Om Swastyastu

Swasti Prapta ring blog titiange, dumogi wenten kawigunannyane. Suksma. "Om Shantih, Shantih, Shantih, Om


Senin, 09 Mei 2011

STRUKTUR CERPEN BALI MODERN 1967 – 1989

STRUKTUR CERPEN BALI MODERN 1967 – 1989

3.1 Sinopsis Cerpen yang Dipakai Sampel Peroide 1960-an
3.1.1 Sinopsis Cerpen “ Ni Luh Sari “
Ni Luh Sari berasal dari keluarga kaya yang berdumisili di banjar Tegal. Ia hidup bersama ibunya. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil, sekarang ia sudah remaja yang cantik dan telah duduk di kelas II SLTA. Tetapi tingkah lakunya tidak sesuai dengan parasnya yang cantik. Ia terlalu bebas bergaul dengan laki – laki, ia juga sering keluar dengan laki – laki sampai larut malam bahkan sering ganti pasangan. Tingkah Ni Luh Sari membuat ibunya kecewa dan sering memarahi Ni Luh Sari. Nasehat ibunya tidak pernah Ia hiraukan, bahkan Ni Luh Sari berani membantah nasehat – nasehat ibunya. Dan akhirnya tingkahnya membuat ia kecewa.kekecewaan yang dialami ialah menyadari dirinya hamil. Barulah ia memberitahukan kepada ibunya bahwa ia hamil. Kemudian ia menyesali perbuatannya dan mohon maaf kepada ibunya.

3.1.2 Sinopsis cerpen “ Mirah”
I mirah adalah seorang gadis cantik bertempat tinggal di desa kintamani. Ia dipelihara oleh nenewknya karena pada umur sebelas hari ibunya meninggal dunia. Begitu juga, ketika umur dua belas tahun neneknya pun meninggal. Setelah neneknya meninggal, ia tinggal bersama bibinya yang bernama Yuk Ngah ke jawa. Namun setelah bibinya manikah dengan orang Cina itu, mengikuti suaminya ke negri Cina. Mirah kembali ke Bali dan tinggal bersama bibiknya yang lain.
I Mirah adalah orang yang terampil dan memiliki perawakan serta paras cantik. Ia pandai menenun songket, pandai mejejaitan, disamping itu aktif dalam kegiatan di banjarnya. Sehingga dia sangat di segani oleh muda-mudi di desa itu. Pembawaan yang lemah lembut, perawakan tinggi semampai, kulit kuning langsat, dan senyum yang menawan hati menyebabkan hati seorang pemuda yang bernama I Laba sangat terpikat dan luluh. Akhirnya mereka pun saling mencitai.
Pada suatu hari menjelang petang I Laba kembali datang ke rumah Luh Mirah seperti biasanya. Kedatanganya kali ini ternyata sambil membawa oleh-oleh berupa barang perhiasan gelang emas, rantai emas, dan cincin, di samping itu juga sebuah dolar dari emas buat Luh Mirah yang ia sangat cintai. Berselang beberapa hari sejak pemberian barang-barang perhiasan itu, I Mirah mendengar berita bahwa I Laba menceburkan diri ke tengah laut di Selat Lombok sampai nenemui ajalnya. Apa yang di lakukan oleh I Laba tersebut hadarkan diri dari tuduhan korupsi yang ia lakukan di tempat ia bekerja, oleh karena kasus itu telah terbongkar. Mendengar berita itu, barulah I Mirah sadar bahwa dirinya di bohongi oleh I Laba yang ternyata telah melakukan korupsi dan banyak menghabiskan uang milik kantor di tempat ia bekerja.mendengar berita itu, ia pun menjadi sangat kecewa dan sedih.

3.2 Struktur Cerpen Bali Modern periode 1960-an
3.2.1 Tema
Pembicaraan tema cerpen Bali Modern periode 1960-an tidak lepas dari situs sosial yang berkembang pada saat itu. Situasi sosial yang demikian merupakan rangsangan bagi pengarang untuk mengungkapkan dalam bentuk cerita rekaan, seperti cerpen. Sehingga untuk memahami cerpen Bali Modern periode ini perlu di perhatikan situasi yang terjadi saat itu, khususnya di Bali.
Memperhatikan pokok persoalan yang di ungkapkan oleh pengarang dalam cerpen-cerpen yang di gunakan sebagai sampel adalah menyangkut masalah karmapahla. Sedangkan tema minornya di ambil dalam kegidupan sehari-hari, seperti masalah pergaulan bebas dan masalah korupsi yang sudah nampak saat itu. Pengalaman dan peristiwa seperti itulah yang menjadi pusat perhatian dan selanjutnya menjadi gagasan para pengarang Bali modern.
Analisis unsur tema cerpen Bali modern periode 1960-an pertama adalah cerpen “Ni Luh Sari” karangan Ida Bagus Mayun (1968) dan kedua cerpen “Mirah” karangan Putu Sedana (1969).

3.2.1.1 Tema Cerpen “NI Luh Sari”
Cerpen “Ni Luh Sari” melukiskan kehidupan seorang gadis remaja cantik yang masih berstatus pelajar duduk di bangku kelas II tingkat SLTA. Ia dilukiskan sebagai seorang gadis yang cantik, akan tetapi antara kecantikan dengan tingkah lakunya tidaklah sesuai, karena sangat bebas bergaul dengan laki-laki, dan tidak mamperhatikan batas-bayas kewajaran sebagai wanita pada umumnya, karena Ni Luh Sari tidak ingin marasa terikat dan ia ingin bebas menentukan sikap hidupnya karena merasa telah dewasa, merasa telah pandai, merasa selalu benar, sehingga semua tindakanya tidak perlu dibatasi lagi.
Kehidupan Ni Luh Sari yang demikian tidaklah berlangsung lama. Walaupun ibunya sudah tidak mampu menasehati dan berbuat apa-apa terhadapnya. Sehingga ibunya merasa semakin kesal, kecewa dan sedih, menyaksikan tingkah laku anaknya yang tidak bisa dinasehati. Sehingga Ni Luh Sari terjerumus kepergaulan bebas yang membuat Ni Luh Sari menjadi hamil dan membuat ia menyesal. Hal ini disebabkan karena moral di hati beberapa manusia telah goyah dan tidak lagi memegang nilai-nila disiplin sebagai manusia. Sehingga pengarang ingin memberikan hukuman kepada tokoh Ni Luh Sari yang tidak memperhatikan nilai moral sebagai wanita dan berani menentang nasehat orang tua.hukuman yang di berikan tersebut adalah di lukiskannya Ni Luh Sari hamil di luar nikah. Sehingga dapat dikatakan, bahwa yang menjadi tema mayor cerpen ini adalah tentang karmaphala, yaitu berupa hasil perbuatan yang telah di lakukan.

3.2.1.2 Tema Cerpen “ Mirah”
Cerpen “ Mirah “ karangan Putu Sedana yang dipakai sampel keduadalam penelitian ini menggambarkan kehidupan manusia yang terjadi di masyarakat pada saat itu. Pengarang mengungkapkan persoalan-persoalan yang pernah dialami atau pun dilihat dalam lingkungan sosial masyarakat, seperti lukisan masalah yang berlatarbelakangkan cinta kasih antara laki-laki dengan wanita atau pun yang diwarnai oleh masalah korupsi yang terjadi pada saat itu. Pada cerita ini pun tidak luput dari persoalan cinta kasih yang dijalin antara I Laba sebagai tokoh utama dengan I Mirah sebagai sampingan. I Laba, dalam menunjukan rasa cintanya kepada mirah sepertinya sangat berlebihan. Perjalanan kisah cinta mereka agaknya belumlah berlangsung lama, walaupun diceritakan bahwa I Laba sudah sering berkunjung kerumah Mirah, dan dikatakan sampai lupa rumah sendiri. Ketika ada odalan di pura Munduk Danu mereka sempat bertemu kembali, dan disana mereka sempat berbincang-bincang di pinggiran danau. Secara tidak sengaja mereka membicarakan tentang perbuatan baik dan buruk (subha dan asubha karma), yang akan menghasilkan baik bila perbuatan itu baik dan perbuatan buruk akan menghasilkan yang buruk, sebagai akibat hokum karmaphala. Dan secara tidak sengaja pula ia membicarakan tentang korupsi. Selanjutnya, diceritakan antara I Laba dengan Mirah sudah menunjukan hubungan yang semakin intim. Mereka sudah sama-sama jatuh cinta. Ringkasnya, pada suatu sore I Laba berkunjung kerumah Mirah tapi kunjungannya kali ini I Laba ingin menunjukan keseriusan rasa cintanya kepada Mirah, dengan memberikan barang-barang perhiasan. Karena ambisi untuk memperistri Mirah sangat besar.
Setelah memberikan barang-barang perhiasan, berselang satu bulan tiga belas hari berikutnya I Mirah mendengan berita bahwa I Laba bunuh diri dengan cara menceburkan dirinya ke tengah laut. Baralah Mirah mengerti bahwa barang-barang perhiasan yang diberikan tersebut adalah hasil korupsi yang dilakukan oleh Laba. Begitulah persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh pengarang dalam cerita ini yang dapat mendukung terwujudnya tema. Dalam hal ini yang menjadi pokok persoalan masih berkisaran pada gejala atau ketimpangan-ketimpangansosial yang terjadi saat itu. Ketipangan social yang dipermasalahkan itu adalah masalah moral dan penghianatan. Dalam hal ini, kedatipun tindakan korupsi yang dilakukan oleh I Laba hanya bermotifkan ikut-ikutan. Tetapi, bagaimana pun juga perbuatan itu merupakan perbuatan yang tidak baik. Pada akhirnya perbuatan itu terbongkar, disebabkan rasa malu yang luar biasa, bai kepada Mirah maupun lingkungan masyarakat akhirnya I Laba melakukan bunuh diri. Kematian seperti itu disebut ulahpati ‘ kematian yang dilakukan secara sengaja’. Sehingga dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang menjadi titik penekanan adalah masalah karmaphala, yaitu hasil dari perbuatan yang telah kita lakukan.

3.2.2 Alur
Dalam cerita rekaan kita akan menjumpai jalinan peristiwa dalam rentetan peristiwa atau insiden yang dibangun secara kausalitas. Selain itu alur dapat memberikan kesan tentang keberhasilan cerita yang dilukiskan, sebab aspek ini ada pautannya dengan unsure-unsur struktur cerita lain. Antara unsure yang satu dengan unsure lainnya mempunyai hubungan yang erat, karena rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin tersebut menggerakan jalan cerita melalui rumitan kearah klimak dan selesai. Pembicaraan terhadap alur atau rangkaian peristiwa dalam cerpen-cerpen Bali Modern 1960-an yang digunakan sampel dalam analisis ini, secara umum kelihatannya mengikuti pola alur konvensional, yaitu pengarang mengawali ceritanya denganmemperkenalkan situasi awal, kemudian situasi mulai bergerak, kemudian mencapai klimak dan selesai. Akan tetapi, setelah dipahami secara menyeluruh rangkaian peristiwa demi peristiwa sudah menunjukkan hubungan sebab akibat dan jalinan cerita berlangsung secara kausalitas dan logis. Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dianalisis satu-persatu alur cerita bali Modern yang digunakan sampel.

3.2.2.1 Alur Cerpen “Ni Luh Sari”
Pola alur cerpen “Ni Luh Sari” mengikuti pola alur konvensional, akan tetapi penyelesaian cerita ini terasa dipersudah dan tergesah-gesah. Meskipun dari segi gagasan yang dilukiskan ini telah dijalin dalam bentuk yang baru, namun dalam cerpen ini masih terlihat adanya unsur teknik penceritaan yang tradisional. Adanya kalimat yang lazim digunakan dalam gaya mendongeng. Kalimat itu adalah “kacarita mangkin” ‘dikisahkan sekarang’ dan bila situasi akan beralih masih digunakan kalimat “sedek dina anu” ‘pada suatu hari’. Penggunaan kalimat seperti itu dapat mengingatkan kita pada teknik penceritaan tradisional (pedalangan) yang lazim dilakukan ketika mendongeng (masatua). Unsur kalimat seperti itu merupakan konvensi dari cerita rakyat (dongeng). Sehingga dengan adanya unsur kalimat seperti itu dapat menimbulkan kesan seolah-olah cerita tersebut hanya berupa khayalan saja atau bersifat dongeng belaka.
Dalam cerpen ”Ni Luh Sari” pengarang memulai ceritanya dari kehidupan sebuah keluarga yang mempunyai seorang anak gadis cantik yangbernama Ni Luh Sari, sebagai tokoh utama cerita. Ia berasal dari banjar Tegal dan masih duduk di kelas II SLTA. Ia sangat sering keluar rumah dengan alasan belajar, namun ibunya curiga karena setiap ia akan pergi selalu bersolek dan pulangnya sampai larut malam. Hampir setiap hari Luh Sari hanya memikirkan kecantikan dirinya, tidak pernah belajar, dan setiap malam bercengkrama dengan tamu laki-laki yang mengunjungi sampai larut malam. Ibunya tidak mampu berbuat apa-apa walaupun sudah sering dinasehati. Gambaran awal mula kisah ini dapat dilihat pada kutipan berikut:
Kacrita mangkin wenten jadma sugih mapaumahan ring banjar tegal, ipun madrebe bapa sampun ninggalin padem, kantun padaduanan Ni Luh Sari ring memen ipune. Ni Luh Sari sampun anom jegeg tan patanding, kenyeme mangalap jiwa, kemikan bibihe manis nyujur, putih gading pangadege langsing lanjar. Bengong wiakti anake mangantenang. Nanging kajegegane tan anut ring parisolahipune. Sering tungkas ring pamineh anak tua, tur degage mangonyang. (halaman lampiran 2)
Terjemahannya:
Dikisahkan sekarang ada orang kaya tinggal di banjar tegal, ayahnya sudah meninggal, sekarang masih berdua Ni Luh Sari dengan ibunya. Sekarang Ni Luh sari telah menjadi gadis remaja dan cantik yang tak ada bandingannya, senyum memikat hati, tutur katanya manis, kulitnya kuning langsat dan tinggi semampai. Terbelalak sesuai denngan tingkah lakunya. Selalu bertentangan dengan pikiran orang tua, dan angkuhnya luar biasa.
Dalam hal ini yang menjadi pusat pengisahan dalam cerita tersebut adalah tokoh Ni Luh Sari yang menempuh jalan hidup secara bebas. Nasihat-nasihat yang diberikan oleh ibinya tidak dihiraukan malah ia semakin bebas bergaul dengan laki-laki. Konflik-konflik yang terjadi antara Ni Luh Sari dengan ibunya menyebabkan keadaan semakin memuncak. Pada suatu hari, Men Luh Sari merasa tidak tahan melihat anaknya yang semakin membandel, kemudian ia menasihatinya dengan keras seperti kutipan di bawah ini:
Sedek dina anu semengan Ni Luh sari nabdabang payas pacing mlali sareng timpal-timpalne muani. Saking tan sida aantuk naanang sakit atine, raris memenipune nyambatsara sada keras, “Sari kapahin ja mlali,senglad meme nepukin tingkah anak luh buka nyai, busan-busan ngajak anak muani sep ngajak ne, sep ngajak to tusing pesan matilesan awak anang gigis…(halaman lampiran 4)
Terjemahannya:
Pada suatu hari pagi-pagi Ni Luh Sari bersiap-siap merias diri karena akan melancong dengan temannya yang laki. Karena tidak mampu menahan rasa marah, kemudian ibunya menyapa dengan perasaan marah, “ Sari janganlah terlalu sering bepergian, kikuk ibu melihat gerak-gerik seorang perempuan seperti kamu, sebentar dengan seorang laki-laki sebentar laki-laki ini, sebentar dengan yang itu sama sekali tidak merasa malu barang sedikit….
Setelah terjadi pertengkaran dengan anaknya, akhirnya Men Luh Sari pun hanya berdiam diri terhadap tingkah laku anaknya. Akan tetapi, berselang beberapa hari kemudian, Ni Luh Sari merasakan dirinya hamil. Laki-laki yang bertanggung jawab akan kehamilannya itu tidak diceritakan dalam cerita. Secara implicit dapat dikatakan bahwa hamil itu disebabkan oleh banyak orang laki-laki sebagai akibat pergaulan bebasnya. Ia hanya bias pasrah meratapi nasibnya. Peristiwa krisis yang dialami Ni Luh Sari tersebut kemudian mencapai klimaksnya ketika isa memberitahukan pada ibunya kalau dirinya hamil. Kehamilan Ni Luh Sarilah ,erupakan puncak alur cerita dan sekaligus merupakan pemecahan alur cerita.
Ibunya yang mendengar hal tersebut justru tidak menunjukkan kemarahan terhadap Luh Sari akan tetapi ibunya hanya bias pasrah menerima nasib itu. Menurutnya, hal itu sudah merupakan kehendak-Nya yang harus diterima dan tidak bias dihindari ataupun dicari karena sudah merupakan hokum karmaphala.
Penyelesaian cerita hanya sampai di sana. Tinjauan sepintas ini menunjukkan bahwa hamil di luar nikah itu sulit dituntut apalagi perbuatan itu didasari oleh kemauan kedua belah pihak dan dilakukan oleh banyak laki-laki. Sehingga, cerita diselesaikan sampai di sana agar tidak mengurangi keindahan cerita.

