Pesan Kehidupan dalam Sesonggan "Kutal-kutil Ikut Celeng"

ᬓᬸᬢᬮ᭄ᬓᬸᬢᬶᬮᬶᬓᬸᬢ᭄ᬘᬾᬮᬾᬂ᭟

Sesonggan: Kutal-kutil ikut céléng. Suksmanipun: kaucapang ring pakaryan sané rasané aluh, sakewanten sujatiné nak meweh yen kalaksanayang.


Orang Bali memiliki banyak sesonggan atau peribahasa yang lahir dari pengalaman hidup sehari-hari. Kalimatnya sering sederhana, bahkan kadang terdengar lucu, tetapi di balik kesederhanaannya tersimpan nasihat yang dalam. Salah satunya adalah sesonggan “Kutal-kutil ikut céléng.”

Secara sederhana, kutal-kutil dapat dimaknai sebagai tindakan memegang atau memainkan sesuatu dengan tangan, sedangkan ikut céléng berarti ekor babi. Bayangkan saja seseorang mencoba memegang ekor babi yang terus bergerak. Dari jauh mungkin terlihat gampang. Tinggal pegang, selesai. Tetapi ketika benar-benar dicoba, ceritanya bisa berbeda. Ekornya bergerak ke sana kemari, sulit diprediksi, dan justru membuat sesuatu yang kelihatannya sederhana menjadi tidak mudah dilakukan.

Dari gambaran sederhana itulah sesonggan ini mendapatkan maknanya. Sesuatu yang terlihat mudah belum tentu mudah ketika dikerjakan. Apa yang tampak sederhana dari luar sering kali memiliki proses, tantangan, dan kesulitan yang tidak terlihat oleh orang lain.

Jangan Cepat Menganggap Enteng

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat hasil akhir tanpa mengetahui proses panjang yang ada di belakangnya. Kita melihat sebuah pekerjaan sudah selesai dengan rapi, sebuah acara berjalan lancar, atau seseorang berhasil mencapai sesuatu. Lalu dengan mudah kita berkata, “Ah, begitu saja.”Padahal, kita tidak selalu tahu berapa banyak waktu, tenaga, pikiran, bahkan kesabaran yang telah dikeluarkan untuk mencapai hasil tersebut.

Di sinilah “Kutal-kutil ikut céléng” menjadi sebuah pengingat agar kita tidak terburu-buru meremehkan pekerjaan orang lain. Sesuatu yang menurut kita mudah, bisa jadi merupakan pekerjaan yang sangat melelahkan bagi orang yang menjalaninya. Begitu pula ketika kita sendiri menerima sebuah tanggung jawab. Jangan terlalu cepat mengatakan bahwa pekerjaan itu mudah sebelum kita benar-benar menjalaninya. Kadang-kadang setelah dimulai, barulah kita menyadari bahwa tantangan yang sebenarnya jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.

Sikap seperti ini juga mengajarkan kita untuk tidak sombong. Kerendahan hati membuat seseorang lebih siap belajar, sedangkan kesombongan sering membuat seseorang merasa sudah tahu sebelum benar-benar memahami.

Kerja Keras Tidak Selalu Terlihat

Dalam ajaran Hindu, kehidupan tidak dapat dilepaskan dari karma atau tindakan. Apa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, dan dilandasi niat yang baik akan menjadi bagian dari perjalanan seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.




Semangat untuk menjalani proses dengan sabar dapat kita renungkan melalui salah satu sloka dalam Bhagavadgītā XVIII.37:

yat tad agre viṣam iva pariṇāme 'mṛtopamam
tat sukhaṁ sāttvikaṁ proktam ātma-buddhi-prasāda-jam

Secara umum, sloka tersebut mengajarkan bahwa kebahagiaan yang pada awalnya terasa seperti racun karena membutuhkan perjuangan, tetapi pada akhirnya memberikan rasa seperti amerta, merupakan kebahagiaan yang bersifat sāttvika, yang lahir dari kejernihan dan kesadaran diri.

Pesannya sangat dekat dengan kehidupan kita. Tidak semua hal yang baik datang dengan mudah. Ada pekerjaan yang pada awalnya terasa berat, ada proses yang membuat kita lelah, dan ada perjuangan yang mungkin tidak diketahui oleh siapa pun. Namun, ketika dijalani dengan ketekunan dan kesungguhan, hasilnya dapat memberikan kepuasan dan kebahagiaan tersendiri. Karena itu, jangan hanya melihat manisnya hasil. Hargailah juga pahitnya proses.

Belajar Menghargai Perjuangan Orang Lain

Sesonggan “Kutal-kutil ikut céléng” juga mengajarkan tentang empati.

Seorang pegawai yang terlihat tenang di tempat kerja mungkin sedang menyelesaikan banyak persoalan. Seorang guru yang tampak hanya berdiri di depan kelas mungkin telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan pembelajaran. Seorang ibu yang terlihat menjalankan pekerjaan rumah tangga seperti biasa mungkin sebenarnya sedang mengerjakan begitu banyak hal yang tidak pernah tercatat.

Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat. Sebuah kegiatan yang berlangsung lancar biasanya merupakan hasil dari kerja banyak orang. Ada yang menyiapkan, mengatur, menghubungi, membersihkan, mengurus berbagai keperluan, bahkan ada yang bekerja tanpa pernah disebut namanya. Karena itu, kita perlu belajar melihat sesuatu tidak hanya dari hasil akhirnya. Di balik setiap keberhasilan, hampir selalu ada proses yang tidak terlihat.

Relevan di Tengah Kehidupan Modern

Walaupun berasal dari tradisi Bali, pesan “Kutal-kutil ikut céléng” masih sangat relevan dengan kehidupan sekarang. Di dunia kerja, kita belajar untuk tidak meremehkan tugas sebelum memahami seluruh prosesnya. Dalam kehidupan sosial, kita belajar menghargai kontribusi orang lain. Dalam keluarga, kita belajar memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki beban dan perjuangannya masing-masing.

Bahkan di tengah perkembangan media sosial, nasihat ini terasa semakin penting. Kita sering melihat keberhasilan orang lain hanya dalam beberapa detik melalui sebuah foto atau video. Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat perjalanan panjang di belakangnya. Kita melihat orang berhasil, tetapi tidak melihat berapa kali ia gagal. Kita melihat seseorang tersenyum, tetapi tidak tahu berapa banyak persoalan yang telah ia lewati. Kita melihat pencapaian, tetapi tidak selalu melihat pengorbanan. Maka, jangan mudah membandingkan perjalanan hidup kita dengan hasil akhir kehidupan orang lain.

Menjadi Pribadi yang Rendah Hati

Pada akhirnya, “Kutal-kutil ikut céléng” bukan sekadar ungkapan tentang sulitnya memegang ekor babi. Sesonggan sederhana ini menyimpan pesan tentang kerendahan hati, kesabaran, kerja keras, dan penghargaan terhadap proses.

Ia mengingatkan kita untuk tidak mudah mengatakan “gampang” terhadap sesuatu yang belum pernah kita kerjakan. Jangan cepat menilai seseorang hanya dari apa yang tampak. Dan jangan pula merasa hebat hanya karena melihat kesalahan orang lain dari luar. Kalau kita belum pernah menjalani prosesnya, mungkin lebih baik kita belajar memahami sebelum menilai. Sebab dalam kehidupan, apa yang terlihat mudah dari kejauhan belum tentu mudah ketika kita sendiri yang menjalaninya.

“Kutal-kutil ikut céléng” mengajarkan kita satu hal sederhana: jangan meremehkan pekerjaan, jangan merendahkan perjuangan, dan jangan kehilangan kerendahan hati. Karena setiap hasil yang baik hampir selalu memiliki cerita panjang di belakangnya.

Begitulah kearifan lokal bekerja. Ia tidak selalu hadir dalam kalimat yang rumit. Kadang-kadang, sebuah ungkapan sederhana tentang ekor babi justru mampu mengajarkan kita cara menjadi manusia yang lebih bijaksana.

Penulis: Wahyu Wirayuda

Diolah dari berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kumpulan Satua Bali

Satua Bali, Legenda Bali, dan Sesapan atau saa

Telaah Puisi Aji Kembang