Om Swastyastu

Swasti Prapta ring blog titiange, dumogi wenten kawigunannyane. Suksma. "Om Shantih, Shantih, Shantih, Om


Sabtu, 28 November 2009

Perbandingan Cerita Rajapala dengan Jaka Tarub

BAB II
PERBANDINGAN

2.1 Sinopsis

2.1.1 Sinopsis Cerita “Rajapala”
Di Kerajaan Wana Keling tinggallah seorang bernama I Rajapala. Pekerjaanya sehari – harinya berburu dan menangkap burung. Pada suatu hari, ia pergi ke tengah hutan untuk berburu dan menangkap burung. Akan tetapi,pada hari itu ia sial. Tak seekor binatang dan burung pun yang diperolehnya. Karena lelah, ia beristirahat dibawah pohon yang besar. Di dekat pohon itu terdapat sebuah telaga. Tak lama kemudian, datanglah tujuh orang bidadari mandi di telaga itu. Melihat hal itu, I Rajapala bersembunyi di balik pohon sambil memperhatikan para bidadari itu mandi.
Setelah bidadari itu hamper selesai mandi, I Rajapala mengambil selendang alat terbang salah seorang bidadari dengan sumpitannya.
Setelah selesai mandi, enam orang bidadari terbang kembali ke surga, seorang bidadari tidak bisa ikut karena selendang terbangnya hilang. Bidadari itu bernama Ken sulasih.
Ketika kebingungan mencari selendang terbangnya, I Rajapala keluar dari persembunyiannya. Lalu mendekati Ken Sulasih.
“Hai, wanita ayu, kamu sedang mencari apa?”
“Selendangku hilang. Apakah kamu melihatnya?”
“Yang ini?” Tanya Rajapala sambil memperlihatkan selendang yang diambilnya itu.
“Nah, itulah selendang saya. Tolonglah kembalikan supaya saya bisa pulang ke surga. Kalau perlu saya meu menebusnya dengan apa pun,” kata Ken Sulasih penuh harap.
“Tidak, saya tidak mau mengembalikan selendang ini kecuali kamu bersedia menjadi istriku.”
Karena merasa terdesak, Ken Sulasih memenuhi permintaan I Rajapala. Akan tetapi Ken Sulasih mengajukan syarat. Jika kelak anak petamanya lahir, I Rajapala harus mengembalikan selendangnya dan mengizinkan Ken Sulasih pulang ke surga. I Rajapala menerima syarat itu. Sejak itu, I Rajapala dan Ken Sulasih menjadi suami istri.
I Rajapala sangat sayang kepada Ken Sulasih karena sejak beristrikan Ken Sulasih ia selalu memperoleh keberuntungan. Penduduk desa sangat heran karena I Rajapala punya istri sangat cantik.
Tanpa terasa, beberapa tahun telah berlalu. Ken Sulasih melahirkan seorang anak laki – laki. Anak ini diberikan nama I Durma. Belum genap setahun anaknya lahir, Ken Sulasih teringat dengan syarat pernikahannya. Ia pun menemui suaminya.
“Kakak Rajapala, kembalikanlah selendangku. Saya akan pulang ke surga. Peliharalah anak kita baik – baik.”
Dengan rasa sedih, I Rajapala mengembalikan selendang Ken Sulasih. Setelah memeluk anaknya dengan rasa terharu, Ken Sulasih pulang ke surga.
Meskipun hatinya dirundung rasa sedih, I Rajapala tetap melakukan pekerjaan sehari – harinya, yaitu berburu dan menangkap burung. Jika ia berburu, anaknya dititpkan pada tetangganya.
Tersebutlah I Durma telah berumur lima tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang tampan dan cerdas. Pada suatu hari, I Rajapala memanggil anaknya.
“Durma anakku, Ayah sengat sayang kepadamu. Tetapi Ayah sudah tua. Sudah saatnya Ayah bertapa. Tinggallah kamu di rumah baik – baik. Belajarlah baik – baik agar kau pandai.” Sambil menangis, dipeluknya anaknya erat – erat. Setelah dititipkan kepada tetangganya, I Rajapala pun berangkat ke hutan untuk bertapa.
Setelah dewasa, I Durma menjadi pemuda yang tampan, cerdas, dan cekatan. Dengan pertolongan tetanggnya, ia mengabdikan diri di Kerajaan Wana Keling. Raja amat sayang kepadanya karena berbagai kesulitan dan persoalankerajaan dapat diatasi dengan baik oleh I Durma.
Pada suatu hari, I Durma menghadap Raja Wana Keling.
“Tuanku Yang Mulia, perkenankan hamba mohon diri pergi ke hutan untuk menengok Ayah hamba di pertapaan.”
“Baiklah Durma, tetapi janganlah terlalu lama pergi. Tenagamu sangat diperlukan oleh Kerjaan.”
“Titah Paduka hamba junjung,” kata I Durma sambil menyembah, lalu mohon diri.
Dalam perjalanan memasuki hutan, I Durma banyak menemui rintangan. Beberpa kali ia dihadang oleh perampok. Di samping itu, sekelompok raksasa menyerangnya di tengah jalan. Namun, semua itu dapat diatasi dengan mudah.
Telah beberapa hati iaberjalan memasuki hutan, tetapi belum juga bertemu dengan tempat pertapaan Ayahnya. Ketika ia duduk beristirahat, datanglah segerombolan orang dari Wana Keling yang mengabarkan kerajaan dalam keadaan bahaya.

2.1.2 Sinopsis Cerita ”Jaka Tarub”

Diceritakan pada pagi hari ada seorang wanita cantik, sedang bertapa Ngijang, hidup dengan sekelompok kijang. Gadis itu bernama Dewi Rasa Wulan. Ia adalah adik dari Raden Said putera Adi Pati Tuban. Bertapa Ngijang artinya hidaup di tengah hutan mniru prilaku kijang. Menjelang siang gadis itu memisahkan diri dari kelompok kijang. Ia melangkahkan kakinya ke tepi telaga berair jernih di tengah hutan. Sesampai di telaga dia menanggalkan pakaian luarnya karena dia sudah melihat disekeliling telaga tidak ada seorangpun. Setelah ia menikmati kesegaran air telaga, tiba – tiba ada perasaan aneh pada dirinya. Ia seolah – olah sedang bermimpi bercengkrama dengan seorang pemuda tampan, bercumbu rayu dengan asiknya. Namun perasaan itu hanya sekejap, selanjutnya ia menyadari kalau dirinya sedang berada di air telaga. Ia pun merasa malu dan jengah. Ia pun melihat di sekelilingnya tidak ada siapa – siapa.
Ketika ia melihat ke atasa ia menjadi kaget, di atas ada sebuah dahan yang besar, di situ ia melihat seorang laki – laki setengah baya tertidur pulas. Segera ia naik kedaratan dan mengenakan pakaiannya kembali. Begitu kakinya menginjak tanah ada perubahan pada perutnya, gadis itu merasa perutnya membesar seperti orang hamil sembilan bulan. Ia pun menjadi panik. Dengan suara lantang ia panggil orang yang tertidur di pohon di tepian telaga itu. Dewi Rasa Wulan bertanya kepada pemuda itu. Pemuda itu bernama Ki Ageng Gribig. Pemuda itu pun merasakan hal yang sama sedang bermimpi bercumbu dengan seorang perempuan cantik, namun Dewi Rasa Wulan tidak terima atas mimpi tersebut.
“Kurang ajar! Kau benar – benar kurang ajar kau tidak boleh memimpikanku!.” Kata gadis itu dengan bersemu merah.
Kemudian gadis itu meminta sang pemuda untuk mengeluarkan bayi itu dari perutnya. Pemuda itupun mau menuruti kemauan gadis itu. Ki Ajeng Gribig mengetuk – etukan jari tanganya tiga kali seperti orang memanggil ayam. Ajaib, keluarlah bayi dari perut si gadis langsung berada pada genggaman Ki Gribig.
Tinggallah Ki Ageng Gribig seorang diri dengan bayi dalam gendongannya. Ia membawa bayi itu keluar dari hutan. Entah apa yang akan terjadi dengan bayi itu.
Di ceritakan ada seorang janda yang bernama Nyi Randa Tarub yang hendak kemakam suaminya yang terletak di tepi hutan. Di sana ia kaget setengah mati, sebab di sana ada seorang laki – laki berdiri dengan menggendong bayi yang menangis. Lalu Ki Ageng Gribig memberi bayi tersebut kepada Nyi Randa Tarub.
Bertahun – tahun kemudian kidang telengkas telah menjadi besar. Karena ia tinggal di desa Tarub, maka ia di debut dan dipanggil pula dengan nama Jaka Tarub. Setelah beberapa tahun Jaka Tarub tumbuh menjadi pemuda yang tampan, sering menjumpai bidadari dari kahyangan mandi di telaga. Suatu hari pemuda it uterus memperhatikan gadis – gadis yang tengah asik mandi di telaga, tiba – tiba matanya melihat anggokan pakaian yang terletak di tepi telaga. Muncullah keinginan nakalnya untuk menyembunyikan pakaian itu.
Para bidadari itu segera berpakaian dan bersiap – siap akan kembali kekahyangan namun salah seorang di antaranya kehilangan pakainnya. Bidadari itu bernama Nawang Wulan, ia hanya bisa menyesali nasibnya. Ia berkata,“Siapa yang bisa menolongku, memberi pakaian, maka orang itu akan kujadikan suami.”
Beberapa saat kemudian munculah Jaka Tarub mendekati Nawang Wulan yang sedang menangis. Bertapa terkejutnya Nawang Wulan melihat kehadiran Jaka Tarub. Jaka Tarub bertanya.
“Kenapa kau menangis di dalam air telaga?”
“Aku tidak bias keluar dari dalam air ini, karena pakaianku hilang……..” Jawab Nawang Wulan.
Lalu Jaka Tarub memberikan kain jarik kepada Dewi Nawang Wulan. Karena Jaka Tarub telah memberikan sepotong kain maka, Nawang Wulan siap menjadi istri Jaka Tarub. Dan Jaka Tarub mengajak Nawang Wulan pulang ke rumahnya dan memberitahu ibunya kalau ia sudah mendapatkan calon istri yang cantik. Namun kebahagian itu tidak lama mereka rasakan. Karena ibu Jaka Tarub, Nyi Randa Tarub meninggal dunia.
Beberapa tahun kemudian Nawang Wulan dan Jaka Tarub kehadiran seorang bayi perempuan di beri nama Nawangsih. Mereka hidup bahagia.
Tapi pada suatu hari terjadi peristiwa yang merupakan permulaan dari malapetaka. “Kakang Jaka, aku sedang menanak nasi tolong kamu jaga. Nawangsih buang air, aku akan membersihkannya kesungai. Dan jangan kau buka tutup kukusan itu!.” Pesan Nawang Wulan pada suaminya.
Di tepi sungai puteri Nawang Wulan merenung. Ia merasa tidak kuat hidup menjadi manusia di bumi, karena harus bekerja keras sepanjang hari.
Sepeninggalan istrinya, Jaka Tarub sedikit terheran dengan pesan istrinya. Rasa heran itu menjadi rasa ingin tahu, perlahan – lahan dibukanya tutup kukusan itu. Jaka Tarub terkejut ketika mengetahui isi dalam kukusan itu, ternyata hanya setangkai padi. Saat itu ia baru sadar kalau istrinya menggunakan sihir untuk menanak nasi. Tiba – tiba dating istrinya dan mengetahui bahwa suaminya telah membuka tutup kukusan itu, ia menjadi terkejut dan marah kepada suaminya.
Karena hal itu telah diketahui suaminya, maka sihir Nawang Wulan menjadi musnah, dan sejak saat itu Dewi Nawang Wulan harus menumbuk padi dan menampingnya. Jaka Tarub menyesal karena kelancangan itu istrinya harus bekerja keras. Lama kelamaan persedian padi dilumbung semakin sedikit.
Ketika suatu hari Nawang Wulan hendak mengambil padi yang semakin sedikit dan ia melihat pakaiannya yang hilang. “Oh pakainku, ini pakainku yang hilang ketika aku mandi di telaga dalam rimba itu dulu.” Ia pun mengenakan pakain itu, sementara itu Jaka Tarub tengah terheran – heran, kenapa istrinya demikian lama berada di lumbung padi. Dan lebih heran lagi ketika istrinya muncul dengan wujud lain, wujud seorang bidadari. Sejak saat itu ia meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsih. Semenjak itu setiap malam Jaka Tarub melihat Dewi Nawang Wulan dating menyusui anaknya dan bercengkrama sampai anak itu tidur. Bila anaknya sudah tertidur maka Dewi Nawang Wulan terbang lagi ke balik awan, Jaka Tarub hanya bisa memandangi kedatangan dan kepergian istrinya dengan sejuta penyesalan.

2.2 Perbandingan

2.2.1 Perbandingan Tema dan Motif
Tema adalah suatu pokok persoalan atau pokok pikiran yang menjadi dasar cerita. Pokok cerita yang diberikan pada suatu karangan didasarkan atas pandangan hidup, pengetahuan, pengalaman, emosi, dan imajinasi pengarang. (Sudjiman, 1988: 50). Istilah tema disini mencakup juga pengertian tentang motif, dan kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan ( Razali Kasim, 1996:60). Motif diartikan sebagai unit tema yang lebih kecil dan juga alur cerita. Elizabeth Frenzel (dalam Weisstein, 1973:13) dan Francois Jost (1974:183) dalam Razali Kasim, 1996:60.
Berdasarkan pengertian tema dan motif di atas, maka perbandingan adalah tema dari kedua cerita.
Dalam cerita Rajapala, mengisahkan kehidupan Rajapala yang menikah dengan Ken Sulasih, dengan perjanjian ketika anak pertama mereka lahir, Ken Sulasih akan kembali ke kahyangan. Rajapala bersedia memenuhi persyaratan tersebut. Setelah menikah, Ken Sulasih melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri yang baik dan setia pada suami. Pada suatu hari, anak pertama mereka pun lahir dan Ken Sulasih menagih janjinya untuk kembali ke kahyangan. Rajapala menginjinkannya walaupun hatinya sangat sedih ditinggal pergi istri yang sangat ia sayang. Jadi dapat disimpulkan bahwa tema dan motif dari cerita Rajapala adalah kesetiaan.
Dalam cerita Jaka Tarub, mengisahkan kehidupan Jaka Tarub yang menyembunyikan selendang bidadari Nawang Wulan. Karena Jaka Tarub yang memberikan Nawang Wulan pakaian sebagai ganti selendang yang ia sembunyikan, kemudian Nawang Wulan bersedia menikah dengan Jaka Tarub. Mereka hidup bahagia hingga Nawang Wulan melahirkan seorang anak perempuan. Pada suatu hari Nawang Wulan sedang menanak nasi dengan sebuah kukusan dan berpesan agar Jaka Tarub tidak membuka kukusan itu. Jaka Tarub yang dikalahkan oleh rasa penasarannya akhirnya membuka kukusan itu. Nawang Wulan yang mengetahui hal tersebut kemudian marah kepada Jaka Tarub karena telah melanggar pesannya hingga kukusan ajaib yang bisa menanak setangkai padi untuk makan sehari. Kukusan tersebut rusak dan kesaktiannya hilang. Nawang Wulan harus menanak nasi secara normal dengan menumbuk padi dan memerlukan banyak padi untuk makan sehari. Hingga pada suatu hari di dalam lumbung ia melihat selendangnya yang hilang. Nawang Wulan merasa sangat marah karena selama ini ia telah dibohongi oleh Jaka Tarub. Kemudian Nawang Wulan kembali ke kahyangan meninggalkan suami dan anaknya, namun tidak melupakan kewajibannya kepada anaknya. Nawang Wulan datang setiap malam untuk menyusui anaknya. Jadi dapat disimpulkan bahwa tema dan motif dari cerita Jaka Tarub adalah kesetiaan.
Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa tema dan motif dari cerita Rajapala dan Jaka Tarub memiliki kesamaan, yaitu sama-sama mengisahkan tentang kesetiaan.

2.2.2 Perbandingan Bentuk dan Janre
Bentuk dan janre dari cerita Rajapala dan Jaka Tarub adalah dongeng, karena kedua cerita tersebut memenuhi ciri-ciri dari cerita rakyat berupa dongeng yaitu merupakan kesusastraan lisan yang penyebarannya dari mulut ke mulut dan tidak diketahui siapa pengarangnya, ceritanya tidak dianggap benar-benar terjadi, diceritakan untuk hiburan yang juga berisi pesan moral.

2.2.3 Perbandingan Tokoh dan Penokohan
Salah satu upaya pengarang dalam menyampaikan gagasan dan ide-ide cerita kepada pembaca adalah melalui aktivitas tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam karyanya. Tokoh adalah pelaku berupa manusia atau kadang-kadang binatang atau yang lain yang dapat bertindak sebagai pelaku (Bagus, 1990: 48). Fungsi tokoh dalam cerita sangat erat hubungannya dengan alur cerita, sebab tokohlah yang dapat membuat suatu tindakan hingga timbul suatu peristiwa dalam cerita. Penokohan adalah penciptaan citra di dalam karya sastra (Sudjiman (ed), 1986: 58). Dalam proses penciptaan citra tersebut, watak tokoh dapat diungkapkan melalui, tindakannya, ujarannya, pikirannya, dan penampilan fisiknya.

2.2.3.1 Perbandingan Tokoh
Perbandingan tokoh pada kedua cerita memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut ada pada nama tokoh dan jumlah tokoh yang terlibat. Dalam cerita Rajapala, tokoh-tokoh yang ada dalam cerita antara lain, Rajapala, Ken Sulasih, I Durma dan Raja Wana Keling, sedangkan dalam cerita Jaka Tarub terdapat lebih banyak tokoh antara lain, Jaka Tarub, Nawang Wulan, Dewi Rasa Wulan, Ki Ageng Gribig, Nyi Randa Tarub, dan Nawangsih.

2.2.3.2 Perbandingan Penokohan
Dari segi penokohan, perbandingan kedua cerita meliputi perbandingan fisik, sosiologis, dan psikologis dari tokoh utama, tokoh sekunder, dan peran pembantu pada masing-masing cerita.

2.2.3.2.1 Perbandingan Tokoh Utama
Tokoh utama pada cerita Rajapala adalah Rajapala. Dipandang dari segi fisiknya, Rajapala adalah seorang pemuda yang gagah. Dari segi sosiologisnya, Rajapala digambarkan sebagai seorang yang pekerjaan sehari-harinya berburu dan menangkap burung. Dan dari segi psikologisnya, Rajapala dilukiskan sebagai seorang pemuda yang jahil, setia pada janji, dan memiliki rasa kasih sayang.
Dalam cerita Jaka Tarub, yang menjadi tokoh utama adala Jaka Tarub. Dari segi fisiknya, Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang tampan. Dari segi sosiologisnya, Jaka Tarub dilukiskan sebagai seorang pemuda yang gemar berburu binatang dengan menggunakan sumpitan. Dan dari segi psikologisnya, Jaka Tarub digambarkan memiliki sifat pantang menyerah, usil, dan tidak setia pada janji.
Berdasarkan uraian di atas, terdapat persamaan dan perbedaan dari kedua tokoh utama pada cerita Rajapala dengan Jaka Tarub. Persamaannya terdapat pada pengambaran fisik dan sosiologisnya, sedangkan pada penggambaran psikologisnya terdapat perbedaan.

2.2.3.2.2 Perbandingan Tokoh Sekunder
Tokoh sekunder pada cerita Rajapala adalah Ken Sulasih. Dari segi fisiknya, Ken Sulasih digambarkan sebagai perempuan yang sangat cantik. Dari segi sosiologisnya, Ken Sulasih merupakan seorang Bidadari yang terpaksa tinggal di bumi dan menikah dengan Rajapala karena telah bersumpah untuk memenuhi janjinya kepada orang yang mengembalikan pakaiannya. Dari segi psikologisnya, Ken Sulasih memiliki sifat setia pada janji, memiliki rasa kasih sayang.
Tokoh sekunder dalam cerita Jaka Tarub adalah Nawang Wulan. Dari segi fisiknya, Nawang Wulan digambarkan sebagai perempuan cantik. Dari segi sosiologisnya dia digambarkan sebagai seorang bidadari yang terpaksa tinggal di bumi dan menikah dengan Jaka Tarub karena pakaiannya untuk kembali ke kahyangan telah hilang. Dari segi psikologisnya, dia digambarkan memiliki sifat setia dan memiliki rasa kasih sayang.
Berdasarkan uraian di atas, terdapat persamaan dan perbedaan dari kedua tokoh sekuder pada cerita Rajapala dengan Jaka Tarub. Persamaannya terdapat pada penggambaran fisik dan psikologisnya, sedangkan pada penggambaran tokohnya terdapat perbedaan.

2.2.3.2.3 Perbandingan Peran Pembantu
Peran pembantu pada cerita Rajapala adalah I Durma dan Raja Wana Keling sedangkan dalam cerita Jaka Tarub peran pembantunya adalah Dewi Rasa Wulan, Ki Ageng Gribig, Nyi Randa Tarub, dan Nawangsih. Namun yang dapat dibandingkan adalah tokoh I Durma dengan Nawangsih saja karena sama-sama merupakan anak dari tokoh utama, sedangkan peran pembantu lainnya pada kedua cerita tidak memiliki unsur yang dapat dibandingkan.
Dari segi fisiknya, I Durma merupakan anak laki-laki yang tampan, cerdas, dan cekatan. Dari segi sosiologisnya, dia digambarkan sebagai seorang anak yang ditinggal pergi ibunya ke kahyangan dan ayahnya bertapa di hutan. Setelah dewasa ia mengabdikan diri di kerajaan Wana Keling. Dari segi psikologisnya, I Durma adalah anak yang memiliki sifat cekatan dan penuh rasa hormat.
Dari segi fisiknya, Nawangsih merupakan anak perempuan dari Jaka Tarub dengan Nawang Wulan, ia masih bayi. Namun dari segi sosiologis dan psikologisnya tidak digambarkan dalam cerita.
Berdasarkan uraian di atas, kedua peran pembantu pada cerita Rajapala dengan Jaka Tarub memilki perbedaan dari segi fisik, sosiologis, dan psikologisnya.

2.2.4 Perbandingan Alur
Alur merupakan konstruksi yang dapat dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan dialami oleh para pelaku (Luxemburg, 1984: 149).
Pada cerita Rajapala, cerita dimulai dengan pengenalan tokoh utama yaitu Rajapala yang gemar berburu di hutan, namun tidak diceritakan asal-usul keluarga Rajapala. Kemudian klimaksnya adalah pada saat Rajapala menyembunyikan selendang bidadari Ken Sulasih. Ken Sulasih berjanji akan memenuhi permintaan orang yang mengembalikan selendangnya tersebut dan ternyata yang mencurinya adalah Rajapala. Rajapala pun mengembalikan selendang Ken Sulasih dengan syarat agar mau menjadi istrinya. Ken Sulasih memenuhi persyaratan tersebut dan bersedia menjadi istri Rajapala, namun jika kelak anak pertamanya lahir, Ken Sulasih akan kembali ke kahyangan. Mereka berdua akhirnya menikah. Penyelesaian cerita ini dimulai ketika anak pertama dari Rajapala dengan Ken Sulasih lahir yang mereke beri nama I Durma. Belum genap setahun usia anaknya, Ken Sulasih ingat akan persyaratan pernikahannya dulu, bila anak pertamanya lahir ia akan kembali ke kahyangan. Ia pun meminta selendangnya kepada Rajapala dan mohon pamit, serta meminta agar Rajapala menjaga I Durma baik-baik. Kemudian pergilah Ken Sulasih ke kahyangan. Tinggallah Rajapala bersama anaknya I Durma. Setelah I Durma dewasa dan Rajapala telah tua, Rajapala pergi bertapa di hutan sedangkan I Durma mengabdikan diri di kerajaan Wana Keling.
Pada cerita Jaka Tarub, cerita diawali dari asal-usul Jaka Tarub yang merupakan anak yang terlahir secara ajaib dari mimpi dua orang pertapa yang bernama Dewi Rasa Wulan dan Ki Ageng Gribig. Secara tidak sengaja mereka berdua bermimpi sedang memadu kasih. Tidak berapa lama, Dewi Rasa Wulan hamil dan lahirlah seorang anak laki-laki. Pada suatu hari, Ki Ageng Gribig memberikan ana itu kepada seorang janda yang tidak memiliki anak yang bernama Nyi Randa Tarub. Karena ia tinggal di desa Tarub, anak itu diberi nama Jaka Tarub. Permasalahan mulai muncil setelah Jaka Tarub dewasa yang memiliki kegemaran berburu di hutan, sampai pada suatu hari ia melihat tujuh bidadari yang sedang mandi di telaga. Ia menyembunyikan pakaian salah satu bidadari tersebut. Kemudian bidadari yang bernama Nawang Wulan itu berjanji, siapa saja orang yang bisa menolongnya memberi pakaian, maka orang itu akan dijadikan suami. Beberapa saat kemudian, Jaka Tarub mendekatinya dan memberi pakaian. Merekapun menikah dan tinggal bersama ibu angkat Jaka Tarub yaitu di rumah Nyi Randa Tarub. Namun kebahagiaan mereka menjadi terganggu karena tidak berapa lama setelah pernikahan mereka, Nyi Randa Tarub meninggal dunia. Beberapa tahum kemudian Nawang Wulan melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Nawangsih. Klimaks cerita ini dimulai saat Jaka Tarub membuka kukusan yang digunakan memasak oleh Nawang Wulan, padahal sebelumnya ia sudah dilarang agar tidak memukanya. Setelah dibuka ternyata hanya setangkai padi yang ditanak, pantaslah padi di lumbungnya tidak habis-habis. Kemudian Nawang Wulan tahu bahwa suaminya telah membuka kukusan, kukusan tersebut rusak hingga kesaktiannya hilang. Selanjutnya Nawang Wulan harus menanak nasi seperti manusia biasa. Pada suatu hari, Nawang Wlan melihat selendangnya di lumbung, kemudian ia mohon pamit kepada Jaka Tarub, karena merasa kecewa selama ini telah dibohongi. Kemudian pergilah Nawang Wulan ke kahyangan dan setiap malam turun ke bumi untuk menyusui anaknya, Nawangsih yang masih kecil.
Berdasarkan uraian alur di atas, maka dapat dijelaskan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dalam alur kedua cerita. Persamaan terdapat pada inti cerita sedangkan perbedaannya terdapat pada awal dan akhir cerita. Awal cerita Rajapala tidak menceritakan asal-usul tokoh utama, namun dalam cerita Jaka Tarub diceritakan asal-usul bagaimana tokoh utama dilahirkan. Pada akhir cerita juga terdapat perbedaan, cerita Rajapala berakhir setelah tokoh utama sudah tua dan anaknya telah dewasa, sedangkan pada cerita Jaka Tarub cerita berakhir ketika tokoh Nawang Wulan kembali ke kahyangan dan setiap malam turun ke bumi untuk menyusui anaknya yang masih bayi.

2.2.5 Perbandingan Latar
Latar merupakan sesuatu yang melatari peristiwa dalam suatu karya sastra. Latar terbagi menjadi tiga bagian, antara lain latar tempat, latar waktu serta latar suasana. Latar tempat dimaksudkan sebagai lokasi-lokasi dimana peristiwa terjadi, latar waktu merupakan rentangan-rentangan waktu dari peristiwa satu dan yang lainnya dan latar suasana merupakan keadaan dalam cerita atau situasi-situasi yang terjadi.
Latar tempat dalam cerita Rajapala adalah di kerajaan Wana Keling, di hutan, di telaga, dan di kahyangan. Latar waktu tidak digambarkan secara jelas. Sedangkan latar suasana meliputi kebingungan Ken Sulasih mencari selendangnya yang hilang, kesedihan Rajapala saat ditinggal Ken Sulasih.
Latar tempat dalam cerita Jaka Tarub adalah di hutan, di telaga, di kahyangan, di desa Tarub, dan di tepi sungai. Latar waktu beberapa kejadian dalam cerita tidak digambarkan secara jelas, namun pada saat Nawang Wulan datang untuk menyusui anaknya digambarkan terjadi pada malam hari. Latar suasana meliputi kemarahan Dewi Rasa Wulan saat mengetahui bahwa dirinya hamil, kesedihan Nawang Wulan yang kehilangan selendang, kebahagiaan Jaka Tarub dengan Nawang Wulan setelah menikah, kekecewaan Nawang Wulan karena telah dibohongi, kesedihan Jaka Tarub saat ditinggal pergi oleh Nawang Wulan.
Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa persamaan dan perbedaan menyangkut latar dari kedua cerita di atas. Persamaan terdapat pada latar waktu, di hutan, di telaga dan di kahyangan, sedangkan latar tempat lainnya berbeda. Latar waktu memiliki kesamaan, yaitu tidak digambarkan secara jelas dalam cerita, namun dalam cerita Jaka Tarub, terdapat satu latar waktu yang jelas yaitu pada malam hari saat Nawang Wulan menyusui anaknya. Latar suasana memiliki kesamaan, meliputi kesedihan tokoh sekunder yang kehilangan selendang dan kesedihan tokoh utama saat ditinggal tokoh sekunder.

2.2.6 Perbandingan Amanat
Dalam sebuah karya sastra unsur amanat merupakan hal yang penting baik bagi pengarang maupun pembaca. Amanat merupan pesan-pesan yang disampaikan oleh pengarang secara tidak langsung dari peristuwa-peristiwa yang terjadi akan tetapi mempunyai suatu maksud yang sangat dalam. Dalam cerita Rajapala dan Jaka Tarub terdapat amanat yang hampir sama yaitu dalam menjalani hidup kita haruslah memilki kesetiaan, baik setia kepada janji, setia kepada teman, setia pada kata-kata, setia kepada perbuatan dan setia pada pikiran.






BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

3.1 Simpulan
Cerita Rajapala dan Jaka Tarub merupakan cerita rakyat berupa dongeng yang unsur-unsur ceritanya memiliki persamaan, walaupun ada beberapa hal yang berbeda. unsur yang hampir sama persis terdapat pada tema dan motif, bentuk dan janre, dan amanat. Sedangkan pada unsur lainnya yang meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar, di dalamnya terdapat beberapa persamaan dan perbedaan. Tema dan motif kedua cerita adalah kesetiaan, bentuk dan janre keduanya adalah dongeng, amanatnya yaitu dalam menjalani hidup kita haruslah memilki kesetiaan, baik setia kepada janji, setia kepada teman, setia pada kata-kata, setia kepada perbuatan dan setia kepada pikiran. Dalam perbandingan tokoh dan penokohan kedua cerita terdapat persamaan pada tokoh utama dan sekunder, sedangkan peran pembantu dan jumlah tokoh yang terlibat dalam cerita memiliki perbedaan. Alur kedua cerita memiliki perbedaan yaitu, pada awal dan akhir cerita. Latar kedua cerita terdapat beberapa yang sama dan beberapa berbeda.

3.2Saran
Sebagai generasi muda penerus bangsa, kita hendaknya tetap menjaga dan melestarikan budaya nasional bangsa yang terdiri dari budaya-budaya daerah. Termasuk dalam hal ini adalah cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan warisan budaya turun-temurun yang harus dijaga keberadaannya agar tidak punah dikemudian hari, karena selain memberikan hiburan, cerita rakyat juga berisikan petuah-petuah dan nasihat-nasihat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar