Om Suastiastu

Swasti Prapta ring blog titiange, dumogi wenten kawigunannyane. Suksma. "Om Shantih, Shantih, Shantih, Om

Senin, 04 Juni 2012

Telaah Puisi Aji Kembang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap karya sastra mempunyai hakekat- hakekat tertentu. Demikian juga halnya dengan puisi. Puisi mempunyai suatu hakekat yang menjadikan puisi tersebut mempunyai daya tarik. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah kkarya sastra puisi berbentuk kidung. Kidung merupakan bagian dari puisi tradisional bali selain Geguritan dan kakawin. Namun dalam cara menampilkan kidung berbeda dengan geguritan ataupun kekawin. Kidung termasuk ke dalam Sekar Madya yang tidak hanya sebagai hiburan tetapi lebih umum digunakan sebagai pengantar dalam upacara Yadnya (Tinggen, 1982: 35). Pada saat ditampilkan kidung hanya dinyanyikan dengan irama tertentu, dan secara bersama-sama serta tidak adanya unsur penerjemahan atau yang lebih dikenal dengan nama Pengartos seperti dalam kakawin ataupun Geguritan. Bahasa yang digunakan dalam sastra kidung adalah bahasa Jawa Pertengahan (Suarka, 2007: 6). Istilah bahasa Jawa Pertengahan merupakan istilah yang boleh dilakukan karena istilah tersebut seolah-olah menggambarkan bahwa bahasa Jawa Pertengahan meerupakan bentuk bahasa pada akhir jaman Hindu-Jawa dan suatu tahap peralihan antara bahasa Jawa Kuna dengan bahasa Jawa Modern pada abad-abad kemudian (Zoetmulder, dalam Suarka, 2007: 6). Ditinjau dari segi metrum yang digunakan, karya sastra kidung dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: karya sastra kidung yang menggunakan metrum Macapat dan karya sastra kidung yang menggunakan metrum Tengahan (Robson, 1978: 8). Biasanya kidung dinyanyikan pada saat adanya upacara yadnya, akan tetapi terkadang kidung juga dinyanyikan sebagai suatu bentuk pementasan karya seni, seperti halnya dalam Utsawa Dharma Gita. Kidung yang dinyanyikan biasanya tergantung upacara yadnya yang diadakan.sehingga terdapat banyak jenis kidung di bali, seperti misalnya: kidung wargasari yang dinyanyikan pada saat dewa yadnya, kidung jerum yang di nyanyikan dalam upacara buta yadnya,kidung aji kembang yang digunakan pada saat upacara pitra yadnya dan sebgainya.dengan adanya perbedaan pungsi tersebut sudah barang tentu antar satu kidung dengan kidung yang lainya mempunyai struktur yang berbeda apabila di lihat dari tiga hakekat puisi yaitu pungsi estetik, kepadatan isi,serta espresi tidak langsung. Dalam paper ini yang akan dibahas kidung Aji Kembang yang berfungsi sebagai kidung yang dinyanyikan pada saat upacara Pitra Yadnya. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar Belakang di atas, terdapat beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah bentuk serta fungsi kidung Aji Kembang? 2. Bagaimanakah kidung Aji Kembang bila dilihat dari aspek-aspek hakikat puisi, yakni fungsi estetika, fungsi kepadatan, serta fungsi ekspresi tidak langsung? 1.3 Tujuan Analisis Setiap penciptaan tentunya mempunyai tujuan. Demikian juga halnya dengan penulisan paper ini yang mempunyai dua jenis tujuan yaitu tujuan khusus dan tujuan umum. 1.3.1 Tujuan Khusus Secara khusus penulisan paper ini bertujuan untuk melestarikan kasanah budaya tradisional dalam bentuk karya sastra. Mengingat analisis terhadap kidung sangat jarang dilakukan. Bahkan Zoetmulder (1985 : 144) menyarankan bahwa penelitian sastra kidung lebih tepat dilakukan oleh sarjana Bali karena mereka masih akrab dengan sastra kidung hingga dewasa ini (Suarka, 2007 : 7). 1.3.2 Tujuan Umum Tujuan umum dari penulisan paper ini adalah memberikan suatu wawasan kepada masyarakat tentang bentuk karya sastra kidung terutama pada masyarakat Bali, karena dalam kelangsungan masyarakat Bali terutama dalam kehidupan beragama keberadaan kidung tidak dapat diabaikan. 1.4 Landasan Teori Teori berfungsi sebagai suatu sarana dalam memecahkan suatu analisis. Teori yang digunakan harus teori yang relevan yang ada kaitannya dengan topic analisis. Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan maka teori yang digunakan yakni teori analisa struktur dari Djoko Pradopo. Mengingat kidung merupakan salah satu jenis puisi maka dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya, karena puisis merupakan struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan (Djoko Pradopo, 1993:3). Tinjauan struktur dalam kidung lebih mengkhusus kepada hakikat puisi yakni fungsi estetika (gaya bahasa yang ada di dalamnya), fungsi kepadatan (merupakan inti permasalahan yang dibicarakan) dan fungsi ekspresi tidak langsung (pengungkapan ekspresi secara tidak vulgar). 1.5 Metode dan Teknik 1.5.1 Metode Dalam analisis ini metoda yang digunakan adalah metode kajian pustaka dengan membaca literature-literatur yang berkaitan dan mendukung dalam melakukan analisis terhadap kidung Aji Kembang. 1.5.2 Teknik Teknik berasal dari kata Tekhnikos (bahasa Yunani) yang berarti alat atau seni menggunakan alat. Sebagai alat teknik bersifat paling kongkret (Kutha Ratna, 2004:37). Teknik yang digunakan dalam analisis ini adalah teknik membaca, mencatat serta menerjemahkan. Teknik membaca digunakan untuk memahami isi yang terdapat dalam kidung Aji Kembang. Teknik mencatat digunakan untuk menghindari keterlupaan data karena keterbatasan ingatan. Sedangkan teknik menerjemahkan digunakan untuk mempermudah mermahami isi yang terkandung dalam kidung Aji Kembang . 1.6 Sumber Data Dalam menganalisis kidung aji Kembang ini, kami menggunakan buku “Kidung Warga Sari, Turunan Cakepan Kakawin” yang disusun oleh I Wayan Mangku. Dalam buku yang diterbitkan oleh Wirata Agung ini terdapat 46 halaman yang dibedakan menjadi 6 BAB yakni bab pertama tentang kidung dewa Yadnya, bab dua Rsi Yadnya, bab tiga Pitra Yadnya, bab empat Manusa Yadnya, bab lima Bhuta Yadnya, dan bab terakhir membicarakan contoh Guru Laghu kakawin dan artinya. 1.7 Jangkauan Dalam menganalisis suatu karya sastra tentunya memerlukan jangkauan untuk membatasi ruang lingkup agar ruang lingkup tidak terlalu luas dan menyimpang. Maka dari itu dalam analisis ini dibatasi pada masalah-masalah yang berhubungan dengan hakikat-hakikat puisi menurut Djoko Pradopo. BAB II ANALISIS 2.1 Bentuk dan Fungsi Kidung Aji Kembang Kidung Aji Kembang merupakan kidung yang digunakan masyarakat Bali dalam upacara yadnya khususnya dalam upacara Pitra Yadnya. Dalam buku yang kami jadikan sumber data kidung Aji Kembang terdiri dari sembilan bait. Masing-masing bait terdiri dari tujuh baris (carik). Dari kesembilan bait tersebut melambangkan Sembilan arah penjuru mata angin. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut. Bait 1 “Ring purwa tunjunge putih [….]” ‘Di sebelah timur melambangkan warna putih’ Bait 2 “Ring gneyan tunjunge dadu [….]” ‘di sebelah tenggara melambangkan warna ungu’ Bait 3 “Ring daksina tunjunge mirah [….]” ‘di sebelah selatan melambangkan warna merah’ Bait 4 “ring neriti tunjunge jingga [….]” ‘disebelah barat daya melambangkan warna jingga’ Bait 5 “Ring Pascima tunjunge jenar [….]” ‘di sebelah barat melambangkan warna kuning’ Bait 6 “Ring wayabya tunjunge wilis [….]” ‘di sebelah barat laut melambangkan warna hijau’ Bait7 “Ring uttara tunjunge ireng [….]” ‘di sebelah utara melambangkan warna hitam’ Bait 8 “Ring arsania tunjunge biru [….]” ‘di sebelah timur laut melambangkan warna biru’ Bait 9 “Tengah tunjunge manca warna [….]” ‘di tengah melambangkan lima warna’ Dari kutipan diatas dapat kita lihat bahwa dalam kidung Aji Kembang ini melambangkan pengider-ider bhuana. Sesuai dengan fungsinya yang digunakan saat upacara ngeraka sawa yaitu pemungutan kembali tulang-tulang mayat yang sudah dibakar untuk disatukan kembali seperti layaknya kerangka manusia, kidung Aji Kembang membicarakan stana dari para dewa (Dewata Nawa Sanga) dalam tubuh manusia sehingga menurut kepercayaan masyarakat Bali apabila kidung ini dinyanyikan maka penyatuan dari tulang belulang yang telah dibakar itu akan dapat tercapai dengan baik. 2.2 Kidung Aji Kembang Berdasarkan Hakekat Puisi 2.2.1 Hakekat Puisi sebagai Fungsi Estetika Fungsi estetika merupakan suatu gaya bahasa yang ada di dalam puisi. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapat efek tertentu. Dalam karya sastra, efek ini adalah efek estetik yang turut menyebabkan karya sastra yang bernilai seni (Djoko Pradopo, 2005:264). Dalam karya sastra, gaya bahasa juga biasa diartikan sebagai bahasa kiasan. Bahasa kiasan ini menyebabkan sajak menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, hidup, dan terutama menimbulkan kejelasan gambaran angan (Djoko Pradopo, 1993:61-62). Dalam kidung Aji Kembang fungsi estetik digambarkan pengarang dengan suatu kata-kata yang berulang disetiap bait. Seperti misalnya pada bait pertama : “Ring purwa tunjunge putih, Hyang Iswara dewatannya, ring papusuhan pernahira Alinggih sira kalihan, pantes ta kembange petak, ring tembe lamun dumadi, suka sugih tur rahayu, dana punya stiti bhakti.” Dalam kutipan tersebut, kalimat “alinggih sira kalihan” dan “ring tembe lamun dumadi” terdapat di kesembilan bait yang ada sehingga kalimat tersebut merupakan suatu kalimat yang memperindah jalinan cerita karena memperjelas maksud yang disampaikan oleh kalimat sebelumnya ataupun sesudahnya. Selain itu penggunaan variasi kata juga terdapat, seperti dalam kutipan dibawah: “Ring daksina tunjung mirah [….]” Dari kutipan diatas, penggunaan kata “mirah” merupakan suatu variasi. Kata mirah yang secara konotasi berarti merah dapat juga diganti dengan kata “bang”. Tetapi pengarang memilih kata mirah agar memperindah unsure kebahasaannya. 2.2.2 Hakekat Puisi sebagai Fungsi Kepadatan Fungsi kepadatan berkaitan dengan inti masalah yang disampaikan pengarang dalam suatu karya sastra. Dalam kidung Aji Kembang fungsi kepadatan dimaksudkan sebagai maksud dari kidung tersebut dinyanyikan. Seperti telah disebutkan diawal, kidung Aji Kembang dinyanyikan pada saat upacara Pitra Yadnya yaitu pada saat “ngeraka sawa” yaitu pemungutan kembali tulang-tulang mayat yang sudah dibakar untuk disatukan kembali seperti layaknya kerangka manusia, sehingga kidung aji Kembang dinyanyikan dengan tujuan penyatuan dari tulang belulang yang telah dibakar itu akan dapat tercapai dengan baik. Seperti dalam kutipan berikut ini. “Ring daksina tunjung mirah, sang Hyang Brahma dewatannya, ring ati prenahira, alinggih sira kalihan pantes ta kembange mirah, ring tembe lamun dumadi, sampurna dirgayusa, pradnyan maring tatwa aji.” Terjemahan: “Disebelah selatan melambangkan warna merah, Hyang Brahma sebagai dewanya, dihatilah tempatnya, disanalah beliau dicari, pantaslah berwarna merah, apabila akan terlahir kembali, sempurna dan panjang umur, pintar akan ilmu pengetahuan.” Dari kutipan tersebut terlihat bagaimana harapan yang disampaikan agar orang yang sudah meninggal akan terlahir kembali dengan kehidupan yang lebih baik. Kesemua bait dalam kidung Aji Kembang mempunyai pesan-pesan yang sama. Pesan-pesan itulah yang sesungguhnya menjadi inti pembicaraan. Uniknya semua pesan yang disampaikan terletak pada akhir setiap bait, seperti dalam kutipan berikut: Bait 1: “…, suka sugih tur rahayu, dana punya stiti bhakti.” Terjemahan: mempunyai kekayaan dan kebahagiaan, beryadnya dan slalu berbakti. Bait 2: “…, widagda sira ring niti, subhaga sireng bhuwana.” Terjemahan: jaya dalam memerintah, makmur dia di dunia. Bait 3: “…, sampurna tur dirgayusa, pradnyan ring tatwa aji.” Terjemahan: sempurna dan panjang umur, pintar dalam ilmu pengetahuan. Bait 4: “…, dharma sila tur susila, jana nuraga ring bumi.” Terjemahan: dharma dan baik tingkah lakunya, manusia utama di dunia. 2.2.3 Hakekat Puisi sebagai Fungsi Ekspresi Tidak Langsung Ekspresi tidak langsung merupakan ekspresi yang diungkapkkan oleh pengarang secara tidak vulgar. Ketiklangsungan ekspresi dalam puisi biasanya disebabkan oleh tiga hal yaitu: penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Dalam penggantian arti dapat dilihat dari penggunaan kata “mirah.” Kata mirah dalam arti sesungguhnya berarti suatu benda menerupai batu yang biasa digunakan dalam pembuatan cincin ataupun lainnya. Akan tetapi dalam kidung Aji Kembang kata mirah mempunyai arti lain yaitu merah. Dalam hal penyimpangan arti terjadi apabila didalam suatu karya sastra terdapat ambiguitas (makna ganda). Dalam kidung Aji Kembang terdapat penggunaan kata “tunjung” disetiap bait pada baris pertama. Secara makna kata tunjung berarti suatu jenis bunga sedangkan pada kidung ini kata tunjung berarti melambangkan suatu warna. Sedangkan dalam penciptaan arti tidak ditemukan pada kidung Aji Kembang. Di lihat dari maknanya penyampaian makna oleh pengarang tidak secara langsung melainkan dengan untaian kata yang dapat menimbulkan suatu kepuitisan. Namun ada juga kemungkinan pembaca tidak dapat mengerti maksud yang disampaikan karena keterbatasan nalar. Sesungguhnya pengarang tidak hanya menyampaikan makna, akan tetapi juga mengekspresikan suatu kegemaran dalam mengolah kata serta sebagai suatu persembahan kepada tuhan atau yang biasa disebut dengan Yantra. BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Kidung Aji Kembang merupakan kidung yang tergolong jenis kidung pitra yadnya yang terdiri dari sembilan bait. 2. Dilihat dari fungsi estetis, dalam kidung Aji Kembang terdapat kata-kata hias serta kalimat-kalimat yang menjadi cirri khas kidung tersebut. Seperti misalnya ada suatu kalimat yang diulang dari bait pertama sampai bait ke sembilan. 3. Pada fungsi kepadatan, dalam kidung Aji Kembang dilambangkan dengan suatu pesan atau harapan pengarang agar orang yang telah meninggal, apabila dilahirkan kembali mendapatkan kehidupan yang lebih baik. 4. Pada fungsi ekspresi tidak langsung merupakan ekspresi yang diungkapkkan oleh pengarang secara tidak vulgar. Ketiklangsungan ekspresi dalam puisi biasanya disebabkan oleh tiga hal yaitu: penggantian arti, penyimpangan arti, dan penciptaan arti. Dalam kidung Aji kembang Ekspresi tidak langsung hanya ditemukan dalam hal penggantian arti dan penyimpangan arti 3.2 Saran Kepada masyarakat secara umum kami mengharapkan lebih menggemari untuk membaca kidung, karena dalam kidung banyak terkandung nilai-nilai. Kami juga mengharapkan kepada masyarakat Bali untuk memperbanyak penelitian dalam kidung karena masih banyak terdapat kekeliruan penafsiran tentang makna dalam kidung. Selain itu keterbatasan literature yang membicarakan tentang kidung juga menjadi penyebab langkanya penelitian tentang kidung itu sendiri. DAFTAR PUSTAKA Djoko Pradopo, Rachmat. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Press. Gambar, I Made. (tanpa tahun). Kamus Dasa Nama. Denpasar: Cempaka 2. Mangku, I Wayan. 1999. Kidung Warga Sari (Turunan Cakepan Kekawin). Wirata Agung. Tinggen, I Nengah. 1994. Aneka Sari Gending-Gending Bali. Singaraja: Rhika Dewata. Suarka, I Nyoman. 2007. Kidung Tantri Pisacarana. Denpasar: Pustaka Larasan.

Kamis, 26 Januari 2012


cara mudah bermain foto dengan photoshop. klick wahyu wirayuda on your facebook

Senin, 09 Mei 2011

Kidung Madya Muter

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Bali memiliki berbagai corak khasanah kesusastraan yang wujudnya beraneka ragam. Ada dalam bentuk sastra lisan dan sastra tulis yang antara lain ada di antaranya karya yang bermutu. Sehingga karya sastra tersebut perlu diketahui oleh berbagai pihak secara luas dalam masyarakat Bali.
Berkaitan dengan keberadaan karya sastra di Bali seperti diuraikan di atas, maka sewajarnyalah upaya pembinaan dan pelestarian kebudayaan Bali sebagai salah satu usaha mempertahankan dan mengembangkan identitas Bali sebagai salah satu sisi sosial budaya yang sampai saat ini masih menjadi tumpuan dalam proses modernisasi. Oleh karena itu, tercatat sejak Pelita II 1970-an pemerintah mulai lebih memperhatikan kajian aspek sosial budaya daerah melalui berbagai jaringan yang memungkinkan. Sosial budaya Bali dapat dikaji melalui Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Universitas Udayana, dan sebagainya. Salah satu karya sastra yang dianggap rumit oleh masyarakat adalah kidung Kidung Madya Muter dari Padma Angalayang Berdaun 16.

1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut diatas, maka dapat kami uraikan rumusan masalah sebagai berikut :
1) Bagaimana lambang daripada teks dalam kidung Madia Muter ?
2) Bagaimana cara-cara membaca daripada teks dalam kidung Madia Muter ?
3) Bagaimana transkripsi dan terjemahan kidung Madia Muter ?

1.3 Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Paper ini bertujuan mengungkapkan nilai-nilai budaya Bali yang terkandung
di dalamnya dengan memantapkan pembinaan dan pengembangan kebudayaan Bali.
2. Tujuan Khusus
Secara khusus penellitian ini bertujuan untuk :
1) Mengetahui lambang, bentuk, dan sruktur Kidung Madya Muter.
2) Mengetahui cara membaca Kidung Madya Muter.
3) Menambah pengetahuan mengenai terjemahan Kidung Madya Muter.
4) Melengkapi tugas semester matakuliah Pengantar Sejarah Bali.

1.4 Metode Penulisan
Dalam paper ini penulis menggunakan metode studi pustaka. Dalam arti mencari data dari berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan topik penulisan, buku yang dipergunakan adalah buku yang sah dan tidak dilarang peredarannya.




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anak Agung Istri Biang Agung Sebagai Pencipta Kidung Madya Muter
Anak Agung Istri Biang Agung adalah seorang pengawi yang berhasil menciptakan karya spektakuler yaitu kidung Madya Muter. Kidung ini beliau buat sebagai landasan dasar atau utama dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhan pujaannya. Guna mendukung ide yang berorientasi pada tujuan mistik dan jalan keindahan seperti telah diuraikan di depan, maka pengarang menggunakan bentuk syair kidung dan macapat. Kedua bentuk syair ini dilihat oleh sistem persajakan, jumlah suku kata dalam tiap baris dan tiap baris dalam setiap bait yang semua hal ini diistilahkan pada lingga dalam sastra tradisional di Bali.
Keberhasilan serta kompleksitas ide seperti itu rupanya menghendaki pengarang agar mengindahkan lambang lainnya untuk keserasian, antara lain memunculkan bentuk hiasan gambar yang melambangkan dua konsep dasar, yaitu konsep keindahan dan konsep kesucian. Sehubungan dengan hal tersebut, kemampuan pengarang tidak diragukan lagi karena telah berhasil merakit kedua konsep secara cermat dan padu sehingga melahirkan karya sastra yang bermutu tinggi.
Hiasan gambar dalam sastra yatra Anak Agung Istri Biang Agung tampak serasi dan tersusun rapi. Pada gambar pertama digambarkan lambanng sebuah ilustrasi berwujud seorang dewi dengan tangan kiri menggenggam sekuntum bunga pudak (pandanus moscha) yang sedang mekar. Dewi itu berdiri tegak dan kedua kakinya tepat menginjak sari bunga teratai.
Gambar seorang di lembar pertama (bagian luar kulit karyanya) betul-betul berperan sebagai ilustrasi lepas yang secara jelas tampak tanpa teks. Akan tetapi, barangkali gambar ini merupakan kristalisasi atas seluruh ide pengarang yang tertuang dalam gambar-gambar berikutnya. Untuk memahami lebih tuntas dan menyeluruh atas sesuatu yang tersurat dan tersirat di dalam karya sastra ini, maka sangat diperlukan penafsiran-penafsiran khusus berdasarkan studi tertentu, antara lain melalui studi perbandingan.
Sub judul di atas mengisyaratkan bahwa pokok bahasan bagian ini adalah lambang yang dibentuk sedemikian rupa sehingga wacana dalm komposisi bait dalam kidung bait macepat dapat digelar secara sanrat mudah yang mewarnai ciri khas identitas karya sastra ini. Perpaduan berbagai sistem lambanng bahasa (dengan permainan bunyi), sistem aksara (permainan suku kata), sistem gambar (dengan permainan garis, kontar, komposisi, dan pola) menambah pesona yang menakjubkan penikmat seni sastra.
Media gambar yang terdapat di dalam karya sastra ini terdapat lima macam lambang, yaitu bulan, bungapadma, burung merak, burung pungguk, dan bunga pundak. Jumlah gambar yang berteks sebanyak 59 buah dan angka ini menunjukkan jumlah bait syair kidung serta macepat. Dengan demikian, setidak-tidaknya terdapat lima macam wadah untuk menampung wujud syair dengan pola pupuh yang menggunakan lingsa berbeda sesuai dengan karakteristik bentuknya masing-masing. Karena pada lingsa menuntut corak tertentu di dalam sebuah bait syair, maka hal ini mengakibatkan bentuk gambar lambanng bervariasi sesuai dengan karakteristik pupuh yang dituangkan di dalam gambar tersebut.
Pemakaian gambar padma paling banyak dan banyak pula jumlah bilit yang tertuang di dalam gambar padma itu. Oleh karena it, wajar pula gambar padma yang paling berkembang wujud variasinya karena pengaruh berbagai faktor jenis pupuh yang diwadahinya. Variasi padma yang dimaksud terdapat dalam tipe daunnya, corakm susunannya berlapis-lapis, dan kombinasinya dengan gambar lambang lain seperti tampak pada perpaduan gambar lambang padam dalam lingkaran bulan.
Penembangan variasi bentuk dengan pola susunan daun seperti itu, antara lain disebabkan oleh faktor tuntutan pada lingsa dalam sebuah pupuh, baik yang terdapat di dalam syair kidung maupun yang terdapat di dalam syair macepat. Jumlah baris dalam setiap baitnya tampak jelas mengisi bagian gambar, berupa bilah (helai), daun bunga padma, dan helai bulu ekor pada burung. Begitu pula pada bagian lainnya.
Pemuatan aksara dengan sistem suku kata menggunakan alur melingkar yang berpusat di tengah-tengah. Pada bunga padma tampak pemuatan aksara dituangkan dalam bentuk lingkaran penuh dan bagian sarinya berpusat di tengahnya. Pada bagian sari ini hanya diisi satu huruf yang menyatakan sebuah suku kata, sedangkan pada bilah daun bunga tampak bervariasi sesuai dengan tuntutan baris dan tuntutan sejenisnya dalam sebuah bangun syair. Sebuah huruf yang terletak di tengah-tengah (pada bagian sari padma) mampu bermultiperan. Maksudnya, huruf itu selalu digunakan sebagai suku kata awal setiap kata dalam baris yang terdapat pada sebuah pupuh bersangkutan. Di samping itu, kemultiperanan huruf itu tampak pula dalam gambar burung, yaitu berperan sama seperti di atas selain ada yang berperan suku akhir setiap pupuh.






2.2 Gambar Kidung Madya Muter
Kidung Madya Muter dari Padma Angalayang Berdaun 16








2.3 Cara Membaca Kidung Madya Muter

2.2.1. Aksara Bali


  
  


 








2.2.2. Huruf Latin
Ja ri ayun ta
Jaya-jaya ujar ikang saro
Jatmika kayoja ring wong angujaraken rasmi
Jaya ring gale Jaya ring lambang
Jaya ri kidung janakula
Kajatin lwir saro
Ja ri tengahing jala dityaning
Jaga punang jahloka
Sapraja sama amuja


2.4 Terjemahan Kidung Madya Muter dalam Bahasa Indonesia
Seperti yang sudah berlalu
Niat yang tulus yang dikatakan indah
Bahasa sebagai senjata penakluk
Diperoleh dari keindahan dan diperoleh dari aksara
Diperoleh dari kidung janakula
Tau akan seluruh isi bahasa
Yang berada pada tengah air
Terletak di bumi
Yang dipuja oleh orang sedunia

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
. Dari uraian penjelasan penulis di depan dapat disimpulkan bahwa karya sastra ini tergolong sangat langka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa walaupun telah ada tradisi pada zaman dahulu, namun kenyataannya karya sastra ini merupakan karya sastra asli yang terletak pada kemampuan pengarang (penyair) untuk memadukan kemaknaan gambar (lambang) dan sketsa yang dihayati secara usual dan keputusannya yang halus melalui permainan sajak (kata-kata) yang dapat disimak melalui pendengaran karena dinyanyikan. Anak Agung Istri Biang Agung adalah seorang pengawi yang berhasil menciptakan karya spektakuler yaitu kidung Madya Muter. Kidung ini beliau buat sebagai landasan dasar atau utama dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhan pujaannya. Guna mendukung ide yang berorientasi pada tujuan mistik dan jalan keindahan seperti telah diuraikan di depan, maka pengarang menggunakan bentuk syair kidung dan macapat. Kedua bentuk syair ini dilihat oleh sistem persajakan, jumlah suku kata dalam tiap baris dan tiap baris dalam setiap bait yang semua hal ini diistilahkan pada lingga dalam sastra tradisional di Bali

3.2 Saran
Melalui karya sastra ini diharapkan pesan dan amanat budaya Bali yang terkandung di dalamnya bisa disebarluaskan untuk diketahui oleh semua pihak secara meluas di masyarakat Bali. Berkaitan dengan itu maka sewajarnyalah upaya pembinaan dan pelestarian kebudayaan Bali sebagai salah satu usaha mempertahankan dan mengembangkan identitas Bali dari sisi sosial budaya yang sampai saat ini masih menjadi tumpuan dalam proses modernisasi.




















DAFTAR PUSTAKA

Oka Granoka, Ida Wayan, dkk.. 1989. Sastra Yatra Karya Anak Agung Istri Biang Agung. Denpasar: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Bali Direktorat Jendral Kebudayaan Depdikbud

STRUKTUR CERPEN BALI MODERN 1967 – 1989

STRUKTUR CERPEN BALI MODERN 1967 – 1989

3.1 Sinopsis Cerpen yang Dipakai Sampel Peroide 1960-an
3.1.1 Sinopsis Cerpen “ Ni Luh Sari “
Ni Luh Sari berasal dari keluarga kaya yang berdumisili di banjar Tegal. Ia hidup bersama ibunya. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil, sekarang ia sudah remaja yang cantik dan telah duduk di kelas II SLTA. Tetapi tingkah lakunya tidak sesuai dengan parasnya yang cantik. Ia terlalu bebas bergaul dengan laki – laki, ia juga sering keluar dengan laki – laki sampai larut malam bahkan sering ganti pasangan. Tingkah Ni Luh Sari membuat ibunya kecewa dan sering memarahi Ni Luh Sari. Nasehat ibunya tidak pernah Ia hiraukan, bahkan Ni Luh Sari berani membantah nasehat – nasehat ibunya. Dan akhirnya tingkahnya membuat ia kecewa.kekecewaan yang dialami ialah menyadari dirinya hamil. Barulah ia memberitahukan kepada ibunya bahwa ia hamil. Kemudian ia menyesali perbuatannya dan mohon maaf kepada ibunya.

3.1.2 Sinopsis cerpen “ Mirah”
I mirah adalah seorang gadis cantik bertempat tinggal di desa kintamani. Ia dipelihara oleh nenewknya karena pada umur sebelas hari ibunya meninggal dunia. Begitu juga, ketika umur dua belas tahun neneknya pun meninggal. Setelah neneknya meninggal, ia tinggal bersama bibinya yang bernama Yuk Ngah ke jawa. Namun setelah bibinya manikah dengan orang Cina itu, mengikuti suaminya ke negri Cina. Mirah kembali ke Bali dan tinggal bersama bibiknya yang lain.
I Mirah adalah orang yang terampil dan memiliki perawakan serta paras cantik. Ia pandai menenun songket, pandai mejejaitan, disamping itu aktif dalam kegiatan di banjarnya. Sehingga dia sangat di segani oleh muda-mudi di desa itu. Pembawaan yang lemah lembut, perawakan tinggi semampai, kulit kuning langsat, dan senyum yang menawan hati menyebabkan hati seorang pemuda yang bernama I Laba sangat terpikat dan luluh. Akhirnya mereka pun saling mencitai.
Pada suatu hari menjelang petang I Laba kembali datang ke rumah Luh Mirah seperti biasanya. Kedatanganya kali ini ternyata sambil membawa oleh-oleh berupa barang perhiasan gelang emas, rantai emas, dan cincin, di samping itu juga sebuah dolar dari emas buat Luh Mirah yang ia sangat cintai. Berselang beberapa hari sejak pemberian barang-barang perhiasan itu, I Mirah mendengar berita bahwa I Laba menceburkan diri ke tengah laut di Selat Lombok sampai nenemui ajalnya. Apa yang di lakukan oleh I Laba tersebut hadarkan diri dari tuduhan korupsi yang ia lakukan di tempat ia bekerja, oleh karena kasus itu telah terbongkar. Mendengar berita itu, barulah I Mirah sadar bahwa dirinya di bohongi oleh I Laba yang ternyata telah melakukan korupsi dan banyak menghabiskan uang milik kantor di tempat ia bekerja.mendengar berita itu, ia pun menjadi sangat kecewa dan sedih.

3.2 Struktur Cerpen Bali Modern periode 1960-an
3.2.1 Tema
Pembicaraan tema cerpen Bali Modern periode 1960-an tidak lepas dari situs sosial yang berkembang pada saat itu. Situasi sosial yang demikian merupakan rangsangan bagi pengarang untuk mengungkapkan dalam bentuk cerita rekaan, seperti cerpen. Sehingga untuk memahami cerpen Bali Modern periode ini perlu di perhatikan situasi yang terjadi saat itu, khususnya di Bali.
Memperhatikan pokok persoalan yang di ungkapkan oleh pengarang dalam cerpen-cerpen yang di gunakan sebagai sampel adalah menyangkut masalah karmapahla. Sedangkan tema minornya di ambil dalam kegidupan sehari-hari, seperti masalah pergaulan bebas dan masalah korupsi yang sudah nampak saat itu. Pengalaman dan peristiwa seperti itulah yang menjadi pusat perhatian dan selanjutnya menjadi gagasan para pengarang Bali modern.
Analisis unsur tema cerpen Bali modern periode 1960-an pertama adalah cerpen “Ni Luh Sari” karangan Ida Bagus Mayun (1968) dan kedua cerpen “Mirah” karangan Putu Sedana (1969).

3.2.1.1 Tema Cerpen “NI Luh Sari”
Cerpen “Ni Luh Sari” melukiskan kehidupan seorang gadis remaja cantik yang masih berstatus pelajar duduk di bangku kelas II tingkat SLTA. Ia dilukiskan sebagai seorang gadis yang cantik, akan tetapi antara kecantikan dengan tingkah lakunya tidaklah sesuai, karena sangat bebas bergaul dengan laki-laki, dan tidak mamperhatikan batas-bayas kewajaran sebagai wanita pada umumnya, karena Ni Luh Sari tidak ingin marasa terikat dan ia ingin bebas menentukan sikap hidupnya karena merasa telah dewasa, merasa telah pandai, merasa selalu benar, sehingga semua tindakanya tidak perlu dibatasi lagi.
Kehidupan Ni Luh Sari yang demikian tidaklah berlangsung lama. Walaupun ibunya sudah tidak mampu menasehati dan berbuat apa-apa terhadapnya. Sehingga ibunya merasa semakin kesal, kecewa dan sedih, menyaksikan tingkah laku anaknya yang tidak bisa dinasehati. Sehingga Ni Luh Sari terjerumus kepergaulan bebas yang membuat Ni Luh Sari menjadi hamil dan membuat ia menyesal. Hal ini disebabkan karena moral di hati beberapa manusia telah goyah dan tidak lagi memegang nilai-nila disiplin sebagai manusia. Sehingga pengarang ingin memberikan hukuman kepada tokoh Ni Luh Sari yang tidak memperhatikan nilai moral sebagai wanita dan berani menentang nasehat orang tua.hukuman yang di berikan tersebut adalah di lukiskannya Ni Luh Sari hamil di luar nikah. Sehingga dapat dikatakan, bahwa yang menjadi tema mayor cerpen ini adalah tentang karmaphala, yaitu berupa hasil perbuatan yang telah di lakukan.

3.2.1.2 Tema Cerpen “ Mirah”
Cerpen “ Mirah “ karangan Putu Sedana yang dipakai sampel keduadalam penelitian ini menggambarkan kehidupan manusia yang terjadi di masyarakat pada saat itu. Pengarang mengungkapkan persoalan-persoalan yang pernah dialami atau pun dilihat dalam lingkungan sosial masyarakat, seperti lukisan masalah yang berlatarbelakangkan cinta kasih antara laki-laki dengan wanita atau pun yang diwarnai oleh masalah korupsi yang terjadi pada saat itu. Pada cerita ini pun tidak luput dari persoalan cinta kasih yang dijalin antara I Laba sebagai tokoh utama dengan I Mirah sebagai sampingan. I Laba, dalam menunjukan rasa cintanya kepada mirah sepertinya sangat berlebihan. Perjalanan kisah cinta mereka agaknya belumlah berlangsung lama, walaupun diceritakan bahwa I Laba sudah sering berkunjung kerumah Mirah, dan dikatakan sampai lupa rumah sendiri. Ketika ada odalan di pura Munduk Danu mereka sempat bertemu kembali, dan disana mereka sempat berbincang-bincang di pinggiran danau. Secara tidak sengaja mereka membicarakan tentang perbuatan baik dan buruk (subha dan asubha karma), yang akan menghasilkan baik bila perbuatan itu baik dan perbuatan buruk akan menghasilkan yang buruk, sebagai akibat hokum karmaphala. Dan secara tidak sengaja pula ia membicarakan tentang korupsi. Selanjutnya, diceritakan antara I Laba dengan Mirah sudah menunjukan hubungan yang semakin intim. Mereka sudah sama-sama jatuh cinta. Ringkasnya, pada suatu sore I Laba berkunjung kerumah Mirah tapi kunjungannya kali ini I Laba ingin menunjukan keseriusan rasa cintanya kepada Mirah, dengan memberikan barang-barang perhiasan. Karena ambisi untuk memperistri Mirah sangat besar.
Setelah memberikan barang-barang perhiasan, berselang satu bulan tiga belas hari berikutnya I Mirah mendengan berita bahwa I Laba bunuh diri dengan cara menceburkan dirinya ke tengah laut. Baralah Mirah mengerti bahwa barang-barang perhiasan yang diberikan tersebut adalah hasil korupsi yang dilakukan oleh Laba. Begitulah persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh pengarang dalam cerita ini yang dapat mendukung terwujudnya tema. Dalam hal ini yang menjadi pokok persoalan masih berkisaran pada gejala atau ketimpangan-ketimpangansosial yang terjadi saat itu. Ketipangan social yang dipermasalahkan itu adalah masalah moral dan penghianatan. Dalam hal ini, kedatipun tindakan korupsi yang dilakukan oleh I Laba hanya bermotifkan ikut-ikutan. Tetapi, bagaimana pun juga perbuatan itu merupakan perbuatan yang tidak baik. Pada akhirnya perbuatan itu terbongkar, disebabkan rasa malu yang luar biasa, bai kepada Mirah maupun lingkungan masyarakat akhirnya I Laba melakukan bunuh diri. Kematian seperti itu disebut ulahpati ‘ kematian yang dilakukan secara sengaja’. Sehingga dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang menjadi titik penekanan adalah masalah karmaphala, yaitu hasil dari perbuatan yang telah kita lakukan.

3.2.2 Alur
Dalam cerita rekaan kita akan menjumpai jalinan peristiwa dalam rentetan peristiwa atau insiden yang dibangun secara kausalitas. Selain itu alur dapat memberikan kesan tentang keberhasilan cerita yang dilukiskan, sebab aspek ini ada pautannya dengan unsure-unsur struktur cerita lain. Antara unsure yang satu dengan unsure lainnya mempunyai hubungan yang erat, karena rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin tersebut menggerakan jalan cerita melalui rumitan kearah klimak dan selesai. Pembicaraan terhadap alur atau rangkaian peristiwa dalam cerpen-cerpen Bali Modern 1960-an yang digunakan sampel dalam analisis ini, secara umum kelihatannya mengikuti pola alur konvensional, yaitu pengarang mengawali ceritanya denganmemperkenalkan situasi awal, kemudian situasi mulai bergerak, kemudian mencapai klimak dan selesai. Akan tetapi, setelah dipahami secara menyeluruh rangkaian peristiwa demi peristiwa sudah menunjukkan hubungan sebab akibat dan jalinan cerita berlangsung secara kausalitas dan logis. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dianalisis satu-persatu alur cerita bali Modern yang digunakan sampel.

3.2.2.1 Alur Cerpen “Ni Luh Sari”
Pola alur cerpen “Ni Luh Sari” mengikuti pola alur konvensional, akan tetapi penyelesaian cerita ini terasa dipersudah dan tergesah-gesah. Meskipun dari segi gagasan yang dilukiskan ini telah dijalin dalam bentuk yang baru, namun dalam cerpen ini masih terlihat adanya unsur teknik penceritaan yang tradisional. Adanya kalimat yang lazim digunakan dalam gaya mendongeng. Kalimat itu adalah “kacarita mangkin” ‘dikisahkan sekarang’ dan bila situasi akan beralih masih digunakan kalimat “sedek dina anu” ‘pada suatu hari’. Penggunaan kalimat seperti itu dapat mengingatkan kita pada teknik penceritaan tradisional (pedalangan) yang lazim dilakukan ketika mendongeng (masatua). Unsur kalimat seperti itu merupakan konvensi dari cerita rakyat (dongeng). Sehingga dengan adanya unsur kalimat seperti itu dapat menimbulkan kesan seolah-olah cerita tersebut hanya berupa khayalan saja atau bersifat dongeng belaka.
Dalam cerpen ”Ni Luh Sari” pengarang memulai ceritanya dari kehidupan sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak gadis cantik yangbernama Ni Luh Sari, sebagai tokoh utama cerita. Ia berasal dari banjar Tegal dan masih duduk di kelas II SLTA. Ia sangat sering keluar rumah dengan alasan belajar, namun ibunya curiga karena setiap ia akan pergi selalu bersolek dan pulangnya sampai larut malam. Hampir setiap hari Luh Sari hanya memikirkan kecantikan dirinya, tidak pernah belajar, dan setiap malam bercengkrama dengan tamu laki-laki yang mengunjungi sampai larut malam. Ibunya tidak mampu berbuat apa-apa walaupun sudah sering dinasehati. Gambaran awal mula kisah ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
Kacrita mangkin wenten jadma sugih mapaumahan ring banjar tegal, ipun madrebe bapa sampun ninggalin padem, kantun padaduanan Ni Luh Sari ring memen ipune. Ni Luh Sari sampun anom jegeg tan patanding, kenyeme mangalap jiwa, kemikan bibihe manis nyujur, putih gading pangadege langsing lanjar. Bengong wiakti anake mangantenang. Nanging kajegegane tan anut ring parisolahipune. Sering tungkas ring pamineh anak tua, tur degage mangonyang. (halaman lampiran 2)
Terjemahannya:
Dikisahkan sekarang ada orang kaya tinggal di banjar tegal, ayahnya sudah meninggal, sekarang masih berdua Ni Luh Sari dengan ibunya. Sekarang Ni Luh sari telah menjadi gadis remaja dan cantik yang tak ada bandingannya, senyum memikat hati, tutur katanya manis, kulitnya kuning langsat dan tinggi semampai. Terbelalak sesuai denngan tingkah lakunya. Selalu bertentangan dengan pikiran orang tua, dan angkuhnya luar biasa.
Dalam hal ini yang menjadi pusat pengisahan dalam cerita tersebut adalah tokoh Ni Luh Sari yang menempuh jalan hidup secara bebas. Nasihat-nasihat yang diberikan oleh ibinya tidak dihiraukan malah ia semakin bebas bergaul dengan laki-laki. Konflik-konflik yang terjadi antara Ni Luh Sari dengan ibunya menyebabkan keadaan semakin memuncak. Pada suatu hari, Men Luh Sari merasa tidak tahan melihat anaknya yang semakin membandel, kemudian ia menasihatinya dengan keras seperti kutipan di bawah ini:
Sedek dina anu semengan Ni Luh sari nabdabang payas pacing mlali sareng timpal-timpalne muani. Saking tan sida aantuk naanang sakit atine, raris memenipune nyambatsara sada keras, “Sari kapahin ja mlali,senglad meme nepukin tingkah anak luh buka nyai, busan-busan ngajak anak muani sep ngajak ne, sep ngajak to tusing pesan matilesan awak anang gigis…(halaman lampiran 4)
Terjemahannya:
Pada suatu hari pagi-pagi Ni Luh Sari bersiap-siap merias diri karena akan melancong dengan temannya yang laki. Karena tidak mampu menahan rasa marah, kemudian ibunya menyapa dengan perasaan marah, “ Sari janganlah terlalu sering bepergian, kikuk ibu melihat gerak-gerik seorang perempuan seperti kamu, sebentar dengan seorang laki-laki sebentar laki-laki ini, sebentar dengan yang itu sama sekali tidak merasa malu barang sedikit….
Setelah terjadi pertengkaran dengan anaknya, akhirnya Men Luh Sari pun hanya berdiam diri terhadap tingkah laku anaknya. Akan tetapi, berselang beberapa hari kemudian, Ni Luh Sari merasakan dirinya hamil. Laki-laki yang bertanggung jawab akan kehamilannya itu tidak diceritakan dalam cerita. Secara implicit dapat dikatakan bahwa hamil itu disebabkan oleh banyak orang laki-laki sebagai akibat pergaulan bebasnya. Ia hanya bias pasrah meratapi nasibnya. Peristiwa krisis yang dialami Ni Luh Sari tersebut kemudian mencapai klimaksnya ketika isa memberitahukan pada ibunya kalau dirinya hamil. Kehamilan Ni Luh Sarilah ,erupakan puncak alur cerita dan sekaligus merupakan pemecahan alur cerita.
Ibunya yang mendengar hal tersebut justru tidak menunjukkan kemarahan terhadap Luh Sari akan tetapi ibunya hanya bias pasrah menerima nasib itu. Menurutnya, hal itu sudah merupakan kehendak-Nya yang harus diterima dan tidak bias dihindari ataupun dicari karena sudah merupakan hokum karmaphala.
Penyelesaian cerita hanya sampai di sana. Tinjauan sepintas ini menunjukkan bahwa hamil di luar nikah itu sulit dituntut apalagi perbuatan itu didasari oleh kemauan kedua belah pihak dan dilakukan oleh banyak laki-laki. Sehingga, cerita diselesaikan sampai di sana agar tidak mengurangi keindahan cerita.

3.2.2.2 Alur Cerpen Mirah
Pada cerpen ini, pengarang mengawali cerita dengan memperkenalkan tokoh Luh Mirah pada waktu masih kecil. Luh Mirah tinggal si desa Kintamani, sejak kecil dia sudah yatim piatu, ia dipelihara oleh neneknya. Semasa kecil kehidupannya sangat menderita dan ketika dia berumur 12 tahun nenek kesayangannya meninggal dunia. Kemudian ia diajak oleh bibinya yang bernama Yuk Ngah ke Jawa dan tinggal di sana. Namun ketika bibinya menikah dengan orang Cina dan ikut pergi ke Cina, Luh Mirah kembali ke Bali ditampung oleh bibinya yang lain. Kemudian ia melakukan beberapa pekerjaan antara lain menenun songket, mejejatitan, dan pekerjaan tenun menenun lainnya. Selain itu pengarang juga melukiskan keadaan fisik Luh Mirah, yang digambarkan sebagai gadis cantik, mkulit mulus dan kuning langsat, tutur katanya manis.
Kemudian jalinan cerita dimulai dari insiden pertemuan Luh Mirah dengan I Laba. Mereka berdua saling jatuh cinta, sehingga hubungan mereka semakin intim. Setiap hari I Laba dating ke rumah Luh Mirah, baik sore maupun malah hari. Pada suatu hari I Laba baru datang dari kota membawakan oleh-oleh kepada Luh Mirah barang-barang perhiasan sebagai tanda cinta. Luh Mirah menanyakan darimana I Laba mendapatkan semua perhiasan itu, namun I Laba tidak memberikan jawaban.
Kalau dilihat dari jalinan cerita yang dibangun oleh pengarang dalam cerpen ini tidak ada menimbulkan konflik-konflik yang dapat membangun gerak cerita.
Selanjutnya klimaks dan penyelesaian cerita ini, agaknya pengarang memberikan pemecahan secara tiba-tiba dan dipermudah, yaitu dilukiskannya I Laba setelah memberikan Luh Mirah perhiasan, kemudian berselang satu bulan tiga belas hari kemudian I Laba sudah meninggal. I Laba meninggal dengan menceburkan diri ke tengah laut di Selat Lombok karena korupsi yang ia lakukan sudah terbongkar. Padahal sebelumnya dia tidak pernah melaukan korupsi atau tindak kejahatan lainnya, ia hanya ikut-ikutan saja.
Demikianlah penyelesaian cerita tersebut seperti pada gambaran di atas. Secara umum dapat dikatakan bahwa alur dilukiskan dengan baik dan sebab rentetannya jelas, sehingga dapat menunjang tema atau unsur cerpen lainnya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa cerpen Bali Modern periode 1960-an alur ceritanya masih terpaku pada penggunaan alur konvesional, sehingga hasil cerpen periode ini dapat dikatakan kurang memenuhi kesempurnaan sebagai karya sastra modern.

3.2.3 Penokohan
Penggambaran penokohan di setiap karya sastra mempunyai cara penungkapan yang berbeda-beda tentang perwatakan tokoh sesuai dengan kehendak pengarang bersangkutan.. Analisis aspek penokohan dalam cerpen periode ini dilakukan untuk memahami sampai seberapa jauh pengarang dapat menampilkan penokohan sehingga betul-betul hidup dan berfungsi sebagaimana adanya dalam realitas.
Kaitannya dengan pembicaraan penokohan pada cerpen Bali Modern periode ini, nampak secara implisit pembubuhan judul dengan menggunakan nama seseorang menunjukkan adanya hubungan penokohan cerita. Pembubuhan judul dengan nama orang secara implisist telah memasalahkan penokohan, karena nama tokoh yang dijadikan judul cerita biasanya sekaligus berperan sebagai tokoh utama dalam cerita. Disamping penokohan cerpen periode ini kebanyakan mengambil latar belakang dari tingkat sosial menengah, tingkat pendidikan menekah, dan didominasi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari wangsa Sudra.

3.2.3.1 Penokohan Cerpen “Ni Luh Sari”
Dalam cerpen ini, sesuai dengan judul yang dibubuhkan yakni Ni Luh Sari, ternyata judul tersebut merupakan tokoh utama cerpen ini. Tokoh Ni Luh Sari dihadirkan oleh pengarang dari awal sampai akhir cerita dengan tingkah lakunya serta sifat dan sikap yang ditunjukkan tokoh tersebut. Tinjauan penokohan ini meliputi sudut sosiologis, fisik, dan psikologis.
Tokoh Ni Luh Sari, kalau dilihat dari sudut sosiologis, ia dilukiskan sebagai gadis remaja cantik masih berstatus pelajar SLTA kelas dua dan berasal dari keluarga kaya yang bertempat tinggal di banjar Tegal. Ayahnya telah meninggal dunia dan sekarang ia hidup bersama ibunya. Bila dilihat dari namanya, ia termasuk golongan sudra. Setelah menginjak remaja ia terjerumus ke pergaulan bebas sehingga menghancurkan masa depannya akibat pergaulan bebas dengan laki-laki sampai ia hamil di luar nikah.
Selanjutnya ditinjau dari segi fisik, dilihat dari namanya Ni Luh Sari dapat menunjukkan bahwa ia adalah perempuan. Ia dilukiskan sebagai gadis remaja yang cantik, badannya tinggi semampai, kulitnya kuning langsat, dan senyum serta tutur katanya amat menarik hati.
Sedangkan keadaan psikologisnya Ni Luh Sari digambarkan mempunyai sifat tempramen yang kurang baik, dan ia adalah orang yang angkuh, mau menang sendiri, sehingga menimbulkan perselisihan dengan ibunya.
Selanjutnya watak yang ditunjukkan oleh tokoh Men Luh Sari adalah bersifat sabar dan dihadirkan sebagai pendamping tokoh utama yang sekaligus sebagai figur penyelamat tokoh utama. Akhirnya dari dialog-dialog Men Luh Sarilah melahirkan sebuah amanat, walaupun nasihat itu sesungguhnya ditujukan kepada Ni Luh Sari, tetapi amanat yang disampaikan oleh tokoh tersebut sebenarnya juga ditujukan kepada pembaca karya itu.
Setelah diuraikan penokohan cerpen ini secara menyeluruh, satu-satunya kelemahan yang paling menonjol adalah ulasan yang dilakukan terhadap tokoh-tokoh tersebut tidak secara mendalam.

3.2.3.2 Penokohan Cerpen “Mirah”
Yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini adalah I Laba, sedangkan tokoh sampingannya adalah I Mirah. Tokoh I Laba tidak langsung dihadirkan oleh pengarang, akan tetapi tokoh ini merupakan sumber dari kejadian penting yang tedapat di dalamnya. Secara eksplisit, pelukisan fisik dan segi sosiologis tokoh ini tidak terungkap dengan jelas.
Tokoh I Laba sebagai tokoh utama dinyatakan sebagai seorang pegawai di salah satu kantor dan berasal dari desa Kintamani. Sedangkan asal-usul dan latar belakang tokoh tersebut tidak ada diungkap, akan tetapi karena ia adalah seorang pegawai, hal ini menunjukkan bahwa I Laba adalah orang berpendidikan dan rupanya mempunyai latar belakang ekonomi yang berkecukupan.
Sedangkan dari segi fisik tokoh I Laba tidak ada dilukiskan pengarang, padahal pelukisan fisik cukup penting guna menunjang perwatakan tokoh tersebut, sebab pelukisan tokoh yang kuat dan hidup dapat menimbulkan imajinasi bahwa cerita benar-benar terjadi. Begitu juga dari segi psikologisnya cukup sulit mengungkapkan, akan tetapi perwatakan tokoh ini baru kelihatan setelah ia meninggal dan dituduh melakukan korupsi yang menghabiskan beratus ribu uang milik kantor tempat ia bekerja.
Secara psikologis tokoh I Laba dapat digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai sifat-sifat jahat, pembohong, penipu, dan pembual, yakni terbukti telah melakukan korupsi. Karena telah terbongkar, ia memilih bunuh diri daripada menjadi bulan-bulanan masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia adalah seorang pengecut yang tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Selanjutnya mengenai penokohan tokoh Luh Mirah sebagai tokoh sampingan. Secara sosiologis, tokoh ini memiliki latar belakang yang suram. Sejak kecil ia hidup yatim piatu, kemudian ia dipelihara neneknya, dan ketika berumur 12 tahun neneknya meninggal, kemudian dia bersama bibinya di Jawa, namun karena bibinya menikah dengan orang Cina san ikut ke Cina, ia pun kembali ke Bali bersama bibinya yang lain. Ia adalah seorang beragama Hindu dan berdasarkan namanya ia berwangsa Sudra.
Tinjauan fisik tokoh ini dapat diketahui, bahwa ia dilukiskan sebagai seorang gadis cantik, kulit kuning langsat dan luwes, tutur kata dan senyumnya manis, sehingga banyak laki-laki yang tertarik padanya.
Meskipun demikian, masa kecil Luh Mirah sering diwarnai penderitaan yang cukup menyedihkan. Ketika ia baru berumur sebelas hari, ia ditingglkan oleh ibunya dan waktu ia berumur 12 tahun, nenek yang sangat ia sayangi juga meninggalkannya. Karena tidak ada yang menghidupi, ia diasuh bibinya.Semua penderitaan yang dialaminya merupakan gangguan psikologis yang cukup berat. Tetapi ia sangat tabah dalam menghadapi cobaan tersebut. Gambaran penderitaan itu, terlukis sebagai berikut :
Memene ngalain dugas ia mara lekad matuuh solas dina. Yen jani ningalin bulan, inget teken dadongne, teken danu, blibis, emas, konyong Kintamani, cutetne makejang ane ngranayang girang i malu, jani cara nyali. Legane medandan ajaka kewehe.
Terjemahan :
Ibunya meninggal pada waktu ia baru lahir berumur sebelas hari. Kalau sekarang melihat bulan, ingat dengan neneknya, dengan danu, blibis, emas, anjing Kintamani, pokoknya semua yang membuat ia bahagia dulu, sekarang seperti empedu. Kebahagiaan selalu diikuti penderitaan.

Kekecewaan itu kembali terdengar, ketika berita tentang kematian kekasihnya karena kasus korupsi. Ia sama sekali tidak mengetahui kalau kekasihnya koruptor, sehingga ia mau menerima perhiasan pemberiannya. Pukulan berat dan sangat memalukan itu terlukis seperti di bawah ini :
Sedihe dija kaden tara kena baan ngulapin. Ada buin abulan nanggu roars dina, ih telulas dinane, tangkahne I Mirah serasa belah asibak baan dapak mara ningeh orta I Laba ilang gelekang pasih di Selat Lombok.
Terjemahan :
Rasa sedih yang mendalam entah dimana tidak ada menghampiri. Kira-kira lagi satu bulan dua belas hari, ih tiga belas hari, dada Luh Mirah bagaikan dibalah gapak ketika mendengar berita kalau I Laba menceburkan diri ke tengah laut di Selat Lombok.
Lukisan kesedihan Luh Mirah yaitu setelah mendengar berita kematian kekasihnya dengan cara yang memalukan. Saat itu ia mengalami goncangan jiwa yang hebat. Sangat besar kekecewaan yang dialaminya, dan ia pun dengan tabah menerima nasib yang menimpanya.
Demikian mengenai penokohan cerpen ini dan secara implisit, pengarang ingin menyampaikan amanat, walaupun disampaikan lewat tokoh-tokohnya, yaitu agar manusia selalu jujur, jangan serakah, dan semua perbuatan pasti akan mendapatkan hasil yang setimpal sesuai karmanya.

3.2.4 Latar
Latar cerpen Bali Modern periode 1960-an ini adalah mengungkapkan informasi tentang tempat, waktu dan secara sosiologis dalam keadaan bagaimana kisah itu dilukiskan oleh pengarang. Pelukisan latar sangat membantu analisis unsur-unsur yang lain yang berhubungan dengan cerpen. Menurut pendapat Abrams yang dikutip Sri Widati Pradopo, cerpen Bali Modern mempunyai latar baik.
Secara umum, latar cerpen Bali Modern periode 1960-an, tempat dan waktu tidak dinyatakan secara jelas. Hanya disebutkan seperti; pada suatu hari, malam hari, di suatu desa, dan lainnya.


3.2.4.1 Latar Cerpen “Ni Luh Sari”
Latar tempat cerpen ini pada dasarnya menggunakan daerah Bali. Dilihat dari latar tempatnya, peristiwa ini terjadi di rumah tokoh utama, Ni Luh Sari yang digambarkan berasal dari keluarga orang kaya yang tinggal di desa tepatnya banjar Tegal. Disini tempat tinggal tidak dijelaskan secara jelas berada di wilayah mana dan di kabupaten apa, sebab nama banjar Tegal cukup banyak ada di Bali. Namun, jika dihubungkan dengan suasananya yang ramai dengan sepeda motor dan adanya sekolah lanjutan tingkat tengah, dapat ditafsirkan latarnya berada di Denpasar.
Ditinjau dari segi waktu, pengarang tidak menyebutkan latar waktu secara jelas, hanya saja menyebutkan “sedek dina anu”. Dengan penggunaan kalimat tersebut, menimbulkan kesan bahwa cerita itu masih bersifat khayalan belaka. Jadi secara implisit dan eksplisit sangat sukar memahami latar waktunya.
Dari segi latar sosial, cerpen ini dilatarbelakangi oleh keadaan ekonomi yang cukup mapan. Ni Luh Sari sebagai seorang gadis cantik, yang menjalani hidupnya individualisme dan cuek terhadap lingkungan sekitarnya.

3.2.4.2 Latar Cerpen “Mirah”
Dari segi latar tempat, cerpen ini cukup sulit mengenali dimana sesungguhnya peristiwa itu terjadi. Dengan diperkuat oleh penyebutan nama tempat seperti pura Munduk Danu dan desa Kintamani, kemungkinan latar tempat cerita itu di pedesaan.
Dilihat dari latar waktu, cukup sulit ditentukan kapan terjadinya peristiwa itu, karena cirri waktu yang digunakan seperti; malam hari, sore hari dan siang hari.
Mengenai latar sosial cerpen ini, diketahui melalui tokoh dan tindakan yang dilakukan, bahwa I Mirah dan I Laba adalah orang yang tergolong berada di tingkat sosial rendah, yaitu Sudra. Luh Mirah berlatarkan diri yang berkehidupan perekonomian dan tingkat pendidikan yang rendah, sedangkan I Laba berlatarkan orang yang berkehidupan ekonomi dan pendidikan menengah. Disamping diwarnai oleh cinta antara laki-laki dan wanita sebagai latar insiden untuk menghidupkan jalan cerita, sebagai latar peristiwa yang paling pokok yaitu masalah korupsi yang merajalela saat itu.
Demikianlah mengenai uraian latar pada cerpen periode 1960-an, dimana penggunaan latar cerpen pada periode in walaupun tidak dinyatakan secara jelas, tetapi sudah mendukung ide cerita secara keseluruhan.

3.2.5 Gaya Bahasa
Gaya bahasa sangat mempunyai peranan penting dalam cipta sastra untuk meningkatkan kualitas dan mempertegas persoalan yang disampaikan cerita itu sendiri. Pada cerpen periode ini, ragam bahasa yang digunakan pengarang sesuai dengan situasi dan tingkat kehadiran pelaku cerita, karena dalam cerpen ini pelakunya kebanyakan dari golongan sudra, maka dari itu pengarang menggunakan ragam bahasa kasar. Tetapi pengarang menggunakan ragam bahasa alus dalam penyampaian narasinya.

3.2.5.1 Gaya Bahasa Cerpen “Ni Luh Sari”
Dalam cerpen ini, pengarang menggunakan bahasa Bali secara menyeluruh, agar dapat menimbulkan kesan yang logis dan wajar antara situasi percakapan antar tokoh. Pengarang disini menggunakan bahasa Bali Alus untuk narasinya dan menggunakan bahasa Bali Kasar dalam dialog antar pelaku. Gaya bahasa yang terlihat dalam cerpen ini, yaitu : gaya bahasa repetisi, hiperbol, sarkasme, dan pleonasme.
1) Gaya Bahasa Repetisi
Repetisi yaitu pengulangan bunyi, suku kata atau kalimat yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam konteks yang sesuai. Seperti contoh :
Anak cara jani bas bebas pergaulan luh-luhe, liu ane tungkas teken anak tua mapi paling ririh, liu ane suba mabukti.
Terjemahan :
Zaman seperti sekarang seorang perempuan terlalu bebas bergaul, banyak yang melawan orang tua, banyak yang sudah terbukti.
Kata yang bergaris bawah adalah kata yang direpetisikan dengan kata ‘banyak yang’.
2) Gaya Bahasa Hiperbol
Hiperbol menurut Gorys Keraf adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan berlebihan terhadap suatu hal. Contohnya :
Ajahan makebyos yeh paningalane antuk tan sida naenang kebus atine buka borbor.
Terjemahan :
Seketika air matanya tumpah sebab tak mampu menahan panas hatinya seperti terbakar.
Kata bergaris bawah menimbulkan seolah-olah hatinya terasa terkoyak-koyak.
3) Gaya Bahasa Sarkasme
Sarkasme merupakan sindiran yang lebih kasar dari ironi dan sinisme.Contoh:
Sari kapahin ja melali, senglad meme nepukin tingkah anak luh buka nyai, meseh sembeleh ngajak anak muani, tusing pesan metilesang awak.
Terjemahan :
Sari janganlah terlalu sering bepergian, kikuk ibu melihat tingkah anak perempuan seperti kamu, sukanya berganti-ganti laki-laki, tidak tahu malu.
4) Gaya Bahasa Pleonasme
Pleonasme adalah acuan yang menggunakan kata-kata lebih banyak dari yang diperlukan. Contoh :
“Ajahan sampun ical tan kakantenang” yang berarti ‘Sekejap telah hilang tanpa kelihatan’.

3.2.5.2 Gaya Bahasa Cerpen “Mirah”
Dalam cerpen ini, pengarang menggunakan gaya bahasa seperti ; repetisi, personifikasi, persamaan, sarkasme, hiperbol, dan koreksio.
1) Gaya Bahasa Repetisi
Contohnya lihat kutipan ini :
Yen jani ningalin bulan, inget teken dadongne, inget teken danu,………..dst.
Kata bergaris bawah adalah yang direpetisikan. Tujuan pengulangan kata tersebut untuk mempertajam bahwa Mirah bila melihat bulan selalu ingat dengan neneknya, dengan danau dan lainnya.
2) Gaya Bahasa Personifikasi
Penggunaan baya bahasa personifikasi dalam cerpen ini hanya digunakan satu kali, seperti contoh di bawah ini :
“Aun-aunne nagih tuun” yang berarti ‘kabut-kabut ingin turun’.
Kata-kata diatas memberi kesan bahwa kabut sebagai benda mati seolah-olah bertindak seperti manusia yang ingin turun.
3) Gaya Bahasa Persamaan
Gaya bahasa ini adalah perbandingan yang bersifat eksplisit yang menyatakan sesuatu sama dengan hal lain. Dalm bahasa Bali, kata-kata itu diwakili oleh kata kadi, ‘seperti’, cara ‘sama seperti’, dan lainnya. Contohnya :
“Pangadegne mulus kadi langsing” yang artinya ‘tubuhnya seperti tinggi semampai dan halus’.
4) Gaya Bahasa Sarkasme
Gaya bahasa sarkasme yang digunakan disini menunjukkan rasa tidak senang dari bibi Luh Mirah kepada I Laba, seperti :
“Adi ditu Mirah negak. Genit kenken kaden, sing nawang ditu ada lateng” yang artinya ‘Kenapa Mirah duduk disana. Tidakkah menimbulkan gatal, tidak tahu disana ada lateng’.
5) Gaya Bahasa Hiperbol
Contohnya : “tangkahne I Mirah rasa belah kapak mara ningeh orta I Laba ilang gelekang pasih di Selat Lombok” artinya ‘dada Luh Mirah bagaikan dibelah kapak ketika mendengar I Laba yang menceburkan diri ke tengah laut’.
6) Gaya Bahasa Koreksio
Koreksio adalah gaya yang mula-mula bermaksud menegaskan sesuatu, tapi kemudian diperbaiki setelah menyadari kesalahannya. Contoh :
“Ada jenenga buin abulan nanggu roras dina, ih telulas dinane” yang artinya ‘Kira-kira lagi sebulan lebih duabelas hari, ih tigabelas hari’.

Nama Mahasiswa Sastra Daerah UNUD angkatan 2005-2008

SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA DAERAH)
ANGKATAN 2005


NO NIM NAMA
1 0501215001 IDA BAGUS MADE WISNU PARTA
2 0501215002 AA.AYU MEITRI DWI ASTITI
3 0501215003 PUTU WIRA SETYABUDI
4 0501215004 IDA BAGUS MAS PUTRA P.
5 0501215005 PUTU NOVY GRACE AMBARI
6 0501215006 I MADE ARYA DWI EKAYANA
7 0501215007 I WAYAN INDRA PRAMANA PUTRA
8 0501215008 NI PUTU INDAH AYU UTARI
9 0501215009 IDA BAGUS MADE SUPUTRA
10 0501215010 PUTU EKA SAVITRI UTAMI
11 0501215011 DWI OKAR NIDYANTI
12 0501215012 NI WAYAN TINI
13 0501215013 PUTU GITA SUYASA
14 0501215014 I.GST.K.WARTA KUSUMA
15 0501215015 LUH GEDE SUMADEWI
16 0501215016 NI NYOMAN TRISNA DEWI
17 0501215017 NI WAYAN ERI ASTUTI
18 0501215018 I WAYAN MULIARTA
19 0501215019 IDA BAGUS ANOM S.
20 0501215020 PANDE KADEK JULIANA
21 0501215021 I PT, AGUS OKA NEGARA
22 0501215022 I GUSTI NGURAH GUNMANA PUTRA
23 0501215023 PUTU AYU RANITA DEWI
24 0501215024 I GUSTI MADE AGUSTIKA




SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA JAWA KUNA)
ANGKATAN 2005

NO NIM NAMA
1 0501225001 I MADE ANOM SASTRAWAN
2 0501225002 MARIANA LEDEN GADI


SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA BALI)
ANGKATAN 2006

NO NIM NAMA
1 0601215001 AYU PUTRI SURYANINGRAT
2 0601215002 NI MD. WIDYANTARI
3 0601215003 I MADE SUPARMA
4 0601215004 I.G.A.INTAN PURNAMA.DT.
5 0601215005 PUTU RELAND DAFINCY T.
6 0601215006 NI MADE SRIARTINI
7 0601215007 NI KT.SARIATI
8 0601215008 COK ISTRI ANIK PARASARI
9 0601215009 A.A. NGURAH DWIPAYANA
10 0601215010 PUTRI WINTARI GAMA
11 0601215011 NI LUH ALIT ASRI ARTINI
12 0601215013 KADEK DARMIATI
13 0601215014 NI LUH PT.IRMA NATALIA.P
14 0601215015 LUH PUTU ARINI
15 0601215016 I GST. AYU WIDYARTI
16 0601215017 NI MADE SUNDARI DEWI
17 0601215018 LUH PT. NEPTI ERSANI
18 0601215019 IB.GD.SEMARA NATHA
19 0601215020 NI KOMANG SURYANTINI
20 0601215021 NI KADEK WITARINI
21 0601215022 I WAYAN WISNAWA
22 0601215023 IB.GEDE SURYA DHARMA
23 0601215024 KOMANG SENI PARWATI
24 0601215025 I GUSTI PUTU BUDI ANTARA
25 0601215026 NI WYN.SIDANADI
26 0601215027 NI LUH PUTU MEGAWATI
27 0601215028 NI LUIH ADE SUMI. A
28 0601215029 I GST. AGUNG HADI YUDHA
28 0601215030 NI KOMANG WITARI
29 0601215031 I.B.GD. SURYAWAN ADI P.



SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA JAWA KUNA)
ANGKATAN 2006

NO NIM NAMA
1 0601225001 NI MADE ARI DWIJAYANTHI
2 0601225002 I NYOMAN SUWANA
3 0601225004 I PT WIDHI KURNIAWAN


SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA BALI)
ANGKATAN 2007

NO NIM NAMA
1 0701215001 NI PUTU EKA YUNITA SARI
2 0701215002 PUTU SUTRISNAYANTI
3 0701215003 I NYOMAN ADI MANDELA
4 0701215004 IDA AYU MADE ADRIANITA DEWI
5 0701215005 GUSTI AYU NOVAENI
6 0701215006 NI MADE DWI MAHAYANI
7 0701215007 NI LUH MADE SUARDHIYANI
8 0701215008 IDA AYU NYOMAN MANUASTITI
9 0701215009 NI KOMANG SRI MELANI
10 0701215010 IDA AYU PUTU TUSTI SHANTI
11 0701215011 A.A.SERI KUSNIARTI
12 0701215012 I GUSTI AGUNG AYU GAYATRI PUCANGAN
13 0701215013 DW AYU CARMA CITRAWATI
14 0701215014 DW AYU SRI CAHYANINGSIH
15 0701215015 NI WAYAN NINA MERTA ASIH
16 0701215016 IDA AYU SWASRINA MANUABA
17 0701215017 I GST.NGURAH WIRIAWAN
18 0701215018 NI LUH PUTU EKA TARIANI
19 0701215019 I GEDE ADI SUARYASA
20 0701215020 I MADE DWI ADI REYUNIARTHA
21 0701215021 IDA BAGUS SUARCANA
22 0701215022 I KOMANG WIDANTA RUMA
23 0701215023 I PUTU WAHYU WIRAYUDA
24 0701215024 IB.GD.DIWANGKARA KUSUMA
25 0701215026 NI LUH SENDI PURNAMASARI
26 0701215027 PT. RYANDHITA INDRA DEWI
27 0701215028 I PUTU PANDE SUDIANTARA
28 0701215029 IDA AYU GALUH ASVINA DEWI MANUABA
29 0701215031 I MADE MAHENDRA JAYA
30 0701215032 I WAYAN EKA PUTRA
31 0701215033 NI MADE CHRISSTIANTI
32 0701215034 LUH GEDE AYU YUNITA SARI
33 0701215035 NI PUTU SRI YASMANIK
34 0701215036 I GST. PUTU SUARDANA
35 0701215037 MADE BUDHI ANTARI
36 0701215038 NI WAYAN ANGGARANITI
37 0701215039 NI WAYAN BUDIANINGSIH
38 0701215040 IDA AYU PUTU YULIANTHI






SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA JAWA KUNA)
ANGKATAN 2007

NO NIM NAMA
1 0701225001 DWI MAHENDRA PUTRA
2 0701225002 NI KOMANG ARI PEBRIYANI
3 0701225004 I WAYAN YOGIK ADITYA URDHANA
4 0701225005 IDA BAGUS GEDE BERGAWA GRANDHITA





SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA JAWA KUNA)
ANGKATAN 2008

NO NIM NAMA
1 0801225001 MADE RELAND UDAYANA
2 0801225002 NINA AMBARWATI


SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA BALI)
ANGKATAN 2008

NO NIM NAMA
1 0801215001 I WAYAN JULIANA
2 0801215002 AYU KOMP AGUSTIAN DEWI
3 0801215003 I MADE AGUS WIDIATIRTA
4 0801215004 COK DWI AGUNG PRAMASHITA R
5 0801215005 IDA AYU FRESCHA MAHAYANI
6 0801215006 AYU KARTIKA WULANDARI
7 0801215007 I PT EKA MUDI ARTIKA YASA
8 0801215008 KM PUTERI YADNYA DIARI
9 0801215009 PT EKA GUNA YASA
10 0801215010 NI PT ANGGA WIDIANTARI
11 0801215011 I KETUT BUDIARTAWAN
12 0801215012 I MADE ARI SASTRAWAN
13 0801215013 I WAYAN KAGIARTA
14 0801215014 LUH YESI CANDRIKA
15 0801215015 IDA AYU KT RATIH N K
16 0801215016 PANDE PT YAYUK MARIANI
17 0801215017 I MD MUS MEGA GANA A
18 0801215018 BRAM SETIAWAN
19 0801215019 NI L DESI WINDASARI
20 0801215020 NI KETUT RATNA SARI
21 0801215021 I WY PUTRA KURNIAWAN
22 0801215022 DSK MD ANGGUN SRI P
23 0801215023 I GEDE GALUNG KARYA
24 0801215024 I G A A KUNTIANTHARI
25 0801215025 I GD AGUS WIDYATAMA
26 0801215026 NI MADE DYAH BUDI
27 0801215027 NI KADEK SEPTIANI
28 0801215028 I PUTU ARI DHARMA M.
29 0801215029 A.A. ANDARY SEPTIANI
30 0801215030 NI KADEK YUNI HENDRAYANI
31 0801215031 IDA AYU DIAH SWABHAWATI
32 0801215032 GDE SRI WIDASTRA
33 0801215033 I WAYAN BANY SURYADI
34 0801215034 NI WAYAN SRI AGUSTINI
35 0801215035 I WAYAN MIKA





































SASTRA DAERAH (BAHASA & SASTRA BALI)
ANGKATAN 2006

NO NIM NAMA
1 601215001 AYU PUTRI SURYANINGRAT
2 601215002 NI MD. WIDYANTARI
3 601215003 I MADE SUPARMA
4 601215004 I.G.A.INTAN PURNAMA.DT.
5 601215005 PUTU RELAND DAFINCY T.
6 601215006 NI MADE SRIARTINI
7 601215007 NI KT.SARIATI
8 601215008 COK ISTRI ANIK PARASARI
9 601215009 A.A. NGURAH DWIPAYANA
10 601215010 PUTRI WINTARI GAMA
11 601215011 NI LUH ALIT ASRI ARTINI
12 601215013 KADEK DARMIATI
13 601215014 NI LUH PT.IRMA NATALIA.P
14 601215015 LUH PUTU ARINI
15 601215016 I GST. AYU WIDYARTI
16 601215017 NI MADE SUNDARI DEWI
17 601215018 LUH PT. NEPTI ERSANI
18 601215019 IB.GD.SEMARA NATHA
19 601215020 NI KOMANG SURYANTINI
20 601215021 NI KADEK WITARINI
21 601215022 I WAYAN WISNAWA
22 601215023 IB.GEDE SURYA DHARMA
23 601215024 KOMANG SENI PARWATI
24 601215025 I GUSTI PUTU BUDI ANTARA
25 601215026 NI WYN.SIDANADI
26 601215027 NI LUH PUTU MEGAWATI
27 601215028 NI LUIH ADE SUMI. A
28 601215029 I GST. AGUNG HADI YUDHA
28 601215030 NI KOMANG WITARI
29 601215031 I.B.GD. SURYAWAN ADI P.

Analisis Satua Bali

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Dalam masyarakat Bali banyak tersebar cerita-cerita rakyat. Cerita rakyat di Bali sering disebut dengan Satua Bali. Secara sempit yang disebut Satua Bali adalah satua-satua yang penyebarannya dari mulut ke mulut dan tidak diketahui siapa penciptanya. Tetapi dalam pandangan luas, satua Bali berasal dari karya-karya pengarang, baik yang berbahasa Bali maupun berbahasa Jawa Kuna. Satua-satua Bali baik yang masih berbentuk lisan maupun yang sudah dicetak, banyak ditemukan di masyarakat.
Dalam era modern, satua-satua masih berfungsi dan dipercaya dalam masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan cerita rakyat, misalnya : pada malam hari tidak boleh bersiul, tidak boleh keluar rumah pada sore hari (sandi kala), tidak boleh menduduki bantal, tidak boleh tidur menghadap selatan atau barat, dan masih banyak lagi contoh yang lain.
Dari berbagai macam satua di Bali, yang menarik untuk diteliti adalah satua yang berjudul “Satua I Kelesih”. Satua tersebut dipilih karena isinya menarik karena menceritakan kehebatan dan kesaktian seekor anjing yang bernama I Blanguyang yang sangat ditakuti oleh binatang-binatang lainnya, namun dengan kecerdikannya I Klesih dapat membunuh I Blanguyang. Dari segi fungsi, satua ini sangat bermanfaat karena berfungsi sebagai cerita yang menghibur, merupakan alat pendidikan karena mengandung pesan yang sangat mendidik yaitu kecerdikan dan kepintaran dapat mengalahkan kejahatan, selain itu juga berfungsi sebagai pelipur lara.
Berdasarkan hal tersebut, pada saat ini akan dianalisis satua yang berjudul “Satua I Kelesih”, dan hal yang akan dibicarakan mengenai inventarisasi, klasifikasi, analisis fungsi, dan analisis nilai.

1.2 Permasalahan
Berdasarkan uraian Latar Belakang tersebut, maka permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut :
1. Apa guna inventarisasi ?
2. Termasuk klasifikasi apakah Satua I Kelesih dalam cerita rakyat ?
3. Apakah fungsi Satua I Kelesih ?
4. Nilai-nilai apakah yang terkandung dalam Satua I Kelesih ?

1.3 Tujuan
Berdasarkan pemaparan permasalahan di atas dapat dijelaskan tujuan dari penelitian terhadap satua ini yaitu :
1.3.1 Tujuan Umum Penelitian ini adalah untuk mengetahui klasifikasi, fungsi, dan nilai Satua I Kelesih.
1.3.2 Tujuan Khusus Penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Agar lebih mendalam mengetahui fungsi-fungsi dan nilai satua tersebut.
2. Penelitian ini dilakukan dalam rangka melestarikan dan menyebarluaskan tentang nilai-nilai yang berfungsi dalam kehidupan masyarakat.
3. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap satua-satua Bali.

1.4 Metode dan Teknik Penulisan
Dalam menganalisis satua ini, digunakan dua metode yaitu pertama adalah metode pustaka dengan mencari sumber-sumber pustaka. Sumber pustaka yang saya gunakan adalah “Satua-Satua Bali (XV)” karangan I Nengah Tingen. Yang kedua adalah metode wawancara yaitu dengan mencari informasi di masyarakat tentang Satua I Kelesih.
Teknik yang digunakan dalam membuat analisis ini adalah observasi langsung dan membaca pustaka-pustaka terkait Satua I Kelesih tersebut. Teknik observasi langsung dilakukan dengan mendengarkan dan mencatat Satua I Kelesih dari masyarakat secara langsung serta mencatat hal-hal penting terkait satua tersebut. Teknik yang kedua adalah membaca satua tersebut pada buku kumpulan satua serta memahami isi yang terkandung di dalamnya.

1.5 Landasan Teori
Dalam menganalisis satua I Kelesih ini berlandaskan teori ciri-ciri cerita rakyat yang meliputi ciri-ciri mite, legenda, dan dongeng, serta menuliskan fungsi cerita rakyat.
Mite adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Adapun ciri-ciri mite yaitu sebagai berikut :
1) Dianggap cerita yang benar-benar terjadi
2) Dianggap suci
3) Ditokohi oleh para dewa dan makhluk setengah dewa
4) Peristiwa terjadi di dunia lain atau dunia yang bukan seperi yang kita kenal sekarang.
5) Terjadi pada masa lampau.
Legenda adalah cerita prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri mirip dengan mite,yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Ciri-ciri legenda yaitu :
1) Dianggap pernah benar-benar terjadi
2) Tidak dianggap suci
3) Ditokohi oleh manusia
4) Adakalanya manusia bersifat sakti dan luar biasa
5) Sering kali dibantu oleh makhluk-makhluk ajaib
6) Tempatnya terjadi di dunia seperi yang kita kenal sekarang
7) Waktunya tidak terlalu lampau.
8) Bersifat migratoris, yakni dapat berpindah-pindah, sehingga dikenal luas di daerah-daerah yang berbeda.
9) Merupakan sejarah kolektif (folk history)
Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Adapun ciri-ciri dongeng adalah sebagai berikut :
1) Dianggap tidak benar-benar terjadi
2) Tidak terikat oleh waktu dan tempat
3) Merupakan cerita pendek kesusastraan lisan
4) Tidak diketahui siapa pengarangnya
5) Biasanya mempunyai kalimat pembukaan dan penutup yang bersifat klise.
6) Diceritakan dari mulut ke mulut
Cerita prosa rakyat memiliki fungsi sebagai berikut :
1) Sebagai Hiburan
2) Sebagai alat pendidikan
3) Sebagai protes Sosial
4) Proyeksi keinginan masyarakat
5) Sebagai pelipur lara

1.6 Sumber Data
Dalam menganalisis satua I Kelesih ini saya menggunakan dua sumber data yaitu lisan dan tertulis. Sumber data lisan saya peroleh dengan mendengarkan satua ini langsung dari nenek saya yang identitasnya sebagai berikut :
Nama : Ni Ketut Sribek
Nama panggilan : Dadong Tangsi
Tempat/thn. lahir : Perancak, 1934
Alamat : Br. Pasar, Ds. Yeh Embang, Kec. Mendoyo, Kab. Jembrana
Sumber data tertulis saya dapatkan dari sebuah buku karangan I Nengah Tingen. Hal-hal mengenai buku tersebut yaitu :
Judul : Satua-Satua Bali (XV)
Jumlah halaman : 31 halaman
Bhs. yg digunakan : bahasa Bali
Penerbit : Toko Buku Indra Jaya
Tempat terbit : Singaraja
Tahun terbit : 2003

1.7 Jangkauan atau Ruang Lingkup
Penelitian ini mempunyai ruang lingkup tentang inventarisasi satua, klasifikasi satua dalam cerita prosa rakyat apakah termasuk mite, legenda, ataukah dongeng, analisis fungsi dan nilai yang terkandung di dalam satua.







BAB II
ANALISIS

2.1 Sinopsis
Ada kone tuturan satua di panegara Sunantara ada kone sang prabu madue asu asiki kawastanin I Blanguyang. Asune madue kotaman sida ngae burone grubug. Ento makrana burone sangkep lakar ngematiang I Blanguyang. Sawireh nenten wenten sane nyanggupin, lantas I Kelesih misadia lakar ngematiang I Blanguyang.
Gelisang satua teked I Kelesih sig purin Ida Sang Prabu sane nruweyang asu Blanguyang ento tur ngojog ka pawaregan. Buin kejepne I Kelesih dengak-dengok ane ngeranayang nyangetang gedegne I Blanguyang, nglaut ia makecog tegeh bakat tregaha rayunan Ida Sang Prabu kanti piring muah rayunane makacakan. Duka Ida Sang Prabu raris ngambil klewang lan sepega ia I Blanguyang pegat baongne lantas mati.
Sapatinggal ia I Kelesih kacritanan jani kasungsutan kayun Ida Sang Prabu, sawireh asune padem.
Gelisan satua, nangkil ia I Kelesih teken I Samong, sawireh I Kelesih suba nyidaang ngematiang I Blanguyang jani pantes adegang ratu dini.
Ento makrana kayang jani yen ada anak gutgut lelipi wiadin gencer tledu wiadin burone ane maupas raris kukun kelesih punika kanggen pangarad munahang upase ane masuk ka dewek manusane.

2.2 Inventarisasi
Satua I Kelesih ini diperoleh dari dua sumber yaitu sumber lisan dan tertulis. Sumber lisan diproleh dengan mendengarkan satua ini langsung dari sumber di masyarakat. Sedangkan sumber tertulis diperoleh dari buku Satua-Satua Bali karangan I Nengah Tingen.
Pada mulanya, Satua I Kelesih ini merupakan satua lisan yang penyebarannya dari mulut ke mulut, sehingga disetiap daerah terdapat hal-hal berbeda pada unsur-unsur satua. Inventarisasi satua yang bersifat lisan ini lama kelamaan kurang diminati oleh masyarakat karena tertekan oleh perkembangan teknologi dan cerita-cerita modern yang mulai marak dalam media-media elektronik dan cetak. Lama-kelamaan, pengetahuan orang tentang satua semakin berkurang terutama di kalangan remaja dan anak-anak yang merupakan generasi penerus dari keberadaan satua-satua di Bali. Untuk itu, kemudian muncul ide dari seorang sastrawan Bali untuk membuat inventarisasi tertulis terhadap satua-satua di Bali termasuk pula Satua I Kelesih ini dengan menuangkannya ke dalam sebuah buku.
Inventarisasi tertulis bertujuan untuk melestarikan satua dalam bentuk tulisan agar bias dibaca dan dipelajari oleh masyarakat umum. Hal ini dilakukan untuk melestarikan satua dalam bentuk kongkrit atau nyata berupa buku sehingga ada suatu bukti bahwa satua tersebut benar-benar ada. Satua dalam bentuk buku juga diberikan kepada siswa SD, SMP, dan SMA, serta di bangku kuliah pun banyak dipelajari oleh mahasiswa sebagai obyek penelitian.


2.3 Klasifikasi Satua
Berdasarkan unsur-unsur yang terdapat di dalam Satua I Kelesih, maka satua ini dapat digolongkan kedalam dongeng karena memenuhi ciri-ciri dongeng. Ciri-ciri dongeng seperti yang telah disebutkan di atas pada Bab I, 1.5 Landasan Teori yaitu :
1) Dianggap tidak benar-benar terjadi
2) Tidak terikat oleh waktu dan tempat
3) Merupakan cerita pendek kesusastraan lisan
4) Tidak diketahui siapa pengarangnya
5) Biasanya mempunyai kalimat pembukaan dan penutup yang bersifat klise.
6) Diceritakan dari mulut ke mulut
Satua I Kelesih tidak dianggap benar-benar terjadi melainkan hanya suatu cerita yang dibuat oleh pengarang.
Satua ini tidak terikat oleh waktu dan tempat karena dalam satua tidak diceritakan tempat dan waktu terjadinya peristiwa yang diceritakan.
Satua I Kelesih ini merupakan cerita pendek yang menceritakan suatu peristiwa secara singkat. Pada mulanya satua ini diceritakan secara lisan dari mulut ke mulut, namun seiring dengan berputarnya waktu maka kini telah dituangkan ke dalam bentuk buku.
Satua ini tidak diketahui siapa pengarangnya bersifat turun temurun diceritakan dari mulut ke mulut tanpa diketahui siapa dan dari mana satua tersebut berasal.
Pada umumnya, satua mempunyai kalimat pembuka dan penutup yang bersifat klise. Termasuk pula Satua I Kelesih ini memiliki kalimat pembuka dan penutup yang sama dengan kebanyakan satua-satua di Bali. Kalimat pembukanya yaitu “Ada kone tuturan satua” dan kalimat penutupnya yaitu “Teka goak nyokcok kuud, satua bawak suba suud”.
Pada awalnya satua I Kelesih ini disebarkan secara mulut ke mulut. Biasanya diceritakan oleh seorang nenek kepadanya cucunya, untuk menidurkan cucunya atau menghibur pada saat cucunya menangis. Karena penyebarannya dari mulut ke mulut, maka pada setiap daerah memiliki versi satua yang berbeda.

2.4 Analisis Fungsi
Adapun analisi fungsi dari satua I Kelesih yaitu sebagai berikut :
“tusing ja ada len sawireh asune ento ngelah kotaman yening ia ngongkong kipek kaja grubug sekancan burone kaja, yening ia ngongkong kipek kauh grubug sekancan burone kauh, keto masi kipek ane lenan.” Artinya, tidak ada lain karena anjing itu mempunyai kesaktian, apabila dia menggonggong menghadap ke utara matilah semua binatang di utara, apabila dia menggonggong ke arah barat matilah semua binatang di barat, begitu juga menggonggong ke arah lainnya. Kutipan satua di atas berfungsi sebagai proyeksi keinginan masyarakat. Kutipan tersebut mengandung makna bahwa seekor binatang dapat dengan mudahnya membunuh binatang lain hanya dengan menggonggong ke arah binatang lain yang ingin dibunuh. Hal tersebut merupakan proyeksi keinginan masyarakat yaitu mendapatkan sesuatu dengan mudah tanpa melakukan usaha yang keras. Itulah keinginan yang diharapkan masyarakat.
“Sawireh sesai buka aketo dadi sangkep lantas burone makejang, pinaka pamucuk pasangkepane ento tusingja ada len mula ia I Samong rajan burone.” Artinya, karena sering seperti itu, maka rapatlah kemudian semua binatang, sebagai pemimpin rapat itu tidaklah ada lain memang dia I Samong rajanya binatang. Kutipan satua diatas berfungsi sebagai alat pendidikan yaitu mendidik setiap orang agar menyelesaikan suatu masalah dengan mengadakan musyawarah. Dengan musyawarah, maka permasalahan akan menjadi lebih ringan karena dipikirkan bersama.
“Nyen ja nyidaang ngematiang ia I Blanguyang bakal adegang wake ratu dini di alas,.” Artinya, siapa yang bias membunuh ia I Blanguyang akan jadikan saya ratu disini di hutan. Berdasarkan kutipan di atas, menjelaskan bahwa para binatang sangat tersiksa dengan keberadaan I Blanguyang, maka dari itu mereka melakukan perjanjian apabila ada yang bias membunuh I Blanguyang akan di jadikan raja hutan. Jelas bahwa kutipan satua di atas berfungsi sebagai protes sosial, karena mengandung makna suatu ketidaksenangan masyarakat kepada seorang pemimpin, sehingga melakukan suatu pemberontakan sebagai tanda protes.
“Buin kejepne buin I Kelesih dengak-dengok ane ngeranayang nyangetang gedegne I Blanguyang, nglaut ia makecog tegeh bakat tregaha rayunan Ida Sang Prabu kanti piring muah rayunane makacakan. Duka Ida Sang Prabu raris ngambil klewang lan sepega ia I Blanguyang pegat baongne lantas mati.” Artinya, sesaat kemudian lagi I Kelesih tolah-toleh yang menyebabkan menambah kemarahan I Blanguyang, lalu ia melompat tinggi mengenai makanan Ida Sang Prabu sampai piring dan makanannya berantakan. Marah Ida Sang Prabu lalu mengambil klewang dan ditebas dia I Blanguyang putus lehernya lalu mati. Kutipan satua di atas berfungsi sebagai pendidikan karena menceritakan suatu kecerdikan mengalahkan kekuatan dan keangkuhan. Kutipan tersebut berfungsi sebagai alat pendidikan yaitu memberikan pengajaran bahwa kekerasan jangan dilawan dengan kekerasan, melainkan dengan kelembutan dan kecerdasan.
“Disubane I Blanguyang mati wau Ida Sang Prabu eling ring raga kangen tekening I Blanguyang mati. Raris Ida makayun-kayun tur macingakan majeng menek…………………………………………Sapatinggal ia I Kelesih kacritanan jani kasungsutan kayun Ida Sang Prabu, sawireh asune padem.” Artinya, setelah I Blanguyang mati barulah Ida Sang Prabu sadar diri ingat kepada I Blanguyang mati. Lalu Ida ingin melihat ke atas…………………………………………Seperginya dia I Kelesih diceritakan sekarang sedih hati Ida Sang Prabu karena anjingnya mati. Kutipan di atas berfungsi sebagai alat pendidikan karena menceritakan suatu penyesalan akan datang setelah kejadian buruk menimpa seseorang. Oleh karena itu, maka berpikirlah dengan matang sebelum melakukan sesuatu.
“Gelisan satua, nangkil ia I Kelesih teken I Samong, sawireh I Kelesih suba nyidaang ngematiang I Blanguyang jani pantes adegang ratu dini.” Artinya, singkat cerita, menghadap dia I Kelesih kepada I Samong, karena I Kelesih sudah bias membunuh I Blanguyang sekarang pantas dijadikan ratu disini. Kutipan tersebut menceritakan suatu keberhasilan seseorang mencapai kesuksesan dengan kepintaran dan kecerdikan. Hal tersebut sangat menghibur para pembaca dan pendengar satua ini serta sebagai pelipur lara.

2.5 Analisis Nilai
Analisis nilai dari satua I Kelesih yaitu sebagai berikut
“Sawireh sesai buka aketo dadi sangkep lantas burone makejang, pinaka pamucuk pasangkepane ento tusingja ada len mula ia I Samong rajan burone.” Artinya, karena sering seperti itu, maka rapatlah kemudian semua binatang, sebagai pemimpin rapat itu tidaklah ada lain memang dia I Samong rajanya binatang. Nilai yang terkandung dalam kutipan satua di atas adalah nilai sosial yaitu menyelesaikan masalah dengan musyawarah dan kebersamaan.
“Kacrita ada kone Kelesih intil-intil tur matur teken I Samong, “ Ratu Sang Prabu tititang misadia ngamiletin sewamarane punika, sakewanten sida tan sida antuk titiang taler druweyang.” Artinya, diceritakan ada teringgiling melangkah dan berkata kepada I Samong, “ Ratu Sang Prabu, saya bersedia mengikuti sayembara itu, akan tetapi apabila saya tidak bisa maafkan juga”. Kutipan satua di atas mengandung nilai kepahlawanan karena walaupun kekuatannya kalah, namun ia tetap berani melawan musuh dengan kecerdikannya.
“Disubane I Blanguyang mati wau Ida Sang Prabu eling ring raga kangen tekening I Blanguyang mati. Raris Ida makayun-kayun tur macingakan majeng menek……………………………Sapatinggal ia I Kelesih kacritanan jani kasungsutan kayun Ida Sang Prabu, sawireh asune padem.” Artinya, setelah I Blanguyang mati barulah Ida Sang Prabu sadar diri ingat kepada I Blanguyang mati. Lalu Ida ingin melihat ke atas…………………………Seperginya dia I Kelesih diceritakan sekarang sedih hati Ida Sang Prabu karena anjingnya mati. Kutipan di atas mengandung nilai pendidikan karena menceritakan suatu penyesalan akan datang setelah kejadian buruk menimpa seseorang. Oleh karena itu, maka berpikirlah dengan matang sebelum melakukan sesuatu.
“Gelisan satua, nangkil ia I Kelesih teken I Samong, sawireh I Kelesih suba nyidaang ngematiang I Blanguyang jani pantes adegang ratu dini.” Artinya, singkat cerita, menghadap dia I Kelesih kepada I Samong, karena I Kelesih sudah bias membunuh I Blanguyang sekarang pantas dijadikan ratu disini. Kutipan satua di atas mengandung nilai moral, karena sebagai seorang raja hutan I Samong rela melepaskan jabatannya sebagai raja karena sudah berjanji kepada I Kelesih apabila ia bisa membunuh I Blanguyang. I Samong setia pada janjinay.
“Ento makrana kayang jani yen ada anak gutgut lelipi wiadin gencer tledu wiadin burone ane maupas raris kukun kelesih punika kanggen pangarad munahang upase ane masuk ka dewek manusane.” Itulah sebabnya sampai sekarang kalau ada orang digigit ular atau kalajengking ataupun binatang yang berbisa maka kuku trenggiling digunakan penawar menghilangkan bisa yang masuk ke dalam tubuh manusia. Kutipan satua di atas mengandung nilai pendidikan, karena menjelaskan mengenai cara mengobati orang yang tergigit binatang berbisa.







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Satua I Kelesih ini diperoleh dari dua sumber yaitu sumber lisan dan tertulis. Sumber lisan diproleh dengan mendengarkan satua ini langsung dari sumber di masyarakat. Sedangkan sumber tertulis diperoleh dari buku Satua-Satua Bali karangan I Nengah Tingen.
Satua I Kelesih termasuk dongeng karena memenuhi ciri-ciri dongeng yaitu dianggap tidak benar-benar terjadi, tidak terikat oleh waktu dan tempat, merupakan cerita pendek kesusastraan lisan, tidak diketahui siapa pengarangnya, biasanya mempunyai kalimat pembukaan dan penutup yang bersifat klise dan diceritakan dari mulut ke mulut
Berdasarkan analisis fungsi dari Satua I Kelesih, maka satua tersebut memiliki beberapa fungsi yaitu : sebagai hiburan, alat pendidikan, protes sosial, proyeksi keinginan masyarakat, dan pelipur lara.
Berdasarkan analisis nilai yang dilakukan maka dapat dijelaskan bahwa satua I Kelesih mengandung nilai moral, pendidikan, kepahlawanan dan sosial.

3.2 Saran
Sebagai orang Bali yang peduli terhadap keberadaan kebudayaan Bali, sudah sepantasnya kita terketuk hati untuk melakukan sesuatu yang dapat menjaga kelestarian kebudayaan Bali tersebut. Salah satu unsur kebudayaan Bali yang hampr hilang akibat perkembangan jaman dan modernisasi adalah satua. Sebagai pemuda Bali yang merupakan generasi penerus, kita harus melakukan sesuatu agar satua dapat bertahan dan menjadikan satuab tersebut menjadi hal yang diminati. Yaitu dengan melakukan penelitian-penelitian, menuangkan satua dalam bentuk buku ataupun menyajikannya dalam bentuk hal yang menarik, misalnya difilmkan.


















DAFTAR PUSTAKA

Tingen, I Nengah, 2003, Satua-Satua Bali (XV), Toko Buku Indra Jaya, Singaraja
Danandjaja, James, 1984, Folklore Indonesia ilmu gossip dan lain-lain, PT Grapiti Pers, Jakarta

















LAMPIRAN
SATUA I KELESIH
Ada kone tuturan satua di panegara Sunantara ada kone sang prabu kalintang kasub wibuhing bala jagate. Ida madue asu asiki kawastanin I Blanguyang. Asune ento melah pesan gobene tur andel kaanggen nyarengin ritatkala maboros. Apa kranane Ida sang prabu andel ring asune ento, tusing ja ada len sawireh asune ento ngelah kotaman yening ia ngongkong kipek kaja grubug sekancan burone kaja, yening ia ngongkong kipek kauh grubug sekancan burone kauh, keto masi kipek ane lenan.
Ento makrana aluh antuk Ida ngejuk buron ane suba kasakitin (grubug). Sawireh sesai buka aketo dadi sangkep lantas burone makejang, pinaka pamucuk pasangkepane ento tusingja ada len mula ia I Samong rajan burone. Jani kacritan suba makelo burone sangkep masi tusing nyidang pragat, sawireh tusing ada bani bakal ngematiang I Blanguyang. Ento makrana rajan burone I Samong mesuang sewamara. Kene pasewamarane ento, “Nyen ja nyidaang ngematiang ia I Blanguyang bakal adegang wake ratu dini di alase, kasungkemin ajak makejang.”
Sawatek burone makejang tusing ada bani ngisinin buka pamunyin sewarane ento. Kacrita ada kone Kelesih intil-intil tur matur teken I Samong, “ Ratu Sang Prabu tititang misadia ngamiletin sewamarane punika, sakewanten sida tan sida antuk titiang taler druweyang.
Masaut I Samong, “Nah yen keto ja raos ibane Kelesih yen tuara sida baan iba kai tusing bakal ngenkenan iba. Nah kema jani iba majalan.”
Gelisang satua teked I Kelesih sig purin Ida Sang Prabu sane nruweyang asu Blanguyang ento tur ngojog ka pawaregan. Ditu ia I Kelesih di nebe nyangkrut. Kacrita suba liwat sandikala Ida Sang Prabu jagi ngerayunang kairing antuk asune I Blanguyang. Ri sedek Ida ngrayunang, tumuli I Kelesih dengak-dengok uli di selagan raab nebe, ento makrana I Blangyang kecas-kecos. Tuara Ida nyingakin napi-napi, suba jani keto malih Ida ngrayunang. Buin kejepne buin I Kelesih dengak-dengok ane ngeranayang nyangetang gedegne I Blanguyang, nglaut ia makecog tegeh bakat tregaha rayunan Ida Sang Prabu kanti piring muah rayunane makacakan. Duka Ida Sang Prabu raris ngambil klewang lan sepega ia I Blanguyang pegat baongne lantas mati.
Disubane I Blanguyang mati wau Ida Sang Prabu eling ring raga kangen tekening I Blanguyang mati. Raris Ida makayun-kayun tur macingakan majeng menek. Wenten kaasi I Kelesih di selagan nebe. Ngenggalang lantas I Kelesih malaib nuju sig I Samonge. Sapatinggal ia I Kelesih kacritanan jani kasungsutan kayun Ida Sang Prabu, sawireh asune padem.
Gelisan satua, nangkil ia I Kelesih teken I Samong, sawireh I Kelesih suba nyidaang ngematiang I Blanguyang jani pantes adegang ratu dini.
Ento makrana kayang jani yen ada anak gutgut lelipi wiadin gencer tledu wiadin burone ane maupas raris kukun kelesih punika kanggen pangarad munahang upase ane masuk ka dewek manusane.
Teka goak nyokcok kuud, satua bawak suba suud.

Kumpulan Satua Bali

SATUA I PUCUNG

Kacrita di Banjar Kawan, wewengkoning koripan ada anak pacul ngelah pianak muani adiri madan I Pucung. Gegaene I Pucung sing lenan teken mapikat dogen di umane, nanging ke nyalah utu pesan tangkepne mapikat, di masan padine mara embud. Dadi sing pesan ia taen maan kedis, dening tusing ada kedis ngalih amah, krana padine puyung. Dening keto, med kone ia mapikat. Jani demen kone ia teken kuluk. Nanging masih keto, sabilang nagih ngidih konyong sig pisaganne begbeg konyong ane mara lekad dogen nagih idiha. Dening konyong ane tagih idiha nu cerik buina tonden ngedat, kadena konyong ento buta, dadi buung dogen ia ngidih konyong. Dening keto undukne I Pucung gedeg kone ia, dening makejang kenehne tuara misi. Uli sekat ento tusing pesan ia taen kija-kija buin, begbeg nyingkrung dogen jumahne. Ping kuda-kuda kaden suba bapanne nglemekin, apanga ia nulingin ka carik, nanging masih ia tuisng nyak. Dening keto gedeg kone bapanne, nanging ia tusing nigtig wiadin ngwelin I Pucung, krana ia suba kelih. Depina dogen ia jani pragat nengnenga dogenan.
Makelo-kelo demen kone ia teken anak luh, nanging gede kone kenehne, nget putran Ida Sang Prabu Koripan kone demenina. Budi morahan teken bapanne sing kone ia juari, dening ia suba ngasen teken dewek gedeganga. Dadi ibuk pesan kenehne I Pucung ngenehang Ida Raden Galuh, mabudi ngalih ka puri tusing bani. Jani ngae kone ia daya, mangdena ia nyidaang makatag Raden Galuh.
Sedek dina anu, ka puri kone ia tangkil ring Ida Sang Prabu. Di mara ia neked di bancingah, ada kone perekan tepukina ditu lantas ia ngomong, ”Ih jero parekan, nawegang tiang nunas tulung ring jerone, wekasang tiang ngapuriang, aturang jagi tangkil ring Ida Sang Prabu!”
Masaut parekane, ”Inggih mangda becik antuk tiang ngaturang ring Ida Sang Prabu, jerone sapasira?”
”Aturang titiang I Pucung saking banjar Kawan!” Majalan lantas parekane ento ngapuriang matur ring Ida Sang Prabu, ”Nawegang titiang mamitang lugra ring Palungguh Cokor I Dewa, puniki wenten kaulan Palungguh Cokor I Dewa saking banjar Kawan, ipun jagi tangkil ring Palungguh Cokor I Dewa.” Ngandika Ida Sang Prabu, ”I Pucung ento apa kone ada buatanga ia teken nira?”
”Matur sisip titiang Ratu Dewa Agung, antuk punika tan wenten titiang uning.”
”Nah lamun keto, tunden suba ia mai!” Ngajabaang lantas parekane ngorahin I Pucung tundena ngapuriang. Majalan lantas I Pucung ngapuriang. Sasubane neked ditu, lantas ia mamitang lugra ring Ida Sang Prabu.
”Ih to iba Pucung, apa ada buatang iab mai?”
Matur I Pucung, ”Inggih matur sisip titiang Ratu Dewa Agung, wenten tunasang titiang ring Cokor I Dewa.”
”Nah apa Pucung?”
”Inggih sapunapi awinan ipun pantune sane wau embud dados ipun puyung, kalih asune wau lekad dados ipun buta?”
Ngandika Ida Sang Prabu, ”Ento kenken nyen kaden nira awinanne, nira sing pesan nawang. Men yan cai, keneken awananne dadi keto?”
”Antuk punika tan kamanah antuk titiang. Nanging yan banggyang Cokor I Dewa asapunika kewanten, kamanahan antuk titiang gelis jaga rusak jagat druene.”
”Men jani kenken ben madaya, mangdane gumine tusing uug?”
”Inggih yan manah titiang saking tambet, becik mangkin karyanang banten paneduh aturang ring Ida Betara Dalem. Manawi wenten kasisipan Palungguh Cokor I Dewa, mangda sampunng Ida Betara banget menggah pamiduka.”
”Nah lamun keto ja keneh caine, kema tegarang neduh ka pura Dalem. Sing ada kapo pakayunan Ida Betara teken nira, nira lakar ngiring dogenan. Nah antiang dini malu akejep, nira nu nunden panyeroane ngae banten. Apang nyidaang maturan dinane jani, kadonga jani tumpek. Yan suba pragat bantene, cai men nagturang ajak I Mangku Dalem ka pura!”
”Inggih,” keto aturne I Pucung.
Gelisang satua, sasubane pragat bantene, majalan lantas I Pucung nyuun banten, ngojog kumah pamangkune.
”Jero Mangku, Jero Mangku, tiang nikaanga mriki ring Ida Sang Prabu, ring pura Dalem. Samilah ipun banten puniki jerone kandikaang makta ka pura. Tiang mapamit dumun abosbos jaga kayeh,” aketo baana melog-melog Jero Mangku teken I Pucung, lantas ia ngenggalang ka pura Dalem tur ngenggalang macelep sig gedonge ane tanggu kelod. Sawatara ada suba apanginangan ia nongos ditu, rauh lantas jero Mangku makta banten tur ngojog sig jalan I Pucunge ngoyong. Ditu lantas Jero Mangku nagturang banten tur nunas teken Ida Betara mangadane gumine di Koripan karahayuan.
Sasubanne Jero Mangku suud ngantebang, ngomong lantas I Pucung uli jumahan gedonge. Mapi-mapi ia dadi Betara, kene kone munyine, ”Ih iba Bapa Mangku, nyen nunden iba mai maturan, nunas kaluputan teken nira?”
Masaur Jero Mangku, ”Inggih titiang kandikaang antuk pramas Palungguh Betara, Ida Sang Prabu nuna Satua kaluputan ring palungguh Betara, dening pantune wau embud puyung kalih asune wau lekad ipun buta.”
Buin ngomong I Pucung, ” Ih iba Bapa Mangku, nira ngiangin lakar kaluputan nanging yan Ida nagturang okane Ida Raden galuh.” Dening keto munyin I Pucunge kadena pangandikan Ida Betara, dadi budal lantas dane. Teked di jabaan purane mreren lantas dane di batan punyan baingine, sambilanga dane ngantiang I Pucung.
Buin kejepne pesu lantas I Pucung uli gedonge tur jagjagina Jero Mangku lantas ia matakon, ”Men, sapunapi Jero Mangku, wenten minab wacanan Ida Betara?”
”Nah melah suba cai ka puri ngaturang teken Ida Sang Prabu pangandikan Ida Betara. Bapa sing ja bareng kema, reh jumah ada tamiu ngantiang.” Dening keto pangandikan Jero Mangku, dadi kendel pesan I Pucung, dening guguna pamunyin gelahne teken Jero Mangku, tur lantas ia majalan nagpuriang.
Sasubane I Pucung nganteg di purian, ngandika raris Ida Sang Prabu, ”Men Kenken Pucung, ada pawacenan Ida Betara tekening iba, tegarang tuturang apang nira nawang?”
Matur I Pucung, ”Inggih wenten Ratu Dewa Agung. Asapuniki wewacan Ida Betara ring titiang. Ih iba pucung, kema aturang wecanan gelahe teken gustin ibane buatne nira ledang lakara ngicenin Ida kaluputan, mangdane gumine karahayuan, nanging yan Ida kayun ngaturang okane, Ida Raden Galuh teken nira. Asapunika pangandikan Ida Betara teken titiang. Inggih sane mangkin asapunapi pakayunan Palungguh Cokor I Dewa, dening asapunika pakayunan Ida Betara?”
”Nah yan keto pakayunan Ida Betara, anake buka nira sing ja bani tulak teken pakayunan idane. Sakewala gumine karahayuan, nira dong ngaturang dogen. Da buin mara abesik panak nirane karsaanga, kadong makadadua, nira lakar ngaturang,” Ditu ngendelang dogen kenehne I Pucung dening lakar kaisinin idepne nganggon Raden Galuh kurenan.
Matur buin I Pucung, ”Inggih yan asapunika pakayunan Palungguh Cokor I Dewa, margi rahinane mangkin ratu, aturang Ida, anak Cokor I Dewa ring Ida Betara mangda gelis Ida rauh, titiang ja ngiringang Ida, jaga aturang titiang ring Ida Betara Dalem.” Ditu lantas Ida Sang Prabu ngandikain parekane ngandikaang ngaturin okane lanang Ida Raden Mantri, kandikaang ngapuriang. Ida Raden Mantri sedek kone di jabaan. Majalan lantas i parekan ka jabaan nagturin Ida Raden Mantri. Ida Raden Mantri raris ngapuriang tangkil ring ajine.
Ngandika Ida Sang Prabu, ”Cening bagus, nah ne jani bapa ngorahin cening, buate arin ceninge karsaanga teken Ida Betara Dalem. Bapa ngaturang i anak Galuh teken Ida Betara, dening bapa tuara bani tekening anak tuara ngenah, buine pang gumine karahayuan. Yan bapa tusing ngaturang i anak Galuh, pedas rusak gumine. Men cening kenken kayune?”
Matur Ida Raden Mantri, ”Inggih yan sampun asapunika pakayunan Guru aji, titiang tan panjang atur malih. Ledang te pakayunan Guru Aji kewanten.”
Dening aketo aturne Raden Mantri, lantas I Patih kandikaang nuunang peti lakar genah I Raden Galuh. Sasubane Ida Raden Galuh magenah di peti, lantas petine kancinga tur seregne tegulanga di duur petine.
Ngandika Ida Sang Prabu, ”Ih iba Pucung, nah ne suba pragat i anak Galuh mawadah peti, kema suba tegen petine aba ka pura Dalem aturang i anak galuh teken Ida Betara. Ne seregne di duur petine mategul. Da pesan iba nyemak seregne ene, depin dogen dini, satonden ibane neked di pura. Buin ingetang pabesen nirane, sing iba makita manjus nyen di jalan pejang petine di duur pundukanne tur seregne depang masih ditu mategul.”
”Inggih”, keto aturne I Pucung tur lantas ia majalan negen petine misi Ida Raden Galuh.
Beh magregotan kone ia negen petine ento. Ban kenehne bes sanget lakar maan kurenan okan Ida Sang Prabu, dadi sing kone asena baat. Di jalan nepukin lantas ia tukad ditu ia mreren di duur tukade, dening ia makita manjus. Petine pejanga kone di duur pundukanne tur seregne depina masih ditu. Di makirene ia tuun lakar kayeh, matur kone ia teken Raden Galuh, ”Ratu Raden Galuh Cokor I Dewa driki dumun, kenakang kayune diriki. Titiang ngaonin Cokor I Dewa ajebos, titiang jagi tutunan manjus, dening ongkeb pesan tan dugi antuk titiang naanang kebuse.” Dening Ida Raden Galuh mawadah peti dadi sing kone pirenga atur I Pucunge.
Suud I Pucung matur keto, tuunan lantas ia ka tukade kayeh baan klangenne maan yeh ning. Ditu rauh lantas Ida Raden Mantri sameton Ida Raden Galuh nandan macan pacang anggen Ida ngentosin sametone. Sasubane Ida Raden Mantri rauh sih tongos petine neto, ngelisangf lantas Ida Raden Mantri nyereg petine tur kamedalang arine. Sasubane Ida Raden Galuh medal, jani macane kone celepang Ida tur kakancing, seregne buin kone duur seregne genahang Ida. Ngelisang raris Ida Raden Mantri nalaib sareng Ida Raden Galuh budal ka Koripan. Buat isin petine kasilurin tusing kone tawanga teken I Pucung.
Sasubanne ia suud kayeh lantas ia menekan. Teked ba duuran dingeha kone krasak-krosok di tengah petine. Ngomong lantas I Pucung, ”Inggih Ratu Raden Galuh, menggah menawi Cokor I Dewa dados krasak-krosok wau kaonin titiang manjus. Margi mangkin Cokor I Dewa mlinggih sareng titiang. Cokor I Dewa pacang anggen titiang kurenan. Samalihipun titiang sampun ngadianang Cokor I Dewa woh-wohan luir ipun : buluan, salak, croring miwah manggis. Pacang rayuan Palungguh Cokor I Dewa sampun wenten jumah titiang kagianang antuk panyeroan Palungguh Cokor I Dewa, titiang maderbe meme. Sampunang te kenten mengah Cokor I Dewa, mangkin iringa ja Cokor I Dewa budal.”
Gelisang satua majalan lantas ia I Pucung ngamulihang negen petine. Sasubane neked jumahne, kauk-kauk lantas I Pucung nagukin memene, ”Meme, Meme, amapakin tiang jlanan, tiang ngiring Ida Raden Galuh mulih. Tiang anak suba icena nunas Ida Raden galuh teken Ida Sang Prabu. Matelah-telah men memene ditu jumahan icange apan kedas, krana tiang lakar nglinggihang Ida ditu, uli semengan Ida tonden ngrayunang.” Memenne tusing ja ia nawang keneh panakne, slelegan kone mara ia ningeh pamunyin panakne buka keto. Dadi ampakina dogen jlanan tur I Pucung ngenggalang macelep kumah meten, tur lantas ia ngancing jlanan uli jumahan petine pejanga kone di pesareane.
Critayang jani suba tengah lemeng tur meme bapane suba melah pulesne pada, ditu lantas ia buin ngomong ngrumrum isin petine, ”Inggih Ratu raden Galuh, matangi Cokor I Dewa merem sareng titiang!” Suud ia ngomong keto, lantas petine ento serega tur ungkabanga. Mara petine ento ungkabanga, tengkejut pesan I Pucung dening petine misi macan. Ditu lantas I Pucung sarapa teken macana. Mati lantas I Pucung.
Buin manine semengane, dunduna lantas ia teken memene uli diwangan, dening suba tengai ia tonden bangun. Kadena panakne sajaan ngajak Raden Galuh. Kanti ping telu kone memene makaukan, masih sing kone sautina, lantas tinjaka kone jlanane. Ya mara mampakan jlanane, ya magroeng lantas macane jumahan. Beh tengkejut memene tur buin ngenggalang ngubetang jlanan. Ditu lantas ia gelur-gelur ngidih tulungan teken pisagane ditu. Liu pada anake nyagjagin ia tur makejang pada ngaba sikep. Ditu matiaga lantas macane totonan. Sasubane I Macan mati, mulihan lantas memene, dapetanga panakne suba mati tur nu tulang-tulangne dogen.
Teka goak nyokcok kuud, satua bawak suba suud.




SATUA I KELESIH

Ada kone tuturan satua di panegara Sunantara ada kone sang prabu kalintang kasub wibuhing bala jagate. Ida madue asu asiki kawastanin I Blanguyang. Asune ento melah pesan gobene tur andel kaanggen nyarengin ritatkala maboros. Apa kranane Ida sang prabu andel ring asune ento, tusing ja ada len sawireh asune ento ngelah kotaman yening ia ngongkong kipek kaja grubug sekancan burone kaja, yening ia ngongkong kipek kauh grubug sekancan burone kauh, keto masi kipek ane lenan.
Ento makrana aluh antuk Ida ngejuk buron ane suba kasakitin (grubug). Sawireh sesai buka aketo dadi sangkep lantas burone makejang, pinaka pamucuk pasangkepane ento tusingja ada len mula ia I Samong rajan burone. Jani kacritan suba makelo burone sangkep masi tusing nyidang pragat, sawireh tusing ada bani bakal ngematiang I Blanguyang. Ento makrana rajan burone I Samong mesuang sewamara. Kene pasewamarane ento, “Nyen ja nyidaang ngematiang ia I Blanguyang bakal adegang wake ratu dini di alase, kasungkemin ajak makejang.”
Sawatek burone makejang tusing ada bani ngisinin buka pamunyin sewarane ento. Kacrita ada kone Kelesih intil-intil tur matur teken I Samong, “ Ratu Sang Prabu tititang misadia ngamiletin sewamarane punika, sakewanten sida tan sida antuk titiang taler druweyang.
Masaut I Samong, “Nah yen keto ja raos ibane Kelesih yen tuara sida baan iba kai tusing bakal ngenkenan iba. Nah kema jani iba majalan.”
Gelisang satua teked I Kelesih sig purin Ida Sang Prabu sane nruweyang asu Blanguyang ento tur ngojog ka pawaregan. Ditu ia I Kelesih di nebe nyangkrut. Kacrita suba liwat sandikala Ida Sang Prabu jagi ngerayunang kairing antuk asune I Blanguyang. Ri sedek Ida ngrayunang, tumuli I Kelesih dengak-dengok uli di selagan raab nebe, ento makrana I Blangyang kecas-kecos. Tuara Ida nyingakin napi-napi, suba jani keto malih Ida ngrayunang. Buin kejepne buin I Kelesih dengak-dengok ane ngeranayang nyangetang gedegne I Blanguyang, nglaut ia makecog tegeh bakat tregaha rayunan Ida Sang Prabu kanti piring muah rayunane makacakan. Duka Ida Sang Prabu raris ngambil klewang lan sepega ia I Blanguyang pegat baongne lantas mati.
Disubane I Blanguyang mati wau Ida Sang Prabu eling ring raga kangen tekening I Blanguyang mati. Raris Ida makayun-kayun tur macingakan majeng menek. Wenten kaasi I Kelesih di selagan nebe. Ngenggalang lantas I Kelesih malaib nuju sig I Samonge. Sapatinggal ia I Kelesih kacritanan jani kasungsutan kayun Ida Sang Prabu, sawireh asune padem.
Gelisan satua, nangkil ia I Kelesih teken I Samong, sawireh I Kelesih suba nyidaang ngematiang I Blanguyang jani pantes adegang ratu dini.
Ento makrana kayang jani yen ada anak gutgut lelipi wiadin gencer tledu wiadin burone ane maupas raris kukun kelesih punika kanggen pangarad munahang upase ane masuk ka dewek manusane.
Teka goak nyokcok kuud, satua bawak suba suud.

















SATUA I BINTANG LARA

Kacrita ada anak makurenan madan Men Bekung teken Pan Bekung. Sedek dina anu lantas luas Men Bekung ajaka kurenane kalase ngalih saang. Di jalan bedak pesan kone Men Bekung, ditu lantas ia ngalih-alihin yeh, nepukin lantas tengkulak misi yeh turmaning yehe ento lantas inema. Disubane suud nginem yehe ento dadi prejanian lantas beling Men Bekung. Beh tengkejut pesan kenehne Men Bekung lantas morahan teken kurenanne, “Pan Bekung, Pan Bekung, nguda icang jeg beling suud nginem yehe di tengkulake?”
Masaut lantas Pan Bekung, ”Beh yen keto, pedas yehe ento ngranaang beling”. Keto pasautne Pan Bekung tur lantas malipetan mulih, buung ia ngalih saang. Tan kacrita di jalan, teked suba ia jumahne.
Gelisin satua, saget belingane suba gede tur suba tutug ulanane, lantas nyakit Men Bekung tur lekad pianakne muani, kadanin I Bintang Lara. Disubane I Bintang Lara kelih, mara antes mlali-lali, mlali kone ia di jabaan purin anake Agung, ditu lantas I Bintang Lara maplalian di bongkol tembok panyengker Anake Agung, tur ia nyurat di temboke, kene munyin suratne, ”Sajawaning gagak petak ja anggona nambanin rabin Ida Anake Agung tusing ja lakar kenak, yen gagak petak ja anggona nambanin janten kenak”, keto munyin suratne. Suud nyurat lantas ia mulih.
Tan crita I Bintang Lara, jani kacrita Anake Agung medal kairing baan parekanidane. Disubane Ida rauh di jabaan, lantas kacingak tembok Idane masurat lantas baosinida tur lantas ngandika teken parekane, ”Ih parekan, nyen ane nyurat di temboke?”
Matur i parekan saha nyumbah, ”Inggih Ratu Anak Agung, sane manyurat puniki pianak Men Bekung mawasta I Bintang Lara. Punika sane nyuratin tembok Cokor I Bintang Lara Dewa”, keto parekane. Lantas ngandika Ida Anake Agung, ” Ih iba parekan, yaning keto, kema alih I Bintang Lara ajak mai!”
”Inggih titiang ngiring sandikan Cokor I Bintang Lara Dewa”.
Ditu lantas I Bintang Lara Parekan mapamit tur majalan. Tan crita di jalan, teked di umah Men Bekunge, lantas I Parekan ngorahang pangandikan Ida Anake Agung.
Critaang Men Bekunge sing ja tulak teken pakayunan Ida Anake Agung, tur kakaukin pianakne, ”Cening, Cening Bintang Lara, jani Cening kasengan teken Ida Anake Agung, kapandikaang tangkil ne jani Cening sing ke ngelah kasisipan tekn Anake Agung?”
Masaut I Bintang Lara, ”Meme, icang sing ja apa inget taen sisip teken Ida Anake Agung”, keto pasautne I Bintang Lara, lantas ia majalan ngapuriang atehanga teken parekane.
Kacrita suba I Bintang Lara tangkil teken Anake Agung, ditu lantas kandikain I Bintang Lara, ”Ih cai Bintang Lara, krana nira nunden cai tangkil mai, ada ne takonang nira teken cai. Nyen ane nyurat di tembok nirane di jabaan?”.
Matur I Bintang Lara, ”Inggih Ratu Dewa Agung, titiang”. Buin Ida Anake Agung ngandika, ”nah yening cai, pedas cai nawang tongos I Bintang Lara Gagak Petake, ”nah yening cai, pedas cai nawang tongos I Bintang Lara Gagak Petake, kema jani enggal-enggal alihang nira, bakal anggon nira ngubadin Anak Agung Istri. Yan tuara sida baan cai pedas cai ngemasin mati”. Dening keto pangandikan Anake Agung , lantas Men Bekung ajaka I Bintang Lara mapamit tur Men Bekung ngeling, sedih kangen ngenehang pianakne, kandikaang ngalih gagak petak,reh totonan tusing ada di madiapada.yan tan sakeng pasuecan betara sinah sing ja nepukin”, keto sesambatmen bekung sambilange majalan.
Kacrita sube ia napak jumah, ditu lantas I Bintang Lara ngomong teken memene,”Nah Meme, da meme sedih! Icang ngalahin meme jani luas ngalih kedis gagak petak. Me icang maang meme ciri,makacirin icange mati kalawan idup, yan mati punyan jepune ne,icang mati.Yan idup,icang idup”,keto pemunyine I Bintang Larane, meme bapanne sedih dogen. Tan crita meme bapanne, kacrita I Bintang Lara ,suba joh pajalanne masusupan di alase wayah. Sube nyrepetang, nepukin lantas anak odah ngubu ditu padidiana. Anake odah ento matakon teken I Bintang Lara, ”Ih Cening, apa alih Cening mai ka alase, dadi cening bani mai ka alase wayah padidian?”
Masaut I Bintang Lara, ”Inggih jero anak odah, kalintang pisan tan sadian titiange numadi jadma, makawinan titiang rauh mriki, saking kapangandikaang antuk Ida Anake Agung ngrereh Gagak Petak pacang anggena tamban rabinida, dening rabinida sungkan saking lami pisan, tan wenten jadma nyidaang nambanin. Yan akudang-akudang balian nambanin taler tan wenten nyidaang. Asapunika makawinan titiang rauh ring alase puniki. Yan jero anak odah sueca, patujuhin ja titiang, ring dije wenten gagak petak?”
Lantas masaut anake odah, ”Uduh Cening, dini tusing ada gagak petak, kemo laku kelod kangin, ditu ada umah Rangsasa, nanging Cening da jeg macelep mulihan, yan bangun I Bintang Lara Rangsasa sinah Cening tadaha. Antiang malu buin akejep apang makruyuk siape, yening suba makruyuk siape mara Cening majalan, apang Cening tusing paling ngalih umahne”.
Gelisang tuturan satua, suba liwat tengah lemeng lantas makruyuk siape mara acepok, lantas mapamit I Bintang Lara teken anake odah, tur majalan ngelod kanginan dogen, teken lantas di umahne Rangsasa, ngatuju I Rangsasa pules, tepukina lantas cucunne I Rangsasa sedek nyakan, madan Ni Cili.
Ditu lantas Ni Cili matakon, ”Ye adi Bintang Lara, apa kalih mai tumben?” Masaut I Bintang Lara, ”Inggih embok, makawinan titiang mriki, titiang kandikaang ngrereh gagak petak ring Ida Anake Agung pacang anggen Ida tamba”.
Masaut lantas Ni Cili, ”Nah yen keto, macelep malu dini di batune masepak, buin akejep bangun I Rangsasa”. Dening keto, lantas ajaka teken Ni Cili I Bintang Lara di batune masepak. ”Ih iba batu masepak enggang iba enggang!” Enggal lantas batune masepak, clepanga lantas I Bintang Lara, disubane macelep buin ngep batune. Suba keto, lantas bangun I Rangsasa, dening mrasa seduk basangne lantas kaukina cucunne, ”Cucu, Cucu Cili, manusa ambune”.
Masaut Ni Cili, ”Dong Kaki, dija ja ada manusa bani mai”
”Nah yen keto jemakang kaki nasi! Itep I Rangsasa madaar.
Disubane suud madaar buin lantas pules. Disubane pules I Rangsasa, aliha buin I Bintang Lara teken Ni Cili.
”Batu masepak, enggang iba enggang”! Enggang lantas batune masepak. Memesu lantas I Bintang Lara, tur kaorahin baan Ni Cili, ”Nah adi, yan adi ngalih gagak petak, ditu kaja kanginan laku, yan adi nepukin bingin gede, beten bingine ento ada tlaga, ditu suba adi ngoyong. Yan pade ada dedari kema masiram ditu di tlagane, paling men bajune ane paling durina suud masiram, engkebang lantas!” Nyanan yan takonina orahang men ngalih gagak petak, turmaning ne sibuh mas aba ajaka jaum mase!”.
Disubane suud kapituturan I Bintang Lara, lantas ia majalan ngaba sibuh mase teken jaum mase. Ngaja kanginan dogen pajalane. Tan crita di jalan, teked ia di bainge, dadi tuun ujane bales tur peteng dedet. Ditu lantas I Bintang Lara membon, ngepil di bongkol bingine. Buin kejepne teka widiadari ajaka lelima kayeh ditlagane. Beh, bengong pesan I Bintang Lara ninggalin tingkah dedarine kayeh pakrubuk. Buin kejepne teka dedari buin dadua, ne madan Dewi Gagarmayang lan Dewi Supraba.
Critaang timpalne jani ane maluan suba suud kayeh, tur nyaluk baju, makeber kambarane. Dewi Supraba nu kone kayeh ajaka dadua. Disubane dedari Garmayang suba suud kayeh, tur bajune suba kasaluk, lantas makeber kambarane.
Critaang jani I Bintang Lara ngintip dedarine tur kakedeng bajune. Disubane bakatanga bajune, lantas melahanga pesan ngengkebang.
Kacrita disubane dedari Supraba suud kayeh, ukana nyaluk baju, dadi tusing ada, lantas ibuk pakayunanne tur rereh Ida masih tuara tepukina, ditu laut dedari Supraba ngandika, ”Dong nyen sih nyemak bajun titiange, yen manusa yen memedi, dong ulihang ja! Mara keto pangandikan dedarine, lantas mamesu I Bintang Lara. Beh, tengkejut lantas I Dedari tur ngandika, ”Inggih Dewa, titiang sane ngambil klambin I Dewane”.
”yening keto, iba manusa ulihang ja bajun nirane apang nira nyidaang mulih ka suarga!”.
Matur I Bintang Lara, ”Inggih Dewa, yan kayun ja maicaang gagak petak ring titiang, titiang ngantukang klambin I Dewane”. Mara keto aturne lantas ngandika dedari Supraba, ”Nah yen keto, iba ngaba sibuh mas ajak jaum mas?”.
”Inggih titiang makta”. Tur raris katurang sibuh mase teken jaum mase. Ditu lantas Ni Dedari nrima sibuh mase muah jaum mase, lantas susunidane kacokcok apang mesu toya susu. Lantas medal toyan susunidane, tur kawadahin sibuh mas, lantas kaicen I Bintang Lara sibuhe ane misi toyan susu, tur klambine lantas katurang teken Ni Dedari. Ngandika Ni Dedari, ”Nah Iba Bintang Lara, yadiapin iba ngulihang bajun nirane, nira tusing mulih, krana nira di Suargan tusing katrima teken ajin nirane, krana susun nirane suba madan cendala. Cendekne, ne jani nira nutug iba, salampah paran ibane”, keto pangandikan dedarine. Ni Dedari lantas kajak olih I Bintang Lara, ”Inggih yan sapunika margi mangkin ka umah I Rangsasane!”.
”Jalan”, keto atur dedarine, tur lantas majalan.
Gelisang satua, neked suba di umah I Rangasasane, sedek I Raksasa pules, lantas tingalina teken Ni Cili, tur matakon, ”Yeh I adi suba teka? Men maan adi ngalih gagak petak?”
”Polih, tur Ida Dedari Supraba sareng mriki, niki napi, ”Mara keto lantas kacelepang I Bintang Lara teken Ni Supraba di batume masepak olih Ni Cili. Buin kejepne, bangun lantas I Rangsasa, tur ngaukin cucune, ”Cucu, Cucu!”
”Titiang Kaki”
”Alihang Kaki nasi!” Alihanga lantas nasi.
Gelisang crita, suba suud I Rangsasa madaar, lantas matakon Ni Cili, ”Kaki-kaki apa sih ane di botole kaki?”.
Masaut I Rangsasa, ”manik ento Cucu, ane mawadah botol barak, manik geni, ane mawadah botol putih, manik apuh, ada buin manik glagah, manik toya, manik endut. Kenken adi Cucu nakonang?’.
”Ten Kaki, mangda titiang uning”
”Manik apuhe ento mresidayang ngamatiang kaki”, keto munyine I Rangsasa. Suba keto, pules lantas I Rangsasa. Ditu lantas Ni Cili ngalih I Bintang Lara teken Ni Supraba, ”Enggang batu masepak!’, Enggang lantas batu masepake, pesu lantas sang kalih.
Matakon lantas Ni Cili, ”Adi, Adi Bintang Lara, suba gede kedise?’ Ungkabanga lantas sibuh mase, balihina gagak petake, mara kone tumbuh bulu. Suba keto bangun lantas I Rangsasa. Ngenggalang lantas Ni Cili nyelepang I Bintang Lara teken dedarine kabatune macepak.
Lantas ngomong kakine, ”Cucu, Cucu, manusa ambune”. Masaut cucune, ”Dong Kaki, dija ja ada manusa bani mai, bes Kaki demen ngomong”. Mara keto munyin cucune, pules buin I Rangsasa, buin kone pesuanga sang kalih, tur takonina I Bintang Lara, ”Adi Bintang Lara, suba kebah Gagak Petake?’. Mara balihin gagak petake, suba kone kebah.
Kacrita dening suba makelo di umah I Rangsasane, suba kone gagak petake anatas makeber. Ditu lantas Ni Cili nyemak manik-manik kakine, tur gagak petak tegakina ajaka tetelu, makeber lantas I Gagak Petak. Di subane tegeh makeber, lantas bangun I Rangsasa, saget nota lawatne Ni Cili negakin Gagak Petak ajaka tetelu. Ditu lantas I Rangsasa nguber palaibne I Gagak Petak, nganti suba paak baana ngepung teken I Rangsasa, lantas toliha teken Ni Cili palaib kakine ngangsarang dogen, ditu lantas entungina manik toya, lantas dadi yeh kone gede pesan, masih tuuke dogen teken I Rangsasa, buin kone entungina manik endut, masih tuuka dogen. Lantas entungina manik ampuh, mati kone I Rangsasa bebekan.
Tan crita pakeber I Gagak Petake, teked jumahne I Bintang Lara, lantas I Bintang Lara tuun ajaka tetelu.
Kauk-kauk kone I Bintang Lara, ”Meme, Meme”.
”Nyen to kauk-kauk?”
”Titiang pianak Meme”.
Masaut memene, ”Anak pianak tiange suba mati”.
Masaut I Bintang Lara, ”Tusing, icang suba panak Meme I Bintang Lara”. Ditu lantas Men Bekung pesu. Beh lega pesan kenehne Men Bekung, tur geluta panakne saha mamunyi kene, ”Duh Dewan titiange Cening, kaden Meme Cening suba mati, nu irib kapo I Dewa, men kenken maan Cening Gagak Petak?”.
Masaut I Bintang Lara, ”Maan Icang Meme, ne apa”. Keto munyine I Bintang Lara. Ngon pesan kone Men Bekung dening ngajak nak luh dadua jegeg-jegeg pesan, tur memene nakonang, ”Dija Cening maan anak luh?”. Masaut panakne, nuturang tingkah pajalane luas. Suba kone keto lantas madabdaban I Bintang Lara lakar tangkil ka puri, ngaturang Gagak Petak. Di makirene majalan, raris matur I Bintang Lara teken dedari Supraba muah Ni Cili, Inggih Cokor I Dewa driki dumun, titiang pacang tangkil ring Ida Anake Agung, nagturang Gagak Petake puniki”.
”Nah lautang Bintang Lara”. Lantas majalan I Bintang Lara ngaba I Gagak Petak.
Disubane ia tangkil, kandikain lants teken Ida Anake Agung, ”Kenken Cai Bintang Lara, maan cai ngalih Gagak Petak?”
”Inggih ratu Anak Agung, titiang matur sisip, polih titiang gagak petak”. Aturanga lantas gagak petake ento. Disubane Ida Anake Agung polih Gagak Petak, jeg prajani kenak rabinidane, tur I Gagak Petak tan ja kanggen napi-napi, sakewanten ubuhin Ida, tur linggih-linggihin Ida.
Critaang di subane I Bintang Lara budal uli purian, malih Anake Agung ngandika teken parekane, ”Parekan-parekan, kenken jani baan nayanang I Bintang Lara apang ia mati, apang bakatang gelah kurenane”.
”Inggih Ratu Dewa Agung, titiang tan pisan uning ring pidabdab punika, ledang pakayunan Cokor I Dewa”.
”Nah yen keto, kema jani alih I Bintang Lara tunden mai jani!”.
”Inggih titiang ngiring”, tur lantas majalan.
Suba neked di purian, kandikain I Bintang Lara, ”Nah Cai Bintang Lara, kema jani ngalih tabuan ane misi ianana aba mai!”.
”Inggih”, keto aturne I Bintang Lara, lantas mapamit.
Tan crita di jalan, teked jumahne lantas ngeling. Matakon Ni Supraba, ”Yeh Bintang Lara, kenapa dadi ngeling?”. Masaut I Bintang Lara nuturang saunduk-undukne.
”Yeh yen keto, de kewh, ento jemak nyuhe abungkul!” Lantas nyemak kone nyuh abungkul, tur tengtenga kone teken I Bintang Lara, ento pastune teken Ni Supraba, “Nah iba nyuh, yen suba neked di purian, moga apang dadi tabuan ngebekin puri!”
Nah di subane I Bintang Lara neked di purian, katurang nyuhe ento. Sajaan nyuhe ento lantas dadi tabuan tur inane ngebekin purian, ditu lantas keweh Anake Agung, tur gelur-gelur ngaukin I Bintang Lara, ”Bintang Lara, Bintang Lara, gediang tabuane, nira takut!”. Gedianga lantas tabuane teken I Bintang Lara. Di subane ilang tabuan buin I Bintang Lara kandikain ngalih lelipi, apanga ngajak panak tetelu, tur gedene apang lamun katungane, tur apang tegakine teken I Bintang Lara. Dening keto sedih kone buin I Bintang Lara, tur katakonin baan Ni Supraba, ”Kenken dadi ngeling dogen, Adi?”.
Masaut I Bintang Lara, ”Titiang kapandikaang ngalih lelipi, lamun ketungane gedene, tur apang ngajak panak tetelu”..
”Nah yen keto, da Adi ngeling, ento ketungane tegakin isinin lu tetelu!”, keto pangandikan dedari Supraba. Lantas tegakina kone ketungane, tur pastuna teken Ni Supraba, ”Nah iba ketungan, moga iba dadi lelipi!” Lantas ketungane dadi lelipi.
Tan crita suba neked di puri, katurang lantas teken Ida Anake Agung, ”Inggih Ratu Dewa Anak Agung, puniki lelipi”. Mara kacingakin teken Ida Anake Agung, ditu lantas Anake Agung gelur-gelur kabatek ban ajerih Idane. Ditu lantas kandikaang ngediang lantas buin lelipine.
Tan crita, gedianga lantas lelipine teken I Bintang Lara. Sasubane keto, mulih lantas I Bintang Lara.
Critaang Ida Anake Agung bendu pesan pakayunane, dening tan nyidaang ngamatiang I Bintang Lara, lantas Ida ngaukin baudandanidane miwah tanda mantri, parbekel lakar ngabug I Bintang Lara. Sasampune sami rauh tur pada sregep ngaba sanjata lantas mamargi, Ida Anake Agung ngalinggihin jaran. Tan crita Ida ring margi, kacrita I Bintang Lara naen suba teken dewek lakar siatina teken Anake agung. Ditu lantas ia kewh pesan.
Mara keto lantas ngandika Ni supraba, ”Beh Bintang Lara, da keweh-keweh lamun nira nu dini, kema jani alihang bontang jagung liunang, tur lantas celek-celekang di duur pamesuane, embatin lantas sabuk ilehang ditu di duur jelanane, tur tekedang kampike. Yen suba suud pedemang suud pedemang lanas dewek adine jumah meten ajak Ni Cili”, asapunika pangandikan dedarine, lantas I Bintang Lara ngalih bontang jagung, tur kacelek-celekang di duur pamesuane, kebekin pesan kayang kampike, muah kembatin sabuk makailehang. Suba keto macelep lantas nulihan ajaka dadua tur kakancing jlanane. Jani kapastu bontang jagung baan dedari suprabane apang dadi senjata. Dadi lantas sanjata ngebekin umah. Buin sabuke kapastu dadi lelipi liu pesan tur galak pesan yan ada musuh.
Gelisang satua, jani kacrita Ida Anake Agung rauh, Ida sagrehan tur uli joh suba ngamunyiang bedil, uyut pesan kone munyin bedile, len jaran ngrehgeh tan papegatan.
Kacrita Anake Agung bendu pesan kayune, tur sahasa jeg macelep mulihan panyengker tur gelur-gelur ngaukin I Bintang Lara. Mara keto, rebuta kone anake agung teken lelipine, ada ngutil, ada nglilit tur kaludin baan sanjata ngebekin tan kena wilang liune, kayang panjakidane liu kena tebeka, tur liu ane ngemasin mati, tur Ida Anak Agung seda. Sasisan mati, makejang mlaib pati luplup, ada ane labuh ka grembenge nepen batu lantas mati, ada ane mati kajekjek timpal.
Tan cinarita, di subane Anake Agung seda, critaang jani I Bintang Lara nyendenin dadi Anak Agun, tur Ni Supraba miwah Ni Cili lantas anggona kurenan. Ditu lantas I Bintang Lara nemu kasukaan tan patanding.
Teka goak nyokcok kuud, satua bawak suba suud.

















SATUA I EMPAS TEKEN I ANGSA

Ada kone tutur-tuturan satua I Empas luh muani nongos di tlagane gede, bek misi lumut, katang-katang, muah sekancan bungan tunjung ane sedekan mabunga.
”Beli, Beli Empas!” patakon empase ane lua.
“Apa, Luh?” sahut empase muane.
“Icang demen pesan ngoyong dini, Beli. Wireh di tlagane gede ene bek misi be. Tegarang tolih ja Beli, ento ada be deleg, beboso, mujair, palatimah, muah be lindung malelangian.”
“Beh, sajan pesan Luh! Ulian ento awak nyaine mokoh tuara ngelah potongan angan abedik, wireh selid sanja nyai pepek baan amah-amahan.”
”Luh, apa nyai suba nawang? Ento ditu tolih! Jani nyai suba ngelah timpal di tlagane ene. Iwasin ja, ento ada angsa mabulu putih luh muani. Ia demen pesan masih malelangian di tlagane ene patuh tekening unduk nyaine. Ayuk, kema mlali!”
”Mai Beli! Jalan paekin Ia. Anggon Ia kekasihan sawireh awak pada madunungan di tlagane ene,” keto tutur empase luh nyautin.
Nah, jani kacritayang sawatara duang bulan empase suba pada matimpal ajaka i angsa luh muani. Beh, yen tuturang, sinah ngenah pesan kalegaan atine pada magirang-girangan. Makejang ngenah demen pesan malelangian di tengah tlagane ento.
”Beli Empas! Jalan uber i angsa, nyak!”
”Ayuk! Masak empas kalahanga angsa mangalangi,” keto pasautne I Empas muani. Lantas pada mauber-uberan cara anak makering-keringan ajaka patpat.
”Nah bakat batis Caine, Angsa.”
”Nah bakat masih tundun caine, Empas,” pasaut angsa muani.
Beh, matimpal melah pesan saling sarag-sorog, pada adung tur saling nuturin indik-unduk ane madan jele melah.”
Sedek nuju dina anu, sawetara nu dauh ro raine, ngomong i empas lua.
”Beli Empas ajak Beli muah Embok Angsa! Awinan masan panese makelo pesan tur tuara taen ujan, ento awinan yeh tlagane ngangsan nyat. Nah, jani kenken baan madaya,” keto I Empas lua ngomong sada sedih sungsut. ”Icang tusing nyak mati ngetuh.”
”Yen pakeneh Beline, meh melahan i raga ajak makejang makisid uli tlagane ene.”
”Saja, Beli, ”empas lua nyelag masaut.
”Sakewala krana icang ajak dadua tusing nyidang makeber, sinah nyak Cai Angsa ajak dadua nulungin icang makisid uli dini,” I Empas ngidih olas.
”Nah, yan suba igum pawilangan Beli Embok Empas ajak dadua, icang tuah nuutin dogen. Apa buin suba kaiket cara nyama tugelan dini,” pasautne I Angsa muani.
”Sakewala kene Beli Empas. Wireh pajalane ene makeber sinah Beli ajak Embok Empas ajak dadua musti nyak nuutin munyin Icange.”
”Apa ento?” selag Empas Lua.
”Kene ento! Ene ada kayun kopi limang lengkat. Dangal tengah-tengah kayune ene ajak dadua. Yan suba keto, Icang ajak dadua masih lakar nangal muncuk kayu kopine ene tur ditu lakar cai kakeberang.”
”Bih aeng tegehne!” selag Empas Lua.
”Beli ajak Embok Empas ajak dadua. Icang tuah ngidih olas pesan apang eda mamunyi angan abedik dugase makeber totonan. Wireh yan mesuang munyi sinah Beli ajak Embok ulung ditu icang tusing nyidayang matetulungan buin.”
”Beh, batak amonto tusing ja keweh apa!” ento pasautne I Empas ajaka dadua sada pongah.
”Buin acepok icang ngingetang, apang eda pesan Beli Embok ngengsapin petinget icange i busan.”
”Nah jalan suba jalanin”
”Nah yan suba keto, gutgut kayu kopine ene.”
”Beh, tuara kodag baan kendel kenehne I Empas ajaka dadua tumben ngasanin ngindang ba duur. Suba akire teked di danune saget ngliwatin kuluk medem ajaka dadua ane madan I Dakep teken Ni Dangal.”
”Bapane! To apa makeber ba duur, Pa? Jeg cara empas makeber pangenahne, “keto patakon kuluke lua Ni Dangal teken muanine I Dakep.
”Beh, papak ramabang Nyai, Dangal. Ento tusing ja len teken tain sampi tuh kakeberang angsa. Tegarang melahang nlektekang!” pasaut kuluke muani sambilang muaban kiap wireh sedukan.
Mara dingeha ibana orahanga tain sampi, beh sing kodag-kodag gedeg basangne. ”Awas! Cang lakar ngemplongin ndas caine kanti encak,” keto papineh I Empas Muani.
”Apa, tai? Ye, saja, ento tain sampi makeber.”
“O keto goban tain sampine. Selem, tuh, bronyot, tuara ngelah jejeneng. Tegarang melahang nelektekang! Keto suba goban taine tuh!”
”Beh, baan tusing kodag-kodag ban gedeg basangne karasa nganti maplitutan asan basangne gedegan ngenehang awakne orahanga tain sampi tuh. Lantas I Empas makadadua sabarengan ngwagan bungutne lakar nyautin ibane tidong tain sampi.”
”Aduh, meh suba pituduh Widhi, lantas empase ajaka dadua magelebug di tengah kalangan tegale. Mara magelebug di tegale tur tonden ada apakpakan makelone ulung saget I Kuluk suba nangal I Empas pada mabesik. Pragatne I Empas ajaka dadua luh muani mati kadangal baan kuluk luh muani.
”Aduh, Beli! Pedalem pesan I Empas ajaka dadua. Wireh tusing sida baan Icang nulungin ngisidang uli tegalane ditu!” omongne I Angsa Lua sambilanga makeber.
”Men, keto suba matine katepuk. Krana Ia tusing pesan nuutang munyi ane patut tur mautama.”
”Saja masih, Beli! Nyen ja bas Ngulurin gedeg basang sinah ia lakar nepukin sengkala.”
Teka goak nyokcok kuud, satua bawak suba suud.



SATUA I DURMA

Ada tuturan satua anak muani bagus madan I Rajapala makurenan ngajak dedari madan Ken Sulasih. Ia nongos di desa Singapanjaron. Ia ngelah pianak adiri adanina I Durma. Mara I Durma matuuh duang oton, kalahina teken memene mawali ka Kendran. Sawireh keto, I Durma kapiara, kapretenin olih I Rajapala, kanti matuuh dasa tiban. Gelisang satua, I Rajapala makinkin bakal nangun kerti ka alas gunung.
Nuju sanja, I Rajapala ngaukin pianakne laut negak masila, I Rajapala ngusap-usap duur I Durmane sarwi ngomong, “ Duh Cening Durma pianak Bapa, tumbuh cening kaasih-asih pesan. Enu cenik Cening katinggalin baan meme. Buin mani masih Bapa lakar ninggalin Cening luas ka gunung alas nangun kerti, Jumah Cening apang melah!”
Mara keto, jengis I Durma, paningalane ngambeng-ngembang, tumuli ia makakeb di pabinan bapanne. Tusing nyidayang Ia masaut. Bapane menahang tegak I Durmane tur nutugang mapitutur. “Cening Durma, awak enu cerik patut cening seleg malajahang awak. Sabilang gae patut palajahin, nyastra tusing dadi engsapin. Ditu di pasraman Jero Dukuh, Cening malajah sambilang ngayah. Palajahin Cening matingkah, ngomong muah mapineh. Tingkah, omong muah papineh rahayu palajahin. Melahang solahe mabanjar, mapisaga, eda magugonin rusit teken timpal. Patut cening asih manyama braya. Nyama brayane pinaka meme bapa muah sameton, tur anggo lima batis. Sing nyen kaget Cening ngayah ka banjar wiadin matetulung ka pisaga, eda pesan pesu mulihanga gegaen anake. Sekenag pesan magarapan ditu.
Prade ada anak kumatresna, suka olas teken Cening, ento eda pesan engsapanga. Nanging yen ada anak ngawe jele wiadin ngae jengah teken ukudan Ceninge, sasida-sidaan eda walesa. Minab Ida Sang Hyang Widhi tuara wikan nyisipang. Buina cening, semu ulate jejerang, kemikan bibihe apang manis, ento anggon ngalap pitresnan anake teken Cening. Palajahin ngomong ane rahayu, eda pesan Cening ngae pisuna, ngadu ada, mamokak muah mrekak! Keto masih eda cening ngadu daya lengit, ngeka daya nyengkalen anak. Jejerang papinehe ngulati ane melah. Ingetang setata nagturang bakti ring Ida Sang Hyang Widhi, matrisandya tetepang!
Nah, amonto Bapa mituturin Cening, dumadak Ida Sang Hyang Widhi Wasa sueca mapica karahayuan tekening cening muah Bapa!”
Tan kacrita pajalan I Rajapalane nangun kerti, kacrita jani I Durma suba ngayah, mlajah di pasraman Jero Dukuhe. Jero Dukuh kalintang ledang pakayunanne, krana I Durma seleg pesan malajah tur enggal ngresep. I Durma tusing milihin gae, asing pituduh Jero Dukuhe kagarap kanti pragat. Sabilang peteng kaururkang masastra baan Jero Dukuh. Baan selegne mlajah mamaca,dadi liu ia nawang satua, tutur muah agama.
Disubane I Durma menek truna, pepes ia ka bencingah, dadi tama ia nangkil ring Anake Agung di Wanakeling. Para punggawa, tanda mantra pada uning tur saying teken I Durma. Ditu laut I Durma kaanggen parekan di puri, kadadiang panyarikan sedahan agung purine. Dadinne, I Durma tusing kuangan pangan kinum muah setata mapanganggo bungah. Yadiapin keto tusing taen ia engsap manyama braya, setata inget teken pitutur bapanne muah ajah-ajahan Jero Dukuhe.
Keto nyen pikolih anake jemet malajah tur anteng magarapan.
Teka goak nyokcok kuud, satua bawak suba suud.