Postingan

Boleh Idealis, tapi Harus Realistis. "Idealisme Sebaiknya Ideal untuk Semua, bukan Hanya Untuk Ego Pribadi."

Gambar
Menyelaraskan Idealisme dan Realitas: Belajar dari Dilema Moral Bhisma Memiliki idealisme adalah hal yang luar biasa. Idealisme memberi kita arah, kompas moral, dan standar tertinggi dalam melangkah. Namun, idealisme yang berdiri terpisah dari realitas sering kali berubah menjadi beban atau lebih buruk lagi, menjadi jerat yang membutakan kita dari kenyataan di lapangan. Dalam ajaran Hindu, hidup bukan tentang memaksakan cita-cita setinggi langit tanpa memijak bumi. Keseimbangan antara cita-cita ideal dan kenyataan hidup dirumuskan secara apik dalam ajaran Catur Purusa Artha empat tujuan hidup manusia yang meliputi Dharma (kebenaran), Artha (sarana/kemampuan materi), Kama (keinginan), dan Moksa (kebebasan spiritual). Ajaran ini menegaskan satu hal: idealisme ( Dharma dan Moksa ) tidak akan pernah bisa berjalan optimal jika kita mengabaikan realitas daya dukung, sarana, dan kemampuan fisik ( Artha dan Kama ). Ketika kita memaksakan idealisme tanpa mengukur kemampuan nyata, nia...

Pesan Kehidupan dalam Sesonggan "Kutal-kutil Ikut Celeng"

Gambar
ᬓᬸᬢᬮ᭄ᬓᬸᬢᬶᬮᬶᬓᬸᬢ᭄ᬘᬾᬮᬾᬂ᭟ Sesonggan:   Kutal-kutil ikut céléng . Suksmanipun: kaucapang ring pakaryan sané rasané aluh, sakewanten sujatiné nak meweh yen kalaksanayang. Orang Bali memiliki banyak sesonggan atau peribahasa yang lahir dari pengalaman hidup sehari-hari. Kalimatnya sering sederhana, bahkan kadang terdengar lucu, tetapi di balik kesederhanaannya tersimpan nasihat yang dalam. Salah satunya adalah sesonggan “Kutal-kutil ikut céléng.” Secara sederhana, kutal-kutil dapat dimaknai sebagai tindakan memegang atau memainkan sesuatu dengan tangan, sedangkan ikut céléng berarti ekor babi. Bayangkan saja seseorang mencoba memegang ekor babi yang terus bergerak. Dari jauh mungkin terlihat gampang. Tinggal pegang, selesai. Tetapi ketika benar-benar dicoba, ceritanya bisa berbeda. Ekornya bergerak ke sana kemari, sulit diprediksi, dan justru membuat sesuatu yang kelihatannya sederhana menjadi tidak mudah dilakukan. Dari gambaran sederhana itulah sesonggan ini mendapatkan maknanya. Sesu...

Berdosakah jika Marah?

Gambar
Kemarahan adalah salah satu emosi manusia yang paling mendasar sekaligus berpotensi paling merusak. Setiap orang pasti pernah merasa marah maupun menjadi sasaran kemarahan orang lain. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa yang terjadi pada tubuh dan jiwa kita saat emosi ini meledak?  Apa Itu Marah? Secara umum, KBBI mendefinisikan marah sebagai perasaan sangat tidak senang akibat dihina atau diperlakukan tidak pantas. Dalam masyarakat Bali, emosi ini dikenal lewat beberapa frasa seperti gedeg, bendu , atau duka .  Secara medis dan fisiologis, marah memicu respons fight-or-flight di dalam tubuh. Saat emosi melonjak, otak memerintahkan pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Reaksi biologis ini secara cepat meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan laju pernapasan. Dalam jangka panjang, kebiasaan marah yang tak terkontrol dapat memicu berbagai penyakit seperti hipertensi, stroke, gangguan pencernaan, hingga penurunan imun.  Sementara itu, dalam ...

Apakah Kita Memuja Binatang Pada Saat Tumpek Uye?

Gambar
Setiap enam bulan sekali (210 hari) menurut kalender Bali, suasana di berbagai sudut Pulau Dewata terasa hangat oleh lantunan doa dan harum dupa. Hari itu adalah Śaniscara Kliwon wuku Uye, moment saat umat Hindu menggelar tradisi Tumpek Uye atau yang populer dengan sebutan Tumpek Kandang .  Bagi masyarakat awam, pemandangan sapi, kerbau, hingga unggas yang diupacarai sering kali menyulut tanda tanya: Apakah umat Hindu di Bali sedang memuja binatang? Ketika pertanyaan itu ditelusuri lewat lembaran pustaka suci Sundarigama , jawabannya menjadi sangat terang. Umat Hindu sama sekali tidak memuja fisik hewan, melainkan menyembah Sang Hyang Rare Angon manifestasi Dewa Śiwa dalam wujud pemelihara dan pelindung seluruh makhluk bernyawa di alam semesta. Ritual Tumpek Uye bukanlah pemujaan berlebihan kepada hewan, melainkan ekspresi rasa syukur atas keberadaan fauna yang menopang kehidupan manusia. Dalam lontar ditegaskan bahwa pusat persembahan spiritual tetap tertuju kepada Yang Maha...

Telaah Puisi Aji Kembang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap karya sastra mempunyai hakekat- hakekat tertentu. Demikian juga halnya dengan puisi. Puisi mempunyai suatu hakekat yang menjadikan puisi tersebut mempunyai daya tarik. Dalam hal ini yang akan dibahas adalah kkarya sastra puisi berbentuk kidung. Kidung merupakan bagian dari puisi tradisional bali selain Geguritan dan kakawin. Namun dalam cara menampilkan kidung berbeda dengan geguritan ataupun kekawin. Kidung termasuk ke dalam Sekar Madya yang tidak hanya sebagai hiburan tetapi lebih umum digunakan sebagai pengantar dalam upacara Yadnya (Tinggen, 1982: 35). Pada saat ditampilkan kidung hanya dinyanyikan dengan irama tertentu, dan secara bersama-sama serta tidak adanya unsur penerjemahan atau yang lebih dikenal dengan nama Pengartos seperti dalam kakawin ataupun Geguritan. Bahasa yang digunakan dalam sastra kidung adalah bahasa Jawa Pertengahan (Suarka, 2007: 6). Istilah bahasa Jawa Pertengahan merupakan istilah yang boleh dilakukan karena ist...
Gambar
cara mudah bermain foto dengan photoshop. klick wahyu wirayuda on your facebook

Kidung Madya Muter

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali memiliki berbagai corak khasanah kesusastraan yang wujudnya beraneka ragam. Ada dalam bentuk sastra lisan dan sastra tulis yang antara lain ada di antaranya karya yang bermutu. Sehingga karya sastra tersebut perlu diketahui oleh berbagai pihak secara luas dalam masyarakat Bali. Berkaitan dengan keberadaan karya sastra di Bali seperti diuraikan di atas, maka sewajarnyalah upaya pembinaan dan pelestarian kebudayaan Bali sebagai salah satu usaha mempertahankan dan mengembangkan identitas Bali sebagai salah satu sisi sosial budaya yang sampai saat ini masih menjadi tumpuan dalam proses modernisasi. Oleh karena itu, tercatat sejak Pelita II 1970-an pemerintah mulai lebih memperhatikan kajian aspek sosial budaya daerah melalui berbagai jaringan yang memungkinkan. Sosial budaya Bali dapat dikaji melalui Proyek Penelitian Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Bali, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Pusat Penelitian Universitas...