Apakah Kita Memuja Binatang Pada Saat Tumpek Uye?
Setiap enam bulan sekali (210 hari) menurut kalender Bali, suasana di berbagai sudut Pulau Dewata terasa hangat oleh lantunan doa dan harum dupa. Hari itu adalah Śaniscara Kliwon wuku Uye, moment saat umat Hindu menggelar tradisi Tumpek Uye atau yang populer dengan sebutan Tumpek Kandang.
Bagi masyarakat awam, pemandangan sapi, kerbau, hingga unggas yang diupacarai sering kali menyulut tanda tanya: Apakah umat Hindu di Bali sedang memuja binatang?
Ketika pertanyaan itu ditelusuri lewat lembaran pustaka suci Sundarigama, jawabannya menjadi sangat terang. Umat Hindu sama sekali tidak memuja fisik hewan, melainkan menyembah Sang Hyang Rare Angon manifestasi Dewa Śiwa dalam wujud pemelihara dan pelindung seluruh makhluk bernyawa di alam semesta.
Ritual Tumpek Uye bukanlah pemujaan berlebihan kepada hewan, melainkan ekspresi rasa syukur atas keberadaan fauna yang menopang kehidupan manusia. Dalam lontar ditegaskan bahwa pusat persembahan spiritual tetap tertuju kepada Yang Maha Kuasa, dalam lontar Sundarigama disebutkan:"śaniscara kliwon, uye, tumpěk kandang, nga, pakreti ring sārwwa pasu, satha, miṇa, pakṣi, mwang patik wěnang, widhiwidhanania, śuci, dakṣiṇa, pras, pněk, ajuman, sodā praṇi putih, kuning, canang lěnga wangi, burātwangi, panyěněng, paśucian, asthawākna ring sanggar, mangarccaṇa ring sang hyang rare angon."
Ritual Tumpek Uye bukanlah pemujaan berlebihan kepada hewan, melainkan ekspresi rasa syukur atas keberadaan fauna yang menopang kehidupan manusia. Dalam lontar ditegaskan bahwa pusat persembahan spiritual tetap tertuju kepada Yang Maha Kuasa, dalam lontar Sundarigama disebutkan:"śaniscara kliwon, uye, tumpěk kandang, nga, pakreti ring sārwwa pasu, satha, miṇa, pakṣi, mwang patik wěnang, widhiwidhanania, śuci, dakṣiṇa, pras, pněk, ajuman, sodā praṇi putih, kuning, canang lěnga wangi, burātwangi, panyěněng, paśucian, asthawākna ring sanggar, mangarccaṇa ring sang hyang rare angon."
Melalui widhiwidhana atau sarana persembahan tersebut, doa-doa dihaturkan di sanggar pemujaan untuk memuliakan atau memuja Sang Hyang Rare Angon. Pengagungan ini adalah bentuk penghormatan manusia kepada Sang Pencipta yang telah mengkaruniakan pelbagai satwa untuk melengkapi roda kehidupan di bumi.
Sebagai wujud rasa kasih dan kepedulian terhadap hewan, masyarakat menyiapkan persembahan khusus (pangaci) yang disesuaikan dengan jenis satwa yang ada di sekitarnya.
Lebih lanjut disebutkan keteraturan dan ketelitian dalam pemberian persembahan tersebut:
"kunang pangaci ring sārwwa pasu patik wěnang, yadian kebo, aśwa, sāmpi, carunia, tumpěng, sayut, 1, panyěneng pabrěsihan, jarimpen, canang raka. yen bawi lwa, wehan akupat balěkok."
Hewan berkaki empat seperti kerbau, kuda, dan sapi diberikan caru berupa tumpěng, sayut, panyěneng pabrěsihan, jarimpen, dan canang raka. Apabila yang diupacarai adalah babi betina, ditambahkan akupat balěkok.
Penghormatan yang sama juga ditujukan bagi bangsa unggas dan burung (sārwwa pakṣi, satha), sebagaimana tersurat dalam petikan:
"yen ya sārwwa pakṣi, satha, itik, putěh, titiran, saluir kupat pakṣi, duluran akupat siddha pūrṇa, bhagia, paṇḍhawa, panyněng, tatebus, sěmbang paes."
Mulai dari bebek, burung putěh, hingga perkutut (titiran), semuanya mendapatkan bagian berupa ragam kupat pakṣi yang dihias indah beserta sarana tatebus dan sěmbang paes. Setiap detail sarana tersebut menyimbolkan harapan agar satwa senantiasa sehat, terhindar dari penyakit, dan berkembang biak dengan baik.
Hubungan dalam Tumpek Uye tidak hanya bersifat searah dari manusia ke hewan, melainkan menjadi momentum penyucian spiritual bagi manusia itu sendiri. Dengan menyayangi dan menjaga kelestarian hewan, manusia juga membersihkan dirinya dari sifat-sifat negatif.
Penjelasannya dengan pesan mendalam:"kalingania ri kang wwang, wenang marid ring sang hyang rare angon, buangěn ring dengěn, duluran asegă, asasapan mangutang mala lara wighnā."Melalui prosesi marid (memohon dan menerima berkah) dari Sang Hyang Rare Angon, yang dilanjutkan dengan manusia berupaya melepas mala, lara, wighnā yakni melebur kekotoran jiwa, penyakit, serta berbagai rintangan hidup.
Rangkaian narasi dalam Tumpek Uye membuktikan bahwa kebudayaan Bali telah lama mengadopsi etika lingkungan yang sangat maju. Hari raya ini bukan tentang memuja binatang, melainkan tentang kesadaran Tri Hita Karana memuliakan Tuhan (Sang Hyang Rare Angon) dengan cara menyayangi ciptaan-Nya (satwa/fauna), agar tercipta keharmonisan dan kedamaian bagi kehidupan manusia.
Penulis: Wahyu Wirayuda
Sumber:Lontar Sundarigama


Komentar
Posting Komentar