempar cakra. Teessss!! Putuslah kepala gajah itu, hanya tersisa satu pada waktu itu. Kemudian datanglah gandarwa. Begini, begini...Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Indra, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Kuwera, masuk ke dalam, menghidupkan nyawa anak kecil itu. Darrrrrr!! Dapatlah ia bangun. Nah, anak kecil yang berkepala gajah itulah Ganesha...
Sekarang apa maksudnya Ganesa itu? Tidak ada di jagat raya itu, hanya beliaulah Ganesa. Itu bertugas menghapus mengalahkan segala penghalang orang yadnya. Makanya sebelum menghaturkan yadnya itu kan mempersembahkan caru, apa namanya upacara manca lima itu? Ganesa...Ganesa itu. Upacara Ganesa itu, Bedulu berisi bendera Ganesa, lambang pengetahuan. Banyak orang menyebutkan bahwa upacara tersebut adalah upacara pecaruan. Tapi itu adalah upacara Bhatara Ganesa. Itu sebabnya Ganesa, dimana-mana ada Ganesa, hingga Satya Naradha di temboknya, di tengahnya ada tamu itu, hanya ada satu gambar Ganesa. Rsi Gana ya...Upacara Rsi Gana...Jangan itu disebut sebagai upacara pecaruan ya... Rsi Gana itu Sang Hyang Rsi Gana. Bhatara itu. Kalau pecaraun itu letaknya di bawah. Putih, merah, kuning ayam itu. Nah itu...

MITOS
POHON TULASI
Umat Hindu memang sangat mengharap adanya tanaman. Ya...digubah dalam sastra. Sang Hyang Narayana menciptakan pohon yang pertama sekali ialah namanya Tulasi. Tulasi ya... Jadi pohon Tulasi itu pohon yang pertama diciptakan oleh beliau sehingga beliau menyebutkan dimana ada pohon Tulasi disanalah istilahnya gegodan, bhuta-bhuti, kehancuran, kebatilan, jelekne tidak akan ada. Oleh karena itulah pohon Tulasi itu adalah pohon yang suci. Lalu dengan abidang don Tulasine nika celempungang di yehe anggon matirta nggih nika anggen matirta, itu sama dengan orang ngaturang yadnya setiap hari dan terlepas dari marabahaya.
Informan : I Nengah Pasek
Alamat : Jl. Ngr. Rai Gg. Merak No. 10, Amlapura
Terjemahan :
Krama Hindu meled pisan ring kawentenan taru. Sang Hyang Narayana ngawetuang taru sane kapertama, kawastanin Tulasi. Punika mawinan ring genah taru Tulasine punika, kocap punika genah gegodan, bhuta-bhuti, pralaya, miwah sarwa sane kaon wenten irika. Punika nawinan, taru Tulasi inggih punika taru sane suci. Raris abidabg don Tulasine punika celempungang ring toyane anggen matirta, punika pateh sakadi ngaturang yadnya nyabran rahina lan prasida doh saking baya.

MITOS
POHON PARIJATA
Lalu yang kedua diciptakan ialah Parijata. Pohon Parijata ini ialah pohon apa yang diminta pasti ada. Daunnya dari apa yaa... Nah, oleh Wisnu diberikan kepada Rsi Kasyapa. Kasyapa karena kebetulan menjadi tamu daripada Bhatara Indra. Bhatara Indra ten sing ngeh ken niki midabdabe punyan Parijata, ejanga di teras gajah Erawata nika. Sehingga gajah itulah membawa ini. Nah ada Rsi yang datang mengatakan menghina pemberian orang. Nah karena disebut begitu, Indrakala, anu Indra diserang oleh musuh-musuh, yang tileh ya gajah itu. Nah ini lantas diambil oleh Rsi Durwasa namanya. Diambil, diberi, ditaruh lagi di Indra loka. Kapan Indra itu bisa memenangkan pertempuran melawan raksasa itu kala itu dia dapat melihat ini. Nah ini yang artinya bahwa umat Hindu menyayangi lingkungan, menyayangi pepohonan.
Informan : I Nengah Pasek
Alamat : Jl. Ngr. Rai Gg. Merak No. 10, Amlapura
Terjemahan :

MITOS
POTONG GIGI ( MATATAH )
Contohnya seperti istilah potong gigi kan ada itu di Adi Parwa. Sekarang Sang Kaca anaknya Bima, anaknya Bima kan Sang Kaca...Kemudian istrinya Bima itu Sang Nimbi. Setelah memiliki istri di dalam di tengah alas itu memiliki istri dengan Sang Nimbi, memilikilah anak yang namanya Sang Kaca. Kemudian setelah ingat Bima itu tidak boleh memiliki istri raksasa, Nimbi itu kan raksasa dia yang bertaring. Setelah itu kembali dia ke Ayodya Pura, istilahnya ke kerajaan karena habis dia kalah main dadu, dulunya kan ke tengahing alas dia. Setelah itu bertemu dengan Nimbi setelah bersuami istri memiliki anak Sang Kaca. Kemudian sekarang ditinggalkan itu si Nimbi untuk ke daerah kerajaan. Setelah sampai di kerajaan ini Sang Kaca sudah besar. Sekarang menanyakan kepada ibunya. Ibu, Ibu...siapa sesungguhnya bapak saya? Anda itu tidak memiliki bapak, terus diceritakan itu dikelabui oleh ibunya. Setelah itu dengan ibunya, koq kenapa saya dilahirkan tidak punya ayah? Siapa yang melahirkan saya? Kemudian siapa yang membuat saya? Setelah begitu karena saking kasihan Sang Nimbi terhadap anaknya diberitahulah sekarang. Nama ayahmu adalah Bima. Setelah itu kemana saya harus cari? Ya...cari aja di daerah sana, dimanapun Anda ingin mencari, tanya-tanya kepada masyarakat. Sehingga berjalan dia Sang Kaca ingin bertemu dengan ayahnya. Setelah itu ketemu ayahnya sekarang di daerah kerajaan, ditanya di sana di daerah kerajaan. Ditunjukkan oleh masyarakat di sana istilahnya kelompoknya Sang Pandawa. Owh...inilah namanya Bima sehingga bertemu anaknya sekarang sama Bima. Sang Bima adalah
bapakku, saya adalah anak Bima. Begitu dia mengatakan dirinya kepada Bima Sang Kaca...
Bima ini tidak percaya. Saya tidak punya anak seperti kera dan Kaca ini kan kera dan taringnya panjang-panjang. Ada 2 taringnya kanan kiri. Tidak percaya dia. Silakan pergi, saya tidak punya anak seperti kamu. Sudah dijelaskan ibu saya adalah ini Sang Nimbi. Dijelaskan oleh Kaca tidak percaya, tidak mengakui. Lagi sekarang menemui ibunya di alase. Sampai di alase istilahnya di hutan, Sang Kaca ini lagi bertanya kepada ibunya. Ibu...siapa sesungguhnya ayah saya? Ayah kamu adalah Bima, itu sesungguhnya. Kenapa saya tidak dipercaya, bilang anaknya Bima adalah saya sendiri. Tidak percaya beliau kepada saya. Kemudian saya bilang ibu saya adalah ibu Nimbi, tidak juga dipercaya.
Lagi ke sana mencari Sang Bima, bertanya untuk kedua kalinya. Bertemu lagi kepada Bima mengatakan bahwa dimana ciri-cirinya Anda membilang adalah putra saya. Mungkin di dalam telapak tangannya diperlihatkan ada ciri tertentu. Owh, saya percaya bahwa Anda itu anak saya. Setelah percaya diberi persyaratan kalau Anda mau masuk diakui sebagai anak saya atau masuk di dalam lingkungan Panca Pandawa penuhilah persyaratan saya sebagai ayahmu. Kemudian terima dia anaknya Sang Kaca. Owh, saya terima apapun yang terjadi. Apapun persyaratan yang diberikan kepada saya, saya akan terima. Kemudian sebelum taring kamu itu terpotong kamu tidak boleh ada di lingkungan Pandawa. Harus dipotong taringnya biar ganteng...biar tidak seperti raksasa, tidak seperti monyet.
Karena sudah terpotong taringnya kan ganteng...Setelah itu disuruhlah pulang. Silakan kamu pergi dulu, nanti setelah terpotong taringmu baru boleh ke sini. Setelah itu dia merasa kesal di hati. Koq kenapa ayah saya seperti itu memberikan persyaratan yang luar biasa hebatnya? Koq kenapa taring saya disuruh memotong? Apa saya pakai makan nanti? Karena Sang Kaca itu semasih taringnya panjang itu rakus dia. Apapun daging itu dimakan, apapun buah itu dimakan. Tidak memandang istilahnya makanan satwika, rajasika, tamasika. Tidak dibedakan. Kemudian setelah itu sambil jalan dia mengikir dengan batu taringnya itu. Terus berhari-hari, bertahun-tahun sehingga habis taringnya kedua-duanya sesuai dengan giginya yang di depan, sama... Setelah itu diperlihatkan kepada ibunya. Ibu, apakah sudah rata taring saya? Oh sudah... Lagi saya mau pamit akan mencari Bima. Setelah datang diperlihatkanlah taringnya. Kemudian setelah di sana diketahui oleh Bima diterima di sana. Kemudian apa tujuannya sekarang dihilangkan taringnya? Ini filosofisnya sekarang... Setiap manusia yang masih memiliki taring itu dianggap masih rakus, masih tidak memikirkan antara kebenaran dan kesalahan, antara jele dan melah, antara yang bagus dengan yang buruk, tidak bisa dia membedakan. Sehingga untuk di Bali khususnya adalah tujuannya istilah Yadnya Potong Gigi, Manusa Yadnya. Itu dikembalikan kepada cerita potong gigi.
Informan : Ida Bhawati I Ketut Kecap, S. Ag
Alamat : Br. Tumbu-Kelod
Conto ipun istilah mapandes punika wenten ring Adi Parwa. Sane mangkin Sang Kaca, putran Sang Bima sareng rabinida Sang Nimbi. Sasampune madue rabi ring tengah alase, raris madue putra mapesengan Sang Kaca. Punika raris eling Ida Sang Bima nenten dados madue rabi raksasa, Nimbi punika raksasa sane macaling. Wusan punika mawali Ida ka Ayodya Pura, mawinan Ida kalah mamotoh ring tengahing alas. Putran Ida, Sang Kaca lan rabine, Sang Nimbi katinggal ring tengahing alase. Ri sampune Sang Kaca teruna, mangkin nakenang sareng ibune, sira sujatine ajin titiange. Ibune nguluk-nguluk, nganikain Sang Kaca nenten madue aji. Wusan punika, malih mataken , “punapi mawinan titiang nenten madue aji? Sira sujatine ajin titiange, Sira sane ngalekadang titiang? Sira sane ngaryanin titiang?” Wusan punika, awanan kasih Sang Nimbi ring putrane, kanikain mangkin, ajin sang Kacane mapesengan Sang Bima. Wusan punika, malih mataken Sang Kaca, “ Ring Dija rereh titiang?” Ibune masaur, “Rereh manten irika, taken-tekenang sareng anake. Punika raris mamargi Ida Sang Kaca, kacunduk ring ajinida. Kacunduk ring ajinida ring puri. Kacunduk sareng Sang Bima. “Sang Bima inggih punika ajin titiang, titiang okanida”, punika sane kaucapan olih Sang Kaca ring Sang Bima
Bima nenten percaya. “Icang sing ngelah panak cara bojog, cai Sang Kaca bojog, caling caine lantang-lantang”. Wenten taringne kakalih, ring kiwa lan tengen. Sang Bima nenten percaya. “Megedi cai, Icang sing ngelah panak cara cai”. Sampun kanikain ibunida Sang Nimbi, Ida Sang Bima nenten percaya. Malih Sang Kaca ngrereh ibunida ring tengahing alase. Sang Kaca malih mataken, “Ibu, sira sujatine ajin titiange?” “Ajin Caine punika Sang Bima”. “ Nanging punapi mawinan Ida Sang Bima nenten percaya, titiang sampun nganikain ibun titiang maparab Sang Nimbi, masih Ida nenten percaya.
Malih mrika ngrereh Sang Bima, mataken sane kaping kalih. Raris Sang Bima nakenang napi ceciren sane prasida muktiang Sang Kaca punika okanida. Ring tlapak tangane Sang Kaca wenten ceciren sane prasida muktiang, raris Sang Bima percaya.

MITOS TIDAK BOLEH DUDUK DI ATAS BANTAL
Kadang-kadang kan ada bantal ya untuk tidur, untuk kepala khusus. Tidak boleh negakin galeng pang sing busul nyen. Tatwanya karena itu pakai di kepala tegakina di jit, nyen nawang nak cenik makita ngenceh langsung encehina. Biar tidak begitu...
Informan : Ida Bhawati I Ketut Kecap, S. Ag
Alamat : Br. Tumbu-Kelod

MITOS TIDAK BOLEH MENJUNJUNG TEMPAT KAPUR SIRIH
Nak tua kan nagih base kal nginang. Jemakang bapa tempat panginangane. Diambil kan?! dijinjing ya, disuun ya? Tidak boleh disuun, lengar nyen. Itu tujuannya adalah biar tidak jatuh. Kalau jatuh kan ndak jadi kita makan base. Gitu... Pamornya ulung udah misi bias dan lain sebagainya. Kemudian gambir, semua kotor.
Informan : Ida Bhawati I Ketut Kecap, S. Ag
Alamat : Br. Tumbu-Kelod

MITOS ANAK-ANAK DILARANG BERMAIN PADA SORE HARI
Nah seperti dilarang anak-anak itu maplalian pada saat sandikala. Kan tujuannya adalah begini. Anak-anak dilarang bermain pada saat sore atau petang hari itu pendidikannya sangat baik sekali agar gampang melindungi sebenarnya. Kita punya anak biar segalanya tidak terlambat. Contoh mandi biar tidak terlambat, makan nanti gitu istilahnya. Itu sebenarnya tujuannya.
Informan : Ida Bhawati I Ketut Kecap, S. Ag
Alamat : Br. Tumbu-Kelod
MITOS ANAK-ANAK DILARANG BERMAIN PADA SIANG HARI
Pada saat siang hari juga tidak diperbolehkan untuk malali. Tujuannya juga agar seperti itu biar tidak kepanasan dia. Karena biar tidak kotor. Kepanasan kan terbakar kulitnya, biar tidak sakit gitu. Itu tujuannya. Biar dapat istirahat tidur siang hari. Anak-anak kan biasa gitu kalau sudah siang, sudah dia ngantuk karena terlalu dia malali. Padahal itu sesungguhnya dibilang biar dia kembali ke rumah, dibilang pang sing kena bakek nyen. Eda malali tengai kena bakek nanti. Celek mata ken bakek keto... Kan merah matanya karena kepanasan, karena alam. Cukup panas sekali dia lancong tidak memikirkan perutnya kosong kan timbul panas, panas dalam, terjadi infeksi di dalam perut, entah mana yang infeksi, timbullah mata yang sakit. Nah itu dikatakan celek bakek matanya.
Informan : Ida Bhawati I Ketut Kecap, S. Ag
Alamat : Br. Tumbu-Kelod

MITOS TENTANG KEMATIAN
Kalau larangan, larangan itu umpamanya seperti kematian. Kematian manut ring lontar itu sesuai dengan apa yang ada di kalender nika. Umpamanya semut sedulur ten dados ngajak anak ke setra, tali wangke ten dados ngajak anak ke kuburan, masaya ten dados, purnama, tilem, purwani tidak boleh juga. Sudah itu kalau ajak mayat, kalau orang mati orang meninggal nika sebenarnya odalan di Kahyangan Tiga itu Puseh, Bale Agung, lan Dalem tidak diperkenankan harus dikubur ke dalam pertiwi, tanah itu...
Informan : Jero Mangku Gede Made Pasek
Alamat : Desa Tumbu- Kaler

Mitos Keyakinan Ngempon Pura Piit
Yang ngempon di Pura Piit, itu anak-anak di bawah umur. Di bawah umur artinya belum lah dia akhir balik. Dia yang sebagai pengempon Pura Piit. Anak ini memang diangkat oleh desa dibuatkan tempat khusus. Kalau umpamanya disini kalau sudah ada punya anak, anak ini harus tinggal di ini. Atau disana berdampingan dengan sanggah. Dia dibuatkan juga tempat tidur khusus di atas bale itu, diatas tempat tidur dibuatkan tempat tidur lagi.karena itu dia adalah pengempon Pura Piit tadi karena dipingit. Ada upacara disana dijeroan atau di Gunung Piit itu dia yang sebagai pemangkunya itu seolah-olah. Anak-anak di bawah umur. Umur 8 tahun kira-kira, kalau dia sudah akhir balik, berhenti. Sudah mens berhenti dia.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima

Tari Gebug Prawayah
Gebug Prawayah nika bingin dipakai. Don bingin, carang bingin, itu tujuannya untuk supaya hasil sawah bisa maksimum itu upacaranya pada waktu hari raya Galungan.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima

Bale Truna Adat
Tiap hari raya galungan, sangkepan drika, upacara hari raya galungan itu 6 hari disana. Disana dah ada gebug ende, gebug prawayah disana ada kepes, ada abuang.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima

Tari Dewa Ayu
Kalau di tempat lain disebut Sang Hyang Dedari. Karena penari-penari itu biasanya ada lengkap. Dia menari menirukan gamelan. Bisa kesurupan sampai ngurek. Itu setelah ada upacara dirumah-rumah, apalagi di pura itu tetap ada tarian itu, yang disebut Dewa Ayu itu. Jeg secara keluarlah dlm lapangan itu menari dan memang gamelan itu terlalu keras terkena sugesti dalam gamelan itu ini kan bisa dia tidak sadar, ngurek dia. Itulah bentuk lengkap upacara.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima


Ngusaba Sumbu
Pura Gunung di tempat pura yang sekarang dulunya katanya ada kalau untuk menyimpan tirta merta Kamandanu, sehingga kalau dijeroan ada upacara taksu ini, dia berangkat kesana akan maturan, Desa ngempet drika. Tidak boleh ada orang lain lalu lalang. Jadi Upacara Sembah Pendem itu ditiadakan lantas diadakanlah Ngusaba Sumbu ini. Juga tujuannya muput Tirta Kamandanu, makanya ada sumbu itu yang tercantum dalam Adi Parwa itu. Sumbu itu sama dengan pemutaran, mandara giri. Sarana sumbu ada macam-macam, ada wayang-wayang macam itu ada pra ratu, watek dewata yang diatas, ada dedari juga ada diatasnya itu.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima

Upacara Abuang
Biasanya saur sosot, saur sosot bagi anak yang sakit keras. Hamper mati itulah meninggal. Disanalah orang tua itu melakukan sesangi. “yen niki panak tiange slamet, tiang lakar ngaenang banten abuang”. Mabuang kenten. Jadi pada Hari Raya Galungan hari minggunya nika, diupacarakanlah di apan rurung nika. Itu tadi awo yang artinya ngulapin. Sehingga anak yang sudah hamper masuk ke lobang tanaman itu, ngulapin sehingga dia hidup lagi. Itu makanya dia dibuatkan upacara Mabuang. Tariannya begitu juga(seperti tari kepes). Dianggap kita sudah mati, makanya dibuatkan upacara seperti itu. Jadi pada waktu kita upacara semua keluarga, kecuali yang memang pegat atau puik tidak hadir.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima


Mitos Belog Timbrah
‘Menjangan kadena dewa’ nika seperti di Prasi juga ada ‘talenan kadena dewa’. Dulunya disini pernah itu katanya pada waktu hari raya hari raya itu dengan saren, dengan Budakeling. Kita saling undang kemudian ada pertengkaran antara Timbrah dengan Saren. Nika ampun anggona kenten, anggona sesenggakan. “Beh,, belog Timbrah, menjangan kadena dewa” makanya nika, “Ah belog Saren , wo dangdung orange dewa”. Wo dangdung itu kan biasanya orang-orang nadi, kesurupan itu. Akhirnya putus hubungan Saren dengan Timbrah. Padahal disini nyungsung yang namanya dewa Saren. Sekarang masih.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima

Mitos Nanem Pujer
Sane nanem magandongan jak nak cenik. Magandong lu magandong, bapa gandonga nika yen nanem pujer mitosne mangda nika pang nyak nged buahne.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima

Mitos Pada waktu pemutaran Tirta Kamandanu
Sang hyang Ratih bulan yang ngetarang. “oh itu raksasa!” baru sampai disini anunya (tenggorokan) merta Kamandanu itu, dipanah oleh Bhatara Wisnu putus terbang dia makanya dia bersumpah, “kapan purnama, pada saat itu saya akan telan bulan itu”. Makanya kalerau pada waktu sasih gasal ketemu tu ka nada kepangan. Gerhana itu ceritanya apa, kalerau ini nyaplok bulan. “Pada saat itulah saya akan makan bulan itu”.
Informan : Mangku Danghyang
Alamat : Desa Pertima

Mitos Di Pura Dalem
Dari dulu setiap orang maturan ke Pura Dalem tidak boleh pakai baju cukup pakai anteng. Kalau ada sampai berani berbaju di denda besar itu. Tapi itu politik, politik kerajaan, raja Karangasem itu. Dia kan apa itu, sebagai raja itu kan berhak memilih cewek-cewek itu siapa tidak mau orang tuanya bisa dibunuh. Dengan melihat bodi-bodinya,cewek-ceweknya setelah begini kan bisa dia pilih itu. Ini cantik, ini kulitnya tidak cacat nanti bisa ditunjuk untuk ke puri itu. Itu mitos. Tapi Sraya dulu itu dianggap larangan karena dalam perintah raja. Raja di Bali kan berkuasa apa yang dikatakan raja kita harus tunduk. Itu kalau dilanggar jiwa taruhannya. Dulu begitu kita anggap seperti dewa. Mangkin ndak, saya labrak itu bahwa saya beri penjelasan begitu pada masyarakat desa, disini itu bahwa benar-benar politik daripada awig-awig duluini untuk mencari cewek-cewekyang memang dipilihhanya sebagai istri. Baru dia sadar bahwa tanpa baju kurang sopan dan dikatakan dia tidak bisa memusatkan pikiran bersembahyang apa tu kepada tuhan tungkulan menoleh kiri kanan melihat setengah telanjang lah ini sehingga tidak memusat perhatiannya begitu. Karena, ”oh betul begitu” akhirnya sekarang gak ada lagi begitu.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah

Mitos Upacara di Pura Dalem
Upacara di pura Dalen ini tidak boleh memakai gong. Disebut nyepi tidak boleh ada suara perunggu yang berbunyi. Barang siapa yang membunyikan suara perunggu bisa di denda itu. Dan itu tiap hari masuk kesana. Saya tanya itu pada tua-tua itu kalau dari dulu begitu sehingga saya simpulkan bukan tidak boleh memakai gong ini pada zaman dulu itu tidak ada gong. Tapi kita di desa ini tidak masih seperti sekarang sudah banyak gong. Tapi sampai sekarang masih ditaati oleh masyarakat Sraya, tidak boleh ke pura Dalem sini menggunakan gong. Cukup diluar jauh deket kuburan baru dia, kalau masuk, jangankan masuk, mendekat saja sekian meter tidak boleh dari areal pura itu membunyikan gong dan tidak boleh menghaturkan daging babi. Ini ada 2 versi yaitu keluarga Karangasem dulu ini hampir terkena pengaruh Islam, lihat bangunan di ujung itu berbentuk seperti dimana itu.., bangunan-bangunan itu kan masih berbau Islam. Bangunan-bangunan seperti di Irak, sehingga ke pura pun tidak diberikan disana itu maturan daging babi kalau di tempat lain, pura Dalem lainnya biasa, kalau disini dilarang. Tapi dari segi niskala, leluhur saya ini pernah bertapa kesana atau di pura Dalem lalu dilihat di tempat pura itu ada pohon kayu besar, kayu tenggiri dan kayu lece itu besar. Dalam alam gaibnya iya melihat banyak babi beranak disana, ditempat itu. Jadi mungkin dengan piaraan, mungkin penghuni disana itu. Kita anggap betara. Sehingga tidak boleh menghatur-atur daging babi. Sampai sekarang masih ditaati itu.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah

Mitos Suara Katak pada Malam Hari
Kalu ada katak malam-malam bersuara niki kita punya bayi kan, ”beh..entasin leak jeneng panake nenge, katake ngeca”.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah

Mitos
Cekcek masuara tanda Saraswati.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah

Mitos
Wenten siap krekek-krekek ada pentasa peteng. Berarti ada makhluk halus. Siap nika adalah penitisan sang Garuda.” yen ada mlaib, pacut matane”.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah

Mitos Kedis Culik-culik dan Kedis Tuu-tuu
Kalau kedis culik culik. Kalau kedis culik saja disini kurang percaya kalau ada tuu tuu begitu, ”peh betul”. Culik culik kan maling, ”ada maling nggih”dan ada kedis tuu tuu tuu, betul betul betul itu maling. Baru yang punya rumah ini, ”pah ne ba ada maling, ba ada ngorang tuu tuu tuu”.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah
Mitos Munyin Kedis Goak
Ada suara goak berbunyi sampai di atas rumah lewat. ”mapa niki minab niki, nyen mati?”. menyampaikan kabar ada keluarga mati di tempat lain.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah

Mitos Mata Berkedip
Mata berkedip di sebelah kanan ada orang yang ada yang berbicara dengan orang lain yang kurang enak. ”nyen ne nyambat-nyambat”.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Desa Seraya Tengah

Mitos Bambu
Tidak sembarang orang bisa cari gitu. Memang ada orangnya yang memelihara bambunya itu. Kalau ada cari kesana, minta izin dulu. Minta izin trus bawa canang bisa itu, mohon.
Informan : I Wayan Putra
Alamat : Br. Pesiatin Kaler

Mitos Setiap Ada Gempa Orang Ngomong idup, idup, idup.
Sang Antaboga, I Sang Tetani kenten. Sang Tetani Sang Bagus matur siki, Sang Antaboga dwaning oranga makejang manusane mati ben sebab linuh. Sebab Sang Antaboga marah makejang orang mati. Delokina ken Sang Antaboga ke gumine menek, kanti liu anake ngalong megenep. ”O idup, o idup nika ngranang mangkin asal linuh, ”idup, idup, idup”, kenten. Nika nak satuan I Sang Antaboga ngorang o nu liu idup. Idup sih idup. Asal linuh,”idup, idup, idup”, kenten.
Informan : I Wayan Putra
Alamat : Br. Pesiatin Kaler

Mitos Kematian
Yan yan wenten anak ngalahin, mati yan sakadi driki, yan mangkin nika mati tan dados ngelintang ring tigang rahina, kagenahan driki ring desa Seraya Timur driki. Ngelintangan ring bejine sane mrika, bejine sane jembatan kuning punika. Sakanginan drika tan dados ngelintang ring tigang rahina, yen ipun ngelintang wenten sangsi secara adat, secara niskala wenten. Kadangkala tan dados sabeh, yan sampun wenten sabeh, sabehe ngelintang. Kadangkala panes, panesne terus-menerus. Nenten yan secara niskala sane sampun panggihin saking dapet tiang sampun punika. Yan ngewentenang pangabenan sebelum tigang hari punika sampun ngelaksanayang pangabenan. Yan tan wenten dewasa sakadi mangkin karena sakadi mangkin ngrereh dewasa jaga ngaben iringan ka karang gineng ring desa nika. Yan sampun rauh ring tukad majembatan kuning punika bebas. Wantah drika manten kocap pingit tan dados ngelintang ring tigang rahina. Sane mawinan pingit? Nike sampun ciri-cirine, yan sampun iraga malanggar kenten secara niskala hujan nenten becik, penghasilan taler mrasidayang ngemolihang penghasilan pertanian sami. Boya ja untuk seraya timur manten keninne makeh pisan jagate keni cuntaka dadosne, duaning kocap seraya timut driki sirahne. Sirah ya artinya kan kepalanya, kalau sudah kepalanya ya mungkin kena cuntaka mungkin semua tubuh akan merasakan, itu dari orang tua yang menceritakan.
Informan : I Gede Suparwata
Alamat : Br. TUkad Buah, Seraya Timur



Mitos
wenten driki, sane marupa uger-uger lepas ring sastra : pertama, yan wenten salah jalan. Misalkan niki bapake, tiang tan wenten. Mriki macunduk ajak kurenan titiang kan, tan mresidayang mengerem diri artinya tidak waspada langsung ngomong-ngomong, begitu tangkap tiang langsung tangkap basah bapak, kena bapak 5 karung sama dengan 500 kila beras. Kalau sudah terjadi kendala kena 7 karung sama denga 700 kilo beras, kalau sudah terjadi mengawini istri orang kena 11 karung sama dengan 1100 kilo beras, membuat anak orang hamil tidak langsung tanggung jawab atau tanggung jawab tapi sudah tersebar kena 5 karung atau sama dengan 500 kilo beras. Kedua ngalap buah mete besik kena sanksi 2500 rupiah per butir. Yan ibu 200 butir kena kali sekian. Ketiga yan ten mabuah. Punapi perkara? Kan wenten punyan kayu tan mabuah kan? Sampun kenten tebas nika carangne kan kene percarang punika 12.500, keempat yan wenten perkawinan paturu banjar kena 25.000, keluar dari banjar atau desa kena 50.000, keluar dari kabupaten kena 100.000.
Informan : I Nengah Sarda.
Alamat : Br. Tanah Barak, Seraya Timur.

Mitos Kematian
Driki yan wenten anak ngalahin tan dados lewat tekenang 3 hari. Apabila lewat maka yang bersangkutan harus mengadakan pembersihan kesembilan pelinggih. Apabila tidak jek secara spontanitas tan wenten sabeh. LANJUTAN TIDAK ADA KARENA KASET HABIS.
Informan : I Nengah Sarda.
Alamat : Br. Tanah Barak, Seraya Timur.

Mitos Menjangan
Sakadi menjangan kaden dewa adalah kata-kata panjang yang diperkirakan dawa, menjangan itu dikatakan panjang, panjang itu juga adalah dawa. Menjangan kaden dewa artinya ada kijang masuk sini ( Timbrah) disambut dengan baleganjur diperkirakan dewa.
Informan : I Nengah Wija
Alamat : Pretima Br.

Mitos Tukad Nyuling
Nah ceritanya begini dari barat atau dari timur usahakan ngebel dulu sudah berapa kali ada kecelakaan, sampai meninggal tidak ada. Pada suatu hari ada truk membawa gandum/tepung dia lewat mencari amlapura yang kepasar arah selatan terus nyelonong kemari setelah sampai kemari menanyakan amlapura sudah lewat pak harus balik. Balik dia kesana dia tidak ngebel ngatrek mobilnya akhirnya jatuh ke sungai. Dan agar masyarakat yang lewat sana kalau malam usahakan ngebel
Informan : I Wayan Sura
Alamat : Br. Tegal Linggah, Desa Tegal Linggah




3.2.2 Legenda
3.2.2.1 Pengertian Legenda
Legenda sama halnya dengan mite, legenda adalah cerita prosa rakyat, yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi. Berbeda dengan mite, legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang (Danandjaja, 1984: 66).
Legenda seringkali dipandang sebagai “sejarah” kolektif (folk history), walaupun “sejarah” itu karena tidak tertulis telah mengalami distorsi, sehingga seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya (Danandjaja, 1984: 66).
Alan dundes mengatakan legenda dapat tercipta yang baru, apabila seorang tokoh, tempat, atau kejadian dianggap dianggap berharga oleh kolektifnya untuk diabadikan menjadi legenda (Danandjaja, 1984: 67).
3.2.2.2 Inventarisasi Legenda di Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem


Legenda Pura Bukit
Pembentukan Pura Bukit, mangkin dados apalebahan. Ngunine dumun wenten palinggih apalebahan kaler, madue pasimpenan kalih, napi mawinan madue pasimpenan kalih, sane kaler kabaos saking lelangit Ida Bhatara Dalem Segening. Punika sampun Ida sane malinggih iriki, taler Ida Dang Pati. Anake lanang istri, Ida sane istri kacakrabawa. Ida parabe Bhatara Ida Terus Turun Swarga, marabi sareng Ida Dang Pati ring pura Lempuyang Luhur. Bhatara Mas Alit Sakti wenten, Istri wenten taler, maparab Bhatara Ayu Mas Sesaet, akeh niki. Sane pinih alit wenten malih kalih, peputusan maparab I Dewa Gede Iter Bwana, sareng ngambe parab aji maparab Ida Geni Jaya. Nika matugelan putran Ida sareng kalih, anggen papatih sareng Ida. Sane baosang tiang i wau, Bhatara sane turun saking swargan. Dija Ida ngambil rabi, ring langit Dalem Segening. Napi mawinan Ida malinggih iriki, duaning Ida Hyang Geni Jaya saking Jawi ke Bali, nenten sane Istri sareng malinggih ring Lempuyang, sareng putrane.
Informan : I Made Murka.
Alamat : Desa Bukit

Terjemahan :
Pembentukan Pura Bukit, sekarang menjadi satu pekarangan. Dahulu kala ada tempat suci satu pekarangan di utara, mempunyai dua pasimpenan, sebab mempunyai dua pasimpenan, yang di utara dikatakan berasal dari langit Ida Bhatara Dalem Segening. Beliaulah yang berstana di sini, bersama Ida Dang Pati. Dua orang laki perempuan, beliau yang dikutuk. Beliau bernama Bhatara Terus Turun Swarga, menikah dengan Ida Dang Pati di Pura Lempuyang Luhur. Ada Bhatara Mas Alit Sakti beserta istri beliau, bernama Bhatara Ayu Mas Sesaet, dan banyak lagi. Yang paling kecil ada lagi dua, bernama I Dewa Gede Iter Bwana, mengambil nama dari ayah beliau yang bernama Ida Geni Jaya. Kedua putra beliau bersaudara kandung, dipakai patih oleh beliau. Yang dibicarakan tadi, Bhatara yang turun dari surga. Dimana beliau mengambil istri, dari langit Dalem Segening. Beliau berstana di sini, karena Ida Hyang Geni Jaya dari Jawa ke Bali, istri beliau tidak ikut berstana di Lempuyang, bersama putra beliau.

Legenda Pura Bukit Kusambi
Sebab tempat itu bernama Bukit Kusambi, jadi Pura itu bertempat di sana mapesengan Pura Bukit Kusambi. Kalau Bhatara yang ada di sana adalah Bhatara Bagus Bebotoh. Bhatara Bagus Bebotoh itu adalah para putra Bhatara Lingsir ring Prasi malinggih iriki.
Informan : Gusti Made Padang
Alamat : Kelurahan Padang Kerta
Terjemahan :
Pura Punika kawastanin Pura Bukit Kusambi, mawinan genah purane punika ring Bukit Kusambi. Bhatara sane malinggih irika inggih punika Bhatara Bagus Bebotoh. Bhatara Bagus Bebotoh inggih punika para putra Bhatara Lingsir ring Prasi malinggih iriki.

Legenda Padang Kerta
Ada buktinya di kampung Islam Saren Jawa. Kulit Sampi Wadak anggo tatakan sambi. Kanti sing je bani anake ngalih sampi, taler membunuh. Sampi Wadak, kira-kira kalau sekarang adalah badak, binatang badak itu. Dulu kan teknik kurang, hanya pakai tenaga saja, makanya sulit dibunuh. Nah sudah mati Sampi Wadak, terus di sini hutan-hutan dirabas pakai desa.
Informan : Gusti Made Padang
Alamat : Kelurahan Padang Kerta

Terjemahan :
Wenten buktinnyane ring kampung Islam Saren Jawa. Kulit Sampi Wadak punika kaanggen tatakan sambi. Kanti nenten bani anake ngerereh sampi, taler ngamatiang. Sampi wadak, yening mangkin manawi Badak. Dumun kaluihan anake kirang, nganggen bayu manten, punika mawinan meweh ngamademang. Ri sampune mati Sampi Wadak punika, raris ring genahe puniki kaabas anggen desa.

Legenda Desa Bugbug
Kalau tertulis belum ada yang tertulis. Jadi cerita-cerita itu ada. Itu dibentuk oleh Bhatara Ling Duman itu, ketika beliau ngawatara/menjelma menjadi berbentuk sebagai manusia. Itu awalnya dari beliau mengumpulkan gubuk-gubuk yang ada, dan ada beberapa gubuk yang terdiri dari di Kebumi, Tegalan, Kelong, Lung Padang, Gantawan, Godek, Lebah Kangin, Kelod Poh, Lateng Ungu, Mapaan. Itu dikumpulkan jadi satu, terbentuklah desa ini, karena dia dikumpulkan, maka disebutlah desa ini Bugbug. Bugbug itu artinya kumpul sesuai prasasti. Maka setiap persatuan daripada atap-atap pada suatu contoh dari atap-atap genting itu, penyatuannya itu di sebut Bugbug, Wuwug, Wuwugan. Wuwug itu B atau W sama, itulah bugbug itu kumpul atau menyatu atau dipersatukan.
Informan : I Wayan Terang Pawaka
Alamat : Desa Bugbug

Terjemahan :
Yening sane matulis durung wenten. Satua-satua punika wenten. Puniki kawangun antuk Bhatara Ling Duman punika, duk Ida ngawatara dados manusa. Punika raris Ida mupulang gubuk-gubuk sane wenten. Gubuk-gubuk punika kapupulang saking gubuk ring Kebumi, Tegalan, Lung Padang, Gantawan, Godek, Lebah Kangin, Kelod Poh, Lateng Ungu, lan Mapaan. Punika kapupulan dados asiki, punika raris wenten desa Bugbug puniki. Bugbug inggih punika pupul. Punika mawinan pupulan raab punika kawastanin Bugbug.

Legenda Pura Sang Hyang Ambu
Itu adalah awalnya dari penyebutan Sang Ang Ambu. Sang Ang Ambu itu adalah Bhatara Ling Duman ketika beryoga, jadi tidak makan. Beliau makan hanya dengan membau saja, jadi hanya dengan menciumbaunya saja. Itu makanya beliau disebut Sang Ang Ambu, mejadi Sang Hyang Ambu.
Informan : I Wayan Terang Pawaka
Alamat : Desa Bugbug

Terjemahan :
Punika witne santukan kawastanin Sang Ang Ambu. Sang Ang Ambu inggih punika Bhatara Ling Duman daweg Ida mayoga, nenten ngarayunan. Ida nenten ngarayunan. Ida ngebonin manten. Santukan punika dadosne kawastanin Sang Ang Ambu, dados Sang Hyang Ambu.


Legenda Pura Manjangan Saluang
Pura Manjangan Saluang itu ada dua, ada Manjangan Saluang yang dibentuk oleh Mpu Kuturan dan Manjangan Saluag setelah runtuhnya Majapahit, itu palinggih Bhatara. Manjangan Saluang itu adalah palinggih Taksu sebenarnya. Dibangun oleh ada dua versi, dibangun oleh Mpu Kuturan, ada versi dibangun oleh Bhatari Gayatri.
Informan : I Wayan Terang Pawaka
Alamat : Desa Bugbug

Terjemahan :
Pura Manjangan Saluang punika wenten kakalih, wenten Manjangan Saluang sane kawangun olih Mpu Kutuiran, taler wenten Manjangan Saluang sasampune Majpahit runtuh, punika palinggih Ida Bhatara. Manjangan Saluang punika sajantennyane palinggih taksu. Wenten kalih versi puniki, sane kapertama kawangun olih Mpu Kuturan taler kawangun olih Bhatari Gayatri.


LEGENDA
KELURAHAN SUBAGAN
Subagan berasal dari kata Subaga, SubagaWirya. Subaga ya kan...artinya makmur. Nah itu tiang tidak tahu karena anak-anak dengar cerita karena Subagan ini. Kenapa dikatakan Subaga karena memang kalau dilihat dari dikatakan bagus. Dilihat dari kehidupan raja memang bagus. Raja dulu melaksanakan kegiatan sosial istilahnya baksos, bantuan sosial kemanusiaan makanya di sini di kereta itu di perempatan tugu Wahana Tata Nugraha tiang usulkan itu kurang tepat wahana kalau bisa tugu yang melambangkan dewalah di sana, apakah catur muka karena sering perempatan nika dipakai untuk kalau orang makiis melasti karena orang di sana kan pradaksina di sana dan kemudian para umat Hindu, hari-hari tertentu maturan di sana, pacanangan dan sebagainya tidak enak rasanya kelihatan di sana umat di sana saudara muslim. Ini koq umat Hindu memuja Tata Wahana, begitu saya usulkan ya di sana patung Dewalah.
Di sana nika ada kereta sebelah utaranya itu dumun kocap nika wenten bale bengonglah istilahnya bernama aslinya Bale Dana artinya bale tempat madana itu. Artinya raja di sana ngetis duduk di sana ngetis sambil madana di sana begitu. Karena dulu ceritanya Raja Karangasem membangun napi wastan niki merajan itu ya puri gitu di sini Subagan niki di sebelah baratnya niki utaranya tepat ada jalan Bandem ada jalan Bukitan di sana pun kayak di Tirta Gangga ada patung drika seperti kolam, maunya di sana bikin pajenenganlah istilah cara raga merajan tapi setelah digali apa namanya keluar air di sana. Di sana juga ditemukan emas disebut Telaga Emas begitu, tampung Telaga Emas begitu umat muslim di sana akhirnya tidak jadi di sana gimana karena di sana raja dulu kan Raja Karangasem kan menyerang ke Lombok menang makanya bawa tetadan istilahnya nika sakadi raga kan bebekel istilahnya nika panjak niki artinya saudara-saudara muslim di Lombok dibawa ke Bali. Makanya banyak driki Telaga Emas. Kemudian di sana ada di Bukit punika ada islam bukit, karang Tebu, karang Cermen itu dulu apa di puri itu ikut kena da di Bukit pura itu ikut kena apa gitu ngayah, nyapu, nglungsur juga dapat juga itu dulu, sekarang di sini dengan datangnya banyak jenggot-jenggot dini banyak mulai dipengaruhi makanya mereka agak anu niki pokoknya dapat laba niki, mapauman ikut. Dulu kan di banjar pauman niki paum maan istilahnya niki, pulang dari pauman ini, nah ini tugasnya apa nyampat, apa pekerjaan puri, getok kulkul datang ke puri kan gitu diberikan laba, bukti tanah-tanah punika sekarang dadi banjar istilahnya punika itu dulu makanya pepauman nika, nika dulu pauman kampung muslim sana ikut mapauman ke puri dan keman di puri ada itu beberapa umat-umat muslim, keman artinya disenangilah. Seneng mereka juga dapat tanah, sekarang jadi sengketa itu mau dijual itu ceritanya makanya bisa driki Telaga Emas. Namanya Telaga Emas, telaga kolam dapat emas kenten dados kadanin Telaga Emas. Nah begitu ceritanya makanya sana Bale Dana, madana. Nah, entah dari sana mungkin anunya Subagan, Subaga...
Tetapi kalo di dalam beras pipis istilahnya, kalo di apa namanya niki...prasasti atau lontar yang ada di pura di sini itu dibaca di sini dianukan di Tegal Bunter, di desa Tegal Bunter istilahnya itu. Jadi tercantum di sana, entah gimana anunya ini mungkin ini kira-kira ya falsafahnya Tegal Bunter, Bunter mungkin ini kan buluk artinya bersatu, artinya bunter itu kan kalo lonjong kan beda. Ya, ikatannya bagus begitu mungkin falsafahnya. Nah itu kalo di lontar itu munggah begitu yang kita baca di Tegal Bunter. Ini kalo driki pemangku tiang mungkin di desa nyisik istilahnya, kalo nyisik itu istilahnya menahnahan di beras pipis nika di Tegal Bunter. Nah itu Subagan sejarahnya.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan


LEGENDA DESA TUMBU
Sebenarnya dari dulu nika memang ten wenten perubahan untuk nama desa. Dari sejak zaman dulu sekali ya memang namanya Tumbu kenten...Desa Tumbu adalah termasuk desa purwa, desa yang paling utama. Dasar namanya desa purwa itu, desa adat purwa karena ada peninggalan berupa prasasti, selonding begitu ada. Dumune menurut beberapa informasi, Tumbu nika berasal dari kata Tinjang kenten... Tinjang nika karena perubahan bahasa, Tinjang nika jadi Tumbu. Nah, dumune waktu zaman kerajaan, niki konon karena tiang hanya mendengar informasi saja ten wenten sastra yang mengungkap nika, Tumbu itu dipakai untuk mayuda, untuk matinjakan. Nah beberapa prayoga, prayoga nika akhirnya otomatis berubah nama dari Tinjang menjadi Tumbu.
Informan : Jero Mangku Gede Made Pasek
Alamat : Desa Tumbu- Kaler

Tari Kepes
Tari Kepes sama dengan Abuang. Memberikan tanda memanggil sama dengan abuang juga. Abuang Awo, awo artinya memanggil, kata awo, awoang artinya memanggil. Awoang dengan tari kepes itu hamper sama.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang )
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Terjemahan :
Tari Kepes
Tari Kepes pateh sekadi Abuang. Ngicenin cihna, utawi ngaukin taler pateh ring Abuang. Awo, awo tegesnyane ngaukin. Kruna awo, awo tegesnyane ngaukin. Awoang menawi pateh sekadi Tari Kepes punika.
Legenda Desa Timbrah
Desa Timbrah karena dulunya memang nama sejarahnya namanya Timbrah Sari. Kemudiang berubah menjadi Timbrah karena adanya letusan Gunung Agung mungkin pada abad keberapa itu sebab dulunya Desa ini letaknya sangat jauh di barat namanya Beten Nyuh. Beten Nyuh namanya disana letak desa dulunya yang bernama Desa Timbrah Sari. Karena mungkin disana merasa terancam adanyaletusan Gunung Agung mengeluarkan dari kawahnya itu, mengeluarkan lahar, lahar itulah yang dimaksud dengan Tambra atau kawah itu keluar lalu dari katatambra itulah muncul kata timbrah. Sehingga Desa Timbrah yang sekarang ini pindahan dari sana kenten. Ngeledin tambra itu. Timbrah asal katanya dari Tambra.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang )
Alamat : Pertima ( Timbrah )
Terjemahan :
Legenda Desa Timbrah
Desa Timbrah daweg riin wastannyane inggih punika Timbrah Sari. Selanturnyane magentos dados Timbrah. Santukan wenten Letusan Gunung Agung. Minab daweg riin Desa puniki magenah doh ring sisi kauh, punika mawinan desa puniki kawastanin Beten Nyuh. Irika mawasta Beten nyuh sawireh minab ring genahe punika wenten Letusan Gunung Agung ngewetuang lahar. Nika sane kabaos Tambra. Mawit saking Tambra punika selanturnyane magentos dados kruna Timbrah. Mawinan Desa Timbrah sane keuningin mangkin magingsir saking genah inucap, ngeledin Tambra punika. Timbrah wit kruna ipun saking kruna Tambra.

Legenda Bukita (sawah)
Bukita asal kata dari bukit. Bukitnya Desa itu. Bukitnya Desa Beten Nyuh itu. Memang tinggi sekali dia, sawah nika, kalau dibandingkan dengan Desa Beten Nyuh itu jauh tinggi dia sehingga disebut itu Bukita sekarang.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang )
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Legenda Pura Piit
Piit artinya singit (keramat) ini ada hubungannya dengan Gunung Piit itu sehingga setiap hari raya itu, hari raya anggara kasih yang dari jeroan Pura Piit ini malinggih sane duur batara ne yang di Gunung Piit. Yang dijeroan itu dipuput oleh pengempon, selain itu sing dadi masuk kema.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang )
Alamat : Pertima ( Timbrah )
Terjemahan
Legenda Pura Piit
Piit inggih punika singit. Punika mapaiketan teken gunung piit. Punika mawinan ring rahina anggara kasih sane wenten ring jeroan Pura Piit punika malinggih Ida Bhatara ring Gunung Piit. Sane wenten ring jeroan punika kapuput olih pengempon. Tiosan ring punika nenten dados ngranjing irika.

Legenda Teben Kuta (sawah)
Kuta artinya Desa, teben artinya di sebelah, di bawahnya kuta itu. Teben Kuta, carik. Jadi disini Beten Nyuh, ya beberapa naik ke Teben Kuta. Linggah itu carikne.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang )
Alamat : Pertima ( Timbrah )
Terjemahan
Legenda Teben Kuta
Kuta inggih punika Desa, Teben inggih punika ring sor Kuta punika. Teben Kuta. Sarik. Driki Beten Nyuh, yening munggah ke Teben Kuta. Carikne punika linggah.


Legenda Tukad Ungga
Yang dulunya tukad itu berada di barat. Karena adanya bencana alam Gunung Agung kan itu makanya tukad yang sebenarnya itu tertutup sudah berubah aliran tukad itu sehingga disebut sekarang Tukad Ungga, tukad yang pindah. Napi mawinan sapunika anak pidan tukad nika kira-kira batas antara Timbrah dengan Bugbug. Jadi batas itu setelah Gunung selesai meletus kan itu. Sehingga terjadi pertengkaran antara Timbrah dengan Bugbug.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang )
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Terjemahan :
Legenda Tukad Ungga
Daweg riin tukad punika wenten ring sisi kauh. Santukan wenten bencana Gunung Agung. Punika mawinan tukad punika matutup tur embahan tukadnyane kawastanin Tukad Ungga. Tukad sane magingsir. Napi mawinan sapunika, kocap tukad punika magenah pantaraning Timbrah miwah Bugbug. Dadosnyane wates punika sesampun gunung meletus. Mawinan wenten pesiatan ring Timbrah miwah Bugbug.

Legenda Carik Rebutan
Itu pertikaian antara Timbrah dan Bugbug. Kebetulan carik itu letaknya di sebelah tukad ungga yang sekarang. Yang dulunya tukad itu adalah batas antara Timbrah dan Bugbug itu. Karena diperkirakan tukadnya dia yang tukad Ungga niki.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang )
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Terjemahan
Legenda Carik Rebutan
Kocap wenten pesiatan ring Timbrah miwah Bugbug. Carik punika magenah nampek ring Tukad Ungga. Daweg riin tukad punika pinaka wates pantaraning Timbrah Miwah Bugbug. Kantos mangkin Carik Rebutan punika kadruenang olih Bugbug. Menawi Tukad Ungga punika wantah druen Bubug.

Sejarah Banjar Pahoman
Dilihat dari kata pahom nika berarti rapat, artinya seiya sekata. Dilihat dari pada akar katanya nika. ”Beh i anu pahomanga sangkan iya mati”. Artinya cara Bali nika kasepekang nika. Diberikan suara bulat, supaya dia berbayar kenten. Makanya banjar Pahoman niki salah satunya itu jarang orang itu bermusuhan atau apa. Apapun perintah pemimpin. Penduduk disana itu tidak pernah sampai anak buahnya itu menentang makanya disebut jadi adung atau rukun itu dan percaya pada apa yang diucapkan oleh pemimpin banjar itu. Jadi itu disebut banjar Pahoman.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pahoman Sraya Tengah

Legenda Tari Gebug
Gebug berarti pukul. Pada jaman dulu ada pasukan terpilih dari Sraya itu yang dikatakan soroh totosan 40 itu, tapi padahal itu terdiri dari orang-orang pilihan itu dipakai oleh raja Karangasem untuk menyerang Lombok sehingga dan berjanji, ”nanti saudara saya pilih karena saudara kebal ”. Pada prajurit pilihan, ” nanti kita serang Lombok yang beragama Islam, kalu Lombok bisa ditaklukkan, kamu boleh diam disana mengambil sawah atau apanya itu”. Makanya untuk memperingati kemenangan orang-orang Sraya yang bertempur ke Lombok, dibuatkan tari perang yang disebut Gebug. Disini biasanya tari itu tidak sakral, sering dipentaskan di ada tamu, ada perayaan apa itu, itu adalah inti.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pahoman Sraya Tengah

Legenda Desa Sraya
Ini sebenarnya tidak ada buku baik tertulis maupun tidak tertulis setelah saya ketahui dan banyak dulu kumpul itu masyarakat itu. Ada seorang tokoh-tokoh masyarakat juga, saya sendiri membantah dengan suatu ketentuan dia bilang Sraya asalnya dari kata dari berarti Seraya di dalam cerita memang apa tu, Seraya ditulis dengan huruf sesaga nggih. Itu berarti ganti ten kenten. Seperti Gatotkaca Sraya, bantuan dari pada Gatotkaca pada waktu apa itu Abimanyu ketangkap dalam cerita. Gatotkaca Sraya kan Abimanyu meminta bantuan kepada Gatotkaca untuk mendapatkan singasananya kembali nggih. Katanya itu berarti ganti karena jaman dulu raja Karangasem minta ganti, minta Sraya kepada prajurit-prajurit terpilih, atau orang-orang yang kebal di Sraya. Yang menjadi prajurit pilihan untuk menggempur Lombok. Itu saya tidak terima pengertian kata Sraya. Sebab kata Sraya itu sudah ada sebelum Raja Karangasem apa tu menyerang ke Lombok minta bantuan kepada Sraya. Sudah ada Desa ini bernama Sraya. Jadi tidak cocok, saya bantah itu. Pada siapapun saudara menceritakan begitu tidak tepat karena sebelum apa tu Raja Karangasem minta bantuan sudah ada apa tu bernama Sraya. Lain kalau pada waktu itu belum ada nama Desa ini baru bisa apa tu mendekati yang sudah ada. Kalau saya lebih cocok begini yang berasal dari kata Sirah Ya. Sirah artinya kepala, Ya dia. Kepala dia. Karena letak Desa ini adalah di kepala pulau Bali Itu pada ujung timurnya. Sebab kalau ulu itu terletak pada timur dan utara. Satu-satunya Desa yang ada di Bali ini adalah Sraya ini paling di ujung timur tidak ada lagi lebih ke timur dari pada Desa ini. Maka disebut Sirah Ya, Kepala Dia kenten. Jadi karena letak geografisnya nggih, bukan karena apa itu sifat dari pada manusianya.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pahoman Sraya Tengah

Legenda Pura Batu Telu
Memang disana di tepi pantai itu ada batu berderet tiga dari di laut itu. Wenten batu mejejer telu nika. Lalu disana mendirikan pura batu telu untuk nelayan anggen swagina nggih.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pahoman Sraya Tengah

Legenda Pura Mapit
Tukad mapit ada pura itu apid tukad nika, disini pura, dikiri kanannya wenten tukad meapit. Meapitan uli yehe.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pahoman Sraya Tengah

Legenda Pura Bale Sang Hyang
Bale itu artinya tempat, sang hyang itu Tuhan. Balenya Tuhan itu Sang Hyang, ten kenten nggih. Tapi ini tidak ini adalah Bala Sang Hyang. Bala ini pasukan, Hyang itu kan Dewa nggih. Pasukan Dewa sebab disana tu menurut kepercayaan niki pura itu kebanyaan ada wong samar, makhluk-mahkluk yang dulu dipakai pasukan oleh batara itu untuk menyerang pada zaman Mayadenawa itu kan, Betara Indra yang memimpin apa itu pasukan untuk menggempur Mayadenawa itu. Lalu Bala Sang Hyang ini balanya Dewa. Dewa sapa yang punya bala ya Batara Indra. Ini yang cocok Bala Sang Hyang, balanya apa tu pasukannya Tuhan itu dengan disamping itu bukti lagi bahwa sebelum menyerang Lombok orang sini itu berlatih disana. Berlatih megebug disana itu bagaimana caranya menyerang apa tu, cara menyerang Lombok supaya kita menang. Maka disini itu disebut Bala Sang Hyang. Bala pasukan nggih atau rakyat. Jadi rakyat Tuhan, mohon kepada Tuhan untuk kemenangan menyerbu Lombok kenten.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pahoman Sraya Tengah

Legenda Br. Pesiatin Kaler
Pesiatin Kaler sebenarnya itu Pasiatan. Ya dulu katanya dari Kalanganyar ada orang perempuan dia ke pasar Karangasem, datang dari pasar Karangasem itu digoda oleh sebuah anu, apa namanya, kuda. Kuda itu menggoda perempuan dari Kalanganyar sampai dia mati gitu. Sesudah dia mati baru orang-orang Sraya ini akan ngebug namanya riting jangkrik. Ngenteting jangkrik. Dia ngebug mau menggebug kesana karena yang punya kuda itu sudah diambil oleh Raja. Raja Karangasem sampai disini tidak jadi akan berperang gitu. Gak jadi sampai disini ditaruh bambu runcing di tancapkan sehingga masih sampai sekarang disana ada. Tiingnya itu ada bambunya itu sekarang ada disana. Disana ditancapkan hidup sampai sekarang. Artinya perang itu batal gitu tidak jadi akan ke ting jangkrik kembali karena yang punya kuda itu sudah diambil oleh Raja itu sebenarnya itu saja., tidak ada lagi itu ceritanya. Yang namanya Pasiatan, tempat mesiat. Tapi kelama-lamaan ya namanya Pasiatin sebenarnya asal katanya Pasiatan. Tapi sekarang bambunya masih ada disana.
Informan : I Wayan Putra
Alamat : Br. Pesiatin Kaler, Desa Sraya Barat

Legenda Desa Selawang
Dulu namanya Selawang itu orang-orang Seraya Timur akan ke pasar. Sampai disana dia tidak jadi akan ke pasar karena napi wastane selang. Selang manah ipune jaga langsung ke pasar. Mawinan Selawang kenten kocap kenten anune.
Informan : I Wayan Putra
Alamat : Br. Pesiatin Kaler, Desa Sraya Barat

Legenda Tukad Buah
Yan palingsire maosan tukad niki wenten buahne tapi buahne tan becik batu nika buahne, buahne akeh pisan batune atep.
Informan : I Gede Suparwata
Alamat : Br. Tukad Buah, Desa Seraya Timur

Legenda Desa Seraya
Duaning daweg jaman kerajaanne raris……. punika masesentok sareng raja lombok, begitu pacang berangkat, pacing makiken,…… nyentokan kayun, nyentokan kekuatanraris ipun kapereg antuk duin pandan sire je ane nenten matatu nike pacang makirim ka lombok, neked di lombok raris nike macunduk sareng musuh raris napi sane ipun baktane ka lombok, dadosne nika ipun bakta sampan dayung, sampun 4 hari ring lombok wawu raris kembali 5 harinya wenten pitaken panglingsir titiang, men punapi mangkin? Mesiat yan saja men punapi? Nah mangkin sampun kalah, mawenan ngantos mangkin wenten totosan 40 punika polih tanah ring lombok madasar siat, tanah punika genahne nika mawasta seraya duman nika. Jadi dengan berperang yang bersangkutan itu diberikan imbalan berupa tanah.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tukad Buah, Desa Seraya Timur

Legenda Ngenjung Rwabhineda
Sebab di seraya itu ada dua orang yang berbada, manusia yang berbeda dimana letak perbedaan itu? Waktu itu Ida Betara sane malinggih ring mas pahit majapahit, iriki wenten pura mas pahit majapahit duaning yang bersangkutan dikejar oleh buaya. Setelah dikejar oleh buaya baru buaya itu ada yang memburu dari belakang. Sehingga buaya itu mundur kalang kabut tan mrasidayang kija-kija. Akhirne untegne ikutne ngantos mangkin wenten palinggih pura batu buaya punika, nika disamping pura rwa bhineda punika, sasarannya kepalanya menghadap ke pura mas pahit majapahit. Nah karena dinyatakan pada waktu itu siapa yang benar, itu menang, siapa yang salah itu yang kalah. Karena ada perbedaan benar dan salah sehingga ada seperti pura rwa bhineda.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tukad Buah, Desa Seraya Timur

Legenda Kenapa Desa Seraya Ada 3 bagian (seraya barat, tengah, timur)
Terjadi waktu munculnya raja golongan 40, bahwa nanti seraya itu akan terbagi menjadi 3 bagian apabila raja golongan 40 melawan raja lombok mampu untuk mengalah raja lombok.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tukad Buah, Desa Seraya Timur

Legenda Tanah Barak
Karena pas waktu penglingsir tiang jadi manusia, ada sebagian tanah yang warnanya merah. Dengan warna tanah yang merah tersebut maka dusun ini diberi nama tanah barak.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tukad Buah, Desa Seraya Timur

Tradisi Tari Sumbu
Tari sumbu itu berdiri tahun 60-an, kenapa ada sumbu?. Awalnya ada orang sakit. Setelah wenten anak sakit raris mewacakan ring buah base nika. Sesampun mewacakan wenten raris utusan saking nirwana. Ngandikang yen nyak ngelaksanayang madewa ayu mara lantas cening lakar seger. Duaning sakadi nika ngandikangne akhirne melaksanakanlah dewa ayu. Bagaimana sarana gambelan dewa ayu? Sarana gambelan dewa ayu makendang dadua, kalih gambelanne. Kenong ajak cenikan kempul diiringi dengan kecak dan suling, kalau memeang betul-betul sampai kemasukan penari nika nak langsung kesurupan, napi kirangan ring kedituan jek langsung ngomong, “ne nak tiang I dadong ning, tiang I kumpi, lamun ngidang ning ngalihang,…………. Kal seger. Sakewala nek cening sing ngidang sanggup cening sing lakar seger. Sakewala cerita muncul dan berkembang luar biasa di tiga seraya. Niki makanya ada tarian dewa ayu. Penari itu tidak sembarang menari, pas dipurnama atau dihari-hari besar baru nika menari. Yan drikisampun masolah tan nike pirengannemunyin tembang nak jek langsung tebeke aji keris. Yan sampun kemasukan jek tusuke tan kenapi.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tukad Buah, Desa Seraya Timur
Legenda Desa Pertima
Desa pretima merupakan pecahan dari desa bugbug. Pretima terdiri dari tiga desa yaitu prasi, timbrah, asak.
Informan : Gede Sudiana
Alamat : Br. Asak Kawan, Desa Pretima

Tradisi Gebug Gende :
Gebug Gende menurut cerita orang tua jaman dulu perang ke kerajaan lombok. Warga sini Timbrah ikut berperang itulah yang dinamakan gebug. Memerangi orang atau kelompok disebut dengan istilah Gebug Gende.
Informan : Nengah Wija
Alamat : Br. Asak Kawan, Desa Pretima


Legenda Pura Pingit
Pura pingit tidak boleh sembarangan orang masuk ke pura, dalam upacara Aci nika orang-orang yang belum menstrurasi dan ditunjuk oleh desa yang boleh masuk pura tersebut. dan itu sudah ditunjuk oleh desa, dua orang disini ada. Kalau dia sudah menek deha sampun ten dadi mrika malih yang muput upacara juga ragane. Orang kecil yang masih suci ini disucikan lagi oleh desa, ada mataksu upacara di pura pingit ini setiap buda kliwon wage dan teknik persembahyangan nika pun beda, kalau kita sembahyang di pura-pura kan biasa kramaning sembah trisandya disana ( pura pingit ) enggak, pake beteng, kajeng, besaya, cukup dengan satu bunga kebawah, ketengah, keatas, itu kalau beteng yang pake bunga 11x, dan puyungnya tidak pake sarana 9x iu kalau beteng, kalau kajeng 9 sama 7, kalau besaya 7 sama 3 teknik persembahyangannya beda punika dipura pingit.
Informan : Gede Sudiana
Alamat : Br. Asak Kawan, Desa Pretima

Timbrah
Wenten sane ngorang timbrah sari, wenten sane ngorang timbrah. Kalau timbrah kan pembuatan makanan dari darah. Timnya dari darah disini juga terkenal dengan adonan dari darah.
Informan : Gede Sudiana
Alamat : Br. Asak Kawan, Desa Pretima

Sejarah Tegal Linggah
Bernama Tegal linggah itu dari segi kata itu suatu tempat yang luas. Pada jaman itu tempat di Bali ka nada kerajaan yang mempunyai tempat-tempat yang luas dan mencangkup semua kabupaten. Tegal linggah itu tempat para raja, keluarga raja, ksatria, para arya dan sebagainya itu petinggi-petinggi raja belajar mengemban tugas pada jaman itu belajar tentang yang lain dibawahnya. Jaman dahulu belajar menunggang kuda dan keterampilan panah, tombak. Kerajaan jaman dulu kalau melihat foto-fota yang ditinggalkan oleh raja-raja atau dibuku-buku kerajaan yang ada di Bali semua raja itu bebotoh. Untuk disini kerajaan jaman dulu itu bukan dikota karangasem, di Amlapura itu disini lurus di utara kira-kira 2km. tempat kerajaan yang nama kerajaannya Karang Amba. Dengan rajanya Dwa Gede Karang Amba. Setelah di Gelgel terjadi pemberontakan Arya Batan Jeruk. Para Arya Batan Jeruk itu memberontak di gelgel, lalu di jumpai menurut cerita itu di sebelah barat desa Bungaya, disana ada cerita rajanya itu kalau orang puri katanya terjadi perang tanding disana antara Arya Batan Jeruk dan Pasukan Gelgel dan Arya Batan Jeruk pun seda atau kalah. Jandanya dengan seorang anak bernama pangeran oka lari ketimur laut sampai di budakeling. Disana lantas menyerahkan diri pada Dang HYang Astapaka. Sehingga apa yang menjadi kepentingan pranda itu diurus oleh janda Arya BAtan Jeruk itu. Dan tiga hari sekali ke pasar untuk mencari kepentingan pranda itu. Raja yang berkedudukan disana yang sekarang yang banjarnya bernama Seladumi namanya, nah pasarnya ini tidak tahu itunya juga kepasar 3x sekali kepasar yang jaman dulu kan istilahnya 3x di Bali kalau di Jakarta pasar minggu, pasar senen, kalau di Bali namanya beteng kajeng 3x berjumpalah raja itu dengan janda itu 3x sekali. Janda Arya Batan Jeruk pasti cantik kalau tidak cantik tidak manjing ka jeroan istilahnya pada jaman dahulu. Lalu didekati janda itu oleh raja jawaban dari janda itu. Puniki Dewa Agung titiang sampun madue pianak, mangda benjangan kaangkat menjadi raja saya mau. Yang namanya raja asal jejgeg pasti jeg bilang nggih gen, seperti kata pepatah darimana datangnya lintah dari sawah turun ke kali, darimana datangnya cinta dari mata turun ke hati.. jadinya janda ini menyampaikan pad Dang HYang Astapaka dan diantar Janda itu ketempat kerajaan itu disampaikan oleh Dang Hyang Astapaka inilah yang akan menggantikan DEwa Agung lalu dilihat anak itu cocok rasanya menjadi raja. Wantah kayun asapunika dados nika jeg nggih ga usah piker panjang jeg nggih, nah setelah itu di persunting menjadi istri raja, kerajaan itu dipindahkan dari Seladumi itu ke kota Amplapura itu. Nah sekarang ke Tegal Linggah sebagai tempat yang jaman itu cukup luas tempat para raja, keluarga raja, para arya. Belajar menunggang kuda. Dimana ada kuda dan peralatan yang lain-lain harus ada memelihara, memelihara ini kan harus ada orang, ada yang memelihara kuda, ada yang memandikan, ada yang menyabit. Nah yang namanya orang lama-lama komunitasnya berkembang, lalu yang tempat ini atas restu dari raja di namai Banjar Tegallinggah. Nah kalau menurut saya ini, pengamatan saya itu disini kelompoknya itu tidak satu tempat tapi dibagi menjadi 3 ada yang namanya Br Kaler disebelah utara, Br Tengah, dan Br Kelod. Nah apa yang saya pakai acuan untuk nama tempat pusatnya disana ada pura dadia yang sekarang piasan-piasannya disana besar-besar yang lain itu kecil-kecil. Dadia-dadia yang ukurannya besar-besar dengan tampul saka itu, sakanya 12 itulah atau disinilah pusat banjar itu. Nah namanya manusia dikumpulkan terjadilah ketidakcocokan terjadi perselisihan sehingga yang banjar kaler sebagian pindah ke kaler kangin namanya dan banjar tengah juga pecah dan yang utuh banjar kelod saja. Nah karena situasi demikian terus terjadi perselisihan lalu raja menempatkan seorang yang dipercaya di puri di sini. Yang pertama dia memang orang yang berwibawa, dan dua membawa misi anak agung. Dan tidak ada yang berani menolak itu. Semenjak dikirim kemari lalu atas perintah raja, tegallinggah dipersatukan menjadi desa tegallinggah.
Informan : I Wayan Sura
Alamat : Br. Tegal linggah, Desa Tegal linggah

Asal nama Pura Pemaksan
Seperti tadi saat desa itu dipindahkan raja itu pindah ke kota amlapura. Kota amlapura itu sebenarnya cikal bakal kota kerajaan karangasem. Setelah pindah ke karangasem raja itu yang anak angkatnya bernama pangeran oka seperti tadi yang namanya manusia kan semakin lama semakin berkembang punya istri dan juga anak. Anaknya ini keturunannya memisahkan diri dari kerajaan pusat itu dan mendirikan puri disebelah utara kota amlapura itu . yang namanya disini tlabah. Yang namanya puri amlaraja. Dan inilah yang menurunkan raja-raja karangasem. Jadi raja-raja karangasem ini yang tinggal di puri-puri sekarang keturunan Arya batan Jeruk bukan Dewa Gede Karang Ambe. Nah dari puri ini pemerintahannya terus menurun sampai ke Lombok kan begitu riwayatnya ini. jaman dahulu dia raja seperti kelian desa pada punggawa. Punggawa yang mengurusi kota karangasem ini. ini menurut orang tua pada jaman punggawa namanya I Gusti Ktut Anak Agung Ketut Djelantik. Lalu pemaksan jaman dalu yang disebut tadi kan pura pemaksan. Nah itu pemaksan-pemaksan itu ditempatkan sehingga dibentuklah banjar-banjar. Dan dikota jaman dulu banjar-banjar yang di kota itu hyanya ada 1 pemaksaan dikota, tidak ikut dia mengempon pura yang mengempon pura adalah para pemaksaan dibuatkan banjar dikota itu dimaksudnya supaya ikut dia bertugas dan berkewajib mengempon pura puseh desa adat yang ada di karangasem kota. Itu riwayatnya pura pemaksaan.
Informan : I Wayan Sura
Alamat : Br. Tegal linggah, Desa Tegal linggah

Punapi kewastanin Tukad Nyuling
Tukad nyuling kalau sebenarnya dari kota ini cabang Tukad Janga karena sungai itu terlalu kecil memanjang terus ke utara itu memanjang jadi bentuknya seperti suling. Ada yang mengatakan begini pada jaman dahulu banjar Tegallinggah masuk desa adat karangasem. Setranya itu di Karangasem jadi cukup jauh kalau ada yang meninggal kalau banjir di sungai nyuling tidak bisa lewat harus berapa hari menginap di tepi sungai itu. Supaya tidak jenuh ada yan membawa suling. Nyuling disana.
Informan : I Wayan Sura
Alamat : Br. Tegal linggah, Desa Tegal linggah

3.2.3 Dongeng
3.2.3.1 Pengertian Dongeng
Dongeng adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan. Selanjutnya, dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi. Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan, walaupun banyak juga yang melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral), atau bahkan sindiran (Danandjaja, 1984: 83).
Dongeng sering dinggap sebagai cerita mengenai peri. Tetapi dalam kenyataannya banyak dongeng yang tidak mengenai peri melainkan cerita atau plotnya mengenai sesuatu yang wajar. Seperti hanya mite dan legenda, dongeng juga mempunyai unsure-unsur cerita yang terdapat di daerah-daerah lain yang letaknya berjauhan, sehingga dapat dijadikan bahan penelitian perbandingan.
Di Bali dongeng sama dengan satua, The term satwa, = Sanskrit sattva, a creature, hence an animal, indicates the character of many of them. Van der Tuuk (Brandes III, 1915:75) describes them as 'tales, generally oral, such as are told by women to children; some of them summarize the contents of a poem known to the teller, others have been worked up into poems'. This relationship of the oral to the written literature is significant, firstly because the tales provide some of the evidence on which the history and criticism of Balinese literature can be built, and secondly because it is widely recognized that both in language and in sentiment they provide a nearly ideal representation of the indigenous Balinese outlook (Marrison, 16).

3.2.3.2 Inventarisasi Dongeng di Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem

Satua Kambing Takutin Macan
Wenten tuturan satua, wenten kambing di alase, ia nepukin macan. Pas ia maliang-liangan di tengah alase, nepuk ia macan. I Macane tumben nepuk buron tawah cara I Kambing, matanduk. Sakaringya tawah tingaline burone niki, matakon ia I Kambing masi mapi-mapi aeng ia. Cara mapi-mapi aeng tumben tepukina ajak I Macan, nyadu-nyadu matakon. Karena ingin diperdaya I Macane niki, ngaku aeng ia I Kambing jak I Macan. Ia ngaku keturunan Dewa Siwa, di tandukne nyidayang pesu api, otomatis I Macan takut ia. I Macan takut nyidayang mesuang api, tandukne nika di sirahne ngoyong Bhatara Siwa, malaib lantas I Macan. Pas di jalan nepukin I Lutung, I Macan ngorang jak I Lutung, I Macan ngorang, ”Raga nepukin buron ane tawah, di sirahne dayang masuang api. Ia ngaku keturunan Dewa Siwa”. Kenten, I Lutung nawang nika I Kambing, krana I Lutung maan masesangi ngajak I Kambing lakar ngemaang macan telung pasang. Drika iketa lantas I Lutung menek di duurne I Macan, drika maiket ikuhne. Matepuk ajak I Kambing, lantas ngomong I Kambing, ”Nah ne se jani sesangin caine Lutung, macan apasang. Ne mare besik cai abaang”. Sawireh kenten omongne I Kambing, takut I Macan, malaib kone I Macan pati purug ngliwatin pangkung, ulung ka pangkunge, drika lantas mati.
Informan : Ni Luh Any Kusuma Dewi, (Guru Bahasa Bali)
Alamat : SDN 1 Padang Kerta.

Terjemahan :
Ada suatu cerita, ada seekor kambing di hutan yang melihat seekor macan. Pada saat Si Kambing berjalan-jalan di tengah hutan, ia melihat macan, macan ini tumben melihat binatang aneh seperti Si Kambing. Bertanduk, aneh dilihatnya binatang ini, bertanya dia, Si Kambing berpura-pura hebat. Berpura-pura hebat karena tumben dilihat oleh Si Macan. Dia mengaku keturunan Dewa Siwa, di tanduknya bisa mengeluarkan api, di tanduknya itu berstana Dewa Siwa, kemudian Si Macan lari. Saat di jalan bertemu dengan Si Lutung. Si Macan bercerita kepada Si Lutung, Si Macan berkata, ”Saya melihat binatang aneh, di kepalanya bisa mengeluarkan api. Dia mengaku keturunan Dewa Siwa”. Si Lutung tahu bahwa itu adalah Si Kambing, karena Si Lutung pernah berjanji kepada Si Kambing akan memberikan macan tiga pasang. Di sana Si Lutungnaik ke atas kepala Si Macan, mengikat ekornya. Kemudian bertemu dengan Si Kambing, lalu Si Kambing berkata, ”Nah inilah sekarang janjimu Lutung, macan sepasang. Ini baru satu kamu berikan”. Karena begitu perkataan Si Kambing, Si Macan takut, Si Macan lari tunggang langgang menyebrang sungai, jatuh ke sungai, lalu mati di sana.

Satua I Tundung
I Tundung ini, dia sebagai penggarap dari Jero Bendesa di kebun, menggarap tanah tegalan di daerah Bukit, perbatasan antara desa Tenganan dengan desa Bugbug. Setelah lama dia menjadi penggarap Jero Bendesa, tidak ada masalah. Tidak ada masalah apa-apa. Suatu ketika dia menggarap miliknya Jero Bendesa ini selalu, saban malam selalu saja kehilangan. Nah dari kehilangan itu, I Tundung ini merasa malu dengan Jero Bendesa, karena seolah-olah dia teledor tidak menjaga. Terus saja belakangan itu kehilangan. Setelah itu dia mohon, melakukan yoga di Gua Tiga di sebuah bukit Tenganan itu. Lalu diberikan panugrahan untuk menjadi ular. Setiap malam dia merubah dirinya menjadi ular. Ketika menjelang pagi ada di tengah pekarangannya itu ditaruh air suci, tirta itu, kalau diperciki dia berubah jadi manusia lagi. Nah suatu ketika mungkin apes menimpanya, di malam berubah menjadi ular itu, lalu air suci atau tirta yang ditaruhnya itu di pekarangannya itu diterjang atau diterpa oleh anjing yang berkelahi, akhirnya tumpah, sehingga sampai paginya dia mau mencari air itu tidak bisa. Nah akhirnya dia terus menjadi ular. Ketika itu datang memanggil-manggil nama I Tundung penggarapnya itu, Jero Bendesa dikagetkan oleh datangnya seekor ular yang besar. Lalu dia memanggil dengan kaget itu, lalu dia memanggil I Tundung itu lagi, dipanggil ternyata yang menyahut adalah ular itu. Lalu, karena menjadi ular jadi tidak bisa didapat jawabannya itu oleh Bendesa, mengembalikan menjadi manusia, dia tidak bisa. Akhirnya itulah keyakinan sampai sekarang, kalau menemui ular besar di daerah Bukit ini, adalah dengan memanggil nama I Tundung. Kalau dia akan mencederai warga dia akan melapor kepada Jero Bendesa. Dengan demikian, setiap warga yang digigit ular di sekitar sini, di sekitar ini dibawa saja ke rumahnya Jero Bendesa, dia sembuh.
Informan : I Wayan Terang Pawaka
Alamat : Desa Bugbug

Terjemahan :
I Tundung puniki, sane ngarap abian Jero Bendesa, ngarap tegal ring bukit, wates desa Tenganan lan desa Bugbug. Sampun sue dados makarya ring Jero Bendesa, nenten wenten pikobet. Nenten wenten punapa-punapi. Sedek dina anu, ia sedeng ngarap abiane punika, sabilang peteng satata kelangan. Santukan sapunika, I Tundung marasa elek kenehne ring Jero Bendesa, marasa nenten cager ring abian. Terus punika kelangan ring abian. Punika lantas ia nunas ica, ngelarang yoga ring Gua Tiga ring bukit Tenganane punika. Raris kaicen panugrahan prasida dados lelipi. Sadurung semengan, ring tengah pakarangane punika kagenahang tirta, yening kaketisin prasida dados manusa malih. Nah, sedek dina anu I Tundung katiben bencana, ring wengine ia ngelkas dados lelipi. Tirta sane kagenahang ring pekrangane punika runtuh, mawinan wenten asu makerah irika. Punika mawinan nagntos semeng ia nenten mresidayang ngrereh tirtane punika. Punika lantas ia terus dados lelipi. Duk punika Jero Bendesa nyeritin adan I Tundung, raris Ida makesiab mawinan wenten rauh lelipi ageng. Sambil makesiab punika, Jero Bendesa malih nyeritin I Tundung, nanging sane masaut lelipine punika. Jero Bendesa nenten mrasidayang ngawaliang I Tundung dados manusa. Punika kantun ngantos mangkin, yening nyingak lelipi ring Bukite puniki, inggih punika nyeritin adan I Tundung. Yening ia jagi ngutil utawi nyotot, ia jagi nganikain Jero bendesa. Punika mawinan, yening wenten anake sane cotot lelipi iriki, bakta manten ka jerone Jero Bendesa, pastika ia kenak.

SATUA I ANGSA LAN I EMPAS
Dua ekor empas yang kepanasan tidak dapat air lalu minta bantuan kepada angsa. Diambilkan sebilah kayu dipegang oleh kaki angsa...menggigit, diterbangkan kan ngelanting...Lalu datang si anjing hutan anjing liar, itu dikatakan tahi sapi, tahi sapi tuh...Karena ini marah, yaa...akhirnya mau menjawab. Terbuka mulutnya, kan jatuh dia...lalu dimangsa oleh si anjing. Itu..itu legenda-legenda modelnya.
Informan : I Dewa Gede Catra
Alamat : Jl. Untung Surapati Gg. Flamboyan No. 2 Amlapura

SATUA I BAGUS DIARSA
I Bagus Diarsa niki ipun anak truna mamotoh nglilus pisan-pisan, ipun sampun ngelah kurenan. Nah...dija ja wenten matajen jeg pragat ipun matetajen dogen. Nah raris...yen kenken kapa tetajine jeg ipun sampun teka, kalah dogen ipun matetajen kenten...Nika mawinan pepes ipun ten mayah, pepes ipun ambul-ambul, pepes ipun uyut. Nah raris sedek dina anu kenten...yen satua Bali nak munyi sedek dina anu, nak ten tawang yen dina napi kaden nika ten kenten...I Bagus Diarsa rikenjekan ipun madaar meli nasi wenten anak tua turmaning berung. Ipun idihina. Nagih ngidih carikan nenten baanga ken Bagus Diarsa, sampunang ten dados...ten dados tiang ngaturin jerone carikan...nyanan tiang tulah, pelih tiang. Niki tiang numbasang jerone ajengan, belianga ajengan.
Sampun suud tajine, ten sanja...?? taler kari nake tua nika ajaka lantas singgah. Nggih, amun kayun jerone nginep di pacanggahan tiange kewanten kanggeang, ngiring nginep di pacanggahan tiange. Nah raris...nggih kenken ja jerone, tiang maserah tangan kija ja lakun tiang. Nah, nika lantas ajaka ka umah I Bagus Diarsane. Teked di jumahne kaukina kurenan ipune. Jagjagina kurenan ipune taler patuh cara I Bagus Diarsa, seng ja ten, cinging ja ten, kenten...Pepes ayahina kadi amun patute, yen patut pacanangan, yen patut napi aturina nake lingsir. Taler repotanga baanga ngidih ajengan buin irika.
Sampun suud punika mpun peteng, irika lantas kaukina I Bagus Diarsa. Cening Bagus Diarsa indayang mai. Mpun masalin mpun ten kari ten dadi berung bonyok. Ne nak melah pisan-pisan kertin ceninge. Amontoan di numadine buin apisan, ditu cening kal dadi raja. Nah, apang cening ngidang ngulurin indria di sekala, mani puan alih bapa ngaja kanginang. Ne bulun siap akatih, amun meled lakar nepukin bapa, ne lebin. Kija ka lakuna bulune, kemu tuutang ngaja kanginang, sinah bapa lakar tepuk. Niki duaning sampun meled pisan ipun katemu kari masih indriane di sekala demene matajen. Apa tagih cening, amun cening lakar ngalih pipis to alih bungane jeg ampun dadi pipis, haha....Akhirne kembali ten kenten...manine matajen buin keto. Trus sandikala niki sampun tutup sengker duwene, sampun pacang nepukin rahayu. Nah raris...malih matatajen, riki matohtohan ngajak sang prabu. Matohtohan ngajak sang prabu, kalah sang prabu. Akhirne I Bagus Diarsa nyumunin dadi raja. Nah buin pidan disampune pragat suba ngisiang gumi, sampun nepukin suargan. Duaning ipun demen matulung teken anak sengsara.

Terjemahan :

DONGENG I BAGUS DIARSA

I Bagus Diarsa ini adalah seorang pemuda yang sangat senang menyabung ayam. Ia sudah mempunyai seorang istri. Nah...dimana saja ada tempat menyabung ayam pasti ia ikut di sana. Nah jika seandainya ada yang memasang taji ia pun selalu datang, namun tetap saja kalah ia bertaji begitu...Itulah sebabnya seringkali ia tidak membayar, seringkali ia kesal, seringkali ia ribut. Nah kemudian pada suatu hari, kalau dongeng di Bali menggunakan istilah pada suatu hari, karena tidak diketahui pada saat itu hari apa, begitu... ketika I Bagus Diarsa sedang membeli nasi, datanglah orang tua yang luka borok. Ia dimintai nasi. Karena ingin meminta sisa-sisa nasi tersebut, tidak diberikan oleh Bagus Diarsa. Jangan, tidak boleh...tidak boleh saya memberikan anda sisa-sisa...nanti saya berdosa, saya akan bersalah. Ini akan saya belikan anda nasi, saya belikan anda.
Setelah selesai bertaji, kan hari sudah sore...?? ternyata orang tua itu masih di sana, kemudian diajak mampir pulang. Iya, kalau anda mau menginap di rumah saya, tetapi mohon dimaklumi, mari menginap di rumah saya. Nah kemudian...Iya terserah anda, kemanapun anda pergi saya ikut. Nah, kemudian diajaklah ia ke rumah I Bagus Diarsa. Sesampainya di rumah, ia memanggil istrinya. Ia segera mendatangi suaminya sama halnya seperti I Bagus Diarsa, diganggunya juga tidak, begitu...Seringkali ia dilayani sebagaimana mestinya, kalau seharusnya diberikan tempat kapur sirih, serta hal-hal lain yang sudah seharusnya diberikan kepada orang tua tersebut. Selain itu ia juga diberikan makan di sana.
Setelah itu hari pun sudah malam, kemudian di sanalah Bagus Diarsa dipanggil oleh orang tua tersebut. Bagus Diarsa kemarilah. Ternyata orang tua tersebut telah berubah rupa, luka boroknya pun sudah tidak ada lagi. Perbuatan anda memang benar-benar mulia. Bila suatu saat nanti anda menjelma sekali lagi maka di sanalah anda akan menjadi seorang raja. Nah, semoga anda bisa mengendalikan indria duniawi, dikemudian hari carilah saya ke arah timur laut. Ini sehelai bulu ayam, jika seandainya berkeinginan keras untuk menemui saya, terbangkanlah bulu ayam ini. Kemana arah perginya bulu tersebut, maka ikutilah ke arah timur laut pasti nanti anda pasti akan menjumpai saya. Karena keinginannya yang besar untuk bertemu, indria duniawinya masih senang dengan menyabung ayam. Apa yang anda inginkan? Kalau anda hendak mencari uang, petik saja bunga itu dan akan berubah menjadi uang, haha... Akhirnya ia kembali, bukan begitu...Keesokan harinya kembali menyabung ayam, begitu. Kemudian pada sore harinya sudah akan berakhir batas yang dimilikinya, sudah akan menemui kebahagiaan. Nah kemudian...kembalilah ia menyabung ayam, di sana ia bertaruh dengan sang raja. Bertaruh dengan sang raja, ternyata sang raja kalah. Akhirnya I Bagus Diarsa menggantikannya menjadi raja. Nah suatu saat nanti bila sudah selesai menjadi raja, tentu akan mendapatkan surga. Karena ia senang menolong orang yang sedang kesusahan.
Informan : I Dewa Gede Catra
Alamat : Jl. Untung Surapati Gg. Flamboyan No. 2 Amlapura

SATUA SEGARA RUPEK
Wenten mapesengan nika Mpu Sidi Mantra di Jawa madue oka asiki Ida Manik Angkeran, mamotoh, nglilus, nglilus, nglilus san mamotoh...Engken genta mapaling, mpun kenten Ida ngintip. Nunas pipis ken ajine...kicen. Nunas pipis ken ajine...kicen. Kija ya i bapa ngalih pipis. Nggih...ija ya bapa ngalih pipis. Nah raris intipa...asal sampun gentane nika mamunyi, indayang ampun ida maan pipis, gentane nika palinga kenten...gentane nika palinga. Laut ida ka Besakih kenten...Lantas drika di guaning Besakih di gua Naga Basukine ento munyianga gentane. Medal I Naga Basuki, nika mpun ikuhe misi cocor...mirah. Apa kal alih mai??? Titiang nunas jinah...nah kicen. Benjangne malih makta empehan. Nika mpun intipa cocor ikuhe.
Nah raris disampune ping kuda-kuda Ida nangkil, ten kagugu, kapercayain baan Ida I Naga Basuki. Ten maa lakar sengkalina. Ipun kicen gelar kal matajen...Malu mapuleh I Naga Basuki lakar macelep ikuhe kan katepuk di duri...Ini dipenggal, kenten...Akhirnya I Naga Basuki puniki marah. Irika terbakar. Puun Ida Manik Angkeran, ten purun Ida Manik Angkeran. Nah...Mpu Sidi Mantra di Jawa paling ngalih-alihin, dija ya lakuna i cening, sing ngenah-ngenah. Paling Ida, cingakina gentane ten kari. Nah, sinah ia ka Besakih. Ida lantas ka Besakih...Ida lantas ka Besakih, Mpu Sidi Mantra ka Besakih ngatur sisip. Nunas kiwang-iwangane. minakadi nenten malih jagi malaksana sapunika. Nah, amun buin nyidang ngatepang ikuh nirane lantas idup...Nah, Manik Angkeran nggih tititang ngrapetang. Nah sambungina...sambungina malih. Idup Ida Manik Angkeran. Nika mawanan...Nah cening, duaning cening kene laksanan ceninge, laut suba dini aturang bapa pangaturang ayah di Besakih. Raris Ida Mpu Sidi Mantra mawali ka Jawa. Torehanga tungkede dadi Segara Rupek kenten...Tujuane apang Ida Manik Angkeran ten nyidang biin ka Jawa.
Informan : I Dewa Gede Catra
Alamat : Jl. Untung Surapati Gg. Flamboyan No. 2 Amlapura

Terjemahan :
DONGENG SEGARA RUPEK
Tersebutlah seorang mpu bernama Mpu Sidi Mantra di Jawa yang mempunyai seorang anak bernama Ida Manik Angkeran. Menyabung ayam...sangat senang menyabung ayam, senang sekali menyabung ayam...Terkadang gentanya dicuri, setelah itu ia mengintip. Jika meminta uang dengan ayahnya...diberi. Ke mana ya ayah mencari uang. Iya...ke mana ya ayah mencari uang. Nah lalu diintipnya...setiap gentanya itu sudah berbunyi, pastilah ia sudah mendapat uang, genta itu dicurinya begitu...genta itu dicurinya. Kemudian ia ke Besakih begitu...Lalu di sana di dalam gua Besakih di gua Naga Basuki tersebut genta itu dibunyikan. Keluar I Naga Basuki, terlihat di ekornya terdapat permata...mirah. Apa yang dicari kemari??? Saya meminta uang...Iya, diberikan. Keesokan harinya kembali membawa susu. Ekor berisikan permata itulah yang diintipnya.
Nah kemudian setelah beberapa kali datang, kan dipercaya oleh I Naga Basuki. Tidak menyangka akan dicelakai. Ia diberi modal untuk menyabung. Ketika I Naga Basuki akan berbalik arah ingin masuk, ekornya kan terlihat di belakang...Ini dipenggal begitu...Akhirnya I Naga Basuki ini marah. Di sana ia terbakar. Hanguslah Manik Angkeran, tidak berani Manik Angkeran. Nah...Mpu Sidi Mantra di Jawa bingung mencari-cari, ke mana ya perginya anakku, tidak kelihatan. Bingunglah ia, dilihatnya gentanya tidak ada. Nah, pasti ia pergi ke Besakih. Kemudian ia ke Besakih...lalu ia ke Besakih. Mpu Sidi Mantra ke Besakih meminta maaf. Mohon maaf atas kesalahannya, tidak akan lagi bertingkah laku yang seperti itu. Nah, kalau dapat kembali menyatukan ekorku kemudian hidup lagi...Nah, Manik Angkeran saya yang menyatukan. Nah, disambungnya...disambungnya lagi. Hiduplah Manik Angkeran. Itulah sebabnya...Nah, anakku karena seperti ini tingkah lakumu, sekarang akan ayah biarkan kamu di tinggal sini untuk bekerja tanpa pamrih di Besakih. Kemudian Mpu Sidi Mantra kembali ke Jawa. Tongkatnya ditorehkan sehingga menjadi Segara Rupek begitu...Tujuannya agar Manik Angkeran tidak bisa kembali ke Jawa.
Informan : I Dewa Gede Catra
Alamat : Jl. Untung Surapati Gg. Flamboyan No. 2 Amlapura

SATUA I KEDIS KUNING MAREP TEKEN I BAWANG AJAK I KESUNA
I Bawang dan Kesuna kan bersaudara. Memekne niki ya katakanlah seorang lacur, orang miskin. Lalu ini anaknya disuruh kerja. I Kesuna, I Kesuna nah mu ngalih saang malu. Nggih. Mu jak I Bawang. Nggih. I Kesuna maengkeb. Nyanan teka I Bawang. Cen saang kar anggon nyakan. Niki sampun. Nika nak tiang, tiang nika Me... Kan Kesuna, pisuna... Konotasinya ke sana. Bawang kan leleh melutin bawange ten ada isine, ten kenten... Artinya nyuun suung. Itulah artinya. Makanya bawang anggen pasikepan, ten kenten...
Nah lantas, mu ngalih munuh malu pang ada jakan. Nggih. Bih, I Kesuna buin ne maengkeb. Teka I Bawang ngaba munuh. Tahu munuh? Orang maselip padi.. Krebes-krebesan padine nika. Lantas I Bawang ampun ngemalunin. Tiang nika begehan makatang. I Bawang nak ngoyong-ngoyong den...Nah karena tiap hari suasananya seperti itu akhirnya ini I Bawang dipukulilah, karena lengit eda baanga mareren. Akhirnya ia nangis. Datang ibunya. Be baang ia makan, madaaran? Ampun nika napi. Dadine balene nika makrebesin nasi. Nah di duurne nika kan nampek nak madaaran. Ia ten makan.
Nah saking tertekannya dia, pergilah ia kalunta-lunta ka tengah alase. Ya, sambil mudah-mudahan dapat makan begitu. Akhirnya dilihatlah Crukcuk. Nyai, nyai Crukcuk Kuning, dong olasin tiang mangkin. Anu nika tiang ten madaaran. Bengong Crukcuk Kuning. Kedeh ngeling. Akhirnya Crukcuk Kuning pada suatu saat karena sering dia digitukan oleh ini datang dibawakan makanan. Lalu datang lagi,besoknya datang lagi. Niki ada masalah ya..Nyai, nyai Crukcuk Kuning, dong olasin tiang mangkin. Tiang kacakcak niki awanan tiang matatu, magetih-getih. Teka Crukcuk Kuning kecorina nika, luka-luka itu hilang. Nah, sekarang I Kesuna tahu bahwa I Bawang itu nganggo emas. Jangin panganggon tiange kalong, emas, apang nyidang tiang patuh teken anak len. Tahu-tahu dapat kemiri. Dija awake keto? Dija awake keto?? Kene..kene...Mau, mau mengantar...Akhirnya Crukcuk Kuning mau juga datang. Nyai, nyai Crukcuk Kuning dong olasin I Kesuna, eda I Bawang dogen baanga. Apa kar tagih? ten kenten? Kalung emas pang patuh. Ene ne kalung emas ngelenteng. Begitu dipakai, lelipi...Buih, puntag-pantig. Akhirnya dilihat I Bawang nganggo cincin emas, segala indah. Tahu-tahunya gelange niki dadi lipan. Cincin ini jadi celedu. Ya, ini kan karmaphala nika.
Informan : I Nengah Pasek
Alamat : Jl. Ngr. Rai Gg. Merak No. 10 , Amlapura

SATUA
I KEDIS KUNAN AJAK I SEMUT
I Kedis Kunan maningalin I Semut anyud, anyudang embah, cara mangkin wenten gede-gedene. Labuh anu I Kedis Kunan, Ih...apa I Semut!! Lantas I Kedis Kunan ngempok kayu aking ngentungang di yehe nika, di embahe nika. Elungan kayu, carang kayu nika..I Semut ten maan ia, tekkk...Matinggah ia anu ngoyong ia ditu ngatekung terus sampeh sisi ida. Nah mangkin suatu saat I Kedis Kunan kari bengong nguyuk di carang kayune. Teka i juru boros ngaba bedil. Ampun petitisa, mati lakar I Kunan ampun nika. I Semut berhutang budi ia, I Semut tekening I Kedis Kunan. Jeg majalan di batise nika jeg ceteetttttt...gutguta batise nika. Taarrrrrr...jeg kene ia palaib bedile. Nah, karmaphala ya....

Terjemahan :
DONGENG
BURUNG PUNAI DAN SEMUT
Burung Punai melihat ada seekor semut yang hanyut, dihanyutkan oleh air yang sedang mengalir, kalau sekarang sedang deras-derasnya mengalir. Jatuh anu Si Burung Punai, Ih...apa Si Semut!! Lalu, Burung Punai mengambil sebilah kayu yang kering kemudian dibuang ke air itu, di air yang sedang mengalir itu. Potongan kayu, dahan kayu itu..Si Semut akhirnya berhasil mendapatkan potongan dahan kayu tersebut, tekkk...Hinggaplah ia, berdiamlah ia di sana, terus bersuara...Nah, sekarang suatu saat Burung Punai sedang melamun, mengantuk di dahan kayu. Datanglah pemburu membawa senapan. Sudah dibidiknya, padahal sudah akan mati Si Burung Punai itu. Karena Si Semut merasa berhutang budi, Si Semut terhadap Burung Punai. Jeg berjalanlah Si Semut di kaki pemburu itu, jeg ceteetttttt...digigitnya kaki pemburu tersebut. Taarrrrrr...jeg begini arah peluru senapannya. Nah, karmaphala ya....
Informan : I Nengah Pasek
Alamat : Jl. Ngr. Rai Gg. Merak No. 10 , Amlapura

SATUA
NI TUUNG KUNING

Kaceritayang dumun kocap wenten bebotoh sane madan I Pudak. Ipun sawai-wai matajen dikenkene kanti nginep bulan-bulanan ipun di tajen sayuwakti engsap ipun teken swadarma dados manusa. Risedek dina anu I Pudak makeneh luas joh matajen. Drika raris ia mabesen teken kurenane. Wayan, Wayan kurenan beline, bin mani beli lakar luas joh matajen. Ne jani basang Wayane beling gede. Yen nyanan lekad panake muani, melahang pesan miara, di gedene apang ada ajak beli luas matajen. Sakewala yen luh, jeg matiang ia, tektek ia baang ngamah siap sawireh i raga pocol ngelah pianak luh. Apa mawinan keto??? Uling cerik, peting-peting baang nasi, sekolahang tegeh-tegeh. Yeee...di gedene juanga ajak anak len. I raga apa sing maan. Kenten pabesene I Pudak. Mara kenten pabesene I Pudak, pramangkin sedih ipun Men Pudak. Ngudiang beli ngomong keto? Ngudiang kone pocol ngelah pianak luh? Yen sing ada anak luh, men kenkenang ada manusa di gumine. To contohne ibu pertiwi satmaka i meme ngicenin i raga merta. Kenten kenehne Men Pudak.
Kaceritayang I Pudak sampun budal, saget sakit basangne Men Pudak. Aduh, aduh...klies, klies...Jeg saget makeples belingane Men Pudak. Oeekkk, oeekkk...Beh, lega san kenehne Men Pudak. Mara tingalina panakne luh buin sebet kenehne Men Pudak. Risedek Men Pudak sebet, ngelah ipun daya. Paling melah panake kinsanang di umah dadongne. Ari-arine dogen baang ngamah siapne makejang. Lantas Men Pudak ngencolang ka umah dadongne.
Suba kudang tiban kaden panakne kinsananga di umah dadongne wau teka I Pudak. Ih Wayan...to dapetang Beli basang Wayane suba cenik, sinah suba ngelah panak. Men kenken pianake, muani apa luh?? Enggalang pasautin!! Uduh Beli, lacuran panak beline madewek luh. Sakewala suba tektek tiang baang ngamah siap beline makejang. Kenten munyinne Men Pudak. Mara kenten pasautne Men Pudak, pramangkin siapne I Pudak makeruyuk. Pak..pak..pak..pak...kukuruyukkkk....Pak..pak..pak..pak...kukuruyukkkk....,,,,Pak..pak..pak..pak...kukuruyukkkk....,,,, Beh, bogbog-bogbog san kenehne Men Pudak. Anak i raga ajak makejang baanga ari-arine dogen. Pianakne kinsananga di umah dadongne. Kenten munyin siapne i Pudak. Mara ping telu mara pirungu teken I Pudak. Ih Wayan...Ih Wayan, suba bani mogbogin ragan beline. Ne jani Wayan mati apa panake mati? Enggalang pasautin!! Uduh Beli, lacuran panak beline madewek luh sakewala suba baang siap beline makejang.
Drika raris Men Pudak ngengsolang ka umah dadongne. Teked jumah dadongne drika raris Men Pudak ngomong. Tuung Kuning...mai malu cening, anak bapan cening suba ngantiang ditu jumah. Mangkin malu Meme...tiang lakar mambuh buin akejep dogen. Lantas Ni Tuung Kuning mambuh. Sasuude Ni Tuung Kuning mambuh nganggen sarwa putih. Drika raris Ni Tuung Kuning ngajak memene maarepan ka arep dadongne. Teked di arep dadongne drika raris Ni Tuung Kuning ngomong. Dadong...tiang lakar mulih. Tiang tusing lakar buin mabalik mriki, anak tiang lakar matianga teken bapan tiange. Tuung Kuning...lacur cening ngelah dadong belog buka kene tusing nyidayang ngengkebang ragan ceninge. Kenten pasautne dadongne Ni Tuung Kuning. Lantas Ni Tuung Kuning ngajak memene mabalik ka jumahne. Teked jumahne tonden ngomong apa-apa Ni Tuung Kuning sahasa I Pudak nyemak bokne Ni Tuung Kuning orosa ka tengah alase. Teked di bongkol bingine ane gede drika lakar matianga Ni Tuung Kuning. Kawentenan asapunika kacingak olih Sang Widyadari uling suargan. Drika raris Sang Widyadari uli suargan mamanah antuk nulungin Ni Tuung Kuning. Saupa Ni Tuung Kuning kagentosin antuk gedebong. I Pudak sahasa nektek gedebonge ento ane tingalina Ni Tuung Kuning. Lantas abana mulihne. Teked jumahne baanga ngamah siapne makejang. Tonden telah gedebonge ento, prajani siapne I Pudak ngaseksek mati. I Pudak bengong ningalin siapne makejang ngaseksek mati. Mara inget teken awakne ngauk-ngaukin panakne. Tuung Kuning...Tuung Kuning...pelih bapa ngamatiang cening. Ne jani dija bapa ngalih cening Tuung Kuning di alase buka di jalane sakadi anak buduh ngauk-ngaukin panakne. Drika lantas tingalina olih Ni Tuung Kuning uling suargan. Drika raris Ni Tuung Kuning mamanah antuk atehina ka arep bapane. Teked di arep bapane I Pudak makesiab ningalin panakne. Geluta panakne ajaka mulih.
Kaceritayang Ni Tuung Kuning malih idup ngae biur pisagane. Drika raris pisagane malali umah Ni Tuung Kuning. Raris pirenga teken Sang Prabu. Drika raris Sang Prabu ngutus pepatihne apang ngajak Ni Tuung Kuning tangkil ka puri. Teked di puri drika raris Ni Tuung Kuning nyaritayang kemegahan suargane. Sang Prabu ngon tur kasmaran teken Ni Tuung Kuning anggena permaisuri. Bapan lan memene anggona perbekel desane.
Informan : Ni Kadek Ayu Sumawati
Alamat : Tibulaka, Bukit

Satua Pan Balang Tamak
Istilahnya Pan Balang Tamak nika cerdik, cerdik dia. Dayane liu. Karena dayanya akeh nika maka waktu matinya itu, waktu dia meninggalnya itu. Maka dia ten wenten ne ngrungwang akhirnya dia kesepekang, begitu meninggal buin entungang kaslelegan di punyan kelore. Karena dia ceritanya di kelor pada waktu itu kalau Tumpek Wayang orang ndak mau memakai kelor sebagai sayur karena Pan Balang Tamak di slelegan disana gitu. Kemudian sawonya itu lalu dimasukkan dalam peti, diceritakan ini ada maling. Ada maling dating dikirain peti itu berisi barang-barang yang berharga kemudian dicuri itu yang mencuri itu “kuk ini gak ada apanya ini” jlema. Se mekaad ngenggalang, ane tegene jlema. Nah akhirnya karena diketahui itu jlema dibuang dia di paku. Pohon paku-paku sayur itu. Jadi pada hari itu ketika dia ada di pepaku, paku itu tidak mau dipakai sayur. Kemudian ada lagi orang yang “lo ini kuk ada peti” peti itu lagi dipindahkan juga begitu ceritanya “jlema,jlema, bangken jlema”. Akhirnya lagi dibuang di tempat itu, di tempat kladi makanya sing dadi naarin jukut kladi genit ben bibihe begitu. Begitu ceritanya ngelah daya liu, ya itu makanya disebut Balang Tamak.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Bukit Pertima ( Timbrah )

Satua Pan Getap
Ring panegara Jenggala niki ring Jawi wenten anak madan Pan Getapsawireh takut yen cara Bali takut bas kaliwat, takut adanina getap. Pan Getap ngelah kurenan sabilang peteng sakan adanin Pan Getap niki ban takutne sabilang peteng budi Makita ngenceh budi Makita meju pragat dijumahne, ten bani pesu Pan Getap ne. lantas bes sesaine kenten berpikir niki mekeneh nika kurenane, “beh yen setata kene raga anu, anggona buruh saking silib ring kurenane, kodag sesai manjakin tai ken payuh. Adanan pun ten ngelah kurenan”. Ben di kenkenan niki Pan Getap, peteng niki apang ten ketara ia meju di pademan, kebetulan anak cenik Makita meju jek atepa jit ngajak jit panakne nika, ampun-ampune kan ten napi wewe nika kurenane. “beh ngujang tai dini!, “ah panake meju”. “yen tai panak ngujang ya misi kelor-kelor misi kacang-kacang di taine, pasti beli ne meju ne!”. “ta nyai tuni dugase madaar se madaar jukut kelor baan kacang, anake nyonyone lakune kelor jak kacang sepsepe ken panakne, kan meju kaketo gen”. beh lantas mapineh-pineh niki,”yen kene trus unduke, paling melah da ngelah kurenan, lakar matiang uling silib”. kenten. Lantas napi Men Getap ngae wiweka niki, ngae akal, kenken ban pang mati kurenane. Lantas kabliang racun tuba niki. Tundena kurenane ka alase ngalih saang, bakalina tipat roras, tipate makejang pun misi racun, be siap misi racun, tuak makejang pun nika jangina tuba. Yen nyanan di beete layah kurenane, seduk kurenane, pas madaar kene jek pasti mati. Sing ban tuyuh ngabenang ba ditu ba mati ba ilang. Anggap saja apa amah gamang, kenten nika sampun lantas kene ya, “beli, beli, beli ba nawang ne panake bin telun, lakar keoton.apa sing ngelah , yen baas ada,ne saang sing ngelah, coba ja malu ka alase ngalih saang. Bakalina nyen tuak, tipat apa ja tagiha beli”. “nah amun keto mara ya demen beli”.
Mangkin critayang mangkin di luar, lianan ken Pan Getap nggih. Di kenten niki di Kerajaan Jengala niki ricuh, wenten maling cara maluan dusta nggih. Dusta ane ngaduk di puri ten ja ngidang bakat niki. Nganti sai niki magebag-gebagan, apang nyidang ngejuk maling ten mresidayang. Nah mangkin critayang mangkin Pan Getap ampun majalan nika ka alase ngaba kandik, sambilang ngaba tuak, sambilang ngaba napi ngaba tipat magantung nika roras. Nah ampun napi, teked di alase wenten tepukina kayu ane tuh nika pun sedeng melah nika anggona saang nggih, drika ya ngandik sedeng, “kamplang, kamplang, kamplang” ngandik, uyut nika wenten anu ajaka roras nika malinga ane makelid ampuna nika, “nah, nah, nah, nah, nah jani mati ne ngusak alas ne ngandik-ngandik. Padahal ane mamunyi nika maling ane ampun mengsup di beete nggih. Ajak liu malinge nika. Beh ten ja bin tolihan I Pan Getap jek lanying pangkunga, jek peng…! Yen lanying nika kan tumpeng. Jek peng nika malaib. Beh mlaib ketakutan Getap nggih. Beh napi malinge nyagjagin, kandik makutang drika, tipat, dereng maan naar tipat makutang, tuak makutang drika. Beh malinge lega. “beh apa ne, rejeki nomplok!”. Ampun kenten gibunga nika tipat, be siap. Beh mabuk-mabukan nika di tengah anu, suud kenten, napi kenten, sawireh niki makejang niki misi racun, jek kenten, jek masuk ring kapal terbang malingne majalan nika, pilot. Ampun kenten Pan Getap ten bani maklisikan ten. Nengil samping batune, yen malaib uber nyen nika. Intipa nika, ampun wenten nang 5 jam, tinggalina pun peglitik kene. Ngujang sepi kekene, punyah iriban minum tuak. Nganteg ka sanja, yen orang pules, ya naar tuak san, jemaan batu, pesu jaila nika, lamun timpuga ten maklisikan pasti ada apa-apa disana, ten kenten nggih. Ampun ping dasa nimpugin nika anu sepi, mara nika sambil tolah tolih. Peh nyen timpalne teka, kenten Getap. Ampun kenten toliha ampun biru-biru niki, pun peglitik niki pun pesu lumuh driki jek ampun taktahina nika Pan Getap nika. Cunguhne makejang ampun ja ten wenten angkihan. Beh pesu galakne Pan Getap. “kene karmapala iba, salah iba ngamah dedaaran kaene, kae onden man nyicipin ya ba maluan ngamah, ne uba ibane kene upah karmapala”. Galak Pan Getap, jek kandika nika. Makejang malinge nika pun pules, pun mati. Cah-cah ji kandikne nika, wenten pegat niki, wenten belah. Pun kenten mlaib melapor ke pun. Ngorang pun nyidang ngematiang maling nika. Pih ten guguna di puri nika. Masak Pan Getap nyidang. Lamun ten gugu lan ka alase tinggalin. Surpei membuktikan kenten, yakti pun turun nika. Turun nika uling puri, heran nika. Takonin Pan Getap. “Kenken Pan Getap ne, malinge dadi kene”. “ Beh, mesiat ampun mati kandik tiang”. “Kenken? Di subane mati kandik tiang. Uling puri niki kan kadena mesiat melawan kandik nganti mati malinge kenten. Nika Pan Getap tetep, “ampun mati kandik tiang”. Artinya sudah mati saya lawan dengan kandik. Berarti pun bangke pun mati mara mekandik kenten. Beh madaa Pan Getap ya madaa. Ten bang mejalan teken panjak-panjak di puri, magandong ban jasane nika. Uli pidan tahunan niki ten nyidang anake ngejuk maling. Ketumbeg anak getap kekene tapi nyidang ngelawan masiat nganti mati dengan bukti malinge niki pun telah kematiang. Ampun kenten kaangkat lantas Pan Getap dadi pengawal puri. Nyen nawang wenten maling-maling lenan, ne ba cager Pan Getap ne, kudang maling mati lawan padidi niki. Cager niki ken anake agung ten kenten. Akhirnya Pan Getap dadi pengawal drika tapi duga ya ban wanena, ban saktina nyidang ban ngamatiang maling liu. Nah pun kenten, sawireh Pan Getap nika pun terkenal di puri ban wanena nyidayang ngalahang maling, wenten utusan saking Jaba Prabu Jenggala nika nglapur ka puri ngorahang tan nyidang mayah upeti. Ane ngranayang liwat ring alas macane liu, ampun kuda anake amah macan di pajalanane nika. Mangkin mapanggil niki Pan Getap ken Dewa Agung. “Getap, sawireh suba kasub iba dini ngalahang maling liu, ne ada utusan di Jaba Puri ngorang sing nyidang mayah upeti mai jani, ban macan kone liu di tengah jalan ngadang kanti mati liu amah macan. Jani cai lakar utus gelah ngamatiang macan tengah alase!” Kenten napi, Anak Agung nika, Pan Getap pun “Beh kenkenang jani, kenkenang jani nglawan macan?” I pidan untung nak mati bakat lawan ten kenten, jani macan lawan, Beh....bas kene bas mara maangkat dadi pengawal istana jani lakar nglawan macan. Mih bas mara kasub jani mati , jeg mati! Kenkenang yang nglawan macan, ipidan nyen apa kaden nulungin nganti mati malinge di tengah alase. Jani jeg pragat mati suud dadi pengawal puri, jeg kenten napi, Pan Getap niki yen makita nulak, kenkenang nika ken Sang Prabu. Yen tuutang jeg mati, ngorang ken kurenane, “Luh jani Beli lakar kautus ka tengah alase lakar ngamatiang macan, sing sinah lakar Beli mati amah macan, kanggoang balu dini. Beli kel mati, pasti mati, kanggoang mone legan makurenan. Beli sing nyidang lakar ngalahang macan. Duh ne pidan to kebetulan”. Berangkat nika lakar majalan kaicen anu keris, madan Barupah. Keris nika, lakar anggon napi nglawan macan di alase ane kereng ngamatiang. majalan nika di alase apadidian, lakar ngamatiang macane ento. Teked tengah jalan ngundap nika makelo, ”Woi macan, baang ngamah kae, pang kae enggal mati”. Kenten jeg pragat jeg galak kenten. Macan ngelah pianak, layah ngadek bon jelema teka, teka macan nika. Teka macan nika, magerum macan nika, beh malaib nika Pan Getap, malaib menek ka punyan canging niki, wah babak belur di duur canging. Macan beten pun kene kel ngadang tuun I Pan Getap. Pan Getap pun antara mati dengan hidup, ampun kasol-kasol menekan ulung kadutane. Di sletane niki, kena macane, mati macane. Mabalik Pan Getap, ”Bih ka dadi kakene!” Aget gatine, kelesne di sletan ngenen baong macane, mati macane. Ampun seken mati, tuun nika Pan Getap. Potonga nika baong macane nika anggon bukti, aba ka puri. Aliha tali, tegula ka puri. Nika pun telah getih nika kena gesges duin canging, nika napi, ”Nyanan lamun enteg di puri orang lawan magulet teken macan. Enteg di Puri, bengong makejang nika. ”Beh....bin menang Pan Getap, Panggola macane abane, ”Sampun, sampun, sampun”. Pan Getap maleleh niki, ”Aruh, aruh, aruh”. Ampun kenten mara tes matakon niki. Matakon, ”Kenken ne cai unduk masiat di betne, masiat ngalawan macan, dadi ngidang ke ngalahang macane”. Mara Pan Getap ben, ”Beh sapunika Dewa Agung, wawu tiang rauh ring gook macane, tantang tiang macane pang pesu. Undang tiang macane, pesu nika macane niki sagrep tiang magelut, Bih...”Jek tusuk tiang uli kadutan niki, mati. Niki buktine, punggelan raga niki tu”. Beh bengong nika anak makejang, ”Aeng gen Pan Getap, pidan maling jani bin macan. Nah Pan Getap, sawireh jani cai suba slamet ngalahang macan, ba ne maling ba, aman jani gumine, nyidaang ba panjake mayah upeti mai ka puri. Jani cai dadi panglima dini, senapati dini, cai pamimpin balayudane dini ne di puri. Sawireh cai paling wanen. Balayudane kudang taun dini sing nyidang cara cai, cai je mare dini nyidayang, jani cai dadi pemimpin dini di puri. Pan Getap, ”nggih, nggih, nggih”.
Terjemahan :
Di Negara Jenggala ini di Jawa ya ada anak namanya Pan Getap kenapa dinamai Pan Getap karena takut kalau seperti Balinya itu kelewat takut dinamai Getap (takut). Pan Getap punya istri setiap malam kenapa dinamai Pan Getap ini karena takutnya setiap malam tiap mau kencing atau mau buang air besar selalu dirumahnya. Tidak berani keluar Pan Getap ini. Lalu karena terlalu sering begitu berpikir ini dalam hati istrinya itu, ”Beh, kalau setiap hari seperti ini, diperlakukan seperti buruh diam-diam sama istrinya, tidak bisa sering menerima kotoran dan kencing”, kan begitu ya.”Lebih baik tidak mempunyai suami”. Dan sewaktu apa ini Pan Getap, malam biar tidak diketahui iya buang air besar di tempat tidur, kebetulan anaknya yang kecil mau buang air besar. Di satukanlah pantat dengan pantat anaknya itu, sesudahnya kan apa itu, ngomel itu istrinya. ”Beh, kenapa kotoran disini!”. ”Ah, anaknya buang air besar”. ”Kalau kotoran anak, kenapa berisi kelor-kelor, berisi kacang-kacang di kotorannya, pasti Beli yang buang air besar ne!”. ”Itu kamu tadi pas makan kan makan sayur kelor berisi kacang, itu karena dari susu lewatnya kelor dan kacang di emut oleh anaknya, kan buang air besar seperti itu”. Beh selanjutnya berpikir ini, ”kalau keadaannya begini terus, lebih baik tidak punya suami, mau dibunuh diam-diam”. Begitu. Lalu Men Getap membuat ide, membuat akal, bagaimana caranya biar mati suaminya. Lalu dibelikan racun Tuba ini, di Bali Tuba ini adalah racun. Di suruh suaminya ke hutan mencari kayu bakar. Di bekalinya tipat 12, tipatnya semua sudah berisi racun. Daging ayam berisi racun, tuak semuanya itu sudah berisi Tuba (racun). Nanti kalau di semak-semak lapar suaminya, lapar suaminya, pas makan ini pasti mati, tidak lagi susah mengupacarai sudah disitu sudah mati, sudah hilang. Anggap saja dimakan mahkluk halus, begitu sesudahnya. Lalu beginu iya, ”Beli, beli, beli sudah tahu ini anaknya lagi tiga hari, bakal di upacarai (otonan), apa-apa belum punya, kalau beras ada, ini kayu bakar yang tidak punya. Coba dulu ke hutan mencari kayu bakar. Di bekali nanti tuak, tipat, apapun yang beli minta. ”Nah kalau begitu barulah senang Beli”, begitu dia.
Diceritakan sekarang di luar selain dengan Pan Getap ya. Disana ini di Kerajaan Jenggala ini ricuh, ada pencuri seperti dulu disebut Dusta(Bali) ya, dusta yang mengaduk di puri tidak bisa ditangkap ini. Sampai setiap hari ini mageba-gebagan, supaya bisa menangkap pencuri, tidak bisa. Nah sekarang, diceritakan sekarang Pan Getap sudah berjalan itu ke hutan membawa kapak bersamaan dengan membawa tuak, bersamaan dengan membawa apa tipat digantung itu 12. Nah setelah itu, sampai di hutan dilihatnya ada kayu kering itu dah paling cocok itu dipakai kayu bakar. Disana dia memotong, sedang asiknya, ”kamplang, kamplang, kamplang” memotong, ribut itu ada 12 orang itu pencurinya yang berkelit dan setelah itu,”nah, nah, nah, nah, nah sekarang mati yang merusak hutan yang memotong-motong”. Padahal yang bersuara itu pencuri yang sudah bersembunyi di semak-semak. Bersama banyak orang pencuri itu. Beh tidak lagi melihat-lihat I Pan Getap lari tunggang langgang, peng...! Beh lari ketakutan Getap ya. Beh dikejar pencurinya itu menghampiri, kapak ketinggalan disana,tipat, belum dapat makan tipat ketinggalan, tuak ketinggalan disana. Beh pencurinya senang,”beh apa ini, rezeki nomplok”. Sesudah itu dimakan bersama-sama itu tipat,daging ayam. Beh mabuk-mabukan itu di tengah hutan, setelah itu, karena ini semuanya ini berisi racun, semuanya keracunan, mati. Setelah itu Pan Getap tidak berani berkutik. Diam disamping batunya, kalau lari nanti dikejar. Di intiplah, sesudah itu ada sekitar 5 jam, dilihatlah sudah terkapar itu. Kenapa sepi seperti ini, mungkin mabuk minum tuak. Sampai sore, kalau dibilang tidur, dia minum tuak tadi. Diambilkan batu, keluar jailnya. Kalau dilempar batu tidak berkutik pasti ada apa-apa disana, kan begitu ya. Setelah 10 kali di lemparnya itu masih sepi, setelah itu sambil tolah toleh begitu dilihatnya sudah biru-biru ini, sudah tidak berkutik ini sudah keluar rayunya disini. Dan sudah taktahina itu Pan Getap itu. Hidungnya semuanya sudah tidak ada nafasnya. Beh, keluar galaknya Pan Getap.”Inilah hasil perbuatan (karmapala), kamu salah makan makanan saya, saya belum dapat mencicipinya, sidah duluan dimakan, inidah kamu kena hadiah dari hasil perbuatan (karmapala)”. Galak Pan Getap, dan dikandiknya itu. Semua pencurinya itu sudah tidur, sudah mati. Di potong-potong memakai kapaknya itu, ada putus ini, ada terbelah. Sesudah itu lari melapor ke puri. Berbicara sudah bisa membunuh pencurinya itu. Pih tidak dipercaya di puri itu. Tidak mungkin Pan Getap bisa. Kalau tidak percaya sini lihat ke hutan. Survei membuktikan. Betul dari Puri turun itu. Pan Getap ditanya, ”Kenapa ini Pan Getap, pencurinya kuk bisa seperti ini”. ”Beh, bertarung sudah mati saya kapak. Dari puri ini kan dikira bertarung melawan kapak sampai mati pencurinya begitu. Itu Pan Getap tetap,”Sudah mati saya kapak”.. artinya sudah mati saya lawan dengan kapak. Berarti sudah jadi mayat, sudah mati di kapak begitu.”Beh, madaa Pan Getap iya madaa”. Tidak dikasi berjalan kaki oleh masyarakat di puri, di gendong karena jasanya itu. Dari dulu bertahun-tahun ini siapapun tidak bisa menangkap pencuri. Kebetulan orang takut seperti ini tapi bisa bertarung melawan sampai mati dengan bukti pencurinya ini sudah habis dibunuh. Sesudah itu lalu diangkat Pan Getap jadi pengawal di Puri. ”Sapa tahu ada pencuri-pencuri lainnya. Sudah dipercaya Pan Getap ini, berapa maling mati bertarung sendirian ini”. Dipercaya ini oleh Anake Agung kan begitu. Akhirnya Pan Getap jadi pengawal disana tapi bukan karena keberaniannya, atau saktinya mampu mengalahkan banyak pencuri. Nah setelah itu. Karena Pan Getap itu sudah terkenal di puri karena keberaniannya bisa mengalahkan pencuri, ada utusan dari luar Prabu Jenggala itu menghadap ke puri melapor tidak bisa membayar utpeti. Ini dikarenakan lewat di hutan banyak macan sudah berapa banyak orang dimakan macan di perjalanannya itu. Sekarang dipanggillah ini Pan Getap oleh Dewa Agung.”Getap, karena sudah dipercaya kamu disini mengalahkan banyak pencuri, ini ada utusan di Luar Puri mengatakan tidak bisa membayar utpeti, mari sekarang ada banyak macan katanya di tengah jalan menghadang sampai banyak mati dimakan macan. Sekarang kamu saya utus untuk membunuh macan di tengah hutan. Begitu anak agung itu. Pan Getap sudah, ”Beh, bagaimana sekarang, bagaimana sekarang melawan macan, untung dulu orang mati saya lawan, kan begitu, sekarang melawan macan, beh kenapa seperti ini baru saja diangkat menjadi pengawal istana sekarang akan melawan macan. Mih baru saja terkenal sekarang mati pasti mati. Bagaimana caranya melawan macan. Dulu entah siapa yang menolongnya sampai mati pencurinya di tengah hutan. Sekarang pasti mati selesai jadi pengawal puri. Pasti seperti itu, ini Pan Getap kalau ingin menolak, bagaimana caranya dengan sang prabu. Kalau dituruti pasti mati, berbicara dengan istrinya, ”Luh sekarang beli akan di utus ketengah hutan untuk membunuh macan, terlihat sudah Beli akan mati dimakan macan, menjanda kamu sekarang. Bercanda seperti itu.”Beli akan mati, pasti mati”. Iklaskan sampai disini bahagia bersuami istri, Beli tidak bisa untuk mengalahkan macan. Yang dulu itu Cuma kebetulan”. Berangkat itu, akan pergi, diberi keris bernama Barupah, keris itu akan digunakan melawan macan di hutan yang sering membunuh. Pergi itu ke hutan sendirian, untuk membunuh macannya itu. Sesampai di tengah jalan lama bengong. ”Hai macan bunuh saja saya, biar saya cepat mati” begitu. Bawaannya galak begitu. Macan punya anak, lapar mencium bau manusia, datang macan itu. Datang macan itu, menggeram macan itu, beh lari nika Pan Getap. Lari naik ke pohon canging ini, wah babak belur diatas canging. Macan di bawah sudah sudah menunggu menghadang turun I Pan Getap. Pan Getap sudah diantara mati dengan hidup sudah tergesa-gesa ke atas jatuh buntilannya. Di sisipkan ini, terkena macannya. Macannya mati. Berbalik Pan Getap,”Bih, kuk jadi seperti ini”,untung sekali lepas dari sisipkan kena leher macannya, mati macannya. Sudah jelas mati, turun dia, turun Pan Getap. Dipotongnya itu, leher macannya dipakai bukti di bawa ke puri, dicarikan tali, dipapah ke puri. Itu sudah habis darahnya terluka kena duri canging itu apa. ”Nah jika sampai di puri saya katakan melawan bergulet dengan macan. Sampai di puri semuannya bengong. ”Beh, lagi menang Pan Getap, dipotong macannya dibawanya,”Sudah, sudah, sudah”. Pan Getap kesakitan ini. ”Aduh, aduh, aduh”. Setelah itu baru lantas bertanya ini. Bertanya,”bagaimana kamu ini ceritanya bertarung di semak-semak bertarung melawan macan, kuk bisa mengalahkan macannya”. Baru Pan Getap lagi,”Beh begini Dewa Agung, baru saya datang ke goa macannya saya tantang macannya biar keluar. Saya undang macannya, keluar ini macannya, saya disegrap dan bergulat. Bih lalu saya tusuk dari buntilan ini, mati. Ini buktinya saya potongkan”. Beh bengong itu semua orang.”Sakti sekali Pan Getap, dulu pencuri sekarang lagi macan”. Nah Pan Getap karena kamu sekarang sudah bisa selamat mengalahkan macan, pencuri juga, aman sekarang negara ini. Masyarakatnya sudah bisa membayar utpeti kesini ke puri. Sekarang kamu jadi panglima disini, senapati disini. Kamu pemimpin pasukan di puri, karena kamu paling berani. Pasukannya berapa tahun disini tidak bisa seperti kamu, kamu baru-baru disini bisa. Sekarang kamu jadi pemimpin disini di puri. Pan Getap,”Iya, iya, iya”.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pauman Sraya Tengah

Satua Wo Jail
Wenten Wo Jail, Wo Jail niki pepes man udang, man be, metakon niki I Ubuh niki. ”Wo, wo pepes man be, udang, di kengkena misi lindung di bubune, apa isina di bubune”, metakon I Ubuh nika. ”Beh ci meled kal keto?”. ”Beh tiang meled mase pang maan naar udang apo to, pepes maan udang”. ”Kene buh, lamun cai meled budi maan udang, be liu pang cara wak nyanan gaena bubu da ditukade, duur kauh laku di ngapan nika. Beh ke ngapan kuskusan biune jak kuning-kuning, gedenan bubune pang gede”. Beh I ubuh jakti ben meledne man udang, man be, man magenep. Meli ketan, meli biu mekuskus nika bin jangina gula pang nyak liunan bene macelep. Mekene bubu nika duur ngapan, buin bubu gede niki ten bubu cara ke anggon udang. Ampun kenten mesadu niki I Ubuh, ”Wak ba tiang ngejang bubu ditu misi baren”. ”Apa baren?”. ”kuskus ketan jak biu”. ”maknyos”. Di tongos makena bubu kuskus ketan jak biu jaen. Ampun kenten mani semengan ampun das kira-kira jam 5. Beh ampun cager niki I Ubuh, nyana jek liu bene, melah baren. Delokina semengan nika pun ten misi. Bin mesadu nuka, ”wak ngujang puyung bubune, barena gen telah”. ”Beh cai lemah lokin bubu, coba peteng lokin ditu, pang nu bene ditu. Nganti telah baren mara lokin bubu bin melaib udange. Nyan bin melang barene nyanan”. ”Apo anggo wak?”, ”Nasi jak sate”. Bin nika makena bubu. Wo jail bin keto petengne. Do je bliang apa nasi jak sate. Bin telah ken wo Jail. Pun kenten I Ubuh bin lukin semengan bin ngorang ken Wo Jail ten ja misi be, baren dogen telah. Beh mekeneh niki I Ubuh,”Beh ba meutang liu, meli sate, meli nasi, meli susutan misi biu sing ada apa, ah jeg bubu dogen pasang ditu, da bin misi baren, ten kenten ya. Petengan lokin bubune sajan ada lemah lokin sing misi anu jani petengan lokin nyanan jam 1, tiang lokin nah kel abang arit nyanan anu, apa ya ne ngamah baren”, kan kenten ya. Majalan niki I Ubuh nika nelokin bubune, yakti misi anu nika cara napi kaden niki ngisinin ten kenten. Cara buron misi nika, kewala bisa ngraos di bubune nika. Nganggeran arit kenten I Ubuh nika,”Ne ngleklek biune jak nasine pidan pindo ba ngfamah satene mai. Nyanan ne magorok jani”, jemak ken I Ubuh nika buron nika. Ampun kenten ngraos buron nika, ”Buh da matiang cang Buh”. ”Apa bin kene ta cai ngamah-ngamah”. ”Ten ja sajan tiang nika, tiang panak kilat. Apa budiang cai”. ”Apes tiang anake lacur sing ngelah apa, tutug cang mulih nah, nyen ditu orang nyen”. ”Apa tutug nyen cang matiang cai, kija ta ajak cai”. ”Sing yakin. Tegakin cang, tegakin. Lamun cang ngaba kejelekan jeg gorok ba cang dini”. Ten Ubuh nyak nuut nika. Makeber ya makeber jeg beten ampun umah-umah ngenah cara korek api, peteng. Ampun kenten ajaka mulih, teked drika metakon.”Nah ne ba umah cange ne, cang nak panak kilat. Apa tagih cai, to cang ngelah jaran ada ne mokoh-mokoh ada ne berag ta pilihin ne aba ci mulih nyanan ngidih jarane”. ”Bedag jaran orine ngangon”. Ten kenten I Ubuh nika. Kaad mase inget nika, ”Pesilihin dogen barene, ne bisa cai ngamah cang rugi meli sate, meli magenep anggon barene, bisa cai ngamah”. ”Sing, sing cang ngamah to. Ne ada jaran pilihin, ne kuda ada jaran mokoh-mokoh ada ne berag cen lakar anggon tegakin mulih”. ”To ane berag nah”. ”To ane mokoh kengken”. ”Sing kanggo ne mokoh, ane berag, cang lacur kanggoan ba jaran berag-berag”. Pun kenten metakon ya I Ubuh nika,”Anak cang sing ngelah punyan kayu, sing ngelah pemula-mulaan apa cang ngubuh, apa cang bang cange di ba jumah”. ”Yeh da bang padang, da bang ngamah don-don kayu, bang sam-sam”. ”Bih meli samsam bin”. ”Ta bang ngamah tegulang di sanggah kemulan, taktakin tikeh”, keta ya i panak kilat nggih. ”Lamun lakar menek kene sesapanne, jit jaran jaran sembrang ngepet pang ked jumah”. Menek nika di tubuh jarane ngenggalin makeber nika jarane teked di umah I Ubuh nika. Teked drika ngencol ya ngalih pudak niki, yis-yis bang anu, kalahin pules peteng nika ampun tengah lemeng memunyi di sanggah nika,”grembyang, grembyang”, ”apa mamunyi di sanggah grembyang, grembyang”. Mara dengokin abanga sundih nika ampun meju jarane, mejuang pipis, pipis bolong uling jitne nika. Ampun kenten terkenal I Ubuh magkin liu ngelah pipis ulian ngubuh jaran nika. Tawang ken wo ne nika, ”Jani I Ubuh ba ngelah jaran, mesuang pipis jani, cang tagih jani jarane”. Pun kenten teka niki I Ubuhne jek belog nika,”Wak, apa alih mai wak”, ”Nyilih jarane pang patuh cara cai ngelah pipise”. ”Kene wak lamun cang, nyilih jaran cange tegulang di sanggah kemulan, kebatin tikeh nyanan yin memunyi men peteng jagjagin. Ditu munyine pasti banyak punya uang. Ma bliang samsam pang betek di sanggah nika. Amat yeh liu nyen meju pipis. Bih mabetekin jaran nika, petenge ampun keto, ”krebek ceklek, krebek ceklek”. ”Peh jek pipis liu makarung-karungan”, mara delokin tai. Melapor ken I Ubuh, ”Buh, ngujang meju jek meju tai jarane”, meju kan tai. Beh amat di sanggah wakne bek misi tai jaran. ”Beh kene wak bang malu bin cepok amahne melah-melah, nyan suun bang samsam, biu alihan, ya bang ngamah jarane pang nyak meled pejune. Lamun sing guan pesu tai, anu wak”. ”To kengken”. ”Sepsep jit jarane, wak nyedot jek bek misi pipise”. Bek bibihe misi pipis kenten. Ben meledne ngelah pipis liu, suud bang ngamah ne jaene, biu bang jarane, ne jaen-jaen nika. Sepsepe jite ken wo jail pang pesu pipis. Napi galak jarane mengapar, mengepar tai pesu. Ngopak wo jail nika, ”Bah nylukatak kaper jaran, glebugin tai”.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pauman Sraya Tengah

Satua Maling Majenggot
Ada seorang yang sedang nganten, dia itu punya istri. Lalu dia sudah kawin satu rumah, mungkin apa itu, karena malam supaya gini, dia buka jendela supaya dapat apa tu, hawa masuk. Orang nganten ini di dengar oleh seorang pencuri atau maling majenggot. ”Karena dia sedang sibuknya nganten apalagi malam pertamanya pasti dia tidur enak”, kan kenten ya malinge. ”Ah i raga jrg jani mamaling dini ne yeh pasti tidur enak, jendela terbuka kesempatan ngemaling jani”, ten kenten ya. Ampun maling pun sedia, nengok malinge niki lakar anu. ”Pasti dia sudah tidur nyenyak, saya akan maling sekarang”. Lalu si nganten ini mungkin karena dia pertama kali nganten, the first night ten kenten nggih, malam pertama, mungkin pada waktu berhubungan itu dia kurang tepat anune nika, sehingga si perempuan itu begini berkata pada suaminya. ”Bli, bli beten jenggotne tebek bli”, kenten nika. Beh malinge makecos plaibne nika ten kaden dini tebekne.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pauman Sraya Tengah

Satua I Belog
I Dayu kan nika punya parekan nggih. Ngelah parekan madan I Belog. Adanin Belog karena tidak tahu apa-apa nggih. Bagian anggota badan dia tidak tahu. Setiap malam disuruh memijit oleh Dayu nika, parekannya nika. Dia tidak tahu nama apa namanya itu, anatomi nggih. Tidak tahu bagian badan, ini apa, ini dari bawah ini namanya ada seperti kunyit nika, ”Napi wastan nika Dayu?”. ”Beh Log, to jrijin batis adan to nggih”. Naik makin naik dia apa tu. Karena kan ”niki napi wastan niki, napi niki sekadi ketikulak?”. ”We, we, weh”. Dibilang itu matan entud ten kenten nggih. Trus naik-naik sampai pada barang antik si Dayu nika. Di anu nika, metakon I Belog niki. Dia kan tidak tahu tu, kalau dibilang ini namanya dia tidak tahu belog nggih. Bagaimana caranya apa tu, supaya I Belog itu mengerti kenten. Kebetulan sampai pada barang antiknya itu di anu, di suruh mijit. Begini, ”Dayu niki napi wastane niki?”. I Dayu niki yin orang keketo, dia tidak ngerti I Belog nggih. Bagaimana supaya meyakinkan dia. Begini Dayu nika, ”Belog lamun cai sing nawang, ne ba maman paling jaen di gumine”, kenten. I Belog kan gak tahu nika, jek gorgora. I Belog,”Beh jelek jan!”. dayu,”Aduh, aduh, aduh”. Gigi ngutgut nika nggih. I Belog mase,”ukek, ukek, ukek”. Ukek, ukek nika, Dayune ngeling nika, metatu gutgutne nika barang nake to, I Belog ngutah ja,”Ngudiang ke kene oranga jaen”.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Br. Pauman Sraya Tengah

Satua bawang teken kesuna :
Kacerita ada dua orang namanya ni bawang dan ni kesuna. Kenapa namanya ni kesuna, kesuna dan ni bawang, bawang. Sebab waktu disuruh oleh orang tuanya ni kesuna tidak pernah bakti kepada orang tuanya, kesuna-kesuna kan kenten ceritanya, kesuna dong tulung je malu tiang nebug, ah I bawang orahin dados, setelah I bawang orahin akhirne memene manggil I bawang, bawang-bawang dong tulung malu tiang nebug, ni bawang akhirnya rungu terhadap apa yang disampaikan oleh ibunya, setelah I bawang tunduk terhadap ibunya apa yang diperintahkan, apa yang disuruh mau mengikuti jejak ibunya sehingga ni bawang puniki diberikan pahala oleh Ida Sang Hyang Widhi. Macerita ring tengah margine raris macunduk sareng I crucuk kuning. Duaning sudh diketahui bahwa perbuatan-perbuatan ni bawang itu bagus sehingga I Crucuk kuning memberikan berupa oleh-oleh gelang, bungkung, dan sebagainya. Sudah sampai dirumahnya dilihat oleh ni kesuna bahwa ni bawang mapangangge luar biasa, akhirnya ni kesuna ia nyadia mapi-mapi ia anteng sendekang memene magarapan nebug nyemak ye oot nguat awakne ngejot akhirne kalunta-lunta ditengah alasne ketemu ajak I crucuk kuning, ia menyatakan bahwa dirinya sama perbuatanya dengan I bawang. Akhirnya digosok tubuh I kesuna aji tai mapan ia sing cocok malaksanane, uape aji tai tur maning tigtige dialase ane wayah teken lelipine mare lantas ia I kesuna babak belur kagalang-giling, be kal lantas gelisan satua neked dijumahne duaning keweh mare lantas memene to upahne awak demen misuhin timpal sing saja kene dadi.
Informan : I Gede Suparwata
Alamat : Br. TUkad Buah, Desa Seraya Timur

Satua Pan Pucung
Diceritakan disini, ade tuturan satua ada orang bekung, bekung tidak mempunyai anak. Pan Bekung dan Men Bekung yang tinggal di tepi hutan. Nah pan bekung dan men bekung ini namanya pan pucung. Lalu untuk bisa hidup kan dia harus mengerjakan tanah itu lalu ditamani buah-buahan yang namanya mentimun, karena tiap hari hilang dicuri I Lutung, lalu apa yang dipakai untuk menangkap Lutung. Dicarilah getah engket dibuatlah lelangkut diisi getah itu, lalu lutung itu marah lelakut itu di pukul-pukul setiap pukul neket tangannya ditendang ya kakinya neket dan akhirnya di jumpai oleh pan pucung lalu ditangkap dan dibawa pulang. Kakinya diikat dan sebagainya. Pada suatu hari, nah itu ceritanya mungkin begini pada suatu hari setelah waktunya digorok dipotong. Karena cerita jaman dulu antara percaya dan tidak binatang itu bisa bicara seperti manusia, “ Pan Pucung wantah Pan Pucung jagi nampah tiang, ngorok tiang bungkus malu awak tiang aji duk sampun enyitin, pang ten endih ben awk tiang”. Alat yang dipakai motong itu juga sudah siap dibungkus dengan duk itu lalu dibakar. Karena lutung itu diikat dengan tali jadinya talinya terbakar setelah lepas lutung lalu meloncat-meloncat yang namanya kera itu ya meloncat diatap rumah-rumah itu, sehingga rumah pucung terbakar.
Informan : I Wayan Sura
Alamat : Br. Tegal linggah, Desa Tegal linggah


3.2.4 Saa atau Sesapan
3.2.4.1 Pengertian Saa atau Sesapan
Sesapan, kata dasarnya sapa diduipurwakan dan mendapat akhiran –(a)n menjadi sesapan, yang artinya perihal menegur atau menyapa. Isinya kebanyakan mengandung maksud permohonan atau memanjatkan doa terhadap Ida Sang Hyang Widhi atau kepada orang halus lainnya demi untuk keselamatannya, karena mungkin dahulu-dahulunya kerap kali mendapat bencana, misalnya : alangan kematian dan sebagainya. Untuk mengucapkan kata-kata sesapan ini, dipakai kata-kata yang agak halus atau sopan (Tinggen, 1988 : 23).
3.2.4.2 Inventarisasi Dongeng di Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem
Saa Tumpek Pangatag
Jero Sedahan Abian, Dong Dong kaki kija? Gelem. Gelem kengken? Gelem ngetor, nged,
nged, nged.
Informan : Made Rai
Alamat : Desa Bukit
Terjemahan :
Jero Sedahan Abian, Nek Nek kakek di mana? Sakit. Sakit Apa? Sakit gemetar, lebat, lebat, lebat.

SAA NANDUR TABU
Tabu-tabuku, mabuah bilang buku.
Informan : Made Rai
Alamat : Desa Bukit

Terjemahan :
Tabu-tabuku, berbuah setiap ruas.

SAA NANDUR NYUH
Aduh tiang ping tuyuh nelubulanan. Tiang tuyuh jani. Tiang ngejang nyuh jani, madak pang nyak idup pang nyak mabuah.
Informan : Made Rai
Alamat : Desa Bukit
Terjemahan :
Aduh saya susah tiga bulan, saya susah sekarang. Saya menaruh buah kelapa sekarang, semoga bisa hidup dan bisa berbuah.


SESAPAN NGANGGE KESUNA JANGU
Nglungsur bobok nika mamunyi mpun kentongane. Niki mara boboke maider, masimbuh niki, kenten...nganggen kesuna jangu. Masimbuhin boboke nika nyanan maanuang boboke semua nika di pekarangan, kemudian kamar, sanggah lagi biar Kala itu mangda mantuk. Wenten sesapanne nika... “Kala-kala mangda mantuk ring dija malinggih ring jero soang-soang.”
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan


SAA TUMPEK PANGATAG
Patuh ken Tumpek Ngatag ...Kaki, kaki...Nged, Nged, Nged....
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan


Terjemahan :
UCAPAN PADA SAAT TUMPEK PANGATAG
Sama halnya seperti Tumpek Ngatag...Kaki, kaki...Nged, Nged, Nged....

SAA NGOROK SIAP
“Ih, cai buron tunu wenang supat kembali nah kema mulih eda ngrebeda, kenten anune, kenten sesapane.
Informan : Drs. I Putu Toya, M.M
Alamat : Lingk. Desa Kelurahan Subagan

Terjemahan:
UCAPAN PADA WAKTU MENYEMBELIH AYAM
“Ih, kamu binatang yang akan disembelih ini diijinkan untuk dilebur dosanya, kembalilah ke tempatmu dan jangan nanti mengusak-asik, begitu anunya...begitu ucapannya.

SAA RIKALA MANTENIN NYUH
Yen mantenin nyuh kan magetok malu ping telu. Kenten ceritane malu...bantenin trus pang istilahne nged...nged...nged... Kenten anune lungsur ane maturan. Setiap aturan pasti, seperti di Tumpek Pengatag. Nah, nika kenten anune...
Informan : Jero Mangku Gede Made Pasek
Alamat : Desa Tumbu- Kaler

Terjemahan :
UCAPAN KETIKA MENGHATURKAN SESAJEN PADA POHON KELAPA
Kalau menghaturkan sesajen kan dipukul terlebih dahulu sebanyak tiga kali. Begitu ceritanya dulu...kemudian barulah menghaturkan sesajen, supaya istilahnya nged (lebat)...nged (lebat)...nged (lebat). Begitu permohonan orang yang menghaturkan. Setiap aturan pasti seperti di Tumpek Pengatag. Nah, begitu anunya...

Saa Tumpek Pengatag
Dadong-dadong, kaki ada jumah?, ada ngudiang? Ya jumah, kenapa ya? Sakit, sakit apa? nged,nged,nged.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Saa Nanem Sela
Kaki-kaki dadong ada jumah? Ada ya nged, kalo ditengahan ya nyelekangkang.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Sasa Nampah Celeng
Wa ba miken mati, nah da ngerubeda, buin pidan mai manumitis. Anggen cang aturan
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Saa Motong Guling
Beli mudah ngadep mael, beli mudah ngadep mael.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Saa Ngulah Jero Ketut
Oh jero ketute, adi culig gati jero ketut, ampunang ja telahanga, kariang nggih.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Saa Motong Ayam
Saya potong kamu ini untuk kepentingan upacara, mudah-mudahan kamu manumitis tidak lagi menjadi ayam menjadi yang menjadi soroh yang lebih bagus.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Saa manteni nyuh pada saat Tumpek Pengatag
Dadong-dadong kaki ada jumah, sing jumah ya gelem. Kenken gelemne, nged,nged,nged.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Saa mula ubi
Jero gede jero dukuh, pang umbine gede pablekuh.
Informan : I Made Bading ( Mangku Dahyang ).
Alamat : Pertima ( Timbrah )

Saa wenten krebek
Niki wenten anu matah-matah niki, ampunang rauh niki putun batara Indra driki dohin tiang.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Banjar Pauman, Desa Seraya Tengah
Saa kalau ada linuh
Driki ”idup, idup” kalau di tempat lain, ”kancing gumi, kancing gumi.
Informan : I Gede Gelgel
Alamat : Banjar Pauman, Desa Seraya Tengah
Saa Ada Linuh
Idup, idup, idup
Informan : I Wayan Putra
Alamat : Br. Pesiatin Kaler, Desa Seraya Barat.

Saa Tumpek Pengatag
Ngae banten, Galungan bin slae Kuningan bin abulan, ngeed, ngeed, ngeed.
Informan : I Wayan Putra
Alamat : Br. Pesiatin Kaler, Desa Seraya Barat.

Sesaapan potong ayam atau babi
Palingsir-palingsir pidan maosan duaning babi utawi buron nika wenten sane nyanggra, wenten urip ring paukudan ane ngawenang idup, sang hyang urip nika wastane. Sesaapanne : putusang ring ibu pertiwi, ibu pertiwi sane malambang tanah. “ nawegang titiang ibu pertiwi sane ngawinan wenten jama, wenten baburon, mangkin titiang nunas puniki wenten bawi atau ayam kal sembelihne titiang nunas uripe mangda sampunang titiang ngaawentenang suka piduka”.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tanah Barak, Desa Seraya Timur

Sesaapan pergi dari rumah
Nunas aring ibu pertiwi, nyit dupa akatih ngentebang batis kenten sampung ping telu wawu nika, “ ibu pertiwi titiang nunas kekuatan, titiang pacing melelungan.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tanah Barak, Desa Seraya Timur

Sesaapan Luka
Saranane nika alihan kerikan gedebong, mara ucapang mantram nika, “ Om gajah putih sila nawa isep tanah tumbuh isi teka kija, teka kija, teka kija.
Informan : I Nengah Sarda
Alamat : Br. Tanah Barak, Desa Seraya Timur

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar