Boleh Idealis, tapi Harus Realistis. "Idealisme Sebaiknya Ideal untuk Semua, bukan Hanya Untuk Ego Pribadi."

Menyelaraskan Idealisme dan Realitas: Belajar dari Dilema Moral Bhisma

Memiliki idealisme adalah hal yang luar biasa. Idealisme memberi kita arah, kompas moral, dan standar tertinggi dalam melangkah. Namun, idealisme yang berdiri terpisah dari realitas sering kali berubah menjadi beban atau lebih buruk lagi, menjadi jerat yang membutakan kita dari kenyataan di lapangan.

Dalam ajaran Hindu, hidup bukan tentang memaksakan cita-cita setinggi langit tanpa memijak bumi. Keseimbangan antara cita-cita ideal dan kenyataan hidup dirumuskan secara apik dalam ajaran Catur Purusa Artha empat tujuan hidup manusia yang meliputi Dharma (kebenaran), Artha (sarana/kemampuan materi), Kama (keinginan), dan Moksa (kebebasan spiritual).

Ajaran ini menegaskan satu hal: idealisme (Dharma dan Moksa) tidak akan pernah bisa berjalan optimal jika kita mengabaikan realitas daya dukung, sarana, dan kemampuan fisik (Artha dan Kama). Ketika kita memaksakan idealisme tanpa mengukur kemampuan nyata, niat baik tersebut justru bisa berujung pada keputusan yang keliru.

Sumpah Kaku Bhisma dan Jebakan Idealisme

Tragedi akibat idealisme yang terpisah dari realitas tergambar jelas dalam kisah Mahabarata melalui sosok Mahamulia Bhisma.

Demi membuktikan bakti kepada ayahnya, Bhisma mengucapkan sumpah agung (Bhisma Pratijna) untuk tidak menikah dan berjanji akan selalu membela siapa pun yang menduduki takhta Hastinapura. Secara idealisme pribadi, komitmen Bhisma sangat luar biasa. Namun, ketaatannya yang kaku terhadap sumpah tersebut justru membuatnya terjebak dalam dilema moral yang fatal:

 

·  Membela Kebatilan demi Sumpah Pribadi: Saat Korawa menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan Pandawa dan mempermalukan Drupadi di Balairung Istana, Bhisma memilih diam. Ia bertahan pada idealisme menjaga kesucian janjinya, tetapi di saat yang sama membiarkan kejahatan besar terjadi di depan matanya.

·        

·       Terikat Realitas Posisi (Artha): Ketika Perang Baratayuda pecah, Bhisma sadar betul bahwa kebenaran sejati (Dharma) ada di pihak Pandawa. Namun, karena keterikatannya pada sumpah untuk membela takhta Hastinapura—yang selama ini memberinya kedudukan dan sarana hidup—ia justru bertarung di barisan Korawa.

Bhisma menjadi contoh nyata bagaimana idealisme yang tidak fleksibel dan tidak realistis bisa dimanfaatkan oleh kejahatan. Ia berhasil menjaga kesucian sumpah pribadinya, tetapi gagal menegakkan kebenaran universal.

 Pesan Krisna: Swadharma Harus Pijak Kenyataan

Dilema yang dialami Bhisma bertolak belakang dengan teguran Sri Kresna kepada Arjuna di medan Kurukshetra. Ketika Arjuna diliputi keraguan dan idealisme pribadinya merasa tidak tega membunuh sanak keluarga sendiri Kresna mengingatkan Arjuna untuk melihat realitas tugas utamanya sebagai seorang ksatria.

Hal ini ditegaskan dalam Bhagavadgita Bab 2 Sloka 31:

"Swa-dharmam api chavekshya na vikampitum arhasi,

dharmyad dhi yuddhac chreyo ’nyat kshatriyasya na vidyate."

(Memperhatikan tugas kewajibanmu sendiri [Swadharma], engkau tidak boleh ragu;

sebab bagi seorang ksatria, tidak ada hal yang lebih baik daripada berperang demi menegakkan Dharma).

Krisna mengajarkan bahwa kita harus berani menghadapi kenyataan dan menjalankan kewajiban sesuai realitas yang ada di depan mata. Bersembunyi di balik ego idealisme atau keraguan moral saat situasi menuntut tindakan nyata bukanlah sebuah kebaikan, melainkan kekeliruan.

Krisna menunjukkan bahwa jika Bhisma memilih untuk membiarkan kejahatan Kurawa menang demi menjaga kesucian sumpahnya, maka Bhisma telah gagal dalam Dharma yang lebih tinggi. Arjuna bertindak bukan karena benci kepada Bhisma, melainkan sebagai instrumen semesta untuk mengoreksi kekeliruan idealisme kaku tersebut.

Menyesuaikan Diri Adalah Kebijaksanaan

Mengukur kemampuan dan menyesuaikan bentuk pelaksanaan idealisme dengan kenyataan hidup bukanlah bentuk kekalahan. Itu adalah wujud penundukan ego agar tujuan kebajikan yang kita impikan benar-benar bisa terwujud secara nyata, bukan sekadar gagasan di kepala.

Idealisme yang sehat adalah idealisme yang membumi. Ia memberi kita arah untuk melangkah, tetapi realitaslah yang menentukan bagaimana cara kita melangkah dengan selamat. Belajar dari kisah Bhisma, jangan sampai komitmen kaku pada idealisme pribadi justru membuat kita menutup mata dari kenyataan dan mengabaikan kebenaran yang lebih besar.

Penulis: Wahyu Wirayuda [diolah dari berbagai sumber]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Satua Bali

Satua Bali, Legenda Bali, dan Sesapan atau saa

Telaah Puisi Aji Kembang