3.2.2.2 Alur Cerpen Mirah
Pada cerpen ini, pengarang mengawali cerita dengan memperkenalkan tokoh Luh Mirah pada waktu masih kecil. Luh Mirah tinggal si desa Kintamani, sejak kecil dia sudah yatim piatu, ia dipelihara oleh neneknya. Semasa kecil kehidupannya sangat menderita dan ketika dia berumur 12 tahun nenek kesayangannya meninggal dunia. Kemudian ia diajak oleh bibinya yang bernama Yuk Ngah ke Jawa dan tinggal di sana. Namun ketika bibinya menikah dengan orang Cina dan ikut pergi ke Cina, Luh Mirah kembali ke Bali ditampung oleh bibinya yang lain. Kemudian ia melakukan beberapa pekerjaan antara lain menenun songket, mejejatitan, dan pekerjaan tenun menenun lainnya. Selain itu pengarang juga melukiskan keadaan fisik Luh Mirah, yang digambarkan sebagai gadis cantik, mkulit mulus dan kuning langsat, tutur katanya manis.
Kemudian jalinan cerita dimulai dari insiden pertemuan Luh Mirah dengan I Laba. Mereka berdua saling jatuh cinta, sehingga hubungan mereka semakin intim. Setiap hari I Laba dating ke rumah Luh Mirah, baik sore maupun malah hari. Pada suatu hari I Laba baru datang dari kota membawakan oleh-oleh kepada Luh Mirah barang-barang perhiasan sebagai tanda cinta. Luh Mirah menanyakan darimana I Laba mendapatkan semua perhiasan itu, namun I Laba tidak memberikan jawaban.
Kalau dilihat dari jalinan cerita yang dibangun oleh pengarang dalam cerpen ini tidak ada menimbulkan konflik-konflik yang dapat membangun gerak cerita.
Selanjutnya klimaks dan penyelesaian cerita ini, agaknya pengarang memberikan pemecahan secara tiba-tiba dan dipermudah, yaitu dilukiskannya I Laba setelah memberikan Luh Mirah perhiasan, kemudian berselang satu bulan tiga belas hari kemudian I Laba sudah meninggal. I Laba meninggal dengan menceburkan diri ke tengah laut di Selat Lombok karena korupsi yang ia lakukan sudah terbongkar. Padahal sebelumnya dia tidak pernah melaukan korupsi atau tindak kejahatan lainnya, ia hanya ikut-ikutan saja.
Demikianlah penyelesaian cerita tersebut seperti pada gambaran di atas. Secara umum dapat dikatakan bahwa alur dilukiskan dengan baik dan sebab rentetannya jelas, sehingga dapat menunjang tema atau unsur cerpen lainnya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa cerpen Bali Modern periode 1960-an alur ceritanya masih terpaku pada penggunaan alur konvesional, sehingga hasil cerpen periode ini dapat dikatakan kurang memenuhi kesempurnaan sebagai karya sastra modern.

3.2.3 Penokohan
Penggambaran penokohan di setiap karya sastra mempunyai cara penungkapan yang berbeda-beda tentang perwatakan tokoh sesuai dengan kehendak pengarang bersangkutan.. Analisis aspek penokohan dalam cerpen periode ini dilakukan untuk memahami sampai seberapa jauh pengarang dapat menampilkan penokohan sehingga betul-betul hidup dan berfungsi sebagaimana adanya dalam realitas.
Kaitannya dengan pembicaraan penokohan pada cerpen Bali Modern periode ini, nampak secara implisit pembubuhan judul dengan menggunakan nama seseorang menunjukkan adanya hubungan penokohan cerita. Pembubuhan judul dengan nama orang secara implisist telah memasalahkan penokohan, karena nama tokoh yang dijadikan judul cerita biasanya sekaligus berperan sebagai tokoh utama dalam cerita. Disamping penokohan cerpen periode ini kebanyakan mengambil latar belakang dari tingkat sosial menengah, tingkat pendidikan menekah, dan didominasi oleh tokoh-tokoh yang berasal dari wangsa Sudra.

3.2.3.1 Penokohan Cerpen “Ni Luh Sari”
Dalam cerpen ini, sesuai dengan judul yang dibubuhkan yakni Ni Luh Sari, ternyata judul tersebut merupakan tokoh utama cerpen ini. Tokoh Ni Luh Sari dihadirkan oleh pengarang dari awal sampai akhir cerita dengan tingkah lakunya serta sifat dan sikap yang ditunjukkan tokoh tersebut. Tinjauan penokohan ini meliputi sudut sosiologis, fisik, dan psikologis.
Tokoh Ni Luh Sari, kalau dilihat dari sudut sosiologis, ia dilukiskan sebagai gadis remaja cantik masih berstatus pelajar SLTA kelas dua dan berasal dari keluarga kaya yang bertempat tinggal di banjar Tegal. Ayahnya telah meninggal dunia dan sekarang ia hidup bersama ibunya. Bila dilihat dari namanya, ia termasuk golongan sudra. Setelah menginjak remaja ia terjerumus ke pergaulan bebas sehingga menghancurkan masa depannya akibat pergaulan bebas dengan laki-laki sampai ia hamil di luar nikah.
Selanjutnya ditinjau dari segi fisik, dilihat dari namanya Ni Luh Sari dapat menunjukkan bahwa ia adalah perempuan. Ia dilukiskan sebagai gadis remaja yang cantik, badannya tinggi semampai, kulitnya kuning langsat, dan senyum serta tutur katanya amat menarik hati.
Sedangkan keadaan psikologisnya Ni Luh Sari digambarkan mempunyai sifat tempramen yang kurang baik, dan ia adalah orang yang angkuh, mau menang sendiri, sehingga menimbulkan perselisihan dengan ibunya.
Selanjutnya watak yang ditunjukkan oleh tokoh Men Luh Sari adalah bersifat sabar dan dihadirkan sebagai pendamping tokoh utama yang sekaligus sebagai figur penyelamat tokoh utama. Akhirnya dari dialog-dialog Men Luh Sarilah melahirkan sebuah amanat, walaupun nasihat itu sesungguhnya ditujukan kepada Ni Luh Sari, tetapi amanat yang disampaikan oleh tokoh tersebut sebenarnya juga ditujukan kepada pembaca karya itu.
Setelah diuraikan penokohan cerpen ini secara menyeluruh, satu-satunya kelemahan yang paling menonjol adalah ulasan yang dilakukan terhadap tokoh-tokoh tersebut tidak secara mendalam.

3.2.3.2 Penokohan Cerpen “Mirah”
Yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini adalah I Laba, sedangkan tokoh sampingannya adalah I Mirah. Tokoh I Laba tidak langsung dihadirkan oleh pengarang, akan tetapi tokoh ini merupakan sumber dari kejadian penting yang tedapat di dalamnya. Secara eksplisit, pelukisan fisik dan segi sosiologis tokoh ini tidak terungkap dengan jelas.
Tokoh I Laba sebagai tokoh utama dinyatakan sebagai seorang pegawai di salah satu kantor dan berasal dari desa Kintamani. Sedangkan asal-usul dan latar belakang tokoh tersebut tidak ada diungkap, akan tetapi karena ia adalah seorang pegawai, hal ini menunjukkan bahwa I Laba adalah orang berpendidikan dan rupanya mempunyai latar belakang ekonomi yang berkecukupan.
Sedangkan dari segi fisik tokoh I Laba tidak ada dilukiskan pengarang, padahal pelukisan fisik cukup penting guna menunjang perwatakan tokoh tersebut, sebab pelukisan tokoh yang kuat dan hidup dapat menimbulkan imajinasi bahwa cerita benar-benar terjadi. Begitu juga dari segi psikologisnya cukup sulit mengungkapkan, akan tetapi perwatakan tokoh ini baru kelihatan setelah ia meninggal dan dituduh melakukan korupsi yang menghabiskan beratus ribu uang milik kantor tempat ia bekerja.
Secara psikologis tokoh I Laba dapat digambarkan sebagai tokoh yang mempunyai sifat-sifat jahat, pembohong, penipu, dan pembual, yakni terbukti telah melakukan korupsi. Karena telah terbongkar, ia memilih bunuh diri daripada menjadi bulan-bulanan masyarakat. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia adalah seorang pengecut yang tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Selanjutnya mengenai penokohan tokoh Luh Mirah sebagai tokoh sampingan. Secara sosiologis, tokoh ini memiliki latar belakang yang suram. Sejak kecil ia hidup yatim piatu, kemudian ia dipelihara neneknya, dan ketika berumur 12 tahun neneknya meninggal, kemudian dia bersama bibinya di Jawa, namun karena bibinya menikah dengan orang Cina san ikut ke Cina, ia pun kembali ke Bali bersama bibinya yang lain. Ia adalah seorang beragama Hindu dan berdasarkan namanya ia berwangsa Sudra.
Tinjauan fisik tokoh ini dapat diketahui, bahwa ia dilukiskan sebagai seorang gadis cantik, kulit kuning langsat dan luwes, tutur kata dan senyumnya manis, sehingga banyak laki-laki yang tertarik padanya.
Meskipun demikian, masa kecil Luh Mirah sering diwarnai penderitaan yang cukup menyedihkan. Ketika ia baru berumur sebelas hari, ia ditingglkan oleh ibunya dan waktu ia berumur 12 tahun, nenek yang sangat ia sayangi juga meninggalkannya. Karena tidak ada yang menghidupi, ia diasuh bibinya.Semua penderitaan yang dialaminya merupakan gangguan psikologis yang cukup berat. Tetapi ia sangat tabah dalam menghadapi cobaan tersebut. Gambaran penderitaan itu, terlukis sebagai berikut :
Memene ngalain dugas ia mara lekad matuuh solas dina. Yen jani ningalin bulan, inget teken dadongne, teken danu, blibis, emas, konyong Kintamani, cutetne makejang ane ngranayang girang i malu, jani cara nyali. Legane medandan ajaka kewehe.
Terjemahan :
Ibunya meninggal pada waktu ia baru lahir berumur sebelas hari. Kalau sekarang melihat bulan, ingat dengan neneknya, dengan danu, blibis, emas, anjing Kintamani, pokoknya semua yang membuat ia bahagia dulu, sekarang seperti empedu. Kebahagiaan selalu diikuti penderitaan.

Kekecewaan itu kembali terdengar, ketika berita tentang kematian kekasihnya karena kasus korupsi. Ia sama sekali tidak mengetahui kalau kekasihnya koruptor, sehingga ia mau menerima perhiasan pemberiannya. Pukulan berat dan sangat memalukan itu terlukis seperti di bawah ini :
Sedihe dija kaden tara kena baan ngulapin. Ada buin abulan nanggu roars dina, ih telulas dinane, tangkahne I Mirah serasa belah asibak baan dapak mara ningeh orta I Laba ilang gelekang pasih di Selat Lombok.
Terjemahan :
Rasa sedih yang mendalam entah dimana tidak ada menghampiri. Kira-kira lagi satu bulan dua belas hari, ih tiga belas hari, dada Luh Mirah bagaikan dibalah gapak ketika mendengar berita kalau I Laba menceburkan diri ke tengah laut di Selat Lombok.
Lukisan kesedihan Luh Mirah yaitu setelah mendengar berita kematian kekasihnya dengan cara yang memalukan. Saat itu ia mengalami goncangan jiwa yang hebat. Sangat besar kekecewaan yang dialaminya, dan ia pun dengan tabah menerima nasib yang menimpanya.
Demikian mengenai penokohan cerpen ini dan secara implisit, pengarang ingin menyampaikan amanat, walaupun disampaikan lewat tokoh-tokohnya, yaitu agar manusia selalu jujur, jangan serakah, dan semua perbuatan pasti akan mendapatkan hasil yang setimpal sesuai karmanya.

3.2.4 Latar
Latar cerpen Bali Modern periode 1960-an ini adalah mengungkapkan informasi tentang tempat, waktu dan secara sosiologis dalam keadaan bagaimana kisah itu dilukiskan oleh pengarang. Pelukisan latar sangat membantu analisis unsur-unsur yang lain yang berhubungan dengan cerpen. Menurut pendapat Abrams yang dikutip Sri Widati Pradopo, cerpen Bali Modern mempunyai latar baik.
Secara umum, latar cerpen Bali Modern periode 1960-an, tempat dan waktu tidak dinyatakan secara jelas. Hanya disebutkan seperti; pada suatu hari, malam hari, di suatu desa, dan lainnya.


3.2.4.1 Latar Cerpen “Ni Luh Sari”
Latar tempat cerpen ini pada dasarnya menggunakan daerah Bali. Dilihat dari latar tempatnya, peristiwa ini terjadi di rumah tokoh utama, Ni Luh Sari yang digambarkan berasal dari keluarga orang kaya yang tinggal di desa tepatnya banjar Tegal. Disini tempat tinggal tidak dijelaskan secara jelas berada di wilayah mana dan di kabupaten apa, sebab nama banjar Tegal cukup banyak ada di Bali. Namun, jika dihubungkan dengan suasananya yang ramai dengan sepeda motor dan adanya sekolah lanjutan tingkat tengah, dapat ditafsirkan latarnya berada di Denpasar.
Ditinjau dari segi waktu, pengarang tidak menyebutkan latar waktu secara jelas, hanya saja menyebutkan “sedek dina anu”. Dengan penggunaan kalimat tersebut, menimbulkan kesan bahwa cerita itu masih bersifat khayalan belaka. Jadi secara implisit dan eksplisit sangat sukar memahami latar waktunya.
Dari segi latar sosial, cerpen ini dilatarbelakangi oleh keadaan ekonomi yang cukup mapan. Ni Luh Sari sebagai seorang gadis cantik, yang menjalani hidupnya individualisme dan cuek terhadap lingkungan sekitarnya.

3.2.4.2 Latar Cerpen “Mirah”
Dari segi latar tempat, cerpen ini cukup sulit mengenali dimana sesungguhnya peristiwa itu terjadi. Dengan diperkuat oleh penyebutan nama tempat seperti pura Munduk Danu dan desa Kintamani, kemungkinan latar tempat cerita itu di pedesaan.
Dilihat dari latar waktu, cukup sulit ditentukan kapan terjadinya peristiwa itu, karena cirri waktu yang digunakan seperti; malam hari, sore hari dan siang hari.
Mengenai latar sosial cerpen ini, diketahui melalui tokoh dan tindakan yang dilakukan, bahwa I Mirah dan I Laba adalah orang yang tergolong berada di tingkat sosial rendah, yaitu Sudra. Luh Mirah berlatarkan diri yang berkehidupan perekonomian dan tingkat pendidikan yang rendah, sedangkan I Laba berlatarkan orang yang berkehidupan ekonomi dan pendidikan menengah. Disamping diwarnai oleh cinta antara laki-laki dan wanita sebagai latar insiden untuk menghidupkan jalan cerita, sebagai latar peristiwa yang paling pokok yaitu masalah korupsi yang merajalela saat itu.
Demikianlah mengenai uraian latar pada cerpen periode 1960-an, dimana penggunaan latar cerpen pada periode in walaupun tidak dinyatakan secara jelas, tetapi sudah mendukung ide cerita secara keseluruhan.

3.2.5 Gaya Bahasa
Gaya bahasa sangat mempunyai peranan penting dalam cipta sastra untuk meningkatkan kualitas dan mempertegas persoalan yang disampaikan cerita itu sendiri. Pada cerpen periode ini, ragam bahasa yang digunakan pengarang sesuai dengan situasi dan tingkat kehadiran pelaku cerita, karena dalam cerpen ini pelakunya kebanyakan dari golongan sudra, maka dari itu pengarang menggunakan ragam bahasa kasar. Tetapi pengarang menggunakan ragam bahasa alus dalam penyampaian narasinya.

3.2.5.1 Gaya Bahasa Cerpen “Ni Luh Sari”
Dalam cerpen ini, pengarang menggunakan bahasa Bali secara menyeluruh, agar dapat menimbulkan kesan yang logis dan wajar antara situasi percakapan antar tokoh. Pengarang disini menggunakan bahasa Bali Alus untuk narasinya dan menggunakan bahasa Bali Kasar dalam dialog antar pelaku. Gaya bahasa yang terlihat dalam cerpen ini, yaitu : gaya bahasa repetisi, hiperbol, sarkasme, dan pleonasme.
1) Gaya Bahasa Repetisi
Repetisi yaitu pengulangan bunyi, suku kata atau kalimat yang dianggap penting untuk memberikan tekanan dalam konteks yang sesuai. Seperti contoh :
Anak cara jani bas bebas pergaulan luh-luhe, liu ane tungkas teken anak tua mapi paling ririh, liu ane suba mabukti.
Terjemahan :
Zaman seperti sekarang seorang perempuan terlalu bebas bergaul, banyak yang melawan orang tua, banyak yang sudah terbukti.
Kata yang bergaris bawah adalah kata yang direpetisikan dengan kata ‘banyak yang’.
2) Gaya Bahasa Hiperbol
Hiperbol menurut Gorys Keraf adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan berlebihan terhadap suatu hal. Contohnya :
Ajahan makebyos yeh paningalane antuk tan sida naenang kebus atine buka borbor.
Terjemahan :
Seketika air matanya tumpah sebab tak mampu menahan panas hatinya seperti terbakar.
Kata bergaris bawah menimbulkan seolah-olah hatinya terasa terkoyak-koyak.
3) Gaya Bahasa Sarkasme
Sarkasme merupakan sindiran yang lebih kasar dari ironi dan sinisme.Contoh:
Sari kapahin ja melali, senglad meme nepukin tingkah anak luh buka nyai, meseh sembeleh ngajak anak muani, tusing pesan metilesang awak.
Terjemahan :
Sari janganlah terlalu sering bepergian, kikuk ibu melihat tingkah anak perempuan seperti kamu, sukanya berganti-ganti laki-laki, tidak tahu malu.
4) Gaya Bahasa Pleonasme
Pleonasme adalah acuan yang menggunakan kata-kata lebih banyak dari yang diperlukan. Contoh :
“Ajahan sampun ical tan kakantenang” yang berarti ‘Sekejap telah hilang tanpa kelihatan’.

3.2.5.2 Gaya Bahasa Cerpen “Mirah”
Dalam cerpen ini, pengarang menggunakan gaya bahasa seperti ; repetisi, personifikasi, persamaan, sarkasme, hiperbol, dan koreksio.
1) Gaya Bahasa Repetisi
Contohnya lihat kutipan ini :
Yen jani ningalin bulan, inget teken dadongne, inget teken danu,………..dst.
Kata bergaris bawah adalah yang direpetisikan. Tujuan pengulangan kata tersebut untuk mempertajam bahwa Mirah bila melihat bulan selalu ingat dengan neneknya, dengan danau dan lainnya.
2) Gaya Bahasa Personifikasi
Penggunaan baya bahasa personifikasi dalam cerpen ini hanya digunakan satu kali, seperti contoh di bawah ini :
“Aun-aunne nagih tuun” yang berarti ‘kabut-kabut ingin turun’.
Kata-kata diatas memberi kesan bahwa kabut sebagai benda mati seolah-olah bertindak seperti manusia yang ingin turun.
3) Gaya Bahasa Persamaan
Gaya bahasa ini adalah perbandingan yang bersifat eksplisit yang menyatakan sesuatu sama dengan hal lain. Dalm bahasa Bali, kata-kata itu diwakili oleh kata kadi, ‘seperti’, cara ‘sama seperti’, dan lainnya. Contohnya :
“Pangadegne mulus kadi langsing” yang artinya ‘tubuhnya seperti tinggi semampai dan halus’.
4) Gaya Bahasa Sarkasme
Gaya bahasa sarkasme yang digunakan disini menunjukkan rasa tidak senang dari bibi Luh Mirah kepada I Laba, seperti :
“Adi ditu Mirah negak. Genit kenken kaden, sing nawang ditu ada lateng” yang artinya ‘Kenapa Mirah duduk disana. Tidakkah menimbulkan gatal, tidak tahu disana ada lateng’.
5) Gaya Bahasa Hiperbol
Contohnya : “tangkahne I Mirah rasa belah kapak mara ningeh orta I Laba ilang gelekang pasih di Selat Lombok” artinya ‘dada Luh Mirah bagaikan dibelah kapak ketika mendengar I Laba yang menceburkan diri ke tengah laut’.
6) Gaya Bahasa Koreksio
Koreksio adalah gaya yang mula-mula bermaksud menegaskan sesuatu, tapi kemudian diperbaiki setelah menyadari kesalahannya. Contoh :
“Ada jenenga buin abulan nanggu roras dina, ih telulas dinane” yang artinya ‘Kira-kira lagi sebulan lebih duabelas hari, ih tigabelas hari’.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar